Monthly Archives: Oktober 2016

Nostalgia SMP Kita..

Standar

Bangunan sekolah yang terletak di seberang rumah orangtuaku itu masih kokoh berdiri. Bahkan kini makin terlihat rapi, bersih dan kompak. Karena di dalam area sekolahnya kini juga telah dibangun sebuah masjid.

Di bagian dalam area sekolah, beberapa bagian ruangan tidak terlalu banyak berubah. Hanya saja kini banyak piala, medali dan foto-foto siswa siswi berprestasi SMPN 2 Magelang yang berderet rapi di beberapa sudutnya.

3 tahun lamanya aku mengenyam pendidikan di sana. Bersosialisasi dengan lingkungan teman sekolah yang lebih heterogen dibandingkan dengan lingkungan sekolah yang sebelumnya.

Di sekolah itulah untuk pertama kalinya aku mengenal ajaran Islam melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sekolah menengah pertama yang hingga kini dikenal sebagai salah satu SMP favorit di kota Magelang itu adalah  SMPN 2 Magelang. 

Banyak kenangan bersama guru-guru dan teman-teman sekelasku yang masih tersimpan di hati dan benakku.

Ada kenangan tentang serunya membedah katak dan burung merpati untuk praktikum pelajaran Biologi bersama teman-teman sekelasku.

Dari hebohnya menangkap katak yang melompat kabur, membius hewan, hingga perasaan ngeri bercampur takjubnya kami saat membedah dan mengamati jantung hewan yang masih berdenyut.

Ada kenangan saat tiba-tiba muncul kreatifitasku untuk membuat kartu rumus matematika dan merangkum pelajaran tersebut dalam sebuah buku yang kutulis dengan rapi dan kutempeli stiker agar aku senang mempelajarinya.

Jujur saja.. Saat itu pelajaran Matematika adalah pelajaran yang paling tak kusukai karena merupakan pelajaran yang tersulit. Alhamdulillah bagi anakku, pelajaran Matematika malah merupakan salah satu pelajaran favoritnya.. 😀

Ada lagi kenangan.. tentang betapa gembiranya hatiku saat melihat nilai “Excellent” bertaburan pada buku latihan bahasa Inggrisku. Apalagi ketika guru bahasa Inggris memujiku di depan teman-teman sekelas karena hasil ulanganku yang memuaskan. Bagi anak yang masih sering minder seperti diriku ini, hal seperti itu sungguh memotivasi.

Lalu ada kenangan.. Tentang segumpal rasa senang yang menyelimuti hatiku ketika kue agar-agar campur irisan roti tawar kreasiku yang kutitipkan di kantin sekolah bisa habis terjual.

Juga ada kenangan ketika seorang ibu guru baru yang cantik dan baik mulai mengajar di kelasku. Namanya bu Ida Widariretno. Beliau mengajar pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Tulisannya sangat rapi dan enak dibaca. Cara penyampaian materinya juga jelas dan tidak membosankan.Sehingga pelajaran PMP menjadi pelajaran yang menyenangkan. Apalagi bu Ida sangat peduli dan komunikatif terhadap semua siswa siswinya. Sehingga membuat kami nyaman dalam belajar.

Alhamdulillah saat libur Lebaran dan ketika aku pulang ke Magelang di pertengahan bulan Oktober ini, aku dapat berjumpa lagi dengan bu Ida… 🙂 Wajahnya masih tampak cantik dan seramah dulu.

Bedanya.., kalau dulu bu Ida masih mengenakan rok yang panjangnya selutut.., kini bu Ida sudah mengenakan kerudung dan busana muslimah. Penampilannya menjadi tampak semakin anggun dan matang.

Walau kini aku telah berumahtangga dan tinggal di kota Cirebon.., namun semua kenangan itu tak pernah kulupakan.

Karena.., itu semua nostalgia SMP ku..
Nostalgia SMP kita.. 🙂

Menjaga Pintu Surga Terakhir

Standar

Sejak Papi berpulang ke hadiratNya pada pertengahan bulan Juni yang lalu, kini Mami hanya tinggal bersama adik lelakiku dan kedua cucu kembarnya yang masih kelas 5 SD di Magelang.

Sekarang tak ada lagi teman ngobrol dan curhat yang selalu mendampinginya seperti dulu. Maka aku bisa memahami bila Mami sekarang sering merasa kesepian. Pada saat awal kepergian Papi, bahkan Mami pernah merasa kehilangan semangat hidupnya.

Apalagi saat adik lelakiku sedang bekerja ke luar kota/luar pulau dalam waktu sekitar 2 minggu hingga 1 bulan, Mami menjadi semakin kesepian. Yang kami khawatirkan adalah dengan kondisi fisik Mami di usianya yang sudah mejelang 75 tahun, tentu sudah tak seprima dulu.

Pernah kemarin kami dibuat cemas karena sejak malam hingga siang hari teleponnya tidak diangkat. Sementara sebelumnya Mami sempat mengeluh sedang tidak enak badan.

Sampai aku menghubungi tetangga sebelah rumah Mami dan meminta tolong padanya untuk mengecek keadaan Mami. Alhamdulillah Mami baik-baik saja. Ternyata HPnya ketinggalan di dalam toko.

Sebetulnya aku dan kedua adikku sudah berulangkali menyarankan Mami agar pindah saja ke rumahku di Cirebon. Supaya Mami setiap saat bisa kutemani dan kujaga.

Pertimbangan kami karena Cirebon adalah lokasi yang terdekat dengan kota Magelang. Dan Papi juga dimakamkan di kota Cirebon

Sehingga bila suatu saat Mami ingin pulang ke Magelang bisa lebih mudah dan cepat. Selain itu Mami bisa setiap saat berziarah ke makam Papi.

Tapi walau sudah dibujuk dengan berbagai cara, Mami tetap ingin tinggal di Magelang saja. Semula kami juga merasa heran, kenapa Mami kok masih belum mau pindah ke Cirebon juga? Bukankah lebih enak tinggal bersama anaknya?

Tapi akhirnya lama kelamaan kami bisa memahaminya. Ternyata Mami bukannya tidak mau, tapi Mami hanya tidak ingin merepotkan anak-anaknya di masa tuanya ini..

Aduh Mami.. Tentu saja tidak menjadi masalah bagi kami. Karena justru inilah kesempatan bagi kami untuk membalas budi dengan menjaga dan merawat Mami sebagaimana yang dulu Mami pernah lakukan kepada kami saat masa kecil kami. Dan itupun masih belum berarti apa-apa.

Apalagi waktu itu salah seorang sahabat Papi saat masih menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta, bapak Taufik Kasturi (sekarang Dekan fakultas Psikologi UMS), juga pernah menyampaikan bahwa birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua) adalah termasuk salah satu dari 8 pintu surga. 

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Kalau ayah sudah meninggal,  berarti tinggal 1 pintu surga yang terbuka, yaitu ibu. Maka optimalkan segala perhatian kepada ibu,” begitu penjelasan pak Taufik.

Namun pada akhirnya kami harus mengalah terhadap keinginan Mami.. Ternyata berdasar cerita teman-teman,  kebanyakan orangtua mereka juga lebih menginginkan untuk menghabiskan masa tua di rumah mereka sendiri meski bagaimanapun kondisi rumah.

Setelah kurenungkan.. aku semakin mengerti bahwa bagi orangtua kita, rumah yang mereka tempati adalah bagian terbesar dari sejarah dan kenangan hidup mereka..Mungkin ketika kita sudah tuapun akan berpikiran dan bersikap demikian..

Atas pilihannya untuk tetap tinggal di Magelang tersebut, membuat Mami kembali menyibukkan dirinya dengan membuka toko di depan rumahnya. Kegiatan yang sudah dilakukannya sejak menikah dan telah membantu menopang ekonomi keluarga saat itu sampai kami bertiga bisa menyelesaikan kuliah. Hanya sekarang tak seserius dulu karena sekedar pengisi waktu. Dengan kegiatannya itu, rasa sedih dan kesepiannya jadi lumayan bisa terobati.

Dan kini yang bisa kulakukan sebagai baktiku kepadanya, selain mendoakan juga dengan lebih sering meneleponnya. Kalau dulu saat masih ada Papi, aku menelepon seminggu hingga 2 minggu sekali. Tapi kini hampir setiap hari kuusahakan untuk meneleponnya. Harapanku dengan demikian Mami tidak terlalu merasa kesepian lagi.

Selain itu aku dan adik perempuanku yang tinggal di Lampung kini mengatur jadwal agar bisa bergantian pulang ke Magelang untuk menemani Mami di saat adik lelakiku sedang ke luar kota/luar pulau.

Saat ini aku sedang menempuh perjalanan dengan KA menuju ke kota Yogyakarta, lalu nanti disambung naik Damri dari stasiun Tugu menuju ke Magelang.

Insya Allah selama seminggu, terhitung dari hari Senin ini hingga nanti hari Sabtu, aku akan menemani Mami di Magelang.. Lalu minggu depan gantian adik perempunku yang pulang ke Magelang untuk menemani Mami.

Terima kasih suamiku yang sudah mengijinkanku untuk melanjutkan baktiku terhadap “pintu surga birrul walidain terakhirku”  Insya Allah aku bisa menjaga diri selama dalam perjalanan. Semoga Allah SWT juga senantiasa menjaga suamiku dan anakku di manapun berada, sehingga selalu sehat dan dimudahkan dalam setiap tugas dan kegiatannya.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Menimba Ilmu dan Pengalaman di Workshop Menulis Asma Nadia, 2 Oktober 2016

Standar

Kegiatan belajar menulis langsung ke ahlinya pun berlanjut di hari kedua dari bulan Oktober. Kegiatanku hari ini adalah mengikuti  Workshop Menulis Asma Nadia di Jakarta Design Center (JDC).

Saat bersiap-siap berangkat, aku sempat kebingungan mencari kerudungku. Isi tas sudah kuaduk-aduk tapi tetap saja tak kutemukan kerudung yang kumaksud. Setelah kuingat-ingat, barulah sadar kalau ternyata kerudung tersebut tertinggal di rumah.

Karena hanya menginap semalam di Jakarta, aku cuma membawa 1 setel baju resmi, 1 baju tidur, handuk, perlengkapan pribadi, dan perlengkapan mandi. Biasanya setiap kali bepergian, baju selalu kupersiapkan sekaligus dengan setelan kerudungnya. Tapi baru kali ini kerudungnya tak terbawa.

Yaah.. Terpaksa deh.. kerudung yang kemarin, aku pakai kembali… Walau sebetulnya warnanya kurang sesuai dengan baju yang kini kupakai, tapi biarlah, masih nggak terlalu jauh beda. Habis mau gimana lagi?

Yusi sempat menawarkan pashminanya. Tapi tetap saja warnanya kurang sesuai.

“Barangkali di JDC ada yang jual kerudung, nanti ibu bisa beli di sana bu.,” saran Yusi.

“Oh, iya yaa..,” aku mengangguk dan menjadi lebih tenang.

“Tapi bukannya di JDC itu yang dijual hanya barang-barang yang berhubungan dengan desain interior semacam furniture dan hiasan rumah ya?” aku menjadi sedikit ragu. Tapi..ah sudahlah..

Sesudah sarapan nasi soto ayam yang lezat di penginapan, aku berangkat terlebih dahulu ke JDC. Sedangkan Yusi masih menunggu jemputan temannya. Pada hari terakhir di Jakarta ini, kami mempunyai acara masing-masing.

Kira-kira jam 08.10 aku sampai di JDC. Suasana dari luar tampak sepi. Kupikir masih tutup karena kepagian, seperti kemarin waktu di Gedung Kompas Gramedia pas acara Seminar 1000 Penulis Muda.

Tapi ketika kutanyakan pada seorang yang sedang duduk di tangga depan JDC, katanya pintu depan tidak dikunci. Jadi aku langsung masuk saja.

Seorang petugas sekuriti memberi informasi bahwa tempat acara Workshop Menulis Asma Nadia berada di lantai 6 ruang Lotus. Dia juga menunjukkan arah liftnya.

Ketika sampai di lantai 6, tepat di depan ruang Lotus, sudah tampak panitia yang sedang sibuk mempersiapkan tempat dan perlengkapan registrasi ulang untuk peserta. Beberapa peserta juga sudah hadir dan menunggu di depan area tersebut.

Sebagaimana biasa di setiap event Asma Nadia, tampak buku-buku tulisan Asma Nadia, Isa Alamsyah bersama putra, putri dan rekan-rekannya yang sedang dipajang dengan rapi oleh panitianya di dekat stand registrasi ulang.

Daan…ada sesuatu yang menggembirakanku.. ! Ada stand baju muslimah dan kerudung Asma Nadia juga di sana! Alhamdulillah.. 🙂 Aku langsung menyerbu stand tersebut dan mencari kerudung yang sesuai warnanya dengan baju yang kukenakan hari ini.

Seorang ukhti yang manis menyambutku dengan ramah. Dia membantuku mencarikan kerudung yang kumaksud. Tapi karena semua bermotif, sedangkan bajuku juga bermotif jadi agak sulit juga mencarinya.

Akhirnya kutemukan yang paling sesuai, yaitu kerudung berwarna hitam dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih. Ukhti penjaga stand busana muslimah yang baik hati itupun membantuku memakaikan kerudung.

Waduh, servicenya sangat memuaskan.. (y) Apalagi bros cantik miliknya juga diberikan untukku sebagai bonus sekaligus kenang-kenangan darinya.. Terima kasih mbak Junita Embatau.. 🙂 (nama ukhti tersebut). Dua buah kerudung dengan motif bunga yang cantikpun menggodaku untuk membelinya.

Sebuah buku yang berjudul “101 Dosa Penulis Pemula” tulisan dari pak Isa Alamsyah juga sempat kubeli sebelum memasuki ruangan workshop.

Selanjutnya aku langsung bergabung di antrian para peserta yang sedang melakukan registrasi ulang. Setiap peserta mendapatkan name tag, pulpen dan modul workshop yang disimpan rapi di dalam map plastik.

Saat itu aku bertemu dengan pak Tendi Murti, salah seorang penulis yang kemarin mengadakan acara sekaligus menjadi pembicara pada seminar “1000 Penulis Muda” di Gedung Kompas Gramedia. Beliau menyapa dengan ramah.

Aku merasa salut dengan beliau karena sebagai penulis yang sudah senior seperti beliaupun tetap rendah hati dan masih rajin menimba ilmu kepenulisan seperti di acara ini. Padahal beliau founder KMO (Komunitas Menulis On Line) lhoo..

Ternyata di acara tersebut hadir juga penulis yang terkenal dengan buku ‘fotokopian’nya, namun selalu best seller. Yaitu pak Opik Oman. Aku baru tahu setelah pulang ke Cirebon.
Kalau para penulis yang sudah hebat seperti mereka saja rajin menimba ilmu kepenulisan, apalagi diriku yang masih sangat pemula.

Ketika peserta sudah banyak yang hadir dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, acara wokshop pun dimulai. Acara langsung dipimpin oleh mbak Asma Nadia dan pak Isa Alamsyah (suaminya).

Sebagai pembuka acara, pak Isa membahas naskah-naskah para peserta yang telah dikirimkan via email sebelum acara ini berlangsung. Sebuah kesempatan baik sekaligus fasilitas yang diberikan oleh panitia agar semua peserta berkesempatan dikoreksi langsung naskahnya oleh mbak Asma Nadia dan pak Isa Alamsyah.

“Naskah yang berjudul “Buku, dalam Kisah dan Harapanku” ini naskah siapa ya?” tanya pak Isa sambil melihat ke sekeliling peserta.

“Lah, itu kan judul naskahku !” seruku dalam hati. Aku langsung mengangkat tangan.

Dag dig dug rasanya hatiku..

“Haduh, naskahku dibahas pertama nih..!” aku menjerit dalam hati.

“Namanya Ugie ya?” tanya pak Isa

“Bukan pak.. Nama saya Irma,” aku langsung mengoreksi namaku.

“Oya maaf, bu.. Di sini kok ditulis Ugie.. Jadi saya kira nama penulisnya Ugie..,” kata pak Isa.

Aku heran bercampur geli.. Kok namaku tiba-tiba berubah menjadi Ugie ya? 😀

Lalu mulailah ‘pembantaian’ naskahku. Kata pak Isa, naskahku terlalu banyak tulisan “aku”, “ku” dan semacamnya.

Dalam buku “101 Dosa Penulis Pemula” kesalahan dalam penulisan seperti itu termasuk sebagai Dosa ke 1 dari ” Lima Dosa Utama – Pengulangan Kata atau Gaya yang Sama”. ‘Dosa’ naskahku adalah terlalu banyak ‘Serangan Aku’nya.

Pak Isa juga menyarankanku agar mencari alternatif judul yang lain untuk naskahku supaya lebih menarik dan ‘menggigit’

Naskah beberapa peserta lain juga mendapat giliran untuk ‘dibantai’ satu demi satu. Kebanyakan kesalahannya adalah dalam hal teknik penulisan dan pemilihan judul.

Tapi melalui pengoreksian dan pembahasan langsung seperti inilah kami menjadi lebih paham akan kesalahan dalam penulisan selama ini dan bagaimana yang seharusnya.

Kemudian acara langsung masuk ke pembahasan materi workshop sesuai dengan modul yang telah diberikan.

Secara garis besar, materi yang dibahas adalah sebagai berikut:

– Motivasi menulis
– Ide atau Tema
– Setting atau Latar
– Penokohan atau Karakter
– Menggambarkan ekspresi
– Sudut pandang /POV
– Alur (Plot) dan Peristiwa (Konflik)
– Opening dan Ending
– Fiksi dan Non Fiksi

Satu demi satu materi dibahas dengan detail oleh mbak Asma dan pak Isa. Suasana workshop walau serius namun tetap santai karena dibumbui dengan cerita dan guyonan yang menyegarkan.

Dari materi yang disampaikan terlihat luasnya wawasan dan pengalaman akan kepenulisan dari sepasang suami istri yang selalu kompak itu. Putra dan putri mereka yang bernama Adam dan Salsa pun tampaknya mewarisi bakat dan kesuksesan kedua orangtuanya.

Salsa yang sejak kecil hobby menulis bahkan sudah menerima royaltinya setiap 4 bulan sebesar 12 juta rupiah dari hasil buku-bukunya yang best seller, seperti “Cool Skool” ,'”My Candy” (KKPK) dan lain-lain. Sebuah bukti nyata bahwa rejeki dapat mengalir dari hobby menulis sejak kecil.

Di akhir penyampaian materi di session awal tersebut ada beberapa peserta workshop yang menitipkan buku karyanya ke mbak Asma dan pak Isa dengan tujuan mendapatkan penilaian dan masukan dari mereka. Aku juga ikut menitipkan buku “Santriwati Baru” di sana.

Saat break time untuk ishoma, aku sempat berkenalan dengan beberapa peserta workshop. Di antaranya dengan mbak Retnowati yang akrab dan ramah. Dia sempat membeli buku “Santriwati Baru” ku. Terima kasih mbak Retno.. 🙂

Lalu aku bertemu dengan Yasmin Azzahra Rahman seorang penulis cilik yang kini sudah duduk di bangku SMA dan hadir bersama ibunya yang hebat.

Walau menderita Cerebral Palsy dan harus dibantu kursi roda, namun semangatnya dalam menulis membuatnya mampu menerbitkan buku yang berjudul “From Holland with Love” dan “My Story in Holland” (KKPK)

Kedua buku tersebut mengisahkan pengalamannya saat terapi untuk penyakitnya di Holland/Belanda dan kisahnya ketika tinggal di sana.

Penulis yang mempunyai keterbatasan fisik, namun semangat menulisnya tak kalah dengan yang fisiknya normal selain Yasmin yang ikut hadir di acara tersebut adalah Ramaditya Adikara (tunanetra). Dia sekarang sedang menggarap naskahnya yang berjudul “Cukup Gue”

Aku juga berkenalan dengan pak Cahyo dan istrinya yang banyak memberiku informasi tentang ISBN dan penerbitan buku.

Materi berikutnya disampaikan oleh Guntur Soeharjanto, seorang sutradara film yang berbakat. Film sinetron kelimanya, “Juli di Bulan Juni” berhasil meraih sembilan penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2005.

Beliau pernah mendapat penghargaan Piala Vidia sebagai Sutradara Terbaik dan Nominasi pada Festival Film Bandung sebagai Sutradara Film Televisi Terpuji. (Sumber: Wikipedia)

Beberapa film yang telah disutradarainya dan diangkat dari novel Asma Nadia adalah sebagai berikut :
– Assalamu’alaikum Beijing
– Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea
– Cinta Laki-Laki Biasa

Trailer dari film Pinky Promise yang disutradarainya sempat diputarkan juga di sela pembahasan materi. Sebuah film drama yang menceritakan warna warni persahabatan antar wanita dengan berbagai latar belakang yang berbeda.

Materi yang disampaikan oleh pak Guntur adalah seputar proses sebuah novel atau cerpen yang diangkat menjadi film.

Seusai coffee break, materi diisi oleh pak Agung Pribadi, penulis buku “Gara-Gara Indonesia”. Tulisan dalam bukunya tersebut bermuatan sejarah dan fakta yang membanggakan bangsa Indonesia. Sehingga beliau disebut sebagai “The 1st Historivator in Indonesia”.

Beberapa pembahasan seputar sejarah Indonesia disampaikan oleh beliau. Pak Isa sesekali memberikan komentar dan penjelasan yang berhubungan dengan materi tersebut.

Sedangkan mbak Asma sudah berpamitan terlebih dahulu untuk berangkat ke Budapest. Beliau hadir di sana untuk mendampingi para kru film dan artis yang sedang shooting film Surga Yang Tak Dirindukan 2 yang diangkat dari kisah novelnya.

Tepat jam 17.00 acara workshop diakhiri. Untuk kelanjutan pembahasan materi workshop, akan dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2016. Sayang aku tak bisa mengikutinya kembali karena pada tanggal tersebut harus menghadiri pernikahan keponakanku.

Walaupun begitu, acara workshop hari ini dan seminar tentang kepenulisan kemarin, banyak memberiku bekal baik berupa spirit, pengalaman maupun ilmu kepenulisan yang bermanfaat.

Sebelum pulang aku membeli beberapa buku sekaligus meminta tanda tangan kepada penulis dan sutradara yang hari ini mengisi materi workshop. Rupanya #BookHunting 2 masih berlanjut di sini 😀

Sejumlah PR kini sudah menantiku. Apakah aku mampu mengaplikasikan ilmu yang telah kutimba selama 2 hari ini di Jakarta? Memang semua ini membutuhkan proses dengan terus berlatih menulis.

Namun pada akhirnya tetap berpulang  lagi pada diriku.. Apakah aku juga mau dan mampu membagi waktuku untuk kembali menggarap beberapa naskahku yang masih belum kelar? 

Bismillah… Semoga Allah SWT memberi kelancaran dan memudahkan urusanku.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Book Hunting 2

Standar

Pesona buku memang bagaikan sebuah magnet dengan daya tariknya yang tiada habisnya. Sesudah mandi, beristirahat dan shalat maghrib di penginapan, aku dan Yusi langsung meluncur ke Indonesia International Book Fair di Assembly Hall Jakarta Convention Center.

Pameran buku akbar tersebut sebetulnya sudah berlangsung sejak tanggal 28 September 2016 dan berakhir tanggal 2 Oktober 2016. Alhamdulillah, kami masih berkesempatan mengunjunginya.

Saat langkah kaki kami mulai
memasuki ruangan Book Fair.. sejauh mata memandang yang tampak adalah tumpukan buku dengan warna warni desain cover yang menawan dan menggoda hati kami untuk segera melanjutkan ‘misi’ Book Hunting 2.

Semula sasaranku untuk Book Hunting 2 adalah di Gudang Penerbit Gramedia di Jl. Raya Tajem no. 197, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Menurut info salah seorang teman,  buku-buku yang ada di sana akan dimusnahkan karena sudah tidak laku. Maka buku-buku tersebut dijual murah dari harga Rp. 5000,-an.

Rencanaku sembari menjenguk ibu di Magelang pada pertengahan bulan September yang lalu, aku sekalian mau mampir kesana.

Tapi karena satu dan lain hal, rencana tersebut terpaksa harus diundur ke bulan berikutnya. Otomatis rencana Book Hunting 2 pun jadi batal karena obral buku di sana hanya sampai tanggal 30 September 2016 (menurut sumber yang kuperoleh dari FB salah seorang temanku, pada tanggal gedung tersebut akan beralih fungsinya menjadi warehouse).

Alhamdulillah, pas kami ke Jakarta saat ini kebetulan sedang ada event Book Fair sehingga ‘misi’ ini bisa kulanjutkan 😀

Rasanya senang hati ini melihat berlimpahnya  buku-buku yang bagus di sana. Apalagi hampir semuanya ada diskonnya,  dari 10% sampai 80%. Benar-benar surga belanja buku bagi ‘book lovers’!

Untungnya Yusi juga hobby membaca buku, sehingga bisa betah berada di sana berlama-lama bersamaku. Dari satu stand buku ke stand yang lain kami jelajahi dengan riang dan penuh semangat.

Entah karena terkena serangan ‘demam buku’ atau karena saking berlimpah ruahnya buku.. Aku malah jadi bingung mau beli buku yang mana. Rasanya semua ingin kubeli. Apalagi ada berbagai pernak-pernik buku yang unik dan lucu.

Akhirnya aku hanya membeli 2 buah buku yang masing-masing harganya cuma Rp. 10.000,- dan 2 buah pembatas buku lucu untuk anakku yang total harganya Rp. 55.000,-

Sedangkan Yusi malah sempat memborong beberapa buku yang sebagiannya sengaja dibeli sebagai oleh-oleh untuk keponakan dan rekannya.

Saat melewati sebuah stand informasi, kami sempat mengambil sebuah buku saku dari KPK yang berjudul “Memahami untuk Membasmi” – Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi. 

Buku tersebut memang sengaja dibagikan secara gratis kepada para pengunjung Book Fair sebagai sosialisasi kepada masyarakat akan seluk beluk tindak pidana korupsi dan tinjauan hukumnya. 

Tujuannya agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari, memahami, melaporkan dan menghindari tindakan yang bisa merugikan bangsa dan negara tersebut.

Malam yang bergulir semakin cepat baru kami sadari ketika satu persatu stand mulai tutup.

“Wah, ternyata sudah hampir jam 9 malam, Yusi..,” seruku ketika melihat petunjuk waktu di telepon selulerku.

“Iya bu, mau pulang sekarang saja tah bu?” tanya Yusi.

“Oke, kita langsung pesan Grab Car saja deh..,” aku langsung membuka aplikasi Grab di smartphone-ku, mengetikkan lokasi pick dan dropnya, lalu book. Tak lama kemudian ada telepon konfirmasi dari drivernya.

Tidak sampai 10 menit, kami sudah dijemput. Adanya layanan Grab Car memang sangat membantu kami dalam menempuh beberapa tempat tujuan dengan cepat, aman dan ekonomis.

Meski rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang setibanya kami di penginapan, namun hati kami merasa puas karena 2 acara yang yang berbobot dan menarik sudah kami hadiri hari ini.

Saat pagi hari kami sudah mendapat motivasi dan ilmu kepenulisan dari 3 penulis hebat. Dan saat malam harinya kami berkesempatan belanja buku berkualitas di pameran buku nasional internasional dengan harga yang bersahabat.