Monthly Archives: November 2015

Gadis Pemintal Benang

Standar

Ayahku tampak bingung ketika harus menjawab pertanyaanku yang berulangkali kusampaikan padanya tentang kisah seorang gadis pemintal benang asal kota Mekkah. Gadis dari Bani Ma’zhum yang kaya raya itu bernama Rithah Al Hamqa.

Dikisahkan bahwa Rithah sedang mengalami kerisauan karena jodoh yang tak kunjung datang.
Kedua orang tuanya berusaha dengan berbagai cara agar putrinya segera mendapatkan jodohnya. Ahli nujum dan dukunpun dia datangi demi putri tersayangnya.

Tak sedikit uang yang telah mereka keluarkan demi usahanya itu. Tapi ternyata tak satupun membawa hasil. Semua ini membuat Rithah menjadi semakin sedih dan bertanya-tanya, “Mengapa sampai hari ini tidak kunjung datang juga jodohku?”

Di saat usianya sudah semakin menua, Rithah diperkenalkan dengan seorang jejaka muda rupawan yang dibawa oleh ibu saudaranya dan berasal dari luar kota ketika berkunjung ke rumahnya. Akhirnya dilangsungkanlah pernikahan yang telah lama dia nantikan itu bersama jejaka tersebut.

Namun ternyata jejaka muda itu bukanlah seorang lelaki yang baik. Karena dia seorang lelaki yang hanya menginginkan harta benda Rithah. Setelah berhasil memanfaatkan sejumlah hartanya, lelaki itu menghilang dan meninggalkan Rithah begitu saja, tanpa kesan dan pesan. Betapa hancur perasaan Rithah.

Untuk melampiaskan perasaan sedihnya, Rithah membeli beratus-ratus gulungan benang untuk dipintalnya bersama anak-anak perempuan di kampungnya dengan upah 1 dirham.

Setelah selesai dipintal, dia memutus-mutus benang hasil pintalan itu dan menceraiberaikannya lagi. Kemudian esoknya benang itu dipintal kembali, lalu diceraiberaikan lagi. Begitu seterusnya setiap hari yang dia lakukan hingga akhir hidupnya.

Kisah Rithah itu begitu membekas dalam pikiranku dan merisaukanku sehingga memaksaku menanyakannya pada ayahku . Apakah memang benar bahwa Allah SWT bisa menakdirkan seorang wanita untuk tidak mendapatkan jodohnya? Kalau memang demikian, betapa tidak adilnya Allah!

Aku mulai protes, karena aku berpendapat bahwa setiap wanita, siapapun di dunia ini pastilah mempunyai keinginan untuk mendapatkan pasangan hidupnya. Terlebih ketika kulihat beberapa wanita yang aku kenal disekitarku juga belum kunjung mendapatkan jodohnya. Padahal mereka rata-rata sudah berusia 30 hingga 40 tahun.

Kerisauanku semakin bertambah ketika aku berulangkali gagal dalam menjalin hubungan dengan beberapa lelaki. Seringnya disaat aku menaruh rasa suka dengan seorang lelaki, ternyata lelaki tersebut sudah mempunyai istri atau kekasih. Sebaliknya ketika ada lelaki yang ingin menjalin hubungan denganku, aku tidak menyukainya. Atau ketika kami sudah mulai saling menjalin hubungan, tiba-tiba putus di tengah jalan. Begitu berulangkali.

Aku khawatir akan mengalami kisah yang sama dengan kisah Rithah si gadis pemintal benang itu. Karena di usiaku yang sudah mendekati usia 30 tahun, aku masih sendiri. Sementara adik perempuanku sudah mempunyai kekasih.

Pada saat acara keluarga, dimana keluarga besar berkumpul, saat itulah yang paling menyiksa batinku.Karena pertanyaan demi pertanyaan dari keluarga serta sanak saudara tentang kapan aku menikah selalu bertubi-tubi menyerangku.

Aku juga merasa malu karena mereka selalu membandingkanku dengan adik perempuanku yang sudah menjalin hubungan dengan kekasihnya selama 6 tahun. Sementara aku sebagai putri sulung dalam keluarga masih belum ‘laku’ juga.

Belum lagi pertanyaan sindiran dari beberapa pelanggan kios ibuku di pasar ketika melihat adik perempuanku dikunjungi oleh kekasihnya, dan kekasihnya juga ikut membantu melayani para pembeli. Sementara aku dalam kesendirianku hanya bisa menelan pahitnya kata-kata sindiran mereka sambil menangis di dalam hati.

Apakah aku sulit mendapatkan jodoh karena aku tidak seputih dan secantik adikku? Atau karena aku tidak sepandai adikku dalam kemampuan akademis dan ketrampilan dagangnya? Semua pertanyaan yang memenuhi pikiranku itu tak pernah bisa kutemukan jawabannya dengan pasti karena hanya berakhir dengan kegalauanku yang semakin mendalam.

Di suatu malam, saat aku menyendiri di sudut ruang tamu yang gelap sambil menghapus butiran air mataku, aku memohon ampun atas prasangka burukku terhadap Allah SWT dan aku berdoa,”Ya Allah, aku hanya seorang gadis sederhana yang tak mempunyai kelebihan apa-apa. Tapi aku mohon kemurahanMu ya Allah..Berilah aku jodoh yang terbaik menurutMu, yang Kau ridhai untukku, yang terbaik untuk dunia dan akhiratku.. Aamiin”

Setelah itu, aku merasa mendapat kekuatan untuk lebih bersabar dan optimis akan pertolonganNya. Apalagi Allah SWT juga sudah menuntun umatNya agar meminta pertolonganNya dengan sabar dan melalui shalat (Al Baqarah:45). Aku juga merasa yakin karena Allah SWT sendiri telah menyatakan bahwa Dia dekat dan akan mengabulkan doa siapapun yang meminta kepadaNya (Al Baqarah; 186).

Dan benar, beberapa bulan kemudian.Allah SWT mengabulkan doaku..Ketika aku mengikuti pengajian di Jakarta, aku bertemu dengan seorang lelaki muslim keturunan Tionghoa yang ganteng dan shaleh. Tanpa melalui proses pacaran, 1 bulan kemudian aku dilamar dan 4 bulan kemudian akhirnya kami menikah.

Dia adalah suamiku yang mencintaiku apa adanya. Bersamanya aku telah mengarungi suka duka pernikahan ini hingga kini kami telah dikaruniai seorang putri yang cantik, cerdas dan shalehah yang tengah beranjak remaja. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…

Maka agar tak bernasib malang seperti si gadis pemintal benang tadi, selalulah berbaik sangka terhadap Allah SWT dan jangan lelah untuk memohon pertolonganNya. Bila jodoh belum kunjung datang, yakinlah Allah SWT sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.

Disamping doa, usaha untuk memperbaiki dan memantaskan diri harus kita lakukan. Lalu bergaullah dengan orang-orang yang bisa membawa pengaruh yang positif terhadap kita.Setelah itu, kita tinggal bertawakkal kepadaNya.

So, jadilah ‘gadis pemintal benang’ yang cerdas, yang tak sekedar mampu memintal benang menjadi kain tenun, namun juga mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan berharga.

IMG-20151123-WA0000[1]

Hanya Selembar Kain

Standar

Tante pemilik toko baju di daerah Pecinan itu menolehkan kepalanya seolah hingga 180 derajat ke arahku setiap kali aku lewat di depan tokonya. Dari tatapan matanya aku tahu, dia merasa aneh melihatku berkerudung. Begitupun ketika sedang ada acara keluarga dan berkumpul dengan keluarga besarku..

Aku harus sabar menghadapi tatapan-tatapan aneh mereka.
Saat itu, di sekitar tahun 1984an memang masih jarang wanita muslimah yang mengenakan kerudung atau hijab syar’i seperti sekarang ini. Yang ada hanya kerudung yang sekedar ditutupkan di atas kepala dan dikalungkan di atas leher, namun rambut dan lehernya masih tampak.

Aku mengenal kerudung syar’i sejak aku ‘nyantri’ di pondok pesantren Al Mukmin di kota Solo. Disana semua santriwatinya diwajibkan mengenakan kerudung syar’i. Pada saat awal aku mengenakannya, tentu saja rasanya ribet dan gerah. Namun karena saat itu ghirah Islamku sedang tinggi-tingginya, aku bahkan merasa dengan berhijab syar’i ini aku sedang berjihad.

Tapi cerita menjadi berubah ketika aku sudah mulai memasuki usia remaja dan masa puberku. Kerudung syar’i ini malah seolah menjadi pembawa masalah dan pembelenggu kebebasanku.

Gara-gara berkerudung, aku tidak bisa memamerkan rambutku yang indah. Gara-gara berkerudung, laki-laki tidak ada yang medekatiku. Gara-gara berkerudung, aku sering ditatap dengan pandangan penuh curiga. Jangan-jangan mereka mengiraku sebagai seorang gadis anggota teroris ya?!

Apalagi saat sedang ramai berita di surat kabar dan televisi tentang kasus terorisme di Indonesia, dan yang menjadi tersangka adalah alumnus pesantren Al Mukmin Solo. Aku tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak? Tapi yang jelas aku menjadi semakin tidak nyaman berkerudung.

Akhirnya perlahan tapi pasti, aku mulai melepas kerudungku ketika aku sudah mulai bekerja di kota Jakarta.Saat itu aku merasa sangat menikmati kebebasanku tanpa kerudung. Aku mulai menghias rambutku dengan ikat rambut yang bagus-bagus. Terkadang aku potong rambutku sesuai dengan seleraku. Aku paling senang kalau ada yang memuji keindahan dan kelebatan rambutku.

Dengan lepasnya kerudungku, aku mulai berani juga membuka auratku yang lain. Aku mulai nekat mengenakan pakaian atau rok di atas lutut. Aku rasanya bangga ketika ada yang mengatakan kalau wajahku mirip seorang artis Indonesia yang wajahnya cukup manis karena penampilanku itu. Bekas-bekas santriku seolah menjadi lenyap begitu saja. Ibaratnya aku seperti kuda lepas dari kandang.

Hingga akhirnya saat aku berjumpa dengan suamiku di suatu acara pengajianpun , aku masih belum mengenakan kerudung syar’i lagi. Kalau aku datang di acara pengajian aku hanya mengenakan kerudung asal saja yang masih menampakkan rambut dan leherku.

Di acara pernikahanku dan sesudah aku melahirkan putrikupun, hatiku masih belum juga tergerak untuk kembali mengenakan kerudung syar’i . Hingga suatu kali suamiku mengingatkanku dengan mengatakan bahwa kita telah banyak diberi karunia kenikmatan oleh Allah SWT sejak dari awal menikah hingga saat ini.

Dimana sebelumnya kami masih menumpang di rumah kakak ipar, masih belum mendapat momongan setelah 2 tahun penikahan kami, hingga suami belum mempunyai penghasilan yang memadai. Tapi kini alhamdulillah, Allah SWT telah mengaruniakan kepada kami seorang putri yang cantik, cerdas dan shalehah. Allah SWT juga telah memberikan suamiku suatu pekerjaan yang pendapatannya cukup memadai.

Dan… besok kami sudah bisa pindah ke rumah baru kami yang besar dan benar-benar merupakan hasil jerih payah suami kami. Suamiku mengingatkanku, bahwa dengan semua kenikmatan dan rejeki yang sudah Allah SWT limpahkan kepada kami ini, apakah aku masih tetap enggan menunjukkan rasa syukurku dengan mentaati perintahNya untuk kembali memakai kerudung syar’i?

Kata-kata suamiku itu terasa menamparku dan menyadarkanku. Aku merasa malu atas ketidaktaatanku padaNya selama ini. Astaghfirullahal’adhiiem… Ya Allah, ampuni dosa dan kekhilafanku selama ini….

Lalu akupun niatkan kembali untuk mulai mengenakan kerudung syar’i sejak mulai hari pertama kami pindah ke rumah baru kami. Awalnya tentu masih canggung. Namun aku tetap kuatkan niatku untuk berkerudung syar’i kembali. Dan.. alhamdulillah sampai saat ini aku masih tetap mengenakannya dan aku tularkan juga pada putriku sejak masa balighnya.

Selembar kain yang dulu pernah aku anggap sebagai pemburuk penampilanku, penghalang jodohku dan yang selalu bikin gerah..itulah yang kini membuatku dan putriku menjadi wanita yang lebih terjaga, lebih dihargai dan lebih terawat fisiknya.

Ya, hanya selembar kain yang dijahit menjadi beraneka model kerudung. Selembar kain yang bisa menutup aurat wanita. Selembar kain yang lebih bisa membedakan mana yang muslimah dan mana yang bukan.

Selembar kain yang secara nyata sudah Allah SWT sebutkan dalam Al Qur’an di surat An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59 akan adanya perintah untuk menutup aurat dengan mengenakan kerudung yang lebar.

Selembar kain yang menjadi bukti keikhlasanku dalam mentaati perintahNya walau apapun komentar orang. Selembar kain yang menjadi bukti rasa syukurku padaNya atas semua limpahan kenikmatan dariNya…

IMG-20151118-WA0002[1]