Monthly Archives: November 2018

We Cannot Change The Wind, but We Can Change The Wings

Standar

Pesawat terbang, pilot, pramugari dan destinasi wisatanya ke berbagai penjuru dunia sejak dulu selalu menarik perhatianku. Saat masih duduk di bangku SD, beberapa surat bahkan pernah kulayangkan ke maskapai-maskapai penerbangan seperti ke Lufthansa, KLM, Qantas, dan lain-lain. Sekadar hanya untuk meminta brosur-brosur tentang maskapai penerbangan tersebut dan negara-negara yang dikunjunginya. Impianku saat itu adalah bisa berwisata ke berbagai negara dengan naik pesawat terbang.

Alhamdulillah, akhirnya impianku itu bisa terwujud setelah kira-kira tiga puluh tahun kemudian. Sampai sekarang, kecanggihan cara kerja pesawat terbang dan kemampuan para pilot/co pilotnya dalam menjalankan kendaraan dengan berat ratusan ton itu masih selalu membuatku takjub. Keinginan melanglang buana untuk menikmati keindahan alam ciptaan-Nya di setiap belahan dunia juga masih menggebu.

Tapi sejak mendengar kabar terjadinya musibah kecelakaan pesawat terbang Lion Air PK LQP JT 610 dengan rute Jakarta – Pangkal Pinang pada hari Jum’at 26 Oktober yang lalu di Perairan Tanjung Karawang, kengerian dan perasaan sedih terasa mencekamku. Bahkan mungkin selama beberapa waktu ke depan ini aku jadi takut naik pesawat terbang lagi.

Terlepas dari adanya dugaan kerusakan pada bagian speed indicator pesawat dan kaitannya dengan masalah takdir, beberapa fakta atas musibah yang kuperoleh dari berbagai sumber berita di bawah ini benar-benar membuatku ‘trauma’ naik pesawat:

1. Musibah jatuhnya pesawat itu terjadi hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat (tidak sampai 15 menit) setelah pesawat take off.
2. Pesawat terbang diberitakan masih dalam kondisi baru (mulai beroperasi pada bulan Agustus yang lalu), tapi diduga sudah mengalami masalah pada empat penerbangan terakhir ini.
3. Kerasnya hantaman badan pesawat terbang dengan air laut saat jatuh mengakibatkan pesawat tersebut pecah dan hancur berkeping-keping. Padahal terbuat dari bahan yang sangat kuat. Apalagi para penumpangnya, hingga membuat tim Basarnas mengalami kesulitan saat mencari dan mengidentifikasi jenazahnya.
4. Penumpang dan awak pesawat terbang yang berjumlah 189 orang itu tak ada satu pun yang dapat diselamatkan.
5. Para korban maupun keluarga korban jatuhnya pesawat ini tak pernah menduga sama sekali akan mengalami musibah yang mengerikan ini sedemikian cepatnya, di saat mereka sedang mempunyai berbagai rencana jangka pendek maupun panjang.

Ada yang masih pengantin baru, ada yang sedang berencana menikah bulan berikutnya, ada yang akan bekerja, ada yang habis berlibur dan ada yang baru saja bertemu sanak saudara mereka. Dalam sekejap semua rencana dan hari-hari indah mereka itu sirna begitu saja.

Sungguh, aku bisa ikut merasakan betapa sedih, shock dan terpukulnya hati maupun jiwa keluarga korban ketika mendengar musibah ini dan harus menerima semua kenyataannya.

Secara pribadi, kusampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah ini. Semoga semua korban husnul khatimah, diampuni semua dosanya dan diterima semua amal baiknya. Dan semoga keluarga korban diberi keikhlasan, ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini.

*****

Di tengah suasana yang masih berduka ini, tiba-tiba aku teringat sebuah buku tentang kisah para Pilot yang sudah lama kubeli tapi baru sempat kubaca sebagian. Segera kucari buku itu di lemari buku. Alhamdulillah…, ketemu!

Buku yang kumaksud itu berjudul “9 Pilot Mencari Tuhan”. Sebuah buku yang mengisahkan berbagai pengalaman spiritual dari 9 Kapten/Pilot yang merupakan peserta pelatihan ESQ (acara pelatihan yang diselenggarakan oleh Bapak Ary Ginanjar Agustian) sebagai berikut :

1. Kapten Setiya Budi
2. Kapten Faruq
3. Kapten Rudi Agutiansyah
4. Kapten Abdul Rozak
5. Kapten Ibnu Marshad
6. Kapten Robi Wibisono
7. Kapten Tubagus Satria
8. Kapten Muharno
9. Kapten Mukandaryanto

Dari semua kisah yang kubaca, ternyata terungkap bahwa tak semua Kapten ini dulunya memiliki cita-cita sebagai seorang Pilot.

Sebagian dari mereka mempunyai rencana dan cita-cita lain, namun takdirlah yang mengantar perjalanan hidup mereka menjadi seorang Pilot. Latar belakang keluarga dengan keadaan ekonominya yang berbeda-beda membuat kisah mereka semakin menarik untuk diikuti.

Diceritakan juga bagaimana beratnya perjuangan mereka di saat harus mengalami gemblengan fisik dan mental, baik di masa-masa awal seleksi, orientasi maupun di setiap tahap pendidikan di sekolah penerbangan. Bahkan setelah menjadi seorang Pilot pun mereka harus siap mental karena masih bisa terancam gugur bila tak lolos seleksi kesehatan dan kemampuannya pada setiap enam bulannya.

Tapi semua itu akhirnya terbayarkan ketika secara bertahap mereka berhasil meraih kesuksesan dalam karir mereka sebagai seorang Pilot. Dari semula dipercaya untuk menerbangkan pesawat yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar. Dari menerbangkan pesawat komersial hingga VVIP.

Apalagi mereka juga mendapatkan berbagai fasilitas yang menarik, mewah dan nyaman, selain kesempatan untuk singgah ke berbagai kota dan negara di penjuru dunia ini yang tentu sangat menyenangkan dan membanggakannya.

Semua kesenangan duniawi yang mereka rasakan itu merupakan ujian kenikmatan yang harus dihadapi dengan keimanan yang kuat. Sebab banyak godaan di dalamnya yang bila tak terkendali dapat membuat lalai dalam beribadah, bahkan bisa menjerumuskannya dalam kemaksiatan.

Bagaimana pun di balik semua kesenangan tersebut, para Pilot juga harus siap dalam menghadapi berbagai masalah saat menjalankan pesawat terbang, baik berupa kendala teknis, mesin maupun cuaca di tengah perjalanan. Karena pesawat terbang melakukan perjalanan di udara yang bila terjadi sesuatu tak bisa langsung berhenti dan turun seperti kendaraan lain.

Dari berbagai pengalaman yang mereka ceritakan, rata-rata mereka pernah menghadapi situasi yang genting dalam perjalanan hingga hampir merenggut nyawa semua awak pesawat dan penumpang. Maka bisa dikatakan bahwa Pilot adalah sebuah profesi yang penuh resiko dan dekat dengan kematian.

Namun dengan beratnya cobaan dan resiko tersebut, banyak hikmah spiritual yang bisa mereka ambil. Di antaranya, mampu menyadarkan mereka untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan banyak berzikir, berdoa dan beribadah. Melalui jendela kokpit dan pesawat, saat memandang langit yang terbentang luas, mereka bisa merenungkan keagungan dan keindahan ciptaan-Nya. Allahu Akbar.

Buku ini kubeli secara online, seingatku langsung melalui penerbitnya. Tapi aku mulai membaca keseluruhan halaman buku ini dari tanggal 18 November 2018 dan selesai pada tanggal 24 November 2018. Setelah membaca buku ini, banyak pelajaran berharga yang bisa kuambil di dalamnya. Di antaranya:

– Doa seorang ibu mampu membuat keinginan dan harapan anaknya yang semula dianggap mustahil menjadi nyata terkabul.
– Kegigihan dan komitmen yang tinggi dalam berikhtiar akan mengantar pada gerbang kesuksesan meski harus melewati perjuangan yang berat.
– Bila kita berpegang teguh pada ajaran Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya, akan banyak pintu kemudahan dan perlindungan dari-Nya dari jalan yang tak disangka-sangka.
We cannot change the wind, but we can change the wings. Quote yang tertera pada bagian cover depan buku ini kira-kira maksudnya begini: Kita takkan mampu mengubah kehendak Allah Swt. Tapi kita mampu mengubah cara kita dalam menghadapinya.

Spesifikasi buku ini:

– Judul buku: 9 Pilot Mencari Tuhan
– Penulis: Ida S. Widayanti dan Kapten Setiya Budi
– Penerbit: PT Arga Publishing
– Cetakan: Kedua, Oktober 2009
– Jumlah halaman: xxiii + 114 halaman
– Hard Cover.

Barakallah untuk semua yang terlibat dalam penulisan buku ini. Semoga bisa mewarnai spirit para Pilot Indonesia dalam menjalankan profesinya dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. sehingga selalu dalam penjagaan-Nya dalam menjalankan setiap tugasnya. Aamiin.

Dan semoga perlahan tapi pasti ‘trauma’ naik pesawat terbang yang masih menghinggapi diriku ini pun berangsur menghilang karena masih banyak keunikan dan keindahan ciptaan Allah Swt. di berbagai belahan bumi ini yang belum kunikmati. 🙏🙏😍😍

Barakallah Fiinaa wa Fiikum

Standar

Tadi pagi bunga anggrek putih di halaman belakang rumah telah mekar. Seakan menyambut hari bahagia kami.

Karena hari ini…

Rumah tangga yang kami bina telah mencapai tahun yang ke 21. Semoga senantiasa harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin.

Putri kami, Salma Fedora telah memasuki usianya yang ke 18. Semoga selalu sehat, shalihah, dan sukses. Aamiin.

Rumah Belajar Cirebon yang kami kelola telah bertahan hingga tahun yang ke 12. Semoga bermanfaat dunia akhirat. Aamiin.

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. yang telah mengaruniakan semua kebahagiaan ini. Alhamdulillah…

Terima kasih kepada semua saudara, teman, staf dan guru yang selama ini telah membantu kami melalui doa, support dan kerjasama yang baik sehingga kami berhasil mencapai semua ini.

Barakallah fiina wa fiikum…

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Musik: 🎼 Mariage d’Amour (Paul de Senneville) 🎹