Monthly Archives: September 2017

Rindu

Standar

Saat kerinduan kian membuncah
Tiada yang dapat menahan
langkah kaki ini tuk menjumpaimu
Tiada pula yang dapat melipur hati ini…
selain mendekapmu erat-erat…

Saat luapan curhat dan cerita
saling berebut silih berganti…
Gumpalan kerinduan
yang selama ini terpendam
serasa terurai satu persatu

Perjumpaan ini mencairkan rasa rindu…
yang selama ini membekukan hati…
Hingga kehangatan kembali
memenuhi ruang kosong
di dalam kalbu…

Kini makin tersadarkan…
Betapa hampanya sebuah perpisahan
dan sungguh bahagianya sebuah kebersamaan
Hingga rasa hati ini tak ingin lagi jauh darimu…

Namun hidup harus terus berjalan…
Dengan segenap perjuangan dan tantangannya…

Maka nikmati saja semua perjalanan ini ๐Ÿ˜Š

Anakku tersayang…
Meski kau di sana dan kami di sini.
Rindu kami selalu untukmu
Dan setumpuk doa dari kami selalu terlimpah untukmu

Jadikan setiap bongkah rasa rindumu
Sebagai energi positif yang selalu menggerakkan semangatmu
Hingga berpantang menyerah…
sebelum kesuksesan dalam genggamanmu…

Keep spirit my daughter ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–

Berburu Pahala, Keridhaan-Nya dan Kemustajaban Doa di Al Haramain

Standar

Akhirnya tibalah saat yang telah sekian lama kami tunggu-tunggu. Pada hari Selasa, 23 Agustus 2017 pukul 16.00, kami beserta seluruh rombongan jemaah haji yang tergabung di travel Munatour berangkat dari bandara Soekarno Hatta menuju ke Tanah Suci dengan pesawat Saudia Airlines (direct to Madinah).

Betul juga apa yang telah dipesankan oleh para ustaz dari travel yang kami ikuti ini (Munatour). Bahwa yang dibutuhkan dalam mengikuti rangkaian ibadah haji ini adalah:
1. Pemahaman akan tata cara, sunnah dan esensi ibadah haji.
2. Keikhlasan dan kesabaran.
3. Kesiapan fisik dan mental.

Terlebih karena tahun ini adalah merupakan tahun kunjungan jemaah haji yang terbanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dan saat ini di Tanah Suci sedang memasuki musim panas di mana suhu udaranya bisa mencapai 40-50 derajat Celsius.
(Sumber: https://kumparandotcom/kementerian-agama/menteri-agama-jamaah-haji-2017-adalah-terbanyak-di-dunia)

Maka begitu kami tiba di bandara kota Madinah dan turun dari pesawat, kamipun harus sabar mengantre di imigrasi sampai beberapa jam karena membludaknya para jamaah haji dari berbagai negara yang akan masuk ke kota Madinah itu.

Kami tiba di Madinah sekitar pukul 22.00 lebih (waktu Saudi) atau 02.00 WIB. Perbedaan waktu antara waktu di Saudi dengan waktu di Indonesia adalah sekitar 4 jam lebih awal.

Jam-jam tersebut bila saat ini kami berada di Indonesia biasanya sedang nyenyak tidur. Tapi sekarang kami harus bisa menyesuaikan jam tubuh kami dengan perubahan waktu saat ini meskipun mata masih berat dan badan juga cukup letih. Mungkin karena tadi tidak bisa tidur maksimal dengan duduk di pesawat selama kira-kira 9 jam lebih dalam perjalanan.

Setelah 3 jam beres dari imigrasi, kami juga harus bersabar menunggu beberapa teman yang belum selesai di imigrasi di dalam bus yang akan mengantar kami menuju ke hotel Movenpick Madinah.

Kira-kira pukul 03.30-an waktu setempat kami baru beres semuanya dan tiba di hotel. Hotel tersebut letaknya berdekatan dengan masjid Nabawi. Suasana sudah ramai dengan para muslimin yang sedang berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat Tahajud dan shalat Subuh.

Setelah pembagian kunci kamar hotel, kami langsung masuk ke kamar masing-masing untuk menaruh tas kami. Alhamdulillah kamar hotelnya sangat nyaman. Dan satu hal yang membuat kami sangat senang adalah saat membuka tirai jendela kamar hotel. Karena dari balik jendela kami dapat melihat Masjid Nabawi yang indah dan seolah memanggil kami untuk segera mendatanginya. Masya Allah… !

Kami langsung membersihkan diri dan mengambil air wudhu hingga tubuh ini merasa lebih segar kembali. Lalu bergegas berjalan menuju ke masjid. Namun rupanya di dalam masjid sudah sangat penuh sehingga kami harus mencari tempat shalat di halaman masjid. Ternyata di luar masjidpun sudah mulai dipenuhi oleh para jemaah. Alhamdulillah, aku masih mendapatkan tempat, tepatnya di depan pintu masjid.

Sejak itu kami jadi mengerti bahwa kami harus berangkat minimal 1 jam lebih awal dari waktu shalat bila ingin mendapat tempat di dalam masjid. Dan begitulah selanjutnya yang kami lakukan sehingga kami hampir selalu mendapat tempat di dalam masjid.

Alhamdulillah, kami juga berkesempatan melaksanakan shalat sunnah dan berdoa di Raudhah yang merupakan salah satu tempat mustajabnya doa di dalam Masjid Nabawi. Raudhah adalah sebuah tempat di antara rumah Nabi Muhammad Saw. dan mimbar beliau. Beberapa titipan doa dari keluarga dan teman juga kami panjatkan di sana. Semoga Allah Swt. mengabulkan doa-doa kami. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Setelah 5 hari tinggal di kota Madinah, perjalanan selanjutnya adalah menuju ke kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah, haji dan beberapa ibadah sunnah di Masjidil Haram. Di kota Mekkah kami menginap di hotel Dar Al Tawhid Intercontinental.

Sebuah hotel yang pintu depannya langsung berhadapan dengan pintu utama Masjidil Haram. Dan untuk mencapai masjid tersebut, cukup hanya dengan berjalan beberapa langkah saja. Alhamdulillah dari jendela kamar hotel di Mekkahpun, kami dapat melihat keindahan bangunan dan suasana ibadah di Masjidil Haram dengan sangat jelas.

Bagi kami, ini semua merupakan sebuah fasilitas sekaligus keberuntungan dan berkah dari Allah Swt. karena membuat kami selalu merasa ditemani 2 masjid suci di Madinah dan Mekkah itu (Al Haramain) selain mempermudah dan menyemangati kami dalam menjalankan ibadah di dalamnya karena jaraknya yang sangat dekat.

Namun bagaimanapun ternyata memang berbeda keadaannya saat berada di Masjidil Haram.
Karena Masjidil Haram merupakan pusat dari kegiatan ibadah umrah dan haji bagi seluruh umat Islam di penjuru dunia ini. Sehingga tentu saja di sana jemaahnya menjadi jauh lebih banyak daripada di Masjid Nabawi. Apalagi tahun ini sedang padat-padatnya jemaah haji.

Maka bila ingin mendapatkan tempat di dalam Masjidil Haram, minimal harus berangkat 2 jam lebih awal dari waktu shalat supaya kebagian tempat di sana.

Dengan kondisi demikian, waktu yang paling memungkinkan bagi kami untuk shalat di dalam Masjidil Haram adalah saat menjelang Subuh saja (sekitar pukul 03.00-an waktu setempat). Dan saat itu adalah kesempatan terbaik untuk melaksanakan shalat Tahajud, Qabliyah Subuh, Subuh dan Syuruq sekaligus di sana.

Selain itu, pada jam-jam tersebut
keinginan untuk berkemih juga belum timbul. Berbeda dengan waktu-waktu sesudahnya, di mana perut kami sudah terisi makanan dan minuman yang terkadang memancing keinginan berkemih. Demikianlah yang kami alami. Mungkin bagi yang lain mempunyai pengalaman yang berbeda.

Nah, maka bila kami harus berada di dalam masjid 2 jam sebelumnya, kami khawatir tidak sanggup menahan keinginan tersebut. Sementara di dalam masjid tidak ada toilet. Dan bila kami harus keluar masjid untuk pergi ke toilet yang berada di luar masjid, nanti kami tidak dapat masuk ke dalam masjid lagi karena pintunya sudah ditutup. (Ada sebuah pengalaman pribadi yang berkenaan dengan hal ini yang nanti akan kuceritakan pada kisah selanjutnya).

Syukurlah, di hotel tempat kami menginap terdapat fasilitas mushala yang speakernya terhubung langsung dengan Masjidil Haram. Sehingga suara imamnya saat shalat dapat terdengar dengan jelas dari mushala tersebut.

Berdasarkan penjelasan dari para ustaz di Munatour, kami diperkenankan mengikuti shalat berjamaah bersama jemaah Masjidil Haram mengikuti imam tersebut meskipun dari mushala dikarenakan suara imam yang terhubung dengan jelas dan lokasi mushala yang masih masuk dalam pelataran Masjidil Haram. Sumber di bawah ini juga dapat dijadikan referensi:
https://almanhajdotordotid/4127-tata-cara-makmum-mengikuti-imam.html

Semangat luar biasa para jemaah haji yang berasal dari seluruh penjuru dunia untuk dapat shalat di dalam masjid, baik Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram itu karena terdorong oleh keinginan untuk meraih pahala sebanyak mungkin dan harapan akan terkabulnya doa di dua masjid suci tersebut.

Karena Nabi Muhammad Saw. sendiri telah menyatakan akan keutamaan shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dalam sebuah hadits sebagai berikut:

ุตูŽู„ุงูŽุฉูŒ ููู‰ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูู‰ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ุตูŽู„ุงูŽุฉู ูููŠู…ูŽุง ุณููˆูŽุงู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุตูŽู„ุงูŽุฉูŒ ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู…ูู†ู’ ู…ูุงุฆูŽุฉู ุฃูŽู„ู’ูู ุตูŽู„ุงูŽุฉู ูููŠู…ูŽุง ุณููˆูŽุงู‡ู

โ€œShalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.โ€

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin โ€˜Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173)

(Sumber : https://rumayshodotcom/5818-keutamaan-shalat-di-masjid-nabawidothtml)

Adapun tempat yang paling mustajab untuk berdoa yang terdapat di dalam dua masjid suci tersebut adalah sebagai berikut:

1. Multazam (sebuah bagian di Ka’bah, antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad)
2. Hijir Ismail
3. Shafa dan Marwa
4. Di belakang Maqam Ibrahim
5. Raudhah.

(Sumber: https://m.eramuslimdotcom/berita/laporan-khusus/5-tempat-mustajab-di-mekkah-dan-madinahdothtm)

Namun tentu saja selain adanya keinginan-keinginan tersebut, rasa cinta yang mendalam dan ketaatan terhadap Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. jugalah yang membuat seluruh jemaah haji rela berebut dan berdesakan agar dapat beribadah di dalam kedua masjid suci itu.

Yang patut diperhatikan adalah jangan sampai kita terlalu memaksakan diri untuk dapat berdoa di sana hingga menyakiti diri sendiri/jemaah lain. Apalagi sampai menggunakan calo-calo yang memang banyak menawarkan bantuannya di sana (tentu dengan meminta sejumlah uang). Karenanya jangan sampai hal yang sunnah apalagi yang makruh/haram mengalahkan hal yang wajib.

Bagi kami dari keseluruhan rangkaian ibadah haji, saat yang paling berkesan adalah saat pertama kali melihat Ka’bah. Bila selama ini kami hanya dapat melihatnya di sajadah, hiasan dinding, kalender atau di buku saja, kini kami dapat melihatnya langsung dengan jelas.

Dan bila selama ini kami diajarkan oleh para guru agama/ustaz di sekolah/pesantren bahwa shalat harus menghadap ke kiblat… Kini kami malahan dapat shalat langsung menghadap ke Ka’bah yang menjadi pusat kiblat semua umat muslim di seluruh dunia ini.

Suatu hal yang kami rasakan saat kami memandang Ka’bah adalah bergemuruhnya hati kami hingga kami tak kuasa menahan air mata. Dan ternyata di sebagian teman-teman kami dan beberapa jemaah yang lainpun merasakan perasaan yang sama. Kami bahkan sering melihat muslim/ah dari sesama negara Indonesia maupun dari negara lain yang tampak menangis sambil berdoa di hadapan Ka’bah.

Maka saat seluruh rangkaian ibadah haji dan sunnahnya telah usai, dan siang harinya kami sudah harus meninggalkan kota Mekkah menuju ke kota Jeddah untuk bersiap pulang ke Tanah Air, timbul rasa tak ingin berpisah dengan Ka’bah dan Masjidil Haram di hati kami.

Kami sudah telanjur cinta dengan suasana ibadahnya, pesona adzannya dan lantunan merdu ayat suci Al Qur’an yang dibaca oleh para imammya. Meskipun kami harus berdesakan saat thawaf hingga sempat ‘njarem’ kakinya saat sa’i, namun tetap saja ada sesuatu yang membuat kami ingin dan ingin berada di sana.

Oleh karena itu, seusai thawaf wada’ dan shalat Subuh kami tidak langsung pulang ke hotel. Sebab kami ingin ‘mengabadikan’ keindahan suasana ibadah di Ka’bah dan Masjidil Haram dengan mengambil fotonya dari sudut yang paling menarik. Yaitu dari atap Masjidil Haram.

Semula kami sempat mengalami kesulitan saat mencari jalan menuju ke sana. Tapi dengan bantuan petunjuk ustaz Agus yang kebetulan berpapasan dengan kami saat berada di masjid, akhirnya kami berhasil mencapai atap Masjidil Haram.

Di sana masih banyak jemaah haji dari berbagai negara yang sedang melakukan thawaf. Kami langsung mencari tempat untuk dapat melihat Ka’bah dari atas. Masya Allah… Sebuah pemandangan suasana ibadah thawaf dari jutaan jemaah yang mengelilingi Ka’bah membuat kami takjub sekaligus terharu. Dengan cepat kami mengambil fotonya dari beberapa sudut.

Suamiku berniat ingin mencetak foto suasana Ka’bah sesudah Subuh itu dalam ukuran yang besar dan dibingkai. Selain nanti akan dipajang di rumah kami, sebagian akan diberikan kepada beberapa sanak keluarga dan sahabat dekat kami sebagai oleh-oleh yang berkesan.

Dengan demikian setiap hari kami akan dapat ‘melihat’ Ka’bah di rumah kami. Semoga hal itu akan membuat kami menjadi selalu diingatkan untuk dapat beribadah dengan baik seperti saat berada di sana dan selalu terpanggil untuk kembali ke sana lagi. Aamiin ya Allah…