Monthly Archives: Maret 2017

Profesi yang Mulia

Standar

Suasana akhir pekan di kota Cirebon pada pagi hari menjelang siang ini tampak hidup dengan berbagai aktifitas warganya. Sepanjang jalan yang kulalui dari jalan Evakuasi menuju ke jalan Pulasaren juga ramai tapi lancar. Sehingga tak sampai 15 menit perjalanan, mobil yang kukendarai sudah tiba di depan Rumah Bersalin Panti Abdi Dharma (PAD).

Mobil kuparkir di seberang jalan karena area parkir PAD sudah penuh dengan kendaraan. Sejenak aku menghela nafas saat kulihat bangunan Rumah Bersalin itu dari luar. Terlintas 16 tahun yang lalu saat aku melahirkan putriku di sana.

Di dekat pintu terpasang jadwal besuk, yaitu: pagi jam 10.00-11.00 WIB dan malam jam 18.30-19.30 WIB. Pagi ini aku memang sudah mempunyai rencana untuk menjenguk salah seorang teman yang telah melahirkan anaknya di sana bersama beberapa teman lain. Kulirik jam di dinding masih menunjukkan jam 10.00 kurang. Tapi setelah kutanyakan ke bagian informasi, syukurlah, sudah boleh masuk.. 🙂

Saat kulangkahkan kakiku di lorong PAD dan melewati ruangan demi ruangan, memoriku akan rumah bersalin ini serasa diputar kembali. Apalagi saat kulewati kamar perawatan yang dulu pernah kutempati seusai melahirkan, ruang bersalin dan ruang bayi.

Langkahku terhenti ketika berpapasan dengan suami temanku yang akan kujenguk itu. Ia mengatakan bahwa istrinya sekarang sedang berada di ruang salon. Setelah ditunjukkan tempatnya aku langsung menuju ke ruangan tersebut.

Di depan ruang salon aku bertemu dengan kedua anak temanku. Ketika melongok ke dalam ruangan, tampak temanku sedang dicuci rambutnya oleh seorang perawat.

“Sini masuk mama Salma.. ,” sambut temanku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

Belum sempat aku masuk, pandanganku tertuju pada wajah perawat yang sedang mencuci rambut temanku. Wajah yang pernah kukenal sebelumnya.

“Bu Irma ya?” perawat itu tiba-tiba menyapaku dengan ramah.

“Oh.. Iya betul suster..,” aku menjawab dengan cepat sambil mengingat-ingat wajahnya. Lalu aku masuk ke dalam ruangan itu.

“Hmmm, ini suster yang dulu pernah saya panggil ke rumah untuk mandiin anak saya waktu saya barusan melahirkan ya?” Aku bertanya untuk lebih memastikan. Waktu itu seusai melahirkan aku memang pernah memanggilnya ke rumah.  Selama 2 minggu ia membantuku memandikan putriku. Sehingga sebagai ibu baru aku bisa banyak belajar mengurusi bayi kecil darinya.. 🙂

“Iya betul bu.. Saya suster Utami,” jawab suster itu dengan senyum yang semakin lebar.

“Putri ibu namanya Salma Fedora kan? Sekarang sudah kelas berapa bu?”

“Betul suster.. Hebat banget sih suster masih ingat wajah saya, nama saya dan nama putri saya.. Sekarang Salma sudah kelas 12 SMA suster.. Tahun ini juga sudah lulus dan siap kuliah.” jawabku dengan perasaan terharu dan takjub.

Bagaimana tidak..? Sebagai seorang bidan dan perawat yang sudah puluhan tahun membantu ibu-ibu dalam melahirkan maupun merawat bayi-bayi yang tentu sudah tak terhitung lagi jumlahnya karena saking banyaknya.. Kok dia masih ingat wajahku, namaku dan putriku? Sedangkan aku saja tadi sudah hampir lupa nama suster itu.

“Iya dong bu.. Saya kan waktu itu ikut membantu persalinan ibu. Saya juga masih inget dulu mencukur rambut putri ibu , lalu ditimbang sama suami ibu. Kemudian suami ibu membeli kambing (untuk aqiqah)… Rumah ibu kan di Pegambiran Estate ya?”

“Luar biasa, kok suster masih inget semuanya ya..? Betul suster. Tapi sekarang kami sudah pindah ke jalan Evakuasi..,” aku menjawab dengan perasaan yang masih terheran-heran..
Suster Utami hanya tersenyum dan berkata, “Kami disini melayani semua ibu dan anak dengan sepenuh hati kami bu.. Sehingga setiap hubungan antara kami dengan pasien mempunyai kesan yang baik.”

“Bagi suster sendiri,  apakah tidak pernah ada rasa takut atau gimana gitu ya kalau lagi membantu persalinan ibu-ibu?” Aku bertanya lagi karena penasaran.

“Enggaklah bu.. Bagi saya, profesi menjadi seorang bidan dan perawat itu panggilan hati. Sehingga tidak pernah ada rasa takut, ngeri, atau terpaksa sama sekali. Saya bahkan tak peduli dengan berapapun penghasilan yang saya terima. Karena saya menikmati profesi ini. Dan saya yakin Tuhan yang akan memberikan yang terbaik untuk saya bila saya melayani semua pasien dengan baik..”

Masya Allah… Jawaban suster itu membuatku jadi makin menghargai profesi para bidan dan perawat yang benar-benar tulus dalam bekerja seperti suster Utami ini.. Sebuah profesi yang mulia.. 

Pembicaraan kami terhenti ketika  rambut temanku sudah selesai dikeringkan. Lalu ia mengajakku masuk ke ruang perawatan dan bertemu dengan beberapa teman lain yang sudah datang untuk berkunjung.

Sebelumnya aku sempatkan untuk foto bersama suster Utami sebagai kenang-kenangan dan meminta nomer kontaknya. Supaya nanti suatu saat aku tetap bisa menghubunginya lagi. 🙂

Sedia Payung Sebelum Hujan

Standar

Di jaman sekarang, asuransi bukanlah sesuatu yang asing lagi. Karena sudah semakin banyak yang mengenal dan mengambilnya sebagai perlindungan keluarga. Istilah asuransi ini pertama kali kukenal waktu masih tinggal bersama orangtua di Magelang. Masih kuingat waktu itu ada tamu yang datang ke rumah membawa brosur asuransi jiwa. Tapi orangtuaku masih belum tertarik. “Masa jiwa kok digadaikan?” begitu pemikiran orangtuaku saat itu.

Lalu ketika sudah berkeluarga dan anakku masih berumur 6 tahun, ada petugas/agen yang datang menawarkan asuransi karena direferensikan oleh adik iparku. Sebetulnya ada perasaan yang agak ngeri-ngeri gimana gitu ketika dijelaskan oleh agen asuransinya.

Sebab yang dibicarakan adalah tentang berbagai hal yang bisa dicover oleh asuransi bila terjadi sesuatu yang tak diharapkan pada diri kita atau keluarga kita, baik itu berupa penyakit, kecelakaan hingga kematian. Sampai berulangkali mulutku menyebut, “Amit-amit.. Na’udzu billahi min dzaalik..”

Tapi karena tertarik dengan programnya dan kebetulan adik iparku juga mengambilnya, maka untuk pertama kalinya program asuransi jiwa itu kuambil. Suami dan anakku juga ikut kumasukkan di program asuransi. Alhamdulillah sampai pembayaran premi asuransi berakhir, kami sekeluarga tidak pernah klaim.Jadi kami hanya mengambil manfaat investasinya.

Setelah itu semakin banyak yang datang ke rumah atau menghubungi kami lewat telepon untuk menawarkan berbagai jenis asuransi. Di antaranya ada beberapa teman/relasi kami yang menawarkannya. Karena tidak tega menolak, akhirnya kami mengambil asuransi lagi.. 😀 Tapi hanya asuransi jiwa untuk suami dan anakku saja.

Karena gencarnya penawaran mereka, suamiku sampai wanti-wanti agar jangan mudah terbujuk ‘rayuan’ agen asuransi lagi, entah itu teman, saudara atau siapapun. Sehingga setiap kali ada yang datang menawarkan asuransi, dengan tegas kami langsung menolaknya.

Tapi ternyata aku tidak bisa menahan diri dari ‘rayuan’ seorang teman… Maafkan istrimu ini ya suamiku tersayang.. Temanku yang satu ini memang luar biasa. Karena nggak cuma jago nulis.. (dia sudah menulis 2 buku best seller. Selain itu dia adalah seorang penulis tetap di koran Radar Cirebon) Tapi dia juga lihai dalam mempresentasikan program asuransinya.

Makanya aku seperti ‘terhipnotis’ hingga mengambil program asuransi untukku sendiri. Siapakah dia? Dia adalah mbak Rini Hastuti temanku sekaligus inspiratorku.. Kadang aku memanggilnya mama Hani karena anaknya yang bernama Hani adalah teman sekelas anakku dulu di SD Al Azhar Cirebon. Tapi sekarang mereka sekeluarga sudah pindah ke kota Semarang.

Aku bahkan berani mengambil program asuransi kesehatan untuk suamiku lagi. Biaya preminya tiap bulan didebet dari tabunganku. Duh, nekat bener yaa.. Tapi kenekatanku itu beralasan. Meskipun suamiku sudah mengambil asuransi jiwa, tapi asuransi kesehatan juga sangat penting. Mengingat sekarang biaya berobat dan perawatan kesehatan semakin mahal. Jadi saat itu aku hanya berpikir bahwa setiap orang perlu sedia payung sebelum hujan.

Ketika polis asuransi suamiku sudah jadi, polis itu kujadikan kado di hari ulang tahunnya. Kuanggap itu sebagai penebus perasaan bersalahku yang sudah melanggar larangannya untuk tidak mengambil asuransi lagi.

Saat aku berterus terang pada suamiku.., syukurlah dia tidak marah. Malah mengucapkan terima kasih atas pemberian kado asuransinya.. 😀 Hehehe.. Padahal kutahu, sebetulnya ia masih kurang tertarik dengan asuransi.

Ketika usia suamiku sudah mulai memasuki 50 tahun, beberapa penyakit mulai sering mengganggunya. Seperti hipertensi dan kolesterol. Dengan minum obat yang teratur dan bersepeda setiap pagi sesudah Subuh, alhamdulillah bisa membantunya dalam mengendalikan penyakit tersebut.

Tapi suatu kali suamiku sering mengeluh sakit pada dada kirinya. Aku curiga barangkali itu gejala penyakit jantung. Tapi suamiku masih tak percaya karena dia merasa sudah menjaga kesehatannya dengan bersepeda setiap pagi.

Saat pertama kali diperiksa di sebuah RS Jantung di daerah Cirebon, dokter mendiagnosanya ada gejala sakit jantung koroner.. Tapi dokter tersebut hanya memberikan obat dan meminta setiap seminggu /dua minggu datang periksa lagi.

Saat sakit di dada kirinya terasa semakin mengganggu, atas dasar saran adiknya yang juga seorang dokter di Jakarta, suamiku melanjutkan pemeriksaan jantungnya ke sebuah rumah sakit di  Penang. Kebetulan adiknya juga ada keperluan kesana sehingga bisa mengantar dan menemaninya.

Ternyata berdasar pemeriksaan dokter di sana, ada beberapa sumbatan di pembuluh darah jantungnya dan sudah mencapai 90%. Sehingga dokter langsung melakukan tindakan pemasangan 3 ring untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan. Ya Allah… 😥

Alhamdulillah semua proses pemasangan ring sudah berjalan dengan baik dan lancar. Dan suamiku sudah pulang kembali ke rumah dengan kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Yang kini terpikir oleh suamiku adalah biaya yang telah dikeluarkannya untuk pemasangan ring, rawat inap selama di Penang dan obat-obat yang tidak sedikit. Sedangkan saat ini kami sedang menabung untuk ONH tahun ini. Suamiku sempat menanyakanku apakah asuransi kesehatan yang pernah kubuatkan untuknya dapat mengcover biaya-biaya tadi?

Aku sudah menghubungi mbak Rini selaku agen asuransinya dari sejak suamiku masih di Penang hingga pulang ke rumah. Dengan gesit mbak Rini langsung menindaklanjutinya.

Dia mengirim email surat keterangan tentang kondisi kesehatan suami yang harus diprint, lalu diisi dan ditandatangani oleh dokter tersebut. Selain itu mbak Rini meminta agar semua data dan kwitansi dari RS di Penang difotokopi dan diserahkan padanya. Selanjutnya dialah yang mengurus semua itu ke pihak asuransi pusat.

Sempat terjadi kendala saat proses pengurusannya karena ada ketidaksinkronan antara keterangan dokter dan kondisi suamiku yang sesungguhnya. Mungkin karena ada sedikit kesalahan penulisan data oleh bagian administrasinya. Tapi mbak Rini dengan intens selalu memfollow up semua masalah yang ada bahkan hingga menanyakan langsung ke RS Penang.

Berkat kesigapan dan rasa tanggungjawab yang besar dari mbak Rini, dalam waktu yang singkat hampir semua biaya yang telah dikeluarkan oleh suamiku tadi telah dicover oleh asuransi. Terbukti dengan telah masuknya transferan dari asuransi ke rekening kami. Alhamdulillah.. 🙂 Di saat kondisi darurat seperti ini, akhirnya kami, khususnya suamiku jadi makin menyadari akan arti pentingnya asuransi kesehatan..

Semula aku mengira hanya sedikit biaya yang akan dicover oleh asuransi, mengingat premi yang kubayarkan setiap bulannya adalah premi yang tidak terlalu besar karena menyesuaikan budget tabunganku. Tapi setelah aku mengecek dari jumlah transferan yang masuk ternyata malah melebihi dari ekspektasiku… 🙂

Tadi siang kami sudah mengurus transferan tersebut untuk kami persiapkan sebagai dana tambahan ONH kami berdua.. Semoga menjadi berkah tak hanya untuk kami, tapi juga untuk mbak Rini dan keluarga.. Aamiin..

Melalui tulisan ini aku ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada mbak Rini atas semua bantuannya yang luar biasa terhadap kami dalam mengurus asuransi sampai bolak balik Semarang – Cirebon berulangkali. Insya Allah impian kami ke Tanah Suci akan segera terwujud… Aamiin..

Dari semua pengalaman yang telah kutuliskan ini, ada beberapa hikmah yang bisa diambil:

1. Pilihlah asuransi jiwa yang ada fasilitas asuransi kesehatannya agar ketika sakit, biaya berobatnya tidak menjadi beban keluarga.

2. Bila ragu akan kesyubhatan asuransi, pilihlah asuransi yang syariah. Karena selain sistemnya bagi hasil, bila kita tidak klaim maka uang premi yang kita setor tiap bulan dapat digunakan untuk membantu nasabah asuransi syari’ah lain yang sedang terkena musibah. Kita niatkan saja untuk bersedekah.

3. Carilah agen asuransi yang sudah kita kenal dengan baik dan dapat dipercaya serta bertanggungjawab seperti mbak Rini tadi.. 😉

4. Ketika sedang menghadapi masalah/cobaan hidup tetaplah berikhtiar, berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT. Insya Allah selalu ada jalan keluar yang terbaik dari-Nya.

Sumber gambar: https://i1.wp.com/info-kesehatan.net/wp-content/uploads/2012/05/Manfaat-asuransi.png

Ketulusan yang Menghangatkan

Standar

Hujan yang mengguyur kota Cirebon sejak tadi sore membuat udara terasa sejuk. Sejuknya udara sore ini tiba-tiba mengingatkanku akan suasana di kota Wonosobo. Sebuah kota kecil di kaki gunung Sindoro dan gunung Sumbing.

Kami bersama keluarga besar suami pernah berkunjung kesana pada sekitar tahun 2009. Waktu itu kami bermalam di Penginapan Agrowisata Kebun Teh Tambi, Wonosobo.

Sebetulnya Wonosobo ini merupakan salah satu tujuan wisata kami di Jawa Tengah selain beberapa kota lain seperti Purwokerto, Yogyakarta dan Magelang. Acara jalan-jalan bersama keluarga ini selain untuk refreshing saat anak-anak liburan sekolah juga bertujuan untuk menambah keakraban di keluarga kami.

Keletihan di perjalanan menjadi sirna saat hawa sejuk kota Wonosobo dan suasana asri perkebunan tehnya menyambut kedatangan kami. Sejenak kami sempat berkeliling di sekitar penginapan yang berada di area perkebunan teh itu. Tapi ketika hujan turun dan hari semakin malam, udara dingin serasa menembus tulang.
Suamiku yang biasanya lebih suka tidur tanpa selimut meskipun di suhu AC yang paling dingin sekalipun kini harus menyerah dengan dinginnya udara kota Wonosobo. Selimut yang tebal dari hotel langsung ditutupkan ke sekujur tubuhnya. Kami bertiga (aku, suamiku dan anakku) tidur dalam satu dipan yang terasa anyep karena dingin. Tapi karena tidur kruntelan lumayan jadi terasa hangat juga 😀

Esok harinya kami sarapan nasi goreng yang miroso dan teh manis hangat yang segar karena daun tehnya langsung dipetik dari perkebunan teh sendiri. Lalu kami dikumpulkan bersama tamu lain oleh petugas yang akan memandu tea walk ke sekeliling perkebunan teh.

Wah asyik deh perjalanannya.. 🙂 Meskipun perjalanan cukup jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki, kami sangat menikmati perjalanan ini. Udara pagi yang segar dan bebas polusi ditambah pemandangan suasana pegunungan yang asri terasa menyehatkan badan kami.

Setelah itu kami diajak ke pabrik tehnya untuk menyaksikan proses pembuatan teh dari sejak pemilihan daun hingga pengeringan dan dikemas. Aroma teh yang segar memenuhi seisi ruangan pabrik tersebut. Anakku dan keponakan-keponakanku juga tampak senang dengan perjalanan wisata ini.

Ketika acara tea walk telah selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke pegunungan Dieng. Dengan menumpang mobil adik ipar, kami bersama-sama berangkat menuju ke sana. Perjalanan cukup jauh dan mendebarkan karena harus melewati jalan berliku yang menanjak.

Di tengah perjalanan ada suatu kejadian yang membuat nafas kami sempat ‘terhenti’. Ketika mobil melewati jalanan dengan tanjakan yang cukup curam, tiba-tiba mobil tidak bisa berjalan dan seperti kehabisan tenaga. Spontan kami semua berteriak karena takut mobil meluncur mundur.

Setelah diupayakan dengan berbagai cara tapi masih belum juga berhasil berjalan, akhirnya mobil diparkir ke pinggir jalan. Ternyata kopling mobilnya rusak. Terpaksa kami batal melanjutkan perjalanan ke Dieng. Daripada nanti malah terjadi resiko yang membahayakan dan tidak kami inginkan.

Waktu itu kami kebingungan karena kami ingin kembali ke penginapan tapi tidak ada kendaraan yang bisa membawa kami ke sana. Sementara itu kami juga membutuhkan orang yang bisa membawa mobil yang rusak koplingnya tadi ke bengkel.

Alhamdulillah, aku menyimpan nomer kontak salah seorang Customer Service penginapan sehingga bisa segera kuhubungi agar menjemput kami untuk balik ke penginapan. Sementara itu adik iparku menghubungi bengkel terdekat yang bisa membawa mobilnya untuk diperbaiki.

Kami hanya bisa menunggu kedatangan mobil jemputan dengan berdiri di tepi jalan sambil menahan dinginnya udara yang makin menggigit kulit. Sementara kabut semakin tebal menutupi jalan. Ya Allah.. Semoga mobil jemputan segera datang.. Aku kasihan melihat anak-anak yang tampak menggigil kedinginan meskipun masih bisa saling bercanda.

Tapi ketika di antara kami ada yang sudah tak tahan ingin ke kamar kecil (toilet), mau tak mau kami harus mencari rumah penduduk sekitar untuk menumpang ke belakang. Kami mengetuk pintu sebuah rumah yang kami temukan di dekat mobil kami berhenti.

Seorang ibu berkerudung merah membukakan pintu dan menyambut kami dengan ramah. Ia mempersilakan kami masuk  dan menunjukkan toilet yang ada di belakang rumahnya.

Dengan cekatan ia bersama putrinya yang pipinya berwarna kemerahan menghamparkan karpet sederhana di ruang tamunya dan mempersilakan kami duduk. Lalu beraneka ragam kue mereka sajikan untuk kami. Teh manis yang hangat sehangat sambutan mereka juga dihidangkan dengan cepat.

Sambil mempersilakan makan dan minum mereka mengajak kami mengobrol ringan. Suaminya ibu yang baik tadi juga sudah pulang dari kebun. Suasana menjadi bertambah akrab dan ketulusan mereka dalam menyambut kami terasa menghangatkan kami yang sedang kedinginan ini.

Kuamati setiap sudut ruangan di rumah ini. Ada setumpukan kayu bakar untuk keperluan memasak. Tidak banyak perabotan rumah di dalamnya. Kalaupun ada juga yang sekedar bisa digunakan sesuai kebutuhan mereka saja. Toiletnya juga sangat sederhana. Airnya duingiiiin sekali seperti air es.

Kira-kira 2 jam kemudian datanglah pegawai dari bengkel yang membawa mobil adik iparku. Beberapa saat setelah itu mobil dari penginapan juga datang menjemput kami. Alhamdulillah

Kami merasa sangat berterima kasih kepada mereka yang sudah menyambut dan menerima kami dengan baik.Tanpa bantuan mereka, mungkin kami sudah merasa letih, haus dan lapar serta kedinginan di tepi jalan tadi. Belum lagi kebingungan kalau mau ke kamar kecil. Karena cukup lama juga waktu untuk menunggu mobil jemputan.

Saat berpamitan pulang kami menyelipkan beberapa lembar uang sebagai tanda terima kasih. Tapi di luar dugaan, dengan halus mereka menolak uang pemberian kami itu. Kami berulangkali memaksa mereka untuk menerimanya. Tapi tetap saja mereka tidak mau menerimanya.

“Tidak usah bu.. Ini kan sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu siapapun yang membutuhkan. Malah kami senang bisa membantu bapak sama ibu. Maaf ya bu..pak..kalau kami hanya bisa bantunya seperti ini..,” kata mereka dengan sorot mata yang ikhlas.

Ya Allah.. Aku menjadi terharu sekaligus kagum. Mereka bisa begitu tulus ikhlas membantu dan menyambut kami  dengan baik walau dengan segala kesederhanaan yang mereka miliki. Sesuatu yang sudah sangat langka di jaman yang serba komersial ini..

Semoga Allah SWT membalas kebaikan  dan memudahkan segala urusan mereka.. Barakallah.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Perahu Telah Menantimu

Standar

Hari demi hari terus berlari
Waktu serasa berkejaran dengan harapan dan impian
Dalam hitungan detik, menit dan jam
Semuanya kan berubah dalam sekejap

Saat US telah terlampaui
Hingga USBN dan UN telah tampak di depan mata
Itulah isyarat kan tiba masa akhir putih abumu
Sebagai pamungkas masa pelajarmu

Tinggal 2 bulan lagi anakku…
Status pelajarmu kan kau lepaskan.

Usai lewati masa Taman Bermain dan TK mu yang menyenangkan..
Lalu kau tempuh masa SD dan SMP mu yang penuh prestasi gemilang..
Hingga kau hadapi masa SMA mu yang penuh suka dan duka..

Tinggal 2 bulan lagi anakku..
Masa penentuan perjalanan panjangmu..
Tuk raih cita-citamu yang sebenarnya..
Saat status mahasiswi mulai kausandang nanti…

Rasanya hati ini masih rindukan masa kanak-kanakmu yang ceria..

Pun masa serunya dampingi perjuanganmu raih prestasi..

Hingga tangan ini masih ingin terus memelukmu agar selalu bersamaku…

Tapi…
Perahu telah menantimu..
Tuk membawamu..
Menjelajah lautan luas yang menantangmu..
Dan di ujung sana…
Masa depan cemerlang tlah memanggilmu

Sambutlah anakku sayang..
Dengan doamu yang sepenuh hati..
Dan ikhtiarmu yang sebulat tekadmu..

        ********

Di ujung malam yang sunyi ini..
Takkan henti tuk panjatkan doa dan harapan..
Agar selalu menemani setiap langkahmu..

Hingga tak ada lagi yang kan kecewakan dirimu..
Di saat semua impianmu kan datang berjatuhan bagai rintik hujan
di pagi nan penuh berkah

Layang-layang

Standar

Manusia terlahir sebagai insan yang masih suci, namun membutuhkan bimbingan dan pegangan hidup. Ketika masih anak-anak, orangtuanyalah yang berperan aktif membimbingnya. Ketika memasuki usia sekolah, guru-gurunya yang ikut membantu orangtuanya dalam mendidik di sekolah. Agar si anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, di samping mendapatkan ilmu dan pelajaran sekolah.

Sejak memasuki usia baligh hingga dewasa, tuntunan hidup yang sesuai dengan agama/keyakinannyalah yang akan menjadi pedoman hidup di setiap langkahnya. Sehingga dari lubuk hati, akar pemikiran, tutur kata dan sikapnya akan selalu dijaga agar tidak melanggar larangan Allah SWT, namun menjalankan perintah-Nya.

Bila seorang anak tak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang baik dari kedua orangtuanya atau minimal keluarga terdekatnya, pada kebanyakan kasus mereka merasa haus akan kasih sayang sehingga cenderung akan mencari perhatian orang lain. Bisa teman sekolahnya, atau teman dunia mayanya, atau orang-orang yang dikenalnya di luar rumah.

Padahal tak semua teman dan orang yang dikenalnya di luar rumah itu berkarakter baik. Sehingga sangat beresiko akan membawa pengaruh yang negatif terhadapnya. Sehingga seperti yang sering kita saksikan di berita nasional, adanya anak-anak dan remaja yang terlibat pergaulan yang salah seperti pesta narkoba/miras, pergaulan bebas, tawuran, melakukan tindak kekerasan, hingga terlibat kasus kriminal.

Maka sangatlah disayangkan, karena anak-anak dan para remaja adalah generasi muda bangsa, yang seharusnya mempunyai potensi, prestasi dan cita-cita yang hebat dan bisa membawa nama baik keluarga, bangsa dan negara.. Namun karena tak mendapatkan bimbingan yang semestinya, akhirnya malah membuat keresahan di masyarakat.

Bila diibaratkan, anak-anak dan remaja itu seperti layang-layang yang sedang diterbangkan. Sesekali benangnya harus diulur (diberikan kebebasan dalam bermain, berkreasi, bergaul). Tapi juga ada kalanya harus ditarik (diawasi dan dikendalikan). Sehingga layang-layang akan terbang dengan indahnya (anak akan tumbuh dan berkembang dengan bahagia).

Dan saat layang-layang sudah mulai mengangkasapun harus dijaga agar tidak mudah putus benangnya. Saat beradu benang dengan layang-layang lain harus dipersiapkan benang yang paling kuat dan tajam sehingga tidak mudah putus.

Dalam hal ini, ibaratnya sebagai orangtua, kita harus mempersiapkan anak agar siap menghadapi kerasnya kehidupan. Beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk anak adalah berupa:

1. Keimanan yang kokoh
2. Fisik dan mental yang kuat
3. Ilmu dan ketrampilan yang sesuai minat dan bakatnya yang memadai
4. Karakter yang baik

Karenanya jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang lemah. Yang mudah terombang-ambing oleh keadaan. Jangan seperti layang-layang yang mudah putus. Karena kalau sudah putus, akan kehilangan pegangan dan lepas kendali. Akhirnya jatuh dan rusak terhempas di jalan.

Na’uudzuu billaahi min dzaalik..

Sejarah

Standar

Beragamnya agama dan budaya
akan membawa kita
pada lorong waktu
sejarah kehidupan manusia
dalam pencarian Tuhan dan eksistensi dirinya

Hingga meninggalkan jejak peradaban manusia dengan aneka tradisi, ritual dan ornamen tempat memujaNya yang indah luar biasa

Sejarah mengajarkan banyak hikmah..
mengajarkan arti perjuangan..
mengajarkan makna sebuah konflik..
mengajarkan akibat keserakahan
dan kesombongan..
tapi juga mengajarkan hasil dari kesabaran

Sejarah membuktikan
bahwa sesungguhnya
kuasa Ilahi Rabbi di atas semua kehebatan manusia

Hingga acapkali melalui perenungan demi perenungan di dalamnya
Kan menghadirkan secercah sinar hidayah-Nya
dan mengetuk pintu hati siapapun
yang siap menyambutnya

Tikus Berdasi

Standar

Negara kita sedang diguncang sebuah kasus mega korupsi e-KTP yang dilakukan secara berjamaah oleh beberapa pejabat/anggota DPR yang terkenal. Sebelumnya beberapa kasus korupsi juga berhasil diungkap oleh KPK.

Rasanya ikut prihatin saat menyaksikan dan mendengarkan pemberitaan tentang kasus korupsi di Indonesia tercinta ini yang seakan tiada henti.

Kadang merasa heran saja, sebenarnya mau berapa banyak lagi sih ya harta yang mereka inginkan? Mengapa mereka sebegitu rakusnya menggerogoti harta rakyat yang notabene bukan haknya?

Sedangkan secara nominal gaji yang mereka terima sudah cukup besar. Bila ditotal dengan tunjangan dan lain-lain bisa mencapai 80 jutaan (sumber: http://www.gajimu.com/main/gaji/gaji-pejabat-negara-ri/tunjangan-anggota-dpr)

Hingga sampai pada pemikiran,sebenarnya pokok persoalannya bukan pada masalah besar kecilnya nominal gaji mereka. Juga bukan pada besar kecilnya kebutuhan hidup mereka.

Karena masih banyak orang yang gaji/penghasilannya jauh di bawah mereka, tapi mampu bekerja dengan benar dan jujur serta bahagia dalam kehidupannya

Persoalan pokoknya ternyata pada masalah mampu atau tidaknya seseorang untuk menunda keinginan, mengendalikan diri, memegang prinsip kejujuran dan adanya rasa takut kepada Allah SWT.

Korupsi ternyata tak hanya berhubungan dengan harta, namun juga dengan waktu. Karenanya ada juga istilah korupsi waktu. Yang dimaksud dengan korupsi waktu adalah menggunakan waktu/jam bekerja untuk kepentingan pribadi tanpa seizin pimpinan/owner perusahaan atau kantor tempatnya bekerja.

Seorang pegawai yang sering bolos bekerja atau tidak melaksanakan tugas sesuai dengan waktu bekerjanya tanpa izin atau tanpa alasan yang jelas juga bisa dikatakan telah melakukan korupsi waktu.

Hal-hal di atas kelihatannya sepele, tapi ternyata bisa menjerumuskan pada perbuatan korupsi. Oleh karena itu memang sangat dibutuhkan kedisiplinan dan kejujuran dalam bekerja.

Jika kita pelajari, budaya korupsi ini sebetulnya merupakan hasil dari kebiasaan seseorang sejak masa kecilnya yang tidak terkendali dan malah cenderung dibiarkan.

Sebagai contoh, seorang anak yang terlalu dituntut mendapatkan nilai pelajaran yang tinggi baik oleh orangtua maupun gurunya tanpa menghargai setiap prosesnya. Akibatnya si anak terpaksa menyontek saat ulangan karena takut dimarahi.

Kebiasaan seorang anak yang malas belajar dan kurang mempunyai rasa tanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya sebagai seorang pelajar juga dapat menimbulkan ketidakjujuran. Karena khawatir mengalami masalah saat menghadapi ujian dan takut tidak lulus, akhirnya ia berbuat curang.

Ada sebuah artikel yang membahas tentang 6 macam kecurangan yang biasanya terjadi dalam dunia pendidikan, sebagai berikut:

1. Kongsi juri dalam kompetisi
2. Les di guru = bocoran ulangan
3. UN datang, nyontek halal
4. Bidikmisi palsu
5. Nepotisme
6. Pengatrolan nilai

(Sumber: https://www.google.co.id/amp/m.teen.co.id/amp/385/6-kecurangan-dalam-dunia-pendidikan-yang-pernah-kamu-dengar)

Ketika seseorang telah menyelesaikan SMA/SMK nya lalu akan melanjutkan ke perguruan tinggi hingga kuliah dan masuk ke dunia kerjapun, ada banyak kasus kecurangan yang merupakan muara dari ketidakjujuran.

Dari memakai ijasah palsu, membayar joki untuk membantu saat SBMPTN, hingga melakukan penyuapan saat tes CPNS. Berita yang berhubungan dengan hal itu dapat dilihat di beberapa link di bawah ini:

http://m.liputan6.com/news/read/2844393/kemristek-dikti-terima-141-laporan-ijazah-palsu

https://www.google.co.id/amp/www.boombastis.com/kecurangan-seleksi/25003/amp

http://unjkita.com/benih-benih-korupsi-ala-mahasiswa/

https://www.google.co.id/amp/www.kompasiana.com/amp/airputih17/rahasia-umum-budaya-suap-penerimaan-cpns_552863f96ea834b30c8b45e0

Sungguh miris setelah kita mengetahui beberapa kasus di atas. Ironisnya, justru orang-orang yang ingin menegakkan kejujuran malah seringnya mendapatkan tekanan atau dipasung di tengah jalan.

Seperti kasus Abrari di DKI Jakarta dan Alif di Surabaya pada tahun 2011 yang berusaha untuk jujur dalam UN tapi malah dipaksa teman-teman dan gurunya untuk memberi bocoran jawaban. Beritanya di sini : https://www.nahimunkar.com/heboh-kasus-nyontek-massal-dalam-ujian-sekolah-dasar/

Kesimpulan yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa kejujuran dan budaya korupsi itu sebenarnya tergantung pada pembiasaan sejak kecil. Nah, tinggal kita mau pilih yang mana?

Bila kita ingin menyelamatkan generasi muda Indonesia dari budaya korupsi, yang pertama harus kita lakukan adalah evaluasi diri, lalu perbaiki sikap dan kebiasaan kita yang selama ini tidak benar. Selanjutnya.. marilah kita mulai tanamkan perilaku dan karakter yang jujur, bertanggungjawab, mampu mengendalikan diri dan mempunyai rasa takut kepada Allah SWT pada anak-anak/ murid-murid kita. Agar tidak menciptakan lagi koruptor-koruptor baru. Karena koruptor adalah tikus berdasi yang pantas dibasmi!

Gambar karya: Salma Fedora

Topeng

Standar

Dirimu acapkali bukan yang di hati
Diriku boleh jadi sesuai sanubari
Dirinya kadang tak serupa di benak

Senyuman tak selalu berarti senang
Cemberut nyatanya malah suka cita
Tangisan pun bisa memendam amarah

Dunia ini penuh aneka topeng
Hingga susah tuk bedakan
Mana yang tulus, mana yang palsu
Mana yang sejati, mana yang imitasi

Ada kemiskinan dalam kekayaan,
Ada kekumuhan di balik keglamouran
Tapi ada kemewahan tersembunyi di kesederhanaan.

Lepaskan semua topengmu,
Tunjukkan jati dirimu.
Bila hidupmu penuh pura-pura
Gelisah dan letih yang dirasa

Buka mata buka hatimu
jangan biarkan ambisi kuasai nuranimu
Hingga halalkan semua topeng kotormu,
demi harta dan tahta
yang tak seberapa

Bila imanmu sekokoh batu karang,
Belenggu topengmu hanya seonggok barang

Sebab kejernihan hati,
kejujuran dan ketulusan nan sejati
Pasti kan slalu dinanti. 

Hingga tanpa topeng palsumu,

harapanmu kan datang tanpa diundang

#IrmaFangQuotes

Antara Multiple Intelligence, Multitalenta dan Multitasking

Standar

Menjadi orangtua yang dapat merawat, mendampingi dan mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan hingga remaja adalah merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Karena di setiap fase pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikisnya ada banyak keajaiban yang dapat kita saksikan.

Dimulai dari ketika janin mulai terbentuk dan terus berkembang selama 9 bulan dalam perut hingga lahir adalah sebuah peristiwa yang sangat membahagiakan dan menakjubkan bagi kedua orangtuanya. Karena sebelumnya mereka hanyalah berdua, tapi kini telah hadir seorang anak yang menjadi penerus keturunan.

Tugas berikutnya adalah merawat si bayi hingga tetap sehat saat memasuki usia batita dan balita. Masa ini adalah masa yang menyenangkan karena kedua orangtuanya bisa menyaksikan bagaimana seorang bayi yang semula lemah tadi, secara berproses mulai dapat berbicara, duduk, merangkak, berdiri hingga berjalan, berlari dan melompat.

Ketika si anak sudah memasuki masa usia sekolah, dimulai dari masuk ke Taman Bermain, TK dan SD, saat itulah pendidikan dasar, terutama pendidikan agama yang wajib ditanamkan disamping mengasah kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Sehingga anak tak hanya membanggakan kedua orangtuanya melalui kecerdasan akademisnya dan keunikan kreatifitasnya. Namun juga dapat menenangkan hati ketika melihat anaknya rajin beribadah dan berakhlak baik.

Selepas lulus dari SD, masa SMP dan SMA adalah merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju ke masa pra remaja dan remaja. Dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa puber yang penuh dengan gejolak. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri. Sehingga sangat membutuhkan bimbingan dan pengertian dari kedua orangtuanya yang bekerjasama dengan guru-guru di sekolahnya agar tidak memberontak atau salah jalan.

Sebagai seorang ibu yang diberi kesempatan dan rejeki oleh Allah SWT untuk dapat mendampingi dan mengikuti perkembangan anak perempuanku satu-satunya hingga remaja, aku merasa sangat bersyukur. Karena bagiku ini adalah merupakan kesempatan emas, di mana aku bisa lebih mengenal dan memahami putriku hingga terjalin kedekatan antara kami satu sama lain.

Karenanya kadang kami bisa saling curhat dan saling memberikan solusi. Biasanya putriku curhat tentang teman-temannya yang pernah membully atau mengucilkannya. Atau tentang sebagian gurunya yang kadang kurang bisa memahaminya. Atau tentang kesibukan sekolahnya yang menyita waktunya.

Aku selalu menasehati dan menghiburnya dengan mengatakan bahwa semua itu hanyalah contoh kecil kehidupan. Karena di kehidupan yang sesungguhnya kita pun akan berhadapan dengan orang-orang dan keadaan yang semacam itu. Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman dengan teman atau guru, sebaiknya hindari pembicaraan dan sikap yang tidak etis. Selain itu harus bisa menempatkan diri. Sedangkan untuk menghadapi padatnya kegiatan belajar, putriku harus survive (mampu bertahan) dan taft (memiliki daya juang dan pantang menyerah)

Putriku kini juga makin sering berpikir kritis. Ketika orang ramai membahas sistem pendidikan yang memaksa anak untuk menguasai semua mata pelajaran adalah tidak adil hingga mengambil kata-kata Albert Einstein sebagai penguatnya (Setiap anak jenius. Tapi jika anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh),  putriku menunjukkan gambar seekor ikan yang dapat memanjat pohon.

Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/BmlpqZ3CQAAHUbH.jpg

Sumber gambar:  http://serba-serbi-serba-ada.blogspot.co.id/2013/01/ikan-pemanjat-pohon.html?m=1

Aku semula tak percaya. Masa sih ada ikan yang bisa memanjat pohon? Tapi setelah mencoba searching di Google, akhirnya kutemukan beberapa link yang mengungkap bahwa ternyata memang ikan ini benar-benar ada. Nama ikan ini adalah ikan Tembakul. Keahlian yang dimiliki oleh ikan yang satu ini tak hanya bisa bertahan hidup lama di darat..Tapi juga bisa memanjat pohon dan melompat jauh. Wow..! (Sumber:http://www.wajibbaca.com/2016/01/wow-ternyata-ada-ikan-yang-bisa.html?m=1 )

“Jadi kata-kata Albert Einstein tadi sekarang terpatahkan dong maa..?Meskipun dalam beberapa kasus ada benarnya, tapi kayaknya jaman sekarang ini sudah makin banyak anak yang mampu menguasai beberapa bidang pelajaran dan berbakat lho maa..,” putriku mulai penasaran.

“Hmm, iya ya Salma.. Mungkin itu pengecualian bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan multitalenta seperti Salma nih… Maka Salma harus banyak bersyukur,” aku menanggapinya sambil mengedipkan mata ke putriku itu.

“Alhamdulillah… Tapi sebetulnya tidak semua pelajaran di sekolah saya kuasai juga kok maa..Dan semakin lama saya makin paham pelajaran apa saja yang benar-benar menjadi minat dan bakat saya,” Salma tersenyum..

“Nah, itu dia..Makanya.. kalau menurut mama, maksud pernyataan Albert Einstein tadi adalah bila ada seorang anak yang memang benar-benar tidak mempunyai kemampuan, minat dan bakat misalnya di bidang olah raga bulu tangkis, lalu dipaksa harus bisa bulu tangkis. Nah pasti ya nggak bakalan mampu dan anaknya juga bisa memberontak kalau dipaksa. Jadi dibutuhkan kerjasama yang baik antara orangtua dan guru agar bisa memahami keunikan setiap anak dan memfasilitasi berbagai macam kecerdasan (multiple intelligence) yang ada pada setiap anak, ” aku menambahkan.

Sumber gambar: andri.id/wp-content/uploads/2015/11/Teori-Kecerdasan-Majemuk.jpg?w=640

“Oooh gitu ya maa? Iyaa, saya setujuuu..!! Kalau yang kurang mampu di olah raga bulutangkis tadi kayak saya tuh maa… Saya juga mau dilatih kayak gimana juga, saya masih tetap saja nggak mampu di olah raga itu..  Hehe..,” kata Salma sambil tertawa malu.

Memang benar, aku bisa mengerti.. Karena selain tidak terlalu minat di olah raga tersebut, kondisi mata putriku yang sudah mencapai minus 8 membuatnya kesulitan untuk menepukkan raket ke shuttlecock saat mengembalikan servis/smash lawan. Kondisi matanya itu membuatnya tak bisa melihat shuttlecock  yang berseliweran dengan jelas. Sedangkan putriku tidak mau memakai softlens sebagai pengganti kacamatanya karena takut matanya iritasi.

Di kesempatan lain, aku pernah disibukkan dengan berbagai kegiatan dan acara hingga beberapa tugas yang tak bisa diperbantukan ke orang lain menjadi menumpuk. Saking kewalahannya, aku sampai curhat ke putriku.

” Waduh Salma.. Hari ini mama sibuk banget nih.. Padahal mama sudah mencoba mengerjakannya secara bersamaan dalam satu waktu (multitasking).. Tapi bukannya beres. Akhirnya malah nggak ada satupun pekerjaan yang terselesaikan.”

“Kalau gitu mendingan mama fokus menyelesaikan pekerjannya satu persatu saja dulu maa. Kecuali kalau mama punya kemampuan multitasking seperti Meepo.. Hehehe..,” saran Salma sambil tertawa.

“Meepo? Siapa itu Meepo, Salma?” Gantian aku sekarang yang penasaran.

“Itu lho maa.. Karakter hero di DOTA 2 yang mempunyai kemampuan menggandakan diri sehingga bisa melakukan banyak tugas,” Salma menjelaskan.

“Wah..yang suka main game mah beda yaa.. Perumpamaannya dari karakter game..hahaha..Berarti mama harus menggandakan kemampuan mama dulu dong yaa,” aku tertawa.

“Atau kalau nggak, mama harus bisa seperti Invoker.. Karakter hero di DOTA 2 yang mempunyai beberapa skill..hehehe,” Salma ikut tertawa.

“Hmmm.. Kalau mau kayak Invoker berarti mama harus mempunyai kemampuan multitalenta kayak Salma dong.. ,” ujarku sambil tersenyum.

“Ya sudah, berarti kesimpulannya, mama harus bisa atur waktu nih.. Biar mama bisa fokus menyelesaikan tugas mama satu demi satu. Oke, terima kasih sarannya ya Salma,” aku mengelus kepala Salma.

Salma mengangguk senang sambil melanjutkan main game DOTA 2 nya.

“Eh.. Salma…tapi jangan lama-lama main gamenya yaa.. Ingat, sekarang Salma harus mulai fokus belajar buat persiapan untuk US, USBN, UN dan SBMPTN dulu yaa,” aku mengingatkan.

“Ya maa.. Hari ini saya terakhir main DOTA kok… Nanti mau dilanjut lagi kalau sudah beres US. Boleh kan maa? Buat refreshing sebentar…”

Wah, putriku mulai membujuk nih..

“Semuanya terserah Salma yaa.. Salma kan sebentar lagi sudah kuliah. Jadi harus bisa mengatur waktu sendiri dan mengutamakan terlebih dahulu mana yang lebih penting. Jangan sampai gara-gara main game jadi lupa shalat, lupa belajar dan lupa kewajiban lainnya,” pesanku.

“Oke maa.., ” jawab Salma sambil menganggukkan kepalanya.

Beginilah kalau punya anak remaja yang punya hobby main game. Kadang memang merasa serba salah. Kalau dilarang sama sekali, nanti malah sembunyi-sembunyi mainnya. Kalau dibolehin dan tanpa pengawasan, nanti keterusan dan lupa waktu. Maka cara yang lebih bijaksana adalah membolehkannya tapi dengan memberi batasan waktu dan pemahaman akan tanggungjawabnya.. 

Lalu kita mengarahkannya agar bisa mengambil manfaat/sisi positif dari bermain game, seperti:

1. Melatih logika dan cara mengambil strategi

2. Memperkaya kosa kata bahasa Inggris

3. Menciptakan imajinasi yang positif 

Alhamdulillah, dalam hal ini putriku sudah bisa merasakan manfaat positifnya 🙂 

Memperbaiki Niat

Standar

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ada berbagai macam profesi yang kita kenal sebagai bagian dari bidang pekerjaan kita. Ada yang berprofesi sebagai guru, dosen, dokter, pedagang, pengacara, polisi, pegawai kantor, dan lain-lain.

Selama ini mungkin niat dan tujuan kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji/ penghasilan dalam rangka memberi nafkah kepada keluarga atau ditabung untuk masa depan. Ada juga yang bekerja hanya sekedar untuk mengisi waktu.

Sedangkan dalam Islam, seorang muslim hendaknya mempunyai niat (orientasi) dan tujuan (visi) yang berlandaskan ibadah kepada Allah SWT dalam bekerja/menjalani kehidupannya

Secara garis besar, ada dua macam visi hidup. Yaitu: Visi Dunia (visi jangka pendek) dan Visi Akhirat (visi jangka panjang).

Bagi orang-orang yang mempunyai kecerdasan spiritual (SQ), mereka cenderung mempunyai visi akhirat. Karena dengan bervisi akhirat, sesungguhnya yang diperoleh tak hanya keberuntungan di akhirat, namun juga sekaligus keberuntungan di dunia.

Sehingga disebutkan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya mempunyai pengaruh sebanyak 20% dari kesuksesan seseorang. Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) mempunyai andil sebanyak 80%.

Maka Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, surat Asy Syuro (42): 20 sebagai berikut:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُ ۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُ ۥ فِى الْءَاخِرَةِ مِنْ نَّصِيبٍ

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”

* Via Al-Qur’an Indonesia https://goo.gl/MqhPUj

Jadi bila ingin bervisi akhirat, marilah kita mulai memperbaiki niat/orientasi kita semata-mata hanya untuk Allah SWT. Baik ketika beraktifitas dan bekerja maupun dalam berkreasi, apapun profesi kita. Karena niat/orientasi tersebut sangat menentukan arah dan kualitas visi/tujuan kita.

Ada dua buah kalimat berbahasa Arab yang mengandung filosofi tentang orientasi hidup.

1. Jaddidissafiinata fa innal bahra ‘amiid

Artinya: Perbaiki perahu kita karena lautan sangat dalam

Perahu disini bermakna niat/orientasi. Sedangkan lautan yang dalam adalah kehidupan kita yang penuh dengan tantangan dan harus kita tempuh. Maka orientasi harus diperbaiki hingga benar agar mampu menghadapi tantangan itu.

Jika orientasi sudah benar maka bisa dipastikan bahwa 70% dari visi sudah tercapai. Tinggal menggenapkan 30% actionnya.

2. Khudzizzaad fainnassafara ba’iid

Artinya: Persiapkanlah bekal karena perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh

Bekal disini maknanya selain niat yang benar, juga amal shaleh. Karena perjalanan hidup itu tak selalu mulus dan lurus. Kadang harus berliku, melalui jalan berbatu dan menerabas onak duri. Dengan bekal yang cukup, kita akan lebih siap dan lebih tegar dalam menghadapi semua kesulitan dalam kehidupan.

Khusus bagi siapapun yang bekerja di bidang pendidikan seperti pengelola pendidikan, tenaga kependidikan (staf lembaga pendidikan) dan tenaga pendidikan (guru), percayalah bahwa setiap langkahnya dalam bekerja adalah dalam rangka membantu semua murid dalam mengamalkan wahyu pertama dari Allah SWT.

Ingatlah, bahwa ayat-ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah merupakan perintah dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia untuk membaca dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al ‘Alaq (96): 1-5 berikut ini:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ

1. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”

خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ

2. “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

3. “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.”

الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

4. “Yang mengajar (manusia) dengan pena.”

عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

5. “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

* Via Al-Qur’an Indonesia https://goo.gl/MqhPUj

Surat Al ‘Alaq ini telah menginspirasi peradaban dunia. Sehingga memunculkan beberapa ilmuwan Islam pada abad 9, di antaranya yang terkenal adalah Ibnu Sina (Avicenna).

Ibnu Sina adalah bapak kedokteran dunia. Bukunya yang berjudul “The Rule of Medicine” (Kuliyah fii Thib) yang telah diterjemahkan ke dalam 8 bahasa. Bahasa asli yang digunakan dalam buku tersebut adalah bahasa Persia. Buku ini telah menjadi rujukan ilmu kedokteran dan kini disimpan di Oxford University.

Ibnu Sina sudah menguasai ilmu Al Qur’an sejak umur 9 tahun. Dengan mempelajari Al Qur’an itulah Ibnu Sina dapat menggali ilmu pengetahuan kedokteran. Hal itu menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan di saat para ilmuwan dunia masih belum menggapai ilmunya.

Bahkan pada abad 10-11 Eropa masih mengalami Abad Kegelapan (Age Dark). Setelah terinspirasi oleh Al Qur’an dan para ilmuwan Islam, terjadilah perubahan besar di Eropa dengan adanya Abad Pencerahan yang dikenal dengan Renaissance di Italia (abad 14 – 17), Auflakrung di Inggris, Perancis dan Jerman (abad 18) dan
Revolusi Industri di Britania Raya lalu menyebar ke Eropa (abad 17 – 18)

Ada suatu pendapat bahwa ilmu dan agama itu tidak bisa dipisahkan. Menurut Albert Einstein: 

Religion without science is blind, Agama tanpa ilmu itu buta

Science without religion is lame, Ilmu tanpa agama itu lumpuh

Wallahu a’lam bishshawab..

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui akan kebenarannya…

Semoga dengan ini  kita makin yakin bahwa bila kita bekerja dengan niat yang benar-benar lurus, hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT semata, maka Allah SWT akan menjamin rejeki kita.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits, bahwa ada 3 orang yang rejekinya dijamin oleh Allah SWT. Yaitu:

1. Anak muda yang menikah dengan niat ingin memenuhi perintah Allah SWT
2. Orang yang mempunyai hutang dan berniat ingin segera melunasi hutangnya.
3. Orang-orang yang hidupnya dihabiskan untuk mengurusi dan memikirkan umat/orang lain

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Mari kita niatkan semua langkah dan usaha kita hanya demi mencapai ridha Allah SWT..

(Intisari Pengajian Bulanan untuk Guru dan Staf Rumah Belajar Cirebon yang disampaikan oleh bapak ustadz DR. Achmad Khaliq M.Ag, Senin 6 Maret 2017)

Sumber gambar: www.imgrum.org/user/negeriakhirat/1549997496/1173815135050336127_1549997496

Keseimbangan Ajaran Islam

Standar

Saat hidayah Islam menyapa seseorang, saat itulah ia telah menjadi seorang muslim yang tengah membuka pintu keselamatan dunia akhirat. Pada tahap selanjutnya, bila ia ingin menjadi seorang mukmin yang baik, diperlukan tekad dan kesadaran yang kuat untuk terus mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam di manapun dan kapanpun.

Di antara indikator keimanan dan ketakwaan yang bisa dilihat pada seseorang adalah bila ia mampu mengamalkan 5 ayat pertama dari surat Al Baqarah. Yaitu:

{1} الم

Alif Laam Miim.

{2} ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

* Maksud dari dua ayat ini adalah bahwa kitab suci Al Qur’an adalah merupakan kitab suci yang sangat terjaga kemurniannya sehingga dapat dipercaya sejak diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai wahyu Allah SWT hingga akhir zaman nanti. Dan kitab suci ini merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa.

{3} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

* Indikator pertama dari keimanan dan ketakwaan seseorang adalah beriman kepada yang gaib. Seperti beriman kepada alam kubur, surga, neraka, jin, malaikat dan lain-lain.

* Indikator kedua adalah komitmen menegakkan shalat dalam kondisi apapun. Ada 4 alasan mengapa menegakkan shalat merupakan harga mati:

1. Shalat merupakan wasiat terakhir nabi Muhammad SAW. Sebelum berpulang ke hadirat Allah SWT beliau berpesan.

“Aku tinggalkan dua perkara yg kalau kalian berpegang teguh maka tidak akan tersesat. Yaitu Al Qur’an dan Sunnahku. Dan hendaklah kalian selalu menjaga shalat dan bantulah fakir miskin”.

2. Hal pertama yg akan ditanya oleh malaikat di alam kubur adalah apakah selama kita hidup selalu menjaga shalat 5 waktu kita. Maka bagus atau tidaknya kita dalam menjaga shalat kita adalah merupakan tes pertama dari malaikat Munkar dan Nakir.

3. Nabi Muhammad SAW saat menerima perintah shalat harus melalui perjalanan beresiko tinggi ke Sidratul Muntaha.

4. Saat anak sudah berusia 7 tahun harus mulai dididik shalat. Jadi shalat adalah pendidikan dasar bagi setiap anak.

* Indikator ketiga adalah menafkahkan sebagian rejeki kita kepada orang-orang yang membutuhkan. Karenanya orang yang paling bahagia adalah orang yang bisa membahagiakan orang lain.

{4} وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

* Indikator keempat adalah beriman kepada kitab suci Al Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya yang telah diwahyukan kepada para nabi sebelum nabi Muhammad SAW.

* Indikator kelima adalah percaya akan adanya kehidupan akhirat. Hakekatnya, kehidupan seorang manusia itu baru dimulai setelah seseorang itu meninggal dunia. Karenanya bila orientasi hidup seseorang hanya dunia, maka itu adalah orientasi hidup yang pendek. Sebab kehidupan akhirat adalah kehidupan yang lebih kekal abadi.

Hidup yang sesungguhnya baru dimulai ketika nafas terhenti. Hidup di dunia berkejaran dengan deadline. Maka bisa dikatakan bahwa orang yang memiliki kebodohan spiritual adalah orang yang hanya mengejar kehidupan dunia. Sedangkan orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah orang yang mengerjakan segala sesuatunya diniatkan hanya karena Allah SWT semata. Sehingga secara otomatis ia akan mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat.

{5} أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung
.

* Ayat kelima dari surat Al Baqarah ini menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki 5 indikator di atas tadi adalah orang-orang yang telah mendapat petunjuk/hidayah dari Allah SWT. Dan mereka adalah orang yang paling beruntung.

Maka bersyukurlah bagi siapapun yang telah mendapatkan hidayah Islam dan mau belajar untuk menjadi seorang mukmin yang mempunyai 5 indikator tadi.

Karena hidayah adalah pemberian yang paling istimewa langsung dari Allah SWT. Sehingga harus selalu dirawat dan dijaga agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Dengan mempelajari  5 ayat surat Al Baqarah tadi, makin kita sadari betapa hebatnya ajaran Islam karena mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan kita. 

Islam tak hanya mengajarkan kita untuk rajin beribadah kepada Allah SWT (vertikal). Namun juga mengajarkan agar kita harus berbuat baik kepada sesama manusia (horisontal). Itulah keimanan yang sempurna.

Mari kita tingkatkan terus keislaman kita agar menjadi mukmin yang baik. Selanjutnya jagalah keimanan kita dan tingkatkan lagi menjadi ihsan.

Dan terakhir, marilah kita doakan saudara dan teman-teman kita agar mendapatkan hidayah Islam sehingga merasakan keindahan ajaran-Nya.

Aamiin ya rabbal’aalamiin….

(Intisari tausiyah dari bapak DR. Achmad Khaliq M.Ag di pengajian Yayasan Haji Karim Oei Cirebon, Minggu 5 Maret 2017)

Sumber gambar dan tulisan ayat Al Qur’an dan terjemahnya:

  http://al-quran-rizky.blogspot.co.id/2011/06/surat-al-baqarah-1-5.html?m=1

Empati 

Standar

Manusia dari masa ke masa mengalami perubahan pola pikir, sikap dan kebiasaan seiring dengan bergulirnya waktu. Semenjak abad ke 20 hingga 21 ini kehidupan yang tradisional berkembang pesat menuju ke kehidupan yang modern. Kehidupan modern ini mempunyai sisi positif dan negatifnya.

Sisi positifnya adalah adanya kemajuan perkembangan teknologi yang mempermudah tugas dan pekerjaan manusia. Selain itu adanya aneka informasi dari berbagai belahan dunia akan menjadi lebih cepat dan mudah diterima oleh siapapun yang mengaksesnya.

Sedangkan sisi negatifnya, bila tanpa pengawasan dan kendali, akan membentuk pola pikir yang instan, sikap yang egois dan kebiasaan yang cenderung anti sosial. Karena dengan semua kemudahan yang telah dinikmati dari  kecanggihan perangkat teknologi dan informasi itu membuatnya tak memerlukan campur tangan orang lain lagi.

Dengan semakin tingginya ketergantungan manusia terhadap semua perangkat ataupun gadget yang berteknologi canggih tadi, membuat semakin berkurangnya rasa empati yang ditunjukkan secara nyata antar sesama.

Ketidakpedulian seseorang terhadap keadaan orang lain, menipisnya rasa sosial antar sesama,  seperti berkurangnya sikap saling tolong menolong dan toleransi merupakan contoh betapa makin hilangnya rasa empati di antara kita.

Di tengah kondisi yang krisis empati ini, berbagai upaya dilakukan untuk menumbuh suburkannya kembali. Seperti dengan diadakannya acara-acara sosial, charity, dibukanya posko kepedulian terhadap korban bencana alam atau tragedi kemanusiaan dan lain-lain.

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menonton sebuah acara televisi dari channel WakuWaku Japan yang bertema “Discover The Live of Others”. Kalau di Indonesia, acara televisi ini mungkin semacam acara “Tukar Nasib”. Acara ini menceritakan tentang kunjungan sebuah keluarga dari  pedesaan di Afrika ke sebuah keluarga dari daerah perkotaan di Jepang selama beberapa hari.

Dua buah keluarga yang sangat jauh berbeda, baik dari warna kulitnya, bahasanya, kebudayaannya, agamanya, kebiasaannya, adat istiadatnya, hingga makanannya. Saat pertama kali mereka bertemu dan berinteraksi tentu membutuhkan adanya rasa saling pengertian dan kemampuan untuk saling beradaptasi.

Bisa dibayangkan pasti akan terjadi kesulitan dan kecanggungan dalam proses adaptasi mereka. Namun yang membuatku kagum semua itu bisa mereka lalui dengan kesabaran dan suasana yang akrab. Tidak ada saling melecehkan dan mengejek. Kuncinya adalah karena tingginya rasa empati dan toleransi di antara mereka.

Terkesan malah mereka tampak sangat menikmati setiap proses adaptasi. Seperti terlihat betapa akrabnya saat kedua keluarga itu mengadakan acara memasak bersama dan saling mencicipi makanan khas dari daerah mereka masing-masing.

Mereka juga membuat acara jalan-jalan bersama, seperti naik kereta, camping, masak barbeque, berendam air panas (Onsen), berenang di laut hingga belajar membuat kipas tradisional Jepang.

Di setiap acara tersebut, rasa saling empati di antara mereka mampu menembus sekat perbedaan kedua keluarga yang berbeda bangsa itu . Sehingga dari hari ke hari justru makin tumbuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan di antara mereka.

Yang mengharukan adalah ketika tiba saatnya berpisah. Di mana keluarga Afrika harus kembali ke desa tempat tinggalnya lagi. Karena sudah begitu mendalamnya rasa kekeluargaan di antara mereka, membuat mereka enggan untuk berpisah sampai mereka menangis sedih.

Dari acara televisi yang kutonton ini banyak hal yang bisa kita teladani. Bahwa pada dasarnya kita semua adalah merupakan keluarga besar yang sengaja diciptakan oleh Allah SWT dalam berbagai rumpun bangsa yang berbeda warna kulitnya, bahasanya, kebudayaannya dan adat istiadatnya untuk saling mengenal dan bergaul dengan baik.Di Al Qur’an, kita dapat melihat firman-Nya sebagai berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujuraat : 13)

Maka janganlah perbedaan yang ada di antara kita malah membuat kita saling mengolok hingga saling membenci dan bermusuhan.

Dengan lebih seringnya kita belajar berempati terhadap sesama, seperti yang kita lihat di acara televisi tadi, akan menghapus semua sekat perbedaan yang ada.

Rengginang

Standar

“Rengginang… Rengginang…,” suara bapak penjual rengginang itu seperti magnet yang menarikku keluar rumah dan memanggilnya.

Tapi ternyata bukan bapak penjual rengginang yang biasanya lewat. Yang dibawanya juga rengginang yang masih mentah. Sedangkan bapak penjual langgananku biasanya membawa rengginang yang sudah digoreng dan siap disantap. Jadinya batal membeli deh..

Sore harinya, sambil menunggu anakku berobat di RS Pertamina, aku menemukan rengginang yang sudah digoreng di koperasinya. Langsung saja kubeli dan kumakan dengan penuh selera seperti wanita hamil yang lagi ngidam.

Rengginang adalah penganan ringan seperti krupuk,  tapi terbuat dari nasi yang dijemur/dikeringkan lalu diberi bumbu dan digoreng. Asal penganan ini dari daerah Jawa.

Sejak kecil aku menyukai penganan ini. Rasanya yang gurih, renyah dan kemriuk kalau dikunyah ini bisa membuat ketagihan. Kalau sudah makan rengginang, bisa keterusan dan nggak berhenti-henti deh.. Kriuk kriuk..kraus kraus..

Aku mulai menyukai rengginang sejak bu Saleh, seorang wanita keturunan Arab dan guru ngaji waktu masa kecilku di Magelang sering mengirim rengginang buatannya ke rumah kami. Rasanya enak dan bikin ketagihan.

Setelah menikah dan tinggal di kota Cirebon, aku baru tahu.. ternyata rengginang ini merupakan salah satu penganan oleh-oleh khas dari kota Cirebon. Hanya saja bentuk, ukuran dan rasanya lebih bervariasi daripada yang selama ini kukenal di Magelang. Di antaranya ada rasa udang, rasa bawang dan rasa terasi. Bentuknya ada yang bulat dan kecil seperti kelereng.

Ketika Lebaran, penganan ini sering membuat kecele para tamu. Karena biasanya dihidangkan di dalam kaleng biskuit. Bagi tamu yang lebih suka makan biskuit, memang bisa bikin php deh.. 😀 Karena isi kalengnya bukan biskuit menggiurkan seperti yang tergambar di kalengnya. Yah.. Isinya hanya jajanan dari kampung.. Begitu orang bilang.

Tapi bagi penggemar rengginang seperti diriku, menemukan penganan itu di dalam kaleng biskuit justru merupakan surprise.. 😀 Seperti menemukan oase di padang pasir. Padahal kalau kebanyakan makan rengginang malah bikin haus yaa.. Hehehe..  Habis sajian biskuit di musim Lebaran kan memang sudah mainstream…

Dari kisahku tentang rengginang yang sederhana ini, ternyata bisa diambil filosofisnya juga lho.. Mau tahu kan? Yuk, ikuti satu persatu di bawah ini yaa..

1. Kesederhanaan bisa membuat sesuatu lebih menarik dan menyenangkan daripada hal lain yang hanya sekedar mementingkan penampilan.

2. Sudut pandang yang berbeda bisa membuat suatu kondisi yang negatif menjadi positif.

3. Kenangan masa kecil yang manis bisa membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.

4. Kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, tidak selalu menimbulkan kekecewaan. Karena kadang ada kejutan menyenangkan yang akan datang di baliknya.

Temen-temenku yang baik, udahan dulu ya kisah tentang rengginangnya.. Lagi pengin ngabisin potongan rengginang terakhirnya dulu nih.. Besok kulanjutin lagi dengan kisah yang lain deh… Jangan bosen yaa.. 🙂 

Kriuk kriuk.. Kraus kraus.. 

Hikmah Sakit

Standar

Beberapa waktu yang lalu suamiku pernah mengeluhkan sakit di dada kirinya. Sejak 3 – 5 bulan terakhir ini, intensitas rasa sakitnya semakin bertambah. Kalau berjalan kaki dengan jarak sekitar 100 meter saja, dada kirinya sudah terasa ditonjok. Apalagi kalau naik tangga yang agak tinggi. Sudah nggak kuat lagi..

Melihat gejala-gejala tersebut aku sempat menduga suamiku sakit jantung. Tapi suamiku tidak merasa yakin, karena setiap pagi sesudah shalat Subuh ia rutin naik sepeda ke sekeliling jalan di dekat perumahan kami.

Ketika rasa sakit di dadanya makin membuatnya tidak nyaman, pada pertengahan Januari yang lalu aku mengantarnya untuk periksa jantung di sebuah RS Jantung di daerah Palimanan, Cirebon. Aku ingin memastikan, apakah memang benar suamiku sakit jantung?

Bila ternyata tidak ada masalah, alhamdulillah, karena itu yang kami harapkan.Tapi bila memang benar sakit jantung, harus segera dilakukan pengobatan yang intensif. Apalagi insya Allah tahun ini kami sudah mendapat kuota untuk berangkat ke tanah suci. Harapan kami, ketika kami berangkat kesana nanti kondisi suamiku sudah fit dan sehat.

Hampir 1 jam perjalanan yang harus kami tempuh dengan mobil untuk sampai di RS Jantung tersebut. Karena baru pertama kali datang kesana, kami agak bingung ketika mencari ruang registrasinya. Setelah kami mendapat informasi dari petugasnya, kami segera memasuki beberapa ruangan yang dimaksud. Kulihat sekilas bangunan RS ini masih tampak baru dan cukup nyaman.

Tapi ketika melihat antrean pasiennya.. subhanallah.. Panjang banget… ! Apalagi pasien yang menggunakan fasilitas BPJS. Saking penuhnya sebagian pasien dan pengantarnya sampai menunggu antrean sambil duduk lesehan di lantai. Ya Allah..ternyata banyak juga pasien penyakit jantung.. Dan penyakit ini memang tak memandang usia, jabatan maupun strata sosial siapapun.

Dari asal daerah pasien yang dipanggil oleh perawatnya, kebanyakan dari daerah kabupaten. Ada yang dari Majalengka, Kuningan, Indramayu dan Sumber. Karena tidak mendapat kursi di ruang tunggu, kami mencari tempat duduk yang terdekat agar ketika dipanggil oleh perawat kami bisa mendengarnya.

Kami mendapat tempat duduk di dekat toilet. Walaupun agak pengap dan aroma tidak sedap toilet membuat kami tidak nyaman, tapi apa boleh buat karena di situlah satu-satunya tempat duduk terdekat yang lumayan kosong.Sesaat suamiku diantar oleh salah seorang perawat ke suatu ruangan untuk pemeriksaan EKG.

Setelah itu kami kembali duduk mengantre. Suamiku yang biasanya tidak sabar bila harus menunggu lama, mau tak mau pagi itu harus rela berlama-lama menunggu antrean. Ketika waktu sudah berlalu hingga 2 jam lebih dan masih juga belum dipanggil masuk, suamiku mulai gelisah dan tampak letih.

Sebetulnya aku tidak tega melihatnya. Karena dalam kondisi sedang sakit begini, suamiku memang mudah capai. Tapi serba tanggung juga. Kalau pulang, barangkali sebentar lagi sudah dipanggil masuk. Dan benar, tak lama kemudian kudengar nama suamiku dipanggil. Kami segera masuk ke ruang dokternya.

Dokternya baik dan ramah. Malah sempat bercanda ketika menyebut nama suamiku yang seperti nama orang asing. Dokter itu menanyakan tentang riwayat penyakit suamiku dan orangtuanya. Aku terkejut ketika suamiku menyebutkan bahwa ayahnya telah berpulang pada usia 54 tahun karena sakit jantung.

Lalu suamiku disuruh berbaring dan diperiksa jantungnya dengan USG. Wajah dokter itu menjadi tampak serius ketika melihat ke layar USG. Tensi suamiku saat itu juga cukup tinggi karena mencapai 180. Sehingga pemeriksaan treadmill harus ditunda sampai  tekanan darahnya kembali normal.

Dari hasil pemeriksaan, menurut dokter kondisi jantung suamiku pada dasarnya masih baik. Hanya ada otot jantungnya yang mengalami penebalan karena pengaruh tekanan darah yang tinggi. Jadi menurutnya suamiku memang belum divonis terkena sakit jantung koroner. Tapi sudah ada gejalanya. Mendengar penuturan dokter itu, yang kurasakan adalah antara sedih dan.khawatir. Berarti benar ada masalah di sekitar jantungnya.

Suamiku diberi resep obat dan diminta datang lagi seminggu kemudian. Lagi-lagi karena tekanan darahnya masih tinggi, pemeriksaan treadmillnya batal lagi dan hanya diberi resep obat. Dokter itu meminta suamiku datang lagi dua minggu kemudian.

Tapi belum sampai dua minggu, suamiku mendapat informasi dari adiknya yang berprofesi sebagai dokter di Jakarta bahwa ia akan melakukan studi banding kedokteran ke Island Hospital di Penang, Malaysia. Adiknya juga menganjurkan suamiku untuk ikut dan sekalian periksa di sana saja. Karena katanya banyak orang Indonesia yang cocok diperiksa di sana.

Suamiku  segera mempersiapkan berbagai hal untuk keberangkatan kesana. Dari mengurus perpanjangan paspor bersamaku hingga menyiapkan barang yang akan dibawa. Rencana semula memang aku akan ikut mengantar suamiku kesana.

Tapi rencana tersebut batal ketika suamiku lebih menganjurkanku untuk menemani Salma di rumah saja. Lagipula ia sudah ditemani oleh adiknya bersama istrinya dan adik iparnya yang mau sekalian periksa kesehatan di sana.

Akhirnya tibalah saat keberangkatan suamiku. Tanggal 31 Januari sehabis subuh suamiku bersama adik iparnya berangkat ke Jakarta dengan kereta. Setelah menginap semalam di Jakarta, esoknya mereka berempat terbang ke Penang setelah transit beberapa saat di Medan.

Kami tetap bisa saling berkomunikasi lewat WA dan video call Line. Tapi ketika suamiku sudah berada di Penang, komunikasi kami mulai sering terhambat karena lemahnya sinyal di sana. Dan yang membuatku terkejut, tiba-tiba saja aku mendapat kabar bahwa suamiku begitu tiba di RS, malamnya sudah harus menginap di sana karena esok harinya akan ada tindakan kateterisasi.

Ketika komunikasi sempat terhubung melalui video call Line, aku bisa menyaksikan sendiri bahwa suamiku malam itu sedang berbaring sendirian di dipan RS dengan tangan yang sudah diinfus. Melihat kondisi suamiku itu, tangisku tak tertahankan. Aku merasa menyesal karena aku tidak berada disana dan mendampinginya. Aku juga mengkhawatirkan kondisinya.

Tapi suamiku malah tertawa dan berusaha menenangkanku. Katanya kondisinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja besok pagi akan dilakukan kateterisasi karena ada pembuluh darah di jantungnya yang tersumbat. Jadi besok akan dilihat pembuluh darah mana yang tersumbat dan perlu dipasang ring.

Tapi tetap saja aku merasa khawatir karena itu berarti ada suatu tindakan di jantungnya. Rasanya malam ini aku ingin menyusul suamiku kesana. Hingga malam itu aku benar-benar tak bisa tidur dan hanya bisa menangis sambil mendoakan suamiku. Aku sempat berkomunikasi dengan beberapa orang adik iparku barangkali besok ada yang bisa mengantarku kesana.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2 dinihari, namun mataku ini sungguh sulit kupejamkan. Hingga akhirnya kupaksakan tidur sejenak agar kondisiku tidak malah menjadi drop. Saat azan subuh berkumandang aku kembali bangun untuk shalat dan bersiap-siap mengantar anakku ke sekolah.

Ketika di perjalanan pulang ke rumah, suamiku sempat menghubungiku lagi hingga mobil yang sedang kukendarai itu langsung kubawa ke tepi jalan dan kuhentikan agar bisa lebih leluasa berkomunikasi.

Bagiku, kesempatan untuk dapat berkomunikasi dengan suamiku adalah kesempatan emas. Karena sinyal yang lemah dan jauhnya jarak di antara kami sering mengkhawatirkanku dan membuat galau.

Kata suamiku nanti sekitar jam 9 -10 pagi ini akan dimulai kateterisasinya. Dan ia memintaku agar mendoakannya supaya semua berjalan dengan baik dan lancar. Ya Allah lancarkan kateterisasinya dan bila harus dipasang ring semoga tidak ada masalah apa-apa. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Setelah itu kami tidak bisa berkomunikasi lagi karena suamiku sudah di ruang tindakan. Sehingga sudah tidak boleh membawa ponsel lagi.

Di rumah aku hanya bisa menunggu waktu dengan perasaan yang tak menentu. Keinginanku untuk menyusul suamiku timbul lagi. Salah seorang adik iparku ada yang bersedia mengantarku kesana sampai mengirimkan foto paspornya ke WA ku.

Tapi ketika aku mencari pasporku sendiri yang kemarin barusaja diperpanjang anehnya tak kunjung ketemu. Aduh…apa karena suamiku sudah berulangkali menyarankanku untuk tidak menyusulnya kesana ya? Beberapa adik iparku akhirnya hanya bisa menghiburku dengan menyampaikan bahwa lusa suamiku sudah pulang. Jadi kalau menyusul kesana juga percuma.

Ketika hari makin sore, aku mencoba menghubungi suamiku melalui WA dan Linenya. Namun semuanya tak bisa dihubungi. Kata adik iparku yang berada disana, suamiku masih berada di ruang ICU karena masih dalam pemulihan sesudah tindakan. Dan berdasar kabar yang kuterima, suamiku  ternyata sekaligus dipasang 3 ring di pembuluh darah jantungnya. Ya Allah…Aku semakin terkejut dan cemas.

Tapi beberapa saat kemudian kuterima kabar bahwa suamiku sekarang sudah sadar, dadanya tidak sesak lagi dan tekanan darahnya sudah normal. Alhamdulillah… Rasanya sudah tidak sabar ingin bisa berkomunikasi lagi dengan suamiku. Tapi hingga malam hari ponselnya masih dimatikan.

Ketika adik iparku mengirimkan foto suamiku di grup WA keluarga, rasanya hari ini menjadi lebih lega. Kulihat suamiku sudah sadar dan yang membuat hatiku senang saat melihatnya sudah bisa tersenyum.

Ada beberapa hal yang membuat satu kebahagiaan tersendiri di hatiku. Yaitu ketika melihat kekompakan keluarga besar kami dalam mendoakan suamiku.
Dan ketika melihat semua karyawan dan karyawati suamiku dari Specia yang kompak mengundang bapak ustadz, anak-anak yatim, guru-guru beserta staf Rumah Belajar Cirebon untuk bersama-sama mendoakan suamiku agar cepat sehat dan pulih kembali.

Melihat itu semua, aku hanya bisa menitikkan air mata haru. Di sini aku jadi lebih mengerti betapa besar perhatian dan kepedulian suamiku terhadap mereka sehingga mereka sedemikan sayangnya terhadap suamiku. Apalagi ketika sempat terjalin komunikasi antara suamiku dengan pak Haji Endu, Ustadz Said, dan para karyawan/karyawatinya melalui video call Line. Rasanya tali persaudaraan di antara kami menjadi makin terasa erat terjalin.

Terima kasih untuk semua keluarga besarku… Terima kasih juga untuk semua karyawan dan karyawati Specia serta guru dan staf Rumah Belajar Cirebon, khususnya untuk Yuli atas inisiatif acara doa bersamanya. Dan last but not least.. Terima kasih pak Haji Endu Nahdudin dan Ustadz Said.. Terima kasih atas semua perhatian dan doanya..

Akhirnya tibalah hari yang sudah kunanti-nantikan. Tanggal 4 Februari 2017 adalah saat di mana suamiku sudah boleh pulang ke rumah. Ketika suamiku menelepon  dalam perjalanan pulang,  suaranya yang sudah ceria seperti biasanya membuatku gembira.

Sekitar jam 9 malam suamiku baru tiba di rumah. Aku dan Salma langsung menyambutnya dan kami saling berpelukan melepas rindu. Alhamdulillah… Terima kasih ya Allah.. Akhirnya kami bisa berkumpul kembali.

Saat malam hari menjelang tidur, kami bertiga berkumpul di kamar dan suamiku menceritakan tentang kondisinya selama di sana.

“Saya ini masih bisa berkumpul lagi dengan kalian ini benar-benar bonus dari Allah.. Waktu saya diperiksa, dokternya sempat kaget melihat kondisi pembuluh darah di jantung saya karena penyumbatannya sudah mencapai 90%. Sampai dokternya bilang kok baru sekarang dibawa kesini. Kalau orang lain dengan kasus yang sama ada yang sudah tidak tertolong lagi nyawanya.”

Aku dan Salma hanya terdiam sambil merenung.

Lalu suamiku melanjutkan ceritanya.

“Maka dokternya langsung melakukan tindakan kateterisasi dan pemasangan ring karena melihat kondisi saya yang seperti itu. Tapi di bagian pembuluh kapiler yang ada penyumbatannya terpaksa tidak bisa dipasang ring karena pembuluhnya terlalu halus. Jadi sementara dibantu dengan obat saja. Dan mayoritas plak yang menyumbat pembuluh darah di jantung saya itu ternyata berupa gula, bukan lemak. Ibaratnya plaknya itu seperti kerak gula yang tersisa di botol sirup. Begitu kata dokternya, Ir.. ”

Mendengarkan semua itu perasaanku menjadi campur aduk tak keruan. Ada perasaan sedih, cemas, terkejut dan bingung.

Namun kami bersyukur karena Allah SWT masih memberi kesempatan kepada kami untuk tetap bisa berkumpul kembali.

Banyak hikmah yang bisa kami ambil dari kejadian ini. Di antaranya:

1. Kesehatan adalah salah satu nikmat dari Allah SWT yang sering kita lalaikan
2. Bisa berkumpul bersama keluarga adalah satu kebahagiaan yang tak ternilai harganya
3. Bila kita peduli dan sayang terhadap sesama, maka semua itu akan berbalik pada kita.
4. Doa yang tulus mempunyai kekuatan yang luar biasa
5. Jagalah pola makan dan kebiasaan hidup kita sejak kecil agar menjadi investasi kesehatan kita di masa depan.

Sumber gambar: islam100persensempurna.blogspot.com/2015/03/syukur-baru-terasa-nikmat-sehat-ketika.html?m=1