[Review Buku] Leafie – Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Standar

Buku ini sebetulnya sudah lama kubeli. Tapi baru sempat kubaca hari Senin yang lalu hingga selesai hari ini. Walaupun tokoh utamanya hanyalah seekor ayam petelur yang buruk rupa, tapi kisahnya mampu mengaduk-aduk emosi pembacanya. Bahkan di negara asalnya (Korea), buku ini sudah terjual lebih dari 1 juta eksemplar dan telah diterjemahkan di lebih dari 10 negara. Kisah dalam buku ini juga telah difilmkan dan menjadi box office di Korea.

Buku ini mengisahkan tentang pengorbanan, cinta dan makna kebebasan sejati dari seekor ayam petelur yang tinggal di dalam kandang kawat besi bersama ayam petelur lainnya. Kekuatan naluri keibuannya, membuatnya mampu mendobrak semua kemustahilan dan kesulitan yang menimpa dirinya.

Ayam petelur ini bercita-cita ingin bebas seperti ayam betina lain yang bisa bertelur dan mengerami telurnya sendiri hingga menetas. Karena kekagumannya pada daun akasia yang selalu bersemi lagi saat berganti musim, walau telah layu, kering dan gugur, ia pun memberi nama dirinya: “Leafie” (dedaunan).

Kemujuran demi kemujuran mengiringi serta menyelamatkannya dari ancaman musang dan kerasnya kehidupan setelah terbebaskan dari kandang kawat. Meskipun kehidupan di kandang lebih aman dan terjamin, Leafie lebih menikmati kebebasan sejatinya di luar kandang.

Harapan Leafie untuk dapat diterima menjadi bagian dari keluarga halaman pun pupus, ketika ia harus menerima kenyataan justru dikucilkan dan diusir oleh mereka. Tapi hadirnya seekor bebek liar (Sang Pengelana) yang menjadi sahabat barunya membuat ia selalu terhibur. Sang Pengelana itu jugalah yang menyelamatkannya dari terkaman musang saat baru saja terbebas dari kandang kawat.

Kebahagiaannya bertambah ketika dalam pengembaraannya, Leafie menemukan sebutir telur. Ia mengeraminya dengan sabar dan hati-hati sampai menetas. Ia tak peduli meskipun yang menetas ternyata seekor anak bebek liar. Naluri keibuannya yang besar membuatnya sangat menyayangi dan selalu ingin melindungi ‘anak’-nya di mana pun berada.

Ada satu bagian cerita yang membuatku hampir menitikkan air mata. Yaitu ketika ‘anak’-nya yang diberi nama ‘Greenie‘ (sesuai warna sebagian bulunya yang kehijauan) telah bertambah dewasa dan menyadari perbedaan dirinya dengan Leafie, ‘ibu’-nya. Bahwa ia seekor bebek liar dan ‘ibu’-nya seekor ayam. Hingga Greenie meninggalkan Leafie karena ingin berkumpul bersama sesama bebek di keluarga halaman. 😥

Aku bisa merasakan betapa menyesakkannya hati Leafie saat itu. Meskipun pada akhirnya Greenie menyesal dan kembali kepadanya. Padahal Greenie sudah sempat diikat kakinya dan hampir saja sayapnya disayat oleh Si Majikan di keluarga halaman agar tak bisa terbang. Greenie akhirnya bisa lolos berkat pertolongan Leafie.

Di bagian terakhir kisah ini, lagi-lagi aku dibuat terharu ketika Greenie terpaksa meninggalkan Leafie lagi untuk bergabung dengan sekelompok bebek liar ke suatu tempat yang jauh dalam waktu yang lama. Padahal Greenie masih ingin terus bersama Leafie.

Namun Leafie terpaksa melepasnya karena ingin memberi kesempatan kepada Greenie untuk lebih banyak berinteraksi dan berpetualang bersama kelompoknya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, sesungguhnya ia tak mau ditinggalkan ‘anak’-nya. Ia ingin selalu bersamanya. Penggalan kisah ini rasanya sangat mewakili perasaanku saat melepas putriku kuliah ke luar kota. 😥😥

Dan Leafie kembali menunjukkan naluri keibuannya yang luar biasa ketika tugasnya dalam mengasuh Greenie telah selesai. Dalam situasinya yang sudah tak ada pilihan lain, ia pun rela berkorban menjadi santapan musang agar bayi-bayi si musang tidak kelaparan. Leafie bagaikan sosok ibu yang baik dan bertanggungjawab meskipun bukan kepada anak kandungnya sendiri. Kisah Leafie adalah penggambaran sosok ibu sejati.

Buku novel fabel kontemporer ini memang sarat akan pesan-pesan bijak dan positif sehingga disebut sebagai Novel Kearifan. Buku ini layak dibaca karena dapat membangkitkan empati dan rasa cinta/kasih sayang antar anak dan orang tua. Namun mungkin dibutuhkan pendampingan orang tua, bagi anak-anak dan remaja yang membacanya. Agar tak salah menangkap maksud cerita, khususnya di bagian ending kisah ini.

Spesifikasi buku ini sebagai berikut:

Judul Buku: Leafie – Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
– Nama Penulis: Hwang Sun-Mi
– Nama Penerbit: Qanita
– Jenis Genre: Fiksi Korea (Bahasa Indonesia)
– Cetakan ke: I, Februari 2013
– Jumlah halaman: 224

Selamat membaca dan terhanyut dalam setiap kisah dan emosinya ya teman-teman… 😘

8 responses »

  1. Dalam banget ya Mbak makna kisahnya. Jadi terharu dengan besarnya kasih sayang Leafie 💜. Benar2 mewakili cinta seorang ibu. Tapi endingnya itu lho bikin tambah nyesak aja. Rela jadi santapan bayi2 musang 😑 Kesannya kok kayak bunuh diri.

    Dari dulu aku penasaran sama bukunya. Terimakasih sudah berbagi reviewnya 💜

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya Mbak… Ceritanya serasa mewakili rasa cinta kita sebagai seorang ibu kepada anak-anak kita. 💗

      Nah, iya betul Mbak… Yang bagian endingnya memang bisa menimbulkan berbagai penafsiran. Bisa bermakna positif, yaitu sebagai bentuk pengorbanan sosok ibu sejati. Tapi bisa pula negatif, yaitu terkesan bunuh diri.

      Dalam hal ini, bila anak-anak atau remaja yang membacanya sebaiknya didampingi oleh orang tuanya agar bisa menjelaskannya dan mengambil maknanya secara positif ya Mbak…

      Iya, sama-sama Mbak.. 😊 Terima kasih juga telah berkunjung. Nanti saya akan balas berkunjung ya Mbak😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.