Monthly Archives: Februari 2017

Goresan Takdir

Standar

Gadis kecil dengan rambut berkepang dua itu masih asyik menggambar. Sebentar lagi gambar dinosaurus dan sekawanannya selesai digarap. Beberapa lembar kertas fax tak terpakai yang ia peroleh dari meja papanya sudah siap digunakan lagi untuk gambar berikutnya.

Di sekelilingnya bertebaran kertas-kertas buram dan kertas bekas faktur dari kantor sang papa yang sudah dipenuhi dengan coretan gambar-gambarnya. Ada gambar orang, robot, binatang dan aneka gambar lain sesuai dengan imajinasinya. Yang menarik, hampir di semua gambar itu bermuatan cerita yang mewakili perasaannya.

Kalau pensil/pulpen dan kertas sudah tersedia, jari tangannya yang lentik itu langsung ‘menari-nari’ dengan lincahnya, menggoreskan imajinasinya. Dan.. dalam sekejap, kertas tersebut sudah dipenuhi gambarnya. Bahkan berapapun banyaknya kertas buram dan buku gambar akan ludes digambarnya hanya dalam waktu sehari.

Namun gadis kecil ini tak seperti anak lain yang selalu patuh dengan arahan guru gambarnya. Karena ia lebih suka menggambar bebas sesuai dengan selera dan imajinasinya sendiri. Padahal teknik mewarnai juga sangat dibutuhkan.

Maka setiap kali ikut lomba menggambar dan mewarnai.. meskipun gambarnya bagus, ia selalu tersandung di teknik mewarnai. Namun alhamdulillah, beberapa prestasi menggambar dan mewarnai masih sempat diraihnya juga.

Seiring dengan berjalannya waktu, gadis kecil yang lincah ini telah berubah menjadi seorang gadis remaja yang cantik. Siapakah gadis tersebut? Yap… Ia adalah Salma Fedora, putriku semata wayang. Walau aktifitas di sekolahnya makin padat merayap, hobby menggambarnya tetap jalan terus, kapanpun dan di manapun.

Bahkan ketika Salma sudah mulai disibukkan dengan olimpiade matematika dan kegiatan sekolah yang cukup menguras energi dan waktu, goresan gambarnya masih tersebar dimana-mana. Di buku tulis, di kertas otretan, di lembar kertas ulangan, hingga di lembar kertas soal lomba matematika yang boleh dibawa pulang. Bisa di rumah, di perjalanan, bahkan di kelas saat berlangsung KBM. Seolah tangannya tak bisa diam untuk terus menggambar.

Salma tak seperti kebanyakan gadis remaja yang lain. Karena ia gadis remaja yang lebih suka main game daripada sibuk dandan. Lebih betah di rumah daripada shopping yang nggak jelas. Makanya ia lebih suka utak-atik komputer di rumahnya. Ketika hobby main komputer berpadu dengan hobby menggambarnya, muncullah bakat desain grafisnya.

Beruntunglah Salma belajar di sekolah yang tepat. Sebab di sekolahnya itu memiliki guru Kesenian (di SMAN 6 Cirebon), bahkan Kepala Sekolah (di SMP Islam Al Azhar 5 Cirebon) yang sangat mendukung, memperhatikan dan siap membimbing hobby menggambarnya. Terima kasih pak Daniel dan pak Imam.. 🙂

Sehingga Salma beberapa kali mampu meraih prestasi terbaik di ajang lomba mading, kaligrafi hingga desain poster. Bahkan berhasil membawanya ke tingkat Provinsi Jawa Barat (FLS2N). Meskipun ada yang hasilnya masih belum sesuai harapan, namun kreatifitasnya tak pernah berhenti.

Beberapa gambar ilustrasinya sudah menghiasi isi dan cover bukuku (yang berjudul “Santriwati Baru”). Hasil desainnya juga sudah sering digunakan untuk berbagai event. Seperti dalam pembuatan spanduk, logo, backdrop, poster dan brosur. Beberapa teman sekolahnya juga pernah minta bantuan untuk mendesainkan kalender, stiker, kaos futsal dan logonya.

Di saat kemampuan desain grafis Salma semakin meningkat, di sisi lain kemampuan menggambar secara manualnya masih membutuhkan banyak bimbingan. Terutama yang berhubungan dengan teknik seni lukis yang menggunakan cat minyak atau akrilik, kuas, kanvas dan berbagai peralatan lukis lainnya.

Menyadari akan kelemahannya tersebut, maka aku berinisiatif mencari guru lukis. Tujuan utamanya untuk membimbing putriku dalam rangka persiapan ujian praktek melukis. Dari semua guru lukis yang kukenal, pilihanku jatuh pada pak Iskandar Abeng.

Karena beliau sudah dikenal sebagai seorang spesialis guru lukis yang sangat berpengalaman dan sering mengadakan pameran lukisan. Sebelumnya beliau juga
sudah pernah membimbing putriku dalam menggambar dan mewarnai dengan oil pastel saat masih bersekolah di SD

Alhamdulillah, pak Abeng bisa hadir di saat yang tepat. Awal mula dibimbing, Salma masih tampak kurang percaya diri. Mungkin karena lukisan sebelumnya sempat dua kali gagal. Kegagalannya tersebut bukan dari sketsa yang digambarnya. Namun lebih pada teknik melukisnya.

Ketika konsep, ide dan sketsa sudah dibuat oleh Salma, pak Abeng mulai membimbing bagaimana cara mencampur cat akrilik pada palet dan teknik menyapukan kuasnya di kanvas. Berikutnya, Salma yang melanjutkannya sendiri di bawah bimbingan pak Abeng.

Di sela bimbingannya, pak Abeng juga memberi motivasi pada Salma. Salma menjadi makin bersemangat dalam melukis. Memang melukis sangat membutuhkan kesabaran dan kerapian. Dua hal yang harus banyak dilatih dari Salma.

Ketika menjelang malam hari.. akhirnya kelar juga lukisan tersebut. Salma tersenyum lega. Tampak hasil lukisannya kini lebih bagus dan bermakna. Terima kasih pak Abeng atas bimbingan dan motivasinya… 🙂

Dan keesokan harinya lukisan tersebut sudah siap dikumpulkan ke guru keseniannya. Saat pulang sekolah dengan gembira Salma bercerita bahwa lukisannya terpilih menjadi salah satu karya yang nanti akan dipajang di sekolahnya. Alhamdulillah..

Semangatnya untuk berkreasi jadi makin bertambah. Di formulir SNMPTN 2017 dari sekolah yang dibawanya pulang kemarin, kulihat Salma menuliskan jurusan FSRD ITB sebagai salah satu pilihannya nanti..

Sebelumnya Salma hanya ingin memilih jurusan STEI ITB sebagai satu-satunya pilihan di jalur SNMPTN. Alasannya, selain memang ingin memperdalam ilmu komputer, juga supaya matematika sebagai salah satu pelajaran yang disukainya dapat terpakai di jurusan tersebut.

“Sudah yakin nih Salma?”

“Sudah dong maa.. ” jawabnya sambil tersenyum.

“Nanti kalau diterima di jurusan FSRD gimana? Nggak boleh dicancel lho.. ”

“Ya nggak apa-apa. Berarti takdir saya di situ,” jawabnya mantap.

“Tapi jadinya ilmu matematikanya nggak kepakai dong.. Sayang ya Salma.. Apalagi Salma sudah lama ikut pembinaannya bahkan sampai ke Bandung.”

“Kan nanti masih bisa saya pakai buat ngajarin anak saya dan buka les matematika maa,” jawabnya dengan cerdas.

“Beneran nih? Kalau Salma maunya ambil jurusan STEI ITB sebetulnya cukup milih 1 jurusan itu saja.. Kalau gagal di jalur SNMPTN kan masih bisa mencoba di jalur SBMPTN.”

Aku mencoba memastikannya lagi. Karena beberapa rekan juga menyayangkan bila Salma tak jadi mengambil jurusan STEI ITB mengingat Salma cukup berbakat di bidang komputer dan matematika.

“Ya beneranlah maa.. Soalnya saya sudah coba di beberapa tes peminatan. Berdasar hasil tes, yang disaranin untuk saya selalu jurusan FSRD/DKV sih maa..Lagipula emang minat dan bakat saya sejak kecil kan disitu. Kecuali kalau dua jurusan yang saya pilih di jalur SNMPTN tadi nggak diterima, ya saya baru coba di jalur SBMPTN untuk ambil jurusan STEI ITB. Tapi kalau di jalur SNMPTN ternyata saya diterima di STEI ITB ya alhamdulillah. Toh saya masih tetap bisa berkreasi sesuai minat dan bakat saya. Menggambar kan bisa dimanapun dan kapanpun maa.”

Jawaban yang masuk akal dari Salma itu tak hanya membuncahkan rasa haru dan bahagia di hatiku, namun juga rasa bangga. Karena itu membuktikan bahwa Salma sudah bisa berpikir secara dewasa. Salma sudah berani memutuskan langkah terbaiknya sesuai dengan pilihan untuk masa depannya nanti dan sudah berani mengambil resiko atas keputusannya tersebut.

“Maka boleh saya bilang bahwa hasil dari SNMPTN ini nanti adalah penentuan dari takdir masa depan saya nanti maa..Dan apapun hasilnya nanti saya akan tetap jalani,” Salma menambahkan.
Mendengar penuturannya itu aku hanya bisa memeluk Salma sambil berbisik lirih dan mendoakannya.

“Semoga Allah SWT menggoreskan takdir yang terbaik untuk masa depanmu ya Salma.. Aamiin.”

Bintang di Balik Awan

Standar

Kota Cirebon yang terhampar di pesisir Utara pulau Jawa membuat suhu udaranya cenderung panas. Terlebih di siang hari.., panasnya serasa menyengat kulit dan membuat keringat bercucuran. Namun siang ini  langit mendung yang mengguyurkan hujan sejak dini hari membuat udara menjadi sejuk. Pancaran sinar mentari yang masih saja berselimutkan  awan berwarna kelabu itu membuatku enggan beranjak dari kursi malasku.

Dari balik jendela kaca rumah, pandangan mataku tertuju pada seorang nenek yang sedang berjalan tertatih-tatih. Di punggungnya terlihat sebakul keranjang yang berisi aneka kue. Aha, itu nenek penjual kue langgananku! Aku segera berlari keluar memanggilnya. Udara yang sejuk ini membuat perutku terasa keroncongan lagi. Padahal 1 jam yang lalu aku baru saja makan siang.

“Nek, beli buras, pisang rebus dan nagasarinya masing-masing dua yaa..”

“Bakwannya mau sekalian nggak neng?”

“Ya wis boleh deh nek..”

Dua lembar uang sepuluh ribuan kuberikan kepadanya.

“Ini neng uang kembaliannya,”

Kulihat dua lembar uang dua ribuan di tangannya yang kurus dan kasar. Sejenak aku tertegun. Aku salut tapi juga merasa iba terhadapnya. Di usianya yang sudah senja ini, ia masih sibuk berjualan kue demi beberapa lembar uang meski harus berjalan kaki dan menembus hujan seperti ini. Sementara nenek lain yang seusianya sudah hidup santai dan pensiun dari pekerjaannya.

“Sudah nek, uang kembaliannya buat nenek saja”

Ia tersenyum sumringah sambil menggenggam tanganku.

“Terima kasih, neng.. Mugi-mugi  diparingi banyak rejeki ya.,.”

“Aamiin.. Semoga dagangannya laris manis ya nek..”

Nenek itu mengangguk senang, lalu menengadahkan tangannya seperti sedang berdoa.

“Aamiin ya Allah…, “ terdengar suara lirih nenek itu.

Azan Asar sayup-sayup terdengar berkumandang dari masjid di belakang rumahku. Hujan masih belum reda juga, malah semakin deras.

“Wah sudah Asar.. Nenek ikut numpang shalat ya neng.“

“Silakan nek.. Sembari menunggu hujan reda juga”

Saat itu aku kembali tertegun. Aku makin kagum kepada nenek itu. Meski sudah tua dan sibuk berjualan kue kesana kemari, namun ia tetap menjaga shalatnya. Ia menyeka wajah keriputnya yang basah terkena air hujan dengan selembar kain. Di balik kerudung, tampak beberapa helai rambutnya yang berwarna putih keperakan  terkena titik air hujan.

Sebenarnya baru 4 bulan aku bersama suamiku tinggal di rumah ini. Tepatnya sejak kami berumahtangga dan suamiku pindah bekerja di kota Cirebon. Sejak itu pulalah aku menjadi pelanggan tetap nenek penjual kue itu. Biasanya ia lewat depan rumahku sekitar jam 10 pagi. Mungkin karena hujan yang tak kunjung reda sejak pagi, nenek itu baru sampai di depan rumahku menjelang sore begini.

Rasa penasaranku terhadap nenek ini sudah timbul sejak pertama kali membeli kuenya. Tapi aku belum berani banyak bertanya tentang identitasnya. Hingga kini aku masih penasaran terhadap dirinya dan keluarganya. Kenapa di usianya yang sudah senja ini, ia masih sibuk berjualan menjajakan kuenya?

Seusai shalat, aku mengajaknya duduk di ruang tamu. Secangkir teh manis hangat kusuguhkan untuknya. Aku menanyakan beberapa hal yang selama ini membuatku penasaran. Dan sore itu mulailah ia menceritakan perihal diri dan keluarganya.

Nama lengkap nenek itu Sumarsih. Tapi ia lebih suka dipanggil bu Sum. Usianya sudah 75 tahun. Suaminya telah berpulang ke hadirat-Nya saat bulan Ramadhan tahun lalu. Ia mempunyai seorang putri yang telah berumahtangga. Namun sebuah musibah yang tragis menimpa keluarga putrinya.  Terjadinya kecelakaan bus telah membuat cacat pada kaki putrinya dan ia harus kehilangan suami serta kedua buah hatinya untuk selamanya. Sejak itulah putrinya tinggal bersama dirinya. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Kulihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Namun ia tampak berusaha menahan tangisnya. Ya Allah.. betapa besar cobaan hidup yang menimpa mereka. Dan betapa tegar mereka dalam menghadapinya.  Malah aku yang tak bisa menahan air mataku karena ikut sedih merasakan penderitaanya. Aku diam-diam mengusap air mataku dengan tisu. Air hujan yang bergemericik serasa menambah sedih suasana.

“Jadi sekarang apa kegiatan putri nenek di rumah?”

“Membuat aneka macam kue yang setiap hari nenek jual ini neng…Kadang-kadang ada juga kantor atau sekolah yang memesan kuenya, neng.. Alhamdulillah, bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

“Oh, ternyata putri nenek sendiri ya yang membuatnya? Enak-enak lho nek kuenya. Putri nenek pinter bikin kuenya. Alhamdulillah, saya ikut senang dan bangga, nek…”

Aku mengacungkan dua jempolku sebagai apresiasi terhadap ketabahan dan ketangguhan mereka dalam berjuang di kehidupan mereka yang penuh dengan cobaan. Walau nenek itu telah lanjut usia dan  putrinya cacat kakinya, namun mereka mampu bekerjasama dengan baik demi kelangsungan hidup mereka.

“Wah, hari sudah makin sore ini neng.. Sebentar lagi maghrib, Nenek pulang dulu ya neng.. Terima kasih ya, nenek sudah boleh numpang shalat, ngobrol, minum teh di sini.”

“Iya nek.. Hati-hati di jalan ya..”

Nenek itu mengangguk sambil tersenyum, lalu mengambil bakul keranjang tempat kuenya. Kue yang tersisa hanya beberapa potong itu akhirnya kuborong sekalian. Karena hujan masih gerimis, aku membantunya menutupi keranjang kuenya dengan plastik. Sementara ia mengenakan kembali jas hujan yang dibuatnya sendiri dari bahan plastik. Lalu bakul keranjang kue itu digendongnya kembali di belakang punggungnya.

Aku mengantar nenek itu pulang sampai ke depan pintu pagar rumahku. Rintik hujan di langit senja seakan mengiringi perjalanan pulangnya. Semoga Allah SWT menjaga nenek dan putrinya.. aamiin..

Beberapa saat kemudian suamiku sudah pulang dari kantornya. Aku menyambutnya dan membantu membawakan tasnya ke dalam rumah. Saat makan malam bersama suamiku, dari balik jendela kulirik langit yang tampak cerah. Hujan yang seharian turun kini telah reda.

Pelangi memang tak hadir karena hari telah malam. Namun jutaan bintang yang cemerlang kini menghiasi langit yang gelap. Seakan mengisyaratkan bahwa tak ada kata terlambat untuk meraih suatu harapan selama nafas masih dikandung badan. Dan seburuk apapun kejadian yang menimpa, selalu tersimpan hikmah positif di dalamnya.

 

Sumber gambar: 

https://mulpix.com/post/989870438703342431.html