Monthly Archives: Juni 2017

Bandung, Urang Dongkap.. *) (2)

Standar

Sesuai rencana sebelumnya, pada Lebaran hari kedua ini kami akan berangkat ke Bandung lagi dengan tujuan mencari kost untuk Salma. Tapi kali ini suamiku tidak ikut ke Bandung, karena baru saja sembuh dari sakitnya. Selain itu, karena sore/malam ini ibu, adik laki-laki dan keponakan kembarku akan datang dari Magelang. Sehingga suamiku harus stand by di rumah.

Kebetulan pak Jefry salah seorang tetangga di perumahan tempat tinggal kami, mempunyai usaha layanan Grab Car. Sehingga suamiku meminta bantuan agar pagi ini bisa mengantarku ke Bandung bersama Salma. 

Tepat jam 8 pagi pak Jefry dengan Grab Carnya sudah datang dan menunggu di depan rumah kami. Istrinya (namanya bu Ummu) juga akan ikut mendampinginya dalam perjalanan. Ternyata mereka memang hampir selalu pergi berdua saat ke luar kota karena kebetulan mereka juga belum dikarunia putra/putri. 

Menjelang jam setengah 9 kami berangkat ke Bandung. Hati-hati di rumah ya suamiku tersayang.. Semoga sehat dan baik-baik saja di rumah.. Aamiin.. 

Alhamdulillah, perjalanan ke arah Bandung lancar. Berbeda dengan perjalanan yang ke arah sebaliknya. Arus mudik Lebaran masih tampak ramai. Mungkin karena masih Lebaran hari kedua.

Walaupun baru saling mengenal, dalam perjalanan kami bisa mengobrol dengan akrab. Ternyata pak Jefry dan istrinya orangnya seru dan asyik diajak ngobrol. Sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang banyak hal. Dari membahas tentang pemilihan ketua RT, masalah politik di Indonesia, hingga cara mendidik anak ala orangtua jaman dulu.

Yang paling menarik adalah pembahasan tentang cara mendidik anak ala orangtua jaman dulu. Menurut pak Jefry, meskipun mempunyai anak yang banyak, orangtua jaman dulu rata-rata sukses mendidik anak-anaknya. Sukses di sini tak hanya secara akademisnya, tapi juga dalam hal pembentukan karakter yang baik.

Seperti yang kita saksikan di jaman sekarang ini, memang banyak anak yang sukses sekolahnya. Banyak anak pintar. Tapi sayang sebagian dari mereka tak mengimbangi kepintarannya dengan moral dan etika yang baik karena karakter mereka yang mungkin masih kurang terbentuk dengan baik.

Kunci pembentukan karakter yang baik ini terletak pada pola pengasuhan orangtua sejak di rumah. Selanjutnya ketika anak sudah mulai bersekolah, orangtua bekerjasama dengan guru dalam membimbing dan mendidik anak. Supaya gempuran pengaruh negatif dari lingkungan sekitar dan dunia maya tidak mengotori jiwa dan karakter anak.

Berdasar pengamatan, cara mendidik anak jaman dulu banyak yang berhasil karena orangtua menerapkan pola kebiasaan sehari-hari yang tertib dan disiplin tapi diimbangi dengan pendekatan yang baik dan penuh kasih sayang ke anak.

Menurut pak Jefry, memang tak cukup bila hanya mendidik anak jadi pintar, tapi juga harus dibiasakan tertib dan disiplin. Bila kita pikirkan, yah, memang benar juga yaa.. Karena tanpa kebiasaan yang tertib dan disiplin, seseorang yang pintarpun bisa terancam kegagalan.

Terbukti ada beberapa anak yang pintar dan jalan kesuksesannya sudah terbuka lebar, terpaksa harus menelan pil pahit kegagalan hanya karena keterlambatan hadir, kurang bisa mengelola waktu, tidak bisa mengutamakan mana yang harus mereka prioritaskan terlebih dahulu dan kurang teliti menangkap peluang kesuksesannya.

Menyimak semua obrolan, khususnya tentang pendidikan anak tadi membuat kami merenung. Ini semua menjadi PR bagi kami supaya dapat memperbaiki pola mendidik anak yang salah/kurang dan melanjutkan yang sudah benar.

Ketika melewati rest area, kami mampir sebentar untuk sarapan dan ke toilet. Obrolan ringan di antara kami masih berlanjut. Malah makin seru. Apalagi ketika bu Ummu membagikan kue nastar buatan ibu mertuanya (ibunya pak Jefry). Tekstur kuenya lembut dan lezat, selai nanasnya banyak dan manis.. Kalau nggak malu, bisa-bisa satu stoples kuenya kuhabiskan nih.. ๐Ÿ˜€

Tak terasa kami sudah mulai memasuki kota Bandung saat petunjuk arah bertuliskan Pasteur terlihat di sisi jalan bagian atas. Dengan bantuan GPS, pak Jefry dengan dibantu istrinya mulai mencari jalan yang terdekat menuju ke arah Cisitu. Sebelumnya aku memang sudah sempat mencari lokasi kost terdekat dengan ITB melalui info dari grup atau dari google.

Lokasi kost yang sudah kami kunjungi sebelumnya adalah daerah Pelesiran dan Tubagus Ismail. Nah, sekarang kami mencoba menyusuri daerah Cisitu. Kebetulan saat saudara kami datang pada Lebaran hari pertama kemarin, kami mendapatkan info kost di daerah Cisitu. Lalu dari hasil searching di google, ada satu tempat kost di daerah Cisitu yang tampaknya sesuai untuk Salma nanti. Karena selain dekat dengan kampus, ibu kostnya juga tinggal di situ.

Aku juga sudah sempat menghubunginya. Sayang saat ini katanya kamarnya sudah terisi semua. ๐Ÿ˜ฆ Jadi bila berminat ya masuk waiting list. Meskipun begitu, kami tetap akan mencari kost tersebut. Selain untuk melihat kondisi dan lingkungannya, juga untuk mencari kost putri lain di daerah tersebut.

Suasana rindang pepohonan mulai tampak saat kami memasuki daerah Taman Sari dan melewati Kebun Binatang Bandung yang lokasinya berdekatan dengan kampus ITB. Mobil terus berjalan mengikuti panduan GPS menuju ke alamat kost tersebut.

Jalan yang kami lalui mulai berkontur seperti di daerah pegunungan. Lalu kami memasuki semacam perumahan yang mayoritas rumahnya berupa rumah kost. Terlihat dari keterangan yang tertulis di depan rumahnya. Tapi ada juga rumah kost yang diberi nama, seperti Puri Dewi, 2 Bro dan lain-lain. Pak Jefry kemudian memarkir mobil di dekat rumah-rumah kost itu..  Dan kami berjalan menyusuri rumah-rumah kost tersebut.

Sebagian rumah kost yang kami datangi pintu gerbangnya masih digembok rapat. Bel rumah yang ada di dekat pintu gerbangnya sudah kami pencet, salam sudah kami serukan. Tapi tak ada tanggapan. Mungkin pemilik kost dan mahasiswa/i nya masih mudik/liburan ya?

Beberapa kost ternyata sudah penuh setelah kami masuk dan tanya langsung ke penjaga kostnya. Sebagian ada yang memasang keterangan “Kost sudah penuh” di depan rumahnya. Kalaupun ada yang kosong ternyata kost putra atau campur.

“Haduuh.. masih ada kost putri yang kosong untuk Salma nggak ya?” Aku mulai khawatir. Memang kami termasuk agak terlambat dalam mencari kost. Seharusnya begitu mendapat kepastian Salma lulus saat pengumuman SBMPTN kemarin, besoknya kami langsung ke Bandung mencari kost. Tapi saat itu aku memang sedang berada di Magelang sehingga baru bisa saat-saat sekarang inilah untuk mencari kostnya.

Bagaimanapun kami tetap terus berusaha mencari kost lagi dengan teliti di sekitar rumah di jalan Cisitu Indah itu. Sebuah rumah berlantai dua menarik perhatian kami. Kami mencoba membuka pintu gerbangnya. Wah, ternyata digembok juga. Beberapa saat kemudian seorang pemuda membukakan pintu gerbangnya.

Kami langsung bertanya pada pemuda tersebut, “Apakah masih ada kamar kosong?”

Pemuda yang ternyata adalah penjaga kost itu menyampaikan bahwa semua kamarnya sudah penuh. Tapi di bulan Agustus ada 1 kamar yang kosong karena penghuninya mau pindah. Alhamdulillah.. ๐Ÿ™‚

Lalu kami diizinkan untuk melihat-lihat bagian dalam ruangan kost dan kamar-kamarnya. Kamar yang kosong ada di lantai 2 dekat dapur. Kamar mandinya masing-masing ada di setiap kamar. Ada fasilitas cuci baju (sehari 2 stel). Secara keseluruhan kami merasa cocok karena bersih, nyaman dan yang terpenting ibu kostnya juga tinggal di kost tersebut (di lantai 1 dekat ruang tamu).

Tapi saat ini ibu kostnya sedang ke Jakarta. Sehingga kami belum bisa bertemu langsung dengannya. Ada foto-foto keluarga ibu kost yang dipajang di dekat kamar tempat tinggalnya. Di dekat ruang tamu ada tempat khusus untuk shalat. Di depannya ada rak buku yang kulihat mayoritas adalah buku-buku agama Islam.

Satu hal lagi yang membuatku merasa cocok dengan kost ini adalah adanya peraturan yang ketat dalam hal jam kunjungan dan keluar kost, serta larangan keras membawa tamu lelaki ke dalam kamar. Hal ini sangat penting menurutku karena mengingat pergaulan remaja sekarang yang kadang kurang terkontrol. 

Memang.., perbuatan maksiat dapat dilakukan di manapun, kapanpun dan dengan siapapun. Tapi sebagai orangtua, kita bertanggungjawab untuk mencarikan lingkungan yang baik dan aman untuk anak. Di samping menanamkan aqidah yang kokoh dan akhlak yang baik kepada anak. Agar anak mampu membentengi dirinya dari perbuatan terlarang di manapun berada karena takut kepada Allah Swt.

Karena hari masih pagi, kami memutuskan untuk melihat-lihat kost lain sebagai pembanding. Terutama ke tempat kost yang menjadi tujuan awalku. Tapi sebelumnya kami berpesan kepada penjaga kostnya agar kamar yang tinggal satu tadi supaya tidak diberikan ke orang lain terlebih dahulu. Sebuah gang yang jalannya tidak terlalu kecil kami masuki. Belum lama kami berjalan, kost yang kami tuju sudah kami temukan.

Sebuah bangunan bertingkat seperti yang kulihat di internet. Di depan ada seorang bapak penjaga kost yang sedang mengangkat baju dari jemuran. Kami langsung menanyakan tentang keberadaan kamar kostnya. Memang benar kamar kostnya sudah penuh semua, seperti yang telah disampaikan oleh ibu kostnya melalui komunikasi di WA beberapa hari yang lalu denganku.

Sekarang ibu kostnya pun sedang tidak ada di tempat. Tapi oleh bapak penjaga kost tadi kami dipersilakan untuk melihat-lihat ruangan bagian dalamnya. Kulihat penataan ruang makannya cukup menarik. Sekilas seperti cafe dengan jendela kaca yang lebar dan menghadap ke luar.

Hanya sayang jarak antara kamar yang berhadapan (lorongnya) sempit sekali sehingga terkesan sumpek. Kami tak bisa mengecek bagian dalam kamarnya karena tidak ada kamar yang kosong. Tapi secara sekilas, kami merasa kurang sreg. Rasanya kami lebih suka kost yang ada tempat shalat dekat ruang tamunya tadi. Lebih lega dan nyaman.

Lalu kami mencoba survey lagi ke tempat kost yang letaknya berada di sebelah persis rumah kost yang baru saja kami kunjungi tadi. Bangunannya lebih megah, tapi terasa gersang. Kami sempat mengetuk pintunya beberapa kali tapi belum juga dibuka. Lalu pak Jefry mencoba menghubungi nomor HP yang tercantum di depan pintu. Ternyata berdasar informasi, kost tersebut untuk putra dan putri, tapi ruangannya terpisah dan masing-masing mempunyai pintu masuk yang berbeda.

Karena merasa tidak sesuai di hati, kami tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan kost tersebut. Setelah melihat berbagai macam tempat kost, hati kami malah semakin mantap untuk memilih kost sebelumnya yang tinggal satu kamar. Sehingga kami langsung kembali ke kost tersebut. Pemuda penjaga kost yang namanya Fachri itu dengan ramah menyambut kami kembali.

Pintu gerbang dibukanya lebar-lebar sehingga mobil bisa masuk di halamannya. Beberapa kali kami melihat mobil angkot berwarna ungu yang mondar mandir lewat di jalan depan kost persis.

Kata mas Fachri, nanti kalau mau berangkat ke kampus ITB cukup 1 kali naik angkot tadi. Begitu pula bila pulang ke kost. Wah, enak dong nanti kalau mau berangkat kuliah. .. Begitu keluar pagar rumah kost, langsung bisa naik angkot. Tidak perlu repot harus jalan kaki keluar ke jalan raya untuk menunggu angkot.

Karena kami sudah merasa cocok dengan kost tersebut, kami segera menghubungi ibu kostnya untuk memastikannya melalui WA yang nomor kontaknya kami peroleh dari mas Fachri. Karena belum juga mendapat jawaban, aku mencoba meneleponnya. Beberapa kali kami sudah menghubunginya, tapi tidak diangkat juga. Sambil menunggu responnya, kami shalat dhuhur di tempat shalat yang sudah tersedia.

Karena hari semakin siang, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebelumnya kami menitipkan surat yang kami tujukan untuk ibu kost tentang kepastian kami untuk mengambil kamar kost yang kosong dan tinggal satu-satunya itu.

Di saat kami sudah bersiap-siap akan pulang, aku mencoba menghubungi ibu kostnya lagi lewat telepon selulerku. Alhamdulillah, akhirnya diangkat juga. Aku langsung menyampaikan kepastianku untuk mengambil kamar kost tersebut untuk Salma.

Ibu kostnya meminta maaf karena tadi sedang dalam perjalanan sehingga slow respon. Lalu ia memintaku untuk mentransfer biaya kost bulan pertama (Agustus) ke rekeningnya sebagai tanda jadi. Setelah ia mengirim nomor rekeningnya melalui WA, aku langsung transfer pembayaran kost tersebut melalui m banking dan mengirim bukti transfer ke WA-nya.

Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan kost yang lingkungannya baik, aman, nyaman dan bersih untuk Salma. Insya Allah mulai tanggal 1 Agustus 2017 Salma sudah menempati kost tersebut.  

Karena mulai awal Agustus sudah berderet agenda kegiatan kampusnya hingga waktu perkuliahan nanti pada tanggal 21 Agustus 2017. Dari Psikotest (5 Agustus 2017), Pengenalan Fakultas/Sekolah (9 Agustus 2017), Incoming English Test (12 Agustus 2017), hingga Orientasi Kampus (17 – 19 Agustus 2017). Semoga semuanya dapat ditempuh Salma dengan baik dan selalu dalam perlindungan Allah Swt. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

*) dari Bahasa Sunda, artinya: “Bandung, Kami Datang..”

Lebaran Rasa Imlek

Standar

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar wa lillaahilham…

Suara takbir menyambut hari Raya Idul Fitri pagi ini terdengar dari seluruh penjuru, termasuk dari masjid di belakang rumahku. Bulan Ramadhan selama 29 hari kemarin terasa begitu cepat berlalu hingga pagi ini sudah memasuki 1 Syawal 1438 H.

Shalat Idul Fitri di Masjid Al Karamah yang terletak di belakang rumahku itu akan dimulai pada jam 06.00 pagi ini. Maka seusai shalat Subuh kami segera mandi dan bersiap-siap berangkat.

Saat kami tiba di masjid, sudah cukup banyak jamaah masjid yang hadir. Beberapa jamaah malah ada yang sebelumnya sudah menggelar sajadahnya di lantai masjid. Sehingga walau shaf tampak kosong, tapi ternyata sudah dibooking tempatnya. ๐Ÿ˜€

Ketika masjid semakin dipadati oleh jamaah dan waktu sudah menunjukkan jam 06.00, shalatpun dimulai, lalu dilanjutkan dengan khutbah.

Seusai khutbah Idul Fitri, sebagaimana biasa, antar warga saling bersalaman dan bermaafan. Sebagian ibu ada yang meneteskan air matanya karena terharu. Hari Lebaran memang merupakan kesempatan yang terbaik untuk dapat saling berjumpa, bersilaturahim dan bermaafan.

Tak seperti saat dulu kami masih tinggal di perumahan sebelumnya. Di perumahan yang sekarang ini suasana Lebaran lebih terasa. Mungkin karena letaknya berdekatan dengan perkampungan warga (di belakang rumah kami) dan dikelilingi masjid.

Kini setiap kali Lebaran tiba, selalu ada yang hadir bersilaturahim ke rumah kami sesudah shalat Idul Fitri. Baik itu tetangga, karyawan, relasi maupun saudara.

Di saat seperti inilah keakraban dan suasana persaudaraan menjadi sangat terasa. Sajian kue Lebaran juga menambah hangatnya suasana silaturahim. Kue nastar, putri salju dan kastengel menjadi sajian utama untuk tamu. Di antara yang datang bertamu ada juga yang membawa makanan sebagai buah tangan. Tradisi berbagi amplop berisi uang untuk anak-anak pun mewarnai suasana Lebaran.

Ketika hari sudah semakin siang dan diperkirakan tidak ada tamu yang datang berkunjung lagi, kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke CSB Mall. Saat kami mampir ke sebuah cafe dan sudah memesan makanan di sana, tiba-tiba ada telpon masuk dari keponakan suamiku.

Ternyata ia akan berkunjung ke rumah kami dan sekarang sudah menunggu di depan rumah. Haduuh…, gimana ya? Padahal makanan sudah telanjur kami pesan. Suamiku lalu mengajak keponakannya itu untuk bergabung saja bersama kami dan sekalian makan bersama.

Tapi ia memilih untuk menunggu kami saja. Malah menyampaikan bahwa ia tidak datang sendirian, melainkan bersama rombongan keluarga yang lain, hingga total ada 5 mobil. Hah….!! Kami jadi kaget. Karena di rumah juga sedang tidak ada orang. Dan tentu saja kami tidak tenang kalau makan sambil ditunggu keluarga sebanyak itu di depan rumah kami.

Akhirnya suamiku memutuskan untuk langsung pulang saja. Makanan yang tadi sudah telanjur kami pesan jadinya dibungkus saja dan dibawa pulang.

Dan memang benar…. Begitu kami sampai, ada 5 mobil yang diparkir di depan rumah, sedang menunggu kedatangan kami. Kami langsung mempersilakan semuanya untuk masuk ke dalam rumah.

Wah, suasana rumah jadi ramai dan semarak dengan kehadiran keponakan, ibu mertua, adik suami dan keluarganya. Dari obrolan ringan, saling menceritakan pengalaman hingga berbagi informasi menjadi bahan pembicaraan kami. Kami juga saling bertukar “angpao” untuk diberikan kepada anak masing-masing. Lebaran jadi berasa Imlek.. ๐Ÿ˜€

Begitulah suasana kekeluargaan yang kurasakan sejak pernikahanku dan masuk dalam keluarga suamiku. Kondisi ini membuatku merasa bersyukur karena telah bergabung dalam keluarga yang sangat toleran dan pengertian meskipun berbeda keyakinan. Alhamdulillah.. ๐Ÿ™‚

Semoga keakraban antar keluarga ini tak pernah hilang dan terus berlangsung selamanya.. Aamiin ya rabbal’aalamiin….

Bandung.., Urang Dongkap.. *) (1)

Standar

Setelah Salma memastikan pilihannya untuk kuliah di STEI ITB, maka rencana kami berikutnya adalah mencari kost yang paling dekat dengan kampusnya. Mas Bagja (pembimbing Salma di bimbelnya) juga telah mengingatkan kami untuk segera mencari kost.

Bila tidak segera, dikhawatirkan nanti tidak mendapatkan kost yang sesuai. Karena begitu usai pengumuman kelulusan, baik SNMPTN maupun SBMPTN, semua kost yang terdekat dengan kampus pasti langsung diserbu calon mahasiswa baru.

Maka pagi ini sekitar jam 7 pagi kami bertiga berangkat naik mobil ke Bandung dengan diantar supir. Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak macet. Sehingga sebelum jam 10 pagi kami sudah memasuki kota Bandung.

Kami langsung menuju ke kampus ITB yang terletak di jalan Ganesha. Rencana kami, dari sana kami akan langsung menyusuri daerah sekitarnya yang menurut info yang telah kami peroleh dari berbagai sumber banyak terdapat kost mahasiswi.

Saat kami memasuki kampus ITB, suasana sejuk dari kerindangan pohon-pohon besar di sekelilingnya membuat lingkungan kampus terasa nyaman. Setelah mendapat petunjuk arah dari sekuriti yang bertugas di depan pintu gerbang ITB kami langsung menuju ke Kampus STEI yang berada dalam satu komplek dengan kampus MIPA ITB.

Ketika kami menaiki tangga menuju ke arah kampus tersebut, seekor kucing betina berwarna oranye menghampiri kami. Seolah kucing itu menyambut kehadiran kami.. ๐Ÿ˜€ Kalau melihat perutnya yang buncit tampaknya kucing itu sedang hamil.

Lalu kami mulai memasuki kampus MIPA. Kami berjalan ke sekeliling kampus tersebut dan bertemu dengan seorang ibu dosen fakultas Farmasi yang ramah. Kami mendapatkan beberapa informasi tentang letak kampus jurusan STEI dan labnya dari ibu dosen yang sedang mengambil S2 itu. Setelah mengucapkan terima kasih padanya, kami kembali berjalan mengelilingi kampus.

Tak hanya Salma, aku dan suamiku juga menyukai suasana hijau dan sejuk di kampus ITB ini. Kami bersyukur, akhirnya harapan Salma untuk dapat kuliah di kampus ini akhirnya terwujud. Masih kuingat saat Salma memasang foto dirinya dengan background logo ITB di instagramnya saat Univday di SMA-nya pada tahun lalu. Tertulis captionnya “Calon Mahasiswi ITB (Aamiin)”

Begitu juga saat kunjungan sekolahnya ke kampus ITB bersama teman-temannya. Waktu itu Salma foto di atas tulisan Teknik Informatika yang ada di taman dekat kolam kampus tersebut. Dan pagi ini.., Salma kembali foto-foto di tempat yang sama. Tapi kini dengan status yang telah benar-benar menjadi calon mahasiswi baru di kampus ini.. ๐Ÿ™‚ Impiannya telah menjadi kenyataan.. Alhamdulillah..

Saat kami sedang berjalan-jalan di taman depan kampus ITB, kucing berwarna oranye tadi datang lagi menghampiri kami. Kemana saja kami pergi, kucing itu selalu mengikuti kami. Tampak jinak sekali kucing itu. Saat kami foto, si kucing langsung duduk seperti siap berpose ๐Ÿ˜€

Kucing tersebut seperti guide yang menemani kami mengenali kampus ITB. Kadang si kucing mendahului kami lalu mengeong sambil melihat ke arah kami, seakan meminta supaya kami mengikutinya. Saat kami ikuti dia langsung menuju ke suatu tempat. Ooh ternyata menuju ke gedung lab STEI. Lalu kami ikuti lagi, ternyata menuju ke kantin kampus.

Seolah-olah si kucing ingin berkata,”Ini nanti kampusmu. Dan sebelah sini kantin kampusnya.”

Waktu kami akan meninggalkan kampus ITB, si kucing mengikuti kami. Lalu saat kami akan turun menuju pintu gerbang kampus, si kucing hanya diam sambil memandang kami. Seolah hanya ingin mengantar kami sampai di situ saja. Waduh si kucing sudah menjalankan tugas dengan baik. ๐Ÿ™‚

“Mungkin karena kucing dari ITB ya maa.. Jadi pinter gitu..,” kata Salma sambil tertawa. Aku dan suamiku ikut tertawa mendengar perkataannya.

Lalu kami mulai mencari kost di sekitar kampus ITB. Pertama yang kami masuki adalah daerah Pelesiran. Kami masuk ke semacam gang yang jalannya agak kecil dan turun ke bawah. Awalnya yang banyak kami lihat di sekitarnya adalah warung-warung makanan. Tapi semakin ke dalam mulai terlihat banyak kost.

Ada kost khusus mahasiswa, ada yang khusus mahasiswi, namun ada juga yang campur. Tentu saja yang kami cari adalah kost khusus mahasiswi. Rata-rata kamar kostnya sudah penuh. Dan kebanyakan bangunan kostnya bertingkat. Sampai suamiku kecapean ketika harus naik turun tangga di setiap bangunan kost yang kami masuki. Ya Allah, aku baru menyadari bahwa suamiku sebetulnya tidak boleh terlalu capai sejak pemasangan ring di jantungnya… ๐Ÿ˜ฆ Karena suamiku merasa nyeri di bagian dadanya, kami segera kembali ke mobil. 

Kebetulan kami memang belum menemukan kost yang sesuai karena kamar yang tersisa juga kurang berkenan di hati kami. Baik dari letak kamarnya yang terlalu tinggi (ada di lantai 3), dari suasana lingkungan kostnya, maupun dari cara pembayaran kostnya yang harus langsung dilunasi setahun (nanti repotnya kalau ternyata belum setahun Salma tidak cocok di sana).

Aku menganjurkan suamiku supaya beristirahat saja di dalam mobil agar cepat pulih dari rasa nyeri di dadanya. Sementara aku dan Salma yang akan melanjutkan pencarian tempat kost. Daerah berikutnya yang kami masuki adalah di jalan Tubagus.

Kebetulan ada putri temanku yang akan pindah kuliahnya ke ITB Jatinangor pada bulan Agustus nanti. Jadi ia menyarankan agar Salma nanti dapat langsung menggantikan putrinya di kost yang berada di daerah Tubagus. Saat kami mengecek kostnya, sebetulnya sudah cocok dan senang dengan lingkungannya yang bersih, tenang dan bagus. 

Hanya saja yang masih belum sesuai bagi kami selain biaya per bulannya yang terlalu mahal juga karena tidak ada ibu kost yang tinggal di situ. Pertimbangan kami, karena Salma baru pertama kali jauh dari kami, maka harus lebih selektif dalam memilih tempat kost untuknya. Kami merasa lebih tenang bila ada ibu kost yang nanti bisa ikut mengawasi putriku.

Karena melihat suamiku yang tampak masih sakit, untuk sementara kami menyudahi pencarian kost pada hari ini. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Syafakallah suamiku.. Semoga cepat sembuh ya.. Aamiin ya Allah..

Alhamdulillah perjalanan pulang ke Cirebon lancar dan kondisi suamiku mulai membaik. Kami sampai di rumah saat Asar. Insya Allah kami akan melanjutkan pencarian kost lagi nanti sesudah Lebaran. Semoga suamiku tidak sakit lagi dan Salma bisa mendapatkan kost yang sesuai serta baik lingkungannya. Aamiin..

*) dari bahasa Sunda, artinya: “Bandung, Kami Datang..”

Antara Bandung dan Yogyakarta

Standar

– 20 Mei 2017 –

Setelah terhadang kemacetan yang panjang dan meletihkan, akhirnya sampai juga kami di kota Yogyakarta. Baru kali ini kami menempuh perjalanan dengan berkendara mobil dari Cirebon ke Yogyakarta sampai memakan waktu kira-kira 13 jam (melalui jalur Selatan). Padahal biasanya kalau lewat Pantura bisa ditempuh dengan mobil selama kira-kira 8 – 9 jam.

Sebetulnya secara jarak memang lebih dekat lewat jalur Selatan daripada jalur Pantura. Tapi karena jalan-jalannya kecil, banyak perbaikan jalan di sana sini, terlebih ada pembangunan fly over di Bumiayu, membuat kemacetan yang parah dalam perjalanan.

Biasanya aku lebih suka menggunakan sarana transportasi kereta api. Karena lebih cepat dan nyaman. Namun karena tujuan ke Yogyakarta kali ini adalah untuk mengantar putriku mengikuti test Ujian Tulis (UTUL) UGM, maka kami memutuskan untuk menggunakan mobil. Pertimbangan kami adalah untuk mempermudah Salma (putriku) saat mencari lokasi test dan saat esok harinya berangkat menuju lokasi test tersebut.

UTUL UGM adalah merupakan test tertulis/seleksi masuk ke UGM yang diadakan langsung oleh universitas tersebut (Ujian Mandiri). Lokasinya ada yang di Jakarta dan beberapa kota lain selain di Yogyakarta. Pelaksanaannya adalah pada tanggal 21 Mei 2017 ( 5 hari sesudah SBMPTN).

Melihat begitu ketatnya persaingan di SBMPTN, apalagi pada PTN dan jurusan yang dipilihnya, membuat Salma menempuh alternatif ikhtiarnya yang lain dengan mengikuti UTUL UGM ini. Sengaja dipilih lokasi testnya di kota Yogyakarta karena setelah test nanti kami akan langsung ke kota Magelang untuk menjenguk ibuku.

Kami memasuki kota Yogyakarta saat waktu sudah memasuki jam 22.00. Padahal bila bisa sampai lebih awal, Salma mampu belajar dengan lebih maksimal untuk persiapan test besok pagi. Dengan kondisi seperti ini, Salma hanya bisa belajar sekedarnya saja di mobil.

Semula suamiku ingin langsung menuju ke hotel karena selain sudah letih, juga berpendapat bahwa lokasi test Salma yang bertempat di gedung S2 dan S3 fakultas MIPA UGM pasti sudah ditutup karena sudah terlalu malam. Tapi aku mengusulkan untuk tetap mencoba ke lokasi test terlebih dahulu karena barangkali masih dibuka.

Mengingat banyak peserta test dari luar kota yang mungkin baru saja sampai di Yogyakarta dan baru mau mencari lokasi testnya di sana malam ini juga. Selain itu menurutku bila besok pagi baru mencari lokasi testnya, dikhawatirkan Salma akan kebingungan/kelamaan mencarinya lalu terlambat testnya dan malah mempengaruhi konsentrasi ketika mengerjakan test.

Ketika tiba di komplek fakultas MIPA UGM, kami langsung bertanya ke bagian sekuriti yang sedang bertugas di sana. Dengan keramahan khas ‘wong Jogja’ mereka langsung memberikan informasi dan petunjuk arah sesuai lokasi yang kami maksudkan.

Alhamdulillah, dengan cepat kami menemukan lokasi tersebut. Yaitu gedung S2 dan S3 MIPA di lantai 4. Kami juga melihat masih ada beberapa pelajar yang baru berdatangan untuk mencari lokasi test. Tapi karena sudah terlalu malam pintu gedungnya sudah dikunci. Tak mengapalah, karena setidaknya kami sudah tahu arah menuju gedung tersebut. Setelah cukup mengenal lokasi testnya, kami langsung menuju ke hotel untuk beristirahat.

                ****************

– 21 Mei 2017 –

Rasanya mata ini baru saja terpejam dan badan ini baru saja kami rebahkan. Tapi waktu Subuh sudah datang menyapa kami. Sehingga meski masih merasa belum terasa cukup dalam beristirahat, kami harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke lokasi UTUL UGM seusai shalat dan sarapan karena test akan dimulai pada jam 07.00.

Di sepanjang perjalanan menuju ke lokasi test, meski hari Minggu, lalu lintas sudah tampak ramai dengan kendaraan dan pelajar yang akan berangkat dengan tujuan yang sama. Apalagi ketika akan memasuki area UGM. Kendaraan semakin penuh sehingga kemacetan tak terhindarkan.

Saat itu kami merasa bersyukur karena semalam sudah terlebih dahulu mengecek lokasi testnya sehingga pagi ini kami tidak merasa kesulitan untuk menuju ke lokasi tersebut.

Setelah mobil diparkir, aku mengantar Salma ke gedung S2 dan S3 MIPA lantai 4 untuk mencari kursi tempat test yang sesuai dengan nomor peserta testnya. Dengan menggunakan lift, kami langsung menuju ke lantai 4.

Di sekitar area tersebut sudah banyak calon mahasiswa baru yang datang. Sebagian dari mereka diantar oleh orangtuanya. Kami mencari ruangan test dengan melihat daftar nama para peserta test pada kertas yang ditempel di pintu setiap ruangan test.

Dengan cepat kami menemukan ruangan tersebut. Setelah Salma mencocokkan nomornya dengan nomor kursinya, kami menunggu bel tanda masuk dengan duduk di kursi yang tersedia di sekitar ruangan tersebut bersama para peserta lain dan orangtuanya. Sebagian dari peserta menunggu waktu masuk dengan belajar.

Saat bel berbunyi, semua peserta test termasuk Salma mulai memasuki ruangan masing-masing. Kubisikkan kata-kata motivasi pada Salma sebelum masuk ruangan untuk menyemangatinya. Dalam hati kudoakan agar Salma nanti diberi kemudahan dan kelancaran
saat mengerjakan semua soal testnya.

Dari balik kaca pintu ruangan tersebut kulihat Salma bersama peserta lain sedang menaruh tas di depan kelas. Hanya alat tulis, papan berjalan, kartu peserta, Kartu Keluarga dan Surat Keterangan Lulus yang boleh dibawa. 

Salma duduk di deretan paling depan di kursi kuliah (kursi yang sudah menyatu dengan mejanya). Sementara peserta lain mendapat kursi dan meja yang lebih lega secara terpisah.

“Lho, kok kursi dan mejanya beda ya?” Aku sempat keheranan. “Mungkin apa karena sudah kehabisan kursi dan meja yang sama karena terlalu banyaknya peserta?”

Saat kuperhatikan sebetulnya lebih nyaman bila mendapat kursi dan meja yang terpisah. Tapi tentu saja kami tak bisa memilih karena semua kursi/meja sudah ada nomornya masing-masing. Yang penting Salma masih tetap bisa mengerjakan testnya dengan baik.

Salma mungkin masih kecapean dan mengantuk karena kemarin terjebak macet dalam perjalanan dan baru bisa benar-benar tidur saat tengah malam. Namun semoga saat mengerjakan soal-soal test bisa tetap fit dan konsentrasi. Aamiin..

Ketika bel tanda mulai mengerjakan soal berbunyi, aku meninggalkan lokasi test tersebut. Bersama suamiku aku kembali ke hotel tempat kami menginap untuk beristirahat karena masih letih dari perjalanan kemarin. Sebelumnya kami mencicipi nasi gudeg di warung yang terletak di depan hotel.

Hotel Grand Mercure yang terletak di jalan Adi Sucipto itu pernah mendapat penghargaan Rekor MURI karena mempunyai tematik Borobudur yang terbanyak (57 tema). (Sumber: http://muridotorg/hotel-dengan-tematik-borobudur-terbanyak/)

Memang kulihat di hampir setiap sudut ruangan hotel itu sejak dari pintu masuk hingga ke kamar hotelnya mempunyai dekorasi dan desain interior yang bertema budaya Jawa, wayang dan Borobudur. Karena backgroundnya yang unik dan menarik itulah kami menyempatkan diri untuk sejenak berfoto-foto di sana.

Saat mendekati waktu berakhirnya test, kami segera check out dari hotel dan berangkat menuju ke lokasi test untuk menjemput Salma. Sementara itu ibu, adik laki-lakiku dan Laura (keponakan kembarku yang perempuan) juga sedang dalam perjalanan dari Magelang ke Yogyakarta untuk menjemput Kevin (keponakan kembarku yang laki-laki) yang sedang ikut pembinaan matematika di Yogyakarta.

Kebetulan waktu berakhir kegiatannya hampir bersamaan dengan waktu selesai testnya Salma. Kami janjian langsung bertemu di lokasi testnya Salma karena Kevin yang terlebih dahulu selesai.

Area parkir di sekitar lokasi test sudah dipadati kendaraan yang akan menjemput para peserta test. Saat waktu menunjukkan jam 14.00 bel tanda berakhirnya testpun berbunyi. Satu demi satu peserta test mulai keluar dari gedung. Makin lama makin banyak. Tapi Salma belum muncul juga. Hingga akhirnya kami menemukan Salma yang sedang berjalan keluar di antara kerumunan peserta lain.

“Gimana Salma? Tadi bisa kan?” Aku menanyakan tentang test tadi.

“Yah, lumayanlah..,” jawab Salma sambil tersenyum.

“Jumlah soalnya lebih banyak dari soal SBMPTN sih.. Tapi nggak serumit soal SBMPTN kok…,” lanjut Salma.

“Oh, ya alhamdulillah.. Semoga sukses ya..,” aku merangkul Salma dengan hati yang lega.

“Aamiin..,” jawab Salma sambil tersenyum.

Salma langsung mencium tangan ibuku saat bertemu. Lalu kami bersama-sama menuju ke rumah makan untuk makan siang setelah susah payah keluar dari area parkir karena padatnya arus kendaraan yang secara bersamaan keluar dari area tersebut.

Seusai makan suamiku langsung berpamitan pulang ke Cirebon. Sedangkan aku dan Salma ikut ibuku pulang ke Magelang. Semoga semuanya cepat dan selamat sampai di tempat.. Aamiin…

                ****************

– 16 Juni 2017 –

Alhamdulillah, sekitar jam 20.00 malam ini aku sudah tiba kembali di kota Cirebon seusai penyelenggaraan acara pengajian yang bertepatan dengan 1 tahun wafatnya ayahku di Magelang kemarin. Seperti biasa suamiku sudah siap menjemputku di stasiun kereta api, Kejaksan Cirebon.

Sesampai di rumah, Salma menyambutku dengan wajah sumringah karena sudah lega setelah pengumuman diterimanya di STEI ITB pada tanggal 13 Juni 2017 yang lalu.

Saat di kereta tadi aku sempat menanyakan Salma melalui messenger tentang bagaimana hasil UTUL UGM yang pengumumannya dijadwalkan hari ini jam 17.00. Ternyata kata Salma pengumumannya diundur ke jam 22.00.

Meskipun Salma sudah diterima di ITB di jurusan yang menjadi pilihan pertamanya, kami tetap penasaran dengan hasil UTUL UGM-nya. Karenanya saat menjelang jam 22.00 kami bersama-sama menunggu pengumuman hasil test tersebut yang akan diumumkan secara on line.

“Alhamdulillah, diterima di pilihan pertama juga maa.. !” seru Salma gembira saat namanya muncul di layar laptopnya dan di bawahnya tertulis ucapan “Selamat, Saudara/i lolos secara akademik di Program Studi Ilmu Komputer”.

“Alhamdulillah… Ya Allah, terima kasih karena doa dan harapan kami satu demi satu dikabulkan..,” kami mengucap puji syukur tiada henti atas semua berkah-Nya. 

Dengan diterimanya juga Salma di fakultas yang sesuai minatnya di UGM itu membuat kami semakin yakin bahwa jurusan yang berhubungan dengan Ilmu Komputer dan Informatika adalah jurusan yang terbaik menurut-Nya untuk Salma.

Tinggal sekarang Salma yang harus menentukan pilihan di antara dua kampus yang terbaik itu. Antara ITB dan UGM. Antara Bandung dan Yogyakarta. Kalau boleh dan mampu sih penginnya diambil semua ya Salma.. ๐Ÿ˜€

Tapi ya mau tak mau Salma harus memilih salah satu. Beberapa hal kami coba pertimbangkan. Termasuk jarak yang terdekat dengan rumah kami di Cirebon. Mengingat Salma adalah putri kami satu-satunya, maka kami mungkin akan sering menengok Salma nanti saat sudah kuliah di Bandung.

Setelah dipikirkan benar-benar, akhirnya dengan penuh keyakinan Salma menetapkan pilihannya untuk memilih kuliah di Bandung, di STEI, ITB saja. Oke Salma, sebagai orangtua kami hanya bisa mendukung, mendoakan dan berharap agar tidak salah memilih. 

Semoga Salma sukses dan senang dalam kuliahnya nanti, kembali mengukir prestasi dan nanti ilmu yang sudah Salma peroleh selama kuliah dapat diamalkan menjadi suatu karya/kreatifitas yang tak hanya bermanfaat bagi diri Salma, namun juga bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Dan tentu diberkahi dan diridhai Allah Swt. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Roti Kenangan

Standar

Di antara anggota keluargaku, diriku ini termasuk penggemar roti sejati. Hampir semua roti aku suka. Mau roti manis, roti tawar, roti kukus, roti panggang, roti kering…, semuanya kusuka.

Apalagi roti isi pisang keju dan roti isi krim mentega. Itu roti favoritku. Kesukaanku makan roti ini sampai menular ke suamiku yang sebelumnya tak terlalu menyukainya. ๐Ÿ˜€

Setiap pagi saat minum susu coklat atau kopi, memang terasa lebih lengkap bila ditemani roti.. Mau rotinya langsung dimakan atau dicelupkan di susu, semuanya nikmaatt…

Mungkin sekarang hampir semua orang suka makan roti. Apalagi sejak makin bertebarannya toko roti dengan segala inovasinya yang unik, menarik dan tentu lezat.. Yah, dengan makin menjamurnya tempat kursus membuat roti dan makin banyaknya para peminatnya, otomatis akan membuat makin berlimpahnya toko dan pabrik roti/bakery di mana-mana.

Setiap orang pasti juga punya cerita masing-masing bagaimana awalnya menyukai roti. Begitu juga dengan diriku. Pertama kali aku mengenal roti sejak usia balita. Maklum saja karena kebetulan saat itu aku bersama kedua orangtua dan adikku masih tinggal di rumah kakek dan nenekku yang mempunyai sebuah toko dan pabrik roti di kota Magelang.

Dengan berjalannya waktu, usaha kedua orangtuaku juga makin berkembang. Dari yang semula hanya membuka toko kelontong di daerah Pecinan, lama kelamaan berhasil membuka kios roti di pasar Rejowinangun, Magelang.

Di antara semua roti yang dijual oleh kakek dan nenekku, ada roti yang sejak dulu hingga kini masih tetap kusuka. Yaitu roti Florida. Tekstur rotinya memang agak berbeda dari roti kebanyakan. Dibungkus kertas roti dengan gambar dan keterangan yang sejak jaman aku masih TK sampai sekarang masih belum berubah. Tapi memang disitulah keunikannya.. ๐Ÿ˜€

Sekilas seperti roti isi krim mentega murah jajanan pasar biasa. Memang harganya termasuk murah. Hanya Rp. 1500,- per bungkus. Tapi rasanya lezat dan khas. Yang membedakan dengan roti isi krim mentega yang lain adalah pada rasa dan kelembutan krim menteganya. Begitu krim menteganya menyentuh lidah.., rasanya nyesss… ๐Ÿ˜€

Roti Florida ini aslinya dari kota Klaten. Tapi di kota Magelang roti ini bisa dibeli di toko roti Saniter, jalan Pemuda 185 Magelang (toko milik bibiku). Maaf bantu promosi ya.. ๐Ÿ˜€ Roti ini tidak tahan lama, karena setelah 2 hari sudah kadaluwarsa. Mungkin tidak menggunakan bahan pengawet. Maka supaya lebih awet, sebaiknya disimpan di kulkas.

Sore ini seusai acara pengajian di rumah ibu, bibiku yang sudah paham akan roti kesukaanku, sebelum pulang ia memberikan sekantung plastik penuh roti Florida untukku. Alhamdulillah… Terima kasih Tode.. ๐Ÿ™‚ (begitu aku memanggilnya).

Saat waktu berbuka puasa tiba, aku langsung menikmati roti Florida ini bersama ibu, kedua adik dan kedua keponakanku. Nyam nyam… Yummy… Lezatnya roti Florida ini… roti kenangan masa kecilku.. ๐Ÿ™‚

Berkah di Bulan Ramadhan

Standar

Meskipun harus menempuh perjalanan ke Magelang pada bulan puasa ini, namun kenyamanan kereta Argo Dwipangga membuatku tak merasakan lapar dan dahaga sama sekali.

Justru yang sedang kurasakan adalah perasaaan dag dig dug karena pada hari ini bertepatan dengan tanggal pengumuman hasil SBMPTN 2017 secara on line (13 Juni 2017).

Sejak beberapa minggu yang lalu, putriku memang sudah memohon agar saat pengumuman SBMPTN 2017 nanti aku tidak berada di rumah. Persis seperti saat menjelang pengumuman SNMPTN 2017 sebelumnya. Mungkin putriku tidak ingin melihat langsung bagaimana ekspresiku saat pengumuman muncul di layar laptopnya, baik itu lolos/tidaknya ๐Ÿ˜€

Kebetulan pada saat pengumuman hasil SNMPTN 2017 yang lalu, aku memang sedang di luar rumah karena bertepatan dengan arisan bersama teman. Meskipun sedang arisan, saat menunggu detik-detik pengumuman hasil SNMPTN 2017 adalah saat yang cukup mendebarkan.

Ketika sebuah messenger kuterima dari putriku yang mengabarkan kegagagalannya di SNMPTN 2017, tak hanya putriku.., jujur saja saat itu aku juga ikut terkejut dan kecewa karena hasilnya tidak seperti yang kami harapkan. Yah, putriku belum lolos SNMPTN.. ๐Ÿ˜ฆ

Aku terkejut dan kecewa karena ternyata semua prestasi yang telah diraih oleh putriku selama bersekolah di SMA ternyata tak banyak membantunya untuk kelolosannya di SNMPTN ini. Sedangkan beberapa siswa yang bahkan tak memiliki prestasi sama sekali baik di sekolah maupun di luar sekolah malah berhasil lolos di PTN ternama.

Aku sempat berpikir, jangan-jangan faktor index sekolah sangat berpengaruh di sini. Karena melihat dari perbandingan jumlah siswa yang diterima di jalur SNMPTN pada dua SMAN favorit di kota Cirebon dengan SMAN tempat putriku bersekolah memang cukup jauh. Siswa yang lolos SNMPTN dari dua SMAN favorit itu jumlahnya mencapai ratusan. Sedangkan di SMAN putriku, hanya mencapai puluhan siswa saja yang lolos.

Memang banyak hal yang mungkin berpengaruh dalam kelolosan di jalur SNMPTN selain faktor tadi. Bisa faktor alumni, keketatan pilihan jurusan, keberuntungan dan lain-lain. Bahkan ada yang secara sarkas mengatakan seperti kocokan arisan ๐Ÿ˜€ Mungkin karena saking misteriusnya yaa..

Tapi yang pasti hanya Allah Swt. Yang Maha Tahu mana yang terbaik untuk kita. Bila diterima di jalur SNMPTN, berarti itu yang terbaik menurut Allah Swt.. Tapi bila belum diterima, berarti masih ada yang lebih baik yang harus diperjuangkan. Yaitu melalui jalur SBMPTN,  jalur mandiri atau di PTS. Maka putriku juga kudaftarkan di sebuah PTS sebagai alternatif bila ternyata nanti tak lolos di PTN.

Setelah masa mendebarkan penantian hasil SNMPTN berlalu, kini tibalah masa yang lebih mendebarkan, yaitu penantian hasil SBMPTN. Sesuai permintaan putriku, saat tanggal pengumuman tiba, aku tidak berada di rumah.  Kebetulan aku memang sedang dalam perjalanan menuju ke kota Magelang.

Perjalananku ke Magelang kali ini selain untuk menjenguk ibu, juga untuk membantu penyelenggaraan pengajian di rumah (bertepatan dengan 1 tahun wafatnya ayahku).

Tak lama lagi hasil UTUL UGM juga akan diumumkan (16 Juni 2017). Pada tanggal tersebut aku sedang dalam perjalanan pulang ke Cirebon. Rencanaku berada di Magelang adalah dari tanggal 13 sampai 16 Juni 2017.

Pengumuman hasil SBMPTN 2017 akan diumumkan hari ini tepat pada jam 14.00. Waktu terasa bergerak melambat saat mendekati jam 14.00. Rasanya sudah tak sabar untuk segera mengetahui hasilnya setelah lelah dalam penantian selama kira-kira 1 bulan lamanya sejak pelaksanaan SBMPTN.

Sementara itu beberapa saudara dan teman mulai ramai menghubungi smartphoneku untuk menanyakan hasil SBMPTN putriku. Hal ini membuat hatiku makin deg-degan saja. Tangan dan kakiku sampai terasa dingin semua. Bukan karena dinginnya AC di dalam kereta. Tapi lebih karena rasa tegang yang makin mencekamku.

Padahal sebetulnya aku sudah berusaha untuk bersikap tenang dan legowo agar siap menerima apapun hasilnya nanti. Tapi rasa tak tega terhadap putriku bila kemungkinan terburuk yang terjadi itulah yang membuat hatiku dag dig dug tak keruan.

Apalagi ada beberapa info yang menyebutkan bahwa jurusan dan PTN yang menjadi pilihan putriku itu passing gradenya termasuk yang tertinggi, peminatnya banyak, namun daya tampungnya sedikit. Sedangkan dari total hampir 800.000 peserta SBMPTN 2017, siswa yang diterima nanti tidak mencapai 200.000 siswa. Hmm, benar-benar persaingan yang sangat ketat…

Tapi apapun hasilnya nanti.. kami memang harus siap.  Sehingga sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendoakan kesuksesan putriku bahkan hingga detik terakhir pengumuman hasil SBMPTN.

Waktu terus berjalan hingga melewati beberapa menit dari jam 14.00. Tapi belum ada kabar apapun dari putriku. Karena penasaran, aku segera menghubunginya. Ternyata ia sedang mengalami kesulitan saat membuka beberapa link yang disediakan untuk meihat pengumuman hasil SBMPTN 2017.

Mungkin karena pada hari dan jam tersebut semua peserta SBMPTN yang berjumlah hampir 800.000 orang siswa itu secara bersamaan membuka link-link tersebut. Itu belum termasuk orangtua, guru dan teman para siswa yang ikut membuka linknya. Maka meskipun sudah disediakan beberapa mirror, tapi tetap saja masih error saat dibuka.

Sempat kutawarkan bantuan untuk ikut membuka linknya melalui smartphoneku. Tapi putriku tak mengizinkan. Karena ia ingin dirinya sendirilah yang nanti pertama kali melihat hasil SBMPTN itu, apapun hasilnya nanti.

Tak lama kemudian ada notifikasi messenger yang masuk dari putriku.

“Dheg..!! ” jantungku seketika berdegup kencang.

“Lolos/ tidak lolos ya???” Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati dan pikiranku.

“Bismillahirrahmaanirrahiim..,” aku langsung membuka messenger dari putriku.

“Alhamdulillah, STEI ITB.” Begitu isi berita dari putriku. (Yang diketik putriku: STEI ITN. Mungkin karena saking senangnya jadi salah ketik ya..)

“Alhamdulillah…, ” spontan aku membalasnya dengan gembira. Tapi sejenak aku sempat terdiam,  antara percaya dan tidak percaya dengan berita dari putriku itu.

“Beneran kan?” Aku bertanya padanya untuk lebih memastikannya.

“Iyaaa.” Jawaban polosnya seolah melepaskan keteganganku.

“Plooonnng,” rasanya lega hatiku mendengar jawaban putriku itu.

“Alhamdulillah…, terima kasih ya Allah atas dikabulkannya doa kami…,” puji syukur yang tak terhingga kupanjatkan kepada Allah Swt. Yang Maha Pemurah atas berkah-Nya di bulan Ramadhan ini. Semoga putriku mampu mengikuti materi kuliahnya nanti dengan baik, kembali berprestasi dan berhasil berkarya sesuai ilmunya yang dapat bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.. Aamiin…

Dalam komunikasiku berikutnya dengan putriku di messenger, aku bisa merasakan betapa bahagia hatinya setelah terkabul harapannya diterima di kampus dan jurusan impiannya itu. Tak sia-sia semua usaha yang sudah dilakukannya selama ini.

Dari doa yang sungguh-sungguh, latihan soal SBMPTN sampai tengah malam, bergabung di bimbel persiapan khusus SBMPTN dan mengikuti beberapa Try Out yang cukup meletihkan. 

Meski sempat terhenti setengah tahun saat mengikuti bimbel karena waktunya tersita untuk persiapan OSN dan FLS2N, alhamdulillah putriku masih mampu mengejar ketertinggalannya kembali. Usaha yang diiringi dengan doa memang tidak mengkhianati hasil.

Berita gembira dari putriku itu langsung disambut dengan bertubinya ucapan selamat dari keluarga, saudara, dan teman-temanku melalui WA dan media sosial. Suasana gembira ini membuat perjalanan tak terasa lama. Karena dalam waktu singkat, kereta sudah tiba di stasiun Tugu, Yogyakarta.

Setelah mampir sejenak di mushala stasiun, aku melanjutkan perjalanan menuju ke kota Magelang dengan naik kendaraan minibus Damri. Entah karena saking gembiranya atau apa ya, aku sampai lupa tidak membeli makanan dan minuman untuk persiapan berbuka puasa di stasiun tadi.

Maka ketika azan Maghrib berkumandang, sedangkan mobil Damri yang kutumpangi ini belum juga tiba di Magelang, jadinya aku tak bisa langsung berbuka puasa. Begitu mobil Damri tiba di sebuah hotel di Magelang (tempat poolnya), aku segera mencari warung terdekat untuk membeli air mineral dan susu dalam kemasan untuk berbuka puasa.

Sambil menunggu jemputan adik perempuanku, aku mencari makanan ringan yang dapat kujadikan sebagai pengganjal perutku sementara. Karena saat itu perutku sudah mulai terasa keroncongan. Kebetulan di warung tersebut terlihat beberapa bahan racikan wedang roti.

Tapi ternyata hari ini ibu pemilik warung sedang tidak berjualan wedang roti. Lalu aku menanyakan barangkali ada masakan lain yang dijualnya? Tapi tak ada juga, karena memang hari ini ia sedang libur jualan masakan. Padahal katanya biasanya ia berjualan.

Ya sudah deh, kurasa cukuplah air mineral dan susu yang kubeli tadi sebagai pengganjal perutku. Toh nanti sebentar lagi adikku sudah datang menjemputku. Ketika aku mengeluarkan uang untuk membayar air mineral dan susu kemasan, tiba-tiba ibu pemilik warung itu mengeluarkan sepiring nasi hangat lengkap dengan sayur nangka dan telur dadar dari dalam rumahnya, lalu diberikannya padaku.

Wah, kayaknya enak nih masakannya… Aromanya memang menerbitkan selera makan. Aku langsung melebihkan pembayaran uangnya karena bermaksud membelinya saja. Kupikir biasanya kan ibu itu memang berjualan nasi dan sayur matang. Tapi ternyata ibu itu hanya mau menerima uang pembayaran untuk air mineral dan susu kemasan saja. Sedangkan nasi, sayur nangka dan telur dadarnya sengaja ia berikan untukku.

Aku memaksa ibu itu untuk menerima uangku. Tapi ibu itu benar-benar menolak karena ia ikhlas ingin berbagi makanan untuk musafir yang akan berbuka puasa seperti diriku ini. Malah ia menambahkan es mentimun yang segar untuk hidangan berbuka puasaku. Masya Allah.. Baik banget ibu pemilik warung itu.

Aku jadi teringat sebuah hadits Nabi Muhammad Saw.tentang pahala orang yang memberi makan orang yang berbuka puasa berikut ini:
ู…ูŽู†ู’ ููŽุทู‘ูŽุฑูŽ ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œSiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.โ€

(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

[Sumber : https://rumayshodotcom/1147-pahala-besar-di-balik-memberi-makan-berbukadothtml]

Ada lagi keutamaan lain dari memberi makan orang yang akan berbuka puasa seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini:

Dari โ€˜Ali, ia berkata, Nabi Saw. bersabda,

ยซ ุฅูู†ู‘ูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุบูุฑูŽูู‹ุง ุชูุฑูŽู‰ ุธูู‡ููˆุฑูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูุทููˆู†ูู‡ูŽุง ูˆูŽุจูุทููˆู†ูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุธูู‡ููˆุฑูู‡ูŽุง ยป. ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุฃูŽุนู’ุฑูŽุงุจูู‰ู‘ูŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู‡ูู‰ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุทูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ูƒูŽู„ุงูŽู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูŽู…ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุฏูŽุงู…ูŽ ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู†ููŠูŽุงู…ูŒ

โ€œSesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.โ€ Lantas seorang Arab Baduwi berdiri sambil berkata, โ€œBagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?โ€ Nabi Saw. menjawab, โ€œUntuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.โ€

(HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

[Sumber : https://rumayshodotcom/1147-pahala-besar-di-balik-memberi-makan-berbukadothtml]

Sebagai tanda terima kasih aku langsung mendoakannya, semoga dagangan warungnya laris dan diberkahi Allah Swt. Aamiin… Ibu itu juga ikut mengamini doaku.

Sambil menikmati makanan dan minuman pemberiannya, dalam hati tak henti aku mengucap syukur atas limpahan rejeki dan berkah yang sudah kuterima selama ini.., khususnya berkah pada hari ini di bulan Ramadhan ini.

Baik itu berupa kabar gembira tentang lolosnya putriku di pilihan pertama jurusan dan kampus impiannya maupun pemberian makanan dan minuman yang nikmat dan berlimpah di saat aku sedang mencarinya untuk berbuka puasa.

Alhamdulillah… Berkah di bulan Ramadhan.. ๐Ÿ™‚

Perjalanan Hidupku Bersama Al Qur’an

Standar

Perkenalanku dengan Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dimulai sejak ayahku mendapat hidayah dan bersyahadat hingga membawa kami sekeluarga mengikuti jalan hidayah-Nya. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas 5 SD.

Seorang guru ngaji yang telah dikenal dengan baik dipanggil ayahku ke rumah seminggu sekali untuk mengajariku membaca dan menulis Al Qur’an bersama dua orang adikku.

Huruf-huruf hijaiyyah yang semula masih asing mulai kami pelajari satu demi satu. Kami belajar merangkai hurufnya, membaca ayat-ayat Al Qur’an secara bertahap. Saat masuk SMPN, dengan adanya materi pelajaran agama Islam di dalamnya membuatku lebih sering bertemu dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tapi aku masih belum lancar membacanya.

Sejak belajar di pesantren, aku menjadi lebih lancar dalam membaca dan menulis ayat Al Qur’an. Bahkan aku mulai menikmati setiap kali mempunyai kesempatan membaca ayat demi ayat-Nya. Terlebih di sana tak hanya sekedar mempelajari cara membaca surat-surat pendek seperti sebelumnya, tapi lebih memperdalamnya dengan belajar tafsir, tahsin dan tahfizh.

Setelah lulus dari pesantren dan kuliah di Yogyakarta, Al Qur’an masih kujadikan teman sejatiku meski sudah tak seintens saat di pesantren. Kehidupan dan pergaulan muda mudi yang selama ini tak kutemui di pesantren, mulai mempengaruhiku.

Apalagi saat aku mulai bekerja di Jakarta. Sehingga perintah menutup aurat yang bersumber dari Al Qur’an dan telah diajarkan dari pesantrenpun mulai berani kulanggar. Seiring dengan gegap gempitanya kehidupan di kota metropolitan, Al Qur’an malah makin kutinggalkan.

Kehampaan hati dan kegersangan jiwa mulai kurasakan. Tapi masih saja hati ini belum tergerak untuk menyentuh Al Qur’an kembali. Tapi ketika mulai bergabung dengan Yayasan Haji Karim Oei Pusat di Masjid Lautze, Al Qur-an mulai kubuka kembali. Hingga akhirnya di sana jugalah aku dipertemukan dengan imam hidupku.. ๐Ÿ™‚

Suamiku adalah seorang mualaf yang tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren sama sekali. Bahkan belum bisa membaca Al Qur’an.

Namun ghirah Islamnya yang tinggi membuatnya sukses menghafal beberapa surat pendek dari Al Qur’an. Hingga ia mampu menjadi imam saat shalat bersama keluarga.

Dan yang sampai sekarang membuatku salut adalah keistiqamahannya dalam menjaga shalat. Setiap kali azan berkumandang suamiku spontan mengambil air wudlu dan segera shalat di awal waktu. Begitu selalu yang kuperhatikan sejak pertama kali aku mengenalnya 20 tahun yang lalu hingga kini.

Saat kurenungkan, aku sempat berpikir bahwa bisa jadi Allah Swt. telah mengirim suamiku sebagai pengingatku dalam beribadah dan mengamalkan ajaran-Nya. Melalui sarannya, aku kembali berhijab. Ia juga selalu mengingatkanku untuk shalat tepat waktu.

Suamiku seorang pejuang Subuh. Sebelum masuk waktu Subuh suamiku sudah siap berangkat ke masjid di belakang rumah kami untuk mengikuti shalat Subuh berjamaah.

Semua kondisi itu sangat mendukungku untuk kembali bersemangat dalam membaca dan mempelajari Al Qur’an. Terlebih sejak bergabung dengan One Day One Juz dan mengikuti beberapa majelis ta’lim.

Meskipun sesekali virus malas dan suka menunda waktu datang menyerang, namun saat melihat semangat ibu-ibu yang rajin mengikuti majelis ta’lim dalam rangka mengaji dan mengkaji Al Qur’an, membuatku malu dan termotivasi.

Bagaimana tidak? Sebagian dari ibu-ibu itu bahkan sudah berusia lanjut, hingga berjalanpun sudah tertatih-tatih. Tapi semangat mereka untuk datang ke masjid meski jaraknya cukup jauh dari rumah mereka demi mengikuti majelis ta’lim serta mengaji dan mengkaji Al Qur’an sungguh luar biasa. Di antara mereka ada yang menjadi pembimbing tilawah Al Qur’an. Mereka seakan berlomba untuk meraih keutamaan Al Qur’an.

Rasulullah Saw. pun telah bersabda tentang keutamaan Al Qur’an dalam beberapa hadits berikut ini:

ุฎูŠุฑูƒู… ู…ู† ุชุนู„ู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุนู„ู…ู‡

โ€œSebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannyaโ€.
(HR Bukhari: 5027).

ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุฑูุน ุจู‡ุฐุง ุงู„ูƒุชุงุจ ุฃู‚ูˆุงู…ุงุŒ ูˆูŠุถุน ุจู‡ ุขุฎุฑูŠู†

โ€œSesungguhnya dengan Kitab inilah (Al-Quran), Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan derajat selain merekaโ€.
(HR Muslim: 817).

ุงู„ุตูŠุงู… ูˆุงู„ู‚ุฑุขู† ูŠุดูุนุงู† ู„ู„ุนุจุฏ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ

โ€œPuasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat pada seorang hamba dihari kiamat kelakโ€.
(HR Ahmad:6626, dan al-Hakim: 1/554, hasan li ghairihi).

[Sumber: http://wahdahdotordotid/empat-syafaat-al-quran/]

Semoga kami dapat selalu beristiqamah dalam mengaji dan mengkaji Al Qur’an di tengah nikmatnya kesenangan duniawi yang kadang melalaikan.
Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Bahagia itu Sederhana

Standar

Bahagia itu sederhana..
Saat subuh menyapa,
tubuh ini masih dapat kugerakkan
tuk tunaikan shalat.
Saat segarnya udara pagi masih dapat kuhirup dengan leluasa,

Saat rona langit yang indah
masih tampak jelas di kedua mataku
Saat suara ayam jantan berkokok
masih terdengar nyaring di kedua telingaku.

Bahagia itu sederhana..
Saat hidangan yang tersaji,
dapat kunikmati bersama keluarga
Saat lengkung senyum di bibir,
menghiasi wajah suami dan anakku.
Saat peluk hangat dan binar mata mereka,
memastikan rasa gembira di hati

Bahagia itu sederhana..
Saat semua rencana dan tugas,
satu persatu dapat terselesaikan
Saat jalinan silaturrahim dengan tetangga, rekan dan sahabat,
menjadi makin hangat dan menguat.
Saat malam mulai menyelimuti langit,
tubuh ini dapat kembali beristirahat dengan nyaman.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..
Atas semua kenikmatan dan karunia-Mu
Semoga semua kebahagiaan ini terus terlimpah,
hingga harapan dan impian kami
satu demi satu dapat terwujud.

Dan saat kami harus berpulang ke hadirat-Mu,
tutuplah perjalanan hidup kami dengan akhir yang husnul khatimah, ya Allah…
sebagai puncak kebahagiaan sejati
bagi setiap hamba-Mu yang mengharapkan ridha dan surga-Mu..

Aamiin ya rabbal’aalamiin…