Monthly Archives: Mei 2018

Buku Antologi Puisi Pertamaku

Standar

Menulis puisi untuk mencurahkan perasaan hati pernah saya lakukan saat saya masih remaja. Tapi itu pun hanya sekedar menuliskan uneg-uneg ke dalam buku harian. πŸ“

Sedangkan menulis puisi untuk diterbitkan menjadi sebuah buku, bagi saya merupakan sebuah pengalaman baru yang harus saya pelajari. πŸ˜ƒ

Sebab meskipun menulis puisi pada dasarnya bersifat bebas, namun ada beberapa kaidah yang harus diikuti bila ingin merangkainya menjadi sebuah karya sastra yang lebih indah. Seperti harus sesuai dengan tema, pilihan diksi yang indah, rima dan sesuai aturan puisi.

Bersama 15 penulis lain yang tergabung dalam komunitas Lakshmi Catha (dari bahasa Sansekerta, artinya Perempuan Kreatif), saya mencoba mengolah rasa, menuangkan kata demi kata hingga kalimat demi kalimat yang berupa ungkapan rasa rindu dan cinta dari lubuk hati kami yang terdalam. 😍

Makna rindu dan cinta di sini juga bersifat universal. Karena tak selalu berhubungan dengan perasaan sepasang insan yang sedang dimabuk asmara. Rasa rindu dan cinta yang kami ungkapkan sejatinya lebih tercurah untuk Allah Sang Maha Penyayang, orangtua, suami, anak, keluarga dan sahabat. 😘

Maka melalui buku antologi puisi kami yang pertama ini, semoga semua ungkapan kami tentang rasa rindu dan cinta ini bisa menyalakan kembali perasaan rindu dan cinta teman-teman terhadap Sang Maha Penyayang, keluarga dan sahabat tercinta sehingga mengharmoniskan hubungan di dalamnya. πŸ’—

Barangkali teman-teman berminat, silakan memesan. Harga bukunya Rp50.000 (belum termasuk ongkir).

Untuk pemesanan buku ini teman-teman bisa langsung menghubungi saya melalui WA 085864306210.

Last but not least, terima kasih saya sampaikan kepada mbak Dian Ikha Pramayanti yang telah membantu lahirnya buku antologi puisi ini. πŸ™

#BukuBaru
#RindudanCinta
#AntologiPuisi

Inspiring Cats

Standar

Suatu malam di awal bulan April, ketika adikku baru saja pulang dari bekerja dan akan masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seekor kucing betina yang bulunya berwarna coklat kombinasi hitam sedang duduk di depan pintu. Seolah kucing itu menunggu dibukakan pintunya.

Tapi adikku hanya memberinya makanan sekedarnya karena mengira kucing itu kelaparan. Ketika adikku keluar lagi untuk mengambil sesuatu barang di mobilnya, ia melihat kucing itu masih saja menunggu di depan pintu rumah.

Karena iba melihat kucing yang tampaknya sedang hamil itu, akhirnya adikku membiarkan kucing itu masuk ke dalam rumah. Sejak itulah kucing itu menjadi hewan peliharaan adikku dan keluarga di rumah.

Adikku yang biasanya tidak peduli dengan hewan, mendadak kini berubah menjadi penyayang kucing. Dibawanya kucing itu ke puskeswan untuk divaksinasi dan diberi vitamin. Ibu dan dua orang keponakan kembarku (anak kembar adikku) juga senang dengan kehadiran kucing itu. Apalagi ketika tepat di hari pertama Ramadan, kucing itu melahirkan 7 ekor anak yang lucu-lucu dengan bulu yang beraneka warna.

Suasana rumah memang menjadi terasa berbeda setelah hadirnya kucing-kucing itu. Seolah ada teman bermain baru yang dapat menjadi hiburan menyenangkan bagi keluarga. Oleh ibuku kucing betina itu dipanggil “Manis”. Kevin dan Laura (keponakan kembarku) juga senang mengajak si Manis bermain.

Dengan masih adanya kegiatan belajar sesudah UN SD kemarin/ persiapan masuk SMP, Kevin dan Laura tentu tak bisa selalu memberi makan si Manis. Adikku juga sering bekerja ke luar kota/ luar Jawa. Sehingga hanya ibukulah yang bisa rutin memberinya makan.

Menyadari neneknya sudah berusia lanjut dan kondisi fisiknya yang sudah lemah, Kevin yang sejak kecil suka merakit mainan lego itu, lalu berinisiatif membuat dispenser makanan kucing agar mempermudah neneknya saat memberi makan si Manis dan anak-anaknya. Nah, ini nih arti cerdas yang sesungguhnya. πŸ‘πŸ˜‰ Yaitu ketika ia mampu mengaplikasikan ilmu dan kreatifitasnya agar bermanfaat bagi orang lain selain dirinya.

Dengan hanya sekilas melihat cara membuatnya dari You Tube, Kevin yang cerdas itu mulai mencoba membuatnya dari bahan karton, karet gelang, lem dan stoples plastik bekas permen. Dari hasil kreasi dan modifikasinya, terciptalah sebuah dispenser makanan kucing yang praktis. Cara kerjanya juga mudah, karena hanya tinggal dipencet saja, makanan kucing sudah langsung keluar. Kereeeen… πŸ‘πŸ‘

Dalam hati aku bersyukur memiliki keponakan yang tak hanya ganteng (kata gurunya seperti Lee Minho) 😁, shalih (rajin shalat dan puasa wajib maupun sunnah serta membaca Al Qur’an), lebih suka membaca buku daripada main gadget, punya rasa empati dan sayang pada orang lain (terutama keluarganya), cerdas dan berbakat di pelajaran matematika (beberapa kali lolos seleksi lomba matematika hingga ke Singapura/IMCS, padahal belum pernah ikut pembinaan khusus matematika). 😍😍

Sekarang Kevin sudah siap melanjutkan pendidikannya ke SMP (pilihannya nanti mau ke SMPN 1/ SMPN 2 Magelang). Di bulan Ramadan ini alhamdulillah Kevin masih rajin berpuasa dan shalat tarawih ke masjid meskipun harus berangkat sendirian (ketika ayahnya sedang ke luar kota).

Semoga Kevin tetap istiqamah dalam iman dan Islam serta makin shalih dan sukses meraih cita-citanya ya… Begitu pun pelan-pelan nanti semoga mulai bisa menghilangkan sifatnya yang cenderung suka memaksakan kehendaknya (mungkin efek dari karakternya yang perfeksionis). Pasti bisa ya Kevin… πŸ˜‰ Aamiin… πŸ™πŸ™πŸ™

Buku “Family Fiesta”

Standar

Sebuah keluarga bisa terdiri dari sepasang suami istri, ibu dan ayah bersama anak-anaknya, kakak, adik, nenek, kakek dan kerabat lainnya. Selalu ada banyak kisah kehidupan sebuah keluarga yang bisa dituliskan.

Dalam buku ini tertuang aneka kisah keluarga, baik suka maupun duka. Ada kisah kocak, menyenangkan, mengharukan dan membahagiakan yang akan membuat pembacanya tersenyum haru hingga tertawa geli. πŸ˜ƒπŸ˜ƒTapi ada juga kisah sedih, pilu dan menyayat hati yang bisa membuat pembacanya ikut larut dalam kemuramannya hingga meneteskan air mata. πŸ˜₯πŸ˜₯

Seluruh kisah yang ditulis oleh 74 “Emak Belajar Nulis” ini terjalin menjadi sebuah buku antologi bergenre Flash Fiction dengan judul “Family Fiesta”. Melihat dari judul dan covernya yang ceria, bukan berarti tidak mewakili sebagian kisah sedih di dalamnya. Melainkan berupa gambaran ideal dan sebuah harapan akan adanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah keluarga. πŸ’—

Saya bersyukur bisa menjadi salah satu emak yang ikut menulis dalam buku ini meskipun baru mulai bergabung dalam grupnya. Terima kasih mbak Yuni Ummu Wafi dan mbak Erma Bahrun Lamsidi atas informasi dan kesempatannya sehingga saya bisa ikut memeriahkan “Family Fiesta” ini bersama 73 emak lainnya.

Sebetulnya ada 5 sub tema yang ditawarkan pada kontributornya, yaitu: sub tema Orangtua, Buah Hati, Pasangan, Kerabat dan Kakak Adik. Karena saat itu yang tersisa tinggal sub tema Kakak Adik dan Kerabat, saya memilih menulis kisah dengan sub tema Kakak Adik.

Dengan kemampuan menulis kisah bergenre fiksi yang masih terbatas (sambil mempraktekkan ilmunya mbak Reffi Dhinar) dan waktu pengumpulan naskah yang sudah mepet, alhamdulillah akhirnya saya berhasil menyelesaikannya dengan baik dan mengirimkan naskahnya sebelum deadline. That’s the power of kepepet. πŸ˜…

Buat teman-teman yang penasaran akan aneka kisah keluarga dalam buku ini dan siap diaduk-aduk emosinya, mulai hari ini saya open PO untuk pemesanan buku. (Masa PO dari 23 Mei – 6 Juni 2018). Bagi yang ingin memesan, bisa menghubungi saya melalui inbox, atau WA di nomor 085864306210. Boleh juga kalau mau SMS saya di nomor 08122210110. 😊

Spesifikasi buku:
Judul buku: Family Fiesta
Harga buku: Rp62.000 (belum termasuk ongkir)
Jumlah halaman: 276 halaman
Penerbit: Stiletto Indie Book
Genre: Fiksi – Kumpulan Flash Fiction

Semoga kisah-kisah fiksi tentang keluarga dalam buku ini dapat menginspirasi para pembacanya agar selalu menjalin hubungan baik dengan keluarga sehingga keutuhan, keharmonisan dan kebahagiaannya senantiasa terjaga. Aamiin… πŸ™πŸ™

#bukubaru
#FlashFiction
#FamilyFiesta
#FamilyStory

Menimba Ilmu Sang Penyihir Aksara

Standar

Setelah menyimak sharing ilmu dan pengalaman menulis yang disampaikan oleh mas Brili Agung kemarin malam melalui WA grup, energi menulis saya yang sedang ‘ngedrop’ gara-gara terserang virus ‘nggak pede’ dan ‘writer’s block’, perlahan kini mulai menyala lagi seperti baterai yang habis ‘dicharge’.

Pertanyaan demi pertanyaan dari para emak yang saling mewakili rasa penasaran akan ‘pesona’ mas Brili plus curahan aneka ‘uneg-uneg’ seputar kepenulisan, dijawab dan ditanggapi satu persatu oleh beliau dengan cerdas sekaligus melegakan melalui voice notes sehingga serasa berhadapan langsung dengannya.

Beberapa kesimpulan dari pernyataan mas Brili Agung yang kembali membakar semangat nulisku setelah kemarin sempat padam gara-gara ‘sesuatu’ di FB:

1. Kelebihan menerbitkan buku secara mayor memang bisa untuk ‘branding’ atau cari nama. Namun keuntungan penjualan bukunya harus dibagi ke toko buku selain ke penerbit.
2. Kelebihan menerbitkan buku secara indie, selain lebih besar bagi hasilnya, perputarannya pun lebih cepat. Selain itu keuntungan penjualan bukunya bisa dibagi ke reseller atau bahkan disumbangkan kepada yang membutuhkan.
3. Baik buruknya kualitas sebuah buku bukan ditentukan dari cara penerbitannya. Maka jangan terburu ‘ngejudge’ sesuatu yang tak benar-benar diketahui. Karena pada dasarnya penilaian kualitas sebuah buku itu berkaitan erat dengan selera pembaca selain editornya πŸ˜…, baik itu diterbitkan secara mayor maupun indie.
4. Mas Brili memang pernah menerbitkan bukunya secara mayor. Kini beliau juga menerbitkan bukunya secara indie bukan karena ditolak penerbit mayor, melainkan karena beberapa alasan tersebut di atas. Bahkan beberapa penulis terkenal kini lebih memilih penerbitan secara indie meskipun dikejar-kejar penerbit mayor.
5. Lanjutkan kembali proses belajar dan mengasah tulisanmu step by step. Abaikan pahitnya komentar di tengah perjalananmu. Maka kau akan menjumpai manisnya hasil perjuangan di akhir perjalananmu.
6. Saat kau telah menjadi penulis yang sukses, jangan sombong hingga melecehkan penulis pemula. Ingat, masa awalmu pun tak jauh berbeda dengan mereka.

Terima kasih banyak mas Brili Agung Zaky Pradika atas ilmu dan motivasi berdasar pengalamannya yang luar biasa. 😍

Terima kasih juga mbak Andriyati Anggoro yang telah memfasilitasi grup WA-nya dengan sharing-sharing info dan ilmu yang keren. 😍

Barakallah fiikuma… Semoga sukses selalu. Aamiin… πŸ™πŸ™

#giveaway
#KitabPenyihirAksara
#BriliAgung
#AndriyatiAnggoro
#UnicornPublisher

Hebohnya Seminar Dadakan

Standar

“Asssalamu’alaikum, Mbak Irma…Mbak, entar malam saya mau ke Kuningan. Jenguk orangtua.” Sebuah pesan dari mas Ardi Gunawan (founder Vitamin Otak OSB) pagi itu masuk ke WA-ku.

“Wa’alaikumussalam…,” aku menjawab salamnya.

“Kalau seandainya besok kita bikin pertemuan di Rumah Belajar bisa nggak? Santai aja sharing-sharing ilmu magnet rezeki. Ajak saudara-saudara, wali murid, guru-guru.”

Wah, menarik nih…! 😍

“Insya Allah bisa Mas…,” aku langsung menyambut tawarannya.

“Oke kita agendakan ya, ” kata mas Ardi. Aku antara senang tapi juga deg-degan mendengar keputusan mas Ardi itu. Karena meskipun berupa sharing yang santai tapi ini kan acara seminar…

Setelah percakapan singkat di WA itu aku langsung menghubungi staf dan guru di WA grup Rumah Belajar Cirebon agar membantu menyebarkan info free seminar ini sekaligus meminta partisipasi mereka dalam acara besok pagi.

Sayang dari 13 staf dan guru, hanya 6 orang yang siap hadir dan berpartisipasi membantu. Yang lainnya tidak bisa hadir karena sedang ada berbagai keperluan. Aku sempat putus asa. Karena khawatir tak bisa bekerja maksimal dengan minimnya bala bantuan. Apalagi mengingat waktunya sangat mepet sehingga harus bergerak cepat. Jadi aku hanya punya waktu sehari semalam untuk mempromosikannya.

Dengan dibantu mas Ardi, aku langsung share info seminar ini ke beberapa grup WA dan ke FB. Ahmad ditetapkan sebagai penerima pendaftaran peserta melalui WA. Aku mencoba optimis tapi tak muluk-muluk dalam target.

Sampai jam 14.20 aku mendapat laporan dari Ahmad bahwa yang mendaftar baru ada 24 orang. Hmm… awal yang cukup baguslah… Di FB dan WA grup juga mulai ada beberapa orang yang tanya-tanya seputar seminar tersebut. Aku memperkirakan yang hadir ada 50 orang. Sehingga cukuplah menggunakan kursi dari ruang les saja tanpa harus menyewa.

Sampai jam 21.29 Ahmad melaporkan ada 48 peserta. Tak jauh dari perkiraanku tadi. Nah malam itu juga aku baru terpikir mungkin seminar ini perlu menggunakan proyektor dan layar in focus. Tapi tak mungkinlah malam-malam mau menghubungi teknisi untuk memasangnya di ruang aula. Ya sudah berarti besok pagi harus bergerak cepat.

Begitu pagi menyapa aku langsung menuju ke Rumah Belajar Cirebon dengan membawa speaker dan mic dari rumah. Teknisi yang diminta datang untuk melepaskan proyektor dari ruang kelas dan memindahkannya ke ruang aula ternyata sudah dihubungi Ahmad.

Sementara Ahmad mempersiapkan list peserta, Nur dan bu Hesti stand by menyambut peserta yang hadir, Jai memasang speaker dan mengatur sound, Ramdia mengatur parkir mobil dan motor, aku keluar lagi untuk membeli kue untuk pemateri.

Mas Ardi dan para peserta mulai berdatangan. Tapi teknisi belum juga tampak batang hidungnya. Aduh aku mulai panik. Apalagi acara seminar sudah saatnya dimulai. Sesuai usulan mas Ardi, Ahmad pun berinisiatif mengambil proyektor ke rekan mas Ardi di Masjid At Taqwa. Sebab kami tak mau berlama-lama menunggu teknisi yang tak ada kepastian datangnya.

Sambil menunggu, acara seminar pun dimulai. Tapi… ada masalah lain yang muncul. Tiga unit AC yang sudah terpasang di ruang aula baru di Rumah Belajar tersebut ternyata tak bekerja dengan baik. Padahal suhu sudah diatur yang paling dingin.

Terlihat beberapa peserta juga tampak gelisah karena kegerahan. Ada yang mulai mengipas-ngipas wajahnya. Sampai mas Ardi meminta pintu ruangan dibuka saja. Kurasakan udara di ruang aula ini memang cenderung hangat bukannya sejuk.

Aku mulai panik. Segera kuhubungi Jai untuk mengambil 2 buah kipas angin dari rumah. Aku gelisah menanti teknisi, Ahmad dan Jai. Dan… ketika melihat mereka datang membawa proyektor dan kipas angin, rasanya plooong… πŸ˜…πŸ˜…

Namun ternyata mas Ardi dan para peserta sudah mulai pindah ke ruangan depan kelas yang cukup luas. Mereka memilih lesehan saja karena mencari tempat yang lebih sejuk.

Aduh, rasanya jadi makin malu dan nggak enak hati nih… Kami membantu memasang karpet untuk alas duduk. Kipas angin juga kami pasang di bagian depan dan belakang para peserta. Proyektor juga sudah mulai bekerja dengan baik.

Dan seminar pun dilanjutkan kembali dengan suasana yang lebih nyaman. Alhamdulillah… Kehadiran kang Tendi Murti (founder KMO) bersama istrinya menambah semarak suasana seminar. Mas Ardi, kang Tendi dan bang Ippho Santosa bisa dikatakan sebagai Tiga Serangkai team yang kreatif dan energik dalam berbagai kebaikan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Saat waktu Zuhur tiba, seminar pun diakhiri. Intisari seminar yang paling berkesan adalah bahwa pikiran dan kata-kata yang positif mampu menjadi magnet yang baik untuk rezeki dan takdir yang baik untuk hidup kita.

Selalulah berhusnuzhan, agar aura kebaikan yang tercipta dalam hidup kita. Hindari acara gosip, pertikaian politik dan semua hal negatif baik di televisi maupun di medsos bila tak ingin pikiran kita tercemar aura negatif.

Sebuah ilmu yang ‘jleb’ banget dan menjadi ‘reminder’ atas kegelisahan yang kadang menyerang pikiranku dalam menghadapi berbagai masalah.

Sebelum pulang, sebagaimana biasa kusiapkan ‘amplop’ untuk mas Ardi. Tapi masya Allah…beliau sama sekali tidak mau menerimanya. Dengan halus namun tegas beliau menolaknya.

“Nggak usah Mbak Irma… Beneraaan… Nggak usah… ” Begitu katanya sambil tersenyum.

Jazakallah Mas Ardi, barakallah fiik… Semoga Allah Swt. membalas kebaikan dan keikhlasan Mas Ardi dalam menyampaikan ilmunya hari ini. Aamiin… πŸ™πŸ‘

Di tengah hebohnya persiapan acara seminar hari ini, aku tetap bersyukur karena bisa dikatakan seminar ini cukup sukses dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sebab acara free seminar ini dilaksanakan di hari kerja, namun beberapa guru yang bertugas mengawas pelaksaanan UN anak SD, ternyata tetap meluangkan waktunya untuk hadir di acara ini begitu tugasnya selesai. Selain itu dengan terbatasnya waktu dan personil, alhamdulillah jumlah peserta yang hadir bisa mencapai 40-an orang.

Terima kasih atas bantuan tulus Akhmad Yani, Nur Latifah, bu Hesti Lembangsari, bu Tri Rahayu, Ramdia dan Akhmad Sujai yang sudah meluangkan waktu membantu sejak pagi hingga acara selesai. πŸ‘πŸ‘

Terima kasih mbak Nenden Mustika yang tetap mengusahakan hadir meskipun sedang sibuk mengurus persiapan putranya untuk kuliah 😘😘.

Terima kasih juga kepada semua peserta seminar atas kehadiran dan semangatnya dalam mengikuti acara ini. Terutama yang telah jauh-jauh datang dari Jombang, Indramayu dan Brebes. Semoga ilmu yang telah diperoleh bermanfaat dunia akhirat. πŸ‘πŸ‘Aamiin… πŸ™πŸ™
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Next, di acara berikutnya kami akan berusaha untuk mempersiapkannya dengan lebih baik lagi.

Dan…last but not least terima kasih suamiku tercinta Hugo Specia yang telah memfasilitasi semua acara ini. πŸ’—πŸ’—

Jazakumullah wa barakallah fiikum untuk semuanya… Allahumma aamiin… πŸ™πŸ™