Monthly Archives: Januari 2017

Buku, dalam Kisah dan Harapanku

Standar

Saat masih berusia balita, ayahku sering menceritakan berbagai dongeng yang diambil dari buku-buku cerita klasik. Dongeng yang paling berkesan adalah yang berjudul “Pinocchio” karangan Carlo Collodi. 

Ayah selalu menceritakannya dengan mimik muka dan suara yang menyesuaikan karakter tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut. Sehingga aku dan kedua adikku senang mengikutinya karena serasa masuk dalam dongeng tersebut dan berpetualang dalam kisahnya.

Beliau juga selalu memasukkan pesan-pesan moral dalam setiap dongengnya. Seperti dalam dongeng “Pinocchio” pesan yang disampaikan adalah: tidak boleh berbohong (saat berbohong hidung Pinocchio makin panjang), pentingnya persahabatan (keakraban Pinocchio dengan Jimmy Jangkrik), jangan mudah tertipu dan terbujuk godaan atau imimg-iming duniawi (saat Pinocchio bertemu dengan kucing dan rubah yang jahat yang membujuknya untuk bolos sekolah), dan lain-lain.

Bibiku juga mempunyai koleksi buku cerita anak yang kebanyakan penerbitnya dari luar negeri. Aku suka membaca dan menikmati setiap halaman bukunya yang penuh dengan gambar-gambar berwarna yang menarik.. Kadang-kadang bibiku juga mendongeng dengan cerita yang yang diambil dari buku-buku tersebut. Bahkan beliau menciptakan sosok karakter dari gambar-gambar dalam buku tadi. Semua itu membuat imajinasiku makin berkembang.

Ketika duduk di bangku SD, aku mulai gemar membaca tepatnya sejak ayah mulai berlangganan majalah Bobo. Masih kuingat setiap kali datang kiriman majalah Bobonya, kami bertiga langsung berebut untuk membacanya. 

Apalagi ketika beliau membelikan  beberapa macam buku seri untuk kami, seperti buku seri Album Cerita Ternama, seri Pengetahuan Pustaka Dasar,  seri Dongeng Hans Christian Andersen, dan seri Rumah Kecil (Laura Ingalls Wilder).  Efek positifnya, tak hanya membuatku makin bersemangat membaca, tapi juga menumbuhkan ketertarikanku untuk menulis.

buku-seri

Aku membuat beberapa buku kecil dari sisa kertas kado di toko ayah yang kulipat dan kustaples. Lalu di dalamnya kutulis berbagai cerita yang kisahnya terinspirasi dari aneka gambar  pada kertas kado tersebut. 

Beberapa teman sekolahku di SD suka membaca dan meminjam buku-buku cerita kecil karanganku itu. Saat itu bahkan aku sudah berani menuliskan cita-citaku sebagai pengarang/penulis pada bagian bio data.

Tahun terus berjalan.. hingga tak terasa kumasuki masa remaja yang penuh gejolak. Perasaan galau, minder dan mudah uring-uringanpun mulai sering menghampiri. Saat itu hanya ayah dan buku-buku motivasi yang sengaja beliau belikan untukkulah yang bisa menghibur dan membantu dalam mengatasi setiap permasalahan.

Sampai ketika sudah bertemu dengan pendamping hidupkupun buku tetap menjadi barang favoritku dibandingkan tas atau baju merek terkenal. Karena banyak pengetahuan dan wawasan tentang pernikahan/rumah tangga, termasuk beberapa resep masakan yang dapat kuperoleh dari buku. 

Terlebih ketika masa mengandung, melahirkan dan membimbing anakku. Senang rasanya dapat membacakan berbagai dongeng dari buku-buku berkualitas untuk anakku sebagaimana yang sudah pernah ayah dan bibiku lakukan.

Membaca memang sangat bermanfaat. Dengan membaca, banyak ilmu tentang gizi dan parenting yang kuperoleh. Sehingga membuatku mampu merawat dan mendidik putriku secara mandiri sejak di dalam kandungan hingga lahir dan  menjelma menjadi seorang gadis remaja yang shalehah, cantik, cerdas dan sehat. Alhamdulillah..

Di usiaku yang sudah di penghujung setengah abad  ini, aroma harumnya buku masih menjadi aroma favoritku.. Dan tentu demikian juga dengan kandungan bukunya.., sepanjang masih sesuai dengan minat dan kebutuhanku.. Tapi aku merasa tak cukup puas bila hanya sekedar membaca buku saja. Aku juga ingin memiliki ketrampilan dalam menulis.

Maka kuberanikan diri untuk bergabung di komunitas menulis Fresh Author (di bawah bimbingan Ahmad Rifai Rif’an) dan One Day One Post (di bawah bimbingan Bang Syaiha). 

Kedua komunitas tersebut mayoritas anggotanya adalah anak-anak muda yang mempunyai passion dan bakat dalam menulis. Awalnya tentu aku sangat minder. Tapi dengan berjalannya waktu mulai bisa menyesuaikan diri. Aku yakin bahwa belajar tak ada batasan usianya.

Bermula dari situlah aku mengasah ketrampilan menulisku. Dimulai dengan membiasakan menulis, baik itu pengalaman, kisah atau harapan-harapanku di blog. Hingga akhirnya tulisan sederhanaku bisa terbit bersama tulisan temen-teman sekomunitas menulis tersebut dalam beberapa buku antologi. 

Ada suatu kebahagiaan tersendiri ketika melihat namaku tercantum di cover buku bersama para penulis muda yang keren itu. Terlebih ketika untuk pertama kalinya aku mampu menerbitkan sebuah buku karya tunggal yang berjudul “Santriwati Baru” yang bersumber dari catatan harianku selama ‘nyantri’ di Ngruki.

buku-karyaku

Meski masih diterbitkan secara indie, namun alhamdulillah cukup banyak yang memesan bukuku. Kini aku sedang melanjutkan seri kedua dari buku tersebut. Ada beberapa naskah lain juga yang sedang kugarap. Meski kadang terkendala oleh kesibukanku sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengurus Rumah Belajar Cirebon, tapi aku harus pandai membagi waktuku. Agar semua bisa berjalan dengan baik.

Semoga cita-cita masa kecil yang dulu pernah kutuliskan di buku kecil karanganku itu dapat tercapai. Aku harus terus berlatih menulis dan tetap rajin membaca buku. Agar semakin memperkaya wawasan dan perbendaharaan bahasa.  Harapanku, tulisan dan bukuku nanti dapat bermanfaat dan menginspirasi siapapun yang membacanya. Aamiin..

 

 

 

Mutiara dalam Debu

Standar

“Mam, ikutan ODOJ yuuk…,” ajak salah seorang temanku yang anaknya pernah sekelas dengan anakku saat di SD. Siang itu kami berjumpa di sebuah acara arisan yang diadakan sebulan sekali. Melalui arisan tersebut tali silaturahim di antara kami tetap terjalin dengan baik walaupun anak kami masing-masing sudah berbeda sekolahnya.

“ODOJ tuh apa sih mam?” aku malah penasaran dan balik bertanya.

“Itu lho mam, One Day One Juz. Jadi nanti kita masuk dalam grup di BBM atau WA. Lalu setiap hari harus menyelesaikan tilawah Al Qur’an sebanyak 1 juz hingga sebulan bisa khatam,” temanku langsung menjelaskannya.

“Waduh, berat dong mam… Boro-boro 1 juz, sedangkan 1 surat yang panjangpun kadang  kita juga masih malas menyelesaikannya,” aku menanggapinya dengan tidak antusias.

Saat hari semakin sore dan sudah sampai di rumah, entah mengapa aku menjadi semakin penasaran dengan One Day One Juz. Timbul suatu dorongan yang kuat untuk mencoba bergabung di grupnya. Sudah cukup lama memang kurasakan ada yang hilang dari kebiasaan positifku yang sebelumnya pernah rutin kulakukan saat masih bersekolah di pesantren Ngruki. Yaitu kebiasaan membaca Al Qur’an.

Kitab suci yang dulu selalu menemaniku itu sudah lama tak pernah kubuka dan kubaca lagi. Kini hanya teronggok berdebu di sudut lemari bukuku berdampingan dengan beberapa buku pelajaran agama pemberian ayahku. Sejak bekerja di Jakarta, seiring dengan makin tergerusnya imanku, hingga kulepaskan hijabku, makin kutinggalkan juga kitab suci Al Qur’anku..

Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan seorang laki-laki shaleh yang akhirnya menyadarkanku untuk kembali mengikuti ajaranNya. Dia adalah suamiku dan imam dalam keluargaku yang selalu shalat tepat waktu. Perlahan tapi pasti, aku kembali berhijab. Tapi hatiku masih belum juga tergerak untuk kembali membaca kitab suci Al Qur’an.

Terlebih ketika aku mulai sibuk dengan beberapa kegiatan dalam merawat dan membimbing anakku serta mengelola Rumah Belajar Cirebon. Rasanya waktu sehari itu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba malam datang, …capai, mengantuk lalu tidur. Begitu terus setiap hari. Sebuah rutinitas yang seharusnya mengasyikkan, tapi entah mengapa terasa hampa. Aku merasa seperti kehilangan sebuah mutiara kehidupan.

Ajakan temanku tadi siang untuk bergabung dengan grup ODOJ itu serasa mengingatkanku untuk kembali mencari mutira kehidupanku yang telah lama hilang dengan mulai membiasakan membaca Al Qur’an kembali. 

Yang sebetulnya membuatku ragu adalah mengapa setiap hari harus menyelesaikan tilawahnya sebanyak 1 juz? Apakah tidak menyita waktu? Apalagi masih banyak aktifitas lain yang harus kita selesaikan.

Tapi dorongan yang kuat itu membuatku berusaha mencari informasi tentang ODOJ. Sampai akhirnya aku benar-benar bergabung dengan grup tilawah Al Qur’an tersebut.. Kira-kira  pada awal tahun 2014, aku resmi menjadi anggota grup ODOJ G2930.  

Ada 30 ukhti termasuk diriku yang setiap hari mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan tilawah Al Qur’an sebanyak 1 juz secara berurutan, lalu melaporkan juz dan waktu yang sudah diselesaikan tersebut. Istilahnya ‘kholas’ (sudah menyelesaikan tilawah).

Bismillaahirrahmaanirrahiim… Malam itu aku mengambil kitab suci Al Qur’an dari lemari bukuku. Aku mengusap permukaannya yang penuh debu itu lalu kubersihkan dengan tisu agar bersih. 

Lalu perlahan kubuka halaman demi halamannya. Sejenak aku menghela nafas karena teringat saat dulu bersama teman-temanku di pesantren membaca dan menghafal ayat-ayat Al Qur’an di masjid. Surat-surat dalam juz 29 dan juz 30 sudah sempat kuhafalkan saat itu. Tapi sekarang tinggal beberapa surat pendek saja yang masih hafal.

Lalu aku mulai mencari juz yang harus kubaca hari itu sesuai dengan pembagian tugas dalam grup ODOJ. Akhirnya setelah sekian lama aku mulai tilawah lagi. 

Pada saat awal-awal tilawah itu memang terasa sangat berat. Aku menghitung 1 juz itu kira-kira 20 halaman Al Qur’an.Wah, banyak juga yaa. Ketika tilawah, aku bahkan sampai berulangkali mengecek masih tinggal berapa halaman lagikah yang tersisa? Karena rasanya kok nggak selesai-selesai? Pada saat sudah kholas, rasanya lega banget.

Dengan berjalannya waktu bersama ODOJ, aku mulai bisa menikmati lezatnya tilawah Al Qur’an. Tak lagi seberat waktu awal tilawah. Karena bila fokus tilawah, 1 juz bisa kuselesaikan dalam waktu 1 jam. Dan bila sedang banyak kegiatan bisa dicicil tilawahnya. 

Bisa dengan cara membaca Al Qur’an cukup 4 halaman saja setiap selesai shalat 5 waktu. Kini rasanya setiap detik, menit, jam dan hari menjadi  lebih berkualitas dengan membaca Al Qur’an setiap hari. Tidak ada lagi kehampaan dalam hatiku karena Al Qur’an selalu menemaniku.

Ketika berangkat ke kantor, belanja ke supermarket, menghadiri acara pertemuan keluarga, menjemput anak di sekolah, mengantar anak les, mendampingi anak lomba bahkan hingga ke luar kota, Al Qur’an tak pernah lupa kubawa dan kubaca. Dengan membawa dan membaca Al Qur’an setiap hari dimanapun dan kapanpun, aku  merasa aman, damai dan terlindungi.

Ayahku juga ikut senang melihatku mulai rutin membaca Al Qur’an lagi. Sampai membelikanku sebuah Al Qur’an yang terpisah-pisah setiap juznya menjadi 30 kitab juz yang tipis. Sehingga sangat praktis dan memudahkanku dalam bertilawah, khususnya bila akan dibawa keluar rumah. Karena hanya tinggal membawa kitab juz yang sesuai dengan tugas tilawahnya.

Tapi untuk mempertahankan sebuah keistiqamahan dalam membaca Al Qur’an juga tidak mudah. Karena ada kalanya timbul  rasa malas hingga menunda tilawah yang berakibat terlambat dalam menyelesaikan tilawahnya. Godaan gadget juga sangat besar dalam hal ini. Karena begitu membuka media sosial yang ada pada smartphone, rasanya ingin terus dan terus membuka dan mengikutinya, sehingga akhirnya melalaikan tilawah.

Sumber gambar: Line @Account One Day One Juz

Maka aku harus pandai membagi waktu dan bisa mengendalikan diri agar semuanya dapat berlangsung dengan lancar. Karena bila tidak, selain berakibat terlambat dalam menyelesaikan tilawah, juga membuat malas tilawah dan akhirnya keluar dari grup ODOJ seperti yang terjadi pada beberapa teman dalam grup ODOJ. 

Aku juga terkadang mengalami  rasa malas hingga menunda tilawah. Bahkan sempat ingin keluar dari grup. Tapi hati kecilku mengatakan bahwa aku harus tetap bertahan. Karena aku tak ingin kehilangan mutiara kehidupanku lagi.

Selain itu dengan bergabung dalam grup ODOJ ini, aku  mempunyai banyak teman yang akrab dan shalehah dari berbagai daerah dan kota di Indonesia. Mereka selalu saling mengingatkan untuk tetap semangat  dan rajin bertilawah. Ada istilah ‘tetap semangkA’, ukhtii.. Artinya tetap semangat karena Allah, ukhtii..

Alhamdulillah… Kitab suci Al Qur’an yang sekian lama tak kusentuh hingga berdebu itu kini telah kembali menemani dan mengisi hari-hariku.. Melalui ODOJ, akhirnya kutemukan kembali mutiara kehidupanku. Semoga aku tak hanya mampu bertilawah kembali, namun juga mampu mengamalkannya. Dan semoga dengan lenyapnya debu pada mutiaraku, lenyap jugalah debu maksiat dan dosaku.. Aamiin..

Berlatih, Berprestasi dan Berkarakter dengan Catur

Standar

“Jadi mau milih ekskul apa, Salma? Mau menggambar, menyanyi atau menari?”

Lembar formulir data pilihan ekskul yang dibawa anakku sejak pulang sekolah kemarin siang itu masih belum kuisi hingga sore ini.

Kulihat Salma juga masih tampak bingung memilih ekskul yang kusebutkan tadi. Aku memang sengaja menawarkan 3 macam ekskul tersebut karena kuanggap yang paling cocok untuk anak perempuan di antara beberapa pilihan ekskul yang lain.

“Ekskul lainnya apa lagi sih maa..?”
Rupanya Salma kurang berminat dengan 3 ekskul yang kutawarkan tadi.

“Hmm.., ini ada pilihan lain..ekskul catur dan sepak bola.. Tapi kan itu buat anak laki-laki, Salma..”

“Kalau catur itu kayak gimana sih ma?” Salma malah penasaran dengan olah raga yang mungkin lebih tepat dikatakan olah otak itu 😀

“Mama juga belum tahu seperti apa caranya.. Setahu mama sih nanti memainkan bidak seperti kuda, gajah di atas papan catur yang kotak-kotak. Tapi kayaknya menarik juga ya Salma..” kataku sambil tersenyum melihat mata anakku yang tampak berbinar karena penasaran.

Aku langsung teringat iklan sebuah produk susu bubuk yang pernah ditayangkan di televisi. Di iklan tersebut ada seorang anak laki-laki yang cerdas dan jago main catur sehingga sering menjadi juara.

“Jadi Salma pengin ikut ekskul catur saja ya?” Aku menanyakan kembali untuk memastikannya.

“Iya ma..,” Salma mengangguk dengan antusias.

Kupikir tak masalah juga ekskul ini untuk anak perempuan. Karena malah ada wanita yang jadi grand master catur di Indonesia, yaitu Irene Kharisma Sukandar.

Akhirnya dengan mantap kutuliskan catur sebagai ekskul pilihan untuk anakku pada form yang telah disediakan oleh sekolah tersebut.

Dan sejak kelas 1 di SD Al Azhar Cirebon itulah anakku mulai mengenal catur. Pembimbing ekskul caturnya adalah pak Sahroni dan pak Lilik.

Ketika pertama kali mengantar Salma ke ruang ekskul catur sebetulnya aku agak ragu, karena peserta ekskulnya ternyata laki-laki semua. Aku khawatir Salma merasa tidak nyaman belajar catur di sana.

Tapi di luar dugaan ternyata Salma malah tampak senang dan menikmati ekskul tersebut. Dan yang menggembirakanku, ketika suatu kali pak Sahroni menemuiku dan berkata.., “Salma ada bakat di catur bu..”

Untuk pertama kalinya, saat kelas 2 SD Salma berhasil lolos dalam seleksi di sekolahnya dan di kecamatan Kesambi untuk ikut pertandingan catur Popkota (Pekan Olahraga Pelajar Kota) Cirebon. Tapi saat pertandingan catur antar kecamatan di Popkotanya Salma masih belum lolos.

Saat itu ada seorang ibu yang menyarankanku untuk menghubungi pak Yohanes Ciputra, seorang pelatih catur dan penanggungjawab Popkota cabor catur, agar Salma dapat belajar catur dengan lebih intensif.

“Sayang bu kalau Salma tidak dilatih benar-benar. Karena saya lihat Salma berbakat catur,” begitu saran ibu yang sedang menunggu anaknya yang ikut pertandingan catur Popkota tersebut.

Seusai pertandingan aku langsung menemui pak Yohanes yang selalu stand by di sana. Lalu aku menanyakannya apakah beliau masih ada waktu untuk bisa melatih Salma dan kapan bisa dimulainya. Mengingat banyak anak yang dilatih caturnya oleh beliau juga.

Alhamdulillah, pak Yohanes menyambut baik dan siap melatih Salma.. 🙂 Untuk jadwal latihan akhirnya dilanjutkan pembicaraannya lewat SMS karena pak Yohanes masih sibuk mengurus Popkota.

Setelah jadwal berlatih catur disepakati, setiap seminggu sekali pak Yohanes datang ke rumah untuk melatih Salma bermain catur. Dengan sabar pak Yohanes membimbing Salma. 

Dari langkah permainan yang sederhana sampai yang rumit. Baik secara teori maupun prakteknya. Diperkenalkan juga berbagai macam strategi pembukaan (opening) hingga endingnya

Cara melatihnya juga menarik dan tidak membosankan karena diselingi dengan kuis soal-soal catur yang menantang serta memperlihatkan partai-partai catur dari para grandmaster catur internasional seperti Gary Kasparov, Karpov, Susanto Megaranto, Alexander Kosteniuk, Irene Kharisma Sukandar dan lain-lain.

Salma sampai mengidolakan dua grand master catur wanita yang terkenal, yaitu Alexander Kosteniuk dan Irene Kharisma Sukandar karena kecantikan dan kecerdasan mereka.

Hal lain yang membedakan pak Yohanes dari pelatih catur yang lain adalah karena pak Yohanes sering menceritakan berbagai kisah yang bisa diambil hikmahnya dan tak jarang dihubungkan dengan filosofi dalam permainan catur.

Setelah beberapa lama Salma berlatih catur dengan pak Yohanes tidak lantas membuat Salma seketika mampu meraih prestasi dalam pertandingan catur.Kegagalan demi kegagalan masih harus dihadapi oleh Salma. 

Tapi secara berproses, berkat ketelatenan pak Yohanes dan pak Lilik dalam melatih serta hasil dari keuletan Salma, akhirnya saat kelas 4 SD.., 3 medali emas dari 3 kategori pertandingan catur (standar, cepat dan kilat) di Popkota berhasil Salma raih.

Sejak itu selama 3 tahun berturut-turut (kelas 4,5 dan 6 SD) Salma mampu bertahan dalam perolehan medali emas, khususnya di catur standar pada Popkota cabor catur. Sehingga Salma memperoleh piala Hattrick dari Dinas Pendidikan kota Cirebon. Alhamdulillah.. 🙂

Tak hanya itu.. Ketika kelas 5 SD, Salma juga berhasil meraih prestasi pada O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) SD tingkat Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan di kota Bandung dengan menggondol medali perak.

Semua prestasi itu tak hanya membanggakan kami sebagai orangtuanya, namun juga membawa nama baik sekolah dan kota Cirebon.

Ketika Salma mulai masuk SMP Al Azhar, prestasi catur Salma dengan perolehan medali emasnya masih bisa dipertahankan saat kelas 7 dan kelas 9.

Ketika kelas 8 Salma terpaksa harus off dari catur karena padatnya kegiatan sekolah yang membuatnya kesulitan dalam membagi waktu antara berlatih catur dan belajar materi pelajaran sekolah.

Terlebih Salma saat itu memang sedang dipersiapkan untuk mengikuti berbagai lomba yang berhubungan dengan bidang akademis, seperti OSN Matematika dan lain-lain.

Begitupun ketika Salma masuk SMAN 6 Cirebon. Meski ekstra sibuk di kelas akselerasinya, di kelas 10 ini Salma masih mampu meraih medali emas pada Popkota cabor catur tingkat SMA.

Selanjutnya, Salma sudah harus fokus untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi UN, USBN dan SBMPTN, karena pada tahun ini sudah lulus SMA. Sehingga sebagian kegiatan di luar persiapan tersebut harus off dulu termasuk catur.

Sejak tahun kemarin, ternyata Popkota memang sudah tidak diselenggarakan lagi. Masih belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Tapi kenyataan ini tentu saja menimbulkan keresahan di hati pak Yohanes.

Karena semua rencana dan harapan beliau untuk dapat meregenerasi atlet-atlet catur handal yang bisa kembali membawa nama baik kota Cirebon menjadi terpatahkan di tengah jalan.

Aku juga ikut merasa prihatin dengan kondisi ini dan hanya bisa ikut mendoakan semoga ada perhatian yang baik dan maksimal dari pihak pemerintah terhadap para pelatih dan atlet khususnya di cabor catur.

Karena dari situlah prestasi para atlet bersama pelatihnya dapat bangkit dan dibuktikan tak hanya di tingkat regional dan nasional. Namun juga di tingkat internasional.

Setelah sekian lama tenggelam dalam kesibukan masing-masing, sore ini aku mengajak Salma datang berkunjung ke rumah pak Yohanes.

Pak Yohanes tampak bahagia dapat bertemu kembali dengan Salma, murid yang sekaligus telah dianggapnya sebagai keponakannya karena sedemikian baiknya hubungan yang telah terjalin.

Kami saling mengobrol tentang banyak hal. Dari tentang kegiatan sekolah Salma, berita politik di Indonesia, sampai tentang aktifitas pak Yohanes sekarang.

Meski kini Salma sudah tidak aktif lagi sebagai atlet catur, banyak pelajaran berharga yang telah diambil baik dari setiap proses dalam berlatih dan bertanding catur maupun dalam hal filosofi permainan catur itu sendiri.

Kegigihan dan stamina yang kuat memang sangat dibutuhkan pada setiap latihan dan pertandingan catur. Karena ada beberapa babak yang harus dihadapi dan memakan waktu cukup lama dibanding latihan/ pertandingan cabor yang lain.

Sehingga tentu akan mengorbankan banyak waktu dan energinya. Tak seperti teman-temannya yang mempunyai lebih banyak waktu untuk beristirahat dan belajar mapel sekolah.

Belum lagi harus siap menerima apapun hasilnya dari setiap kali bertanding baik itu kalah maupun menang. Sehingga membutuhkan mental yang tangguh.

Ketika kalah, harus berlapang dada, legowo dan siap menerimanya. Sehingga mau bangkit lagi dan berusaha dengan lebih baik. Selain itu tidak boleh tergoda oleh atlet lain yang menjual kemenangannya.

Ketika menang harus tetap humble dalam kegembiraannya dan tak mudah terbujuk untuk mengalah/menjual kemenangannya demi temannya yang membutuhkan prestasi tersebut.

Sesuai dengan slogan yang pernah kubaca di spanduk O2SN Jawa Barat sebagai berikut :

Menang adalah dambaan
Kalah bukan halangan
Sportifitas tetap kubanggakan

Ada juga slogan dari Popkota yang sangat memotivasi para pelajar yang menjadi atlet sebagai berikut:

Juara di medan laga
Berprestasi akademis

Maksud dari slogan tersebut adalah bahwa setiap pelajar diharapkan tak hanya mampu menjadi juara saat menjadi atlet olahraga, namun juga mampu berprestasi secara akademis di sekolahnya. Alhamdulillah Salma mampu membuktikannya.. 🙂

Catur sendiri mempunyai motto :

Gens Una Sumus

Artinya: Kita semua satu/bersaudara

Motto catur tersebut menunjukkan bahwa melalui catur persahabatan, persaudaraan, persatuan dan perdamaian antar bangsa di dunia bisa terjalin dengan baik. 

Dari bidak-bidak caturpun ada makna filosofisnya. Seperti kuda (knight) adalah prajurit yang harus gesit dan siap menjaga sang raja. Dan ada ratu  yang selalu siap melindungi sang raja dari serangan lawannya.

Juga ada pion yang meskipun kecil, tapi tangguh, maju terus pantang mundur dan bisa dipromosikan sehingga mampu membawa kemenangan.

(Sumber gambar: #quotelifeindonesia)

Menurut Salma, dari semua bidak catur itu yang paling bagus filosofinya adalah pion. Karena mempunyai makna yang memotivasi sekaligus memperingatkan.

Yaitu kita tak perlu minder dengan ‘kecil’nya keadaan kita. Tak perlu takut dengan ‘kecil’nya anggapan orang terhadap diri kita.

Karena kalau kita ulet, tangguh, cerdik dan tak mudah putus asa…ternyata ada banyak jalan menuju kesuksesan.. 🙂

Jadi jangan pernah meremehkan apapun kondisi seseorang.. Karena kalau dia sudah action… Kelar hidup lo.. ! 😀

Tapi kita juga diingatkan, jangan mau dijadikan pion/diperalat oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab demi tujuan-tujuan licik mereka.

Dan di akhir dari tulisan sederhana ini, kami ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada pak Yohanes atas bimbingannya kepada Salma selama ini.. 

Dengan catur Salma telah berlatih, berprestasi dan berkarakter.. Insya Allah semua ini akan membuat  Salma tumbuh menjadi seorang gadis yang makin tangguh dan berprestasi.

Semoga pak Yohanes dan keluarga selalu diberi kesehatan dan kesuksesan, serta tercapai semua harapannya..
Aamiin ya rabbal’aalamiin..