Monthly Archives: Desember 2018

Happiness is All Around Us

Standar

Saat-saat liburan adalah waktu yang paling tepat untuk refreshing dan berkumpul bersama keluarga, terutama dengan mereka yang tak setiap kali bisa bertemu karena tinggal di kota yang berbeda.

Pada liburan akhir tahun ini, sebetulnya kami sudah berencana akan berwisata ke daerah Jawa Tengah agar bisa sekalian mampir ke rumah Ibu kami di Magelang. Tapi rencana tersebut kami batalkan ketika Ibu memberi kabar bahwa ia bersama adik lelakiku dan kedua anaknya akan datang berkunjung ke rumah kami.

Kehadiran mereka yang mendadak itu tentu menggembirakan kami, meskipun kami belum sempat menyusun rencana wisata keluarga ke sekitar wilayah Cirebon dan Jawa Barat.

Kami sempat searching di Google dan You Tube, mencari destinasi yang tak hanya bisa dinikmati oleh putri dan keponakan kami yang sudah memasuki usia remaja, namun juga untuk Ibu yang sudah berusia lanjut.

Sebetulnya sempat terpikir ingin mengajak mereka ke kota Bandung atau Jakarta. Tapi di musim liburan seperti sekarang ini, kami tak ingin nanti malah terjebak kemacetan di jalan maupun antrean panjang di tempat wisatanya. Karena nanti akan membuat Ibu menjadi terlalu letih.

Akhirnya kami putuskan cukup berwisata ke kawasan Kuningan saja yang relatif lebih dekat jaraknya dari rumah dibanding yang lain. Tujuan pertama kami ke Saung Stroberi yang berada di jalur menuju Palutungan. Sebuah rumah makan dengan fasilitas taman bermain dan area kebun strawberry yang boleh dipetik sendiri buahnya bila ingin membelinya.

Beberapa tahun yang lalu, kami pernah ke sana (bersama keluarga suami). Berdasarkan pengalaman yang cukup berkesan itulah maka kami kembali ke sana lagi. Tapi sesampainya di sana kami menjadi sangsi. Karena suasana sangat sepi dan terkesan sudah tak terawat lagi dengan baik.

Tidak ada seorang petugas pun yang keluar menyambut dan menawarkan menu makanannya. Bahkan ketika kami melewati ruangan kasirnya pun hanya ada pemuda-pemuda yang nongkrong sambil main gitar dan menyanyi dengan pakaian yang kurang rapi. Kami kurang paham, apakah karena memang belum buka atau sudah tak beroperasi lagi?

Di sebelah kanan taman bermain, kami menemukan kebun strawberry-nya. Tapi rata-rata masih belum berbuah. Hanya ada satu atau dua buah strawberry saja yang tampak menyembul di balik tangkai dan daunnya.

Akhirnya kami hanya berkeliling seputar taman bermain dan mengambil foto dari beberapa spot yang menarik, terutama view dari halaman parkirnya. Di sana tampak pemandangan kota Cirebon dari ketinggian.

Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi, mencari obyek wisata lain yang lebih menarik. Jalan yang kami lalui semakin menanjak hingga akhirnya tiba di sebuah tempat wisata yang bertuliskan Jurang Landung. Tempat ini berada di kaki gunung Ciremai dan masih satu kawasan dengan Curug (Air Terjun) Palutungan. Tepatnya di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur (kira-kira 9 km dari Kuningan). Udara terasa sejuk dan segar. Pemandangan hutan pinus tampak di sekitarnya.

Dari foto-foto wahana di spanduk yang terpasang pada area loket masuk, kami langsung paham bahwa tempat wisata ini menyediakan berbagai fasilitas untuk selfie bagi para pengunjungnya. Hmm, sekarang memang semakin banyak tempat wisata yang instagramable untuk memuaskan pengunjungnya yang gemar selfie.

Ketika melihat medan yang harus dilewati, aku sempat ragu karena ada beberapa anak tangga yang cukup curam dan berliku. Bagi kami yang masih kuat berjalan tentu tidak menjadi masalah. Tapi bagi Ibu yang jalannya sudah tertatih-tatih, tentu harus kami pertimbangkan kembali. Di luar dugaan, ternyata Ibu malah bersemangat untuk ikut masuk sehingga kami langsung membeli tiket. Harga tiket per orangnya Rp20 ribu.

Wahana untuk selfie di sana memang cukup bervariasi. Ada ayunan, balon udara, kursi Love, becak, permadani terbang, bunga matahari, sarang burung, jam, surfing, dan lain-lain. Semua wahana itu rata-rata sengaja dibuat menggantung di atas hijaunya pemandangan jurang sehingga cukup menguji adrenalin. Ada juga yang berada di atas air pegunungan yang mengalir. Tentu ini semua dirancang agar para pengunjung dapat menghasilkan foto-foto yang keren.

Maka hanya Salma, Kevin dan Laura (putri dan dua keponakan kami) saja yang berani mencobanya. Kalau boleh dikatakan, tempat wisata ini semacam miniaturnya Dago Dream Park, Bandung karena sebagian wahananya memang menyerupai wahana di sana.

Ketika hari semakin siang, perut pun mulai terasa keroncongan. Sehingga kami mampir ke sebuah rumah makan yang lokasinya berdekatan dengan Saung Stroberi. Nama rumah makan itu Santana Resto.

Dari luar, rumah makan ini sudah tampak menarik. Mulai jalan masuk menuju area parkirnya tampak sebuah wahana rumah Hobbit. Di terasnya ada kursi taman yang bisa diayun dan di bagian dalamnya ada rumah Indian serta satu set kursi meja bernuansa vintage yang khusus disediakan bagi pengunjung untuk mengambil fotonya. Fasilitas mushala dan toilet juga tersedia di dekat area parkir.

Dekorasi di sekitar kasir dan dapurnya unik. Ruang makan tersedia di lantai atas dan di sepanjang tangga menuju ke atas dihiasi pot-pot dengan bunga imitasi yang meriah. Begitu berada di lantai atas, yang tampak adalah pemandangan kota Cirebon dan area taman rumah makan tersebut.

Kami langsung memilih makanan dan minuman dari menu yang tersedia. Salma, Kevin dan Laura memesan beef steak. Sedangkan aku, suami, adik dan ibuku memesan nasi goreng, nasi ayam geprek dan karedok. Untuk camilan kami memesan tempe mendoan dan pisang bertabur keju.

Sedangkan untuk minuman kami memesan wedang jahe, jus jeruk dan milk shake. Hmmm…, lezat juga rasanya. Rasanya asyik banget makan di ketinggian seperti ini sambil menikmati panorama alam dengan udara Kuningan yang sejuk ini.

Setelah puas menikmati santap siang, panorama yang indah dan berfoto bersama di sana, kami melanjutkan perjalanan, menuju ke Cibulan. Sebuah tempat pemandian sekaligus situs bersejarah dengan berbagai versi yang terletak di desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana Kuningan.

Cibulan dikenal dengan kisah mistis ikan Dewa yang berwarna abu-abu kehitaman dan berukuran cukup besar. Konon ikan yang bernama asal ikan Kancra Bodas (Cyprinus Carpico) tersebut adalah para prajurit Prabu Siliwangi yang telah dikutuknya karena telah membangkang. (sumber: kaskus.co.id/20 Februari 2014).

Versi lain mengatakan bahwa Cibulan merupakan tempat Putri Buyut Manis menginjakkan kakinya hingga menjadi sumber mata air (Cai/air – Katimbulan /muncul) saat ia tak mau dipersunting oleh Putra Buyut Talaga, sebab ia sudah memiliki pujaan hati yang lain.

Ada pula yang menceritakan bahwa Cibulan merupakan tempat para wali menemukan sebuah sumber mata air yang dibuat kolam ikan dan menjadi tempat peristirahatan. Sampai sekarang ikan yang jumlahnya puluhan itu masih ada dan dikeramatkan oleh warga sekitar. (sumber: jejakpiknik.com/28 April 2018).

Ada beberapa ikan Dewa yang jinak hingga bisa ditangkap dan diangkat untuk diambil fotonya. Bahkan bisa diarahkan untuk mencium pipi pengunjungnya. Pengunjung hanya diminta membayar seikhlasnya. Karena penasaran aku pun sempat mencobanya. Tapi bukan karena percaya hal mistisnya ya…😃

Wahana dan fasilitas lain yang terdapat di sana selain kolam renang dan kolam ikan adalah 7 Sumur Keramat, Terapi Ikan, Taman Kelinci dan Saung Lesehan.

Salma, Kevin dan Laura bersama adikku main ke Taman Kelinci.

Sedangkan aku menemani Ibu yang mencoba Terapi Ikan. Kata Ibu waktu kakinya dikerumuni ikan rasanya seperti terkena sengat tapi juga geli.

Tak terasa hari semakin sore. Hujan juga mulai turun rintik-rintik. Kami segera menuju ke area parkir untuk bersiap-siap pulang. Sebelumnya kami membeli tahu gejrot, susu segar dan jagung manis untuk camilan selama perjalanan pulang.

Alhamdulillah, melihat keceriaan anak-anak dan Ibu hari ini membuat kami bersyukur karena tetap dapat menyenangkan mereka meskipun hanya berwisata di sekitar wilayah Cirebon saja. Perjalanan wisata bersama keluarga hari ini juga menyadarkan kami bahwa untuk menyenangkan keluarga tak harus berlibur ke tempat wisata yang jauh. Karena ternyata masih banyak obyek wisata menarik yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal.

Happiness is all around us! 😊😊😊

Nostalgia Popkota Catur

Standar

Mobil telah kuparkir tepat di depan gerbang yang berada di samping SD Tanah Baru, Cirebon. Rintik hujan yang masih membasahi kota Cirebon tak menghalangiku untuk mendatangi sekolah ini. Bangunan gedungnya meski sederhana, banyak menyimpan kenangan, dengan berbagai rasa.

Sekitar dua hingga lima tahun yang lalu, aku sering mengantar Salma putriku ke tempat ini. Bukan untuk bersekolah, namun untuk mengikuti Popkota Catur kota Cirebon. Sebelumnya Popkota Catur dilaksanakan di SD Putra Nirmala. Tapi sejak Salma masuk SMP, tempat bertandingnya pindah ke sekolah ini.

Ada rasa dag dig dug ketika baru tiba di tempat ini. Ada rasa tegang saat dulu Salma sedang bertanding. Ada rasa kecewa ketika Salma mengalami kegagalan. Ada rasa sedih ketika Salma patah semangat. Tapi juga ada rasa gembira dan terharu ketika Salma kembali bersemangat hingga berakhir dengan kesuksesannya.

Semua perasaan itu tiba-tiba bermunculan kembali saat kulihat dua buah spanduk yang terpasang di depan ruang kelas tempat pertandingan berlangsung. Salah satunya bergambar foto Salma yang rambutnya masih berkepang dua sedang mengamati bidak-bidak catur di depannya dan memikirkan langkah yang tepat dengan wajah serius.

Aku melangkah masuk ke halaman sekolah. Kulihat banyak guru, para atlet catur dan orangtuanya yang sedang menunggu di depan kelas (ruang bertanding). Persis sama suasananya seperti yang pernah kualami di masa itu. Aku langsung mencari Pak Yohanes, pelatih Salma sekaligus ketua penyelenggara Popkota Catur di kota Cirebon. Alhamdulillah langsung ketemu. Pak Yohanes menyambutku dengan baik. Lalu beberapa juri lain seperti Pak Duladi, Pak Asep dan Pak Ridwan ikut menyambutku dengan ramah.

Ada juga beberapa orangtua atlet catur yang sudah kukenal sejak Salma masih sering ikut pertandingan catur. Kami saling melepas kangen dan menanyakan kabar. Pertumbuhan fisik yang cepat dari para atlet yang sudah lama kukenal itu juga sempat membuatku pangling. Mereka kini sudah menjadi remaja dan tampak lebih dewasa.

Pak Yohanes dan tim juri tampak sibuk karena hari ini merupakan final dan hari terakhir Popkota catur. Ketika pengumuman hasil pertandingan ditulis di papan tulis, wajah-wajah penasaran dan tegang sekilas tampak dari ekspresi para guru perwakilan sekolah, perwakilan UPTD, para atlet maupun orangtuanya. Aku bisa ikut merasakannya. Sungguh… Malah jadi ikut deg-degan. Yang menang tampak gembira. Yang kalah tampak legowo. Para atlet pun tetap akur apa pun hasilnya.

Akhirnya usai sudah Popkota Catur sore ini. Satu demi satu berpamitan pulang. Aku juga ikut berpamitan kepada Pak Yohanes dan semua tim jurinya. Setelah bersalaman dengan para atlet dan orangtuanya, aku langsung masuk mobil dan pulang.

Alhamdulillah sore ini aku bisa bernostalgia sekaligus reunian bersama mereka. Terima kasih Pak Yohanes yang sudah sempat melatih Salma dalam menjalankan bidak caturnya sehingga beberapa kali berhasil meraih prestasi dan medali emas secara berturut-turut.

Meskipun Salma kini sudah tak lagi bertanding catur, namun spirit dan filosofinya tetap melekat sehingga kini Salma menjadi lebih survive dalam menghadapi kerasnya masa perkuliahan di ITB Bandung. Alhamdulillah.

Jangan Tunggu Sampai ‘Muntah’

Standar

Akhir-akhir ini sering tersiar berita tentang koruptor yang tertangkap tangan sedang melakukan aksi liciknya, atau pezina yang terciduk sedang bermesraan bersama pasangan tidak sahnya, bahkan ada pula yang menemui ajalnya saat sedang melakukan kejahatan dan sedang berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Dengan hanya membaca dan mendengar berita tersebut saja, kita sudah bisa membayangkan betapa malunya mereka (kecuali yang urat malunya sudah putus). Dan betapa meruginya mereka yang berpulang kepada-Nya ketika sedang melakukan perbuatan dosa.

Padahal siapa pun tentu tak ada yang mau bila dipermalukan akibat perbuatannya sendiri sampai seperti itu. Apalagi bila aib tersebut sampai tersebar luas, baik dari mulut ke mulut maupun di berita nasional. Sebab setiap orang tentu ingin dikenal citra dirinya yang positif dan mengharapkan akhir hidupnya dalam keadaan husnul khatimah.

Nah, mengapa hal-hal buruk yang sangat tidak dikehendaki itu bisa terjadi? Bukankah sebagai manusia kita sudah diberi kebebasan oleh Allah Swt. untuk memilih langkah dan jalan hidup kita sendiri? Bukankah Dia pun telah memberikan pedoman hidup dan rambu-rambu-Nya kepada kita?

Nafsu yang tak mampu dikendalikan dan godaan setan terkutuklah yang menjadi biang keladi semua keburukan di atas. Inilah sebenarnya jihad terbesar yang harus kita lakukan. Bila kalah melawan keduanya lalu menjadi ‘budak’-nya, maka sudah bisa dipastikan jalan yang dilalui akan menyesatkan dan menjerumuskannya.

Namun sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Luas Ampunan-Nya. Maka siapa pun yang telah melakukan perbuatan dosa, baik kecil maupun besar, segeralah benar-benar bertaubat (taubat nasuha) dan memohon ampun pada-Nya. Segeralah sadar, sesali dan tinggalkan semua dosa yang telah dilakukan.

Jangan menunggu sampai kenikmatan dari-Nya dicabut.
Jangan menunggu sampai azab menyambut.
Jangan menunggu sampai malaikat maut datang menjemput.
Sebab penyesalan yang tak terkira pasti akan membuatmu terlecut.

Bila perbuatan dosa masih terus menerus dilakukan, hingga tiada rasa takut lagi kepada Allah Swt. Tidak merasa bersalah, bahkan menjadi sombong dan terlena karena merasa aman… ? Waspadalah! Jangan-jangan hati telah mati.

Berhati-hatilah! Bila tetap merasa aman saat melakukan perbuatan dosa dan maksiat, bisa jadi itu adalah istidraj, atau dilulu oleh Allah Swt. (menurut istilah Bahasa Jawa). Istidraj adalah limpahan kesenangan dan kenikmatan yang disegerakan oleh Allah Swt. kepada orang yang suka berbuat dosa. Tapi sebetulnya merupakan sebuah jebakan yang secara tiba-tiba akan berbalik menjadi sebuah siksaan.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Sumber referensi: https://rumaysho.com/10828-istidraj-jebakan-berupa-limpahan-rezeki-karena-bermaksiat.html

Allah Swt.berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتّٰىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓا أَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُّبْلِسُونَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 44)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Ada sebuah istilah yang saya peroleh dari Mbak Oom, asisten rumah tangga saya ketika sedang membicarakan sebuah kasus, “Orang itu kalau terus menerus berbuat salah, padahal sudah diingatkan berulangkali dan tetap saja melanggar, ada saatnya nanti akan ‘muntah’ karena kekenyangan.”

Tepat juga ya istilah tersebut. Ibaratnya seseorang yang sudah kekenyangan berbuat dosa meskipun disembunyikan dengan rapi, pada akhirnya nanti akan ‘muntah’ dan terbongkar dengan sendirinya hingga mempermalukannya.

Misal orang yang sudah ‘kenyang’ korupsi, akhirnya tertangkap tangan sedang melakukan tindakan korupsi. Orang yang sudah ‘kenyang’ berzina akhirnya kepergok sedang berbuat zina. Orang yang sudah ‘kenyang’ narkoba akhirnya terciduk ketika sedang pesta narkoba.

Jadi, jangan tunggu sampai ‘muntah’. Segera manfaatkan kesempatan yang telah Allah Swt. berikan untuk bertaubat, lalu memperbaiki dan membentengi diri dengan doa dan zikrullah. Bila perbuatan dosamu berhubungan dengan orang lain, temui orang yang pernah kaurugikan, minta maaflah dengan tulus dan selesaikan urusanmu dengannya secara baik-baik.

Kendalikan hawa nafsumu dengan merutinkan puasa sunnah. Jauhi tempat dan teman yang mengajak pada perbuatan dosa. Latih dirimu untuk selalu bersabar dalam menghadapi cobaan dan godaan. Selalulah bersyukur dengan semua kelebihan dan apa pun yang sudah Allah Swt. karuniakan kepada kita. Sekecil dan sesederhana apa pun itu.

Semoga Allah Swt. selalu memberkahi dan meridhai perjalanan hidup kita hingga kita kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Allahumma aamiin ya rabbal’aalamiin.

Sumber gambar: https://goo.gl/images