Monthly Archives: Agustus 2017

Labbaik Allaahumma Labbaik

Standar

Saat mulai mengenal Islam dan mempelajari ajarannya, bab ibadah haji menjadi salah satu materi pelajaran yang paling sulit kupahami. Bahkan hingga saat belajar di pesantren. Karena ada banyak rukun haji, tempat yang dikunjungi hingga doa-doa yang harus dihafalkan.

Saat mulai bekerja dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai keyakinan dan pemikiran, aku malah sempat hampir terpengaruh oleh mereka yang beranggapan bahwa ibadah haji hanyalah suatu ritual menyembah sebuah bangunan berbentuk kubus yang bertujuan memperkaya negara Arab.

Sesudah berumahtangga, suamiku mulai mendaftarkan kami berdua di sebuah biro haji pada tahun 2009. Padahal sebetulnya saat itu aku masih belum berminat untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan aku lebih tertarik untuk berwisata ke Eropa atau ke Jepang daripada melaksanakan umrah.

Tapi ketika menonton film “Emak Ingin Naik Haji”, sebuah cerpen karya penulis terkenal, Asma Nadia yang diangkat ke layar lebar, aku benar-benar tak bisa menahan air mataku karena terharu akan kisahnya. Bahkan ketika aku menonton film tersebut untuk yang kedua kalinya, masih saja air mataku tak tertahan lagi.

Di film itu, aku bisa menyaksikan betapa besarnya keinginan seorang ibu yang berasal dari keluarga sederhana untuk dapat beribadah haji ke Tanah Suci. Sampai putranya berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan impian ibundanya tersebut. Dan itu sangat mewakili impian semua kaum muslim, khususnya muslimin dan muslimah Indonesia. Saat itulah hatiku mulai terketuk.

Setelah 8 tahun berlalu, akhirnya biro haji tempat suamiku dulu pernah mendaftarkan kami berdua di sana memberikan kabar bahwa kami sudah mendapat giliran untuk berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini. Tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2017. Alhamdulillah…

Sejak itu kami mulai mempersiapkan diri. Dari memperpanjang masa berlakunya paspor kami yang kebetulan sudah habis, cek kesehatan, vaksinasi Meningitis sampai membeli perlengkapan yang harus dibawa kesana. Menjelang keberangkatan, kami juga mengikuti manasik haji yang dilaksanakan di Hotel Novotel Bogor.

Setelah ikut manasik haji, aku jadi lebih paham bagaimana tata cara beribadah haji sesuai sunnah Rasulullah Saw. Saat itu semangatku untuk menunaikan ibadah haji juga makin bertambah. Apalagi kami mendapatkan teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia yang mempunyai tekad yang kuat untuk beribadah ke Tanah Suci.

Sambil menunggu saat keberangkatan, kami menggunakan waktu untuk banyak membaca buku-buku panduan ibadah haji yang disediakan oleh biro hajinya. Aku salut akan semangat belajar suamiku dan persiapan matangnya menjelang keberangkatan.

Bimbingan ibadah haji dan panduannya yang terdapat di you tube juga sering diikutinya. Hingga akhirnya kami menemukan materi ceramah tentang ibadah haji yang disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat.

Ada salah satu materi ceramahnya yang berjudul “Esensi Ibadah Haji” yang sangat menarik dan memberi pencerahan kepada kami tentang makna dan esensi sesungguhnya dari keseluruhan rangkaian ibadah haji. Silakan dibuka pada link di bawah ini:

Setelah menyimak materi ceramah tersebut, aku semakin yakin bahwa sesungguhnya ibadah haji ini mempunyai makna ibadah yang sangat mendalam dan indah. Banyak sekali pelajaran berharga bagi kami bahkan sejak kami mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kesana.

Di antaranya, kini kami jadi lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan ucapan, serta lebih dapat mengendalikan diri. Kami juga dapat merasakan betapa besar perhatian saudara, tetangga, dan teman-teman kami hingga mendoakan kami sebelum berangkat. Barakallah fiikum.Terasa benar indahnya ukhuwah Islamiyah di antara kami.

Akhirnya…, kini aku tak akan pernah lagi memandang sebelah mata terhadap ibadah haji. Dan semua anggapan negatif terhadap ibadah haji yang sebelumnya pernah kudengar ternyata sangat tidak benar. Bahkan aku bersyukur karena Allah Swt. telah memberikan kesempatan yang luar biasa ini pada saat yang tepat.
Alhamdulillah…

Besok tanggal 23 Agustus 2017 jam 16.00, tibalah saatnya bagi kami untuk berangkat menunaikan Rukun Islam yang kelima. Tibalah saatnya bagi kami untuk memenuhi panggilan-Nya, melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Mohon maaf lahir dan batin ya kepada semua saudara, teman, tetangga, dan siapapun bila selama ini kami pernah salah kata, salah ucap, salah sikap, salah hati dan salah pikir. Mohon maaf bila selama ini ada yang kurang berkenan di hati.. Doakan agar kami selalu sehat, selamat dan menjadi haji/hajjah yang mabrur/mabrurah.

Labbaik Allaahumma labbaik.
Labbaika laa syariika laka labbaik…
Innal hamda wanni’mata…
Laka wal mulk…
Laa syariikalak…

Taman Surga

Standar

Manusia dengan beragam profesinya setiap hari melakukan aktifitasnya sejak terbit fajar hingga terbenamnya sang mentari di ujung senja. Demi memenuhi kebutuhan keluarga dan mengejar target hidupnya, bahkan acapkali semua aktifitas itu dilakukan tanpa mengenal waktu seakan tak mengenal lelah.

Namun ada saatnya semua rutinitas tersebut akan mencapai titik jenuh yang membuat seseorang dapat mengalami kegelisahan, stress dan kegersangan jiwa dalam hidupnya.

Untuk mengatasinya, dicarilah berbagai hiburan seperti wisata dan relaksasi yang kini mulai banyak ditawarkan. Semuanya itu memang sejenak dapat menghilangkan semua permasalahan tersebut.

Namun tetap saja semua itu tak dapat memberi ketenangan dalam hatinya. Karena ada sesuatu yang dibutuhkan untuk mengobati kegersangan jiwanya. Sesuatu yang sifatnya tak sekedar hanya menjadi hiburan sesaat. Sesuatu yang mampu menjadi pengingatnya di kala khilaf. Sesuatu yang dapat mengisi kekosongan jiwanya.

Sesuatu yang dibutuhkannya itu adalah siraman rohani yang berupa zikrullah (berzikir untuk mengingat Allah Swt.) dan mempelajari agama dan kitab suci-Nya. Baik itu dilakukan secara individual maupun kolektif.

Bila dilakukan secara individual, kelebihannya ia dapat lebih ikhlas dalam setiap amalannya karena hanya ia dan Allah Swt. sajalah yang tahu. Namun bila dilakukan secara kolektif kelebihannya ia mendapatkan silaturahminya dengan dengan peserta majelis yang lain.

Bahkan dikatakan bahwa bila seseorang telah bergabung dalam sebuah majelis zikir dan ilmu yang mempelajari Al Qur’an dan agama, berarti ia telah singgah di Taman Surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) zikir.”

(HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis zikir; karena ia adalah taman-taman surga.”

(Al Wabilush Shayyib, hlm. 145).

(Sumber: https://almanhajdotordotid/3001-keutamaan-dan-bentuk-majlis-dzikirdothtml).

Keutamaan yang lain bila bergabung dengan majelis ta’lim, majelis zikir dan majelis ilmu adalah mendapatkan ketenangan, dinaungi rahmat, dikelilingi malaikat dan disebut-sebut oleh Allah Swt. di sisi makhluk-Nya yang mulia.

Dalam hadits Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw. bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.”

(HR. Muslim, no. 2699)

(Sumber : https://rumayshodotcom/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmudothtml).

**********

Dalam hal pengalamanku bersama majelis ta’lim, banyak juga hal positif yang telah kuperoleh selama ini. Aku bersyukur karena setelah bergabung dengan beberapa majelis ta’lim yang ada di kota Cirebon seperti MT Ummi, MT Sabar dan MT Al Karamah, aku dapat memiliki teman-teman yang baik dan shalehah dari berbagai kalangan dan usia.

Apa yang ada di majelis ta’lim itu pada dasarnya saling melengkapi satu sama lain. Baik dalam hal ilmu yang disampaikan oleh para ustaz dan ustazahnya maupun dalam ikatan silaturahminya.

Di majelis ta’lim itu aku tak hanya dapat belajar dari materi yang disampaikan oleh para ustaz dan ustazahnya. Akupun bisa belajar banyak hal dari teman-teman pengajianku. Tak jarang aku merasa tersentil, merasa malu ketika menyaksikan sendiri beberapa kebiasaan baik mereka yang patut dicontoh. Sementara diriku ini ternyata masih banyak kekurangannya. Masih banyak amalan dan sikapku yang harus diperbaiki.

Dan hingga hari terakhir sebelum keberangkatanku ke Jakarta untuk mempersiapkan diri ke Tanah Suci bersama suami, mereka datang bergantian ke rumahku untuk bersilaturahmi, mendoakan dan menyemangati kami meski kami tak mengadakan acara walimatussafar. Jujur saja saat itu rasa haru menyeruak di hatiku.

Sebagian dari mereka ada yang mengirimkan doa melalui WA, SMS dan FB. Dan ada juga yang titip doa kepada kami karena di sana merupakan tempat mustajabnya doa. Semua perhatian dari teman-teman pengajianku itu sungguh menguatkan hati dan tekad kami untuk dapat beribadah haji dengan sebaik-baiknya.

Aku yakin Allah Swt. Maha Mendengar atas semua doa.Semoga Allah Swt. mengabulkan semua doa kami. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Terima kasih atas silaturahmi dan doa dari teman-teman, khususnya dari MT Sabar, MT Al Karamah dan MT Ummi… Taman-Taman Surga kami…