Monthly Archives: Juli 2018

Dua Malam yang Berkesan di Kota Solo (3)

Standar

Tali Silaturahmi Ini Semakin Kuat Meski Sudah 30 Tahun Berlalu.

Alhamdulillah, akhirnya semua urusan yang berhubungan dengan naskah “Penjara Suci” telah selesai. Tinggal diproses oleh penerbit. Kini saatnya untuk menikmati kebersamaan dengan para sahabat yang pernah membersamaiku 30 tahun yang lalu di pesantren Ngruki.

Di malam pertama kehadiran, aku diajak Mbak Tijah dan Pak Munir (suaminya) serta Mbak Zumaroh dan Pak Ranto (suaminya) menikmati sate ayam asli Madura “Cak Brewok” yang lokasinya di seberang toko roti “Wonder”. Enam porsi sate plus lontong ternyata cukup banyak juga sehingga benar-benar mengenyangkan.

Syukurlah ada tamu (teman SMP-nya Pak Munir) yang baru datang malam itu sehingga bisa ikut bergabung menikmati hidangan sate. Sate ayam dan sate telur dengan paduan bumbu kacangnya pancen mantep rasane, Rek…! Taburan irisan bawang merah mentahnya juga bikin tambah sedap.

Setelah itu kami langsung menuju ke pondok pesantren Ngruki untuk sejenak bernostalgia dan menikmati keindahan bangunan masjid dan sekitarnya di waktu malam. Sekarang kondisi dan fasilitas di pesantren memang sudah jauh lebih baik dibandingkan saat kami masih ‘nyantri’ 30-an tahun yang lalu.

Karena masih dalam suasana liburan, kami bisa leluasa masuk ke area asrama putra yang memang masih sangat sepi. Suatu hal yang tak mungkin kami lakukan di hari biasa. Karena area putra memang terlarang dimasuki oleh kaum putri. Di beberapa sudut bangunan terpasang kata-kata mutiara (Mahfuzhat) yang bisa menyemangati para santri.

Lalu kami masuk ke komplek Darul Hijrah (asrama putri). Di sini beberapa bagiannya belum banyak berubah. Sehingga suasana mondok jadi terasa lagi. Apalagi ketika melihat dipan-dipan bertingkat di dalam setiap kamarnya. Kenangan masa-masa menjadi santriwati bermunculan di benakku. Beberapa hiasan mading karya santriwati tampak menghiasi sebagian sudut asrama.

Yang banyak berubah di bagian ruangan-ruangan kelasnya. Kalau dulu kan masih berdinding “gedhek” (anyaman bambu). Bahkan kami pernah belajar di dalam tenda dan ruang makan karena keterbatasan ruangan belajarnya saat itu. Sekarang ruangan kelasnya sudah berupa bangunan tembok permanen yang kuat. Kini juga ada bangunan masjid yang cantik khusus untuk santriwati di dalam area putri. Alhamdulillah…

Ketika hari semakin malam, kami segera pulang ke rumah masing-masing karena mata ini sudah mulai terasa mengantuk. Malam pertama ini aku menginap di rumah Mbak Tijah.

*****

Esok harinya aku diajak Mbak Tijah makan Soto Kwali Kyai Mojo. Rasanya miroso tenan… Krupuk karaknya lagi-lagi mengingatkanku akan lauk khas pesantren. Suasana pagi di area pesantren ini memang tampak hidup dengan merebaknya penjual aneka makanan di sekelilingnya.

Kami mampir sebentar membeli kue lumpur di pinggir jalan untuk oleh-oleh ke Mbak Siti Rohani yang kini sehari-harinya membuka warung di rumahnya.

Lalu siangnya aku berjumpa dengan Mbak Suci dan Lalah yang sengaja datang ke rumah Mbak Tijah untuk menemuiku. Terasa hangat sekali sambutan mereka. Ketika malam tiba, Mbak Zumaroh dan pak Ranto mengajak kami makan bakso di warung dekat rusunnya. Harus kuakui, kuliner di kota Solo, dari kelas kaki lima sampai rumah makan memang terkenal lezat. Boleh dicoba lho…

Setelah itu pak Ranto mengajak kami berkeliling kota Solo. Kami mampir di keraton Solo dan berfoto-foto sejenak di bagian luarnya karena sudah tutup. Sayang Mbak Suci tidak bisa ikut karena harus pulang bersama anaknya sebab rumahnya juga cukup jauh (dekat daerah Tawangmangu).

Malam ini aku menginap di rumah Lalah. Keluarga besarnya sangat baik dan ramah. Alhamdulillah, aku bersyukur mempunyai akhwat fillah yang selalu siap menyambut kehadiranku seakan berlomba untuk memuliakan tamunya.

*****

Akhirnya tibalah saatnya bagiku untuk kembali ke kota Cirebon. Paginya aku segera berkemas untuk bersiap berangkat ke Stasiun Solo Balapan. Lalah bersama keluarganya sudah siap mengantarku ke stasiun. Mbak Tijah dan Pak Munir juga ikut mengantarku ke sana.

Sebelumnya kami sarapan sebentar di Soto Seger Hj. Fatimah. Sesuai namanya…, memang sueger rasane. Sejak pagi tampaknya rumah makan ini sudah ramai dengan pembeli. Mungkin banyak yang cocok dengan rasa sotonya.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi ke Stasiun Solo Balapan. Barang bawaanku kini jadi bertambah banyak karena sahabat-sahabatku ini banyak yang memberiku oleh-oleh. Ada kue bolu “Tsabita”, kue serabi Solo “Ngruqi”, kerupuk karak dan buku tentang Pendidikan Agama Islam (dari Mbak Tijah dan pak Munir). Ada cupcake bertabur kismis “Wonder” dari mbak Zumaroh dan pak Ranto. Ada herbal Habbatussauda dari Lalah. Masya Allah… ๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—

Ketika kereta Argo Lawu Fakultatif yang berangkat jam 09.00 pagi diperkirakan sudah datang aku segera berpamitan. Ada rasa haru di dada ini. Bila tak kutahan, mungkin beberapa butir air bening dari mataku bisa jatuh berhamburan.

Jazakumullah khairan katsira ikhwan wa akhwati fillah… Terima kasih banyak atas sambutan hangat dan ketulusannya menemaniku selama dua malam di kota Solo. Barakallah fiikum… Kutunggu kunjungan balasannya di kota Cirebon yaa…

– Tamat –

#DuaMalamyangBerkesandiKotaSolo
#UkhuwahIslamiyah
#PenjaraSuci
#CatatanHarianSantriwatiMualaf
#Ngruki
#kulinerSolo

Dua Malam yang Berkesan di Kota Solo (2)

Standar

Bersilaturahmi ke Ustaz-nya pesantren Ngruki dan kampus UMS

Setelah hatiku kembali tenang seusai kehebohan di awal kedatangan tadi yang berakhir dengan happy ending, aku kembali mengatur rencana untuk bersilaturahmi ke Ustaz Wahyudin.

Sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya, siang ini sesudah Zuhur, aku datang ke rumah beliau dengan diantar Mbak Tijah.

Rumah beliau lokasinya tak jauh dari rumah Mbak Tijah dan masih dalam area pesantren. Satu bendel naskah “Penjara Suci” yang sudah kuprint tak lupa kubawa.

“Assalamualaikum…,” kami mengucap salam begitu sampai di depan rumah beliau. Dari balik pintu rumah yang sudah terbuka itu kami melihat Ustaz Wahyudin sedang berjalan ke arah kami.

“Wa’alaikumussalam, ayo masuk…, ” sambut Ustaz Wahyudin dengan ramah. Sosoknya yang kharismatik itu tak pernah berubah meski telah ditelan usia.

Lalu beliau menanyakan kabarku dan kami berbincang seputar dunia santri di masa lalu dan masa kini.

Setelah kuserahkan naskahku, beliau langsung membaca setiap halamannya dengan seksama. Dari sinar mata beliau, kutangkap rasa bahagia dapat membaca karya santriwatinya.

“Irma pulangnya kapan?”

“Hari Jum’at pagi, Ustaz.”

“Oh ya sudah, ditinggal saja dulu naskahnya di sini ya… Nanti saya baca. Semalam juga sudah selesai. Besok pagi Irma sudah bisa mengambil kembali naskahnya dan Kata Pengantar dari saya,.”

“Baik Ustaz, jazakumullah khairan katsira, “jawabku dengan gembira.

Lalu kami berpamitan pulang.

Alhamdulillah, esoknya naskah dan Kata Pengantar yang ditulis tangan oleh Ustaz Wahyudin telah siap kuambil dan kukirim ke penerbit setelah kuketik sebelumnya.

Kemudian aku melanjutkan silaturahmi ke Pak Taufik Kasturi (dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang kini menjadi Wakil Rektor III di sana). Beliau adalah salah seorang sahabat baik ayahku rahimahullah. Aku teringat sebuah hadits yang menyatakan bahwa di antara cara berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal ialah dengan menyambung tali silaturahmi dengan sahabatnya.

Rasulullah Saw. bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจูŽุฑู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ุตูู„ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽู„ูŽุฏู ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ูˆูุฏู‘ู ุฃูŽุจููŠู‡ู

โ€œSesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.โ€ (HR. Muslim no. 2552)

Sumber referensi: rumaysho.com

Menurutku, ini kesempatan baik berkunjung ke kantornya di UMS, mumpung kini sedang berada di kota Solo. Sehingga aku langsung menghubungi beliau melalui Whatsapp. Alhamdulillah beliau ada di tempat.

Hadir kembali ke kampus UMS bagiku seperti napak tilas perjuangan ayahku rahimahullah yang dulu semasa hidupnya menjadi dosen Fakultas Psikologi di sana, hingga beliau dikenal sebagai pencetus Psikologi Islam di Indonesia.

Yang membuatku senang sekaligus terharu saat berjumpa dengan Pak Taufik, selain banyak menceritakan ayahku semasa menjadi dosen bersamanya, beliau pun berkenan memberikan endorse untuk buku “Penjara Suci”. Alhamdulillah…

Jazakumullah khairan katsira Ustaz Wahyudin dan Pak Taufik atas waktu dan sambutannya… Semoga sehat dan sukses selalu. Barakallah fiikum… Aamiin…

– Bersambung –

#DuaMalamyangBerkesandiKotaSolo
#PenjaraSuci
#CatatanHarianSantriwatiMualaf
#Ngruki
#UMS

Dua Malam yang Berkesan di Kota Solo (1)

Standar

Kehebohan Di Awal Kedatangan

Setelah berulangkali merencanakan dan membatalkan, akhirnya pada hari Rabu, 4 Juli 2018 jam 05.00 pagi, kereta Ranggajati yang baru kupesan malam sebelumnya telah memastikanku berangkat ke kota Solo. Kota yang penuh kenangan ini pun kembali kusinggahi setelah menempuh perjalanan selama hampir enam jam di atas rel.

Tujuan utamaku ke kota Solo, selain bersilaturahmi ke teman-teman seangkatan dan ustaz/ustazah di pondok pesantren Al Mukmin Ngruki, juga dalam rangka meminta Kata Pengantar untuk buku terbaruku yang berjudul “Penjara Suci” ke Ustaz Wahyudin, ustaz yang pernah mengajarku 30 tahunan yang lalu di pesantren ini dan kini menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Islam dan Asuhan Yatim (YPIA) Al Mukmin, Ngruki, Surakarta.

Sebelumnya aku memang sudah menghubungi Ustaz Wahyudin dan menentukan waktu untuk bertemu di rumahnya. Alhamdulillah beliau berkenan meluangkan waktu untuk bertemu dan membaca naskahku serta memberikan Kata Pengantarnya. Karena beliau tidak mempunyai email pribadi, maka aku harus mengantar naskah utuh yang sudah kuprint ke rumahnya agar bisa langsung dibaca.

Maka meskipun suami dan putriku tak bisa mengantarku ke kota Solo karena masing-masing sedang ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan, aku tetap berangkat sendirian. Selain karena mengejar target agar bukuku dapat terbit di bulan ini, juga kesempatan untuk bertemu Ustaz Wahyudin tak bisa selalu ada. Barangkali minggu depan beliau sedang pergi ke luar kota.

Taksi online yang langsung kupesan setibanya di Stasiun Solo Balapan, mengantarku ke area pesantren. Sahabat yang sudah kukontak sebelumnya adalah Mbak Siti Chotijah yang dulu pernah seangkatan waktu masih ‘nyantri’ dan kini satu-satunya yang menjadi ustazah di Ngruki.

Karena sedang mengikuti rapat persiapan Tahun Ajaran Baru di pesantren, Mbak Tijah menyarankanku turun di minimarket “Ta’awun” supaya bisa langsung ke rumahnya yang berada di seberangnya.

Tapi berhubung aku sendiri maupun supir taksi online-nya tak begitu mengenal tempat tersebut, jadinya aku malah turun di depan sebuah bangunan BMT bertuliskan “Ta’awun” di dekat gerbang utama pesantren yang ternyata bukan tempat yang dimaksudkannya. Sehingga Mbak Tijah menjemputku dengan motornya dan Pak Munir Ibnu Kangean (suaminya) membantu membawakan tas koperku.

Baru saja sampai di rumah Mbak Tijah, tiba-tiba aku tersadar… Wah, di mana ya tas jinjingku yang berwarna orange? Tas yang kubawa semula ada tiga. Tas koper warna biru, tas tempat mukena warna biru, dan tas jinjing warna orange. Tapi ini kok cuma ada dua? Dan yang tidak ada mana tas warna orange tempat barang-barang penting lagi… Dompet berisi uang, KTP, SIM, kartu ATM dan barang penting lainnya ada di dalam tas itu. Haduuuh…!

Aku mulai panik dan mencoba menghubungi nomor kontak supir taksi online yang tadi kutumpangi dari history di aplikasinya. Tapi nomornya tak bisa dihubungi. Aku mencoba lagi beberapa kali. Tapi tetap saja tak ada hasilnya.

Aku makin panik. Beberapa butir keringat mulai menetes dari dahiku. Mbak Tijah dan Pak Munir pun jadi ikut sibuk mencari tasku barangkali tertinggal di tempat tadi sampai membuatku tak enak hati. Ya Allah baru saja sampai di rumah mereka kok malah aku bikin heboh begini karena keteledoranku?

Lalu aku mencoba menghubungi Pusat Bantuan yang ada di aplikasi taksi online tersebut dengan mengirim laporan ketinggalan barang. Namun tak juga mendapat respon. Aku terduduk lemas karena pesimis tas jinjingku akan kembali.

Apalagi tasku ketinggalan di taksi online yang identitas supirnya tak kukenal sama sekali, di kota yang jarang kusinggahi ini. Kalau benar tasku hilang, berarti aku harus mengurus berbagai macam surat penting ke kepolisian dan lain-lain. Apalagi aku juga tak membawa sepeser uang pun selain di dalam tas tersebut.

Di tengah keputusasaanku itu, tiba-tiba ada panggilan masuk ke smartphone-ku. Nomornya tak kukenal. Ketika kuangkat, aku seperti mengenal suaranya.

“Bu, kalau tas yang warna coklat itu tas punya ibu/bukan?”

“Tas warna orange kombinasi coklat kan Pak?” Aku mulai bersemangat mendengar suara supir taksi online tadi.

“Iya betul, Bu… Tadi ada penumpang yang naik mobil saya sehabis ibu. Ibu-ibu dari pengadilan kayaknya. Dia bilang kok ada tas coklat punya siapa? Barangkali ada penumpang yang tasnya ketinggalan. Makanya langsung saya simpan dan segera menghubungi Ibu.”

“Alhamdulillah… ! Iya betul itu tas saya Pak…!” Aku berseru gembira. Rasanya plong hati ini mendengarnya.

“Baik Bu, nanti saya antar tasnya. Saya juga masih belum jauh kok Bu… Mau diantar ke lokasi tadi atau ke tempat Ibu sekarang?”

“Ke lokasi yang tadi saja deh Pak….” Aku tak mau nanti supirnya kebingungan lagi mencari lokasiku yang sekarang. Sebab aku ingin segera memastikan bahwa tasku sudah ketemu dan cepat kembali ke tanganku.

Aku diantar lagi oleh Mbak Tijah ke lokasi semula dengan motornya. Aduh, makin tak enak hati ini karena bikin repot tuan rumahnya. Baru beberapa menit aku menunggu, sebuah mobil yang kukenal sudah muncul di depan mata.

Ketika kulihat plat nomor mobil dan wajah supirnya, aku semakin lega. Yup, betul, itu mobil yang tadi kutumpangi dengan supir yang sama. Saat mobil sudah dihentikan, aku segera menghampirinya. Supirnya membuka jendela mobilnya, lalu mempersilakanku membuka pintu untuk mengambil tasku.

Sebuah tas rajut dengan paduan warna orange dan coklat yang diserahkan oleh Pak Supir kepadaku membuat hati berbunga-bunga.

“Coba tasnya diperiksa saja dulu Bu… Barangkali ada yang hilang.” Pak Supir itu mengingatkanku.

Aku langsung membuka tas dan memeriksa isinya, terutama dompetku. Alhamdulillah masih utuh isinya dan tidak ada yang hilang satu pun…

“Terima kasih, Pak… Masih lengkap isinya kok. Tidak ada yang hilang. ” Aku tersenyum lega.

Ketika aku ingin menyerahkan selembar uang sebagai tanda terima kasih atas kejujurannya, Pak Supir itu langsung menolaknya.

“Nggak usah Bu…Nggak usah…,” katanya dengan sopan.

Akhirnya kudoakan saja semoga taksi online-nya laris dan banyak penumpang yang pesan.

Mbak Tijah dan Pak Munir pun ikut lega melihat tasku sudah kembali dengan selamat.

“Alhamdulillah, masih rezeki itu, Mbak Irma…, “kata Mbak Tijah sambil tersenyum.

Benar juga… Sebab bila belum rezekiku, peluang kembalinya tasku itu memang sangat kecil. Karena dari sekian banyak supir taksi online dan penumpang berikutnya…, mungkin hanya 1 berbanding 1000 yang jujur. Alhamdulillah, terhindarnya aku dari masalah ini tak lepas dari doa suami yang mengiringiku sebelum berangkat ke kota Solo.

Buat Pak Gendro Sarwedi, Supir Grabcar yang sudah mengantarku dari Stasiun Solo Balapan ke area pesantren, semoga Allah Swt. membalas kejujuran Bapak dengan memberi kelancaran dan keberkahan rezeki… Aamiin…

– Bersambung –

#DuaMalamyangBerkesandiKotaSolo
#OleholehCeritadariKotaSolo
#PenjaraSuci
#CatatanHarianSantriwatiMualaf

Ketika Anak Gadis Mengajak Emaknya Jalan-jalan ๐Ÿ˜

Standar

Rencanaku untuk mengajak Salma pulang ke Cirebon besok Senin akhirnya batal deh… Karena ternyata Osjur masih berkelanjutan. Panitianya memang sengaja hanya bisa memberi informasi kegiatan selanjutnya pada J -36 (36 jam sebelumnya). Sehingga tidak bisa dipastikan kapan berakhirnya Osjur.

Sebagai gantinya, pagi ini Salma mengajakku jalan-jalan ke daerah Lembang. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Kebun Begonia. Kami berangkat jam 08.00 dari kosnya Salma untuk menghindari kemacetan bila berangkat terlalu siang. Apalagi ini hari Minggu.

Kami berangkat dengan mengendarai taksi online. Tak sampai dua puluh menit kami sudah sampai di tempat. Setelah membayar tiket (Rp15,000,00 per orang), kami langsung memasuki area kebun. Pengunjung yang datang belum terlalu banyak. Sehingga kami bisa menikmati setiap spot kebun bunganya dengan leluasa.

Berbeda dengan Kebun Mawar di Garut yang waktu itu pernah kami kunjungi. Areanya memang tak seluas di sana. Karena di Kebun Mawar ada fasilitas penginapannya. Tapi jenis tanaman di Kebun Begonia lebih bervariasi. Tak hanya aneka tanaman bunga yang menghiasi kebun ini, namun juga berbagai jenis tanaman sayuran.

Di tengah sejuknya udara Lembang dan cerahnya cuaca pada pagi hari ini, suasana kebun yang asri ini terasa menyegarkan badan. Kami juga mampir ke Taman Kelinci yang berada di tengah area kebun. Tapi harus membayar tiket lagi dengan harga yang sama seperti tiket masuk untuk mendapatkan sayuran sebagai makanan kelinci-kelincinya. Ada seekor kelinci yang mirip dengan Chesster, kelinci kesayangan Salma yang sekarang sudah mati. Salma jadi pengin punya kelinci lagi, deh…

Ketika perut sudah terasa keroncongan, kami mampir di rumah makan yang berada di area kebun. Sepiring nasi goreng kampung dan nasi goreng telur asin yang lezat serta minuman bandrek dan bajigur yang nikmat cukup mengenyangkan perut kami.

Setelah berfoto-foto sejenak, kami meninggalkan Kebun Begonia dan mampir ke Rumah Bunga Rizal yang lokasinya tepat berada di sampingnya. Beberapa tahun yang lalu sebetulnya kami pernah berkunjung ke tempat ini. Kira-kira ketika Salma masih duduk di bangku SD. Waktu itu kami datang ke tempat ini bersama adik iparku dan keluarganya. Salma dan sepupunya saat itu malah sempat ikut kegiatan menanam kaktus di sini.

Tidak banyak perubahan dengan suasananya. Aneka tanaman anggrek yang dipajang dan dijual juga masih tampak menghiasi ruangan. Hanya sekarang di bagian depannya ada cafe. Banner bertuliskan Pizzaaa! di depan ruang makan menggoda kami untuk mencobanya. Kami memesan Pizza Mozarella Kemangi.

Penjual pizza-nya ternyata putra bapak Rizal (pemilik Rumah Bunga Rizal) sendiri. Orangnya sangat ramah. Ia menjelaskan bahwa semua bahan untuk topping pizzanya adalah produk asli Lembang. Saus tomatnya buatan sendiri dan keju Mozarella-nya juga made in Lembang. Asal mula membuka usaha ini, selain memang passionnya, karena ia juga penggemar pizza. Sehingga ia belajar cara membuat pizza dari Youtube dan mulai merintis usaha ini hingga sekarang.

Ketika pizza telah matang, kami mulai mencicipinya. Hmmm…yummy! Perpaduan wanginya daun kemangi, segarnya saus tomat dan kenyalnya keju Mozarella terasa nikmat di lidah. Dalam sekejap pizza yang terhidang sudah ludes kami santap. Wedang uwuh yang kami pesan juga pas banget sebagai hidangan penutupnya. Ketika kami membayar pesanan kami, ternyata wedang uwuhnya dianggap free saja, padahal kami sudah isi ulang menyeduh air panasnya. Alhamdulillah, terima kasih Pak…

Saat hari semakin siang, kami segera memesan taksi online untuk kembali ke kos. Sebetulnya semula Salma berencana akan mengajakku lagi ke Lereng Anteng Panoramic Coffee. Tapi karena jam 14.00 siang Salma sudah ada janji dengan sahabat-sahabatnya di kampus, jadinya kami tunda saja di lain waktu.

Terima kasih Salma, sudah mengajak mama jalan-jalan ke Lembang. Rasanya senang sekali bisa jalan-jalan bersama Salma. Nanti kapan-kapan kita lanjutkan wisata alamnya ke tempat lain ya…๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—

#wisatabersamaSalma
#mybeloveddaughter
#KebunBegonia
#RumahBungaRizal
#LetsGuide