Monthly Archives: November 2017

Jangan (Sembarangan) Menjadi Guru!

Standar

Tanggal 25 November diperingati sebagai hari Guru Nasional. Karena pada tanggal 24 – 25 November 1945 telah berlangsung Konggres Guru Indonesia yang kemudian mewadahi para guru Indonesia dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Konggres yang dilaksanakan 100 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu membawa semangat perjuangan dan pengabdian para guru Indonesia untuk mengisi kemerdekaan di ranah pendidikan. 1)

Dan hingga kini profesi guru telah menjadi profesi yang makin banyak diminati dan banyak dicari. Terlebih karena kesejahteraan guru secara umum kini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. 2)

Bagi saya pribadi, sosok guru mempunyai kesan tersendiri di hati saya. Karena melalui mereka saya dapat mengarungi luasnya ilmu dan pengalaman dari sejak pertama kali saya mengenal huruf hingga kini dapat menggoreskan tulisan ini.

Masih teringat betapa senangnya hati ini saat mendapat acungan jempol dari guru TK dan SD ketika saya sudah dapat bersosialisasi sengan teman-teman, mampu membaca “Ini ibu Budi” dengan lancar dan dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik.

Juga masih terbayang betapa riangnya hati ini ketika akhirnya saya mampu bangkit dari kegagalan, berhasil naik kelas dan lulus ke tingkat SMP, terlebih dengan diiringi senyum bahagia para guru. Dan yang tak pernah saya lupakan adalah ketika para ustaz dan ustazah yang menjadi guru saya di pesantren mampu membuat saya mengenal lebih dalam tentang ajaran agama Islam, serta mengajarkan kemandirian, keteguhan iman dan keindahan akhlak Islam.

Saya bersyukur bisa melanjutkan proses belajar ke perguruan tinggi dan bertemu dengan para dosen sebagai guru yang mengajarkan cara berpikir secara ilmiah dan sistematis. Hingga membekali saya dalam menjalani kehidupan ini dengan lebih logis dan berusaha bijak dalam melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.

Dengan berakhirnya semua proses belajar secara formal tersebut, bukan berarti berakhir jugalah proses belajar dan perjumpaan saya dengan para guru. Karena ternyata saya masih mempunyai banyak kesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman bersama guru-guru lain yang baik. Bahkan hingga di usia saya yang setengah abad ini.

Dimulai dari belajar mengelola kursus untuk anak-anak dengan mengikuti pelatihan di bawah bimbingan para guru di pusat kursusnya. Hingga dengannya ‘lahirlah’ guru-guru baru yang kini mengajar para murid di tempat kursus yang saya kelola.

Karena saya mempunyai impian agar di masa tua saya nanti saya dapat tetap berkarya, membagi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat dunia akhirat (aamiin…), maka saya mencari guru-guru yang dapat membantu saya untuk mewujudkan impian saya tersebut.

Akhirnya saya menemukan bahwa menulis adalah salah satu cara terbaik yang insya Allah dapat mewujudkan semua impian saya tersebut. Alhamdulillah saya bertemu dengan para coach dan mentor yang baik dalam membimbing saya menulis.

Semua pengalaman saya bersama para guru itu tak hanya membuat saya memperoleh ilmu yang bermanfaat. Namun juga menyadarkan saya bahwa sosok seorang guru bukanlah sekedar profesi yang hanya mengajarkan sebuah ilmu namun juga harus mampu membentuk karakter yang baik pada muridnya.

Ada istilah dalam bahasa Jawa yang menyebutkan bahwa guru itu digugu (dipatuhi) dan ditiru (diteladani). Berarti seorang guru adalah sosok yang harus dipatuhi dan diteladani.

Untuk menjadi sosok yang sedemikian itu tentu yang harus dibenahi pertama kali adalah karakter guru terlebih dahulu. Ada peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Artinya bila seorang guru berbuat suatu kesalahan, maka muridnya bisa melakukan kesalahan yang lebih parah daripada gurunya.”

Maka tak bisa sembarangan menjadi seorang guru. Karena ia harus berdedikasi tinggi dan siap menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya. Seorang guru, idealnya memiliki karakter dan perilaku sebagai berikut :

1. Ramah dan hangat kepada para muridnya.

2. Peduli terhadap kondisi para muridnya dan selalu memotivasi mereka dalam belajar.

3. Tulus dalam mengajar.

4. Mengajar dengan penuh kesungguhan hati dan tidak menggunakan telepon seluler untuk berkomunikasi dengan orang lain selama mengajar

5. Bersikap adil dalam memperlakukan muridnya dan tidak rasis.

6. Tegas terhadap murid yang melakukan pelanggaran

7. Sabar dalam membimbing muridnya, tidak mudah emosional dan bersikap terbuka dalam menerima kritik dan saran.

8. Bertanggung jawab atas kemajuan belajar para muridnya.

9. Sopan, beretika baik dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

10. Jujur dan transparan dalam memberikan penilaian terhadap hasil belajar muridnya.

11. Bijaksana dalam memberikan punishment dan reward kepada para muridnya.

12. Tidak membawa masalah pribadi/keluarga ke sekolah.

13. Menjaga nama baik sekolah dan keluarganya dengan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama dan hukum negara.

14. Aktif dan inovatif dalam mengembangkan metode mengajarnya agar lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami para murid.

15. Rajin mencari ilmu dan wawasan baru agar materi yang diajarkan kepada para siswanya lebih berkualitas dan mempunyai nilai lebih.

16. Tidak berbicara dengan bahasa yang kasar, vulgar dan porno serta tidak menghina muridnya dengan kata-kata atau panggilan yang kurang baik meskipun bercanda.

17. Tidak terlibat dan menolak segala bentuk kecurangan.

18. Tidak sering absen atau datang terlambat saat mendapat jadwal mengajar.

19. Selalu mempersiapkan materi pelajaran dengan matang sebelum mengajar.

20. Menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan guru lain dan orangtua murid demi kemajuan belajar semua murid.

Untuk dapat memiliki semua karakter dan perilaku positif tersebut, tentu dibutuhkan tekad yang kuat dan usaha yang maksimal. Memang tak mudah dan membutuhkan suatu proses.

Yang penting, jangan pernah berhenti dan menyerah bila dalam perjalanan ternyata menemui halangan, cobaan, kegagalan atau kesalahan. Karena semua pengalaman tersebut akan menjadi guru yang terbaik dalam rangka mencapai kesuksesan yang diharapkan.

Tapi…bila memang tak ada tekad yang kuat dan niat yang tulus untuk menjadi seorang guru yang baik… jangan (sembarangan) menjadi guru!

Selamat Hari Guru Nasional 2017

Terima kasih atas semua jasa dan dedikasi yang telah diberikan oleh para guru kepada kami. Semoga semua guru di Indonesia dapat menciptakan generasi muda yang cerdas, kreatif, beriman dan berkarakter mulia. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Sumber gambar:

https://3.bp.blogspot.com/-GltC5dD__Rw/U7UVZVQ5TcI/AAAAAAAABJM/n9j7dKSz05Y/s1600/Guru+Keren.jpg

Sumber referensi:

1) http://sejarahrakyat.blogspot.co.id/2016/10/sejarah-peringatan-hari-guru-nasional.html?m=1

2) http://m.liputan6.com/bisnis/read/3175063/tunjangan-meningkat-berapa-penghasilan-guru-saat-ini

Setengah Abad

Standar

Jika Kau perkenankan hidupku mengarungi sang waktu hingga 100 tahun,

Setengah dari perjalanan itu telah kujelajahi dengan lintasan peristiwa dan kisah…

Yangi diwarnai ulah dan tingkah, perpaduan antara kepolosan, kecerobohan, dan kerasnya kemauanku.

Dan menggoreskan takdir demi takdir yang tertulis hingga lembaran masa yang ke 50 dalam hidupku ini.

Jika memang Kau masih izinkanku tuk lanjutkan sisa perjalanan ini…

Mampukan hamba-Mu ini ya Allah…

Tuk wujudkan semua impian yang masih tersimpan,

Tuk bahagiakan semua orang yang kucintai,

Tuk tunaikan ibadah terbaikku untuk-Mu.

Agar happy ending yang kugapai

Saat perjalanan ini telah genap mencapai 100 tahun.

Namun…

Bila Kau tak mengizinkannya…

Berkahilah setengah abad pencapaian usiaku ini hingga sisa usia yang Kau berikan nanti…

Ampunilah semua dosa dan khilafku…

Dan kuatkan hamba-Mu ini agar sanggup mengisi sisa waktu yang singkat ini dengan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat.

Agar tak ada penyesalan yang terendap dan menyesakkan hati.

Ya Allah panjangkan umurku, berkahilah usiaku, ridhailah langkahku…

Bahagiakan hidupku bersama semua keluarga dan sahabat yang kucintai.

Selamanya…

Hingga di akhirat nanti…

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Musik: 🎼 Letter – Yiruma 🎹

The Spirit of November

Standar

Bulan November bagi saya merupakan bulan yang istimewa. Karena pada bulan tersebut berkumpul semua peristiwa yang merangkai sejarah hidup saya dan keluarga saya. Dari pernikahan, kelahiran saya, suami dan putri saya, hingga berdirinya Rumah Belajar Cirebon, sebuah tempat belajar non formal untuk anak-anak yang sampai saat ini masih saya kelola.

Berdasarkan kalender nasional, pada bulan ini juga terdapat dua tanggal yang penting. Yaitu tanggal 10 November, yang diperingati sebagai hari Pahlawan dan tanggal 12 November yang dinyatakan sebagai Hari Ayah Nasional.

Bagi saya, pahlawan dan ayah merupakan dua kata bermakna yang saling berhubungan satu sama lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan juga bermakna pejuang yang gagah berani. 1)

Gambar karya @Salma Fedora

Seorang ayah sejati, sesungguhnya memiliki semua makna dari pahlawan tersebut. Dan seorang ayah, idealnya memang sosok yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Demikian itu pulalah yang ternyata telah saya temukan dalam diri ayah saya.

Ayah saya bukanlah seorang lelaki yang berbadan tegap, bersuara tegas dan berwajah seram. Ayah saya seorang lelaki yang pendiam, lemah lembut, kutu buku dan sederhana. Namun di balik semua itu, ayah saya memiliki keberanian dalam memperjuangkan prinsip dan keyakinannya. Hingga ia berani berbeda dan rela berkorban meski harus hidup sederhana, asalkan jalan yang ditempuhnya benar, rejeki yang diperolehnya halal dan apa yang dilakukannya tidak mengganggu orang lain.

Foto koleksi pribadi

Dari ayah, saya belajar bagaimana menjadi seorang wanita yang gemar membaca, teguh memegang prinsip, sabar, percaya diri dan mau bangkit dari kegagalan. Bila kini saya mulai berkecimpung dalam dunia kepenulisan pun, tak lain adalah berkat motivasi dan jasanya juga.

Seorang ayah juga merupakan sosok pejuang yang gagah berani. Dan hal itu telah ditunjukkan oleh suami saya yang juga ayah putri kami. Ia akan siap mengantar dan menemani kami ke manapun kami akan pergi. Ia juga akan berjuang sepenuh hati agar kami dapat memiliki tempat tinggal yang nyaman dan menikmati makanan yang kami sukai. Bila ada seseorang atau sesuatu hal yang dapat membahayakan kami, maka ia akan melindungi kami dengan gagah berani.

Foto koleksi pribadi

Dari suami saya yang juga ayah putri kami, kami belajar bagaimana harus tegar dan ulet dalam menjalani kehidupan. Dengan kebijaksanaannya, kami juga mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai passion kami. Dan berkat jasanya kami dapat merintis usaha pendidikan di Rumah Belajar Cirebon.

Ayah saya dan suami saya adalah dua pahlawan sejati dalam kehidupan saya. Karena ayah saya sudah berpulang ke hadirat-Nya, sebagai bakti saya kepadanya, saya hanya bisa mendoakannya agar mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan kepada suami saya yang sudah menjadi suami dan ayah yang baik bagi saya dan putri kami, saya akan berusaha untuk menjadi istri yang shalehah dan setia kepadanya.

Sumber referensi :

1) https://kbbi.web.id/pahlawan

2) pengalaman pribadi