Monthly Archives: Juli 2016

Kekuatan Silaturahim

Standar

Perjalanan pulang pergi  Magelang – Cirebon untuk mengantar serta menemani Mami setelah pemakaman Papi dan seusai Lebaran kemarin meninggalkan suasana yg berbeda.

Walau ada Kevin dan Laura, dua keponakan kembarku yang ceria, tapi perjalanan di kereta ini tetap terasa sepi dan ada yang kurang. Karena kini Papi tak bersama kami lagi..

Kesepian dan kesedihan ini semakin terasa saat kami tiba di rumah dan melihat dipan yang biasanya dipakai oleh Papi untuk tidur ketika sakit yang kini telah kosong..

Apalagi ketika melihat kursi tempat Papi biasanya duduk untuk menjaga warung di rumah. Di samping kursi masih kulihat sebuah buku bacaan dan buku tulis.

Sejak dulu Papi memang suka membaca buku lalu mencatat hal-hal penting dari buku yang dibacanya dan menulis catatan harian.

Mami yang biasanya sangat tegarpun kini sering kulihat murung dan beberapa kali meneteskan air matanya..

Kepergian Papi yang begitu cepat ini memang tak terduga dan membuat kami merasa kehilangan karena saat Papi dirawat di RS terakhir sebelum berpulang sebetulnya sudah sempat menunjukkan perkembangan yang baik dari kesehatannya.

Namun silaturahim dan doa dari semua saudara dan teman sungguh telah menguatkan kami dan membantu kami sekeluarga untuk menjadi lebih tegar. Alhamdulillah.. :’)

Seminggu seusai berpulangnya Papi, telah diadakan doa bersama di rumah kami di Magelang yang dipimpin dan dihadiri oleh teman-teman dari PITI Magelang serta tetangga-tetangga kami.

Juga telah dilaksanakan shalat ghaib berjamaah atas inisiatif Ustaz Wahyudin di pesantren Ngruki..

Dan pada hari Kamis 14 Juli kemarin, telah hadir bapak Taufik Kasturi bersama rombongan dosen Psikologi dan karyawan dari UMS yang berjumlah 19 orang ke rumah kami di Magelang dalam rangka silaturahim dan mendoakan Papi tercinta.

Terima kasih yang tulus kami sampaikan untuk semuanya atas kehadiran dan doanya… Barakallah… Semoga Allah mengabulkan..
Semoga tali silaturahim di antara kami tetap terjalin dengan baik walau Papi telah tiada..
Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Indahnya Perbedaan

Standar

Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita dan kesan.. Sebagaimana perjalananku saat mengantar Mami dan keponakan kembarku pulang ke Magelang..

Kami menumpang kereta Argo Dwipangga yang berangkat pukul 12.34 dengan tujuan stasiun Tugu, Yogyakarta. Walau sedikit terlambat, namun kenyamanan dalam kereta bisa cukup mengobati kepenatan kami.

Terlebih ketika ada 2 orang cowok bule yang keren dan duduk di sebelah kursi kami bersikap baik dan bisa diajak berkomunikasi.

“Where do you come from?” Aku memberanikan bertanya.

Lalu mereka mulai memperkenalkan diri. Yang berambut kecoklatan namanya Romain dan berasal dari negara Spanyol. Sedangkan yang berambut pirang bernama Pierre dan berasal dari negara Perancis.

Mereka membawa beberapa buku dan kamus untuk membantu berkomunikasi. Dari buku yang mereka baca, aku tahu mereka sangat antusias untuk mengenal bahasa, budaya dan kehidupan di Indonesia.

Mereka juga membawa buku catatan khusus untuk menulis beberapa percakapan dan kosa kata sederhana dari bahasa Indonesia.

Sesekali mereka bertanya kepada kami tentang beberapa istilah atau kata dalam bahasa Indonesia.Diantaranya kalimat Bhinneka Tunggal Ika. Dan akupun dengan senang hati menjelaskan dan mengajari mereka serta menuliskannya di buku catatan mereka ketika diminta.

“Terima kasih banyak”, kata mereka dalam bahasa Indonesia dengan aksen mereka dan dengan wajah yang ramah..

Lalu mereka memberikan beberapa bungkus cookies yang lezat kepada kami. Sebagai gantinya kami memberikan 2 bungkus cheese stick untuk mereka. Kami juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama.

Akhirnya tak terasa keretapun tiba di kota Yogyakarta. Saatnya untuk berpisah..

“Nice to meet you,” kata mereka dengan mata berbinar.

“Have a nice trip,” balasku sambil tersenyum.

Lalu kami menumpang Damri yang sudah stand by di stasiun Tugu menuju ke kota Magelang.

Sedapnya bihun rebus dan bakmi goreng di sebuah warung makan yang berada di dekat tempat pool Damri (hotel Wisata) cukup mengenyangkan perut kami.

Sekitar pukul 20.30-an akhirnya kami sampai di rumah.

Di tengah perasaan yang masih diliputi kesedihan setelah berpulangnya Papi tercinta pada pertengahan Juni lalu, perjalanan kami pulang ke Magelang hari ini menjadi terasa lebih menyenangkan..

Aku yakin di setiap kejadian dan perjalanan hidup yang sepahit apapun, tentu akan tetap ada manisnya sebuah kisah.. 🙂 Dan perjalanan di kereta ini telah membuktikan akan indahnya sebuah perbedaan antar negara..