Monthly Archives: April 2018

Cahaya Keluarga itu Telah Pergi

Standar

Pagi itu…, tanggal 15 Juni 2016 di hari ke sepuluh bulan Ramadhan, masih jelas teringat, sosok sederhana yang pernah berjasa dalam perjalanan hidupku, telah berpulang ke hadirat Ilahi Rabbi… Serasa ada yang hilang saat itu dari hidupku… Karena hanya beliaulah satu-satunya orang yang sangat memahami semua masalah, kelebihan dan kekuranganku. Beliau adalah ayahku rahimahullah… 😭😭

Berbagai pengalaman, baik suka maupun duka yang pernah kurasakan sejak pertama mengenal bangku sekolah, hingga ‘nyantri’, kuliah dan memasuki dunia kerja, akhirnya mampu kulewati dengan baik berkat peran dan jasa ayahku tercinta.

Sebab beliaulah yang senantiasa mendampingi dan memberikan support untukku di setiap masalah yang kuhadapi. Secara umum masalah yang sering kuhadapi di masa itu adalah masalah keminderan, penyesuaian diri, kesulitan dalam memahami pelajaran, keresahan akan kesendirianku dan kegelisahan dalam menghadapi masa depan.

Sifatku yang pendiam dan pemalu membuatku cenderung sensitif dan emosional saat terbentur suatu masalah. Aku masih ingat dulu pernah marah-marah sampai membanting buku ke lantai gara-gara ada hal yang membuatku kesal. Lalu ayah hanya mengingatkanku, “Lho, katanya mau belajar sabar seperti ayah…”

Begitulah yang selalu ayah katakan setiap kali aku sedang emosi. Karena malu, akhirnya aku mulai belajar mengendalikan emosi hingga kini berhasil membentuk diriku menjadi wanita yang lebih sabar.

Demikian pula ketika aku sedang sedih dan putus asa karena mengalami kegagalan atau dilecehkan. Ayah selalu menghibur dengan kata-kata yang menyemangatiku.

“Nggeguyu? Tak oyak!” (“Menertawakan/melecehkanku? Oke, aku nanti akan mengejar/melampauimu! “)
“Jangan menangis bila dihina. Lekas bangun bila jatuh”

Efeknya, perlahan tapi pasti… aku pun mulai belajar untuk membentuk diriku agar menjadi wanita yang lebih gigih dan tidak mudah patah semangat.

Dari ayah, aku juga belajar bagaimana agar memiliki karakter yang lebih baik. Seperti jujur, bersikap lebih sabar dalam setiap ikhtiar, pengertian terhadap berbagai sifat/perilaku orang, menghargai orang yang sedang berproses, tidak tinggi hati saat mencapai kesuksesan, menjaga sikap dan ucapan terhadap orang lain, mudah memaafkan siapapun yang pernah menzalimi, berpantang mempermalukan orang di depan umum, serta selalu bersyukur dalam setiap pencapaian. 👍👍

Tak hanya itu, ayah bahkan pernah mengajakku untuk langsung menyaksikan kehidupan dan sisi gelap orang-orang yang memiliki kelainan jiwa agar aku bisa memahami realita kehidupan. 😯😯
Ayah juga suka memberi oleh-oleh atau mengirimiku buku-buku yang berkualitas.

Aku beruntung memiliki seorang ayah yang sangat sabar, pengertian dan selalu mendukungku. Sehingga satu persatu masalah bisa kuatasi dengan tegar. Ayahku hanyalah seorang dosen fakultas Psikologi di UMS Solo yang sederhana namun hobi banget membaca buku. Beliau sederhana dalam berpakaian, berbicara, bersikap dan dalam kehidupannya sehari-hari. Namun ilmu dan kesabarannya luar biasa.

Ada rasa senang dan lega saat bisa berkonsultasi, meminta pendapat atau sekedar mengobrol ringan tentang berbagai berita terkini dari negeri ini. Baik dengan berkomunikasi secara langsung atau melalui telepon. 💗💗

Sesuatu hal yang paling kusyukuri adalah ketika ayah telah mengajak ibu, aku dan kedua adikku untuk menemukan hidayah-Nya. Itu adalah hadiah terbaik dari beliau kepada kami sekeluarga. Alhamdulillah… 🙏🙏

Kini ayahku tercinta telah tiada…
Cahaya penerang keluarga kami telah berpulang…
Saat sedang menghadapi suatu masalah, tiba-tiba aku merindukan nasihat dan motivasinya.
Aku rindu asyik mengobrol bersama beliau lagi.

Namun…, ayah kini sudah tenang di alam barzakh… Aku hanya bisa mendoakan, meneladani kesabaran dan kesederhanaannya serta melanjutkan perjuangan beliau.

Ya Allah… Ampuni segala kesalahan ayahku. Terimalah semua amal shalehnya. Tempatkan yang terbaik di sisi-Mu. Mampukan kami mewujudkan semua harapan dan cita-citanya yang belum terlaksana. Aamiin… 😥🙏😥🙏

#SELAKSACINTABAKTIANANDA
#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN #sekolahperempuan

Buku “20 Kisah Perempuan Inspiratif untuk Anak Indonesia”

Standar

Hari Kartini diperingati oleh bangsa Indonesia untuk mengenang jasa RA Kartini dalam menyadarkan kaum perempuan Indonesia akan pentingnya pendidikan demi menggali potensi dirinya. Hingga kini semakin banyak perempuan Indonesia yang telah menunjukkan kiprahnya demi kemajuan bangsa dan negara melalui ide, karya dan dedikasinya.

Atas inisiatif mbak Andriyati Anggoro, saya bersama 19 penulis lain menyusun buku dengan judul “20 Kisah Perempuan Inspiratif untuk Anak Indonesia” ini sebagai bentuk apresiasi terhadap 20 perempuan Indonesia dengan harapan agar dapat menginspirasi anak-anak. Buku ini memuat kisah suka duka dan pengalaman menarik mereka dalam menciptakan ide cemerlang dan merealisasikannya menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. 😍😍

Salah satu dari 20 perempuan Indonesia itu baru saja dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan Republika 2017. Siapa dia? Silakan baca berita dan kisahnya di buku ini ya… Kebetulan saya yang menuliskan kisahnya. 😉😉

Spesifikasi buku:

– Ukuran: 17×24 cm.
– Jumlah halaman: 225 halaman.
– Berat: 400 gram.- Harga jual: Rp70.000 (belum termasuk ongkir).

Yuk, mangga yang mau memesan bukunya untuk anak, keponakan, dan adik tersayangnya bisa inbox saya atau menghubungi WA saya di nomor 085864306210. Pas banget dengan moment Hari Kartini, lho…

Semoga buku ini mampu menginspirasi anak-anak Indonesia dan memotivasi mereka untuk lebih kreatif, senang belajar, dan berkarya demi kemajuan bangsa dan negara. Aamiin… 🙏🙏

Tantangan Posting Koleksi Buku Favorit

Standar

Akhirnya malam ini saya baru bisa menjawab tantangan mas Enter Tran karena kemarin-kemarin masih sibuk dengan PR menulis dan tugas-tugas lain. 😅

Terima kasih atas tantangannya yang membuat saya bernostalgia ke masa tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 26 Agustus 1982 saat ayah saya rahimahullah membelikan sebuah buku berjudul “Rumah Kecil di Padang Rumput” yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder. Sejak itulah saya ketagihan membaca buku-buku seri berikutnya.

Yup, itulah buku favorit saya sejak kecil sampai sekarang, termasuk semua buku Seri Rumah Kecil yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder. Laura lahir pada tahun 1876 di sebuah rumah kecil dari balok kayu di pinggir daerah Rimba Besar, Wisconsin.

Buku-buku tersebut menceritakan kehidupan Laura bersama keluarganya dalam menempuh perjalanan dengan gerobak beratap kain, menjelajahi daerah Kansas, Minnesota, hingga Dakota (tempat ia bertemu dan menikah dengan Almanzo Wilder).

Sampai sekarang saya tak bosan membaca buku-bukunya. Mungkin karena setiap kisahnya ditulis dengan deskripsi yang hidup dan detail. Sehingga saat membacanya serasa ikut terlibat dalam suka duka pengalaman dan perjalanan Laura bersama keluarganya.

Di antara buku-buku itu ada sebuah buku yang berkesan bagi saya, yaitu yang berjudul “Di Tepi Sungai Plum”. Karena dalam salah satu babnya menceritakan pengalaman Laura yang suka berpetualang itu hampir hanyut terbawa derasnya arus sungai.

Buku ini menjadi semakin enak dibaca karena di dalamnya banyak dihias dengan ilustrasi menarik karya Garth Williams yang telah mengikuti jejak keluarga Ingalls dari tahun 1870 – 1889.

Semua buku ini dulu merupakan oleh-oleh dari ayah saya rahimahullah yang selalu saya nantikan setiap kali beliau pulang dari kuliahnya di kota Yogyakarta. Satu buku dengan jumlah halaman dua ratus hingga tiga ratusan halaman itu bisa selesai saya baca rata-rata sehari hingga sepuluh hari.

Gaya penulisan dalam buku-buku Seri Rumah Kecil inilah yang sampai sekarang ikut andil dalam menginspirasi saya saat menulis. 😍

#TantanganPostingKoleksiBukuFavorit
#OneDayOnePost

#LauraIngallsWilder