Monthly Archives: Agustus 2016

Menulis itu Menyambung Tali Silaturahmi (1)

Standar

Salah satu hal yang menyenangkanku setelah terbitnya bukuku “Santriwati Baru” ini adalah tersambungnya kembali tali silaturahmi dengan teman-temanku dari pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo.

Komunikasi di antara kami yang sempat terputus selama kira-kira 30 tahun yang lalu itu dengan cepat kini menjadi terhubung kembali..

Sebagian dari teman sekelas, adik kelas maupun kakak kelasku selama di pesantren Ngruki kini mulai menyapaku kembali melalui media sosial atau bertemu langsung setelah memesan bukuku.

Seolah bukuku itu menjadi perantara reunian kami.. Karena setelah teman-temanku menemukan jejakku dari buku itu, Β dalam waktu singkat aku sudah dimasukkan dalam grup alumni Ngruki di WA. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Pada hari Senin yang lalu, aku berkesempatan mengantar bukuku ini ke rumah Nur Laeliyah (Elly) yang tinggal di kabupaten Cirebon. Elly adalah salah seorang sahabatku sekaligus ‘rival’ sekelasku saat kami masih ‘nyantri’ di Ngruki πŸ˜€

Sebab kami sering bersaing dalam hal yang positif. Sehingga kamipun secara bergantian selalu masuk posisi 3 besar/rangking di kelas.. πŸ˜€

Sejak dulu aku kagum dengannya. Karena tak hanya jago dalam pelajaran di pesantren, Elly juga tegas dan istiqamah dalam hal pengamalan ajaran agama Islam.. (y)
Saat kutemui di rumahnya kemarin, tak banyak yang berubah dari dirinya.Hanya sekarang tampak lebih berisi, sebagaimana diriku.. πŸ˜€ Maklum kami sama-sama sudah menjadi seorang ibu.. πŸ™‚

Bedanya Elly mempunyai 2 orang putra dan 3 orang putri. Sedangkan aku hanya mempunyai seorang putri semata wayang.. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Sekarang Elly memakai cadar. Begitu juga 2 orang putrinya yang sudah remaja. Walau aku masih belum sanggup seperti dirinya, namun aku menghormati prinsipnya yang teguh itu dalam menjaga dirinya dan putri-putrinya sebagai wanita muslimah.

Senang sekali..kami bisa mengobrol kembali, bernostalgia.. Mengenang masa-masa saat kami masih menjadi santriwati di Ngruki.

Foto-foto kenangan masa lalu yang masih tersimpan rapi di album foto Elly seakan menjadi saksi perjumpaan kami kembali.

Kini banyak alumnus Ngruki yang sudah menjadi orang-orang sukses di bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi pengusaha, pedagang, penulis dan lain-lain.

Sebagian dari mereka ada juga yang lebih suka mengajarkan ilmu yang telah mereka peroleh selama di Ngruki dengan menjadi guru. Ada yang mengabdikan diri dengan menjadi ustaz dan ustazah di Ngruki.

Dan ada juga yang mengajar di sekolah yang ada di kota tempat tinggal mereka masing-masing.
Elly termasuk salah seorang di antaranya. Dia mengajar pelajaran Tahfiz Al Qur’an dan Bahasa Arab di MI Al Falah di Cirebon.

Di sela waktunya Elly juga menerima pesanan baju atau kerudung yang dijahitnya sendiri di rumah. Semoga makin sukses dan diberkahi Allah SWT ya Elly.. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Seusai shalat Zuhur berjamaah bersama Elly, akupun berpamitan pulang..

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku semakin merasa yakin..

Bahwa menulis itu ternyata tak hanya merapikan kenangan..

Namun lebih dari itu..
Menulis juga menyambung tali silaturahmi.. πŸ™‚

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Standar

Abah Suganda adalah seorang kakek yang bekerja sebagai pemulung dan tinggal di jalan Kalitanjung. Dia sering lewat di depan Rumah Belajar Cirebon. Usianya sekitar 80-an tahun.

Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai tukang tambal ban. Tapi karena kurang laku, dia beralih profesi dengan bekerja sebagai kuli bangunan.

Namun saat usianya semakin menua dan sudah tidak ada lagi yang mau menggunakan tenaganya, kini abah Suganda bekerja sebagai pemulung.

Sedangkan mbok Aminah adalah seorang nenek yang sudah berusia 85 tahun. Dia tinggal di Arjawinangun bersama anaknya yang bekerja sebagai tukang becak. Bersamanya juga tinggal 5 orang cucunya.

Namun setiap hari dia bekerja untuk membantu menghidupi keluarganya dengan berjualan celengan di jalan Panembahan, Plered.

Beberapa hari yang lalu bu Rita Kartika, salah seorang guru di Rumah Belajar Cirebon bersama beberapa temannya sempat menggalang dana untuk sekedar membantu mbok Aminah. Ini semua hanyalah satu bentuk kepedulian dan rasa simpati terhadapnya..

Setelah dana terkumpul dan diberikan kepadanya, sebagai tanda terima kasih mbok Aminah malah membagikan celengan yang dijualnya kepada semua donaturnya… Plus mendoakan lagi.. πŸ™‚

Salut… (y) !

Itulah satu kata yang pantas kuucapkan untuk mereka. Karena walau sudah lanjut usia, mereka tetap rajin bekerja, ulet dan pantang meminta-minta.

Dengan kondisi ekonomi mereka yang serba terbatas, mereka tetap memiliki harga diri dan mempunyai rasa malu untuk menadahkan tangannya mengharap pemberian orang lain.

Walau fisik mereka sudah tak lagi muda, mereka lebih suka bekerja yang dengan hasil keringatnya sendiri itu, mereka dapat membiayai hidup mereka sehari-hari.

Kita semua yang masih jauh lebih muda usianya daripada mereka tentu harus lebih giat belajar dan bekerja karena masa depan masih terbentang luas.

Selagi Allah SWT masih memberikan kepada kita usia, kesempatan, kemampuan dan kesehatan kepada kita.. Gunakanlah dengan sebaik-baiknya..

Karena waktu cepat berlalu dan tak ada yang tahu kapan kita akan kembali kepada-Nya..

Semoga Allah SWT melapangkan rejeki, memberkahi usia abah Suganda dan mbok Aminah serta kita semua…

Aamiin ya rabbal’aalamiin..