Monthly Archives: Oktober 2018

Cirebon – Jakarta – Bandung (2)

Standar

Kereta Argo Parahyangan tiba di Stasiun Bandung tepat saat azan maghrib berkumandang. Guyuran hujan yang lebat menyambut kedatangan kami. Bersama rombongan penumpang lain, aku bergegas turun dan berjalan menuju ke arah pintu keluar stasiun.

Taksi online pun langsung kupesan. Tarifnya Rp24.000 untuk perjalanan dari stasiun menuju ke kos putriku di daerah Cisitu. Melalui pesan di aplikasi, drivernya mengatakan bahwa mobilnya sudah diparkir di depan pintu luar stasiun dan memintaku berjalan ke sana karena ia tak berani menjemputku di dalam.

Aku memahami maksudnya, tapi karena hujan turun cukup deras tentu aku tak mau bila harus basah kuyup untuk menurutinya. Maka kutawarkan agar driver-nya menjemputku saja dengan payung. Karena beberapa saat tak ada respon, aku mengecek kembali di aplikasi. Ternyata pesananku dibatalkan oleh driver tersebut. Hadeuh!

Mau tak mau aku menunggu hujan agak reda. Saat hujan tinggal rintik-rintik, aku berjalan keluar dari stasiun lalu menyeberang ke sebuah toko oleh-oleh Bandung yang berada di depannya. Aku mencoba memesan taksi online lagi. Tapi setelah melihat tarif yang tertera sebesar Rp91.000, pemesanan pun batal kulanjutkan.

Aku berupaya mencari alternatif kendaraan umum lain. Dari hasil tanya ke beberapa orang yang berada di sekitar toko itu, akhirnya kuperoleh informasi bahwa ternyata ada mobil angkot jurusan Cisitu. Alhamdulillah, kebetulan angkot tersebut sedang lewat di depan. Mereka langsung membantuku menghentikan angkot tersebut, dan aku langsung menaikinya setelah mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tapi aku harus bersabar karena mobil angkot yang kutumpangi ini terjebak kemacetan yang panjang. Mungkin karena pas akhir pekan. Kepulan asap knalpot dari puluhan kendaraan membuatku harus ‘menahan nafas’. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mobil angkot berhasil melewati titik-titik kemacetan. Fiuuuhh, rasanya lega hati ini. Apalagi ketika angkot sudah mulai memasuki jalan Cisitu.

Segera kuhubungi putriku agar membukakan pintu gerbang kos yang biasanya digembok dari dalam. Waktu hampir menunjukkan pukul 19.00, ketika mobil angkot sampai di depan gerbang kos putriku. Aku cukup membayar Rp.5000 saja untuk perjalanan dengan angkot ini.

Rasanya bahagia hati ini ketika melihat putriku membukakan pintu gerbang kos dan menyambutku dengan segelas teh Turki hangat. Semua letih selama perjalanan tadi menjadi sirna. Setelah membersihkan diri, menunaikan shalat dan mengelus tangan putriku (kesukaan putriku sejak kecil😍), aku pun tertidur nyenyak di sampingnya.

******

Pagi ini setelah sarapan bersama putriku di sebuah warung makan tak jauh dari kos, aku langsung membantunya mengangkuti barang-barang ke kamar seberang yang terletak di dekat dapur. Hari ini putriku akan pindah ke kamar tersebut. Sebelumnya kamar itu ditempati oleh seorang mahasiswi FSRD ITB yang telah menyelesaikan masa kuliahnya pada sekitar enam bulan yang lalu. Hingga kini kamar tersebut masih belum berpenghuni lagi.

Sejak bulan lalu, putriku memang sudah mengincar kamar itu. Selain ukurannya yang 1,5 kali lebih luas daripada ukuran kamar sebelummya, udara di dalam ruangan lebih segar dan sehat karena langsung terkena cahaya matahari di waktu pagi. Alasan lain, karena piano di rumah ingin diboyong ke kamar tersebut. Kalau di kamar sebelumnya pasti tidak muat.

Ketika melihat-lihat kamar itu aku langsung merasa cocok. Setelah kubicarakan dengan suami, ia pun menyetujui. Meskipun biaya sewa kos jadi sedikit lebih mahal, tapi menurut kami jatuhnya malah jadi lebih murah. Karena kami bisa menginap di kamar itu tanpa harus menginap di hotel lagi setiap kali suami ikut menengok ke Bandung.

Sehingga kupastikan mulai akhir bulan ini putriku jadi pindah ke kamar tersebut kepada Bu Heni, pemilik kosnya. Sebelumnya aku meminta agar seluruh bagian kamarnya dibersihkan terlebih dahulu.

Sekitar jam 10-an pagi suamiku tiba di kos bersama Sam, drivernya. Piano yang semula masih ragu apakah muat/tidak bila dibawa serta ke mobilnya, alhamdulillah akhirnya sampai juga di kamar baru putriku. Mata putriku berbinar melihatnya. Hobi bermain pianonya kini bisa kembali tersalurkan. “Terima kasih, Papa…, ” katanya dengan gembira. Lalu ia mulai memainkan pianonya. Aku dan suamiku tersenyum senang melihatnya.

Setelah beristirahat sejenak dan makan siang bersama, suamiku langsung pulang ke Cirebon. Sebetulnya aku berharap suamiku menginap semalam saja di kamar baru putriku ini, lalu besok habis Subuh pulang bersamaku. Tapi karena mamanya sedang dirawat di rumah sakit dan ada beberapa tugas yang harus diselesaikan esok hari, suamiku memutuskan tetap pulang siang ini juga.

Aku tetap tinggal di Bandung untuk menemani putriku semalam lagi. Saat malam menjelang tidur, dentingan piano putriku serasa membuaiku, hingga terlelap tidur di kasur Palembang yang tadi dibawa suamiku.

Tengah malam aku terbangun, lalu pindah tidur di samping putriku yang sudah tidur pulas. Mungkin menyadari mamanya ada di sampingnya, tangannya langsung dijulurkan, minta dielus. Aku mengelus jemarinya yang lembut dan dahinya. Lalu kupeluk erat hingga kami bersama-sama terbang ke alam mimpi. 💗💗💗

Cirebon – Jakarta – Bandung (1)

Standar

Setelah beberapa minggu sibuk dan tenggelam di antara tumpukan dokumen selama persiapan akreditasi lembaga pendidikan yang kukelola, kini saatnya untuk kembali menimba ilmu dan melepas kangen pada putri tercinta.

Tadi pagi seusai Subuh aku memulai perjalanan menuju ke Jakarta dengan kereta Argo Jati untuk mengikuti Workshop Menulis Cerita Anak yang dibimbing langsung oleh Bu Arleen.

Beliau adalah seorang penulis buku cerita anak yang sudah menorehkan tinta sejak 14 tahun yang lalu. Buku karyanya sudah berjumlah lebih dari 270 buku, dan diterbitkan oleh lebih dari 30 penerbit, baik di Indonesia, Malaysia, India, Vietnam maupun Saudi Arabia. Luar biasa 😍😍😍

Itu semua tentu memerlukan proses yang panjang dan tidak mudah. Karena beberapa karyanya juga tak selalu diterima oleh penerbit. Bahkan pernah 20 kali ditolak oleh penerbit yang sama. Tapi berkat kegigihannya, akhirnya beliau mampu membuktikan bahwa karyanya mampu merebut hati para pembacanya hingga menjadi best seller.

Saat menyampaikan materi, Bu Arleen selalu menjelaskannya dengan detail dan jelas. Suasana workshop juga akrab dan menyenangkan. Apalagi ketika mulai dibentuk grup yang terdiri dari tiga sampai empat peserta dengan tugas menggali ide, lalu menuangkannya menjadi sebuah cerita anak yang menarik secara step by step. Dari pemilihan karakter/ tokoh dalam cerita, keinginannya, alasan punya keinginan tersebut, dan halangan-halangannya.

Grup kami terdiri dari empat orang, yaitu: aku, Mbak Hani, Carla dan Mbak Dina. Awalnya kami juga sempat bingung saat mencari ide. Semula tokoh yang kuusulkan adalah seekor kucing. Lalu Mbak Hani juga mengusulkan naga. Akhirnya kami rangkai menjadi sebuah cerita tentang seekor kucing yang ingin menjadi naga. Mbak Dina ikut membantu mengembangkan cerita, sedangkan Carla yang jago menggambar, mulai membuat ilustrasi kucing dan naganya.

Lalu masing-masing grup maju ke depan untuk menceritakan semua rancangan cerita yang telah dibuat tadi. Bu Arleen pun membahasnya satu demi satu sambil memberi masukan agar lebih menarik. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga tiba saat berakhirnya acara.

Alhamdulillah selalu ada hal positif dari setiap acara yang dikelilingi orang-orang yang gemar belajar. Selain ilmu yang kami peroleh, juga teman-teman baru yang baik dan memotivasi. Terima kasih Bu Arleen atas sharing ilmunya yang sangat bermanfaat. Sukses selalu dan tetap menginspirasi ya Bu… 💗🙏Semoga kami bisa tertular keuletan, kesabaran dan kesuksesan Bu Arleen dalam menulis. Aamiin…

Setelah acara berakhir, aku kembali ke stasiun Gambir untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Bandung dengan kereta Argo Parahyangan. Dalam teduhnya langit dan syahdunya rintik hujan sore ini, sesekali terlintas bayangan wajah putri dan suamiku tercinta. Insya Allah malam ini sudah kupeluk erat putriku dan esok hari kami bertiga kembali bersua di kota Bandung. Sehat, selamat untuk semuanya ya… Aamiin…