Monthly Archives: Oktober 2017

Si Manja yang Setia

Standar

“Wah, ada kecelakaan motor, Salma…!” seruku sambil mengemudikan mobil saat dari kejauhan kulihat seorang pemuda terpental dari motornya ketika mobilku mulai memasuki jalan Pemuda.

Salma yang sedang duduk di kursi tepat di belakangku langsung berdiri dan melongokkan kepalanya ke arah kaca depan mobil. Pagi itu sekitar jam 10.00 aku memang sudah ada jadwal mengantar Salma putriku untuk les komputer.

Mobil masih terus kujalankan tapi kecepatannya makin kukurangi karena sebentar lagi akan melewati kampus Unswagati yang selalu ramai dengan kendaraan dan mahasiswa yang keluar masuk kampus.

Tepat di depan kampus tersebut, dengan cepat aku menginjak pedal rem karena banyaknya kerumunan orang yang menutup badan jalan. Tak jauh dari tempat mobil kuhentikan, tampak seorang pemuda yang tergeletak di atas jalan beraspal dengan posisi tertelungkup.

Dan yang mengerikan, … pemuda yang tergeletak di jalan itu kepalanya penuh bersimbah darah hingga membasahi aspal di sekelilingnya. Rupanya pemuda itu adalah korban kecelakaan yang tadi kulihat dari kejauhan sebelum mobilku sampai di tempat ini.

Orang-orang yang mengerumuni juga makin banyak. Semuanya tampak panik. Bahkan ada yang menangis. Mungkin mereka adalah teman atau saudara pemuda malang itu. Sebagian yang lain sedang berusaha mencari pertolongan.

Belum hilang kengerianku saat menyaksikan korban kecelakaan yang kondisinya parah di depan mata itu, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang menghampiri mobilku dan meminta bantuanku untuk membawa korban kecelakaan itu ke Rumah Sakit terdekat.

Antara sadar dan tidak sadar aku langsung mengiyakan. Dalam sekejap mereka meminta Salma untuk pindah ke kursi depan lalu memasukkan korban kecelakaan itu ke dalam mobilku. Sekilas kulihat bagian wajah dan kepala korban yang penuh bersimbah merahnya darah. Tiba-tiba saja rasa panik mulai menyelimutiku.

Yang terpikir saat itu, aku harus secepatnya membawa korban ke Rumah Sakit agar nyawanya masih bisa diselamatkan. Aku langsung tancap gas. Sepanjang jalan aku mencoba mengajak berkomunikasi dengan para pengantar korban agar dapat mengurangi rasa panikku.

“Kejadiannya bagaimana sih mas kok bisa sampai terjadi kecelakaan begitu?”

Tak ada jawaban.

“Mas masih temannya atau saudaranya?”

Tak ada jawaban.

“Tempat tinggalnya di mana mas?”

Masih tak ada jawaban.

Aku jadi penasaran, mengapa tak ada satupun pertanyaanku yang dijawab? Sehingga aku langsung menoleh ke belakang.

“Astagfirullah…!!! ”

Aku terkejut bukan kepalang. Karena ternyata korban hanya tergeletak sendirian di kursi belakang mobilku. Tak ada seorangpun yang ikut mengantarnya. Aduh, bagaimana sih ini???

Sedangkan posisi kepala korban agak bergeser jatuh ke bawah karena efek goncangan mobil sehingga darah makin banyak mengalir ke jok bagian bawah mobilku.

“Ya Allah…! Sabar ya mas… Bertahan ya mas… ”

Aku berteriak-teriak sendiri karena makin panik. Sementara Salma yang waktu itu masih kelas 3 SD kelihatan tegang wajahnya.

Saking paniknya, saat berpapasan dengan mobil ambulan di jalan aku sampai melambai-lambaikan tangan minta pertolongan. Tapi sia-sia saja, karena mobil ambulan juga berjalan kencang hingga pengemudi dan penumpangnya tak melihat lambaian tanganku.

Samar-samar aku mendengar suara seperti air yang disentor ke lubang WC yang berasal dari korban. Aku tak tahu apa penyebabnya? Tapi yang pasti aku makin ketakutan. Aku sedikit lega ketika bangunan RS Gunung Jati sudah mulai terlihat. Mobil langsung kubelokkan untuk memasuki area Rumah Sakit tersebut.

Belum sempat masuk area parkir, ada yang memberitahu bahwa aku salah masuk jalan karena ini jalur untuk keluar mobil. Sehingga aku mundurkan mobilku lalu masuk melalui jalur yang seharusnya.

Begitu sampai di depan pintu masuk Rumah Sakit, kaca jendela mobil langsung kubuka dan aku berteriak-teriak meminta tolong kepada siapapun yang kulihat di sana.

“Mas, ini ada korban kecelakaan di mobil saya. Tolong panggilkan perawatnya mas…!!!”

Tapi tentu saja apa yang kulakukan itu sia-sia karena semua juga sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hingga aku meminta tolong Salma untuk keluar dan memanggil perawat.

“Bu, kalau korban kecelakaan tempatnya bukan di sini bu. Ini khusus untuk rawat jalan. Harusnya dibawa ke IGD bu… Bangunan ada di sebelah sana. Jadi ibu harus keluar ke arah jalan dulu.”

Salah seorang yang melihatku saat berteriak tadi membantuku memberikan informasi.

Aku bersyukur ketika ada seorang pemuda yang paham akan kepanikanku. Ia bermaksud menolong dengan mengantarku ke IGD. Saat ia membuka pintu mobil belakang dan melihat kondisi korban, ia langsung memekik.

“Allahu Akbar…!!! ”

Aku tahu, ia pasti sangat terkejut sekaligus ngeri melihat kondisinya yang parah tersebut.

“Sudah bu, tenang saja… Saya temani bu ke IGD-nya.” kata pemuda itu. Ia mencoba menenangkan diriku. Padahal aku tahu, ia juga sedang berusaha menenangkan dirinya. Pemuda itu kemudian duduk di kursi belakang di samping korban.

Mobil kembali kujalankan menuju ke arah IGD. Pemuda itu merasa heran kok aku bisa mengantar korban kecelakaan separah ini tanpa ada pengantar dari pihak korban seorangpun. Karena hal seperti ini beresiko dapat menimbulkan dugaan bahwa mobilkulah yang menabraknya.

Lalu kujelaskan padanya bahwa hal ini juga baru kusadari ketika dalam perjalanan tadi, ternyata si korban ini dibiarkan begitu saja sendirian tergeletak di kursi belakang mobilku tanpa ada yang menemaninya.

Baru sebentar mobilku berjalan, bangunan Rumah Sakit yang bertuliskan IGD sudah tampak di depan mata. Sehingga mobil langsung kubawa masuk dan berhenti tepat di depan pintu masuk IGD. Pemuda yang tadi mengantarku langsung keluar dari mobil dan segera meminta bantuan.

Beberapa perawat bergegas datang menghampiri kami sambil mendorong tempat tidur beroda untuk membawa korban. Aku tak mau melihat kondisi korban lagi karena sudah tak tega menyaksikan kondisinya, sehingga langsung mencari tempat parkir.

Beberapa orang menganjurkanku untuk minum air putih agar dapat membantu menenangkan hati. Sebagian yang lain meminta tukang parkir untuk membantu membersihkan jok mobilku dari genangan darah korban yang tertinggal di sana.

Sementara aku langsung menghubungi suamiku lewat telepon dengan perasaan yang tak menentu. Aku takut suamiku marah karena mobil Chevrolet Aveo ini sebetulnya baru berumur 1 bulan terhitung sejak ditukar tambah dengan mobil Chevrolet Spark-ku yang lama. Jadi kondisinya masih baru dan bersih. Nah sekarang malah kugunakan untuk membawa korban kecelakaan yang berdarah-darah.

Tepat seperti dugaanku, dari suaranya yang kudengar di telepon, suamiku tampak terkejut sekaligus kesal. Aku hanya bisa pasrah saja karena merasa bersalah. Tapi rasanya memang antara sadar dan tidak sadar saat tadi orang-orang memasukkan korban kecelakaan itu ke dalam mobilku itu. Dan herannya ketika itu aku memang tak bisa menolak.

Suamiku berkata bahwa nanti sebentar lagi ia bersama supirnya akan menjemputku ke Rumah Sakit dengan mobilnya. Sambil menunggu aku menyaksikan perkembangan berita tentang korban kecelakaan itu.

Beberapa teman dan saudara korban mulai berdatangan. Sebagian dari mereka menangis sambil berteriak histeris. Ternyata nyawa korban tak dapat diselamatkan.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Aku tak tahu, kapan ajal menjemputnya? Apakah saat tergeletak di jalan, saat dalam perjalanan di dalam mobilku atau saat di Rumah Sakit?

Tapi yang pasti… parahnya kondisi korban, suasana duka dan panik pagi itu terasa begitu mencekamku. Aku langsung membayangkan bagaimana seorang anak muda keluar dari rumahnya di pagi hari dan naik motor bersama teman-temannya, lalu tiba-tiba dalam sekejap ajal menjemputnya setelah terjadi kecelakaan. Ya Allah…

Dalam suasana tak menentu itu, aku juga sempat merasa kesal tapi juga takut ketika tiba-tiba saja salah seorang teman korban seolah menyalahkanku dan menganggap bahwa mobilkulah yang menabrak motor temannya hingga mengakibatkan kematiannya. Katanya ia sempat melihat sekelebat mobil yang mirip dengan mobilku saat terjadi kecelakaan.

Spontan saja, aku langsung membantah karena ketika terjadi kecelakaan mobilku juga belum sampai di tempat kejadian. Syukurlah beberapa orang juga membelaku dan mengatakan justru akulah yang berusaha menolong korban dengan membawanya ke Rumah Sakit ini.

Ketika itu dari jauh aku melihat seorang gadis kecil berkaos merah dengan rambut berkepang dua yang sedang berjalan ke arahku dengan ditemani seorang ibu.

“Lhooo itu kan Salma putrikuuu…! Kok bisa tiba-tiba muncul dari mana?”

Aku langsung menyambut dan memeluknya.

“Bu, maaf tadi saya ketemu putrinya ibu ini di RS Gunung Jati bagian Rawat Jalan. Katanya tadi lagi mau cari ibu. Terus bilang kalau ibunya bawa orang korban kecelakaan. Makanya saya langsung antar anak ibu ke sini bu..,” ibu yang mengantar Salma itu langsung menjelaskan.

“Astaghfirullah…, saya itu saking paniknya sampai lupa sama putri saya ini lho bu… Alhamdulillah sudah bisa ketemu lagi. Terima kasih banyak ya bu, sudah mengantar putri saya ke sini.”

Aku mengucapkan terima kasih pada ibu yang baik itu.

“Maaf ya Salma… Mama tadi sampai lupa jemput Salma karena mengurusi korban kecelakaan ini.”

Aku memeluk Salma sambil mengelus kepalanya. Salma hanya mengangguk dengan wajah polosnya.

Tak lama kemudian suamiku datang bersama supirnya. Suamiku langsung mengantarku bersama Salma pulang ke rumah. Sementara supirnya membawa mobil yang masih penuh darah itu ke tempat cuci mobil.

Meskipun sudah dibersihkan oleh tukang parkir, tetap saja masih banyak darah yang tampak berceceran di bagian kursi belakang mobilku. Kata tukang parkir, tadi ia menemukan sesuatu yang lembek di dalam mobilku. Entah itu potongan daging atau bola mata korban? Hiiiii…. Seremmm….

Dalan perjalanan pulang aku menceritakan semua kejadian yang kualami tadi. Alhamdulillah suamiku tidak marah. Ia hanya menasehatiku agar lain kali pintu mobil selalu dalam keadaan terkunci agar orang tidak sembarangan membuka pintu mobil.

Selain itu sebaiknya kalau sedang sendirian atau bersama anak jangan mau kalau ada yang minta tolong untuk membawakan korban kecelakaan, apalagi bila kondisinya parah. Karena lebih baik menghindari resiko dituduh menabrak korban seperti yang tadi kualami.

Begitu sampai di rumah, yang tersisa kini adalah masalah dalam kejiwaanku. Kondisi korban yang parah dengan bau anyir darahnya itu masih membayangiku dan membuatku tak bernafsu makan. Bahkan melihat saus tomat serasa melihat darah.

Tak hanya itu. Aku juga jadi trauma mengemudikan mobil dan dihantui rasa takut. Dari rasa takut menabrak orang, takut terlibat dalam kecelakaan tadi, takut ditangkap polisi hingga takut ada ruh korban yang bergentayangan. Sampai terpikir untuk menjual mobilku.

Apalagi ketika kejadian kecelakaan ini diliput dalam sebuah berita di koran. Aku sedikit lega ketika disitu diberitakan bahwa yang terjadi adalah tabrakan antar motor. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa aku tidak terlibat dalam kecelakaan itu. Tapi yang membuatku merinding, ternyata nomor motor korban susunan angkanya kebalikan dari nomor mobilku. Masya Allah…!

Pengalaman yang tak menyenangkan itu memang sudah berlalu. Tapi hampir tiap malam aku tidak bisa tidur dan sering menangis akibat rasa takutku itu. Suamiku sampai prihatin melihatku mengalami trauma. Sampai suamiku berkonsultasi dengan beberapa rekannya. Menurut rekan-rekannya mobilku tak perlu dijual. Karena mobilku kan tidak menabrak, malahan digunakan untuk menolong korban.

Selain itu aku jadi penasaran dengan kematian dan ruh. Sampai aku menanyakannya ke beberapa ustaz di pengajian, di samping membaca buku-buku yang membahas masalah tersebut.

Aku penasaran bagaimana seseorang dapat tiba-tiba mengalami kematian. Lalu setelah kematiannya, apakah ruhnya bergentayangan? Berdasarkan jawaban ustaz dan beberapa referensi yang kubaca, ternyata setiap orang memang dapat mengalami kematian tanpa firasat apapun.

Nah bagaimana akhir dari hidup seseorang itu terkadang sesuai dengan bagaimana kebiasaan hidup orang tersebut semasa hidupnya. Namun setelah kematiannya, ruhnya sudah berada di alam yang berbeda. Yaitu di alam kubur dan nantinya ke alam barzakh.

Jadi tidak mungkin ruhnya akan bergentayangan di dunia mengganggu manusia. Kalaupun ada yang menyerupainya, itu tak lain adalah ulah jin yang ingin melemahkan akidah seorang muslim.

Alhamdulillah, setelah banyak mendapatkan siraman rohani dari para ustaz dan wawasan dari beberapa buku yang kubaca, hatiku mulai tenang kembali. Dan berangsur rasa takutku mulai hilang.

Aku juga mulai pelan-pelan memberanikan diri untuk mengemudikan mobilku lagi dimulai dari mengelilingi perumahan hingga ke jalan raya setelah sebulan tak menyentuh mobilku. Rasanya seperti baru pertama bisa bawa mobil lagi.

Alhamdulillah akhirnya aku berhasil mengatasi trauma. Rasa takutku yang bermacam-macam tadi berangsur hilang dan aku kembali lancar mengemudikan mobil di jalan seperti semula.

Hanya saja, kejadian ini apa boleh buat masih tetap saja menyisakan sedikit rasa takut yang lain. Yaitu takut naik/membonceng motor. Dan ternyata ini berimbas pada Salma juga. Tapi seiring berjalannya waktu, dengan adanya tuntutan kehidupan mandiri saat mulai kuliah, kini Salma sudah mulai berani membonceng motor. Karena ojek on line dibutuhkannya setiap saat di sana.

Tapi dari kejadian yang lalu itu aku bisa mengambil hikmah positif di dalamnya. Di antaranya, mengingat kematian, memperkuat akidah dan lebih berhati-hati saat berkendara.

Setelah hampir 9 tahun berlalu, mobil Aveoku ini masih tetap setia menemaniku. Dari ketika mengantar dan menjemput Salma dan teman-temannya saat sekolah, les, lomba atau kegiatan lain, menjadi saksi bisu kisah seru dan curhat Salma di saat pulang sekolah, mengantar orangtua berkeliling kota Cirebon saat mereka datang berkunjung, mengantar Salma dan suamiku ke dokter saat sedang sakit, hingga menikmati me time bersama Salma di spa dan restoran favorit.

Tapi mobilku ini sering kambuh ‘sifat manjanya’. Kalau aku sedang keluar kota dan mobilku itu tidak dibawa jalan selama beberapa hari, nanti saat akan digunakan lagi ada saja penyakitnya. Dari kecepatan RPM-nya yang suka mendadak tinggi, hingga bergetar sendiri saat dinyalakan mesinnya.

Begitupun kalau habis dicuci, mobilku harus dijemur terlebih dahulu sebelum diparkir di depan rumah bila akan tidak dipakai selama beberapa hari. Kalau tidak, biasanya nanti saat akan dipakai kanvas rem tangannya suka lengket. Sehingga tidak bergerak rodanya saat akan dijalankan.

Jadi Aveoku ini maunya diajak jalan setiap hari. Hikmahnya…, supaya aku aktif pergi ke tempat pengajian dan ke Rumah Belajar Cirebon. Kuanggap itu sebagai bentuk motivasiku untuk selalu mempelajari ajaran Islam, mendapatkan siraman rohani sekaligus pengingatku agar lebih memperhatikan pengelolaan Rumah Belajar Cirebon.

Hmmm… Aveoku ini memang benar-benar Si Manja yang Setia… 😊

Teach Like Finland

Standar

Judul: Teach Like Finland
Penulis: Timothy D. Walker
Penerbit: Gradindo
Cetakan: I, Juli 2017
Jumlah Halaman: 197 hal
ISBN: 978-602-452-044-18

Selama ini pandangan umum terhadap keberhasilan pendidikan para siswa di sekolah itu adalah ditentukan oleh lamanya durasi belajar, padatnya materi pelajaran yang diberikan, ujian yang berstandar hingga banyaknya PR yang harus diselesaikan oleh siswa.

Tapi setelah membaca buku “Teach Like Finland”, kita akan menjadi tersadarkan bahwa ternyata ada beberapa hal lain yang selama ini mungkin tak biasa dilakukan oleh para guru di sekolah namun ternyata mempunyai efek yang luar biasa bagi siswanya.

Melalui buku yang ditulisnya ini Timothy D. Walker menceritakan pengalamannya saat mengajar di Finlandia dan mengungkapkan 33 strategi sederhana agar sebuah kelas menjadi suatu tempat belajar yang menyenangkan dan membawa kemajuan yang positif bagi para siswanya.

Melejitnya potensi para siswa Finlandia yang masih berusia 15 tahun ketika mengikuti ujian ketrampilan berpikir kritis di matematika, sains, dan membaca pada saat penyelenggaraan PISA (Programme for International Student Assesment) yang pertama di tahun 2001 menjadi bukti nyata keberhasilan strategi tersebut.

Mereka mengejutkan dunia karena meraih skor yang tertinggi dan mampu bersaing dengan siswa Asia Timur yang terkenal dengan persiapan belajarnya yang matang setiap akan mengikuti ujian /kompetisi, seperti siswa Jepang, Korea, Hong Kong.

33 strategi sederhana yang dimaksudkan tersebut dikelompokkan dalam 5 bagian penting sebagai berikut:

1. Kesejahteraan: – Jadwal istirahat otak, Belajar sambil bergerak, Recharge sepulang sekolah, Menyederhanakam ruang, menghirup udara segar, masuk ke alam liar, menjaga kedamaian.

Di sekolah perlu diupayakan bagaimana membuat siswa agar selalu merasa nyaman dan segar baik fisik, mental maupun tempat/lingkungan belajarnya.

2. Rasa Dimiliki: Mengenal setiap anak, Bermain dengan murid, Merayakan pembelajaran mereka, Mengejar mimpi kelas, Menghapus perisakan (bullying).

Di kelas maupun sekolah, para siswa sebaiknya dibiasakan agar saling memiliki kepedulian dan keakraban antar siswa atau guru.

3. Kemandirian.: Mulai dengan kebebasan, Meninggalkan batas, Menawarkan pilihan, Buat rencana bersama siswa anda, Buat jadi nyata, Tuntutan tanggung jawab.

Kekakuan dalam proses belajar mengajar selama ini dapat dicairkan dengan memberi lebih banyak ruang kebebasan dan fleksibilitas dalam prakteknya dengan tidak mengabaikan rasa tanggung jawab bagi setiap guru maupun siswanya akan tugasnya masing-masing.

4. Penguasaan: Ajarkan hal-hal mendasar, Gunakan buku pegangan, Manfaatkan teknologi, Memasukkan musik, Menjadi pelatih, Buktikan pembelajaran, Diskusikan nilai.

Demi mengasah segenap potensi yang dimiliki para siswa, seorang guru harus mengeluarkan semua metode mengajarnya yang tak hanya menyenangkan, namun juga berbobot dan berkualitas.

5. Pola pikir: Mencari flow, Berkulit tebal, Kolaborasi lewat kopi, Menyambut para ahli, Melepaskan diri untuk berlibur, Jangan lupa bahagia.

Yang dimaksud dengan flow di sini adalah menjalani seluruh aktifitas dengan cara yang menyenangkan dan tanpa beban. Jadi setiap guru harus membentuk pola pikir dalam diri mereka bahwa kegiatan mengajar dan semua yang berhubungan dengan proses belajar adalah kegiatan yang menyenangkan dan pantas dinikmati bersama semua siswa dan orangtuanya.

Nah, semua strategi tersebut bila kita coba terapkan pada setiap sekolah di negara kita mungkin dapat menjadi solusi cerdas terhadap setumpuk problematika pendidikan di negara kita ini.

Sehingga tak ada lagi persoalan dilematisnya UN, USBN, Full Day School, masalah bullying, kekerasan di sekolah antara guru maupun siswa, bunuh diri karena stress terhadap beban pelajaran sekolah, budaya menyontek, main suap dan lain-lain.

Karena bagaimanapun dalam proses belajar yang lebih manusiawi dan menyenangkan, terdapat para siswa dan guru yang bahagia dan sukses.

Bagai Embun Pagi

Standar

Saat pekatnya malam berangsur memudar dengan hadirnya sang mentari perlahan dari ufuk Timur, saat itulah kesegaran suasana pagi tercurah di muka bumi ini. Suara burung berkicau merdu, desir angin lembut, serta sejuknya embun pagi yang membasahi rumput, ranting dan dedaunan seolah menyambut suasana pagi yang indah.

Bagi para pejuang Subuh, datangnya pagi adalah pemantik semangat untuk mengais berkah, ilmu dan rejeki-Nya. Karena saat azan Subuh bergema, panggilan beribadah di pembuka hari tersebut bagai pembuka jalan kesuksesan dunia akhirat dari-Nya bagi siapapun yang mau memenuhinya.

Tentu masih ingat kan ketika orangtua kita sering mengingatkan agar selalu rajin bangun pagi? Karena ayam saja pagi-pagi sudah bangun dan sibuk mencari makan. Nah, kalau kita bangun kesiangan, rejeki kita nanti bisa “dipatok ayam”.

Dan ternyata memang banyak bukti yang menunjukkan bahwa bangun pagi itu banyak berkah dan manfaatnya, lho. Apalagi bagi kaum muslim yang sesudah shalat Subuh tidak tidur lagi, melainkan melakukan berbagai aktifitas atau kegiatan yang positif dan bermanfaat. Seperti membaca Al Qur’an, berolahraga, belajar, membaca buku, memasak dan lain-lain.

Apa saja sih manfaat bangun pagi? Yuk, kita simak di bawah ini:

1. Menghilangkan racun tubuh, terlebih bila diimbangi dengan berolahraga.

2. Menyegarkan dan menyehatkan fisik, mental dan otak.

3. Menambah keberkahan dari Allah Swt.

4. Memberi ketenangan dalam hati dan pikiran.

5. Membuat wajah tampak lebih awet muda dan cerah karena efek dari segarnya tubuh serta tenangnya hati dan pikiran.

6. Memudahkan dalam mengatur waktu karena sejak pagi sudah beraktifitas.

Dengan semua manfaat yang dapat kita peroleh bila kita membiasakan diri bangun pagi dan menikmati suasananya tersebut, maka alangkah ruginya bila kita tak menjadi bagian di dalamnya.

Mulai besok, mari kita bangun lebih pagi dan jangan tidur lagi sesudah shalat Subuh bagi yang muslim. Keluarlah ke halaman rumah, kebun atau ke sawah dan hiruplah semua kesegaran suasananya. Jangan sampai saat sang mentari makin meninggi dan embun pagi telah menguap di udara yang panas, kita baru terjaga dari mimpi kita.

Karena sesungguhnya rejeki bagaikan embun pagi yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang gemar ‘meramaikan’ Subuh hingga terbitnya Sang Mentari.

Sumber gambar: https://pixabay.com/

Resensi buku “The Ho[s]tel 2”

Standar

Judul : The Ho[s]tel 2
Penulis : Ariy, dkk
Penerbit : B first (PT Bentang Pustaka)
Cetakan : Edisi 1, Juni 2014
Jumlah Halaman: 212 halaman
ISBN : 978-602-1246-02-03

Kesan pertama melihat sampul buku ini adalah perasaan seram dan penasaran terhadap isi cerita di dalamnya. Apalagi setelah membaca sinopsis di belakangnya. Membuat tak sabar untuk segera membaca buku ini dan terlibat dalam kisah seramnya.

Meskipun pada bagian bawah di belakang sampul tertera keterangan “Travelogue”, yang berarti bahwa kategori buku ini adalah Kisah Perjalanan, namun kesan seram terhadap buku ini memang terasa lebih menonjol.

Setidaknya bila memang benar isi buku ini tentang perjalanan wisata sekalipun, tentu ada bumbu kisah seramnya. Begitu pasti kebanyakan orang mengira hingga akhirnya terpancing untuk membeli buku ini.

Dan kesan seram itu memang terbuktikan saat mulai membaca di bagian awal buku ini. Bulu kuduk bisa berdiri, terlebih bila membacanya sendirian saat malam hari. 😱

Tapi ketika mulai membaca bagian kedua dan seterusnya, kesan seram perlahan mulai menghilang. Yang ada malah perasaan geli hingga bisa senyam senyum sendiri saat membacanya. 😁

Buku ini secara keseluruhan memang menceritakan pengalaman seru, suka duka para penulisnya saat menginap di hostel dan hotel. Baik di dalam maupun di luar negeri.

Dan pengalaman itu bisa bermacam-macam. Ada pengalaman yang menyeramkan karena melihat dan merasakan kehadiran makhluk dari dunia lain. Ada pengalaman menegangkan karena kesalahan informasi. Ada pengalaman menjengkelkan karena tertipu. Ada pengalaman menggelikan karena peristiwa konyol. Ada juga pengalaman menyedihkan dan mengecewakan karena tidak sesuai dengan ekspektasi.

Semua kisah dan pengalaman itu terangkum dengan menarik dalam buku ini. Ilustrasi lucu dan tambahan beberapa tip yang bermanfaat di setiap akhir kisahnya juga membuat buku ini makin enak dibaca.

Ariy, penulis utama buku ini menceritakan di bagian pengantarnya bahwa buku “The Ho[s]tel” yang pertama kali ditulisnya dan diterbitkan telah mendapatkan banyak respon dari para pembacanya dari berbagai kalangan. Bahkan anak SD pun ternyata suka membaca bukunya.😄

Banyaknya pesan dan sambutan positif melalui email, Facebook dan Twitter dari para pembaca bukunya makin membuat Ariy bersemangat untuk membuat sekuel “The Ho[s]tel”. Hingga penerbit membuat kompetisi penulisan kisah perjalanan untuk “The Ho[s]tel 2”.

Dari hasil kompetisi itu terpilihlah 18 cerita yang paling seru di antara ratusan naskah yang masuk. Nah, 18 cerita tersebut bersama 2 naskah Ariylah yang akhirnya menjelma menjadi buku “The Ho[s]tel 2” ini.

Bila teman-teman ingin mencari buku bergenre horor atau thriller jangan sampai terkecoh gara-gara melihat penampilan sampul buku ini ya… Karena saya juga sempat terkecoh karenanya…😅

Tapi bilapun sampai terkecoh, tak ada yang rugi juga kok… Karena cerita dalam buku ini seru lho… Dan tip-tipnya sangat berguna bagi siapapun yang punya rencana untuk mengadakan perjalanan wisata dan menginap di hostel/hotel. Supaya pengalaman yang tidak menyenangkan dari para penulis buku ini tidak terjadi pada yang lain.

Resensi buku “Resep Hidup Sehat 25 Dokter”

Standar

Judul : Resep Hidup Sehat 25 Dokter
Pengolah Naskah: Nanny Selamihardja, M. Sholekhudin, Miftakh Faried, Soesanti H. Hartono, Brilyantini
Penerbit : PT. Intisari Mediatama
Cetakan : Cetakan 1, November 2004
Jumlah Halaman : 107 Halaman
ISBN. : 979 – 3590 – 16 – 5

Bila mendengar istilah dokter, yang terbayang dalam pikiran kita adalah seseorang yang mempunyai keahlian mengobati orang-orang yang sakit.

Sejak jaman dulu hingga sekarang profesi dokter bahkan termasuk dalam salah satu profesi yang diidamkan oleh sebagian besar orang di Indonesia. Tentu kita juga masih ingat saat kita dulu masih kecil ditanya apa cita-citanya? Pasti banyak yang menjawab ingin jadi dokter 😀

Dengan keahliannya itu, dokter juga dianggap sebagai sosok yang memiliki kesehatan prima. Karena bila ia mampu mengobati penyakit orang lain, tentu kesehatan dirinya sangat dijaga.

Atas dasar itulah, team pengolah naskah dalam buku ini lalu berinisiatif menemui 25 orang dokter yang namanya sudah dikenal oleh masyarakat dan mewawancarai mereka langsung untuk menimba ilmu dan pengalaman mereka dalam menjaga kesehatan.

Ternyata dari 25 orang dokter yang telah diwawancarai, mereka mempunyai beberapa kesamaan resep dalam menjaga kesehatan. Di antaranya sebagai berikut:

1. Selalu bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
2. Keseimbangan dalam mengatur pola makan/minum, ritme bekerja/istirahat, hubungan dengan keluarga/masyarakat.
3. Menikmati pekerjaan dan passionnya

Semua upaya yang telah mereka lakukan dalam menjaga kesehatan itu menunjukkan bahwa dokter juga manusia biasa yang bisa sakit. Maka dengan membaca buku ini, kita dapat memperoleh aneka resep kesehatan yang penting dan bermanfaat dari 25 dokter ternama.

Midnight Doctor

Standar

Keluhan sakit telinga putriku malam itu melalui telepon selulernya membuatku memutuskan untuk segera berangkat ke Bandung sesudah menjenguk ibu di Magelang beberapa hari yang lalu.

Sejak kembali dari Tanah Suci (Agustus -September) hingga bulan Oktober ini, aku harus sering bolak balik Cirebon-Magelang-Bandung untuk menengok ibu dan putriku. Karena kedua wanita itulah dua permata hati yang paling kucintai.

Sesaat sebelum berangkat ke Bandung dengan Bhineka Shuttle, aku sempat searching di Google, mencari informasi dokter spesialis THT yang terbaik di Bandung.

Dengan kata kunci tersebut, aku mendapatkan nama dan alamat seorang dokter spesialis THT di Bandung yang mempunyai banyak testimoni positif dari orang-orang yang pernah berobat kesana. Nama lengkap dokter spesialis THT itu Prof. DR. dr. Thaufiq Boesoirie M.Sc. Hmm… Namanya unik dan harus pelan-pelan membacanya supaya tidak salah ucap.

Dengan melhat banyaknya testimoni kepuasan para pasiennya itulah yang membuatku yakin akan kredibilitasnya. Aku langsung menekan tombol telepon yang terdapat dalam informasi dari Google tersebut.

Alhamdulillah langsung tersambung dan diangkat oleh seorang wanita. Mungkin bagian adminnya. Nama putriku langsung kudaftarkan saat itu juga. Tapi aku terkejut ketika disebutkan bahwa nomor antrean putriku sudah mecapai angka 70-an dan waktu periksanya pukul 22.00.

Saat itu yang kupikirkan adalah nanti kami kembali ke kost bisa sampai jam berapa? Apakah masih ada kendaraan yang bisa mengantar kami pulang? Dan apakah pintu gerbang kost masih bisa dibuka bila pulang sampai larut malam begitu? Karena pada peraturan kost yang pernah kubaca waktu itu, paling lambat pulang ke kost adalah pukul 23.00.

Tapi ah, sudahlah…, yang penting putriku sudah mendapat dokter yang recommended. Mengenai bagaimana nanti, coba jalanin saja dulu deh…

Dan tiba-tiba saja shuttle bus ini sudah mulai memasuki tol Pasteur. Aku langsung bersiap-siap merapikan tas jinjingku. Waktu menunjukkan pukul 17.00 kurang sedikit saat shuttle bus berhenti tepat di depan Pasteur Hyperpoint.

Tempat tersebut memang merupakan tempat pemberhentian terakhir semua penumpang. Berbeda dengan tempat berangkat shuttle tersebut menuju ke Cirebon (berangkatnya dari kantornya langsung yang letaknya ada di seberang jalan).

Tapi kulihat semua kendaraan travel yang membawa penumpang dari Cirebon memang rata-rata tempat akhir berhentinya di sini. Mungkin untuk mempermudah akses, bisa langsung menuju ke arah jalan kota Bandung tidak perlu harus memutar arah lagi.

Aku langsung memesan Grab Car dengan aplikasi dari smartphoneku. Dalam waktu singkat mobil Grab sudah datang.

Memang lebih nyaman bila menggunakan transportasi on line. Tak perlu menunggu terlalu lama, aman, supirnya baik dan ramah, mobilnya rata-rata bersih dan wangi, serta bisa diantar tepat sampai di tujuan.

Maka meski banyak didemo di mana-mana, kendaraan on line ini tetap saja bertahan karena banyak yang membutuhkannya.

Begitu tiba di kost putriku, aku langsung menuju ke kamarnya yang terletak di lantai 2.

Putriku menyambut dengan gembira. Rupanya ia baru saja pulang dari kuliah dan mandi. Jerawatnya masih tampak di dahi dan sebagian pipinya. Tapi sudah banyak berkurang dibandingkan sebelumnya.

Sesudah Isya kami langsung berangkat menuju ke tempat praktek dokter spesialis THT yang sudah kuhubungi tadi siang.

Alamat lengkap dan nomor teleponnya yang tadi kuperoleh dari Google adalah di Jl. Belitung No.4, Merdeka, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40113. (022) 4205465. Letaknya tepat berada di depan Taman Lalu Lintas.

Sesampainya di sana tampak masih banyak mobil yang diparkir di depan halamannya. Ketika kami masuk ke dalam, wah…, ruang tunggunya masih dipenuhi pasien yang mengantre. Aku langsung menuju ke meja resepsionis dan menemui seorang bapak yang tampak sibuk mengetik data pasien dengan mesin tik kuno.

“Maaf pak, sekarang sudah sampai nomor antrean berapa ya?”

“Baru nomor 23 bu.. Putri ibu nomor berapa?” bapak itu balik bertanya.

“Nomor 75 pak…,” jawabku sambil berharap masih bisa maju ke antrean yang lebih awal.

“Wah, kalau gitu masih lama bu… Nanti masuknya bisa jam 12 atau jam 1 malam bu…,” kata bapak itu sambil tersenyum. Lalu ia memintaku mengisi data putriku.

“Ya Allah…! Yang bener aja nih?? Antrean dokter bisa sampai dini hari begitu??” Aku terkejut bercampur heran. Karena baru kali ini mendapat antrean di dokter sampai lewat tengah malam.

Sebelumnya kalaupun antre paling lama ya sampai jam 10 malam saja. Sambil menunggu, kami keluar sebentar untuk makan malam di sebuah warung bebek goreng tak jauh dari tempat itu.

Tapi ketika kami kembali dan mengecek ke dalam, suasana masih sama seperti tadi. Kursi di ruang tunggu itu masih dipenuhi pasien yang mengantre.

Untuk menghalau rasa kantuk, kami memesan 2 mangkuk wedang sekoteng pada penjualnya yang mangkal di depannya. Aroma jahe yang hangat bercampur susu dan kacang yang manis gurih terasa nikmat sehingga bisa lumayan menyegarkan badan kami.

Dari pembicaraan kami dengan penjual wedang sekoteng dan beberapa pasien yang ikut membeli sekotengnya, kami jadi tahu bahwa ternyata bila ingin periksa di dokter spesialis THT ini memang harus siap mengantre dengan antrean yang panjang. Bahkan bisa sampai Subuh. Karena memang dokter THT ini sudah terkenal di Bandung.

Ya Allah… Kami hanya bisa tercengang mendengarnya. Jujur saja, kami saat itu mulai bimbang. Antara mau tetap mengantre atau pulang saja? Bila kami bertahan, jam berapa kami sampai di kost? Bagaimana bila kami benar-benar harus mengantre sampai Subuh? Ini sama saja kami tidak tidur semalaman.

Tapi bila kami pulang, sudah kepalang tanggung. Karena menurut seorang petugas di apotek, kalau mau daftar lagi buat periksa besokpun pasti juga sudah panjang antreannya. Karena banyak pasien lain yang sudah mendaftar sebelumnya.

Akhirnya kuputuskan untuk bertahan saja di sana, mengantre dengan sabar. Sempat terlintas dalam pikiran kami untuk menginap di wisma yang berada di samping tempat praktek dokter ini.

Bahkan kami sempat datang dan melihat-lihat ke wisma tersebut untuk mencari informasi mengenai tarif menginap di sana. Supaya kami juga dapat beristirahat sambil menunggu antrean dokter. Karena kebetulan besok pagi juga putriku tidak ada jadwal kuliah.

Tapi ternyata petugas customer servicenya sedang keluar. Yang ada hanya penjaga wisma yang tidak tahu informasi apapun tentang tarif menginap di sana. Suasana wisma dengan bentuk bangunannya yang kuno dan dan sangat sepi itu sebetulnya sempat membuat kami ragu juga untuk menginap di sana.

Sehingga mau tak mau kami kembali lagi ke ruang tunggu dokter dan menunggu antrean sambil terkantuk-kantuk bersama pasien lain yang sebagian berbaring dan tidur di kursi ruang tunggu.

Akhirnya saat waktu menunjukkan lewat pukul 1 malam, tibalah giliran nama putriku yang dipanggil masuk ke ruang praktek dokter.

“Alhamdulillah… berakhir juga penantian panjang ini….!” pekikku dalam hati.

Segera kami masuk ke ruang praktek dokter. Aku penasaran dengan dokter ini. Kok bisa sedemikian hebatnya hingga membuat para pasiennya rela mengantre berjam-jam sampai dini hari.

Kesan pertama yang kulihat dari dokter Thaufiq adalah orangnya ramah, sabar dan suka bercanda. Yang mengherankan, tak terlihat keletihan di wajahnya sama sekali. Sedangkan beliau setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu melayani ratusan pasien dari jam 5 sore sampai dini hari, bahkan terkadang sampai Subuh.

Padahal berdasarkan cerita beberapa pasien yang tadi sempat ngobrol di luar saat mengantre, dokter Thaufiq ini selain berprofesi sebagai dokter spesialis THT, ternyata juga seorang Rektor di Unisba (Universitas Islam Bandung). Wiiih, kereen… Tapi bagamana cara beliau membagi waktu untuk istirahatnya ya?

Sebelum sempat menebak pertanyaanku sendiri, perhatianku sudah teralih pada cara dokter Thaufiq memeriksa telinga putriku. Putriku disuruh duduk di sebuah kursi dekat peralatan dokternya. Lalu telinganya diperiksa dengan semacam kacamata khusus untuk meneropong bagian dalam telinga sambil disorot dengan sinar lampu yang sangat terang.

Pada bagian telinga kirinya yang sakit ternyata memang ada luka /radang di dalamnya. Dokter Thaufiq lalu membersihkan dan menyemprotkan cairan obat ke bagian dalam telinga putriku. Sedangkan telinga bagian kanan hanya dibersihkan saja.

Dokter Thaufiq bekerja dengan sangat teliti, hati-hati dan cekatan. Dalam waktu singkat pemeriksaan dan tindakan terhadap telinga putriku telah selesai. Dan dari ekspresi wajah putriku, aku tahu telinganya sekarang sudah lebih baik keadaannya daripada sebelumnya.

Saat dokter Thaufiq menuliskan resep dokternya, sempat kutanyakan apakah betul jam prakteknya bisa sampai Subuh? Karena masih belum percaya sepenuhnya terhadap cerita yang kudengar tadi.

“Iya betul bu… Yah, sampai antrean pasien di luar selesai bu. Jadi enak kan? Saya bisa langsung shalat Subuh. ” jawab dokter Thaufiq sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menahan rasa heran sekaligus kagum dalam hatiku.

Setelah mendapatkan resep obatnya, kami mengucapkan terima kasih dan langsung berpamitan pulang.

Sebelumnya kami menebus resep obat di apotik yang berada di ruangan lain.

Alhamdulillah, Grab Car yang kami pesan segera tiba. Sehingga kira-kira jam 2 dinihari kami sudah sampai di kost putriku.

Mas Fachri penjaga kost yang sudah tidur menjadi terbangun ketika mendengar suara kami dan langsung membukakan pintu gerbang kost.

“Aduh… Maaf ya mas, terpaksa jadi mengganggu tidurnya…”

Mas Fachri hanya mengangguk dengan mata yang mengantuk.

Begitu tubuh kami menyentuh kasur, kami langsung tertidur karena rasa kantuk dan letih yang sudah tak tertahankan lagi. Baru sebentar mata ini terpejam, azan Subuh sudah terdengar.

Tapi sesuatu hal yang melegakanku saat membuka mata adalah ketika mendengar putriku mengatakan bahwa sekarang telinganya sudah tidak sakit lagi dengan wajah cerianya. Alhamdulillah… 😊

Dengan demikian besok Sabtu putriku sudah dapat mengikuti UTS tanpa ada gangguan sakit telinganya lagi. Semoga diberi kemudahan, kelancaran dan kesuksesan ya Salma sayang.. 😘 Aamiin… 🙏

Fa Bi Ayyi Aalaa-i Rabbikuma Tukadzdzibaan

Standar

Kereta baru saja meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta.
Dalam perjalanan pulang menuju ke kota Cirebon dengan kereta Ranggajati ini, kutatap langit sore dari balik jendela. Beberapa gumpal awan putih tampak berarak di langit biru. Sinar terik sang surya mulai meredup meski masih menyisakan kehangatan.

Langit ini masih sama dengan langit yang kulihat beberapa hari yang lalu saat pagi menyapa di jendela kereta dalam perjalanan menuju ke Yogyakarta. Juga tak jauh berbeda dengan langit di Tanah Suci sebulan yang lalu.

Hijaunya hamparan sawah dan ladang yang tampak di kiri kanan kereta serasa melepaskan kejenuhan selama perjalanan. Beberapa batang pohon yang menari dengan anggun mengikuti irama angin sore menambah kesegaran suasana. Semua ini bagaikan pertunjukan alam yang disajikan oleh Sang Pencipta untuk menemani perjalanan ini.

Tapi suasana alam yang terlintas dari jendela kereta saat berjalan ini memang jauh berbeda keadaannya dengan suasana alam yang kusaksikan di sepanjang perjalanan antara kota Madinah dan Mekkah.

Tiba-tiba memori akan suasana di sana melintas di benakku. Dua kota suci itu memang menyisakan banyak kenangan dan pengalaman rohani yang tak ingin kulupakan. Karena dengannya aku akan selalu diingatkan agar selalu mengingat-Nya.

Alam tanah Arab yang gersang dan suhu udaranya yang panas luar biasa itu juga meninggalkan kesan tersendiri bagiku. Bagaimana tidak? Bila di tanah air, hijaunya alam dan sejuknya hembusan angin masih tampak dan bisa terasakan, meski sedang musim kemarau sekalipun.

Maka di sana, sejauh mata memandang hanyalah hamparan padang pasir berwarna coklat muda dan bukit-bukit berbatu. Hingga pikiranku jauh melayang ke jaman di masa Rasulullah Saw. dan para Nabi as.menjalani kehidupannya di sana.

Aku membayangkan betapa beratnya kehidupan para Utusan Allah itu dalam menghadapi ekstrimnya suhu udara dan gersangnya alam di sana.

Tapi Allah Maha Adil… Dengan kekuasaan-Nya, Ia tumbuhkan pohon kurma yang manis, lezat dan berkhasiat. Sehingga menjadi makanan kesehatan yang masih dinikmati hingga kini.

Melalui kehebatan-Nya, Ia ciptakan unta yang sanggup mengarungi ganasnya padang pasir karena memiliki cadangan air di tubuhnya. Sehingga menjadi transportasi andalan di jamannya.

Berkat kasih sayang-Nya, Ia pancarkan kesegaran air Zam-zam dari padang pasir yang gersang. Sehingga tak hanya Siti Hajar dan Ismail as. yang dihilangkan rasa dahaganya hingga dapat melangsungkan kehidupannya.

Jutaan jemaah umrah dan haji dari seluruh penjuru dunia sejak awal sejarah dimulainya ibadah haji hingga kini, dapat menikmati kesegaran airnya secara cuma-cuma saat beribadah di sana.

Masya Allah… Air Zam-zam ini memang seakan tiada pernah habisnya meski dikonsumsi secara terus menerus selama bertahun-tahun.

Air ini benar-benar menjamin kebutuhan akan air minum bagi seluruh ‘tamu-Nya’ di tanah yang terkenal kegersangannya itu. Air ini tak hanya menjadi berkah bagi umat-Nya. Namun juga menjadi bukti keadilan dan kasih sayang-Nya.

Di tanah yang subur dan hijau seperti di tanah air kita, Allah Swt. melimpahkan beraneka kekayaan alam yang dapat kita manfaatkan dengan baik.

Dan di Tanah Suci yang gersang, Allah Swt. melimpahkan tanaman kurma dan air Zam-zam yang tiada habisnya.

Allah Swt. pun telah berfirman dalam Al Qur’an, sebagai berikut:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Ar-Rahman: 13)

Semoga kita menjadi hamba Allah Swt. yang pandai mensyukuri nikmat-Nya…

Aamiin ya rabbal’aalamiin…