Monthly Archives: Maret 2015

KERJA RODI

Standar

“Aduh, mami… ya repotlah kalau caranya begini.. Kayak kerja rodi saja!” Kata-kataku itu sampai sekarang masih selalu teringat dalam pikiranku.

Padahal sudah kira-kira 25 tahun berlalu. Saat itu aku masih kuliah.di UII Yogyakarta dengan mengambil fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam.

Aku ingat ketika itu aku sedang  membantu ibuku mengirim sejumlah barang ke salah satu pelanggannya di luar kota. Barang yang dikirimnya berupa kardus-kardus dan keranjang berukuran besar yang isinya beraneka kue dan barang kelontong pesanan pelanggan tersebut.

Yang membuatku protes karena barang-barang tersebut harus kami kirim dengan menggunakan mobil angkot, disaat senja sudah datang, dan toko pelanggan masih jauh masuk ke daerah pedesaan.

Sementara mobil angkot hanya mengantar kami sampai di pinggir jalan, sehingga kami berdua harus mengangkuti semua barang pesanan yang lumayan berat tadi ke toko pelanggan ibuku.

Pada saat itu kami memang masih belum memiliki kendaraan mobil. Belum lagi ketika sampai rumah juga masih banyak yang harus dibereskan karena di rumah tidak ada pembantu. Hmph… cape deh.. !

Kenapa bukan pelanggannya saja yang mengambil sendiri barang pesanannya? Kenapa kita tidak minta angkotnya mengantar sampai ke depan toko pelanggan tersebut? Sejumlah pertanyaanku muncul bertubi-tubi dari bibirku yang pasti tampak cemberut karena menahan kesal.

Dan dibalik wajahnya yang tampak letih itu, kulihat ibuku hanya diam sambil tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang  bernada kesal tadi.

Ibuku adalah seorang pedagang kue dan  barang kelontong yang membuka kios di Pasar Rejowinangun Magelang.

Sebuah usaha yang telah  dirintisnya sejak ibuku menikah. Sebelumnya ibuku membuka toko kelontong bersama ayahku di daerah Pecinan di kota Magelang dan tokonya masih menyatu dengan toko nenekku (mertua ibuku).

Sejak menikah, baik ibuku maupun ayahku memang harus mandiri dalam hal ekonomi meskipun mereka masih bertempat tinggal dan membuka toko di rumah orang tua ayahku. 

Dengan hanya bermodalkan sedikit uang tabungan yang mereka miliki dan 2 buah lemari etalaselah ibuku dan ayahku mulai merintis usahanya.

Alhamdulillah karena keuletan ibuku dan ayahku, toko mereka semakin lengkap dan banyak pembelinya, sehingga mereka mampu menyisihkan uang untuk membeli sebuah kios di Pasar Rejowinangun Magelang.

Lalu ibuku dan ayahku berbagi tugas dalam mengembangkan usaha mereka. Ayahku tetap berjualan di toko  Pecinan, dan ibuku berjualan di kios Pasar Rejowinangun. Aku membantu ayahku di toko dan adik perempuanku membantu ibuku di kios.

Saat ekonomi keluarga semakin stabil,  ayahku melanjutkan kembali kuliahnya yang sebelumnya di Fakultas Psikolog UI Jakarta dan  sempat terhenti  ketika jaman G30S PKI  tahun 1965.  Ayahku melanjutkan kuliahnya lagi di UGM  Yogyakarta di fakultas yang sama.

Karena ayahku kuliah lagi di Yogyakarta, aku jadi harus lebih sering berada di toko untuk menggantikan tugas ayahku menjaga toko. Begitu juga aku harus selalu siap menemani ibuku ketika harus mengirim barang dagangannya ke pelanggannya.

Sebetulnya aku merasa terpaksa untuk melakukannya. Karena selain aku kurang berminat dalam bidang dagang, aku  sebenarnya lebih suka berada di rumah dimana aku bisa lebih santai membaca buku atau menonton televisi tanpa terganggu oleh pembeli atau harus bercapai capai mengangkut barang.

Tapi karena rasa simpatiku terhadap beban pekerjaan kedua orang tuaku, maka akupun mencoba membantu semampuku. Sehingga begitu usai sekolah, aku langsung menuju ke toko.

Saat itu aku masih kelas 5 SD.  Ketika aku harus menjaga toko sendirian, walaupun kadang masih agak kebingungan, namun alhamdulillah aku bisa belajar mengatasinya sendiri.

Ketika itu aku menjadi lebih bisa merasakan suka dukanya ‘mencari uang’. Ketika toko sedang sepi dari pembeli, aku merasa sedih dengan sedikitnya pendapatan. Apalagi kalau tidak ada pemasukan uang.

Tapi ketika toko sedang ramai aku merasa senang walaupun cukup kerepotan dalam melayani para pembeli.

Apalagi ketika ada pembeli payung lipat. Tentu pembelinya ingin melihat corak dan warna payungnya secara jelas. Sehingga beberapa payung harus dibuka  dan dilihat satu persatu untuk memilihnya.

Nah, ketika pembeli sudah memilih, membelinya dan pulang, aku harus membereskan dan merapikan kembali payung-payung yang tersisa.

Aku juga harus sabar ketika pembeli sudah rewel dalam memilih-milih barangnya, bahkan sudah menawar harga barang tersebut tapi akhirnya malah tidak jadi membelinya.

Kerepotan juga aku rasakan ketika ada pembeli yang membeli barangnya sekaligus minta dibungkuskan dengan kertas kado. Biasanya untuk bingkisan ulang tahun atau pernikahan.

Kalau barang yang dibungkus berbentuk kubus atau balok mungkin lebih mudah membungkusnya. Tapi kalau bentuknya tak beraturan…hehe.. agak repot juga..

Tapi bermula dari sisa kertas bungkus kado itulah  pertama kali aku mulai belajar menulis. Gambar-gambar pada kertas kado itu biasanya lucu-lucu dan menarik sehingga membuat imajinasiku berkembang.

Lalu kertas kado itu aku gunting dan aku buat seperti notes kecil. Aku membayangkan notes kecil itu adalah sebuah buku yang aku terbitkan sendiri.
Aku menulis judulnya dengan huruf yang agak besar dan  aku hias cover depannya. Lalu di bagian dalamnya aku lengkapi kata pengantar, tanda tanganku.dan tanggal menulisnya selain tentu saja isi cerita tersebut. Jadi sudah buku kecilku… 🙂

‘Buku pertamaku’ berjudul “Boneka Sita”. Aku menulisnya ketika aku kelas 5 SD. Sesudah itu aku makin rajin menulis.

Ada beberapa judul dari ‘buku kecilku’. Sampai teman-temanku di SD banyak yang suka dan  bergantian meminjamnya. Biasanya aku menulis ketika toko sedang sepi pembeli. 

Memang aku terkadang merasa iri ketika melihat serombongan keluarga bersama anak-anaknya datang dari luar kota yang baru turun dari mobil mereka dan  berbelanja kue di toko nenekku yang ada di samping toko ayahku.

Tampaknya mereka bahagia sekali ya.. Bisa jalan-jalan, santai, tidak repot dibebani pekerjaan oleh orang tuanya.

Tapi akhirnya aku bisa merasakan efek positif ‘kerja rodi’ ini. Satu persatu pertanyaanku atas kekesalanku terhadap ‘kerja rodi’ ini juga mulai terjawab  seiring dengan semakin mendewasanya pikiranku dan semakin terasa efek positifnya.

Kini aku jadi lebih mengerti bahwa sebagai penjual kita harus bisa memberikan service yang terbaik kepada pelanggannya,

Kita harus rela bersusah payah terlebih dahulu bila ingin mendapatkan hasil /keuntungan yang lebih baik. Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Kalau dulu orang tuaku tidak survive dalam mencari nafkah,  mungkin aku dan kedua adikku tidak  bisa kuliah hingga lulus menjadi sarjana..

Kalau dulu aku dan kedua adikku terlalu santai dan dimanja oleh kedua orang tuaku, mungkin kami tidak akan setegar sekarang dalam menghadapi problema hidup hingga tercapainya kesuksesan kami.
image

Adikku Inspirasiku

Standar

Kami adalah tiga bersaudara yang tinggal di kota Magelang, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Aku anak sulung yang mempunyai dua orang adik. Adik pertamaku perempuan dan yang bungsu laki-laki.

Sebagaimana kebanyakan keluarga WNI keturunan, ibuku adalah  seorang pedagang barang kelontong dan kue di pasar. Sedangkan ayahku bekerja sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di kota Solo.

Dari tiga bersaudara ini, hanya adik perempuanku yang mewarisi minat dan bakat dagang ibu kami.  Adikku tipe wanita yang ulet dan rajin. Sejak kecil dia suka membantu ibu kami berjualan di pasar.

Dia sangat pandai menawarkan barang dagangan kepada para pembeli/pelanggan. Selain itu dia ulet mencari harga barang yang akan dipesan sampai berhasil mendapatkan harga yang termurah.

Karenanya omset rata-rata penjualan di kios ibu kami semakin hari semakin meningkat dengan semakin bertambahnya pelanggan. Sehingga ibu kami merasa senang dan bangga.

Walaupun keuntungan dari setiap barang yang dijual tersebut sebenarnya sangat kecil tapi berkat  bantuan adikku dan pandainya ibu kami dalam mengelola uang, alhamdulillah, hasilnya bisa digunakan sebagai tambahan untuk membayar uang kuliah kami bertiga hingga kami lulus semuanya…

Ketika kami bertiga satu demi satu mulai berumahtangga, untuk mengurangi kerepotannya, kios ibu kami yang di pasar terpaksa ditutup dan ibuku pindah berjualan di  rumah.

Pada saat itu adikku dengan penuh semangat membantu ibu kami membuka daerah penjualan baru di sekitar rumah, hingga akhirnya mempunyai beberapa pelanggan baru.

Ketika adikku bekerja dan kost di kota Jakarta, aku masih ingat akan keuletannya dalam mencari tambahan penghasilan dengan cara menyewakan VCD yang dia beli di daerah Mangga Dua, kepada teman-teman kost dan kantornya.

Lumayan juga, dari hasil usaha rental VCD kecil-kecilannya itu dia bisa menabung sejumlah uang sebagai tambahan cicilan untuk kredit rumah yang sudah diambilnya untuk persiapan setelah menikah nanti.

Tapi rupanya perjalanan kehidupannya tak semulus yang diperkirakan. Cobaan dan masalah secara beruntun datang menghadang. Baru kira-kira 2 minggu setelah hari pernikahannya, suaminya terkena PHK dari kantornya.

Selang sehari kemudian, adikku juga terkena PHK dari tempatnya bekerja. Pada saat itu, di sekitar tahun 1997-1998 memang sedang terjadi krisis moneter di negeri ini.

Kami sekeluarga ikut prihatin dengan kondisi adikku, dimana adikku bersama suaminya yang masih pengantin baru dan seharusnya sedang menikmati masa-masa indah bulan madu tapi malah harus mengalami musibah yang tak terduga ini.

Padahal saat itu adikku bersama suaminya masih tinggal di rumah kontrakan di Jakarta dan baru tahap awal dalam mencicil kredit rumahnya. Ketika mereka meninjaunya, ternyata masih berupa tanah kavling yang entah kapan akan dimulai pembangunan rumahnya.

Dalam suasana hati yang kalut tak menentu, adikku mengajak suaminya untuk sementara tinggal di rumah orang tua kami di Magelang. Karena bila tetap tinggal di Jakarta dengan biaya hidup yang tinggi, apalagi dalam kondisi belum mendapat pekerjaan tetap seperti itu sama saja dengan bunuh diri.

Namun tinggal di rumah orang tuapun tidak membuat hati adikku menjadi tenang. Perasaan malu karena tidak ingin menjadi beban bagi orang tua senantiasa berkecamuk di dalam hatinya.

Karena besarnya tekad adikku untuk hidup mandiri, adikku nekat mengontrak sebuah rumah yang lokasinya tidak jauh dari rumah orang tua kami yang  biayanya  masih terjangkau dengan menggunakan sisa uang tabungan yang masih dimilikinya.

Dan… dengan  berbekal kemampuan dagangnya yang sudah teruji sejak kecil, adikku mulai membuka warung kecil-kecilan. Berbagai macam jajanan anak-anak dijualnya. Karena barang dagangannya semakin lengkap, murah dan adikku juga ramah terhadap para pembeli khususnya anak-anak, semakin lama warung adikku semakin banyak pelanggannya dan  berkembang.

Suaminya yang semula sudah patah semangat, menjadi termotivasi kembali untuk  mulai berusaha dengan cara berjualan ikan hias. Apalagi seorang bayi perempuan yang cantik juga sudah hadir di tengah mereka sehingga semakin menambah semangat mereka untuk semakin giat bekerja.

Allah Maha Pemurah! Setelah beberapa bulan merintis usaha di Magelang, suami adikku mendapat panggilan bekerja di Lampung dimana dia diterima sebagai pegawai Pemda di kota Blambangan Umpu, Lampung.

Kebetulan karena memang Lampung adalah tempat tinggal orang tua suami adikku, maka dia mengajak adikku untuk ikut pindah kesana juga dalam rangka merintis usaha yang baru di tempat yang baru, khususnya bagi adikku.

Dengan memohon doa restu orang tua dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah mereka berikan selama tinggal di Magelang, akhirnya adikku bersama suami dan putrinya berangkat ke kota Blambangan, Lampung.

Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kemudahan lagi bagi mereka karena disana mereka bisa membeli sebuah rumah dengan harga yang sangat murah.

Walau rumah mereka kecil dan sederhana, tapi mereka merasa lebih tenang dan bahagia karena sekarang mereka benar-benar sudah memiliki rumah sendiri yang mereka beli dari hasil keringat sendiri.

Tentu bukan suatu hal yang mudah bagi adikku untuk menyesuaikan diri di tempat dan lingkungan yang serba baru tersebut. Apalagi sebelumnya adikku tinggal di kota dengan lingkungan keluarga WNI keturunan dengan tradisi orang Jawa.

Dan sekarang harus tinggal di daerah pedalaman yang agak ‘ngampung’ dengan lingkungan warga Lampung asli yang mempunyai tradisi, cara bicara, pola hidup dan pemikiran yang jauh berbeda.

Padahal aku tahu persis kalau adikku sebetulnya mempunyai sifat agak sulit berbaur dengan lingkungan kampung.

Jika sebelumnya bila adikku ingin mencuci piring atau baju tinggal putar keran air, sekarang disana dia harus bersusah payah menimba air dulu di sumur atau bahkan harus mengambil air di suatu tempat yang agak tinggi dengan galon air mineral.

Bisa dibayangkan betapa berat dan repotnya adikku itu. Apalagi saat itu adikku sedang mengandung anaknya yang kedua. Bila ingin berbelanjapun tidak bisa setiap hari karena pasar disana dibuka hanya pada hari-hari tertentu saja.

Walaupun suaminya telah bekerja, namun adikku tidak tinggal diam. Karena masih banyak kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, terutama sejak anak pertama mereka sudah mulai masuk sekolah dan anak kedua mereka sudah lahir. Sehingga beban biaya hidup tentu akan bertambah.

Oleh karena itu adikku mulai berinisiatif berjualan barang-barang perabotan rumah tangga yang dia pesan langsung dari Tanjung Karang. Bahkan kadang-kadang adikku kulakan barangnya sampai ke kota Palembang untuk mencari barang-barang baru dengan harga yang lebih murah.

Lalu dia tawarkan barang-barang tersebut kepada para tetangganya, relasi suaminya, ibu-ibu teman sekolah anaknya dll.

Di luar dugaan ternyata banyak pembeli yang akhirnya menjadi pelanggan setia adikku. Mereka membayarnya ada yang dengan cara cash ataupun kredit.

Walaupun Blambangan bukan kota yang besar, namun daya beli masyarakat disitu cukup besar. Terbukti dengan banyaknya jumlah barang yang mereka pesan dari setiap ordernya.

Rupanya sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat untuk mengadakan acara-acara pertemuan keluarga atau relasi.

Dan ternyata mereka lebih suka menyajikan hidangannya dengan menggunakan perabotan yang mereka miliki sendiri daripada menyewanya seperti yang  pada masyarakat kota di pulau Jawa pada umumnya.

Berkat keuletannya itulah, adikku bisa mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup sehingga bisa dipergunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya disamping kebutuhannya sehari-hari.

Adikku juga bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Bahkan karena prestasi dari penjualannya, adikku sudah beberapa kali mendapatkan reward jalan-jalan gratis ke luar negeri. Australia, Jepang dan Hongkong adalah negara-negara yang pernah adikku kunjungi.

Sekarang adikku menjadi lebih mandiri secara ekonomi. Sehingga suaminya merasa bangga dan bahagia karena menjadi lebih terbantu dalam menafkahi keluarganya dengan mendapatkan tambahan sumber pendapatan dari adikku.

Selain ulet berdagang, adikku juga seorang ibu yang baik dan sangat peduli kepada anak-anaknya. Sejak anak pertama hingga yang ketiga sekarang ini, semua dia rawat dan asuh sendiri.

Walaupun sibuk dengan kegiatan berdagangnya, dia tetap meluangkan waktu untuk bisa selalu mengasuh dan membimbing anak-anaknya sekalipun tanpa pembantu apalagi baby sitter.

Karena  tinggal di daerah, adikku senantiasa berusaha memberikan bimbingan pendidikan untuk ketiga anaknya dengan mencari referensi standar pendidikan di kota melalui buku-buku yang dibelinya di Tanjungkarang atau di Palembang.
Bahkan bila memungkinkan hingga ke Jakarta juga.

Lalu adikku merangkumnya dan membuat buku PR atau latihan untuk ketiga anaknya.

Hasilnya…, anak pertamanya selalu mendapat rangking 1 atau 2 di sekolahnya. Sedangkan anak kedua dan ketiganya cepat lancar berbicara. Bahkan di usia balita, mereka sudah mahir membaca dan berhitung sederhana.

Adikku tidak ingin anak-anaknya ketinggalan dalam pengetahuan dan pelajaran sekolah walaupun mereka tinggal di daerah.

Karena adikku sangat menyadari bahwa materi pelajaran sekolah di daerah memang tidak setinggi dan selengkap di sekolah-sekolah yang ada di perkotaan.

Adikku juga seorang ibu rumah tangga yang baik. Dia pandai memasak berbagai hidangan kesukaan suami dan anak-anaknya. Di tengah kesibukannya, dan walaupun letak pasar cukup jauh dari rumahnya, dia selalu berusaha berbelanja dan memasak demi keluarganya tercinta.

Padahal setahuku, ketika kami masih sama-sama kuliah dan kost di Yogyakarta, adikku paling bingung dan malas kalau disuruh memasak.

Sampai dia banyak bertanya padaku dan teman-temannya tentang resep masakan. Tapi sekarang justru akulah yang harus banyak belajar padanya.

Dan adikku adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tua serta sayang kepada saudara-saudaranya.

Walaupun sekarang telah sukses dan tinggal jauh di perantauan, adikku tidak pernah melupakan kami dan selalu membiasakan untuk tetap berkomunikasi dengan kami.

Setiap beberapa hari sekali adikku suka menelepon orang tua, aku (kakaknya) dan adik bungsu kami sekedar menanyakan kabar atau menceritakan keadaannya.

Bila diantara kami ada yang sedang berulang tahun, hampir bisa dipastikan, adikku selalu ingat dan menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

Ketika saat liburan panjang tiba, biasanya antara liburan kenaikan kelas atau liburan Lebaran, adikku selalu berusaha pulang ke Magelang untuk berkunjung ke orang tua kami meskipun suaminya tidak bisa mengantarnya karena sedang ada kesibukan lain.

Pada saat awal-awal pulang ke Magelang, adikku biasanya menumpang bus Damri sambil mengajak ketiga anaknya yang masih kecil.

Pasti repot dan capai karena perjalanan melalui darat dan laut itu harus ditempuh kira-kira selama 20 jam. Belum lagi kalau anak-anaknya sedang rewel.

Namun ketika kondisi ekonomi adikku sudah lebih mapan, adikku sekarang bisa pulang ke Magelang dengan menggunakan pesawat yang tentunya menjadi lebih cepat dan tidak terlalu meletihkan dibandingkan sebelumnya.
Dan adikku tidak pernah lupa untuk selalu membawa oleh-oleh untuk kami.

Hingga kini berbagai masalah kehidupan masih saja menguji adikku. Walaupun sekali dua kali adikku sempat terguncang, namun dia bangkit lagi dan tetap tegar dan gigih dalam menghadapinya.

Tak heran bila semua cobaan hidup tadi justru semakin mematangkan pribadinya, menguatkan mentalnya dan mendekatkan diriNya kepada Allah SWT Sang Maha Bijaksana. 

Semua  yang kulihat dan kurasakan dari pribadi adikku itu tadi sungguh menggugah pikiran dan semangatku.

Sehingga di saat aku sedang menemui masalah dalam kehidupan, semua kisah tentang adikku itu tadi bisa  memberiku inspirasi dan motivasi agar tetap tegar dan gigih dalam menghadapinya.

Ada beberapa point penting dari pribadi adikku yang bisa kita teladani:

– Sejak kecil suka membantu orang tua, sehingga pengalaman tersebut berguna di kemudian hari
– Bekerja sesuai dengan minat dan bakat
– Cermat mencari peluang baik dalam setiap usaha
– Tidak ragu dan malu dalam setiap langkah usahanya
– Selalu menyisihkan uang untuk ditabung
– Uang kita berapapun bisa kita gunakan sebagai modal awal usaha
– Kejujuran dan service yang baik terhadap pelanggan adalah kunci sukses usaha kita
– Wanita yang sukses adalah wanita yang bisa membagi perannya dengan baik, antara pekerjaannya dengan keluarganya.
– Seorang ibu adalah pengasuh dan guru yang terbaik bagi anak-anaknya.
– Bila telah sukses, jangan sombong dan melupakan keluarga/teman-teman kita
– Berbaktilah kepada orang tua, maka kita akan dihormati juga oleh anak-anak kita
– Sayangilah saudara-saudara kita, maka mereka akan menyayangi kita juga
– Senantiasa bersyukurlah kepada Allah SWT, maka Allah akan menambahi rejeki dan kenikmatan kita

Demikianlah kisah perjalanan hidup adikku yang pernah mengalami kegagalan dan cobaan hidup berulangkali, namun tidak  berputus asa, melainkan bangkit, berjuang, merintis usahanya lagi dari nol hingga mencapai kesuksesannya.

Terima kasih adikku, terima kasih Allah… karena hikmah dari semua kisah itu akhirnya bisa menginspirasiku untuk membuka usaha kursus pendidikan anak-anak, Rumah Belajar.., di kota Cirebon, tempat tinggalku sekarang…

Semoga kami bisa bersama-sama meraih kesuksesan sehingga bisa menjadi inspirasi juga bagi seluruh wanita di Indonesia khususnya untuk bisa membantu memulihkan ekonomi keluarga sesuai dengan kemampuan dan bidang kita masing-masing.. aamiin…

Cirebon, 25 September 2014
Kakakmu yang telah terinspirasi,

image

Menjadi wanita, istri dan ibu yang tangguh

Standar

Wanita..wani nata lan ditata…begitu kata orang Jawa. Artinya berani mengatur dan diatur Kalau kita perhatikan memang ada benarnya.Karena sosok wanita sejak lahir hingga  menjadi seorang ibu memang selalu berkaitan dengan  masalah atur mengatur.

Saat seorang wanita lahir hingga menjelang pernikahannya, dia masih dalam pengawasan dan pengaturan kedua orang tuanya.Dan sejak wanita menikah hingga menjadi seorang ibu, dia tidak hanya menjadi sosok yang langkahnya dalam berkeluarga di bawah pengaturan suaminya sebagai imamnya, namun dia sekaligus menjadi pengatur utama rumah tangga dan anak-anaknya.

Karena kelemah lembutannya, kaum wanita sering dianggap sebagai kaum yang lemah dan tak berdaya. Hingga kehadirannya di dunia  sejak dulu bahkan hingga sekarang cenderung kurang diharapkan. Penyebabnya bermacam-macam,dari karena dianggap tidak bisa melanjutkan keturunan/silsilah keluarga,  tidak bisa menjadi pemimpin, hingga dianggap membawa petaka..

Maka sering terjadi perlakuan yang kejam dan tidak sepantasnya terhadap kaum wanita seperti yang biasa kita dengar dan saksikan di beberapa negara.

Di India, wanita banyak yang diperdagangkan dengan alasan ekonomi. Di  Pakistan, beberapa wanita dilarang bersekolah sehingga banyak yang buta huruf. Pernah  terjadi penyiraman air keras kepada sekitar 150 an wanita oleh beberapa lelaki disana hanya oleh karena alasan-alasan yang tidak masuk akal. Pada tahun 2011 lebih dari 8500 wanita  menjadi korban kekerasan seksual, fisik hingga dibunuh.

Di Somalia angka kasus perkosaan terhadap wanita meningkat terus setiap tahunnya. Di  Kongo pembunuhan massal sering dilakukan terhadap kaum wanita dengan alasan membela kehormatan.

Dan di negara Afghanistan angka kematian wanita saat melahirkan sangat tinggi. Diantara penyebabnya adalah adanya paksaan pernikahan di bawah umur pada kaum wanita disana. (sumber informasi: Andridhia Blog-5 Negara ini kurang menghargai dan melakukan deskriminasi terhadap wanita)

Sungguh mengenaskan nasib kaum wanita di negara-negara yang mayoritas berada di benua Afrika tersebut. Disinyalir juga masih ada beberapa negara lain di benua Asia, Amerika, Australia atau Eropa yang bersikap dhalim terhadap kaum wanita.
Kondisi semacam inilah yang akhirnya memunculkan gerakan feminis di Eropa dan Amerika untuk memperjuangkan hak-hak kaum wanita dan kesetaraan gender. Namun pada akhirnya justru menjadi bumerang dan permasalahan baru bagi kaum wanita.

Karena di saat kaum wanita menuntut kebebasannya dalam berkarir, dalam berkiprah di berbagai bidang, di sisi lain karena kodratnya sebagai wanita, pasti tidak akan terlepas dari masalah baru dengan keluarganya. Sehingga berakibat adanya perceraian, anak-anak yang terlantar dan lain-lain.

Di negara Indonesia, Ibu Kartini juga telah mengangkat harkat kaum wanita Indonesia dengan emansipasi wanitanya Pada zamannya, Kartini dan kaum wanita yang lain masih terbelenggu oleh adat istiadat dimana kaum wanitanya dipingit, artinya tidak boleh keluar rumah sampai waktunya menikah.

Walaupun demikian karena karakternya yang haus akan ilmu, Kartini suka membaca buku ilmu pengetahuan dan banyak bertanya kepada ayahnya bila ada yang tidak dia pahami walaupun dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sehingga pengetahuannya semakin bertambah dan wawasannya semakin luas.

Kekagumannya terhadap wanita Eropa yang berpendidikan tinggi menginspirasinya untuk memajukan wanita Indonesia. Kartini berpandangan bahwa wanita tidak hanya harus bisa dalam urusan dapur dan kasur saja…namun lebih dari itu,  wanita harus mempunyai ilmu dan wawasan yang luas.

Lalu Kartini mulai mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajari baca tulis dan pengetahuan lainnya.
Karena kegigihannya dan berkat dukungan suaminya, Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di berbagai kota, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan sebagainya. Sekolah Wanita itu dikenal dengan Sekolah Kartini.

Kartini adalah contoh sosok wanita yang tangguh. Beliau mempunyai semangat yang luar biasa dalam belajar untuk kemajuan dirinya dan demi memajukan kaum wanita Indonesia. Namun beliau tetap mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri yang berbakti kepada suaminya dan tidak melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

Emansipasi wanita dalam pandangan Kartini adalah memberi kebebasan kepada wanita dalam mencari ilmu, mengembangkan diri namun tetap tidak boleh melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Jadi jauh berbeda dengan pandangan kaum feminis di Eropa dan Amerika yang memberikan kebebasan kaum wanita namun tak terbatas.

Agama Islam juga sangat memuliakan wanita. Di beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW banyak disebutkan tentang  kemuliaan wanita, khususnya wanita shalehah.

Diantaranya dalam Al Qur’an, surat Al Hujurat: 13. Ayat ini menunjukkan bahwa hanya orang yang paling bertaqwalah yang dipandang mulia di sisi Allah SWT, siapapun dia dari bangsa atau suku manapun apakah itu laki-laki atau perempuan. Jadi seorang wanita yang bertaqwa  akan lebih mulia di sisi Allah SWT daripada seorang laki-laki yang durhaka.

Abdullah bin Amr r.a. .meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah.” (HR Muslim no. 1467)

Seperti apakah wanita shalehah yang dimaksud dalam hadits tersebut? Di dalam Al Qur’an surat An Nisaa’:34 Allah SWT  menyebutkan bahwa wanita shalihah ialah wanita yang taat kepada Allah SWT dan memelihara kehormatan dirinya ketika suaminya  tidak berada di rumah.

Pengertian taat kepada Allah SWT disini sangat luas. Karena mencakup ketaatan kepada Nya dalam hal ibadah yang berhubungan dengan Rukun Islam (Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji) maupun dalam hal Mu’amalah yang berhubungan dengan masyarakat.
Masyarakat terdekat yang harus ditaati adalah kedua orang tua dan suaminya, yang tentunya dalam hal yang ma’ruf. Maka dalam ayat tersebut, langsung dihubungkan dengan memelihara kehormatan diri ketika suami sedang tidak berada di rumah atau di saat tidak bersamanya.

Keshalehahan wanita seperti inilah yang bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari  akan membentuk ketangguhan seorang wanita..

Anak-anak perempuan dan remaja putri yang taat kepada kedua orang tuanya biasanya akan menjadi lebih survive dalam menghadapi berbagai persoalan dan akan lebih tangguh dalam memegang prinsip sehingga tidak mudah terpengaruh  oleh lingkungan yang buruk di dunia nyata dan dunia maya. Mereka juga lebih fokus dan bersemangat dalam belajar demi mempersiapkan masa depannya.

Karena sudah dibiasakan membantu kedua orang tuanya, maka dia sudah memiliki skill of life. Begitu juga karena terbiasa taat kepada kedua orang tuanya, maka dia sudah bisa menempatkan dirinya, mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang jangan dilakukan.

Sehingga anak-anak dan remaja tersebut akan senantiasa terbentengi dari segala pengaruh buruk. Disaat ada bujukan atau rayuan yang bisa mengancam dirinya dan masa depannya, mereka akan menjadi lebih tangguh dalam menolaknya dan lebih selektif dalam pergaulan. Mereka juga biasanya berprinsip tidak akan pacaran sebelum menikah karena ketaatannya kepada Allah SWT.

Pada saat dia menjadi seorang istri, dia akan taat beribadah sehingga seluruh doa dan ibadahnyalah yang akan membentengi dirinya dan keluarganya dalam kehidupan rumah tangganya. Sehingga baik sedang bersama suaminya atau di saat sendirian, dia selalu menjaga dirinya dan harta suaminya.

Maka dia tidak akan mudah terbujuk untuk melakukan hal-hal ceroboh yang bisa menjatuhkan harga diri/ keluarganya atau menghambur-hamburkan harta suaminya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Walaupun banyak iming-iming yang menggiurkannya, namun seorang istri yang shalehah akan tetap berpegang teguh pada prinsip ketaatannya kepada Allah SWT dan suaminya.

Istri yang shalehah juga akan senantiasa memberi dukungan kepada suaminya, terlebih di kala sang suami sedang dirundung masalah. Ketika suaminya sedang sedih, dia akan menghiburnya dan membesarkan hatinya. Ketika suaminya sedang marah, dia akan menenangkan hatinya.

Dan ketika suaminya sedang mengalami kesulitan ekonomi, dengan berbekal skill of life yang sudah dia peroleh saat dulu dia sering membantu kedua orang tuanya, dan berbekal ilmu pengetahuan yang sudah dia peroleh karena ketekunannya dalam belajar, maka dia bisa merintis suatu usaha yang hasilnya bisa membantu dalam memulihkan ekonomi keluarganya.

Dengan prinsip ketaatan yang selalu dipegang teguh olehnya,tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam ketangguhannya membantu usaha suaminya.

Lalu di saat dia telah menjadi seorang ibu, dia akan berusaha dengan sepenuh hidupnya untuk merawat, membimbing dan menjaga anak-anaknya. Pendidikan agama (yang berhubungan dengan aqidah dan akhlak) adalah pendidikan dasar yang akan selalu ditanamkan kepada anak-anaknya agar keshalehan dan keshalehahan anak-anaknya sudah terbentuk semenjak dini.

Barulah selanjutnya ilmu pengetahuan yang lain yang akan disupport olehnya dengan memasukkan anaknya ke sekolah yang berkualitas serta mengasah minat/bakat anaknya.

Sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka seorang ibu yang shalehah akan membekali dirinya tidak hanya dengan kajian Al Qur’an dan Al Hadits,namun juga dengan berbagai ilmu lain seperti ilmu parenting, ilmu gizi/kesehatan keluarga, ilmu psikologi anak dan lain-lain.

Seorang ibu shalehah juga akan belajar untuk bisa membawa kendaraan sendiri untuk keperluan yang bersifat darurat, disamping bisa meringankan tugas suami.

Sehingga saat anaknya sakit,  pertolongan pertama bisa diberikannya sebelum dibawa ke dokter agar bisa mengurangi rasa sakit anaknya.

Dan pada saat suaminya sedang tidak berada di rumah, dia akan selalu siap mengantar anaknya ke dokter bila sakit, mengantar/menjemput anaknya ke sekolah dan lain-lain.

Maka seorang wanita, istri dan ibu yang tangguh adalah sosok wanita shalehah yang bisa meneladani kesabarannya Asiyah, kesetiaannya Khadijah, kesuciannya Maryam, keikhlasannya A’ishah, ketabahannya Fatimah..sekaligus memiliki semangat Kartini dalam mencari dan menyebarkan ilmu.. 😉

IMG_18706960000259

 

 

 

 

 

Apa yang harus kita siapkan sebelum menikah

Standar

Kisah tentang pernikahan selalu mengingatkanku akan kisah pernikahan adikku. Karena penuh dengan kisah perjuangan yang menginspirasiku.

Saat adikku menikah, sebagai anak perempuan yang sangat disayang oleh ibuku terpaksa harus merantau ikut bersama suaminya ke daerah Way Kanan di Lampung.

Kisah ini bermula ketika baru 2 minggu adikku melangsungkan pernikahan, mendadak adikku dan suaminya yang saat itu bekerja di kota Jakarta harus menghadapi PHK. Karena saat itu sekitar tahun 1997-1998 memang sedang terjadi krisis moneter di Indonesia.

Singkat cerita, mereka yang semula mengontrak rumah di Jakarta, akhirnya harus pindah dan membuka usaha di kota kami Magelang.

Karena sejak kecil adikku sudah terbiasa membantu ibuku berdagang di pasar. Maka jiwa wiraswastanya mulai menggeliat berjuang demi mencari penghasilan untuk keluarganya.

Keuletannya itu selain membawa hasil yang lumayan, juga bisa memotivasi suaminya yang semula sempat berputus asa untuk mencoba usaha baru berjualan ikan.

Dan pada saat suaminya mendapat tugas baru di tanah kelahirannya di Lampung itulah, adikku harus ikut pindah bersamanya ke daerah yang benar-benar baru.

Orang tua kami sempat mengkhawatirkan adikku. Karena daerah itu letaknya jauh dari kota. Bahkan pasarpun tidak buka setiap hari.

Namun dengan semua kondisi itu, adikku bersama suaminya akhirnya mampu membeli sebuah rumah sederhana . Dan adikku bisa survive dengan tetap berwiraswasta.

Dari awal hanya berjualan barang pecah belah, dan barang-barang kebutuhan rumah tangga, akhirnya adikku bisa berkesempatan untuk berwisata keluar negeri.

Semua itu tak mungkin bisa adikku peroleh tanpa perjuangannya yang keras dan ketekunannya dalam bekerja. Dan semua keuletannya itu secara tak disadari telah dipersiapkan oleh kedua orang tua kami.

Walau mungkin dulu sempat agak dipaksa untuk membantu orang tua sepulang sekolah hingga senja. Namun barulah sekarang terasa hasil positifnya.

Demikianlah, ternyata untuk menikah kita tidak cukup hanya  berbekal cinta. Karena bahkan sepasang pria dan wanita yang belum saling mengenalpun bisa menjalani pernikahan dan rasa rasa cinta di antara mereka bisa ditumbuhkan dan dipelihara sesudah menikah.

Ada beberapa bekal  lain yang sangat penting yang harus kita persiapkan di saat kita mulai merencanakan suatu pernikahan.Tujuannya agar bisa terjalin suatu pernikahan yang harmonis dan keluarga yang  sakinah, mawaddah wa rahmah.

Jadi jangan pernah menganggap enteng apalagi main-main terhadap suatu pernikahan. Karena pernikahan bisa dikatakan merupakan separuh dari perjalanan hidup kita yang sangat menentukan apakah hidup kita nanti akan bahagia ataukah menderita.

Maka semenjak seorang pria maupun wanita telah memasuki usia baligh sebaiknya sudah mulai dipersiapkan untuk pernikahannya nanti. Karena semakin dini seseorang dipersiapkan dalam suatu pernikahan, akan semakin matang jugalah persiapannya.

Jangan sampai ketika berencana  menikahnya umur 25 tahun, tapi persiapannya baru dimulai ketika umur 24 tahun. Karena itu namanya tergesa-gesa menikah.

Jadi..apa sajakah yang harus dipersiapkan dalam pernikahan? Menurut Ustadz Salim A Fillah, seorang penulis buku Islami dan pimpinan Majelis Jejak Nabi, Masjid Jogokaryan Yogyakarta dalam kultwit Persiapan Nikah yang mengambil bagian awal dari buku Bahagianya Merayakan Cinta,  secara garis besar ada 5 hal yang harus dipersiapkan.

Yaitu Ruhiyah (Spiritual), ‘Ilmiyah (Pengetahuan), Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial).  Mari kita bahas satu persatu:

1. Persiapan Ruhiyah (Spiritual): Ini adalah pondasi awal  dari semua persiapan yang lain. Karena menyangkut tentang bagaimana menata diri untuk siap menerima ujian dan tanggung jawab hidup. Disebutkan dalam Al Qur’an, Surat Ali Imran: 14 bahwa dijadikan indah dalam pandangan manusia adanya rasa cinta  terhadap wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duniawi, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. Sehingga ketika sesudah menikah ujian seseorang akan semakin berlipat karena adanya tuntutan akan keinginan-keinginan hidup seperti dalam firman Allah SWT tersebut  yang semakin besar. Maka harus mampu mengelola sabar dan syukur dalam menghadapinya. Termasuk dalam menerima pasangannya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sehingga harus mampu mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Misal sebelum nikah berekspektasi nanti setelah nikah ada yang antar jemput kalau pergi kemana-mana, ada yang masakin, ada yang nyuciin baju, ada yang mijitin. Padahal pasangan kita kan bukan supir, atau tukang masak, atau tukang cuci juga bukan tukang pijit.. Jadi ubahlah eksepektasi itu menjadi obsesi memperjuangkan suami/istri/anak, orang tua dan mertua kita agar bisa bersama-sama kembali hingga di surga nanti.

2. Persiapan ‘Ilmiyah (Pengetahuan): Ada banyak ilmu yang harus kita pelajari sebelum kita menikah. Yaitu mencakup ilmu fiqh (agar mengenal hukum Islam dari masalah najis, shalat hingga hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan),ilmu psikologi (untuk lebih mengenali kepribadian pasangan kita sehingga memudahkan kita dalam berkomunikasi nanti serta menghindarkan kesalahpahaman), ilmu parenting (agar kita memiliki bekal dalam membimbing buah hati kita), ilmu faraidh (agar kita bisa menerapkannya dalam masalah warisan).

3. Persiapan Jasadiyah (Fisik):  Penting sekali ketika kita memiliki buah hati agar dijaga dan dirawat dan diberi asupan makanan yang bergizi, sehingga dapat membentuk fisiknya yang sehat dan cerdas. Kesehatan fisik dan kecerdasan seseorang dapat membuatnya lebih menarik selain  berpengaruh besar dalam pembentukan generasi cemerlang selanjutnya. Di samping itu pemeriksaan kesehatan pra nikah juga diperlukan agar ketika ditemukan suatu masalah dalam kesehatannya bisa ditangani terlebih dahulu sehingga tidak menimbulkan masalah dalam rumahtangganya. Pun ketika nanti telah berumahtangga kesehatan dan kebugaran tubuh harus tetap dijaga dengan olah raga, menjaga asupan makanan dan perawatan tubuh. Agar hingga usia telah makin senja fisik masih fresh, sehat dan tetap menawan.

4. Persiapan Maaliyah (Finansial) : Dalam hal ini untuk memulai pernikahan bukanlah soal berapa banyak  uang, rumah dan kendaraan yang harus kita punyai. Tapi lebih pada kesiapan dalam kemampuan menafkahi (bagi suami) dan dalam mengelola keuangan (bagi istri). Karena tidak semua pasangan suami istri diberi modal oleh orang tuanya di awal pernikahannya. Bagi yang harus merintis usahanya dari nol, perpaduan antara kecerdasan, kreatifitas dan keuletan menjadi barometer kesuksesannya. Alangkah lebih baiknya lagi jika jiwa/semangat enterpreneurship sudah diasah semenjak masa remaja, baik pria maupun wanitanya. Sehingga ketika saat pernikahan tiba, tidak hanya tabungan yang sudah dimilikinya, namun juga kemampuan berwiraswastanya sehingga kelak istripun bisa siaga membantu keuangan suami.

5. Persiapan Ijtima’iyah (Sosial) : Sejak awal akad nikah dilaksanakan,  orang-orang di luar pasangan pengantin sudah dilibatkan. Dari kedua orang tua dan keluarga masing-masing, petugas KUA hingga tetangga dan teman yang kita undang. Oleh karena itu semenjak sebelum menikah, sudah seyogyanyalah kita menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan masyarakat de sekitar kita. Jangan sampai kita membuat masalah dan menjadi beban bagi mereka. Karena kita tinggal bersama mereka, kita bermasyarakat. Sehingga kita harus siap untuk tolong menolong bersama mereka dalam kebaikan.

Jadi pepatah sedia payung sebelum hujan mungkin bisa dikaitkan dengan tema kita kali ini. Karena nasib kita tidak sekedar takdir dari Allah SWT, Namun  sangat dipengaruhi juga dengan bagaimana kita mempersiapkan kehidupan kita sedari awal.

Doa dan ikhtiar kitalah yang akan mensupport kehidupan kita ke arah dan tujuan yang kita harapkan.

image

 

Asyikkah Nikah Muda?

Standar

Nikah muda? Kenapa sih harus buru-buru nikah?! Pentingkan karir dulu dong.. Emang kamu sudah punya modal buat nikah? Wah, rugi deh… belum apa-apa nanti kamu sudah repot ngurusin suami dan anak.. Pasti kuliahnya bakalan keganggu deh. Lihat saja, sebentar lagi juga bakalan bubar rumah tangga mereka….

Begitulah sederetan pertanyaan dan komentar kebanyakan orang ketika mendengar tentang Nikah Muda. Mereka rata-rata tidak setuju, baik orang tua, maupun pasangan yang sudah terjalin rasa saling cinta. Di pihak orang tua, nikah muda dianggap terlalu dini dalam mengarungi rumah tangga. Yang mereka  khawatirkan  adalah ketidaksiapan  mental dan materinya. 

Sedangkan di pihak para pasangan tadi, yang pria merasa keberatan karena merasa belum siap dalam memberi nafkah untuk istri dan anaknya nanti. Sementara yang wanita masih ingin leluasa dan tidak mau direpotkan urusan rumah tangga.

Wah, kenapa sampai segitu keberatannya ya terhadap nikah muda? Padahal di zamannya orang tua kita, yang namanya nikah muda bukan hal yang aneh. Dan toh terbukti mereka fine fine saja dalam rumah tangga mereka. Malahan bisa awet sampai kakek nenek.

Tapi bukan berarti nikah muda itu sesuatu yang sudah jadul dan ketinggalan jaman lho ya..Karena banyak juga sekarang pasangan muda yang sudah berani nikah muda dengan senang hati dan bukan karena gara-gara MBA (Married By Accident).

Berapa sih batasan usia minimal menikah untuk pria dan wanita? Menurut UU no. 1 thn 1974 tentang Perkawinan Bab 2 Pasal 7 ayat 1, pernikahan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita 16 tahun, Lalu bagaimana bila belum ada kematangan dalam fisik dan psikisnya..?

Tentunya batasan usia yang dimaksud dalam UU tersebut adalah untuk mereka yang sudah baligh dan secara psikis sudah matang. Maka menurut BKKBN, usia ideal pernikahan adalah 20-21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria.

Kesimpulannya, usia ideal untuk nikah muda bagi wanita adalah pada rentang usia 16-21 tahun. Sedangkan bagi pria antara usia 19-25 tahun. Dengan catatan melihat kesiapan fisik dan psikis masing-masing

Sementara sebagaimana kita saksikan di era digital seperti sekarang ini, para remaja cenderung lebih cepat matang karena pengaruh internet, makanan, lingkungan, tayangan film, pergaulan dan lain-lain.

Sehingga anak-anak SMP bahkan SD sudah banyak yang baligh, sudah mempunyai rasa ketertarikan dengan lawan jenis, dan sudah pacaran. Karena emosi mereka yang masih labil, selain bisa mengganggu belajar juga dikhawatirkan bisa mengakibatkan perzinaan.

Sehingga dituntut kewaspadaan pada orang tua untuk selalu mengontrol perilaku anak-anak mereka serta harus banyak memberikan bimbingan bagaimana pergaulan yang sepantasnya antara pria dan wanita yang tidak melanggar agama dan moral.

Maka bagaimana cara yang bijak serta solusinya, bila ternyata sejak usia remaja sudah  timbul rasa tertarik dengan lawan jenis? Sebaiknya kita simpan dulu perasaan tersebut dan kita isi hari-hari kita   dengan kegiatan yang bermanfaat untuk perbaikan diri dan mempersiapkan masa depan. Dan solusi yang terbaik bagi mereka yang sudah siap adalah Nikah Muda..

Yups, daripada berlama-lama pacaran yang hanya menghabiskan waktu, pikiran, tenaga  dan  tentunya ongkos tapi tidak menjamin kelangsungan hubungan nantinya.. alangkah lebih baik bila kita lanjutkan saja ke pernikahan. Karena hanya yang mau melanjutkan ke pernikahan sajalah yang bisa membuktikan keseriusan hubungan tersebut.

Sedangkan yang lebih memilih pacaran, walaupun alasannya untuk menjajagi kepribadian masing-masing, tapi sungguh itu tidak menjamin. Karena biasanya orang yang sedang berpacaran cenderung yang ditampakkan bukan sifat dan sikap aslinya. So, jangan takut nikah muda ya..

Nah, sekarang kita coba cari tahu yuk, apa saja sih rahasianya orang tua kita bisa harmonis dan awet walaupun nikah di usia muda? Begitu juga dengan  para  pasangan muda di zaman sekarang yang sudah menjalani pernikahannya di usia muda. Apa sih asyiknya nikah muda kok mereka berani mengambil resiko dan enjoy  banget menjalaninya? Padahal kan mereka tidak pacaran sebelumnya..

Oke, sekarang kita selidiki dulu  rahasia keharmonisan nikah muda pada masa orang tua kita . Kaum pria pada zaman itu, saat mereka sudah mencapai usia baligh,  dicarikan calon istri dari relasi-relasi mereka. Yang dari golongan  menengah hingga mampu biasanya sebelumnya telah dibekali dengan pendidikan yang tinggi atau jabatan penting atau harta yang memadai dari kedua orang tuanya.

Sedangkan kaum wanitanya lebih banyak dibekali dengan ketrampilan rumah tangga daripada melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Sehingga di usia yang masih muda mereka sudah dijodohkan lalu dinikahkan.

Dengan kondisi yang demikian,  pembagian tugas antara suami dan istri menjadi jelas , sehingga mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan karena mereka sudah tahu kodrat dan tugasnya masing-masing dalam berumahtangga. Inilah kunci utama keharmonisan dalam pernikahan muda mereka yang patut kita teladani.

Lalu apa rahasia para pasangan muda masa kini yang juga sukses dengan nikah mudanya ? Dari yang penulis saksikan, mereka adalah para pasangan yang sdh punya komitmen sejak  awal  pernikahannya. Bagi mereka, adanya komitmen itulah kunci keasyikan pernikahan muda mereka. Wah, jadi penasaran ya, apa saja sih komitmen yang mereka jalani? Yuk kita intip satu persatu.

1.Selalu menyisihkan uang yang mereka miliki untuk ditabung sebagai modal awal dalam pernikahan.
2.Siap hidup prihatin di awal pernikahan
3.Adanya rasa saling pengertian terhadap pribadi masing-masing
4.Jalin kekompakan yang kuat dalam bekerjasama demi merintis usaha dari nol
5.Komunikasi, kesetiaan, perhatian dan kasih sayang adalah api yang tidak boleh padam demi menyemangati setiap langkah dalam kehidupan berumahtangga.
6.Harus punya kesepakatan bersama kapan saat yang tepat untuk memiliki anak
7.Harus pandai memanage antara waktu studi, bekerja dan mengurus rumah tangga
8.Tetap jalin hubungan yang baik dengan orang tua, mertua, saudara dan teman

Bila semua komitmen tersebut bisa kita jaga, siap-siap deh…kita tinggal menuai asyiknya nikah muda., Apa saja hayoo? Nih dia :
1.Disaat yang lain masih galau dengan pacarnya, sibuk studi dan mengejar karir, dalam usia yang masih muda kita sudah merasa tenang karena sudah memiliki semuanya. Yaitu keluarga yang harmonis serta  studi dan karir yang sukses.
2.Saat anak-anak kita semakin mendewasa, usia kita masih belum terlalu tua sehingga kita masih mempunyai fisik dan pikiran yang masih fresh dalam mendampingi mereka
3.Terbiasa dalam memanage waktu dan menjadi lebih survive dalam menghadapi kehidupan
4.Sejak usia muda kita sudah bisa membahagiakan kedua orang tua kita.

Nah, sekarang sudah siap nikah muda kan? Siapa takut? Asyik lho! Ditunggu undangan pernikahannya ya.. 😉
image