Monthly Archives: Desember 2016

The Power of Kepepet :D

Standar

Sejak berumahtangga, aku makin terobsesi untuk bisa mengemudikan mobil sendiri. Ada beberapa hal penyebab timbulnya obsesi tersebut.

Seperti kerepotan yang berulangkali kurasakan saat akan mengantar anak ke sekolah atau les, sedangkan supir yang ditunggu tak kunjung datang dan tak ada pemberitahuan sama sekali.

Begitu juga ketika naik angkot kadang harus berhadapan dengan penumpang yang super cuek mengepulkan asap rokoknya yang menyesakkan nafas.

Meskipun sebetulnya nyaliku tak sebesar kedua adikku dalam hal mengemudikan kendaraan, tapi aku tetap nekad mendaftarkan diri untuk belajar di tempat kursus mengemudikan mobil.

Ibupun  sempat melarangku belajar mengemudikan mobil karena beliau tahu bahwa diriku ini gampang gugup kalau mengemudikan kendaraan πŸ˜€

Aku bisa memahami kekhawatiran ibu karena di saat kedua adikku sudah mahir mengendarai motor, aku malah sudah menyerah pada latihan yang kedua dan tak mau melanjutkannya lagi hanya gara-gara sempat terjatuh dari motor karena gugup.

Dan lagi-lagi karena masih gugup jugalah, aku sampai harus mengikuti dua kali proses belajar mengemudikan mobil pada dua tempat kursus yang berbeda.

Dari yang semula selalu  panas dingin sampai keringat membasahi sekujur tubuhku setiap kali memegang kemudi mobil.. akhirnya…alhamdulillah..aku mampu mengemudi mobil dengan lancar bagai membawa badan sendiri..bahkan sudah berani ngebut.. πŸ˜€

Masih kuingat betapa senangnya hati ini saat pertama kali berhasil membawa mobil sendiri dari rumahku di jalan Evakuasi hingga sampai ke sekolah anakku yang saat itu masih di TK Kak Seto di jalan Tuparev, dan pulang kembali ke rumah dengan lancar.

Aku sangat bersyukur.., hingga kini dengan kemampuan mengemudikan mobil yang telah kumiliki itu membuatku menjadi lebih leluasa dalam beraktivitas.

Selain itu suamiku bisa menjadi lebih fokus dalam pekerjaannya sehari-hari karena semua hal yang berhubungan dengan urusan antar jemput anak sudah dapat kutangani sendiri.

Tapi dalam mengemudi mobil ini sebetulnya masih ada 3 hal yang masih belum berani kulakukan. Yaitu parkir di bagian atas gedung yang jalannya menanjak/ belokannya tajam, mengemudikan mobil jenis matic dan mengendarai mobil ke luar kota.

Ketika sedang berkunjung ke rumah ibu di Magelang, adik laki-lakiku sedang bertugas di luar kota dan belum ada supir. Rasanya aku tidak tega melihat kerepotan ibu yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu harus tertatih-tatih mengantar kedua cucunya ke sekolah dengan naik angkot.

Padahal di rumah ibu ada mobil adik, tapi matic. Sedangkan aku belum bisa mengemudikan mobil matic karena mobil yang kukemudikan selama ini jenisnya yang manual.

Terdorong oleh rasa ingin membantu ibu, ditambah dengan dukungan dari beliaulah, akhirnya aku belajar mengemudikan mobil jenis matic. Aku hanya belajar sebentar dengan dibantu oleh supir baru ibuku.

Betul juga kata kebanyakan orang, bahwa bila sudah mahir mengemudikan mobil secara manual, maka hanya berlatih sebentar pasti sudah bisa mengemudikannya secara matic.

Pada saat liburan akhir tahun kali inipun kemampuan mengemudikan mobilkupun kembali tertantang untuk dilatih kembali.

Bermula dari rencana keberangkatanku ke kota Solo dari kota Magelang dalam rangka menghadiri Reuni Akbar pesantrenku, bersama ibu, adik laki-laki dan kedua keponakanku. Adikku sebetulnya sudah siap mengantar.

Tapi mengingat barang yang harus dibawa cukup banyak, sedangkan suami dan anakku juga akan ikut menyusul saat nanti ke Yogyakarta, maka mau tidak mau harus 2 mobil yang dibawa ke Solo.

Nah, masalahnya.., siapakah nanti yang mengemudikan mobil yang satunya lagi? Sedangkan supir ibuku sudah menyatakan tak bisa mengantar kami karena sedang ada keperluan lain.

“Gimana Fang? Berani bawa mobil ke Solo nggak?”

Pertanyaan ibuku itu kembali membakar semangatku untuk berani menjawab tantangan tersebut.

“Insya Allah berani, mami.., ” jawabku dengan mantap (padahal dalam hatiku dag dig dug)

Dan bak Rio Haryanto yang dengan lincah melesatkan mobil balapnya ke tengah sirkuit..begitupun diriku… Sambil membaca basmallah dan ayat Kursi, mobilpun kupacu menuju ke kota Solo.

Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak ada masalah apapun, hingga mobil kubawa lagi hari ini ke kota Yogyakarta dan insya Allah lusa kembali ke kota Magelang.

Rasanya seperti tak percaya.. Diriku yang penakut dan gugupan ini kok akhirnya bisa juga ya mengemudikan mobil hingga menempuh perjalanan ke luar kota..

Semua ini berkat dukungan ibu, adik dan kemudahan dari Allah SWT.. πŸ™‚ Mungkin inilah yang dinamakan hikmah dari situasi yang kepepet.., alah bisa karena kepepet..dan the power of kepepet.. πŸ˜€

Ya Allah, lindungi dan jagalah selalu kami dalam perjalanan di manapun dan kemanapun berada…

Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Ngruki, Aku Datang..!

Standar

Pagi ini.. aku kembali memasuki pintu gerbang pondok pesantren Al Mukmin, Ngruki Solo untuk menghadiri Reuni Akbar dan Muktamar Ikappim (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Mukmin) yang ke 4.

Sebuah pintu gerbang yang mengawali proses belajarku dalam memahami ajaran agama Islam. Dan pintu gerbang proses kemandirianku hingga menjadi jalan perkenalanku dengan para ustaz/ah maupun santriwati dari berbagai provinsi di Indonesia.

Sejak kelulusanku dari Kulliyatul Mu’allimat (KMA) 28 tahun yang lalu, banyak perubahan yang tampak di komplek pesantren ini. Sehingga seusai registrasi, aku meminta bantuan salah seorang panitia untuk mengantarkanku bersilaturahim ke rumah ustaz Wahyudin.

Banyak alumnus Ngruki yang datang silih berganti ke rumah beliau. Serasa anak-anak yang sudah sukses menyebar ke berbagai daerah dan kini pulang berkunjung ke ayahandanya.

Yang berkesan bagiku dari ustaz Wahyudin adalah saat menjadi imam shalat di masjid. Suaranya khas dan menyejukkan hati ketika melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dalam shalat. Selain itu kharismanya sebagai seorang ustaz dengan wawasan keilmuan dan agamanya membuat beliau sangat disegani oleh para santrinya.

Setelah itu panitia mengantarku ke komplek ruangan kelas untuk bertemu dengan mbak Siti Khotijah dan beberapa teman seangkatanku. Ruangan kelas yang dulu masih terbuat dari gedheg/ anyaman bambu itu kini sudah tampak kokoh dengan bangunan permanennya.

Rasanya senang dan terharu saat kami berjumpa lagi.. Wajah mereka tidak banyak berubah. Hanya tampak lebih keibuan. Wajar saja karena kami rata-rata sudah mempunyai anak bahkan ada yang sudah punya cucu.

Kami saling bertukar oleh-oleh, saling bernostalgia dan mengobrol tentang keluarga/aktifitas kami masing-masing setelah berkeluarga. Sebagian dari kami mengenakan cadar.

Setelah itu kami mengikuti penutupan Muktamar dan Reuni Akbar di samping masjid yang sedang dalam proses renovasi dan kini tampak lebih besar dan megah. Rasanya ikut bangga melihat begitu banyaknya alumni Ngruki yang hadir dalam acara ini.

Alhamdulillah, banyak alumni Ngruki yang telah menjadi orang-orang sukses. Semoga sukses dunia akhirat dan diberkahi Allah SWT.. Aamiin..

Kami juga bertemu dengan beberapa ustazah yang pernah mengajar kami saat masih menjadi santriwati di sana. Kami saling berpelukan dengan penuh rasa haru. Bahkan ada yang sampai menangis karena begitu lekatnya rasa persaudaraan selama 4-6 tahun ‘nyantri’ di Ngruki.

Seusai acara penutupan, kami jalan berkeliling ke sekitar komplek pesantren. Seperti ke ruangan kelas dan komplek asrama putri (Darul Hijrah). Masih terlihat dipan-dipan bertingkat seperti saat kami mondok di sana.

Setiap sudut yang kami lihat dan lewati di pesantren ini seakan membuka kembali lembaran kenangan masa-masa saat kami masih menjadi santriwati di sini.

Ada kenangan saat kami shalat berjamaah, saat membaca Al Qu’an bersama, saat menyimak pelajaran yang disampaikan oleh ustaz/ustazah. Ada juga kenangan saat ngantre makan dan mandi serta mencuci baju bersama.

Semua kenangan itu tak pernah kami lupakan. Karena tak hanya berkesan, namun juga telah membentuk karakter kami sehingga menjadikan kami mandiri dan sukses seperti sekarang ini.. Alhamdulillah.

Maka ketika “Ngruki Memanggilmu” menjadi slogan dalam Reuni Akbar dan Muktamar Ikappim yang ke 4 kali ini…maka kami para alumnusnyapun dengan semangat akan menjawab,”Ngruki, Aku Datang.. !”

Semoga Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki ini makin sukses dan diberkahi Allah SWT serta berhasil mengantar semua alumnusnya menjadi Ulamaul ‘Aamilin fii Sabiililah.. yaitu insan berilmu yang mengamalkan ilmunya di jalan Allah SWT hingga berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia..

Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Kiriman Email yang Terindah

Standar

Malam itu sebelum tidur, aku sempat mengecek beberapa kiriman email yang masuk. Sebetulnya aku sudah mulai mengantuk. Maklum sudah tengah malam juga.

Tapi rasa kantukku mendadak hilang ketika membaca sebuah tulisan “I ❀ U” di salah satu badan kiriman email. 

Kulihat nama pengirimnya adalah sebuah nama yang sudah sangat kukenal bahkan sejak 16 tahun yang lalu… πŸ™‚

Dengan rasa penasaran kubuka kiriman email tersebut..

Saat kubaca kalimat demi kalimat yang tertulis pada email tersebut rasa haru langsung memenuhi hatiku.

Isi emailnya simpel dan bahasanya khas anakku.. Tapi bisa membuatku tersenyum bahagia.. πŸ™‚

Mataku makin berbinar senang saat membuka empat kiriman gambar kreasi anakku yang dilampirkan dalam email tersebut.

Gambarnya lucu, manis dan menyentuh hati.. πŸ™‚

Terima kasih Salma sayang..
Ini adalah kiriman email terindah dari semua kiriman email yang pernah mama terima selama ini..

Dan kiriman email ini bisa mengobati kerinduan mama padamu setelah 4 hari kita tak bertemu…

Love you forever.. ❀

Tetesan KenanganΒ 

Standar

Sore ini kota Cirebon diguyur hujan lebat yang diiringi suara geledek dan kilat yang menyambar-nyambar.

Kegiatan pelatihan dalam rangka peningkatan mutu lembaga kursus hari kedua yang sedang kuikuti bersama beberapa peserta dari LKP lain ini sudah masuk sessi tanya jawab.

Kulirik jam di telepon selulerku sudah menunjukkan pukul 14.47. Aku langsung teringat anakku yang masih berada di sekolahnya. Segera kukirim pesan melalui messenger.

“Salma mau dijemput jam berapa?”

Tak lama kemudian ada balasan masuk dari anakku.

“Dijemput sekarang saja nggak apa-apa deh maa..”

“Okee, mama juga sebentar lagi selesai kok acara pelatihannya”

“Ya maa..”

Kira-kira 15 menit kemudian acara pelatihanpun diakhiri. Tapi hujan masih belum juga reda. Mobil kuparkir tak jauh dari aula tempat pelatihan. Sedangkan aku tak membawa payung.

Saat aku mau nekad menembus hujan, alhamdulillah ada seorang panitia dari Dinas Pendidikan yang baik hati dan memayungiku hingga ke mobil. Terima kasih pak.. πŸ™‚

Setelah menunggu sebuah mobil yang diparkir tepat di belakang mobilku itu keluar, barulah aku bisa memundurkannya keluar dari area parkir dan langsung melaju untuk menjemput anakku.

Entah karena kendaraan di kota Cirebon yang semakin banyak atau karena sedang ada perbaikan jalan. Sekarang jalanan di Cirebon di mana-mana sering macetnya.

Walaupun aku sudah menghindari kemacetan jalan Cipto yang sedang dibeton pada separuh bahu jalannya, namun tetap saja jalan melalui by pass pun terhadang kemacetan yang panjang..

Fiuh… Setelah melalui lampu merah Cideng akhirnya kemacetan mulai terurai. Ternyata penyebab panjangnya kemacetan karena nyala lampu merahnya lama dan lampu hijaunya hanya beberapa detik. Pantesan, kendaraan baru maju semeter, sudah berhenti lagi.

Ketika memasuki jalan Tuparev, masih saja kutemui kemacetan di beberapa titik jalan meski tak separah sebelumnya. Tapi mobilku dengan lincah menyalip beberapa kendaraan hingga tak lama kemudian sudah tiba di depan gerbang SMAN 6 Cirebon, sekolah anakku.

“Mama sudah di depan,” pesan langsung kukirim dari ponselku.

“Oke maa,” balas anakku

Beberapa saat kemudian, anakku sudah nampak dan langsung masuk ke mobil.

Hari ini seharusnya anakku ada les matematika di rumah pak Didi. Tapi karena sedang mati lampu di rumahnya, les hari ini diliburkan.

Ketika mobil sedang menuju perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba anakku menyeletuk.

“Maa, ke Al Azhar sebentar sih maa.. Saya kangen.. Sudah lama nggak kesana..”

“Ooh ya sudah.. Boleh deh.. ”

Mobilpun tak jadi belok ke jalan Evakuasi, tapi langsung lurus menerobos hujan menuju ke jalan Kesambi dan jalan Cipto hingga belok ke jalan Makmur, sebuah jalan yang tak terlalu lebar memasuki kawasan Al Azhar.

Rute jalan inilah yang selama 9 tahun selalu kulewati setiap kali mengantar dan menjemput anakku sejak bersekolah di SD hingga SMP Al Azhar.

Ketika mobil sudah sampai tepat di depan gerbang Al Azhar, seorang satpam yang sudah lama kukenal membantuku untuk memarkir mobil.

Hujan masih rintik-rintik. Ketika aku akan mengambil payung dari mobil Salma menahanku.

“Nggak usah pakai payung maa.. Sudah hampir reda kok hujannya”

Aku langsung menuju ke masjid karena belum shalat Asar. Sedangkan Salma langsung menghilang dari pandanganku. Kata pak satpam, Salma tadi langsung jalan ke arah komplek SMP Al Azhar. Wah.., sudah kangen berat nih anak.. πŸ˜€

Setelah berwudhu di lantai bawah kiri masjid, aku segera naik ke lantai 2 nya untuk melaksanakan shalat. Tangga masjid tampak basah dengan air hujan. Sehingga aku harus berhati-hati supaya tidak terpeleset.

Keadaan di dalam masjid masih belum banyak berubah. Suara rintik  hujan yang bergemericik di tengah keheningan suasana di masjid itu membuat memoriku akan masjid dan sekolah ini mulai bermunculan satu demi satu.

Dulu saat Salma masih bersekolah di SD Al Azhar dan masih sering kutunggu, aku sering ikut shalat zuhur berjamah dengan para murid SMP di masjid ini.

Ketika itu aku bisa melihat langsung bagaimana ketegasan pak Imam (Kepala Sekolah SMP Al Azhar) serta para guru agamanya dalam menggembleng dan mengarahkan murid-muridnya agar melaksanakan shalat dengan disiplin dan benar.

Dari situlah awal mula ketertarikanku terhadap sekolah ini. Sehingga mendorongku untuk kembali mendaftarkan anakku di SMP Al Azhar setelah lulus dari SD nya.

Harapanku agar anakku tak hanya cerdas dan berprestasi. Tapi juga berakhlak mulia, bertakwa kepada Allah SWT dan rajin beribadah.

Alhamdulillah, meskipun sempat mengalami gejolak masa pubernya, berkat bimbingan guru- guru SMP-nya, akhirnya anakku berhasil melewatinya dengan baik.

Hingga kinipun, pendidikan agama yang telah ditanamkan oleh para guru agamanya seperti pak Yamin, pak Miftah, pak Ahmad, pak Ucu dan pak Karim masih tetap membekas di hati dan pikiran anakku. Sehingga timbul kesadarannya untuk tetap menjaga shalat 5 waktu.. Alhamdulillah.. πŸ™‚

Dari atas masjid kulihat komplek SD dan SMP Al Azhar yang kini tampak makin rapi, bersih dan cantik.

Di antara bangunan dan halaman sekolah, kulihat Salma yang sedang berjalan berkeliling di tengah rintik hujan yang tak dihiraukannya. Dari satu ruangan kelas ke ruangan kelas yang lain. Dan dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Seakan sedang melepas rasa kangennya setelah sekian lama tak berkunjung ke sekolahnya itu.

Suasana sekolah tampak sepi karena hari sudah sore. Apalagi tadi pagi semua murid sedang mengikuti UAS sehingga pulang lebih awal. Guru-guru juga sudah pada pulang ke rumahnya.

Sebetulnya Salma berharap bisa berjumpa dengan salah seorang gurunya untuk bisa sekedar mengobrol dan melepas kangennya.

Namun meskipun harapannya tersebut masih belum terpenuhi, kunjungannya ke Al Azhar sore ini cukup bisa mengobati rasa kangennya.

Ketika melewati area SD, melalui jendela kacanya Salma sempat mengintip bagian dalam ruang kelas 1B, kelas pertamanya di sekolah ini.

“Ih, kursi dan bangkunya kecil-kecil ya maa…,” seru Salma
“Kan murid-muridnya juga masih imut-imut, Salma.., ” kataku sambil tersenyum.

Karena hari sudah semakin sore, kami segera kembali ke mobil setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada pak satpam.

“Titip salam untuk pak Imam dan.semua guru Al Azhar ya pak..,” kata Salma.

“Oke Salma.. ,” jawab pak satpam sambil tersenyum.

Sebelum pulang kami mampir sebentar ke rumah makan Mamamia yang lokasinya berdekatan dengan Al Azhar.

Mobilku dulu juga sering dicuci di sana sambil menunggu Salma pulang sekolah. Tapi sekarang rumah makan tersebut sudah tidak dilengkapi dengan car wash lagi.

Empal Gentong dan Tahu Gejrot, makanan khas Cirebon yang merupakan makanan favorit Salma menjadi menu pilihannya sore ini.. Aku hanya membeli Tahu Gejrot sekedar untuk menemani Salma makan.

Sambil makan Salma menunjukkan foto sebuah pohon yang sudah lama tumbuh di halaman paling ujung SD Al Azhar, yang diambil dari ponselnya ketika tadi kesana.

Kata Salma pohon tersebut mempunyai banyak kenangan. Karena di bawah pohon itulah tempatnya menyepi ketika sedang bersedih karena dikucilkan oleh beberapa temannya yang suka berkelompok dan membullynya.

Sekilas aku jadi teringat kejadian disobek-sobeknya buku harian Salma oleh beberapa temannya yang suka membullynya. Ketika itu Salma masih kelas 1 SD.

Rasanya tidak tega banget ketika aku melihat sendiri buku harian Salma yang sudah tinggal sampulnya saja. Karena bagian dalam kertasnya sudah habis disobek-sobek temannya yang usil itu, lalu diremas kertasnya dan dibuang di tong sampah.

Karenanya aku langsung melaporkannya ke bu Erna, wali kelasnya saat itu. Dan oleh bu Erna semua anak yang melakukan kesalahan tersebut dinasehati, lalu disuruh maju ke depan kelas dan meminta maaf pada Salma.

Aku juga masih ingat ketika Salma enggan berangkat ke sekolah karena dikucilkan dan (lagi-lagi) dibully sampai dijambak rambutnya oleh salah seorang temannya yang menjadi ketua kelompok di kelas 3 SD.

Saking geramnya aku langsung mendatangi anak tersebut bersama teman-teman sekelompoknya dan menegurnya.

“Kenapa kalian memusuhi Salma?! Gimana rasanya nih kalau rambutnya dijambak begini?!!” tegurku sambil menarik sebagian kecil rambutnya dengan tarikan yang tak terlalu keras. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada mereka agar tak mengulang lagi perbuatannya.

Setelah itu mereka sudah tidak berani membully Salma lagi.

Yah, begitulah.. Di manapun sekolah pasti ada saja anak-anak yang usil dan nakal seperti itu.

Maka sungguh berat tugas seorang guru dalam membimbing dan mengarahkan murid-muridnya agar tak hanya cerdas akademiknya tapi juga rajin beribadah dan bagus akhlaknya.

Rona kegelapan di langit seakan mengisyaratkan kami untuk segera pulang ke rumah. Rintik hujan masih mengiringi perjalanan pulang kami.

Namun derasnya kenanganpun semakin mereda seiring dengan meredanya rintik hujan. Dan senyum gembira yang tersungging di bibir Salma kembali menghangatkan suasana sore kota Cirebon yang diguyur hujan sejak tadi sore.. πŸ™‚