Monthly Archives: Februari 2019

Game Pertama Karya Putriku Bersama Timnya

Standar

Liburan semester, bagi Salma tak hanya menjadi kesempatan terbaiknya untuk beristirahat maksimal di rumah. Di mana pada hari-hari kuliahnya, waktunya banyak tersita untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun dan cukup meletihkan. Liburan yang biasanya berkisar antara 10 hari hingga 1 bulan itu, juga ia manfaatkan untuk mengerjakan berbagai macam proyeknya. Khususnya yang berhubungan dengan passion-nya di bidang menggambar.

Proyek yang baru saja ia kerjakan saat liburan kemarin ialah menyicil pembuatan ilustrasi untuk rencana pictbook Mamanya. Alhamdulillah, Salma berhasil menyelesaikan ilustrasi untuk satu judul cerita. Lalu pada liburan sebelumnya, ia sudah berhasil menyelesaikan pembuatan karakter untuk animasi game pada tim game develop yang diikutinya bersama teman-teman sefakultasnya.

Sehingga di liburan semester ini, game yang diberi nama “Me, You & Our Dream” sudah bisa diunduh dan dimainkan (sementara ini baru bisa dimainkan di laptop).

Sumber gambar: https://www.instagram.com/p/BspMexLn9-r/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qd0pwdzcjezp

Ini link gamenya: https://sorrowinrain.itch.io/me-you-our-dream. Game ini menceritakan tentang dua sosok karakter, yaitu Anwar dan Hani. Anwar mempunyai impian ingin bisa kuliah di jurusan Elektro atau Informatika. Sedangkan Hani ingin masuk ke jurusan Bioteknologi agar bisa membuat robot yang bisa melakukan operasi bedah.

Nah cara memainkan game ini adalah dengan memencet-mencet tombol pada keyboard agar karakter Anwar dan Hani bisa berlari, merangkak dan melompat untuk menyelesaikan beberapa pos tantangan demi mencapai target yang diharapkan.

Bila bisa memenuhi semua posnya dan targetnya tercapai, maka pemain game-nya berhasil mendapat poin kemenangan. Kira-kira begitulah menurutku yang gaptek main game. πŸ˜‚

Karya pertama Salma dan timnya ini patut diacungi jempol. Karena selain menjadi bukti hasil kekompakan tim yang mereka bentuk, juga berisi pesan-pesan yang positif. Di antara pesan positifnya ialah bahwa untuk mencapai sebuah harapan/impian itu memang berat dan penuh tantangan. Maka dibutuhkan kegigihan dan keuletan dalam memperjuangkannya. Bila gagal di tengah jalan, jangan menyerah. Harus berani mencoba lagi. πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘

Tetap semangat berkarya lagi ya Salma dan tim. Oya, Mama punya request, kalau bisa bikin game yang bisa menjadi media belajar anak-anak di Rumah Belajar Cirebon. πŸ˜ƒ Dan lebih baik lagi bila di dalam setiap game nanti ada reminder waktu shalatnya. Atau bisa di-setting, setiap beberapa waktu tertentu permainan game-nya otomatis terhenti. Agar yang memainkannya selalu ingat waktu shalat dan tidak kecanduan bermain game, hingga berjam-jam lamanya. Seperti yang kita perhatikan rata-rata pada gamer kan begitu ya?😬

Catatan:

Maaf background sound videonya agak berisik karena lagi banyak ‘iklan lewat’ dan speaker laptopnya lagi ada gangguan. πŸ˜…πŸ™

Jari dan Jempol

Standar

Jempol adalah bagian dari jari
Yang paling berisi dan berbeda ruasnya
Terletak di ujung, dekat jari telunjuk
Maka dinamakan ibu jari

Jari dan jempol adalah petunjuk identitas
Saat menjadi cap jari dan jempol di dokumen
dan penanda hadir di mesin absensi
Pun menjadi kode tertentu saat kampanye

Jempol bisa menunjukkan kehebatan
Bila diacungkan tegak berdiri
Tapi bermakna sebaliknya
Bila dijungkirkan ke bawah.

Di era smartphone dan medsos ini
Jari dan jempol kian bermulti fungsi
Jadi alat saat komunikasi antar keluarga/ sahabat
Melalui pesan di Messenger,WA dan Line

Bagi sebagian anak muda dan remaja
Jari dan jempol digunakan untuk main game dan update status
Juga upload foto selfie di IG dan vlog di You Tube
Hingga jadi penghasil uang dan ketenaran

Bagi para emak dan reseller
Jari dan jempol menjadi alat untuk bisnis
Saat promosi online shop di IG dan FB
Sehingga bisa membantu ekonomi keluarga

Bagi para penulis dan wartawan
Jari dan jempol membantu setiap tugasnya
Saat menulis naskah, artikel dan informasi
Hingga menjadi buku dan portal berita

Tapi hati-hati saat menggunakan jari dan jempolmu di medsos
Siapa pun engkau, luruskan niat dan jaga hatimu
Jangan bawa kebencian dan kedengkianmu
Hingga kau sebarkan hoax dan fitnah

Ingat ya kawan…
Apa pun yang kau tonton dan kau bagi
Apa pun yang kau tulis dan kau komentari
Akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat

Maka gunakan jari dan jempolmu
Untuk berbagi informasi dan ilmu yang bermanfaat
Untuk berzikir dan mencari kajian agama/ ilmu yang benar
Juga untuk menebar kebaikan dan pesan positif

Semoga kita mampu mengendalikan diri
Tak terbawa huru hara medsos yang luar biasa
Sehingga menjadi lebih bijak dan mawas diri
Saat menggunakan jari dan jempol

Sumber gambar: pintaram.com

Si Tukang PHP

Standar

PHP yang kumaksud di sini bukan singkatan dari PHP: Hypertext Preprocessor, lho ya…
Kalau itu mah bahasa pemrograman. Bahasanya orang-orang yang berkecimpung di dunia informatika / IT yang bikin mumet kepala. Yang kumaksud dengan PHP di sini adalah Pemberi Harapan Palsu. Wah, siapa dia?

Selama ini mungkin PHP ini lebih sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Seperti seorang cowok yang suka kasih perhatian ke seorang cewek sampai membuat si cewek jatuh cinta. Dan si cewek mengira bahwa si cowok itu pun ada rasa cinta padanya. Ternyata eh, ternyata…, si cowok itu hanya sekedar menganggapnya sebagai sahabat baik saja. Tidak lebih dari itu. Nah, akibatnya si cewek beranggapan bahwa si cowok itu cuma PHP-in dia saja.

Ya sudahlah, sebagai cewek mungkin lebih baik tahan diri dan perasaan. Jangan mudah kegeeran. Keep calm… Banyakin doa dan memantaskan diri saja. Yakinlah, nanti Allah Swt. akan mengirimkan cowok yang lebih baik dan serius nikahin kamu ketika sudah tiba waktunya. Buat cowok…, jangan suka berlebihan kasih perhatian apalagi janji-janji manis ke cewek ya kalau kamu nggak ada niat seriusin hubungan kamu dengannya hingga ke jenjang pernikahan. Soalnya secara kodratnya, cewek itu hatinya mudah berbunga-bunga lho, meskipun baru dikasih sedikit perhatian saja…

Oke, oke, yuk kita lanjut lagi ya tentang PHP. Kali ini bukan tentang percintaan kok. Aku cuma mau cerita tentang ‘si someone‘ yang suka banget PHP-in orang. Maaf ya… Aku jadi curhat. Soalnya korban PHP-nya sudah banyak. Mau kutegur langsung orangnya, tapi nggak boleh sama suamiku. “Sudah, biarin saja. Nanti biar dia kena batunya di orang lain. Kalau kamu yang negur dia entar malah dimusuhin, lho.. ” Dengar-dengar, orangnya memang sensi pisan. Kalau ada yang negur langsung didiemin. Hadeeuuh… #Tepok jidat.

Lanjut ya… Jadi gini… Dulu ‘si someone‘ ini pernah ngajakin aku ikut suatu acara. Ngajakinnya full semangat lagi. Jadi aku ya ikutan semangat deh. Akhirnya kami janjian ketemuan di rumahnya. Rencananya nanti mau barengan berangkat ke acara tersebut. Di hari H, dengan penuh semangat aku datang ke rumahnya. Tapi pas sudah sampai di rumahnya, lho…, kok ‘si someonenggak ada ya? Apa belum datang? Dia memang tidak tinggal di situ, melainkan di rumah yang satunya lagi.

Aku menunggunya dengan sabar. Dari detik ke detik, menit ke menit hingga satu jam pun berlalu… Tapi kenapa dia belum nongol juga ya? Padahal aku sudah coba chat dia melalui WA, tapi ceklis. Aku juga sudah telpon pakai nomor HP-nya maupun WA. Tapi nggak aktif juga. Gimana sih? Jadi nggak sih sebetulnya? Aku mulai kesal. Aku tanya ke asisten rumah tangganya. Katanya sudah pergi. Ya ampyun… Jangan-jangan dia sudah duluan pergi ke sana ya?

Apa boleh buat. Karena tidak ada kepastian dan aku juga sudah menunggu dia terlalu lama tapi hasilnya tanda tanya besar, akhirnya aku pulang saja dengan hati kesal bercampur kecewa. Duh, kena PHP deh… πŸ˜‚

Ketika hari semakin sore, ada chat WA masuk dari ‘si someone‘. Pas baca isi chat-nya, huhhh…, rasanya pengin marah tapi harus menahan diri. Coba, apa nggak kesal. Dia cuma bilang, “Maaf ya Ir, saya sudah keburu diajak sama teman ke acara tersebut.” Kalau memang begitu, kenapa dia nggak segera kasih tahu? Bisa lewat chat atau telpon langsung kan? Sama seperti ketika dia pertama mengajakku kan dia bisa chat aku. Lha ini kok malah diam-diam ninggalin aku begitu saja. Ngasih kabar pas sudah sore gini. Ya percuma lah… 😠😠😠

Korban PHP lain adalah teman-teman grup arisannya. ‘Si someone’ itu rupanya sudah heboh banget mengajak teman-temannya untuk arisan di restoran miliknya, kayak mau nraktir gitu lah. Tentu saja teman-temannya menyambut gembira. Kalau pun nggak ditraktir, dapat diskon kan lumayan juga. Nah, pas hari H, teman-teman arisan pun berdatangan ke restoran ‘si someone‘. Tapi ya gitu deh… Setelah ditunggu dan dinanti sekian lama, ternyata dia kagak nongol sama sekali. Ya akhirnya jadi pada ngedumel. Haha kasihan… Kena PHP deh… πŸ˜‚

Korban berikutnya adalah Salma (putriku) dan teman-temannya. Kukira setelah lewat beberapa tahun, ‘si someone‘ sudah berubah dan bisa menghilangkan kebiasaan PHP-nya itu. Jadi gini ceritanya, bermula dari kurangnya tenaga sales pada usaha spare part mobil suamiku sehingga mengganggu cash flow keuangannya. Salma bersama teman-teman kuliahnya pun lalu berinisatif untuk membantu papanya dengan membuat sistem perusahaan secara online supaya tak terlalu tergantung pada sales.

Rupanya ‘si someone‘ sedang heboh pengin cari orang yang bisa bikin sistem perusahaan suaminya secara online juga. Akhirnya suamiku mengajukan Salma dan timnya untuk mengerjakan proyeknya terlebih dahulu. Lalu suamiku membantu mengatur waktu agar ‘si someone‘ bisa ketemuan dengan Salma dan tim di Bandung karena kebetulan dia juga lagi di Bandung. Ternyata ‘si someone‘ harus segera balik ke Cirebon sehingga pertemuan pertama pun batal.

Lalu berikutnya diatur kembalilah waktu ketemuan pas ‘si someone‘ datang lagi ke Bandung. Ternyata pada hari, jam dan tempat yang sudah ditentukan, ‘si someone‘ yang sok sibuk itu tidak nongol lagi tanpa memberi kabar sama sekali. Tentu saja Salma dan teman-temannya jadi dongkol banget. Wajarlah, karena mereka kan juga sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan sudah berusaha mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan ‘si someone’ untuk mendiskusikan rencana proyeknya. Tapi ternyata malah kena PHP lagi. πŸ˜‚

Tapi Salma masih belum putus asa ketika ‘si someone‘ mengajak ketemuan lagi pada hari Minggu di Cirebon. Kebetulan Salma dan seorang temannya yang juga tinggal di kota Cirebon memang sedang ada rencana pulang ke rumah karena hari Selasa ada Libur Imlek. Hanya saja Salma masih bimbang. Antara mau pulang di hari Sabtu saja atau hari Senin setelah selesai kuliah. Karena hari Senin (harpitnas) tetap ada kuliah. Sedangkan hari Sabtu Salma sebetulnya sedang ada kegiatan buka stand bersama teman tim game develop-nya di kampus.

Salma berpikir mungkin kali ini ‘si someone‘ sudah benar-benar luang waktunya dan bisa ketemuan setelah sebelumnya dua kali batal. Sehingga Salma memutuskan pulang hari Sabtu saja supaya hari Minggu bisa ketemuan dengan ‘si someone‘. Hari Senin nanti rencananya mau pulang pergi saja ke Bandungnya.

Tapi ketika Salma baru saja sampai di Cirebon, tiba-tiba ada chat masuk dari ‘si someone‘ yang isinya sudah bisa ditebak.😬 Yup, dengan santainya ‘si someone‘ membatalkan acara ketemuannya lagi dengan alasan mau ada acara keluarga di Bandung. Duuuuh keterlaluan banget ya ‘si someone‘ ini!!! Salma sampai ngedumel juga jadinya. “Tahu gitu saya pulang hari Senin saja biar nggak bolak balik”, katanya dengan kesal. Temannya bahkan sudah males ketemuan lagi sama ‘si someone‘. 😑😑😑

Ckckck… Orangnya memang ngegampangin banget ya sama yang namanya janji. Padahal janji itu kan utang ya. Dan dia masa bodo banget lho sama orang yang diajaknya janjian. Mau orangnya sampai susah payah atur waktu agar bisa ketemuan sama dia. Mau orangnya menunggu dia sampai berapa kali dan berapa jam. Mau orangnya sampai repot datang di tempat yang dia janjikan. Dia mah kagak peduli. Luar biasa ya ada orang secuek itu. Nggak punya hati, nggak punya muka atau nggak punya otak ya? Pantesnya diapain ya orang kayak gini tuh. Kalau ada Bu Susi mungkin beliau langsung bilang, “Tenggelamkan!! ” sambil nuding ke wajah ‘si someone’. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Sumber gambar: Wattpad

Godaan Tiga Pekan (3)

Standar

Saat Emak dan Anak Gadisnya Tergoda TaCita

Sesudah sarapan di warung makan dekat kos Salma, kami bergegas menuju ke kampus ITB lagi untuk mengikuti kelanjutan program TaCita. Pagi ini, Salma yang lebih dahulu ikut programnya. Sedangkan aku nanti ikut yang sesudah Zuhur.

Taksi online yang kami tumpangi sempat terjebak kemacetan yang panjang di jalan Taman Sari sehingga membuat kami berulangkali melirik jam pada smartphone. Kami khawatir terlambat dan ketinggalan materi. Kata Salma mungkin karena hari ini sedang ada Car Free Day. Oh iya…, sekarang hari Minggu sih ya…

Akhirnya setelah berhasil menerobos kemacetan, sampailah kami di depan gerbang Seni Rupa. Kami berjalan cepat menuju ke arah Gedung CAD. Setelah Salma registrasi ulang, kami langsung naik ke lantai 2, tempat workshop berlangsung. (Kelas Ilustrator – Eriko Tanabe – Kelas Cat Air Ala Chihiro). Hadeuuh terlambat 19 menit. πŸ˜”

Saat masuk ke ruangan, para peserta sedang mengerumuni Sensei Eriko Tanabe (instruktur dari Chihiro Art Museum) yang sedang menjelaskan teknik melukis dengan cat air ala Chihiro di depan kelas. Syukurlah panitia siap menjelaskan bagian materi yang tertinggal kepada peserta yang datang terlambat. Selain Salma, ternyata ada peserta lain yang datang terlambat.

Sensei Eriko Tanabe menjelaskan materinya menggunakan bahasa Jepang. Kemudian diterjemahkan oleh panitia. Setelah itu semua peserta langsung praktek melukis dengan cat air sesuai yang tadi telah dicontohkan. Ternyata cat air dan media melukisnya sudah disediakan oleh panitia. Sebelumnya informasi yang kuperoleh melalui DM di IG panitia, peserta diminta membawa krayon atau cat air serta kertas gambar. Tapi nggak apa-apa deh, alat-alat gambar yang kemarin sudah terlanjur kubeli toh bisa tetap kami pakai nanti. 😊

Salah satu praktek melukisnya adalah membuat kartu ucapan/harapan. Karena aku menunggu Salma di depan ruang kelasnya, setiap saat aku bisa melihat kegiatan Salma dan peserta lain. Semua tampak antusias, baik saat menyimak materi maupun saat praktek melukis. Hasil lukis yang sudah selesai dibawa ke depan, lalu panitia membantu mengeringkannya dengan hair dryer.

Akhirnya ketika waktu menunjukkan jam 11.30, panitia mengakhiri kegiatan. Semua peserta foto bersama Sensei Eriko Tanabe sambil menunjukkan karya mereka masing-masing. Bagus-bagus juga hasilnya. 😍

Sambil menunggu kelas berikutnya, Salma mengajakku makan siang di Warung Pasta yang lokasinya di dekat kampus. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sesudah makan siang aku harus berpisah lagi dengan Salma.πŸ˜₯Salma balik ke kosnya dan aku ke Masjid Salman. Seusai shalat aku balik ke tempat semula untuk mengikuti acara selanjutnya.

Kelas berikutnya yang dimulai pada jam 13.00 ini nanti adalah kelas menulis cerita bersama keluarga yang diadakan Litara. Jadi nanti pesertanya bisa ayah atau ibu bersama anak-anaknya. Tujuannya selain untuk menyalurkan ide cerita dan bakat menulis anggota keluarga, juga untuk mengharmoniskan hubungan antar anggota keluarga.

Ketika masuk ke kelas, kulihat semua yang hadir adalah para ibu dengan anaknya yang berusia sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Bahkan ada yang membawa bayi. Berarti hanya aku nih yang datang tanpa anak. Sempat timbul perasaan ragu karena khawatir salah memilih kelas.

Di tengah keraguan itu aku terkejut ketika melihat seorang wanita yang sangat kukenal tiba-tiba memasuki ruangan kelas.

“Lho kok ada Bu Anna?”

Aku langsung beranjak dari kursi dan menghampirinya.

“Eh, Irma…, ” sambut Bu Anna dengan ekspresi wajah terkejut sekaligus gembira.

Lalu kami bersalaman dan saling cipika cipiki.

Oh, ternyata Bu Anna Farida (Kepala Sekolah Perempuan) yang sekarang menjadi instrukturnya… Alhamdulillah. πŸ˜ƒ

Ketika acara dimulai, Bu Anna langsung menyampaikan materinya. Singkat namun padat. Intinya adalah bagaimana sebagai orang tua harus pandai menstimulasi, memotivasi dan memfasilitasi anak agar berani menuangkan ide dan cerita, baik melalui tulisan maupun gambar.

Kegiatan selanjutnya adalah praktek menulis, di mana setiap ibu berpasangan dengan anaknya masing-masing untuk bekerjasama dalam menulis. Lha, aku berpasangan dengan siapa ya? Tahu begitu tadi Salma jangan pulang ke kosnya dulu ya…

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seorang ibu yang duduk di belakangku memanggil dan mengajakku berpasangan saja. Rupanya ia juga bingung karena anak yang diajaknya masih bayi (baru berusia tiga bulan). Tentu anaknya belum bisa diajak kerjasama dalam menulis.

Lalu kami saling berkenalan. Nama ibu itu Mbak Adhya Utami Larasati Pramono. Nama bayinya Salma. Wih, sama dong dengan nama putriku. Ternyata Mbak Adhya juga seorang penulis yang sudah bergabung di komunitas yang sama dengan komunitas yang kuikuti. Yaitu Wonderland Creative dan Dandelion Authors.

Bahkan kami ikut proyek menulis buku antologi yang sama di Dandelion Authors (Komik Peribahasa). Dan Mbak Adhya ini rupanya juga kemarin pernah sekelas dengan Salma putriku saat belajar membuat ilustrasi bersama Pak Maman Mantox di acara TaCita yang lalu. Masya Allah, salut deh dengan semangatnya. πŸ˜ŠπŸ‘

Akhirnya kami malah sepakat untuk membuat proyek menulis bersama yang alhamdulillah didukung oleh Bu Anna. Ide cerita kudapatkan dari gambar kue tar ulang tahun dan cup cake yang terdapat pada kereta bayinya Salma. 😁. Sementara peserta lain sedang sibuk bekerjasama dengan anak-anaknya, kami sibuk berembug menyusun kerangka cerita.

Ketika waktu telah menunjukkan jam tiga sore, kegiatan pun diakhiri. Kuperhatikan semua gambar kreasi anak-anak dengan cerita yang mereka tuangkan keren-keren. Calon penulis dan ilustrator semua nih nantinya. πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘

Sebelum pulang, semua peserta foto bersama Bu Anna. Proyek menulis kami pun insya Allah akan tetap dilanjutkan dengan saling berkomunikasi melalui Whatsapp.

Karena nanti jam lima sore aku sudah harus naik travel pulang ke Cirebon, aku pun segera berpamitan kepada Bu Anna, panitia, Mbak Adhya dan peserta lain. Sebelumnya aku sempat tergoda lagi hingga membeli sebuah buku pop up Timun Mas yang dilengkapi dengan wayang-wayangnya. Habis bukunya keren habis sih… πŸ˜…

Ketika taksi online telah datang, aku langsung diantar ke pool travel Bhinneka yang berada di Pasteur. Seharusnya aku mendapat jadwal jam lima sore. Tapi karena ada satu kursi penumpang yang kosong pada jam empat yang ditawarkan padaku, aku pun mengambilnya. Yah lumayanlah bisa sampai di rumah satu jam lebih cepat jadinya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan beberapa tugas menulis melalui smatphone-ku. Hingga tak terasa, mobil telah memasuki kota Cirebon. Beberapa saat kemudian mobil travel pun sampai di pool Cirebon.

Baru saja kutelepon suamiku, tiba-tiba ia telah datang menjemputku. Alhamdulillah, rasanya lega ketika sampai di rumah. Dan hatiku bertambah senang ketika melihat tiga buah kue pie yang lezat sudah tersaji di meja.

“Sengaja saya beliin buat kamu, “begitu kata suamiku.

“Terima kasih, Koh… ,” sambutku sambil membuka kemasannya dan menikmati kue lezat itu.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas semua karunia dan kebahagiaan ini…

Godaan Tiga Pekan (2)

Standar

Melepas Kangen sambil Menimba Ilmu di Kota Bandung

Hari Sabtu, tanggal 16 Februari 2019 menjadi hari yang kutunggu-tunggu sejak sepekan yang lalu. Sebab hari itu saatnya aku berangkat ke Bandung untuk berjumpa kembali dengan Salma putriku tercinta, sekaligus mengikuti acara TaCita yang berupa Kelas Workshop GLS – Menghidupkan Perpustakaan Sekolah dengan Buku Cerita Anak (Kelas Pustakawan dan Guru).

Aku berangkat dari Cirebon pagi hari, jam 06.00 dengan Sahabat Shuttle. Kebetulan di hari yang sama pada jam 07.00 lebih, suamiku juga berangkat ke Jakarta bersama Ustaz Said untuk berkunjung ke LPIA. Perjalanan sangat lancar sehingga jam 09.00 kurang sedikit aku sudah tiba di Sahabat Shuttle pool Cihampelas. Lalu dengan taksi online aku langsung menuju ke kampus ITB Ganesha.

Bunga kolecer dan bougenville yang berwarna ungu terlihat indah menghiasi pintu gerbang utama ITB di pagi yang segar ini. Tampak beberapa mahasiwa dan mahasiswi yang berjalan keluar masuk kampus. Hari ini putriku sedang tidak ada mata kuliah, sehingga nanti setelah selesai acara, kami bertemu di kosnya saja. Melalui pintu gerbang utama aku langsung menuju ke Galeri Soemardja yang berada di sebelah kanan jalan sesuai penjelasan Pak Satpam saat kutanya.

Setelah berjalan beberapa langkah dan melewati bangunan yang bertuliskan FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) di sisi kanan jalan, akhirnya sampailah aku di Galeri Soemardja. Ada spanduk bertuliskan Pameran Ilustrator Buku Anak Indonesia dan Chihiro Art Museum di atasnya.

Perlahan kumasuki area tersebut. Suasana masih agak sepi. Baru ada satu stand yang tampak sedang ditata barang-barangnya. Stand-stand lainnya masih belum buka. Kulihat jam di smartphone-ku. Oh pantesan…, masih jam 09.30 kurang. Sedangkan acara nanti kan dimulai jam 10.00.

Tapi di depan pintu masuk Galeri Soemardja sudah ada panitia TaCita yang sudah siap menerima registrasi ulang maupun peserta baru. Aku langsung tanda tangan pada list registrasi ulang yang telah disediakan di meja panitia. Sambil menunggu acara dimulai, semula aku berniat sarapan terlebih dahulu di Kantin Masjid Salman. Tapi karena penasaran dengan gambar-gambarnya, akhirnya kuputuskan untuk melihat pameran ilustrasi saja. Lagipula tadi kan aku sudah makan roti dan minum susu saat di perjalanan.

Sebelumnya panitia memberi penjelasan bahwa ilustrasi yang berbingkai kuning tidak boleh difoto. Yang diperkenankan hanyalah ilustrasi yang berbingkai putih dan view pameran dari jarak jauh saja. Ketika kumasuki area pameran, tampak terpajang beraneka macam ilustrasi yang sangat memanjakan mata. Ilustrasi yang berbingkai kuning adalah ilustrasi dari Chihiro Art Museum. Sedangkan yang berbingkai putih, ilustrasi dari para ilustrator Indonesia.

Kuperhatikan dari setiap ilustrasi yang dipajang itu goresannya tampak begitu halus, detail, dan berkarakter. Masya Allah, benar-benar berbakat deh para ilustratornya. 😍 Di tengah ruangan tersedia berbagai buku cerita anak dari Indonesia dan Jepang yang sebagian ilustrasinya dipajang.

Wow, bagus-bagus semuanya.😍 Ada yang gambarnya sekilas sederhana tapi penuh makna yang dalam. Ada yang sangat sedikit teksnya, tapi tetap menarik karena kekuatan karakter gambarnya. Ada juga buku Toto Chan yang versi aslinya. Rasanya jadi ingin kubawa pulang semua buku-buku itu kalau diizinkan. 😁

Pengunjung pameran pun mulai berdatangan. Ada seseorang yang sepertinya pernah kulihat di foto grup kelas Pak Maman Mantox kemarin. Rupanya benar, ia Pak Rizki. Seorang dosen komunikasi dari UNJ yang hadir di acara ini dengan mengajak beberapa mahasiswanya. Pak Rizki katanya sudah lulus S1 dan S2 jurusan DKV di Universitas Trisakti Jakarta. Sekarang ia tengah mengambil S3 di jurusan Seni Rupa ITB. Luar biasa. πŸ‘πŸ‘

Berada di pameran seperti ini membuatku betah, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 09.53. Aku langsung menuju ke ruang tempat acara berlangsung di gedung CAD lantai 2. Pesertanya tak terlalu banyak dan wanita semua. Mungkin karena topiknya tentang perpustakaan kali ya. 😁

Pembicaranya Bu Karin Karina dan Bu Lia dari SD GagasCeria Bandung yang menjadi pengelola perpustakan di sana. Di mejanya dipajang beberapa contoh buku dari perpustakaannya. Bu Karin memaparkan bahwa perpustakaan harus menjadi jantung sekolah. Karena fungsinya tak hanya sekedar sebagai ruang membaca buku, namun juga sebagai tempat:

1. Informasi
2. Pendidikan
3. Penelitian
4. Kebudayaan
5. Rekreasi
6. Deposit

Maka koleksi perpustakaan pun seharusnya bisa bervariasi. Jadi sebaiknya ada juga:

1. Atlas
2. E book
3. Video
4. Multimedia
5. Kamus
6. Terbitan Berkala/Majalah

Ditekankan juga akan perlunya memperbanyak koleksi buku cerita anak, karena buku cerita anak mampu:

1. Mengasah emosi dan rasa keindahan.
2. Mengembangkan kecerdasan visual.
3. Meningkatkan wawasan dan prestasi akademik.
4. Memperkaya kosa kata.
5. Meningkatkan kemampuan memahami teks dan tata bahasa
6. Mengembangkan kebiasaan membaca sepanjang masa.

Khusus untuk anak kelas 1 – 3 SD sebaiknya disediakan buku cerita yang banyak gambarnya dan sedikit teksnya. Biasanya untuk anak-anak SD kelas awal lebih suka cerita dengan karakter binatang/fabel. Sedangkan untuk kelas 4 SD ke atas sudah mulai menyukai buku yang berisi petualangan, geografi dan semacamnya.

Tapi yang penting, buatlah nyaman dulu perpustakaannya. Buku-bukunya juga harus didisplay di rak buku agar menarik perhatian anak-anak. Setiap kali ada buku baru, buatlah pengumuman tertulis agar anak-anak penasaran untuk membacanya.

Tujuannya:
1. Agar mau berkunjung ke perpustakaan
2. Mengenalkan aneka ragam buku

Jenis kegiatan yang sudah diadakan di perpustakaan SD GagasCeria Bandung yang bisa dicontoh, di antaranya:

1. Dongeng Rabu
2. Kuis Elmuloka (kegiatan memecahkan tantangan sesuai dengan tema dari buku-buku tertentu).
3. Pustakawan Cilik (mendekatkan anak dengan perpustakaan dengan berperan sebagai pustakawan yang berkegiatan dan piket seminggu sekali).
Kegiatan tentatif-nya: Dongeng Kriya (kegiatan mendongeng kemudian berkarya sesuai dengan cerita).

Beberapa hal yang harus diperhatikan para pustakawan dalam membuat kegiatan kelas:

1. Cari apa yang sedang disukai anak-anak.
2. Pikirkan kegiatan yang sekiranya disukai anak-anak tapi bermakna.
3. Banyak cari referensi kegiatan anak dari buku maupun dari internet
4. Proaktif, tidak menunggu perintah dari pimpinan.
5. Perbanyak ragam buku bacaan anak.

Sementara itu Bu Lia memaparkan tentang perpustakaan kelas. Dalam hal ini guru dan pustakawan bisa bekerjasama dalam penyediaan buku cerita anak terkait tema yang dibahas di kelas.

Jadi di kelas bisa dimulai dari mencari tema pembelajaran agar mampu menarik siswa untuk terlibat dalam pembelajaran dimulai dari buku cerita anak.

Bisa dengan membuat karya seni yang contoh tahapan kegiatannya sebagai berikut:
1. Mencari informasi mengenai kelomang dan membaca nyaring buku tentang kelomang.
2. Anak-anak diajak memelihara kelomang.
3. Lalu mengamati dan menggambar kelomang.

Bisa juga bila kegiatannya bersifat tematik. Contohnya:
1. Mencari deskripsi informasi tentang hewan laut.
2. Guru bercerita tentang hewan laut.
3. Membuka restoran sea food.

Di SD GagasCeria juga ada program Buku Rekomendasi yang isi programnya sebagai berikut:

1. Membaca buku menjadi salah satu goal sekolah.
2. Membaca buku menjadi misi kelas dan misi pribadi.
3. Refleksi setelah membaca dengan mengupas materi dari buku yang dibaca.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang lebih sedikit, acara pun diakhiri dengan foto bersama.

Semoga dengan ilmu yang sudah kuperoleh ini, secara bertahap aku bisa mengembangkan Taman Bacaan di Rumah Belajar Cirebon menjadi lebih menarik dan bermanfaat. Aamiin

Aku mampir sejenak ke stand Halaman Nyala yang menjual aneka barang menarik seperti buku cerita, pin, mainan kreatif, tas, boneka dan buku notes yang dihias dengan gambar ilustrasi Mbak Alnurul Gheulia yang keren. Aku membeli dua seri buku ceritanya yang unik.

Paling suka sama anak-anak muda yang kreatif begini deh. Bisa menginspirasi untuk berkreasi sesuai passion-nya meskipun kuliahnya bukan dari jurusan seni rupa. Buktinya Mbak Nurul ini kan lulusan Arsitektur Universitas Parahyangan. Tapi karena passion-nya menggambar, terciptalah aneka barang menarik ini yang bisa dijual. Insya Allah nanti Salma juga bisa mengikuti jejaknya. Aamiin… πŸ˜πŸ™

Setelah itu aku langsung menuju ke kos Salma. Rasanya senang hati ini saat bisa berjumpa lagi dengan putriku. Bagiku, tiada hari tanpa merindukannya. Kemudian kami berdua pergi ke 23 Paskal Shopping Center. Salma yang gemar Japanese Food mengajakku makan siang di Genki Sushi yang berada di mall tersebut.

Cara pemesanan makanan hingga makanan yang dipesan tersebut sampai ke meja cukup unik dan canggih. Pertama kita harus memesan makanan melalui menu yang tercantum di tablet. Cukup diklik saja sesuai pesanan. Sesudah itu nanti makanan akan diantar dengan mainan kereta Shinkansen yang lewat di sebelah meja. Setelah kita ambil makanannya, kita pencet tombol di bawahnya. Lalu kereta mainan tersebut akan kembali ke dapur.

Kalau mau pesan minuman green tea, nanti akan disiapkan gelas yang bisa kita isi sendiri dengan serbuk green tea yang sudah tersedia di meja. Lalu kita bisa menyeduhnya dengan air panas dari kran air yang berada di ujung meja. Wah canggih ya…πŸ˜ƒ Jepang memang terkenal dengan kreatifitasnya.

Sebetulnya kami sempat berniat untuk pijat refleksi sejenak di Nakamura yang lokasinya tak jauh dari mall. Tapi karena terapis wanitanya sedang bertugas, kami urungkan niat kami.

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Graha Lukis untuk membeli peralatan gambar yang besok pagi akan dibawa Salma di acara TaCita. (Melukis dengan Cat Air seperti Eriko Tanabe).

Peralatan gambar yang dijual di toko tersebut cukup lengkap juga. Di lantai pertamanya terpajang aneka peralatan menggambar dan melukis. Di lantai dua khusus alat melukis dan kanvas. Sedangkan di lantai tiga adalah tempat les menggambar dan melukis. Sebagian hasil karya murid-muridnya dipajang di dekat kassa. Bagus-bagus banget. Kata pemilik tokonya, sebetulnya siapa pun bisa menggambar kalau mau belajar. Terbukti ada seorang satpam yang hasil gambarnya tak kalah keren dengan hasil gambar mahasiswa seni rupa.

Di toko tersebut kami membeli cat air, kuas, krayon dan buku gambar. Salma juga membeli pulpen yang enak dipakai untuk menulis dan menggambar. Ketika mencoba pulpen tersebut, kata Salma tulisannya jadi lebih bagus. 😁 Wah, ternyata benar ada pengaruhnya juga ya… Dari pulpen yang enak digunakan, biasanya tulisan kita memang akan menjadi lebih bagus.πŸ˜ƒ

Karena sudah mendekati saat maghrib, kami segera pulang ke kos Salma. Setelah membersihkan diri dan shalat, saatnya bagi kami untuk beristirahat. Alhamdulillah meskipun waktunya singkat, hari ini cukup puas dan senang bisa jalan bareng dengan putriku.

Godaan Tiga Pekan (1)

Standar

Menjembatani Passion

Sejak tanggal 23 Januari yang lalu sampai hari ini, godaan demi godaan serasa datang silih berganti mengusikku. Aduh mana tahan deh… Tapi jangan curiga dulu ya. Godaan yang ini mah beda. Bukan seseorang, bukan pula perhiasan. πŸ˜…

Jadi gini, dari tanggal 23 Januari sampai 17 Februari 2019, di Bandung sedang berlangsung acara TaCita (Pesta Cerita Anak) yang diadakan oleh Panitia Nasional Indonesia Market Focus London Book Fair 2019. Acara ini merupakan sebuah ajang pertemuan kreator dan pemerhati buku anak untuk berbagi dan berkembang lewat cerita anak dalam berbagai bentuk media. Pertama kali aku mendapatkan informasi ini dari Mbak Andriyati Anggoro rekanku, seorang penulis yang baik hati. πŸ’—

Program utama acara ini memang sungguh menggiurkan.😍 Yaitu Pameran Ilustrasi Buku Anak Indonesia dan Jepang, Kurasi Ilustrasi Buku Anak dan Desain Sampul Buku Remaja Indonesia, Katalog Ilustrasi Indonesia Market Focus Country London Book Fair 2019 dan Chihiro Art Museum.

Secara garis besar, kelas yang dibuka di TaCita sebagai berikut :

Kelas Ilustrator
– Kelas Penulis
– Kelas Anak
– Kelas Guru
– Kelas Dongeng
– Dongeng Kejutan
– Kelas Profesional
– Tantangan Membacakan Nyaring
– Bincang Buku
– Kreator Business Match Making
– Wisata Pameran
– Nonton Bareng
– Pasar TaCita
(Sumber: IG @tacita_id)

Sejak itulah selama tiga pekan ini, berseliweran penawaran aneka kelas yang menarik dengan jadwal-jadwalnya di media sosial (IG dan FB). Benar-benar menggoda hati. Rasanya pengin ikut semuanya. Apalagi tempat pelaksanaannya di Galeri Soemardja, Kompleks ITB, Bandung (area kampusnya Salma). Tapi masa aku harus meninggalkan rumah selama tiga pekan? πŸ˜‚

Maka kupikir sebaiknya Salma saja yang mengikuti acara ini. Apalagi ada beberapa kelas/workshop yang sesuai dengan passion Salma (menggambar ilustrasi). Karena kebetulan pada tanggal 16 dan 17 Februari memang sudah ada rencana mau ke Bandung untuk menengok Salma, aku jadi berminat untuk mengikuti acara ini juga.

Segera kucari program dan kelas yang sesuai dengan minat kami di antara tanggal tersebut melalui link TaCita. Berikut ini kelas yang akhirnya kami pilih:

1. Kelas Workshop GLS – Menghidupkan Perpustakaan Sekolah dengan Buku Cerita Anak – Kelas Pustakawan dan Guru (Sabtu, 16 Februari 2019 jam 10.00 – 12.00 di Ruang Timun Mas, Galeri Soemardja).
2. Kelas Cat Air Ala Chihiro – Eriko Tanabe – Kelas Ilustrator (Minggu, 17 Februari 2018, jam 10.00 – 12.00 di Ruang Cindelaras, CAD ITB).
3. Kelas Menulis Cerita Bersama Litara – Kelas Keluarga (Minggu, 17 Februari 2019 jam 13.00 – 15.00 di Ruang Timun Mas, CAD ITB).

Sambil menunggu acara tiba, seperti biasa aku membuka-buka IG dan FB untuk mencari informasi lain. Sebuah poster berwarna merah bergambar wajah Pak Maman Mantox tiba-tiba menarik perhatianku. Aku langsung membaca informasinya dengan seksama: Kelas Membuat Storyboard untuk Pictbook. Waktu belajarnya tanggal 10 Februari 2019 di Ruang Sangkuriang ICAD ITB.

“Wah, rupanya ada lagi ya kelas membuat pictbook di ITB? Mana Pak Maman lagi yang jadi pembimbingnya. Aduh, jadi pengin ikut… ”

Aku mulai tergoda lagi. Ternyata kelas Pak Maman ini termasuk dalam rangkaian acara TaCita juga. Tapi terpaksa aku tak bisa mengikutinya karena di tanggal tersebut sedang tak memungkinkan ke luar kota.

Sehingga kutawarkan lagi ke Salma. Alhamdulillah Salma berminat dan kebetulan juga sedang tidak ada kegiatan lain. Sebelumnya Salma sudah pernah ikut kelas online-nya Pak Maman. Jadi kelas offline ini bisa menjadi kelanjutan dari proses belajar sebelumnya.

Di kelas bimbingan Pak Maman ini, semua peserta harus membawa cerita yang akan dibuat ilustrasinya sebagai rancangan sketsa di pictbook saat kelas berlangsung nanti. Boleh cerita karya sendiri, boleh juga cerita karya orang lain. Pas banget. Kebetulan aku sedang ada proyek membuat pictbook bersama Salma. Rencananya dalam satu pictbook kami, nanti ada lima judul cerita. Saat ini baru dua cerita dan ilustrasinya yang sudah selesai.

Dengan mengikuti kelas Pak Maman ini, selain mendapatkan ilmu baru, Salma juga berkesempatan menyicil pembuatan ilustrasi untuk rencana pictbook kami. Oleh karena itu sebelum kegiatan dimulai, rancangan cerita yang sudah kususun dalam sebuah tabel yang memuat nomor halaman buku, teks narasi dan deskripsi ilustrasi sudah kukirim ke email Salma.

Dari Cirebon aku hanya bisa memantau kegiatan Salma bersama peserta lainnya selama mengikuti kelas tersebut melalui info dan foto di WA grup. Sebagian lagi kuikuti melalui instastory di IG TaCita. Kulihat banyak juga ibu-ibu yang ikut. Wow, the power of Emaks…! πŸ˜ƒ

Saat menuju ke lokasi kegiatan tadi, Salma sempat nyasar. Rupanya Salma salah membaca informasi lokasi kegiatannya. Seharusnya di ICAD tapi dibacanya di CADL. Gedung CADL terletak di bagian belakang kampus. Sedangkan gedung ICAD berada di bagian depan kampus. Owalah, pantesanLagian kok bisa-bisanya nyasar di kampusnya sendiri? πŸ˜…

Saat kegiatan berlangsung, kuperhatikan Salma sangat antusias mengikutinya. Dari sejak menyimak materi yang diberikan Pak Maman melalui proyektor, saat membuat sketsa ilustrasi berdasarkan rancangan cerita yang kukirim, hingga saat berkonsultasi dengan Pak Maman. Alhamdulillah semua sketsa untuk cerita ketiga pictbook kami berhasil Salma selesaikan. Kata Salma, Pak Maman sempat mengiranya mahasiswi dari jurusan FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain). 😁

Aku tahu persis, memang inilah passion putriku yang sesungguhnya. Meskipun mengambil kuliah di jurusan Sistem dan Teknologi Informasi, passion-nya di bidang seni menggambar tak pernah padam. Maka setiap kali ada kegiatan semacam ini, aku selalu menginformasikannya kepada Salma. Agar Salma tetap bisa menyalurkan sekaligus mengasah passion menggambarnya. Termasuk dengan memberinya kesempatan menjadi ilustrator pada buku-buku yang kutulis.

Semoga Salma nanti bisa memadukan ilmu yang diperolehnya selama kuliah dengan passion-nya sehingga akan menghasilkan sebuah kreatifitas yang bermanfaat dunia akhirat. Aamiin… πŸ™πŸ™πŸ™

Last but not least, tak lupa kuucapkan banyak terima kasih kepada Pak Maman yang sudah membimbing Salma menggambar, baik secara online maupun offline, sehingga Salma menjadi lebih bersemangat dalam menuangkan passion-nya. 😊😊

Kasih Sayang Ayah

Standar

Hari-harinya yang sibuk…
Meletihkan pikirannya
Pun melelahkan badannya
Setelah seharian bekerja
Mencari nafkah tuk keluarga

Namun semua letih dan lelahnya
Akan sirna dalam sekejap
Saat melihat senyum ceria yang terukir
Dan mendengar tawa riang yang nyaring
dari ananda tersayang

Tiada yang lebih membahagiakannya
Selain kegembiraan ananda
Tiada yang lebih menenangkan hatinya
Selain kabar baik sang anak
Buah hati tercintanya

Namun, saat ada yang mengganggu
dan menyakiti anak terkasihnya,
Kemurkaannya akan meluapkan emosi
Dan hatinya yang terluka,
menggoncangkan lahir dan batinnya

Kasih sayang seorang ayah
Mungkin tak kasatmata
Bahkan kadang terabaikan
Namun saat seorang ayah berpulang ke hadirat-Nya
Barulah tersadarkan betapa besar pengorbanannya bagi keluarga

[Review Buku] Leafie – Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Standar

Buku ini sebetulnya sudah lama kubeli. Tapi baru sempat kubaca hari Senin yang lalu hingga selesai hari ini. Walaupun tokoh utamanya hanyalah seekor ayam petelur yang buruk rupa, tapi kisahnya mampu mengaduk-aduk emosi pembacanya. Bahkan di negara asalnya (Korea), buku ini sudah terjual lebih dari 1 juta eksemplar dan telah diterjemahkan di lebih dari 10 negara. Kisah dalam buku ini juga telah difilmkan dan menjadi box office di Korea.

Buku ini mengisahkan tentang pengorbanan, cinta dan makna kebebasan sejati dari seekor ayam petelur yang tinggal di dalam kandang kawat besi bersama ayam petelur lainnya. Kekuatan naluri keibuannya, membuatnya mampu mendobrak semua kemustahilan dan kesulitan yang menimpa dirinya.

Ayam petelur ini bercita-cita ingin bebas seperti ayam betina lain yang bisa bertelur dan mengerami telurnya sendiri hingga menetas. Karena kekagumannya pada daun akasia yang selalu bersemi lagi saat berganti musim, walau telah layu, kering dan gugur, ia pun memberi nama dirinya: “Leafie” (dedaunan).

Kemujuran demi kemujuran mengiringi serta menyelamatkannya dari ancaman musang dan kerasnya kehidupan setelah terbebaskan dari kandang kawat. Meskipun kehidupan di kandang lebih aman dan terjamin, Leafie lebih menikmati kebebasan sejatinya di luar kandang.

Harapan Leafie untuk dapat diterima menjadi bagian dari keluarga halaman pun pupus, ketika ia harus menerima kenyataan justru dikucilkan dan diusir oleh mereka. Tapi hadirnya seekor bebek liar (Sang Pengelana) yang menjadi sahabat barunya membuat ia selalu terhibur. Sang Pengelana itu jugalah yang menyelamatkannya dari terkaman musang saat baru saja terbebas dari kandang kawat.

Kebahagiaannya bertambah ketika dalam pengembaraannya, Leafie menemukan sebutir telur. Ia mengeraminya dengan sabar dan hati-hati sampai menetas. Ia tak peduli meskipun yang menetas ternyata seekor anak bebek liar. Naluri keibuannya yang besar membuatnya sangat menyayangi dan selalu ingin melindungi ‘anak’-nya di mana pun berada.

Ada satu bagian cerita yang membuatku hampir menitikkan air mata. Yaitu ketika ‘anak’-nya yang diberi nama ‘Greenie‘ (sesuai warna sebagian bulunya yang kehijauan) telah bertambah dewasa dan menyadari perbedaan dirinya dengan Leafie, ‘ibu’-nya. Bahwa ia seekor bebek liar dan ‘ibu’-nya seekor ayam. Hingga Greenie meninggalkan Leafie karena ingin berkumpul bersama sesama bebek di keluarga halaman. πŸ˜₯

Aku bisa merasakan betapa menyesakkannya hati Leafie saat itu. Meskipun pada akhirnya Greenie menyesal dan kembali kepadanya. Padahal Greenie sudah sempat diikat kakinya dan hampir saja sayapnya disayat oleh Si Majikan di keluarga halaman agar tak bisa terbang. Greenie akhirnya bisa lolos berkat pertolongan Leafie.

Di bagian terakhir kisah ini, lagi-lagi aku dibuat terharu ketika Greenie terpaksa meninggalkan Leafie lagi untuk bergabung dengan sekelompok bebek liar ke suatu tempat yang jauh dalam waktu yang lama. Padahal Greenie masih ingin terus bersama Leafie.

Namun Leafie terpaksa melepasnya karena ingin memberi kesempatan kepada Greenie untuk lebih banyak berinteraksi dan berpetualang bersama kelompoknya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, sesungguhnya ia tak mau ditinggalkan ‘anak’-nya. Ia ingin selalu bersamanya. Penggalan kisah ini rasanya sangat mewakili perasaanku saat melepas putriku kuliah ke luar kota. πŸ˜₯πŸ˜₯

Dan Leafie kembali menunjukkan naluri keibuannya yang luar biasa ketika tugasnya dalam mengasuh Greenie telah selesai. Dalam situasinya yang sudah tak ada pilihan lain, ia pun rela berkorban menjadi santapan musang agar bayi-bayi si musang tidak kelaparan. Leafie bagaikan sosok ibu yang baik dan bertanggungjawab meskipun bukan kepada anak kandungnya sendiri. Kisah Leafie adalah penggambaran sosok ibu sejati.

Buku novel fabel kontemporer ini memang sarat akan pesan-pesan bijak dan positif sehingga disebut sebagai Novel Kearifan. Buku ini layak dibaca karena dapat membangkitkan empati dan rasa cinta/kasih sayang antar anak dan orang tua. Namun mungkin dibutuhkan pendampingan orang tua, bagi anak-anak dan remaja yang membacanya. Agar tak salah menangkap maksud cerita, khususnya di bagian ending kisah ini.

Spesifikasi buku ini sebagai berikut:

Judul Buku: Leafie – Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
– Nama Penulis: Hwang Sun-Mi
– Nama Penerbit: Qanita
– Jenis Genre: Fiksi Korea (Bahasa Indonesia)
– Cetakan ke: I, Februari 2013
– Jumlah halaman: 224

Selamat membaca dan terhanyut dalam setiap kisah dan emosinya ya teman-teman… 😘

Muslim Tionghoa di Hari Imlek

Standar

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap Tahun Baru Imlek, masyarakat keturunan Tionghoa biasanya mengadakan acara kumpul bersama keluarga besar. Kebiasaan ini bisa dikatakan sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun sejak dahulu dan dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di hampir seluruh negara.

Bagaimana dengan di Indonesia? Yuk, kita tengok sejenak sejarah Imlek di Indonesia. Di masa Orde Baru, Bapak Soeharto yang saat itu menjadi Presiden RI sebetulnya pernah mengeluarkan larangan merayakan Imlek secara terbuka, berdasar Inpres No. 14/1967 tentang larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.

Tapi sejak reformasi, terjadilah perubahan yang membuat warga keturunan Tionghoa menjadi lebih diterima di negara Indonesia tanpa memandang perbedaan status etnisnya. Saat Bapak Habibie menjadi presiden, ia menerbitkan Inpres No. 26/1998 yang isinya berupa pembatalan terhadap aturan-aturan diskriminatif bagi warga Tionghoa. Yaitu dengan menghentikan penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Lalu sejak Gus Dur menjadi Presiden RI, larangan perayaan Imlek pada Inpres No. 26/1998 itu dianulir dan diterbitkan menjadi Inpres No. 6/2000 (tanggal 17 Januari 2000). Sejak itulah, masyarakat Tionghoa bebas kembali menjalankan kepercayaan dan budayanya.

Sebagai tanda terima kasih, masyarakat Tionghoa di kota Semarang memberikan gelar “Bapak Tionghoa” kepada Gus Dur pada tanggal 10 Maret 2004 ketika perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie.

Kebebasan merayakan Imlek ini makin dirasakan saat Ibu Megawati yang ketika itu menjadi Presiden RI meresmikan hari Imlek ini sebagai hari libur nasional dengan Keppres no. 19/2002.
(Sumber: https://tirto.id/sejarah-perayaan-imlek-dilarang-soeharto-dibebaskan-gus-dur-dfR7)

Sehingga kini masyarakat Tionghoa pun menjadi lebih leluasa merayakan Imlek. Baik dengan bersembahyang di klenteng, saling berkunjung antar keluarga, berbagi angpao, mau pun mengadakan atraksi barongsai dan liong samsi di setiap hari Imlek.

Lalu bagaimana dengan orang-orang Tionghoa yang sudah memeluk agama Islam? Apakah bisa tetap mengikuti acara Imlek yang sudah menjadi tradisi di keluarga? Sedangkan dalam ajaran Islam kan menganut keyakinan Tauhid (hanya menyembah Allah Swt), tidak boleh bid’ah (mengada-adakan kegiatan ibadah yang tidak ada contohnya dalam ajaran Islam) dan tidak boleh tasyabbuh (melakukan kegiatan yang menyerupai penganut agama lain).

Kami sekeluarga juga sempat bingung bagaimana menyikapi hal ini. Di satu pihak, kami tidak ingin melanggar ajaran Islam. Tapi kami juga harus menjaga hubungan baik dengan keluarga besar kami yang mayoritas non muslim. Suamiku sampai berkonsultasi dengan beberapa ustaz.

Akhirnya kami mengambil jalan tengah yang menurut kami bisa menjaga keduanya. Kami tetap hadir di acara kumpul keluarga besar dan menjalin silaturahmi dengan baik. Tapi tanpa atribut /pernak pernik khusus Imlek. Seperti tak harus mengenakan baju warna merah dan amplop angpao pun tak harus bernuansa Imlek.

Intinya, tujuan utama ikut acara ini bukanlah untuk merayakan Imlek, melainkan sekadar silaturahmi dan berbagi rejeki bersama keluarga saja, mumpung lagi kumpul.

Tapi hal yang tersulit bagi kami adalah saat kami dianjurkan untuk tidak lagi mengucap Kiong Hie/Gong Xi Fa Cai saat bertemu keluarga atau menghubungi mereka melalui telepon. Berbeda dengan suamiku, aku dan Salma jujur saja belum sanggup.

Apalagi aku berpendapat, ucapan Kiong Hie atau Gong Xi Fa Cai kan artinya bagus. Memberi selamat dan mendoakan kesuksesan/ kesejahteraan. Kata suamiku, tidak masalah, asalkan mengucapkannya jangan khusus saat Imlek saja, karena itu berarti kan merayakannya. Wallahu a’lam bishshawab.

Kalau untuk ibadah sembahyangan ke klenteng, kebetulan keluarga besar suamiku tidak mengadakannya. Sehingga tidak ada masalah. Demikian juga dengan makanan yang disajikan, insya Allah halal karena bisa dikatakan mereka tidak makan babi. Apalagi di acara kumpul keluarga kemarin, suamiku sudah memesankan nasi kebuli sebagai hidangan utama sehingga makan-makannya menjadi lebih tenang. πŸ˜ƒ

Alhamdulillah, akhirnya Salma pun bisa ikut acara kumpul-kumpul bersama saudara sepupunya/keluarga di hari Imlek dengan ceria meskipun sempat bimbang saat harpitnas kemarin. πŸ˜…πŸ˜

Demikianlah sekilas pengalaman kami sebagai keluarga muslim di tengah keluarga besar yang merayakan hari Imlek. Mohon maaf bila ada yang salah/kurang berkenan.

Semoga hubungan antar keluarga/ masyarakat dapat selalu terjalin dengan harmonis meskipun berbeda keyakinan. Tentu saja dengan tetap saling menghormati dan berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.

Harpitnas

Standar

Karena hari Sabtu tidak ada jadwal kuliah dan hari Selasa depannya libur nasional Imlek, Salma (putriku) memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Sebetulnya hari Senin tidak libur (ada satu mata kuliah). Tapi Salma berniat izin tidak masuk kuliah saja supaya waktu kebersamaan dengan keluarga di rumah bisa lebih lama.

Apalagi nanti saat hari Imlek keluarga besar akan berkumpul untuk saling bersilaturahmi bersama. Maka Salma tidak ingin melewatkan momen tersebut.

Tapi rencana Salma nyaris batal ketika siangnya ia mendapat informasi dari teman-teman kuliahnya melalui Line bahwa ternyata hari Senin jam 9 pagi ada praktikum yang mewajibkan semua mahasiswanya hadir. Kalau tidak hadir, nanti tidak mendapat nilai.

Salma menjadi bimbang. Lebih baik besok Senin setelah selesai praktikum di kampus tidak balik lagi ke Cirebon lagi, atau tetap balik ya? Kalau tetap balik lumayan meletihkan. Karena hari Rabu pagi kan Salma sudah harus berada di Bandung lagi untuk kuliah.

Liburnya memang hanya satu hari, pas Imlek di hari Selasa saja sih ya… Jadinya hari Senin menjadi Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) deh… Karena waktunya memang nanggung. πŸ˜‚

Akhirnya dengan terpaksa Salma memutuskan untuk tidak balik ke Cirebon lagi setelah selesai praktikum besok Senin. Sahabat Shuttle, travel langganan yang biasa mengantar kami pp Cirebon – Bandung/sebaliknya pun langsung kupesan untuk Salma. Jadwal berangkatnya jam 5 pagi.

Malam harinya Salma mulai bimbang lagi. Keinginannya untuk bisa berkumpul bersama keluarga besar di hari Imlek yang jatuh pada hari Selasa itu mendadak mengubah keputusannya.

“Ma, besok Senin Salma ke Bandungnya pp saja deh… Jadi besok selesai praktikum langsung pulang ke Cirebon lagi, ” kata Salma dengan mantap.

Tentu saja aku dan suami senang mendengarnya karena bisa bertemu Salma lebih lama dari rencana sebelumnya. Malam itu juga aku langsung telpon ke travelnya untuk mengundurkan hari keberangkatan Salma. Semula ingin kuundurkan ke tanggal 16 Februari karena kebetulan di tanggal tersebut aku ada kegiatan di Bandung. Tapi ternyata tidak boleh karena waktunya terlalu lama. Akhirnya kuundurkan ke hari Rabu jam 6 pagi, yang memang pas hari baliknya Salma ke Bandung.

*****

Keesokan harinya, pada jam 7 lebih 15 menit, Salma berangkat ke Bandung dengan menumpang mobil, diantar Pak Sam (supir). Aku ikut menemani Salma ke Bandung. Namun suamiku tidak bisa ikut karena sedang ada beberapa tugas yang harus ia selesaikan hari itu juga. Berdasarkan info terbaru dari teman-temannya, ternyata jadwal praktikumnya diundur ke jam 11 pagi. Sehingga kami tidak perlu berangkat dari Cirebon terlalu pagi.

Kami menempuh perjalanan dengan melewati tol Cipali. Jalanan sepi dan arus lalu lintas sangat lancar. Mulai agak ramai ketika sudah memasuki kota Bandung. Tapi alhamdulillah tetap lancar, sehingga sekitar jam 09.30 kami sudah tiba di kampus ITB.

Mobil diparkir di bagian dalam kampus. Salma langsung menuju ke Labtek 5 untuk mempersiapkan diri mengikuti praktikum. Kata Salma nanti selesainya jam 1 siang. Sambil menunggu aku sejenak berkeliling area kampus ITB yang adem. Aku tak pernah bosan berjalan-jalan di sekitar lingkungan kampus ini. Bahkan sejak pertama kali memasuki area ini, saat dulu mengantar Salma ikut lomba matematika beberapa tahun yang lalu, aku sudah jatuh hati dengan suasana asrinya.

Waktu itu sempat terpikir di benakku, betapa nyaman dan senangnya ya bila Salma nanti bisa kuliah di kampus ini. Alhamdulillah, harapan itu akhirnya terwujud beberapa tahun kemudian. Entah mengapa, setiap kali memasuki area kampus ini, energi positif dan aroma intelektualitas dari para dosen dan mahasiswanya serasa menyebar dari setiap sudutnya.

Sambil menikmati sisa udara pagi yang masih segar, aku terus berjalan. Seekor kucing yang sedang duduk di ujung sebuah gedung menatapku, lalu berlari menghampiriku. Rupanya kucing yang sedang hamil itu ingin dimanja-manja. Aku mengelus sampai kucingnya menggeliat kesenangan.

Lalu aku berjalan lagi sampai di gedung Perpustakaan yang terletak di paling ujung sebelah kanan (bila masuk dari gerbang utama). Semula aku ragu untuk memasukinya. Karena selain malu, aku juga bingung, buku apa ya nanti yang akan kupinjam? Kurasa buku yang banyak tersedia di perpustakaan ini tentu yang berhubungan dengan mata kuliah di kampus.

Tapi karena teringat Salma yang pernah bercerita bahwa perpustakaan ITB ini nyaman dan terbuka untuk umum, aku jadi kepo dan memberanikan diri untuk memasukinya. Untung aku membawa buku “Leafie – Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya” (Novel Kearifan karya Hwang Sun-Mi). Jadi nanti aku bisa membaca buku itu di dalam perpustakaan.

Begitu memasuki perpustakaan, di sebelah kiri, di dekat pintu masuk kulihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedang membaca buku. Lalu di depan ada petugas yang melayani para pengunjung yang akan masuk ke bagian dalam ruang bacanya.

Pertama-tama petugas memintaku menyerahkan kartu identitas dan menuliskan namaku pada catatan list pengunjung. Lalu ia memberikan kartu pengunjung dan memintaku mengetik nomor kartu di komputer yang tersedia di dekatnya. Setelah itu aku memasukkan tas ke dalam loker yang tersedia di sebelah kiri.

Aku melihat ke sekeliling area baca di lantai 1 itu. Ada beberapa mahasiswa dan mahasiwi yang sedang belajar bersama. Tapi ada juga yang duduk membaca buku sendirian. Kata Salma, biasanya yang suka datang ke perpustakaan ini mahasiswa yang ‘ngambis‘ (yang berambisi dapat IP bagus). Wah… πŸ˜…Lalu aku langsung mencari kursi yang agak jauh dari kerumunan mahasiswa.

Buku yang berjudul “Leafie” itu pun langsung kubaca. Suasana hening di perpustakaan membuatku dapat menikmati halaman demi halaman buku tersebut dengan tenang.

Hingga ketika terdengar pengumuman bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu Zuhur dan petugas perpustakaan akan beristirahat, aku pun berkemas. Kemudian mengambil tas di loker, mengembalikan kartu pengunjung dan meminta kembali kartu identitasku dari petugas.

Selanjutnya aku ke Masjid Salman yang berada di seberang kampus ITB untuk bersiap-siap mengikuti shalat Zuhur berjamaah di sana. Di tempat wudhu sudah banyak orang yang akan mengambil air wudhu. Di dekat tempat wudhu aku melihat beberapa foto yang dipajang. Ternyata itu foto para pencuri yang terciduk dan tertangkap CCTV di area masjid. Tujuannya menimbulkan efek jera dan sebagai pengingat.

Setelah berwudhu, aku langsung memasuki masjid yang sudah mulai dipenuhi jamaah masjid yang akan ikut shalat Zuhur. Mayoritas mahasiswa dan mahasiswi ITB. Tak kulihat Salma karena memang ia sedang berhalangan.

Masjid berlantai kayu ini selalu mengingatkanku kepada para mahasiswa ITB yang sering menjadi imam saat bulan Ramadhan. Mereka tak hanya cerdas secara akademik, berprestasi, aktif dalam kegiatan sosial, namun juga hafizh Al Qur’an. Masya Allah…😍 Dalam hati aku berdoa, semoga salah satu di antara mahasiswa yang shalih itu bisa berjodoh dengan putriku. Aamiin ya Allah…

Seusai shalat, ada pesan masuk dari Salma. Katanya praktikum sudah selesai, tapi Salma mau langsung lanjut masuk kuliah saja (yang semula mau izin tidak masuk). Tentu saja aku mengizinkan dan mendukungnya daripada bolos. Lagi pula kan sudah kepalang tanggung karena sudah di ITB juga. Jadwal kuliahnya dari jam 1 sampai jam 3 sore.

“Mama makan saja dulu nggak apa-apa. Saya sudah makan cemilan, ” kata Salma di pesan Line-nya.

Karena perut ini sudah keroncongan, aku makan siang di kantin Masjid Salman. Makanannya cukup bervariasi. Ada soto ayam, ada nasi putih dengan berbagai pilihan sayur dan lauknya. Tersedia juga jus buah-buahan dan susu. Aku memilih nasi rames (pakai 2 macam sayur) dengan lauk telur rebus dan krupuk. Minumnya segelas jus jambu merah. Totalnya hanya Rp18.000. Cukup murah meriah ya? Makanya banyak mahasiswa yang makan di sini. Baik muslim maupun non muslim. Setelah selesai makan, piring dan gelas yang kotor harus dibawa ke tempat khusus agar meja makan menjadi rapi kembali dan memudahkan pelayannya mencuci alat makan yang kotor.

Sesudah makan aku kembali ke masjid. Sambil menunggu Salma selesai kuliah, aku melanjutkan membaca buku “Leafie” sambil sesekali menyicil tulisan yang kuikutkan SETIP Challenge. Ketika waktu menunjukkan jam 3 kurang 10 menit, Salma menghubungiku. Katanya sudah selesai kuliahnya. Dan ia menungguku di tempat mobil parkir saja.

Aku bergegas menuju ke tempat mobil tadi pagi diparkir. Tapi baru saja memasuki gerbang utama ITB, mobil sudah menghampiriku sehingga aku langsung masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Kami mampir sebentar di sebuah rumah makan di daerah Dago. Menemani Salma makan sejenak karena tadi siang memang ia belum makan.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Selama di perjalanan Salma tertidur di atas bantal empuk yang sudah dipersiapkan oleh papanya di dalam mobil sebelum berangkat tadi pagi. Sempat terjebak kemacetan tadi saat akan memasuki pintu tol. Tapi selanjutnya lancar kembali.

Kira-kira jam 7 malam kami tiba di kota Cirebon. Alhamdulillah akhirnya malam ini kami bertiga dapat berkumpul bersama lagi di rumah. Sebelum tidur, aku memeluk Salma dan mengelus jarinya yang lentik. Sungguh senang hati ini, karena malam ini kami bisa menemaninya lagi tidur di rumah.😘😘😘

Setip Kemalasan Menulismu, dengan Ikut SETIP!

Standar

Sejak menjamurnya komunitas serta kelas menulis online dengan koordinator dan anggotanya yang terdiri dari para wanita, semangat berliterasi dari kalangan para emak pun mulai tumbuh.

Selama ini bila mendengar kata emak, yang terbayang adalah seorang ibu berbaju daster yang disibukkan dengan kegiatan rumah tangganya yang tak pernah ada habisnya.

Tapi jangan anggap remeh para emak. Begitu mereka aktif mengikuti kelas menulis, karya-karya mereka bisa meluap bak air bah yang membanjiri dunia literasi.

Coba tengok saja di beberapa media sosial. Hampir setiap hari kita menyaksikan parade karya para emak yang berupa buku antologi, buku solo, hingga artikel (di blog pribadi maupun di website).

Untuk mengasah kemampuan dan konsistensi dalam menulis, para emak pun berupaya mengikuti berbagai challenge menulis yang diadakan oleh komunitas-komunitas menulis. Contoh dari challenge itu: One Day One Post, 30 Hari Bercerita, One Week One Post, dan lain-lain.

Tentu teman-teman sudah banyak yang mengenal Mbak Muyassaroh, kan? Seorang ibu rumah tangga berusia muda sekaligus penulis buku/artikel yang enerjik. Nah sekarang ia bahkan telah menjadi founder estrilook.com juga lho… Masya Allah keren ya… πŸ˜πŸ‘

Sedikit informasi bagi yang belum mengenal, Estrilook adalah sebuah platform menulis/ situs yang menyajikan berbagai informasi menarik, inspiratif, serta bermanfaat dari para penulis kreatif yang bergabung di dalamnya, dan dipersembahkan untuk jutaan wanita Indonesia.

Selain itu Mbak Muyassaroh juga telah membentuk Estrilook Community yang menjadi wadah bagi semua anggotanya untuk belajar dan berbagi ilmu kepenulisan melalui berbagai program kerennya.

Di bulan Januari yang lalu, telah dilaksanakan program One Day One Post (ODOP), sebuah challenge menulis dan memposting tulisan setiap hari, sejak awal hingga akhir bulan. Aku sempat mencoba challenge tersebut. Alhamdulillah berhasil lolos dan terpenuhi semuanya. Meskipun sempat kepontal-pontal juga, karena sambil berbagi waktu dengan kegiatan lain. πŸ˜‚πŸ˜‚

Yup, memang cukup berat juga sih, karena setiap hari harus menulis dan setor tulisan. Kalau tidak sempat setor, dianggap berutang dan harus melunasinya dengan cara dirapel ke hari-hari berikutnya. Maka setiap hari harus putar otak, cari ide dan menulis meskipun sambil memasak, bekerja di kantor ataupun saat menjelang tidur.

Bagi mereka yang sudah profesional, berpengalaman dalam menulis, dan mempunyai banyak waktu luang, mungkin hal itu tak menjadi masalah. Tapi bagi para penulis pemula maupun yang setiap harinya sibuk bekerja, pasti akan terasa ngos-ngosan saat mengikuti challenge ini. πŸ˜…πŸ˜…

Alhamdulillah, Mbak Muyassaroh cukup peka menangkap permasalahan ini. Sehingga diluncurkanlah program terbarunya yang diberi nama SETIP. Setip ini diambil dari bahasa Jawa, yang artinya penghapus/menghapus. Demikian pun menurutnya, tujuan program baru ini memang untuk menghapus kemalasan dalam menulis.

Di program ini juga ada challenge menulis, tapi tidak seberat ODOP. Sesuai dengan kepanjangan dari SETIP, yaitu Seminggu Tiga Postingan. Jadi dalam seminggu para pesertanya cukup menulis dan memposting tiga tulisannya. Yaitu setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at. Program ini berlangsung dimulai dari hari ini, tanggal 4 Februari 2018 dan berakhir di tanggal 30 April 2019.

Wah, menarik juga ya…πŸ˜ƒ Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti challenge ini. Alasanku ikut challenge ini tak hanya sekadar membiasakan menulis dan mengasah kemampuan menulis. Tapi juga untuk berbagi pesan positif, sekaligus mencegah kepikunan semenjak dini. Karena dengan sering menulis, otak akan menjadi lebih terlatih dan kepikunan pun akan terhindarkan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah sumber berikut ini: https://m.detik.com/news/adv-nhl-detikcom/d-4065717/cegah-pikun-usia-muda-dengan-menulis

Tulisanku ini adalah tulisan pertama yang akan kusetorkan di SETIP. Semoga bisa konsisten dan menyemangati teman-teman untuk mengikuti challenge ini juga. Efek positifnya, blog pribadi kita jadi lebih hidup dan meriah lho. Tidak kosong dan berdebu lagi gara-gara nggak pernah diisi tulisan kita. 😁😁

Mumpung masih hari pertama, yuk yang mau menyusul dan ingin tahu syarat-syarat mengikuti challenge ini, saya sertakan saja di bawah ini ya:πŸ˜‰

*****

Hapus kemalasanmu dengan SETIP! Seminggu tiga postingan bersama Estrilook Community. SETIP dimulai Senin 04 Februari sampai 30 April 2019.

Syarat SETIP :

1. Share tentang SETIP di Social Media kamu yaitu IG, FB, Twitter atau media sosial lainnya yang kamu punya. Jika hanya punya salah satu tak apa, yang penting posting mengenai SETIP supaya lebih banyak orang yang bisa ikutan.

2. Share gambar SETIP serta syaratnya dan mention juga minimal 2 teman kamu yang belum bergabung di Grup FB Estrilook.

3. Follow akun Estrilook Community di Instagram. Like Fanpage Estrilook dan bergabung di Grup FB Estrilook Community
https://www.facebook.com/groups/234318230607581/?ref=br_tf&epa=SEARCH_BOX

4. Posting mengenai SETIP di blog kamu dan alasan kenapa kamu mau ikut SETIP. Jangan lupa sertakan juga link estrilook.com di postinganmu, ya.

5. Konsisten untuk ikut SETIP dan tak mundur di tengah jalan.

6. Jika ada yang tertinggal dalam event SETIP ini, boleh merapelnya.

7. Akan diberikan waktu hanya satu minggu ketika event SETIP selesai untuk mengejar ketertinggalan.

8. SETIP akan berlangsung selama 3 bulan, mulai Februari hingga April 2019. Tetap amanah dan tak banyak alasan ketika mengikuti event ini.

9. Jangan lupa setor link postingan kamu di grup FB Estrilook Community pada postingan yang telah disediakan oleh admin.

10. Postingan di blog masing-masing dan disetorkan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Tetap semangat dan selamat berjuang!

Salam,
Tim Estrilook

*****

Selamat menulis dan mengikuti challenge ini ya teman-teman… Tetap semangat dan setip kemalasan menulismu! πŸ˜ƒπŸ’ͺπŸ’ͺ

Bangkai

Standar

Bangkai itu jasad yang telah mati
Yang kian lama kian membusuk
Hingga menjijikkan bila dilihat
Dan aromanya pun bisa bikin muntah

Hati dan perbuatan manusia bak bangkai
Bila bebal, mati dan membusuk
Di saat tak peduli lagi dengan nasihat
Juga abaikan perintah dan larangan-Nya

Serapat apapun ditutup dan disimpan
Busuknya hati dan perbuatan
Akan tercium dan terbongkar
Hingga tiada lagi yang bisa disembunyikan

Bahkan meski dikubur dalam-dalam
Dengan timbunan tanah kepalsuan
Hadirnya clue yang tak terduga
Akan membongkar semua kebusukan

Maka hidupkan hati dan perbuatan
Dengan iman yang teguh dan akhlak yang terpuji
Agar menyebarkan aroma harum kebajikan
Hingga dicinta dunia akhirat

Sumber gambar: pinterest.com