Monthly Archives: Mei 2017

Panggung Sandiwara

Standar

Tokoh yang baik selalu menang..
Tokoh jahatnya pasti kalah..
Itu alur cerita klise.
Baik di sinetron,
Layar lebar,
atau di pewayangan

Tapi di dunia nyata,
panggung sandiwara
tak sesederhana itu.
Aktornya banyak, dengan aneka peran
Watak dan karakternya,
juga susah ditebak

Ada yang tampak baik
hingga dipuja puji,
ternyata buruk di belakang.
Ada yang dianggap jahat
hingga dicerca dan dihujat,
Tak tahunya malah ia yang benar

Perjalanan ceritanya..
juga tak bisa diduga.
Bisa happy ending,
meski menderita sebelumnya
Tapi bisa sad ending,
walau awalnya tanpa masalah

Semuanya bergantung
pada takdir ‘Sang Sutradara’.
Allah Yang Maha Kuasa,
yang mengatur skenario kehidupan
sekaligus menyiapkan ‘aturan mainnya’.

Tapi susah senangnya kehidupan
dan berat ringannya masalah,
ternyata pun tak lepas
dari pilihan dan sikap diri sendiri.
Makin nurut aturan main-Nya, ia selamat.
Makin abai, makin celaka

Ingat juga, ada sunnatullah.
Apapun yang kita tanam hari ini,
itu pulalah yang akan kita panen lain hari.

Maka ikutilah ‘aturan mainnya’.
Jadilah aktor dan aktris idaman.
Agar ‘Sang Sutradara’ menuliskan skenario kehidupan yang terindah.
Dan panggung sandiwara
menjadi pertunjukan yang terbaik
Hingga happy ending menjadi kisah manis di akhir cerita.

(Bukan) Penulis Asal-Asalan

Standar

Penulis adalah sebuah profesi yang di masa kini mulai diidamkan oleh banyak orang. Hal ini terlihat dari semakin menjamurnya kelas-kelas kepenulisan dan workshop menulis. Dan semakin merebaknya penulis-penulis baru dengan karya-karyanya yang keren.

Banyak hal yang menjadi penyebab munculnya fenomena ini. Di antaranya adalah begitu besarnya pesona kesuksesan para penulis best seller dengan karyanya yang mampu menghipnotis para pembacanya. Belum lagi royalti bukunya yang mengalir deras seperti air yang terus mengalir dari mata air.

Bagi seorang ibu rumah tangga sederhana yang bermimpi menjadi penulis seperti diriku ini, dunia menulis mempunyai kisah tersendiri. Bermula dari hobby membaca buku cerita anak dan menikmati ilustrasi yang menarik di setiap halamannya saat masa kecilku. Hobby ini selalu membawaku berpetualang dalam imajinasi yang tak terbatas di setiap kisah yang kubaca.

Dari kenikmatanku membaca buku ini menimbulkan suatu keinginan untuk mencoba menuliskan imajinasi yang mulai tercipta tadi. Sebagai anak yang introvert, kegiatan menulis ini juga menjadi sarana menyalurkan semua uneg-uneg, pemikiran dan harapan-harapanku dengan lebih leluasa.

Sehingga tak hanya kertas sisa bungkus kado dengan aneka gambarnya yang menarik saja yang kujadikan tempat menuliskan imajinasiku. Namun juga beberapa buah buku diary unik dan wangi yang menjadi tempat pelampiasan curhatku. Bagiku, menulis menjadi semacam terapi jiwa.

Setelah berumahtangga dan mulai mengenal media sosial, hobby menulis yang sempat terpendam beberapa tahun mulai tersalurkan kembali. Awalnya hanya sekedar menuliskan pengalaman dan pemikiran sederhana di media sosial. Seperti yang dilakukan oleh para netizen pada umumnya.

Namun derasnya informasi kepenulisan di sana membuatku terpancing untuk tak hanya sekedar iseng menulis lagi, tapi memunculkan obsesi masa kecilku yang dulu pernah kutuliskan di ‘buku-buku kecil’ pertamaku.

Yup, saat itu aku pernah menuliskan cita-citaku menjadi pengarang/penulis. Entah mengapa saat itu di usiaku yang masih 11 tahun dan sama sekali belum pernah belajar tentang kepenulisan bisa membuatku begitu percaya diri dengan menuliskan cita-citaku itu.

Apakah mungkin ini merupakan pembuktian dari pilihanku dulu saat masih berumur 7 lapan (1 lapan = 35 hari) dalam prosesi tedhak siten (tradisi Jawa untuk memperkirakan hobby/profesi seorang anak)? Secara kebetulan saat itu aku memilih pensil di antara pilihan lain (uang dan buku). Sehingga kedua orangtuaku mengatakan bahwa kelak aku akan mempunyai hobby menulis dan menjadi penulis.

Apapun itu, hasrat menulisku kini memang kian menggebu. Sehingga ketika kutemukan informasi penawaran untuk bergabung di grup penulis pemula dan kelas kepenulisan di bawah bimbingan penulis best seller di media sosial, dengan penuh semangat langsung kuserbu.

Dari Fresh Author (pembimbing: Ahmad Rifa’i Rif’an), Pesantren Penulis (pembimbing: Dwi Suwiknyo), One Day One Post (pembimbing: Bang Syaiha), KMO (pembimbing: Tendi Murti) hingga KBT (pembimbing: Kang Dewa Eka Prayoga dan Indari Mastuti). Workshop kepenulisan yang diadakan oleh Asma Nadia dan Isa Alamsyah di Jakarta juga sempat kuhadiri.

Aku tak boleh minder meskipun menjadi murid tertua dalam grup kepenulisan yang kuikuti. Aku juga tak boleh menyerah walaupun tulisanku masih sangat sederhana dan sering tidak terpilih dalam beberapa seleksi/lomba menulis. Maka aku harus terus berlatih menulis dengan siapapun, kapanpun dan di manapun. Meski harus mengikuti wokshop kepenulisan di luar kota. Agar aku dapat menimba ilmu dan pengalaman dari para penulis best seller serta menyerap energi positif dari para penulis muda di grup/kelas kepenulisan.

Alhamdulillah upayaku membawa hasil. Satu demi satu karyaku mulai diterbitkan meski masih secara indie. Dalam hal ini aku harus banyak berterima kasih kepada pak Ahmad Rifa’i Rif’an selaku pembimbing pertamaku dalam menulis. Karena beliaulah yang telah menumbuhkan rasa percaya diriku dalam menulis hingga tulisanku bisa ikut diterbitkan bersama tulisan beliau dan beberapa penulis Fresh Author lain dalam 5 buah buku antologi. Bahkan di tahun berikutnya aku sudah berani menerbitkan sendiri buku karya tunggalku.

Tapi aku tak boleh berpuas diri dengan berhenti sampai di sini saja. Karena bila aku memang benar-benar ingin menjadi penulis yang profesional, ada banyak hal yang harus kupersiapkan.. Seperti bagaimana mengatur waktu antara pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga, pengelola Rumah Belajar Cirebon dengan kegiatan menulisku. Serta memperbanyak membaca buku untuk menambah referensi

Dua hal yang tampaknya sepele, tapi tidak mudah bagiku. Karena aku harus bisa mengalahkan beberapa sifat dan kebiasaan burukku yang selama ini selalu menjadi penghalang dua hal tersebut. Yaitu:

1. Suka menunda pekerjaan
2. Terlena dalam kenyamanan
3. Kurang fokus
4. Sering tergoda untuk mengikuti berita/informasi di media sosial sampai menyita waktu.

Sedangkan sebuah tulisan harus melewati proses yang cukup panjang, meletihkan dan membutuhkan ekstra kesabaran serta ketekunan untuk bisa diterbitkan, diterima dengan baik dan disukai oleh para pembaca.

Namun semoga tekadku untuk menggapai cita-cita dan impian menjadi penulis profesional yang karyanya best seller makin menguat hingga sanggup mengalahkan semua penghalang tadi sampai kesuksesan tercapai. Aamiin..

Bagaimanapun aku juga harus realistis, karena memang tak semudah itu untuk menggapainya, mengingat keterbatasan yang ada pada diriku. Bila impianku itu belum terwujud atau tidak tercapai, aku akan tetap menulis di sisa umurku ini.

Harapanku, tulisan-tulisan sederhanaku ini tak hanya menjadi pengingatku, namun juga bermanfaat dan bisa menginspirasi siapapun yang sempat/berkenan membacanya. Hingga ketika kelak aku telah berpulang pada-Nya, tulisanku itu mampu menarikku ke surga-Nya. Aamiin..

27 itu Dua Puluh Impian dan Tujuh Harapan

Standar

Setiap manusia pasti mempunyai impian dan harapan yang ingin dicapai sepanjang hidupnya. Berbeda dengan sekedar harapan, maka impian dianggap sebagai suatu harapan yang tingkat kesulitannya cukup tinggi untuk mewujudkannya. Namun bisa dikatakan juga, adanya sebuah harapan akan membuat suatu impian akan terwujud..

Tapi apapun itu tentu saja sah-sah sajalah bila kita memiliki harapan dan impian. Karena dengannya, hidup kita menjadi bertarget. Kita akan menjadi lebih bersemangat dalam berusaha dan lebih khusuk dalam berdoa demi tercapainya semua impian dan harapan tersebut.

Disini saya akan menyebutkan sejumlah impian dan harapan saya. Sebetulnya ada buanyaaak sekali.. Tapi saya hanya akan menyebutkan 20 impian dan 7 harapan saya saja yaa.. Karena dalam rangka hari ulang tahun mbak Sabrina yang ke 27 ini, dengan mendoakan kesehatan dan kesuksesannya, saya juga berharap 27 harapan dan impian saya itu satu persatu juga bisa dikabulkan oleh Allah Swt.. Aamiin..

Nah ini dia 20 impian saya.. ๐Ÿ™‚

1. Menjadi penulis best seller yang sanggup menerbitkan buku setiap bulan.
2. Wisata keliling dunia bersama keluarga
3. Mempunyai menantu yang shaleh, cerdas, bertanggungjawab dan sayang keluarga.
4. Mempunyai besan yang memiliki kesesuaian visi, misi dan hobby sehingga enak diajak bekerjasama dan berkomunikasi.
5. Mengembangkan Taman Bacaan yang sudah ada di Rumah Belajar Cirebon menjadi perpustakaan umum yang dikelola dengan baik, dilengkapi dengan wifi dan cafe. Agenda rutinnya ialah mengadakan acara bedah buku, seminar kepenulisan, dongeng untuk anak dan bimbingan menulis untuk anak-anak dengan mengundang para penulis best seller.
6. Mengembangkan Rumah Belajar Cirebon menjadi one stop learning center.
7. Membuka kelas khusus anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu di Rumah Belajar Cirebon dengan membebaskan biaya belajar.
8. Membuat area sains di halaman Rumah Belajar Cirebon dengan memelihara aneka hewan (seperti kelinci, kucing, ayam, burung, bebek) dan menanam berbagai tanaman apotik hidup. Lalu masing-masing diberi keterangan nama latin dan manfaatnya.
9. Membuat kelas cooking dan kreatifitas di Rumah Belajar Cirebon
10. Bekerjasama dengan putri saya dalam membuka usaha desain dan kreatifitas, sekaligus untuk mengembangkan passionnya.
11. Mengajak ibu, kedua adik saya, suami, putri saya, staf dan guru-guru Rumah Belajar Cirebon untuk umrah bersama.
12. Menulis buku biografi almarhum ayah saya
13. Menuliskan kembali naskah dan beberapa buah pemikiran almarhum ayah saya yang tersimpan di flashdisknya, kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.
14. Menulis cerita anak berdasarkan gambar putri saya yang sudah saya koleksi sejak goresan gambar pertamanya di usia 3 tahun hingga kini.
15. Menulis tentang kisah saya dalam berinteraksi dengan putri saya ketika merawat dan membimbingnya sejak bayi hingga remaja kini.
16. Mengangkat catatan harian saya selama menjadi santriwati di pesantren Ngruki ke layar lebar.
17. Mengadakan event panggung sandiwara boneka secara berkala untuk anak-anak di Rumah Belajar Cirebon yang kisah-kisahnya memuat tentang pelajaran budi pekerti.
18. Membuka usaha penerbitan buku.
19. Menyediakan fasilitas yang nyaman, aman dan menyenangkan untuk anak-anak dan orangtua di Rumah Belajar Cirebon.
20. Mengisi masa tua dengan kegiatan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Yaitu dengan menulis buku dan mengaji ilmu agama. Dan bila saya harus berpulang kepada Allah Swt, saya ingin kembali pada-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Sedangkan 7 harapan saya adalah sebagai berikut:

1. Dapat istiqamah mengaji Al Qur’an (One Day One Juz) dan menulis di blog (One Day One Post)
2. Menyelesaikan naskah saya tentang perjalanan wisata ke Eropa bersama keluarga yang berjudul “Mendaki Mimpi hingga Mount Titlis”
3. Menyelesaikan naskah saya tentang etika yang berjudul “Utak Atik Etika”
4. Menyelesaikan naskah saya tentang catatan harian santriwati mualaf yang merupakan kelanjutan dari buku “Santriwati Baru”
5. Dapat berkunjung ke rumah ibu saya secara rutin dan membahagiakannya.
6. Dapat menjadi istri dan ibu yang shalehah.
7. Dikabulkannya doa saya untuk kesehatan suami saya serta keberhasilan putri saya di SBMPTN dan atau di UTUL UGM (yang terbaik menurut Allah Swt)

Saat sekarang ini, dari 20 impian dan 7 harapan tersebut, ada 1 yang paling ingin terwujud. Yaitu terkabulnya doa saya dengan pulihnya kembali kesehatan suami saya serta suksesnya putri saya dalam SBMPTN dan atau UTUL UGM hingga diterima di PTN/ prodi impiannya (yang terbaik menurut-Nya)

Sebagai insan yang memiliki kelebihan dan kekurangan, pada akhirnya kita hanya bisa berikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah Swt.

Ya Allah.., sehatkan, panjangkan umur mbak Sabrina.. Bahagiakan dan berkahilah kehidupannya. Semoga di usianya yang ke 27 tahun ini adalah merupakan titik awal kesuksesannya dunia akhirat..

Ya Allah, berilah kekuatan dan kemampuan kepada kami agar sanggup mewujudkan semua impian dan harapan kami. Laa haula wa laa quwwata illa billah..

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

(Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-njP9YPord50/U0fD6wM7AmI/AAAAAAAAPyY/5_NlWLGm41U/s1600/motivational-quotes-dream-it-wish-it-do-it.jpg )

Fenomena Ahok

Standar

Kehebohan Pilkada DKI Jakarta baru saja usai. Berdasarkan Quick Qount telah muncul hasil yang memenangkan Paslon nomor urut 3 yaitu Anies dan Sandi yang telah meraih perolehan suara sebanyak 60% dari surat suara yang sudah masuk. Sedangkan Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok dan pasangannya Djarot sebagai paslon dengan nomor urut 2 hanya meraih 40% suara.

Dengan demikian paslon Anies dan Sandilah yang nanti setelah berakhirnya masa tugas Ahok dan Djarot di bulan Oktober yang akan melanjutkan tugas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru. Alhamdulillah, Pilkada DKI telah berakhir dengan damai dengan legowonya pasangan Ahok dan Djarot dalam menerima hasil Quick Count dan KPU.

Namun banyak pendukung Ahok yang merasa sedih dan kecewa atas kekalahan Ahok dan Djarot. Untuk meluapkan kekecewaan dan perasaan mereka yang masih belum bisa ‘move on’ dari Ahok dan Djarot, mereka mengirim ribuan karangan bunga ke Balaikota dengan berbagai pesan yang mewakili perasaan mereka. Karena begitu banyak jumlahnya, karangan bunga ini sampai mencapai rekor Muri.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/05/12331501/karangan.bunga.untuk.ahok-djarot.raih.rekor.muri

Mereka juga berbondong-bondong hadir memenuhi Balaikota untuk bertemu dengan Ahok dan Djarot sebagai ungkapan rasa simpati mereka yang mendalam. Bahkan banyak di antara mereka yang menangis. 

@deelestari: https://twitter.com/deelestari/status/857139261749039106?s=09

Sebetulnya mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka masih menginginkan Ahok dan Djarot untuk tetap memimpin DKI. Karena mereka sudah merasakan banyak perubahan positif di Jakarta dari hasil kinerja nyata pasangan gubernur dan wakil gubernur tersebut. Terbukti dengan adanya tingkat kepuasan warga DKI sebesar 70% terhadap kinerja mereka. Mereka tak mau kehilangan sosok gubernur dan wakil gubernur yang sangat mereka cintai.

Dan sosok yang paling menyita perhatianku dan mungkin juga hampir semua masyarakat Indonesia, bahkan luar negeri adalah sosok Ahok. Sejak menggantikan Jokowi yang diangkat menjadi Presiden RI, Ahok yang sebelumnya adalah Wakil Gubernur DKI akhirnya menggantikan posisi Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Ahok adalah sosok gubernur yang tak hanya dikagumi, namun juga dibenci. Diidolakan tapi juga dicampakkan. Karena Ahok dikenal sebagai gubernur yang emosional dan acapkali berkata kasar, khususnya terhadap ‘maling uang rakyat’. Namun ia juga sangat disiplin waktu dan teliti dalam menjaga APBD. Sampai ada kesaksian dari seorang yang pernah magang di kantor Ahok. Beritanya ada di sini: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/11/16293311/cerita.anak.magang.soal.kesabaran.ahok.dan.pangkas.apbd.rp.4.5.triliun

Sejak adanya kasus dugaan penistaan agama yang menimpanya gara-gara keceplosan mengutip surat Al Maidah ayat 51 saat pidato di Kepulauan Seribu, masalah ini menjadi makin memanas dan selalu diperdebatkan antara yang pro maupun kontra terhadapnya. Hingga sempat beberapa kali terjadi aksi demo bela Islam yang diprakarsai oleh Habib Riziq dan beberapa ulama.

Sebagai seorang muslimah, saya juga sangat menyayangkan mengapa Ahok mengutip ayat Al Qur’an tersebut, padahal bukan kapasitasnya sebagai pemeluk agama yang berbeda keyakinannya  dan memang itu tak perlu disampaikan juga.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang yang lain dan dicerna secara lebih jernih, sebetulnya Ahok hanya bermaksud mengungkap fakta bahwa sejak ia mencalonkan diri di Pilkada Belitung hingga di DKI Jakarta ini, banyak orang terutama lawan politiknya menjegalnya dengan menggunakan ayat tersebut. Ahok sendiri juga sudah mencoba menjelaskan maksud pidatonya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1287729187913439&id=180432571976445

Dan Ahok juga sudah minta maaf kepada kaum muslim karena telah mengutip ayat tersebut dalam pidatonya di Kepulauan Seribu.

http://news.metrotvnews.com/metro/JKR40d7b-ahok-minta-maaf-soal-penistaan-agama

Sedangkan Gus Dur sudah pernah menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak dimaknakan sebagai larangan memilih pemimpin daerah dari non muslim. Ini video dukungan Gus Dur waktu Ahok mencalonkan diri di Pilkada Bangka Belitung:

Beberapa ulama lain juga sependapat dengan Gus Dur.

Seperti rangkuman dari Nadirsyah Hosen berikut ini:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1844314202483524&id=1552475198334094

Dan ini pendapat Nasaruddin Umar, Imam Masjid Istiqlal:

http://m.kbr.id/berita/11-2016/imam_besar_masjid_istiqlal__ucapan_ahok_bukan_penistaan/86404.html

Namun sesuai tuntutan massa, Ahok akhirnya tetap harus disidang di pengadilan. Sebelumnya Ahok telah mendapat tuntutan hukuman dari JPU dalam persidangannya sebanyak 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Namun ternyata beberapa kelompok orang merasa tidak puas dengan tuntutan JPU tersebut.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/29/15185041/tuntutan.jaksa.terhadap.ahok.dianggap.timbulkan.ketidakpercayaan.publik

Akhirnya pada saat persidangan terakhir Ahok divonis dengan hukuman 2 tahun penjara. Reaksi publikpun bervariasi. Ada yang masih tidak puas dan menginginkan hukuman 3-5 tahun penjara (yang kontra Ahok) Tapi banyak juga yang tidak bisa menerima hukuman tersebut dan menganggapnya tidak adil (yang pro Ahok).

Akibatnya ketika vonis penjara 2 tahun dijatuhkan oleh hakim dan Ahok langsung dibawa ke Rutan Cipinang pada tanggal 9 Mei 2017 yang lalu, para pendukung Ahok langsung berdemo menuntut pembebasan Ahok. Bahkan hingga ketika Ahok dipindahkan ke Mako Brimob.

Aksi solidaritas sebagai bentuk kesedihan dan keprihatinan atas vonis terhadap Ahok itu tak hanya diadakan di kota Jakarta, tapi juga digelar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di kota Yogyakarta, Medan, Pakanbaru, Bandung, Timika, Manokwari, Bangka, Makasar, dan lain-lain. Mereka tergabung dari berbagai etnis dan agama. Mereka juga menganggap vonis hakim tersebut tidak adil jika dibandingkan dengan hukuman terhadap pembakar vihara beberapa waktu yang lalu.

http://www.gerilyapolitik.com/pembakar-vihara-hanya-divonis-2-bulan-ahok-keseleo-lidah-divonis-2-tahun-waraskah-pengadilan/
Bahkan reaksi Internasional terhadap vonis hakim terhadap Ahok ini juga menyeruak di berbagai negara. Seperti di Jepang.

http://m.tribunnews.com/internasional/2017/05/10/warga-jepang-kaget-ahok-diputus-masuk-penjara-dua-tahun

Dari duta besar Inggris hingga PBB juga berkomentar.

https://m.detik.com/news/berita/d-3497449/sorotan-internasional-di-kasus-ahok-dari-dubes-inggris-sampai-pbb

Melihat betapa besarnya dukungan dan rasa simpati terhadap Ahok ini menunjukkan bahwa dengan dipenjaranya Ahok ini mereka merasa sangat kehilangan sosok/figur seorang pemimpin yang selama ini mereka idamkan yang ada padanya. Yaitu sosok pemimpin yang:

1. Jujur dan bersih
2. Bertanggungjawab
3. Disiplin dan teliti
4. Cerdas dan berwawasan luas
5. Mempunyai keahlian dalam menata kota
6. Tegas
7. Melayani keluhan, pengaduan dan kebutuhan rakyat
8. Peduli terhadap anak-anak, pelajar, pasukan kebersihan, marbot masjid, rakyat kecil, kaum difabel dan manula

Ini semua menjadi PR besar bagi kita kaum muslimin di Indonesia agar memiliki figur pemimpin yang seperti itu. Karena selama ini, ada kesan bahwa pemimpin/pejabat muslim di Indonesia itu cenderung korup dan kurang bertanggungjawab.

Memang banyak juga yang menentang beberapa kebijakan Ahok seperti penggusuran yang sering dilakukannya dan reklamasi. Namun sebetulnya penggusuran yang dilakukan oleh Ahok itu hanya pada rumah-rumah yang dibangun di atas tanah milik negara dan yang berada di bantaran sungai. Hal ini dimaksudkan untuk menertibkan dan mengurangi banjir. Tak dipungkiri memang pasti menyakitkan bila digusur. Tapi ibarat minum jamu, meskipun pahit tapi menyembuhkan. Karena Ahok juga memberikan gantinya dengan merelokasikan mereka ke rumah susun dan memberi berbagai fasilitas seperti transportasi bus Trans Jakarta yang bebas biaya dan kartu KJP yang memfasilitasi kebutuhan anak-anak sekolah.

Dari ulasan tentang fenomena Ahok ini, ada banyak pelajaran yang bisa kita petik, diantaranya:

1. Hati-hati dalam berkata dan bersikap. Hindari perkataan yang kasar, mempermalukan dan menyinggung keyakinan orang lain.

2. Suatu kebaikan yang dilakukan dengan tulus oleh seseorang, apapun etnis dan keyakinannya akan selalu dikenang dan mempunyai nilai lebih yang membuatnya dicintai oleh siapapun juga.

3. Sifat seorang pemimpin yang sidiq (benar/jujur) , amanah (dapat dipercaya) dan fathanah (cerdas) dan tabligh (komunikatif) ternyata ada kalanya kita temui pada orang non muslim, sehingga dalam beberapa kondisi mungkin patut dipertimbangkan saat Pilkada.

4. Sebaiknya dibangun komunikasi yang baik ketika terjadi perbedaan pendapat agar tidak terjadi pertikaian dan perdebatan yang memanas.

5. Ketika terjadi salah ucap/sikap dari seseorang, sebaiknya dilakukan tabayun terlebih dahulu sebelum berprasangka negatif atau terjadi kesalahpahaman masal terhadapnya.

Mohon maaf bila dalam ulasan saya tentang fenomena Ahok ini ada yang salah atau kurang berkenan. Ini hanya sekedar ulasan dari pemikiran sederhana saya saja. 

Wallahu a’lam bishshawab..

Tinta Merah

Standar

Semburat cahaya kekuningan di langit sore itu perlahan memudar. Berganti dengan warna kelabu yang makin menghitam. Suasana sekolah sudah makin sepi. Berulangkali kutengok ke arah pintu gerbang sekolah. Tapi ayah belum juga datang menjemputku. Karena hari makin gelap, aku menumpang becak untuk pulang ke toko tempat ayah dan ibu berjualan.

Sudah yang kesekian kalinya ini ayah lupa menjemputku. Tapi aku bisa memahaminya. Mungkin ayah dan ibu sedang sibuk berjualan di toko sehingga lupa menjemputku. Sejak awal pernikahan, mereka harus bekerja keras dari pagi sampai malam dengan membuka toko di daerah Pecinan demi mencukupi keuangan keluarga.

Aku dan kedua adikku bersekolah di SD Tarakanita. Setiap hari sepulang sekolah, kami lebih sering berada di toko daripada pulang ke rumah. Di toko kami bertiga ikut membantu ayah dan ibu semampu kami. Karena jadwal sekolahnya berbeda-beda kami bisa bergantian dalam membantu orangtua. Saat ini aku mendapat jadwal masuk sekolah siang hari. Sehingga aku membantu di toko dari pagi hingga siang hari.

Kami, tiga bersaudara ini masing-masing mempunyai minat dan bakat yang berbeda-beda. Adik perempuanku mempunyai minat dalam berdagang. Sehingga ia paling bersemangat dalam membantu di toko. Selain itu ia juga cukup cerdas dalam memahami semua pelajaran di sekolah, terutama pelajaran Matematika. Adik laki-lakiku lebih suka pelajaran Sejarah. Maka ia senang sekali kalau diajak mengobrol tentang sejarah/politik oleh ayahku.

Sedangkan aku, cenderung pendiam dan introvert. Sehingga lebih suka menulis cerita ringan di sisa bungkus kado dari toko atau mencatat aktifitas harian/uneg-uneg perasaanku di buku harian.
Secara keseluruhan, hanya aku yang sering mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah. Aku juga tak tahu, mengapa aku tak sepandai kedua adikku? Sehingga kondisi ini sering membuatku merasa minder.

Aku sangat kagum terhadap teman-teman sekelasku yang cerdas dan supel. Aku melihat mereka itu begitu sempurna. Cantik, kaya, cerdas dan pandai bergaul. Tapi hal ini kadang malah membuatku semakin minder. Karena aku merasa mempunyai begitu banyak kekurangan. Meskipun begitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kekuranganku ini.

Saat itu jujur saja, aku memang tak mempunyai target apapun dalam bersekolah. Kegiatan berangkat ke sekolah dan belajar di kelas setiap harinya itu kuanggap hanya sebuah rutinitas yang harus kujalani sebagai seorang pelajar. Sehingga yang kuusahakan saat itu hanyalah bagaimana caranya agar nilai pelajaranku tidak di bawah 60. Padahal ketika mulai naik ke kelas 4, pelajaran semakin sulit kukuasai.. ๐Ÿ˜ฆ

PR yang diberikan oleh guru juga kukerjakan semampuku saja. Karena bila menemui kesulitan, aku tak tahu harus bertanya ke siapa? Aku tak ingin merepotkan ayah dan ibuku. Sedangkan untuk bertanya ke guru, aku tidak berani.

Sebetulnya saat menerima rapor di Catur Wulan pertama, wali kelas sempat mengingatkanku melalui sebuah pesan yang ditulisnya di rapor. “Sebaiknya belajar lebih giat”

Hal itu dikarenakan ada empat pelajaran dengan nilai 5 dan ditulis dengan tinta merah di rapor. Yaitu pelajaran Matematika, IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan Olahraga/Kesehatan.

Ketika itu, baik ayah maupun ibuku tidak memberikan respon apapun terhadap nilaiku di rapor tersebut. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Begitupun ketika rapor Catur Wulan kedua dibagikan. Kali ini ada tiga pelajaran yang nilainya bertinta merah. Yaitu pelajaran Bahasa Daerah (nilai 5), IPS (nilai 5) dan Matematika (nilai 4). Aduh..nilai Matematikaku makin jatuh saja.. ๐Ÿ˜ฅ

Melihat nilai-nilai di raporku yang semakin parah itu, aku menjadi panik. Aku mulai belajar sekuat tenaga. Tapi tentu saja aku tak bisa mengejar waktu yang hanya tersisa 4 bulan untuk mencapai Catur Wulan ketiga, sebagai Catur Wulan terakhirku di kelas 4. Sehingga ketika pembagian rapor kenaikan kelas, aku hanya bisa pasrah dengan hasilnya.

Di saat teman-teman sekelasku bersorak gembira sesudah menerima rapornya, aku hanya bisa duduk menyendiri, terdiam dengan perasaan yang tak menentu. Aku masih tak percaya ketika membaca sebuah tulisan pada bagian bawah raporku yang ditulis dengan tinta merah: “Tidak naik kelas.”

Masih saja ada beberapa angka yang ditulis dengan tinta merah ‘menghiasi’ raporku. Pelajaran yang mendapat nilai merah tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, malah semakin parah. Yaitu pelajaran Matematika (nilai 4), IPS (nilai 4) dan PMP (nilai 5). Ketiga pelajaran itu selalu menghantuiku di kelas 4 ini.

Semula aku tak menyangka bila jatuhnya nilaiku pada ketiga pelajaran tersebut akan berpengaruh begitu besar dalam penentuan kenaikan kelasku. Tapi kenyataan pahit ini sudah terjadi dan mau tak mau harus kuhadapi.

Betapa malu dan sedih hatiku saat itu. Seumur-umur baru kali ini aku tidak naik kelas.. ๐Ÿ˜ฅ Aku berusaha menahan tangisku. Tapi yang sedang berkecamuk dalam pikiran dan membuatku bingung adalah bagaimana harus kusampaikan hal yang sangat memalukan ini pada kedua orangtuaku? Mereka pasti sedih dan kecewa..

Beberapa teman yang mengetahui permasalahanku mulai datang menghibur.

“Sudah.., nggak apa-apa Ir.. Umurmu juga masih muda kok..”

“Jangan sedih Ir.. Nanti pasti bisa lebih baik..”

Tapi semua ucapan temanku itu tak dapat menghilangkan perasaanku yang kian tak menentu. Dalam perjalanan pulang saat ayah menjemputku, aku masih belum berani bercerita apapun. Namun ketika sampai di rumah, aku harus menyampaikan hal ini pada kedua orangtuaku. Dengan kepala yang menunduk, kuserahkan raporku pada mereka. Aku tak berani menatap wajah mereka karena takut melihat ekspresi kekecewaan mereka.

Di luar dugaan, ternyata ayah dan ibuku tidak marah. Malah mereka merasa bersalah karena selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kurang memperhatikan kekurangan dan kesulitanku dalam memahami pelajaran di sekolah. Malam itu mereka menghibur dan menyemangatiku. Ada beberapa kalimat motivasi dari ayahku yang sampai sekarang masih kuingat.

“Nggeguyu? Tak oyak..!” (Menertawakan/meremehkan? Aku kejar..!)

“Jangan menangis bila dihina. Cepat bangun bila jatuh”

Sejak itu ayah membelikan buku-buku yang bisa menunjang beberapa pelajaran yang tak kukuasai. Kadang-kadang ayah juga menjelaskan pelajaran yang belum kupahami. Karena mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuaku, semangat belajarku mulai menyala.

Aku berusaha dengan berbagai cara agar dapat menguasai tiga pelajaran yang sulit tadi. Untuk membantu dalam memahami pelajaran Matematika, aku membuat buku khusus catatan rumus Matematika. Sedangkan untuk pelajaran IPS dan PMP yang banyak hafalannya, aku mencatat nama-nama lembaga pemerintah dan tugasnya serta nama-nama lain yang selama ini sulit kuhafalkan.

Buku-buku catatan hasil rangkumanku itu selalu kubawa kemana-mana. Setiap saat kuluangkan waktuku untuk membaca, menghafal dan mempelajari semua materi yang sudah kutulis di dalamnya. Baik ketika jam istirahat di sekolah, sambil menunggu toko, seusai mengerjakan PR di rumah, atau saat malam hari menjelang tidur. Tentu saja aku tetap mempelajari pelajaran lain di sela waktuku agar semua pelajaran dapat kukuasai.

Perlahan tapi pasti aku mulai menguasai pelajaran-pelajaran tersebut. Dari hasil ulangan tampak jelas ada perbaikan nilai dari waktu ke waktu. Hingga saat menerima rapor kenaikan kelas, aku sudah bisa tersenyum lega. Alhamdulillah tidak ada lagi tinta merah di raporku. Beberapa nilai pelajaranku yang lain juga menunjukkan banyak peningkatan. Dan kini aku bisa naik ke kelas 5.. ! ๐Ÿ™‚ Kedua orangtuaku sangat gembira melihat kemajuanku.

“Selamat ya Fang.., Akhirnya Awang (nama panggilanku di rumah) berhasil membuktikan bahwa Awang juga bisa sepandai teman-teman yang lain,” kedua orangtuaku mengucapkan selamat dan menyalamiku sambil tersenyum.

“Terima kasih Papi atas bimbingan dan motivasinya. Terima kasih Mami atas doa dan dukungannya,” aku menyambut ucapan selamat mereka dengan mata berkaca-kaca karena terharu.

Setelah itu aku menjadi makin bersemangat dalam belajar, hingga pelajaran menjadi tak sesulit sebelumnya. Karena setiap kali kutemui kesulitan, aku tak ragu lagi bertanya pada ayahku. Ketika sampai di penghujung kelas 6 pada Catur Wulan terakhir, aku memperoleh nilai 7 pada pelajaran Matematika dan 8 pada pelajaran IPS dan PMP. Dan di bagian akhir raporku jelas tertulis: Lulus. Alhamdulillah ๐Ÿ™‚

Semangat, kegigihan dan ketekunanku dalam belajar membawa hasil yang positif karena tak hanya berhasil membawaku lulus SD dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga berhasil diterima di SMPN 2 Magelang (salah satu SMP favorit di kota Magelang) setelah mengikuti tes masuknya.

Kesuksesan demi kesuksesan dalam menempuh pendidikan di jenjang selanjutnyapun mulai datang menghampiriku. Seolah menebus kegagalanku dulu saat di kelas 4 SD. Ini semua tak lain adalah berkat doa dan dukungan kedua orangtuaku, serta usaha kerasku dalam menaklukkan pelajaran yang sebelumnya tak kupahami.

******

Setelah kurenungkan pengalaman hidupku ini, sesungguhnya ada beberapa hikmah dan pelajaran berharga yang tersimpan di dalamnya.

Membaiknya perjalanan hidupku ini ternyata justru bermula dari kegagalanku. Karena titik balik perubahan nasibku ini terjadi saat tinta merah mewarnai raporku.

Kini kupahami bahwa sebuah kegagalan dapat menjadi cambuk tuk raih keberhasilan. Bahwa di balik sebuah kejadian yang pahit itu kadang tersimpan rahasia dan kejutan manis dari Allah Swt.

Karena sejak raporku dipenuhi dengan tinta merah hingga tak naik kelas itulah kedua orangtuaku menjadi tersadarkan untuk lebih memperhatikan kekurangan dan kesulitanku dalam belajar. Sehingga mereka berusaha membantuku untuk mengatasi permasalahan yang sedang kuhadapi. Baik dengan cara mendoakan, memberi dukungan secara nyata maupun dalam bentuk motivasi sehingga berujung dengan kesuksesanku.

Munif Chatib, seorang permerhati pendidikan menyebutkan, sudut pandang psikologis menyatakan bahwa anak yang menerima cinta dan kasih sayang besar dari orangtua selama masa pertumbuhannya, ternyata lebih cerdas dan lebih sehat daripada anak usia dini yang tumbuh di sebuah asrama (panti) dan terpisah dari orangtuanya. 1)

Jika orangtua menyalakan tombol “on” dalam benak mereka bahwa anak adalah bintang, maka anak akan menjadi bintang. 2)

Hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian orangtua terbukti mempunyai pengaruh yang besar terhadap kecerdasan dan kesuksesan anaknya.

Selain itu kita tidak boleh berputus asa tatkala menghadapi kesulitan dan kegagalan dalam proses belajar kita. Karena sesulit apapun pelajaran, bila tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar, pasti keberhasilanlah yang akan kita raih nantinya.

Ada pepatah dari bahasa Arab di pelajaran Mahfudlat yang kuperoleh saat belajar di pesantren sebagai berikut:

“Man Jadda Wajada”

Artinya, “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, pasti ia akan berhasil.”

Seorang ulama salaf yang mempunyai nama asli Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah dan berasal dari Al-Asqalan juga dikenal dengan kisah motivasi belajarnya. Beliau mendapat julukan Ibn Hajar Al Asqalani karena mendapat inspirasi dan motivasi belajar setelah mengamati sebuah batu.

Kisah itu berawal saat beliau masih belajar di sebuah madrasah. Sebetulnya beliau terkenal sebagai murid yang rajin, namun selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan karena sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah membuatnya patah semangat.
Sehingga beliau minta izin kepada gurunya untuk meninggalkan madrasah.

Di tengah kegundahan hatinya, tiba-tiba hujan lebat turun. Sehingga beliau berteduh di dalam sebuah gua. Saat itu pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang sedikit demi sedikit jatuh menetes hingga melubangi sebuah batu.. Beliau takjub saat menyaksikannya. Ya Allah, ternyata tetesan air yang kecil itu karena menetes terus menerus sanggup melubangi sebuah batu yang besar dan keras.

Peristiwa tersebut menyadarkannya bahwa betapapun kerasnya sebuah batu, jika diasah secara terus menerus maka ia akan dapat menjadi lunak bahkan berlubang.. Begitupun otak manusia, seberat apapun dalam mempelajari suatu ilmu, bila diasah secara rutin, secara berproses, tentu akan menjadi lebih mudah dalam memahami ilmu tersebut.

Lalu Ibnu Hajar kembali ke madrasahnya dan menemui sang guru.Beliau menceritakan peristiwa yang telah disaksikannya itu. Melihat semangat belajarnya kembali menggebu, beliau diperkenankan lagi untuk belajar di madrasahnya. Karena semakin tekun dalam belajar, beliau berhasil menjadi ulama yang telah menghasilkan beberapa kitab yang terkenal.
(Sumber: http://dunia-sangmusafirdotblogspotdotcodotid/2010/09/ibnu-hajar-dan-batu-kisah-teladan-dan)

Dan yang terakhir, perlu diingat bahwa pencapaian angka/nilai yang kita peroleh selama proses belajar janganlah kita jadikan sebagai tujuan utama. Namun jadikanlah angka/nilai tersebut hanya sebagai pemacu semangat dalam belajar.

Karena tolok ukur kesuksesan dalam belajar adalah keberhasilan kita dalam mengaplikasikan ilmu yang telah kita peroleh sehingga dapat bermanfaat bagi sesama manusia. Dan itulah sebaik-baik manusia menurut Allah Swt.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:

ุนู† ุฌุงุจุฑ ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : ยซ ุงู„ู…ุคู…ู† ูŠุฃู„ู ูˆูŠุคู„ู ุŒ ูˆู„ุง ุฎูŠุฑ ููŠู…ู† ู„ุง ูŠุฃู„ู ุŒ ูˆู„ุง ูŠุคู„ูุŒ ูˆุฎูŠุฑ

ุงู„ู†ุงุณ ุฃู†ูุนู‡ู… ู„ู„ู†ุงุณ ยป

Diriwayatkan dari Jabir berkata,โ€Rasulullah saw bersabda,โ€™Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.โ€
(HR. Thabrani dan Daruquthni)
Hadits ini dishahihkan oleh al Albani didalam โ€œash Shahihahโ€ nya.
(Sumber: https://mdoteramuslimdotcom/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat)
* Referensi:
Buku “Orangtuanya Manusia – Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak”, penulis: Munif Chatib, penerbit: Mizan – Kaifa:

1) halaman 34

2) halaman 58

Perjalanan Masih Panjang

Standar

Dua tahun yang lalu, masih jelas teringat bagaimana sibuknya suasana pendaftaran ke SMA selepas Salma lulus dari SMPI Al Azhar 5 Cirebon.

Begitupun ketika kebimbangan melanda saat memilih 1 di antara 2 SMA yang masing-masing mempunyai sisi kelebihan. Yang satu termasuk SMA terfavorit di kota Cirebon. Dan yang satunya lagi mempunyai kelas CI/akselerasi yang mempunyai masa belajar hanya 2 tahun.

Tapi setelah 3 kali shalat istikharah, Salma malah semakin mantap memilih SMAN yang dikenal dengan kelas akselerasinya, yaitu SMAN 6 Cirebon. Meski kesempatan mengikuti OSN dan FLS2N hanya bisa 1x. Meski padatnya pelajaran kadang menyita waktu istirahat dan me timenya. Tapi dengan segala resiko yang harus dihadapinya itu, alhamdulillah Salma bisa bertahan sampai tibanya kelulusan pada hari ini.. ๐Ÿ™‚

Banyak cerita..baik suka maupun duka bersama teman dan guru. Semua itu mewarnai perjalanan belajar selama 2 tahun. Alhamdulillah, Salma mempunyai teman-teman yang baik, kompak dan rajin belajar. Sehingga memberi pengaruh yang baik pada sikap dan cara berpikir Salma.

Terima kasih kepada bapak KepSek sebelumnya (pak Mulia), ibu Kepsek yang baru (bu Etty) dan semua guru atas bimbingannya. Khususnya kepada bu Sri Wuryaningsih (Wali kelas CI), bu Susi, bu Dwiyani, bu Ina dan pak Daniel yang ketulusannya dalam memotivasi Salma dan teman-temannya sangat berkesan di hati kami. Semoga Allah Swt. membalas semua jasa dan kebaikannya. Aamiin..

Kepada semua guru..maafkanlah Salma dan teman-temannya bila selama belajar di sana ada hal yang kurang berkenan, baik dalam sikap maupun ucapannya. Semoga dengan berjalannya waktu, makin mendewasakan sikap anak-anak kami.

Alhamdulillah, di hari perpisahan ini, siswa-siswi SMAN 6 Cirebon lulus semuanya. Dan Salma berhasil meraih nilai UN terbaik kedua di sekolahnya.. Pencapaian yang sama seperti ketika lulus dari SMPI Al Azhar 5-Cirebon. Di tengah pro dan kontra UN, bagi kami semua pencapaian itu tak lebih hanya sebagai motivasi. 

Sebuah nilai hanyalah berupa angka tak berarti bila semat-mata hanya dipandang sebagai sebuah tujuan dalam belajar. Namun sebuah nilai akan menjadi bermakna ketika di dalamnya tersimpan perjuangan dan pengorbanan dalam prosesnya tuk mencapai harapan dan cita-cita dengan tetap berpegang pada prinsip kejujuran..

Sehingga anak-anak kami akan menjadi lebih mengerti bagaimana sakitnya kegagalan dan kekecewaan. Bagaimana kerasnya sebuah perjuangan tuk bangkit kembali setelah kegagalan. Bagaimana sebuah kejujuran dipertahankan. Dan bagaimana kuatnya keyakinan akan ikhtiar dan doa.

Setelah acara perpisahan hari ini, perjalanan yang panjang masih menanti. Perjuangan berikutnya masih menantang. Karena masih ada SBMPTN di pertengahan bulan ini yang tentu harus dipersiapkan baik-baik. 

Semoga anak-anak kami diberi kemudahan, kelancaran dan kesehatan sehingga tercapai semua harapan dan cita-citanya.. Ya Allah.. Goreskanlah takdir yang terbaik untuk dunia dan akhirat mereka.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Sistem Pendidikan Impian Anakkuย 

Standar

Akhirnya selesai juga rentetan ujian yang harus ditempuh oleh anakku dan semua siswa SMA/MA sebagai finalisasi masa belajarnya di sekolah. Aneka ujian itu berupa Uprak (Ujian Praktek), US (Ujian Sekolah), USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dan UN (Ujian Nasional).

Rasa lega tampak pada wajah anakku saat pulang ke rumah seusai mengikuti UN di hari terakhirnya. Meskipun masih tersisa keletihan dan kegalauan dari raut mukanya.

“Maa, sebetulnya sistem pendidikan di Indonesia ikut nyumbang budaya korupsi lho ma,” kata anakku sambil menaruh tas ranselnya.

“Lho, emang kenapa Salma..?” Aku merasa heran kok tiba-tiba anakku membicarakan tentang sistem pendidikan di Indonesia.

“Soalnya tadi saya dengar kabar soal-soal USBN-nya bocor maa..”

“Haah?! Masa sih Salma? Kok Salma tahu dari mana?” Aku terkejut mendengarnya.

“Ya pokoknya saya tahu deh maa..,” kata Salma dengan wajah yang kesal.

Aku makin terkejut dan tak percaya mendengar cerita anakku.

Tapi ketika membaca beberapa berita tentang tersiarnya kabar adanya kebocoran soal USBN di beberapa daerah di Indonesia, aku menjadi makin percaya.

Jadi diduga pelaku yang membocorkan soal USBN itu adalah beberapa bimbel. (Sumber berita: pikiran-rakyatdotcom)

Selain itu ada juga dugaan terjadinya kebocoran soal USBN melalui Whatsapp dan Google. (Sumber berita: pikiran-rakyatdotcom)

Dan yang lebih menyedihkan lagi ada berita tentang seorang siswi SMK yang bunuh diri dengan menenggak racun rumput karena merasa terintimidasi oleh 3 orang gurunya setelah dia mengungkap perilaku guru yang membocorkan soal USBN ke beberapa muridnya di media sosial. (Sumber berita: daerahdotsindonewsdotcom)

Aku bisa memahami kekesalan anakku. Karena bila dugaan kecurangan itu benar, tentu sangat merugikan anak-anak yang sudah jujur dan belajar baik-baik dalam menempuh USBN kemarin.

“Kalau pas UN kemarin ada masalah nggak Salma?” Aku penasaran lagi karena khawatir barangkali ada kabar kecurangan lagi selama UN berlangsung kemarin.

“Nggak tahu ma.. Setahu saya sih belum ada kabar kebocoran soal lagi.Tapi selesai UN Fisika kemarin banyak yang mengeluh. Habis soal-soalnya sulit. Saya sendiri merasa kesulitan ma… Bahkan ada temen saya yang nangis. Kata guru Fisika saya, itu jenis soalnya untuk Kurikulum 2013. Padahal di sekolah saya kan masih pakai KTSP. Tapi ada juga yang bilang jenis soalnya kayak soal-soal SBMPTN maa..,” cerita anakku dengan wajah yang lesu.

“Hmm… gitu ya Salma??” Aku menanggapi cerita anakku sambil mengerutkan dahi karena jadi ikut memikirkan persoalan mereka.

“Makanya kalau menurut saya, USBN sama UN itu nggak perlu diadakan maa..,” ujar Salma sambil duduk merenung.

“Lha nanti gimana dong cara menguji kemampuan siswa untuk menentukan kelulusannya?” Aku mencoba memancing pendapat anakku.

“Ya harus dibenahi dari akarnya (sistem pendidikannya) dulu. Kalau yang sudah telanjur kayak saya dan siswa SMP atau SMA sekarang ya terpaksa harus ngikutin sistem pendidikan yang sudah ada ini dulu. Tapi mulai siswa SD, bisa diterapin pembagian kelas yang sesuai potensi siswa,” Salma mulai mengeluarkan pendapatnya.

“Maksudnya gimana Salma?” aku makin penasaran.

“Jadi gini ma.. Pas mulai kelas 1 sampai 3 SD , anak-anak boleh deh dikasih semua mata pelajaran, yang secara garis besar ada pelajaran agama, eksak, sosial, IT, bahasa, seni, olah raga dan budi pekerti. Terus diberi pilihan ekskul sesuai minatnya. Nah nanti pas mulai kelas 4, anak-anak mulai dibagi kelasnya sesuai potensi yang bisa dilihat selama 3 tahun di SD tadi ma..,” Salma menjelaskan.

“Wah, berarti nanti harus ada beberapa guru kelas khusus yang masing-masing menguasai setiap bidang/ materi pelajaran tadi ya Salma?”

“Iya dong ma.. Jadi nanti langsung dibagi menjadi beberapa kelas sesuai potensi anak.. Misal ada kelas eksak (khusus belajar matematika dan IPA), kelas sosial (khusus belajar PKN dan IPS), kelas IT (khusus belajar komputer dan sistem informatika, secara teori dan praktek), kelas bahasa (khusus belajar bahasa Indonesia, bahasa daerah sesuai tempat tinggalnya dan bahasa asing. Bisa bahasa Inggris, Arab, Jepang, China atau Jerman), kelas seni (khusus belajar seni rupa,desain dan musik, secara teori dan praktek), kelas olah raga (khusus belajar aneka olahraga secara teori dan praktek). Tapi di semua kelas itu mendapat pelajaran wajib, yaitu agama dan budi pekerti ma..”

“Wow.. Bagus juga usulan Salma.. Terus nanti buat ujian untuk kelulusan dan untuk masuk ke SMP-nya gimana?”

“Ya nanti ujiannya sesuai kelas/potensi mereka masing-masing ma.. Jadi nanti untuk SMP dan SMA nya juga harus disiapkan pembagian kelasnya seperti yang di SD tadi supaya tinggal melanjutkan. Nah nanti pas mau lanjut kuliah kan jadi lebih gampang milih program studi yang cocok dengan minat dan bakat/potensinya Karena dari kelas 4 SD kan anak-anak sudah dibagi dan diasah sesuai potensinya. Kalau gitu cara belajar dan ujiannya di sekolah enak ma.. Nggak bakalan memberatkan anak karena sesuai potensinya masing-masing.”

“Hmm, idenya boleh juga nih Salma.. Tapi harus diuji coba dulu. Dan kalau cocok, sistem pendidikan yang sudah ada sekarang ini berarti harus dirombak habis dong.. Hmm jadi nanti nggak perlu ada USBN dan UN lagi ya Salma? Tapi standar pendidikan secara nasionalnya gimana?”

“Nggak perlu ada USBN dan UN lagilah ma.. Karena kan guru-guru sudah bisa langsung menilai potensi anak di setiap kelasnya dengan ujian yang cukup diadakan oleh sekolah masing-masing. Kalau untuk melihat standar pendidikan masing-masing sekolah, itu tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat yang nanti kerjasama dengan kota/ daerah dalam menyusun standar pendidikan yang harus dicapai. Nah setiap bulan Dinas Pendidikan di setiap kota atau daerah harus aktif memantau perkembangan potensi guru dan siswa di setiap kota dan daerah.”

“Wah… Jangan-jangan beberapa tahun mendatang Salma jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nih..”

Salma hanya tersenyum tersipu-sipu mendengarnya. ๐Ÿ˜€

Dalam hati aku merasa senang karena Salma berani menyatakan ide dan pendapatnya tentang sistem pendidikan baru yang mungkin bisa menjadi solusi terhadap beban berat yang selama ini sering dikeluhkan oleh para siswa di Indonesia. Hingga berakibat banyaknya kasus yang muncul, seperti bocornya soal USBN/UN, paniknya para siswa dalam menghadapi USBN/UN sampai stress bahkan bunuh diri, terjadinya tindak kecurangan baik oleh oknum siswa, guru dan bimbel.

Sebetulnya sistem pendidikan yang menjadi impian anakku itu hampir sama dengan apa yang pernah kubaca dalam sebuah buku yang berjudul “Sekolah Anak-Anak Juara – Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan”.

Buku yang ditulis oleh Munif Chatib dan Alamsyah Said itu menggugat sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung membebani siswa dengan padatnya materi pelajaran dan tidak adil dalam menilai potensi anak. Jadi seharusnya sekolah itu menghargai dan memfasilitasi keanekaragaman kecerdasan setiap anak.

Karena sesungguhnya setiap manusia mempunyai 3 macam kemampuan, yaitu:

1. Kemampuan Psikoafektif, yaitu suatu kemampuan berperilaku baik dalam berinteraksi dengan diri dan lingkungannya.

2. Kemampuan Psikomotorik, yaitu kemampuan seseorang dalam menampilkan dirinya atau berkreasi

3. Kemampuan Psikokognitif, yaitu kemampuan olah pikir sesorang dalam mengenali, menganalisa hingga menyelesaikan suatu masalah. 1)

Di samping itu, setiap manusia pada dasarnya dikaruniai kecerdasan oleh Sang Pencipta. Dan otak manusia itu kompleks. Menurut Howard Gardner, seorang ahli saraf di Universitas Harvard, setelah melalui kajian ilmiah psikologi dan berdasar fakta empiris, kecerdasan itu dapat diklasifikasi. Sehingga pada tahun 1999, melalui karya intelektualnya yang berjudul “Intelligence Reframed” dinyatakan bahwa otak manusia menyimpan 9 jenis kecerdasan yang disepakati dan selebihnya masih misteri, yaitu:

1. Kecerdasan Linguistik (Cerdas Bahasa)

2. Kecerdasan Logis Matematis (Cerdas Angka)

3. Kecerdasan Spasial (Cerdas Ruang /Gambar)

4. Kecerdasan Kinestetis (Cerdas Olah Tubuh)

5. Kecerdasan Musik (Cerdas Musik)

6. Kecerdasan Interpersonal (Cerdas Bergaul)

7. Kecerdasan Intrapersonal (Cerdas Diri)

8. Kecerdasan Naturalis (Cerdas Alam)

9. Kecerdasan Eksistensialis(Cerdas Spiritual)

2)

Sehingga seharusnya yang dinamakan sekolah unggulan itu adalah sekolah yang menerima murid dengan segala jenis kecerdasan dan kondisi, dengan proses pendidikan menekankan pada the best process learning dan sistem pengajaran menggunakan strategi multiple intelligences, menerapkan penilaian autentik, melakukan proses konsultasi lesson plan, serta observasi dengan pengawasan yang ketat oleh pengawas (supervisor atau observer). 3)

Maka, setelah mempelajari berbagai persoalan dan rujukan di atas tadi akhirnya bisa disimpulkan bahwa USBN maupun UN sebaiknya dihapuskan saja. Beberapa kondisi di bawah ini di antaranya yang turut menjadi bahan pertimbangan:

1. Melihat kondisi yang terjadi saat pelaksanaan USBN kemarin banyak siswa yang panik, khususnya yang jurusan/minatnya pada pelajaran IPA, karena harus mempelajari materi IPS, seperti Sejarah dan PPKN dari kelas awal. Sedangkan siswa dengan minat pada pelajaran IPS merasa kesulitan ketika harus berhadapan dengan UN yang memuat pelajaran Matematika atau IPA.

2. Penilaian atas potensi akademik siswa tidak bisa hanya dilihat berdasarkan mata pelajaran yang diujikan pada saat USBN dan UN. Karena pada dasarnya setiap anak mempunyai potensi yang berbeda-beda. Ada yang cerdas pada pelajaran eksak seperti Matematika dan IPA. Ada yang pintar pada pelajaran IPS. Ada yang berbakat di pelajaran Olah Raga, dan ada juga yang mahir pada pelajaran Kesenian. Sehingga tidak adil bila nilai USBN dan UN dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa.

3. Sistem penilaian untuk menentukan kelulusan siswa sebaiknya dilihat berdasarkan proses dan perkembangan belajar siswa setiap semesternya selama bersekolah, potensi/ prestasi akademik dan non akademik yang dimiliki siswa, serta sikap/budi pekerti siswa. Dalam hal ini memang sangat dibutuhkan keterlibatan yang sepenuhnya dari guru-guru dalam memantau perkembangan para siswanya.

Sebagai tambahan, demi tercapainya proses dan hasil belajar yang diharapkan, maka:

1. Sebaiknya ada kerjasama yang baik antara guru, siswa dan orangtuanya dalam proses belajar di sekolah maupun di rumah. Tujuannya agar bisa membantu setiap siswa dalam memahami semua pelajaran yang diberikan di sekolah. Sehingga semua siswa memiliki perkembangan yang baik dalam proses belajarnya

2. Selain itu perlu dipertimbangkan juga agar jam belajar siswa di sekolah tidak terlalu lama dan tidak membebani siswa dengan PR. Idealnya siswa masuk sekolah jam 07.30 dan pulangnya jam 13.30. Sehingga siswa mendapat kesempatan untuk menambah ilmu dan pengalaman di luar sekolahnya, di samping dapat beristirahat dan mempunyai waktu yang cukup bersama kedua orangtua/saudaranya di rumah.

3. Sekolah sebaiknya memfasilitasi siswa yang mempunyai minat dan bakat agar bisa tersalurkan dengan baik. Sehingga dengan minat dan bakat yang terasah akan memudahkan siswa dalam menentukan jurusan pada saat akan kuliah nanti setelah lulus SMA. Bagi siswa yang ingin langsung bekerja, mereka telah memiliki bekal yang memadai dari minat dan bakat yang telah diasahnya tadi.

Semoga pemerintah secara berproses dapat membenahi sistem pendidikan di Indonesia agar lebih adil dan manusiawi. Sehingga semua siswa menjadi lebih senang bersekolah dan semangat dalam belajarnya. Karena memang tak dapat dipungkiri bahwa siapapun pasti akan lebih enjoy dan semangat dalam belajar maupun bekerja bila sesuai dengan minat (passion) dan bakatnya.. ๐Ÿ™‚

Rujukan:

Buku “Sekolah Anak-Anak Juara – Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan” yang ditulis oleh Munif Chatib dan Alamsyah Said (Penerbit: Mizan – Kaifa Learning):

1) halaman 8-9

2) halaman 79-80

3) halaman 134-135

(Sumber gambar: buku “Sekolah Anak-Anak Juara – Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan” – Penulis: Munif Chatib dan Alamsyah Said – Penerbit: Mizan -Kaifa)

Kado Pernikahan Terindah

Standar

Berlangsungnya pernikahan di usiaku yang sudah memasuki awal 30 tahun ini serasa menghapuskan kegalauanku dalam penantian panjang selama ini.

Semua pertanyaan saudara, teman dan relasi tentang kapan aku menikah menjadi impas terjawab dengan pernikahanku ini. Alhamdulillah.. Allah Yang Maha Penyayang telah memberikan jodoh yang terbaik di saat yang tepat.

Setelah pernikahan, tentu saja kami ingin segera mempunyai anak. Selain naluriku sebagai wanita normal, usiaku yang terus bertambah menjadi alasan kuatku untuk segera menimang anak. Tapi kehamilan yang kutunggu-tunggu malah tak kunjung.

Sehingga setiap bulan, siklus bulanan yang normal datang malah menjadi hal yang mengecewakanku karena itu berarti kehamilan belum terjadi.

Apalagi ketika aku mulai diteror dengan pertanyaan: “Sudah hamil belum? Kok lama nggak hamil-hamil? Kalau dulu saya nikah langsung hamil lho..”

Duh, terus terang aku merasa tidak nyaman dengan semua pertanyaan itu. Siapa sih yang nggak pengin cepat hamil? Tapi itu kan bukan kuasa kami.

Aku sampai pernah menangis ketika ada salah seorang teman yang entah disadari atau tidak serasa menyindirku dengan menceritakan tentang seorang wanita di desanya yang hidupnya menderita dan kesepian karena sampai tua tidak punya anak. Aku khawatir bila mengalami keadaan yang seperti itu juga.

Dalam keresahanku karena tak kunjung hamil hingga memasuki tahun kedua pernikahan, ikhtiar dan doa tiada henti tetap kami lakukan.

Ada teman yang menyarankanku untuk mengasuh dan merawat anak kecil supaya bisa memancing kehamilan. Kebetulan ada TK yang membutuhkan tenaga pengajar sukarela. Akupun langsung bergabung di sana.

Selain itu, aku dan suamiku juga berkonsultasi ke beberapa dokter kandungan di kota lain seperti di Bandung dan Magelang. Pemeriksaan dengan cara USG, HSG hingga pemeriksaan darah juga sudah kulakoni. Hasilnya, tidak ada masalah apapun pada organ reproduksi kami. Hanya saja virus Toksoplasma yang ternyata bercokol di tubuhku.

Setelah diterapi dengan obat seperti Spiradan dan yang sejenisnya, alhamdulillah pada pemeriksaan berikutnya menunjukkan bahwa virus tersebut sudah tak aktif lagi. Aku kembali optimis. Tapi bulan demi bulan berlalu, dan aku masih belum kunjung hamil juga.. ๐Ÿ˜ฆ

Melalui informasi salah seorang teman, aku mencoba pengobatan alternatif dengan cara dipijit/diurut di Mak Taranah yang tinggalnya tak jauh dari rumah kami. Tiga kali aku datang ke sana.

Bulan berikutnya ketika sikus bulananku tak datang, aku mencoba tes urin. Tapi hasilnya mengecewakan, karena ternyata negatif. Karena masih belum haid juga, 8 hari kemudian aku tes urin lagi. Dag dig dug rasanya hati ini. Harap harap cemas.. Ketika 2 garis tampak jelas terlihat pada test pack, hatiku memekik gembira.. Alhamdulillah..! Segera kusampaikan berita gembira ini pada suamiku. Betapa bahagianya hati kami saat itu. Kami langsung bersujud sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih atas dikabulkannya doa kami.

Untuk lebih memastikan kehamilanku, 3 hari kemudian aku periksa ke dokter kandungan. Dan berdasar pemeriksaan USG, memang betul sudah ada janin berusia 5 minggu di rahimku. Alhamdulillah.. ๐Ÿ™‚

Sejak itu, susu khusus untuk ibu hamil dan vitamin rutin kukonsumsi selain yang telah diberikan oleh dokter. Kehamilan yang sudah lama kutunggu-tunggu ini akan kujaga baik-baik. Ayat suci Al Qur’an dan musik klasik sering kuperdengarkan di perutku dengan harapan bisa menstimulasi janinku
ini nanti agar kelak menjadi anak cerdas dan shaleh/ah.

Hingga kehamilanku memasuki bulan ke 7, aku tetap rutin kontrol ke dokter kandunganku. Dari hasil pemeriksaan setiap bulannya, semuanya baik dan normal, tidak ada masalah apapun. Namun ketika kehamilanku memasuki bulan ke 8, ambeien yang sebelumnya tak pernah kuderita tiba-tiba datang mengganggu. Bahkan sampai berdarah hingga harus selalu kukompres dengan air hangat.

Sungguh kondisi itu sangat menyiksaku. Di saat kandunganku semakin besar dan berat, aku malah tidak bisa duduk seperti biasa. Tanganku harus menahan beratnya tubuhku yang harus duduk miring.

Ketika konsultasi ke dokter, aku disarankan untuk operasi ambeien. Tentu saja aku tak mau mengambil resiko karena usia kandunganku yang sudah hampir 9 bulan ini. Aku tak ingin terjadi sesuatu hal yang bisa membahayakan bayi yang sedang kukandung ini. Akhirnya dokter mengizinkanku untuk tidak melakukan operasi. Tapi dengan catatan..aku harus kuat ketika nanti melahirkan karena dengan kondisi masih ada ambeien.

Suasana hatiku menjadi tak keruan. Aku tak mengerti mengapa begitu berat cobaan yang harus kuhadapi hanya untuk mendapatkan anak dari rahimku sendiri.

“Ya Allah, apa dosaku? Mengapa Engkau uji diriku ini dengan begitu banyak masalah? Padahal aku hanya ingin punya anak? Mengapa para pezina itu malah begitu mudahnya hamil dan melahirkan? Sedangkan aku??” Aku menangis dalam kemarahanku.

“Sudahlah Ir, istighfar saja. Berdoa saja.. semoga nanti diberi kelancaran dan keselamatan saat melahirkan,” suamiku mencoba menenangkanku.

“Astaghfirullah… Ampuni kekhilafan hamba-Mu ini ya Allah..,” sambil menangis aku memohon ampun pada-Nya atas kekesalanku tadi.

Suatu malam saat terbangun untuk ke kamar kecil, aku melihat segores darah. Karena merasa bahwa itu salah satu tanda akan melahirkan, aku segera membangunkan adik laki-lakiku yang kebetulan sedang menginap di rumahku. Suamiku sedang berada di Jawa Timur dalam rangka tugas kantornya.

Setelah cukup lama mengetuk pintu rumah saudara suamiku yang ada di sebelah rumahku, akhirnya adikku berhasil minta tolong supirnya untuk mengantarku ke rumah bersalin. Bidan dan perawat langsung bergerak cepat memeriksaku kandunganku.

Ternyata benar, aku sudah masuk bukaan rahim 2 cm dari proses melahirkanku. Isi perutku juga dibersihkan melalui selang. Saat itu aku merasa kesakitan. Apalagi ada ambeien. Sampai aku tidak mau makan dan minum lagi karena takut dibersihkan lagi dengan cara seperti itu.

Suamiku, orangtuaku yang di Magelang, adik perempuanku dan saudara-saudara suamiku yang di kota Cirebon sebagian telah dihubungi oleh adik lelakiku. Sehingga keesokan paginya mereka berdatangan untuk menemaniku secara bergantian. Hanya suamiku yang belum datang.

Bukaan rahimku terus berjalan cepat hingga mencapai 7 cm. Saat itu aku berharap siang ini aku sudah bisa melahirkan. Tapi ketika perutku sudah mulai mulas, bukaan rahim malah terhenti. Sampai perawat memberiku obat yang mempercepat proses mulas dan melahirkan. Tapi yang ada hanya perutku yang makin mulas luar biasa. Sampai keringatku bercucuran menahan sakit. Bantal yang kupakaipun harus 2 kali diganti karena basah oleh keringatku. Dan darah makin banyak mengalir dari rahimku.

Akhirnya ketika rasa mulas makin memuncak, perawat membawaku ke ruang bersalin. Aku disuruh mengejan dan mengangkat kedua kakiku dengan tangan untuk membantu proses bersalin. Tapi aneh.., aku seperti tidak punya tenaga untuk mengejan. Rasanya lemah sekali. Bahkan kaki dan tanganku gemetar.Saat itu baru teringat bahwa sejak kemarin malam aku tidak mau makan dan minum karena takut dibersihkan isi perutnya pakai selang lagi. Pantas, aku seperti tidak punya tenaga.

Dokter dan perawat terus memberi semangat agar aku kuat mengejan. Tapi kulihat dokter malah menggeleng-gelengkan kepalanya karena usahaku masih belum cukup kuat mendorong bayiku keluar dari rahimku. Akhirnya kudengar suara dokter berkata,”Ya sudah.. Apa boleh buat.. Terpaksa harus divakum,”

“Ooh… Tidaaak..!! Jangan divakum dokter.. !!” pintaku pada dokter.

Aku pernah membaca sebuah kisah nyata tentang seorang anak yang ketika lahir divakum. Dalam perkembangannya, anak itu sering bermasalah dalam hal kecerdasan dan otaknya. Aku tak ingin hal itu terjadi pada anakku.

“Tenang bu, ini vakumnya tidak berbahaya. Justru lebih berbahaya kalau bayinya terlalu lama begini bu.. Karena bisa kehabisan oksigen,” kata dokter menjelaskan.

Terpaksa aku menyerah dengan keputusan dokter karena tidak ada pilihan lain. Dalam waktu singkat bayiku bisa terdorong keluar dari rahimku dengan dibantu alat vakum. Beberapa perawat ikut membantu mendorong perutku saat proses persalinan tadi. Aku hanya bisa mengejan dengan sisa kekuatan yang kumiliki.

Alhamdulillah, tengah malam di tanggal 16 November 2000 lahirlah putriku yang cantik. Putri yang telah kutunggu-tunggu kehadirannya setelah akad nikah kami 3 tahun yang lalu pada tanggal yang sama. Maka bagi kami, kehadiran putri kami ini adalah kado pernikahan yang terindah dari Allah Swt. Sehingga kami memberi nama putri kami Salma Fedora. Artinya pemberian Tuhan yang selamat dalam Islam.

Suamiku yang baru datang dari Jawa Timur juga langsung mengadzani di kedua telinga putriku. Kedua orangtuaku, adikku ,semua saudara dan teman juga ikut berbahagia dengan lahirnya putriku.

Kami akan selalu menjaga dan merawat kado dan amanah dari Allah Swt. ini. Tahun ini putriku akan memasuki usianya yang ke 17 tahun dan mulai kuliah. Alhamdulillah, semua kekhawatiranku dari efek buruk divakum saat melahirkan itu tak terjadi. Malah putriku tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sehat. Alhamdulillah.. Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu yang terindah ini. Goreskanlah selalu takdir yang baik untuk putriku.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..