Monthly Archives: September 2016

Jatuh Cintalah dengan Sadar

Standar

Jatuh cinta berjuta rasanya

Biar siang biar malam terbayang wajahnya

Jatuh cinta berjuta indahnya
Biar hitam biar putih manislah nampaknya

Dia jauh aku cemas tapi hati rindu
Dia dekat aku senang tapi salah tingkah
Dia aktif aku pura-pura jual mahal
Dia diam aku cari perhatian

Oh repotnya..

Jatuh cinta berjuta indahnya
Dipandang dibelai amboi rasanya

Jatuh cinta berjuta nikmatnya
Menangis tertawa karena jatuh cinta

Oh asyiknya…

Begitulah bait-bait lagu nostalgia yang berjudul “Jatuh Cinta” dan pernah dinyanyikan oleh Titik Puspa.

Siapapun yang pernah jatuh cinta pasti juga pernah mengalami semua yang disebutkan dalam lagu tersebut kan.. ? Hayoo, ngakuu… 😀

Tapi hati-hatilah terhadap semua sensasi yang akan dialami saat sedang jatuh cinta…

Lhooo, emang kenapa??

Nah gini nih… Kalau orang sedang jatuh cinta itu menurut penelitian para ahli, kadar hormon dopamin dan oksitosinnya yang menimbulkan rasa senang dan bergairah sedang meningkat dengan tajam.

Pantesaan…sepasang pemuda dan pemudi yang sedang jatuh cinta itu biasanya bawaannya seneeeng terusss.

Dunia serasa milik mereka berdua. Rasanya nyaman berduaan terus.. Kapanpun, dimanapun…

Makanya ada istilah orang yang sedang jatuh cinta itu sedang dimabuk cinta. Dikatakan mabuk karena seperti orang yang tak sadar.

Sang pemuda berkata kepada kekasihnya, “Kamu wanitaku satu-satunya.. Tiada yang secantik dirimu. Apapun yang terjadi pada dirimu, aku kan selalu menemanimu.. Walau aku harus menyeberangi lautan yang luas dan mendaki gunung yang tinggi.. ”

Weisss… Rayuannya mauuutt… 😀
Padahal kalau ada wanita lain yang lebih cantik, matanya langsung melotot tak berkedip..

Sang kekasihnyanya pun menanggapi, ” Aku juga mencintaimu apa adanya. Apapun yang kau minta akan aku turuti demi cinta kita bersama.. ”

Waduhh… bahaya tuh…
Nanti kalau sampai terjadi “kecelakaan” barulah penyesalan seumur hidup yang dirasakan..

Yaah… Namanya juga sedang dimabuk cinta.. Walau wajahnya penuh jerawat, dibilangnya semulus batu pualam. Walau kelakuannya kasar kayak preman, tapi dibilangnya sang jagoan…

Hmmmm….. Ayo sadar..sadar..!

Sebetulnya boleh dan wajar saja kok orang jatuh cinta itu.. Karena cinta itu adalah suatu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT agar manusia mempunyai keturunan dan melahirkan generasi yang baru.

Yang nggak boleh itu kalau rasa cinta itu disalurkan pada orang dan waktu yang tidak tepat. Artinya, kita hanya boleh menyalurkannya pada pasangan kita setelah terjadi akad nikah yang sah, baik secara hukum agama maupun pemerintah.

Apalagi sensasi mabuk cinta itu biasanya hanya terjadi saat proses PDKT, nembak dan awal pacaran…

Menurut Fahd Pahdepie  dalam acara Talk Show yang membahas bukunya “Sehidup Sesurga” di Gramedia Cipto Cirebon pada hari Minggu 18 September 2016 yang lalu, setelah terjadi sentuhan fisik pertama saat pacaran, sepasang kekasih mulai tersadarkan dari mabuk cintanya.

Sehingga mereka mulai melihat kekurangan masing-masing. Maka sepasang kekasih yang sudah lama pacaran biasanya mulai berantem, mulai ada yang ngambek, mulai timbul rasa cemburu, galau dan lain-lain.

Lalu lama kelamaan timbul rasa bosan karena aktifitas pacaran ya gitu-gitu saja. Ya seputar makan dan nonton bareng, chattingan dan telponan. Mau tinggal serumah, tapi belum nikah. Bingung kan? Serba salah juga. Pengin menyalurkan rasa cintanya tapi nanti malah berujung zina.

Nah, daripada hubungannya penuh ketidakjelasan seperti itu.. alangkah baiknya bila diperjelas dalam suatu hubungan pernikahan yang resmi.

Lahh kalau masih belum siap secara ekonomi atau umur bagaimana?? Ya kalau gitu jangan nekat dong… Daripada menimbulkan masalah baru nanti setelah menikah..

Tapi rasa cinta ini sudah tak tertahankan lagiii….

Haduh.. Sabar..sabar…

Coba isi masa penantianmu itu dengan belajar, berlatih dan melakukan kegiatan yang bermanfaat sesuai dengan passionmu. Ikuti semua prosesnya dengan sabar demi mempersiapkan masa depanmu.. Raih prestasi sesuai bidangmu untuk mempermudah jalanmu.. 

Pasti kalau kamu sudah keasyikan dan sibuk dengan semua kegiatanmu itu, waktu seharian 24 jam itu juga bakalan terasa kurang deh.. Dan nggak ada waktu lagi buat bergalau ria atau ngelamunin kekasihmu.

Dan yang paling penting.. Isi masa penantianmu itu dengan memantaskan diri.

Buat para pemuda.. Bentuk dirimu menjadi lelaki yang shaleh dan bertanggungjawab. Mulai rintis usahamu dari sekarang untuk mempersiapkan nafkah bagi istrimu kelak. Sehingga engkau menjadi suami yang pantas nantinya.

Buat para pemudi.. Bentuk dirimu menjadi wanita yang shalehah dan terampil dalam pekerjaan berumahtangga.

Karena walau titelmu S3 sekalipun, engkau tetap akan menjadi seorang istri bagi suamimu dan seorang ibu bagi anak-anakmu yang harus pandai mengurus rumah tanggamu.

Walau tak harus semahir chef internasional atau selihai penjahit adibusana.. Setidaknya hasil masakan sederhanamu bisa menyehatkan, mengenyangkan dan menyenangkan suami serta anak-anakmu. Dan setidaknya kancing yang lepas dari kemeja suamimu, bisa kau jahitkan kembali.

Dan yang terpenting..anak-anakmu berhak mendapatkan kesehatan, bimbingan dan didikan darimu semenjak di dalam kandungan. Maka perbanyaklah belajar ilmu gizi dan parenting.

Wuahhh… Banyak juga yaa yang harus dipantaskan terlebih dahulu sebelum merealisasikan sebuah rasa dan kata cinta..

Maka jangan lewatkan masa penantianmu itu dengan hal-hal yang sia-sia.. Sebelum terlambat, ayo persiapkan dan lakukan dari sekarang..

Dan ketika saatnya telah tiba nanti.. Barulah akan kaurasakan nikmat dan suka dukanya jatuh cinta yang sesungguhnya.. Perasaan jatuh cinta yang sadar sesadarnya… Jatuh cinta yang sejati bersama suami atau istrimu..

Karena setelah menikah.. watak, kebiasaan dan penampilan suami/istrimu yang sesungguhnya akan nampak lebih jelas dan nyata..

Adanya perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, pemikiran dan pendapat antara kalian berdua sejak awal pernikahan biasanya akan menimbulkan sedikit pertengkaran atau kesalahpahaman.

Namun berbeda keadaannya dengan berantemnya sepasang kekasih yang masih pacaran. Karena tidak adanya keterikatan yang jelas antara dua orang yang masih pacaran, maka dengan mudahnya mereka memutuskan hubungan lalu menjalin hubungan dengan yang lainnya.

Kalau sudah baikan nyambung lagi. Kalau berantem lagi, putus lagi. Jadi tidak ada keseriusan di antara mereka. Hubungan yang terkesan seperti  main-main saja.

Sedangkan pada berantemnya suami istri, ada suatu usaha untuk saling mengalah, saling memahami dan saling memaafkan hingga saling berkomitmen di antara mereka karena sudah memiliki ikatan dan tujuan yang jelas dari hubungan pernikahan mereka.

Sehingga pada akhirnya…
Walau mereka sadar bahwa
ada perbedaan di antara mereka..

Ada kekurangan dan kelebihan pada diri mereka masing-masing..

Mereka tetap bisa menerima dan saling menyelaraskan hubungan mereka menjadi suatu hubungan pernikahan yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah.. 🙂

Sebuah kebahagiaan sejati dari hubungan antara pria dan wanita yang diawali dari jatuh cinta dengan sadar pada saat yang tepat.

Tak Sekedar Cerdas

Standar

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna di antara makhlukNya yang lain.

Karena manusia tak hanya berfisik, tapi juga berpsikis. Manusia memiliki raga dan ruh. Manusia juga dikaruniai otak olehNya untuk tak sekedar berakal tapi berakal budi (berbudi pekerti) yang mampu membedakan, mana yang baik dan harus dilakukan serta mana yang buruk dan jangan dilakukan.

Sejak lahir di dunia, sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suci, sesuai dengan fitrahNya. Seiring dengan perkembangan fisiknya, tumbuhlah ia menjadi manusia dewasa.

Namun terkadang kedewasaan fisiknya itu tak diiringi dengan kedewasaan psikisnya. Sehingga emosinya belum stabil dan pengendalian dirinya masih kurang.

Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Seperti pola asuh yang salah dalam keluarga, pengaruh negatif dalam pergaulan di lingkungannya di dunia nyata maupun dunia maya. Minimnya motivasi dan kesadaran dalam dirinya juga ikut berpengaruh.

Padahal kini semakin banyak pemuda dan pemudi yang cerdas secara intelektual, namun sayang sebagian darinya tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritualnya.

Sehingga kecerdasannya itu malah disalahgunakan untuk melakukan tindakan sia-sia dan negatif yang tidak dibenarkan baik oleh agama maupun hukum pemerintah karena merugikan orang lain dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat.

Hal itu terbukti dengan makin beragamnya trik-trik dan modus penipuan, pencurian, penculikan, bahkan perkosaan dan pembunuhan sebagaimana yang sering kita dengar dan perhatikan di media massa.

Semua perbuatan nista itu terjadi karena ketakmampuan pelaku dalam mengendalikan hawa nafsu dan emosinya demi memenuhi kepuasan semu dirinya sehingga berakibat mengalahkan akal sehatnya.

Akal budi para pelaku tersebut yang sejatinya secara fitrah bermuatan nilai budi pekerti yang luhurpun menjadi tak peka lagi. Pola hidup dan pemikirannya yang salah selama bertahun-tahun membentuk karakternya yang buruk meskipun mempunyai kecerdasan intelektual.

Di situlah berbahayanya orang yang cerdas tapi tak bermoral dan tak beragama. Sehingga meski dia berakal tapi malah untuk ‘ngakalin’ orang lain. Berhati-hatilah.. karena mereka biasanya cenderung licik, pandai bersandiwara dan bermulut manis untuk menutupi akal bulusnya.

Dengan ‘otak cemerlangnya’ mereka juga tega memanfaatkan bahkan mengadu domba teman atau saudaranya sendiri demi kepentingan pribadinya.

Maka menjadi PR untuk kita sebagai orangtua, guru dan pemerhati pendidikan.. Mari kita bersama-sama tak hanya mempersiapkan anak yang cerdas secara intelektual dan akademis. Namun bantu juga mereka untuk mengasah sisi emosional dan spiritualnya.

Selain penanaman nilai-nilai dasar agama dan pembiasaan ibadah, biasakan juga anak-anak kita untuk memiliki sikap-sikap sebagai berikut:

1. Jujur
2. Santun
3. Bertanggungjawab
4. Mempunyai kepedulian sosial
5. Rajin dan sabar
6. Menjaga kehormatan
7. Suka menolong

Setiap hari sisihkan waktu sejenak untuk dapat berkomunikasi dengan anak. Berikan pelukan hangat untuk mereka. Agar jiwa dan hati mereka tidak gersang dan haus akan kasih sayang. Dengarkan curhat dan harapan-harapannya.

Sehingga kita bisa lebih memahami dunia mereka. Dan bisa lebih mengerti apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya di masanya.

Dengan demikian, tak hanya minat dan bakat mereka yang menjadi terdukung dan tersalurkan secara positif. Namun lebih dari itu.. Jiwa mereka tak lagi hampa akan perhatian keluarga dan para pendidiknya.

Kesemuanya itu akan membekali anak-anak kita dengan pondasi karakter mulia yang kokoh untuk menghadapi apapun  godaan dan pengaruh lingkungan sekitarnya. 

Sehingga anak-anak kita mampu memanfaatkan segenap kecerdasannya untuk kebaikan dirinya dan demi kemaslahatan umat pada jalur yang positif tuk raih kesuksesan masa depan dirinya dan bangsanya.

Pesan tuk Remajaku..

Standar

Seorang remaja itu laksana bunga yang sedang mekar dengan indahnya.

Menawan hati bagi siapapun yang memandangnya.

Seorang remaja juga bagaikan bintang cemerlang di kegelapan malam.

Prestasi dan kiprahnya menerangi masyarakat dan lingkungannya.

Tapi godaan di luar sana begitu menggiurkan

Sedangkan rasa malas, keraguan dan keputusasaan bergantian menggelayutimu.

Sehingga sesekali
menahan langkahmu..
Mengendurkan semangatmu..
Mengalihkan arahmu..
Mematahkan harapanmu..
Dan mengaburkan cita-citamu..

Wahai remajaku..

Biarlah bila memang semua itu
Harus terjadi dan kau lewati..

Anggaplah sebagai batu kerikil di perjalananmu..
Yang makin menguatkan langkahmu..

Anggaplah sebagai fase rehat..
Tuk merenung, mengevaluasi diri..
Agar lebih waspada dan berhati-hati melangkah

Bangkitlah remajaku..
Bersemilah kembali tunas harapanku..

Tinggalkan semua kegalauan masa lalumu..
Dan lepaskan keresahan atas masa depanmu..

Masa depan memang penuh ketidakpastian..
Tapi tetaplah melangkah untuk memastikannya..

Sehingga impianmu menjadi nyata
Dan harapanmu menjadi terwujudkan

#OneDayOnePost

Persimpangan Jalan Kehidupan

Standar

Kehidupan itu ibarat sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan yang harus melewati beberapa persimpangan jalan.

Walau sudah ada rambu dan petunjuk di setiap sudutnya, terkadang kita masih tersesat dan salah arah.

Memang bukanlah hal yang mudah ketika kita harus memilih atau memutuskan sebuah langkah di antara berbagai pilihan.

Sehingga sangat membutuhkan sebuah pertimbangan yang matang. Mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya juga salah satu usaha yang bisa membantu.

Dan shalat istikharahpun menjadi penguat dalam mengambil sebuah keputusan. Sehingga akhirnya pilihan yang sudah kita ambil itu menjadi nasib kehidupan kita.

Bila nasib baik yang kita alami, maka dianggaplah bahwa pilihan yang diambil sudah tepat.

Sebaliknya bila nasib buruk yang terjadi, maka pilihan yang diambil dianggap salah.

Namun karena kehidupan terus berjalan, janganlah terburu untuk menghitamputihkan sebuah keadaan dan memvonis sebuah nasib.

Karena selama mentari masih terbit esok hari, masih ada harapan yang menanti.. 🙂

Dan selama hayat masih dikandung badan, masih ada kesempatan tuk memperbaiki. Meski seburuk apapun yang sedang terjadi. Karena itu belum menjadi akhir dari segalanya..

Bahkan bisa jadi buruknya suatu keadaan yang tengah terjadi itu sebagai penguji terhadap keteguhan hati kita dalam memilih/memutuskan sesuatu.

Maka doa dan ikhtiar harus tetap mengiringi. Agar kita tak salah melangkah dan memilih. Dan agar kita tetap teguh dalam pilihan kita ketika sedang terjadi cobaan.. Serta agar kita diberi kekuatan untuk mengambil jalan lain di saat kita memang telah salah melangkah..

Siraman Rohani

Standar

“Bu, jangan lupa ya, nanti jam 13.30 datang ke pengajian di Masjid Al Karamah”

Sebuah pesan masuk ke telepon selulerku tadi pagi..

Aku tahu itu SMS dari bu Uut.., ketua pengajian ibu-ibu di masjid Al Karamah yang mayoritas jamaahnya adalah para ibu/ tetanggaku yang tinggal di lingkungan RW 13.

Bu Uut dan bu Ila rekannya, memang sering mengingatkanku agar selalu hadir pada pengajian di masjid yang ada di belakang rumahku itu. Kalau aku tidak hadir, dia kadang menanyakanku lewat SMS.

Awalnya aku tidak terlalu antusias mengikuti pengajian yang diadakan pada setiap hari Rabu minggu ketiga itu.

Karena mayoritas pesertanya adalah para ibu yang sudah berusia lanjut dari kampung belakang rumahku. Lagipula setiap hari Selasa dan Jum’at aku sudah bergabung di Majelis Ta’lim yang anggotanya adalah para ibu yang anaknya alumni dari Al Azhar (sekolah anakku dulu)

Tapi karena terdorong oleh rasa hormatku atas ajakan bu Uut dan bu Ila, maka aku berusaha untuk selalu bisa menghadirinya.

Kemarin saat shalat Idul Adha aku bertemu lagi dengan mereka. Seperti biasa sesudah shalat, para jamaah saling bersalaman. Ketika aku bersalaman, mereka membisikiku,

“Bu, besok ada pengajian. Datang ya bu.”

Aku mengangguk dan tersenyum ramah pada mereka..

“Insya Allah bu.. ,” jawabku.

                            *******

Tapi setelah beberapa kali aku mengikuti pengajian ibu-ibu di masjid Al Karamah itu, akhirnya malah aku yang menjadi malu..

Aku malu saat melihat betapa semangatnya para ibu itu dalam menyimak pengajian dan belajar Al Qur’an..

Banyak di antara mereka yang sudah berusia di atas 60 bahkan 70 tahun.. Jalannya juga sudah tertatih-tatih. Tapi mereka selalu rajin menghadiri pengajian..

Beberapa di antara mereka malah ada yang harus menempuh perjalanan yang agak jauh untuk bisa mengikuti pengajian itu.

Dalam balutan pakaian mereka yang rapi dan sederhana, tampak ketulusan niat mereka untuk menimba ilmu dan mencari keridhaanNya.

Para pengurus pengajiannya yang juga rata-rata sudah berumurpun ternyata aktif dan kreatif.

Supaya lebih menarik mereka mengadakan arisan dan door prize pada setiap kali pengajian.

Malu…aku beneran malu..

Aku serasa ditegur untuk tidak menilai hanya dari penampilan atau usia mereka saja. Aku juga serasa diingatkan agar mau berbaur dengan siapapun dan dari kalangan apapun..terlebih di kalangan tetangga sendiri..

Dan dari setiap materi ceramah yang disampaikan dalam pengajian di sanapun juga ternyata cukup berbobot.

Hebatnya lagi para pengurusnya juga siap di kala penceramah berhalangan hadir. Seperti tadi siang, mereka menggantikan penceramah yang tidak hadir dengan menceritakan kisah sejarah Nabi Ibrahim as, Siti Hajar dan Nabi Ismail as. Pas banget dengan tema Hari Raya Idul Adha.

Malah akhirnya aku menjadi lebih banyak mengerti tentang sejarah para Nabi tersebut. Seperti adanya kisah bagaimana cara Nabi Ibrahim as memilihkan wanita yang terbaik untuk dijadikan istri bagi putranya, Nabi Ismail as.

Nabi Ibrahim menilainya dari bagaimana para wanita itu menjaga nama baik suaminya dengan cara tidak mempergunjingkannya dengan orang lain.

Alhamdulillah.. Suatu pelajaran yang berharga telah aku peroleh lagi siang ini.. 🙂

                        *******

Begitulah… Pengajian adalah sebuah siraman rohani yang tak hanya sekedar menyejukkan hati kita yang kadang mengalami kegersangan.

Tapi juga menjadi pengingat sekaligus penegur di saat kita lalai dalam beribadah dan beramal shaleh.

Kesibukan dan padatnya aktifitas sehari-hari memang terkadang membuat pola pikir dan sikap kita menjadi terlalu condong ke duniawi.

Melalui pengajian itulah kita diarahkan untuk kembali menyeimbangkannya dengan ukhrowi.

Yuk, kita luangkan waktu sejenak untuk bisa mengikuti pengajian atau membaca buku-buku dalam rangka mempelajari ajaran Islam.

Dengan adanya sarana yang semakin canggih ini, kita juga bisa mengikuti pengajian melalui media sosial, seperti you tube, yufid dan lain-lain.

Tujuannya agar kita selalu bisa mengevaluasi diri kita, mendekatkan hidayah tuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat..

“Rabbana aatinaa fiddunyaa hasanah. Wa fil aakhirati hasanah. Wa qina ‘adzabannaar..”

“Ya Allah berikanlah kepada kami kebaikan dunia dan akhirat.. Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.. ”

Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Aku merindukanmu, Papi.. :'(

Standar

Malam ini tiba-tiba Papi datang menjengukku.. 

Aku senang sekali.. 🙂 Rasanya sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya..

Aku bertambah senang ketika kulihat Mami juga ikut datang.. 🙂 

Aku langsung menyambut mereka berdua dengan bersalaman.. Kugenggam erat tangan mereka berdua. Kurasakan kehangatan dan kelembutan di tangan mereka.. Lalu kutautkan kedua tangan.mereka..

Kulihat Papi dan Mami tersenyum.. 🙂 

Lalu kuajak mereka mengobrol. Akupun langsung curhat serta berkonsultasi tentang berbagai hal bersama Papi…

Dan seperti biasa Papi memberikan banyak nasehat dan pesan…

Di antara pesannya… Aku harus menjadi seorang istri dan ibu shalehah yang mampu membimbing anak cucu keturunanku agar menjadi insan shaleh/shalehah yang siap menghadapi kerasnya kehidupan dan godaan duniawi.

Aku juga tidak boleh melupakan Mami yang sekarang lebih sering tinggal sendirian di Magelang. Aku harus tetap meneruskan baktiku padanya. Dan aku harus siap menggantikan Papi sebagai teman ngobrol dan curhatnya Mami.

Dan terakhir Papi berpesan, bila ada waktu luang, Papi berharap tulisan-tulisannya yang sudah tersimpan rapi di laptop dan flashdisknya agar disusun menjadi sebuah buku yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya sehingga dapat menjadi ladang amal shalehnya..

Lalu kurasakan Papi mulai merenggangkan telapak tangannya yang semenjak tadi kugenggam erat..

Rupanya Papi mau berpamitan.. Namun aku masih ingin bersama Papi..sehingga aku menahan tangannya..

Tapi Papi malah berkata, bahwa ia harus segera pulang.. 😥

“Papi, tunggu sebentar.. Jangan pulang dulu, Awang masih pengin ngobrol lagi sama Papi..,” aku memohonnya.

Tapi Papi malah tersenyum dan melepaskan tangannya dari genggamanku… 😥

Aku mengejarnya dan mencoba menarik kembali tangannya…Tapi Papi hanya menatapku sambil tersenyum, lalu lama kelaman menghilang dari pandanganku… 😥

“Papiiii… , ” teriakku sambil menangis..

Tapi aku sudah tak melihatnya lagi.. Air mataku membanjiri pipiku.. Aku menangis sesenggukan..

Tiba-tiba aku tersadar dan terbangun dari tidurku.. Kulihat anakku dan suamiku yang tengah tidur pulas di dalam kamar. Saat kulihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 23.13..

Kurasakan ada sisa air mata yang masih membasahi mata dan pipiku..

Malam ini kerinduanku pada Papi menjadi semakin dalam…

Namun kini aku hanya bisa mendoakannya.. :

“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu..

Aamiin ya Allah…”