Monthly Archives: Maret 2018

Target Bulan Maret dan Bagaimana Cara Mencapainya

Standar

Setiap orang pasti punya impian yang ingin dapat tercapai suatu hari nanti. Dapat menerbitkan satu buku dalam satu bulan pernah menjadi salah satu di antara daftar impianku. Baik itu buku antologi atau buku solo. Bagi penulis pemula seperti aku ini, untuk menyelesaikan naskah hingga menjadi sebuah buku sungguh tidak mudah. Butuh perjuangan melawan rasa malas, kebiasaan menunda waktu, writer’s block, rasa tak percaya diri dan adanya keterbatasan kemampuan.

Karena terobsesi ingin mewujudkan impian tersebut aku menjadi bersemangat ikut kelas-kelas menulis online/offline dari berbagai genre, terutama yang hasil finalnya dibukukan. Aku sengaja mencoba beraneka genre karena penasaran dengan ilmunya sekaligus ingin melihat kira-kira nanti aku lebih cocok di genre yang mana.

Kebetulan di medsos sedang banyak penawaran kelas menulis yang sangat menggoda (di antaranya kelas-kelas menulisnya Bu Anna Farida😍). Kelas-kelas menulis ini ada yang berlangsung di WA grup, FB grup, Telegram, dan Webinar. Beberapa proyek menulis buku antologi yang tanpa diawali kelas menulis juga kuikuti. Bahkan lomba menulis blog pun sempat kucoba, meskipun belum menang.πŸ˜…

Sehingga sejak bulan Desember tahun lalu hingga akhir bulan Maret ini, hampir setiap hari aku disibukkan dengan kegiatan menulis. Yang tak terduga, ada beberapa kelas menulis online yang kuikuti ternyata bentrok tanggal dan jamnya.

Aku baru menyadarinya saat menyusun jadwal tugas menulis dan tanggal deadline-nya di notes smartphone-ku. Mungkin karena waktu itu aku terlalu bersemangat mengambil kelas menulis sampai kurang memperhatikan waktunya.

Akibatnya mau tak mau dalam satu waktu yang sama, aku harus menyimak dua hingga tiga kelas menulis sekaligus secara bersamaan. Deadline tugas-tugas menulisnya pun waktunya saling berdekatan. Aku sempat kewalahan dalam membagi waktu antara mengikuti kelas menulis, mengerjakan PR menulis dan melakukan tugas-tugas harianku.

Agar semua naskah bisa selesai sebelum deadline, aku berusaha menggunakan setiap celah waktu di antara rutinitas harianku dengan sebaik-baiknya. Kadang sambil masak, kadang di perjalanan saat menjenguk ibuku di Magelang atau menengok putriku di Bandung, kadang di kantor sambil mengerjakan tugas lain, kadang malam hari sebelum tidur. Kecanggihan smartphone memang sangat membantu. Karena aku dapat langsung menulis naskahku di dalamnya, tanpa harus repot membawa dan membuka laptop ke mana-mana.

Alhamdulillah akhirnya semua tugas bisa terselesaikan. Hanya ada satu naskah saja yang melampaui deadline beberapa menit. Aku bersyukur karena pihak penyelenggara ternyata masih memberi perpanjangan waktu bagi semua kontributor untuk memeriksa dan memperbaiki naskahnya. Sehingga aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menyempurnakan naskah. Tulisan ini pun merupakan target tugas terakhir dari bu Ida Fauziah/Sekolah Perempuan di bulan Maret yang telah kuselesaikan.

Memasuki awal tahun ini aku mulai memanen hasil dari kelas menulis dan proyek menulis yang pernah kuikuti. Satu persatu buku antologiku mulai terbit. Di bulan Februari ada dua bukuku yang terbit. Begitu juga di bulan Maret ini. Setelah itu insya Allah bulan berikutnya akan disusul oleh buku-bukuku yang lain.

Meskipun buku yang terbit berupa buku antologi, tapi banyak hal positif yang bisa kuambil darinya. Di antaranya, makin bertambahnya teman dari komunitas menulis yang keren-keren, terbukanya kesempatan untuk dapat terus berlatih menulis serta saling menimba ilmu dan pengalaman.

Hanya saja di setiap pencapaian terkadang memang harus ada yang harus dikorbankan. Begitu pun dengan makin sering terbitnya bukuku, aku jadi tak sempat lagi menulis di blog pribadiku di wordpress (irmafang11.wordpress.com) dan di akun UC News-ku.

Padahal sebelumnya hampir setiap hari aku menulis di blog dan seminggu sekali menulis di UC News. Aku juga belum sempat mengirim tulisan untuk akun Perempuan Menulis di UC News. (Maafkan muridmu ini bu Ida Fauziah πŸ˜”πŸ™).

Maka setelah tercapainya beberapa target di bulan Maret ini, rencana berikutnya, aku ingin mengerjakan proyek menulis kisah Idul Adha bersama mbak Wulan, melanjutkan novel teenlit yang sinopsisnya masih banyak revisi, serta fokus menyelesaikan dua naskah untuk rencana buku solo-ku yang sudah mangkrak selama bertahun-tahun.

Selain itu aku ingin kembali menulis di blog pribadiku yang sudah mulai ‘berdebu’ dan di akun UC News-ku yang sudah lama tak kubuka (semoga tidak diblokir karena sudah lama belum menulis lagi di sana).

Pengalamanku tentang keberhasilan dalam mewujudkan impian dapat menulis satu buku dalam satu bulan ini hanyalah sekedar sebagai motivasi untuk diriku pribadi agar lebih rajin berlatih menulis dan untuk teman-teman sesama penulis pemula agar tidak ragu dalam mewujudkan impian yang sama.

Sebab tak ada yang mustahil bila kita mempunyai tekad yang kuat. Sepanjang tak menyalahi kodrat Ilahi dan aturan-Nya, sah-sah saja bila kita punya impian setinggi langit. Karena bila belum tercapai, kita masih berada di antara bintang. Begitu kira-kira maksud dari quote-nya bapak Presiden RI pertama kita, Ir. Soekarno.

Satu hal lagi, semakin banyak buah pikiran yang kita tulis dan dibukukan, insya Allah makin banyak pula bekal yang akan kita bawa menuju ke akhirat nanti. Tapi dengan catatan, bekal yang kita bawa harus bekal yang baik lho ya… Jadi tulislah yang baik dan membawa pesan kebaikan agar baik pula bekal dan catatan amal kita nanti. Aamiin…

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN #sekolahperempuan
#KuisBulanMaret

Dibayar Kontan++

Standar

“Koh, roti sisir yang saya simpan di kulkas ada di mana ya?” Pagi itu aku pengin makan camilan sambil dengerin kajian di You Tube seperti biasa bersama suamiku.

“Oh sudah saya kasih ke pembantu,” kata suamiku.

“Lho, kok nggak nanya dulu ke saya sih koh? Saya kan masih mau…,” kataku dengan sedikit kecewa. Tapi ya sudahlah nggak apa-apa deh… Aku langsung lanjut ke dapur dan memasak.

Seusai sarapan, ibu mertua dan adik iparku datang ke rumah untuk mengambil DVD bimbingan belajar yang akan dipinjam keponakan kami di Jakarta.

“Ini Irma, buat camilan, ” kata ibu mertuaku sambil memberikan sebungkus tas kresek.

“Terima kasih, ” sambutku sambil menerima bungkusan itu. Lalu kutaruh di meja makan. Aku menemani mereka mengobrol bersama suamiku di ruang tamu.

Setelah mereka pulang, bungkusan tas kresek itu kubuka. Dan…aku terkejut ketika kulihat isinya ternyata roti sisir yang sama seperti yang tadi pagi aku cari. Malahan ada dua bungkus. Sedangkan yang tadi pagi kucari dan tak kutemukan memang hanya setengah bungkus.

Aku langsung tanya ke suamiku. Apakah tadi ia titip minta dibeliin roti sisir? Suamiku bilang ia nggak titip apapun. Ia malah baru tahu kalau tadi dibawakan roti itu.

😯😯😯

Bulan yang lalu juga pernah ada kejadian serupa. Seiris kue tar yang kusimpan di kulkas terlanjur diberikan oleh suamiku ke pembantu. Padahal masih ingin kumakan. Tiba-tiba siangnya ada yang mengirim satu dus kue black forest yang masih utuh.

Ini memang hanya cerita sederhana dan bukan promosi. Tapi dari dua bungkus roti sisir dan kue black forest itu aku merasa telah diingatkan oleh Allah Swt.

Bahwa aku harus legowo dan rela terhadap apapun yang sudah hilang atau diberikan karena mungkin menjadi hak orang lain. Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih banyak dan lebih baik lagi bila kita ikhlas.

🌸🌸🌸

Alhamdulillah…

Paket Misterius

Standar

Sore itu sehabis keluar mengurus berbagai keperluan, aku langsung balik ke kantorku di Rumah Belajar Cirebon.

“Bu, ini ada paket bu…, “kata staf adminku sambil memberikan sebungkus paket.

“Wah, paket apa ya ini?” Aku penasaran. Karena ukurannya agak besar, tapi tipis. Biasanya kalau aku dapat paket ya isinya buku dengan ukuran paket yang sudah kukenali.

Kubaca nama pengirimnya: QLins. Hmm, siapa pula itu? Rasanya aku belum pernah mengenalnya.

Segera kubuka plastik merah pembungkus paket ini. Tercium aroma yang tajam. Aku tambah penasaran. Ketika kubuka pembungkus terakhirnya yang berwarna hitam, aku malah makin bingung.

“Lho, kok isinya tas? Aku nggak pesen tas jeh… Paling selama ini kalau pesen ya cuma buku doang. Pengirimnya QLins? Aku juga nggak kenal. Jangan-jangan salah kirim… ”

Aku langsung mengecek lagi nama dan alamat serta nomor HP tujuan pengiriman. Wah betul ini… Paket itu buatku ya berarti…

“Ibu habis menang lomba nulis atau semacamnya kali bu?” Stafku juga penasaran dan mencoba menebak.

“Ah, enggak… Saya nggak ikut lomba apa-apa kok. Kalaupun ikut lomba nulis juga kemarin belum menang (hihi jadi malu).” Aku menyangkal.

Lalu bak detektif aku langsung melacak nomor HP pengirim yang tertera di pembungkusnya. Pertama tidak diangkat. Lalu aku telpon lagi, diangkat. Suara perempuan. Aku langsung menyebutkan identitasku dan menanyakan QLins itu siapa/apa ya? Lalu yang memesan ini atas nama siapa?

Kemudian ia menjelaskan bahwa QLins itu semacam tempat handmade /produksi kerajinan tangan dari kelompok UKM. Tas ini salah satu produknya, terbuat dari kulit sapi. Tapi dikirim melalui Qlapa (online shop).

“Lalu siapa yang memesan tas ini ya mbak?” Aku bertanya lagi.

“Oh nama pemesannya bapak Hugo bu… ” jawabnya.

“Oalah… Ternyata suamiku yang pesan yaa. Oke mbak, terima kasih ya… ”

Alhamdulillah, ada rasa terharu dan bahagia bercampur menjadi satu. Suamiku ini memang sejak awal pernikahan kami, suka kasih surprise untuk menyenangkanku. 😍😍

Di usia kami yang sudah lewat setengah abad ini pun alhamdulillah rasa sayang di antara kami tak lekang oleh waktu. Semoga demikianlah selamanya… Allahumma aamiin… πŸ™πŸ™

Jazakallah habibii wa zaujii… πŸ’—πŸ’—

Review Buku Novel Teenlit “Oke, Kita Bersaing!”

Standar

Sesuai dengan judulnya, buku novel fiksi remaja yang ditulis oleh Leyla Imtichanah ini memang mengisahkan persaingan antara dua siswi SMU 1 yang kebetulan mempunyai nama yang mirip, yaitu Lila dan Lisa.

Lila, seorang gadis dengan tubuh berisi dan berkemampuan rata-rata di kelas. Ia mempunyai dua orang sahabat setia dengan keunikan karakternya masing-masing, yaitu Mimi (berjilbab tapi tomboy) dan Cici (berbadan gemuk, doyan makan).

Sedangkan Lisa, gadis bertubuh kurus yang selalu meraih nilai terbaik di kelasnya namun tak pernah puas dengan kelebihan yang dimilikinya itu hingga selalu ingin mengalahkan Lila. Karena sifatnya yang angkuh, ia tak mempunyai teman akrab.

Persahabatan yang sebelumnya pernah terjalin dengan baik di antara mereka itu berubah menjadi persaingan yang sengit ketika mereka sama-sama naksir Rian (kakak kelas yang menjadi senior saat MOS). Mereka juga bersaing dalam perolehan nilai di kelas dan keeksisan pada kegiatan ekskul di sekolah.

Persaingan menjadi semakin seru dan memanas ketika Lila dan Lisa memperebutkan perhatian dan cinta Aldi, seorang cowok Rohis yang cool, teman baru mereka di kelas yang justru teguh menolak pacaran.

Novel teenlit ini juga diwarnai dengan kisah khas remaja ABG gaul yang penuh dengan dilematika dan problematika dalam studi, persahabatan dan percintaan di tengah pencarian jati diri mereka

Ada teka-teki kisah Rio (cowok playboy pemain basket) yang pacaran dengan Risma (cewek Rohis berjilbab lebar) dan ada cinta segitiga antara Reva, Emi (cewek cheerleader) dengan Bobby yang berakhir tragis.

Selain itu ada kisah pertarungan batin Lila antara menuruti ambisi demi ketenaran dalam persaingannya dengan Lisa dan panggilan hati nuraninya untuk mengikuti ajakan ke jalan yang lebih lurus.

Dan di sinilah keistimewaan buku ini yang mampu menyelipkan pesan moral dan ajaran Islam kepada para remaja dalam kisah-kisahnya tanpa kesan menggurui. Seperti pesan agar menjalin persahabatan yang tulus, giat belajar, menutup aurat, menjaga pergaulan antar lawan jenis, tidak berpacaran dan mengisi waktunya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Apalagi novel ini dilengkapi dengan quote, hadits Nabi Muhammad Saw, ayat Al Qur’an, doa dan ilustrasi di sebagian halamannya yang sesuai dengan isi cerita.

Pantaslah bila penulis buku ini menjadi pemenang kedua Sayembara Novel Islami yang diadakan oleh penerbit Gema Insani.

Buku ini layak dibaca oleh para remaja yang sedang mencari jati diri karena selain kisahnya menarik, juga pesan-pesan yang disampaikan penulisnya melalui tokoh-tokohnya dapat memberi pencerahan dan inspirasi.

Spesifikasi buku ini sebagai berikut:

Judul Buku: Oke, Kita Bersaing!
Nama Penulis: Leyla Imtichanah
Penerbit: Gema Insani
ISBN: 979-561-918-7
Tebal: 272 halaman

#ReviewNovelTeenlit
#WonderlandCreative

Berziarah ke Makam Sepasang Tokoh Muslim Bersejarah Cirebon Lintas Etnis

Standar

Pagi ini kami dan beberapa komunitas warga keturunan Tionghoa yang mewakili berbagai agama di Cirebon bersama-sama berangkat berziarah ke komplek makam Sunan Gunung Jati.

Acara yang diadakan oleh PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) cabang Cirebon ini adalah merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperkuat hubungan baik antar etnis dan agama sekaligus mengenang kembali kebudayaan dan sejarah Cirebon. Hadir pula ibu Selly selaku Plt. Bupati Cirebon dan perwakilan dari Keraton Singapura Cirebon yang memberikan sambutan.

Menyusuri budaya Cirebon dan sejarah masuknya agama Islam di Cirebon memang tak lepas dari sosok Sunan Gunung Jati dan istrinya, Putri Ong Tien dengan legenda kisah cinta mereka dalam berbagai versi. Berziarah ke makam sepasang tokoh bersejarah Cirebon ini, yang untuk mencapainya harus mendaki beberapa anak tangga membuat kami serasa masuk dalam sejarahnya di masa lampau.

Dan Cirebon yang berasal dari kata Caruban (campuran) ini memang sangat kental dalam akulturasi budayanya dengan beberapa negara yang pernah singgah dan menjejakkan sejarahnya. Suasana kerukunan antar warganya juga terasa meski berbeda agama, etnis, budaya dan suku bangsa.

Seperti yang terlihat di beberapa masjid, keraton, bangunan kuno hingga di komplek makam Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien ini, beberapa piring kuno dan ornamen khas budaya China serta ayat-ayat Al Qur’an menghias di sebagian dindingnya.

Nama kereta kencana Paksi Naga Liman (milik Keraton Kanoman) juga melambangkan berbagai negara. Paksi adalah sayap burung yang melambangkan negara Arab/Timur Tengah, Naga melambangkan negara China, Liman yaitu gajah yang melambangkan negara India dan kakinya melambangkan kerajaan Pajajaran.

Setelah mengikuti acara pertemuan antar komunitas dan ziarah ini, akhirnya membuat kami berpikir bahwa Cirebon dan masyarakatnya sebagai bagian dari negara Indonesia yang kaya akan budaya dengan keanekaragaman suku, agama, ras dan golongannya ini sesungguhnya telah membuktikan bahwa mereka mampu menjaga kerukunan antar suku dan umat beragama di bumi Nusantara ini sejak dahulu kala.

*Catatan:
Khusus bagi kaum muslim ketika berziarah, tentu tetap harus berhati-hati dalam menjaga akidahnya dengan mempunyai batasan yang jelas antara kemurnian ziarah dan apresiasi terhadap budaya. Agar ziarah tetap terlaksana dengan niat yang lurus dan keindahan budaya tetap dapat dinikmati dengan hati yang tenang.