Monthly Archives: April 2019

Bersihkan Dulu ‘Kacamata’- mu

Standar

Bila kau sering menyalahkan orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu perhatikan dirimu
Mungkin ‘kaca mata’-mu berdebu
Sehingga kau salah menilainya

Bila kau sering mengeluhkan kondisimu
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu amati dirimu baik-baik
Mungkin ‘kaca mata’-mu kotor
Sehingga kebahagiaan yang ada pada dirimu tak nampak

Bila kau sering memfitnah orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata-‘mu
Lalu awasi hatimu dengan seksama
Mungkin di hatimu ada sepercik kedengkian
Sehingga kebaikan orang lain malah kau nilai sebagai keburukan

Bila kau sering menghina orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu periksa dirimu dengan teliti
Mungkin kekurangan yang ada pada dirimu tak terlihat
Sehingga kau tak pernah menyadari bahwa ternyata kekuranganmu jauh lebih banyak

Bila kau sering menghakimi orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu evaluasi dirimu
Mungkin noda dosa yang makin menebal di hatimu tak pernah kau ketahui
Sehingga kau selalu menganggap dirimu lebih suci daripada yang lain


Sumber gambar: hellosehat.com

Agar Lulus Seleksi-Nya

Standar

Pada saat diadakan lomba atau olimpiade, para pesertanya pasti akan berlatih siang dan malam agar nanti bisa lulus di setiap tahap seleksinya.

Ketika para pelajar telah lulus dari SMA, pasti mereka akan belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus tes masuk ke perguruan tinggi dan jurusan yang diharapkannya.

Begitu pun para lulusan perguruan tinggi, tentu mereka akan mempersiapkan diri agar bisa lulus seleksi dan diterima di perusahaan yang diharapkannya.

Namun ironisnya, mengapa kita malah sering abai dan lalai dalam mempersiapkan diri agar kelak lulus dari seleksi-Nya? Sedangkan tahapan seleksi-Nya nya juga banyak serta membutuhkan persiapan yang matang dan maksimal, lho…

Apa sajakah seleksi-Nya? Secara garis besar ada 2 macam.Yuk kita kenali satu persatu tahapan seleksi-Nya agar bisa mulai kita persiapkan sedari sekarang. Cekidot:

1. Seleksi di Dunia

Di sini, kita dituntut mampu menjaga hubungan baik dengan Allah Swt. (hablum minallah), seperti menjaga Rukun Iman, melaksanakan Rukun Islam, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Begitu pun kita harus mampu menjaga hubungan baik dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, khususnya dengan sesama manusia (hablum minannas). Caranya dengan berakhlak baik, pandai mengelola pikiran, hati, cara berbicara maupun tingkah laku kita. Upaya yang bisa kita lakukan:
– Bersihkan pikiran dari hal yang buruk
– Luruskan niat dalam hati kita, agar senantiasa mengharap keridhaan-Nya. Jagalah agar tidak terserang ‘penyakit hati’ seperti riya‘, sum’ah, ujub, takabur, sombong, iri, hasad, dengki dan berprasangka buruk.
– Berbicaralah dengan bahasa yang baik. Jangan kasar. Hindari berkata bohong, fitnah dan ghibah.
– Selalu bersikap baik terhadap semua makhluk-Nya, tidak berbuat zalim.
– Mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga diri dari godaan setan.

2. Seleksi di Akhirat

Seleksi ini sebetulnya merupakan dampak dan pertanggungjawaban dari semua yang telah kita lakukan selama di dunia. Jadi nanti ketika di akhirat kita akan mulai diperiksa, ditanya-tanya, diadili dan dinilai oleh Allah Swt. serta para malaikat-Nya.

Sejak dari saat sakaratul maut, di Alam Kubur, Alam Barzakh, Padang Mahsyar, ketika proses Hisab, Mizan, saat di Telaga dan saat melewati Sirat untuk penentuan tujuan akhir kita. Apakah kita nanti berhasil lulus dan masuk Surga? (Aamiin ya Allah…) Ataukah gagal dalam seleksi-Nya sehingga masuk Neraka? (Na’udzu billahi min dzalik… )

Sebetulnya, ada kunci utama agar kita bisa lulus seleksi-Nya. Yaitu:

1. Menjaga keimanan dan kemurnian Tauhid dengan ibadah yang benar, dan selalu bertawakkal kepada Allah Swt. setelah berikhtiar dengan cara yang diizinkan-Nya.
2. Menjaga hati dari syirik kecil dan besar.
3. Menjaga kemuliaan akhlak.
4. Selalu evaluasi diri setiap saat. Ketika melakukan kesalahan segera istighfar dan memperbaiki diri

Nah, setelah melihat semua seleksi yang harus kita hadapi tersebut, tentu kita makin menyadari bahwa ternyata masih banyak banget ya yang harus kita persiapkan… 😢

Semoga mulai saat ini kita bisa lebih serius mempersiapkan diri agar lulus dari semua ujian dan seleksi-Nya. Sehingga nanti berhasil meraih prestasi paling gemilang, yaitu keridhaan dan surga-Nya.

Allahumma aamiin ya rabbal’aalamiin….


Sumber gambar: dakwahmuslimah.com

Segumpal Salju

Standar

Dalam dinginnya udara Mount Titlis…
Segumpal salju di kepalan tanganku ini seakan menjadi bukti dan saksi…
Atas pencapaian mimpi dan harapan
Yang telah lama kupendam…
Melewati masa demi masa

Segumpal salju ini memang bukan benda istimewa
Sebab hanya kumpulan kristal es berwarna putih
Wujudnya sama seperti es serut di abang penjual es
Namun berbeda dalam makna yang tersimpan
Sebab membuncahkan bahagia di lubuk hati

Segumpal salju ini menyejukkan tanganku
Sekaligus menghangatkan hati
Sehangat kasih sayang Heidi dan kakeknya
Pun membawa kenikmatan dengan panorama alamnya
Senikmat rasa coklat buatan Swiss asli
Yang takkan kulupa seumur hidupku

Terima kasih ya Allah…
Atas izin-Mu, Kau mampukan kami bersama keluarga
Tuk menginjakkan kaki di tanah Swiss ini
Hingga mendaki mimpi di Mount Titlis
Memang tiada kata mustahil
Bila ikhtiar telah maksimal dan kehendak-Mu mewujudkannya menjadi nyata


16 Mei 2015, Mount Titlis, Swiss

Pohon Kelengkeng dan Filosofinya

Standar

Alhamdulillah, hari ini pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman parkir Rumah Belajar Cirebon telah kami panen kembali buahnya. Pohon kelengkeng yang berbatang kurus itu ternyata masih bisa berbuah cukup banyak sehingga banyak pula yang bisa menikmati buahnya yang manis dan segar.

Pohon ini sebetulnya sudah kami tanam sejak tahun 2014. Meskipun tidak pernah diberi pupuk dan dibiarkan tumbuh apa adanya, pohon ini cukup subur hingga sudah beberapa kali kami panen buahnya. Dari tahun ke tahun daunnya pun semakin lebat dan berat sehingga membuat batang dengan dahannya menjadi melengkung karenanya.

Sempat terpikir untuk menebang dahan yang letaknya paling atas karena khawatir roboh dan menimpa mobil-mobil yang diparkir di bawahnya. Tapi sampai saat kami memanen buahnya hari ini, dahan dari pohon tersebut tak pernah kami tebang. Alhamdulillah sampai kini tetap kuat dan tak roboh.

Malahan banyak yang ingin memarkir mobilnya di bawah rimbunnya daun pohon kelengkeng itu karena teduh dan sejuk. Apalagi di saat cuaca yang belakangan ini semakin panas di kota Cirebon yang udaranya memang sudah panas ini. Sehingga kerimbunan daunnya dapat melindungi mobil dari efek rumah kaca meskipun matahari sedang garang-garangnya memancarkan sinarnya.

Pohon kelengkeng ini seperti mengajarkan kepada kami banyak hal. Di antaranya :

1. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, bersabarlah dalam setiap prosesnya.
2. Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan fisiknya saja.
3. Seseorang yang mungkin selama ini dianggap lemah, bisa jadi nantinya justru yang akan membawa kebaikan dan menguatkanmu. Jadi jangan pernah meremehkan dan menghina orang lain apa pun kelemahannya.
4. Di setiap kekurangan, pasti ada kelebihan di baliknya.
5. Cobaan hidup, kerasnya kehidupan dan kondisi yang berkekurangan akan membuat seseorang menjadi lebih survive dan sukses dalam hidupnya.
6. Tumbuhlah menjadi sosok yang selalu menebar kebaikan dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Masya Allah, luar biasa ya filosofi dari pohon kelengkeng yang tampak sederhana ini. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menerapkan setiap kebaikannya dalam hidup ini. Aamiin… 💖💖🙏🙏

Mengasah Mata Hati

Standar

Alhamdulillah, Allah Swt. telah mengaruniakan sepasang mata kepada kita untuk melihat semua yang ada dan tampak di depan kita. Secara kasat mata, yang tampak buruk pastilah akan dikatakan buruk dan yang tampak indah pastilah dikatakan indah. Yang tampak kasar pasti akan dinilai kasar. Yang tampak santun pasti dinilai santun pula.

Selain mata yang merupakan salah satu dari panca indera, Allah Swt. juga mengaruniakan kepada kita mata hati yang berhubungan erat dengan hati nurani kita. Keistimewaannya, mata hati kita itu hanya dapat berfungsi dengan baik tatkala kita berpikir secara jernih, berhati bersih dan bertindak dengan tulus.

Di tengah suasana yang sedang kisruh pasca Pemilu seperti sekarang ini, mata hati kita seakan menjadi tertutup. Apalagi dengan berseliwerannya berita medsos yang sarat akan nyinyiran, kemarahan, kebencian dan cacian yang kasar, dibumbui fitnah dan hoax di sana sini. Rasanya memang sulit bagi kita untuk melihat setiap masalah dengan mata hati yang jernih. Kita hanya bisa melihat dan menilai apa yang tampak di depan mata saja, lalu menafsirkannya sesuai emosi dan kepentingan kita saja.

Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk membersihkan mata hati kita yang sudah tercemar debu amarah dan kebencian. Yuk, kita renungkan setiap masalah dan kejadian dengan hati yang tenang, emosi yang stabil dan pikiran yang bersih agar lebih peka dan bijaksana dalam memandang suatu masalah. Berbagai cara di bawah ini insya Allah bisa membantu dalam mengasah mata hati kita:

1. Melihat setiap masalah dari berbagai sudut pandang dan sumber berita. Sehingga tidak hanya menilai/menafsirkannya secara sepihak.
2. Hindari perdebatan yang hanya menimbulkan permusuhan.
3. Redam kebencian dan kedengkian hati dengan banyak ber-istighfar dan belajar menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
4. Tahan diri untuk tidak share berita /informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya agar kita tidak terlibat dalam penyebaran berita bohong dan fitnah.
5. Kendalikan diri untuk tidak menulis status, mengeluarkan statement atau berkomentar dengan bahasa yang kasar, nyinyir atau provokatif, baik di medsos maupun secara langsung. Agar tidak menyulut emosi pada pihak lain.
6. Ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati atau kurang setuju terhadap suatu hal, lebih baik sampaikan secara baik-baik sesuai mekanisme yang ada.
7. Hindarkan menghina orang lain dengan julukan/panggilan yang kasar atau kurang pantas, karena itu justru akan menunjukkan betapa rendah dan hinanya dirimu.
8. Jangan mudah menyalahkan orang lain tanpa mengevaluasi diri kita sendiri terlebih dahulu. Ini untuk melatih rasa tanggung jawab dan mencegah prasangka buruk.
9. Selalu ingatlah jasa dan kebaikan orang-orang yang pernah menolong dan membantu kita dalam mengentaskan dari masalah. Sebaliknya, kita tak perlu mengungkit kebaikan kita pada orang lain untuk melatih keikhlasan dan meluruskan niat.
10. Hindarkan sifat riya/sombong dengan merasa paling suci dan benar karena punya background amalan, ulama dan agama, lalu begitu mudahnya merendahkan kadar keimanan orang lain, hanya karena berbeda pendapat /pilihan/ bukan kelompoknya. Ingat, hanya Allah Yang Maha Tahu akan keimanan seseorang.
11. Sesekali mungkin kita perlu piknik, olah raga, membaca buku dan menonton film yang berkualitas agar pikiran dan hati menjadi segar kembali dan emosi kita tidak gampang tersulut.
12. Lebih baik hindari lingkungan/grup yang membawa pada fitnah, hoax, hasutan dan ujaran kebencian agar kita tak terbawa pengaruh negatifnya. Bila perlu left grup saja, lalu cari lingkungan /grup yang membawa aura positif.
13. Perbanyak ibadah, tilawah, zikir dan doa kepada Allah Swt. serta amal shalih dan silaturahmi antar keluarga/sahabat/ umat agar hablun minallah dan hablum minannas selalu terjaga dengan baik.

Untuk sementara, mungkin itu dulu yang bisa kita coba untuk membantu mata hati kita menjadi lebih terasah kembali.

Semoga Allah Swt. memampukan kita dalam melihat dan menilai mana yang benar dengan sebenar-benarnya dan mana yang salah itu memang salah dengan kejernihan mata hati kita.

Sehingga kita tak mudah tertipu dan terjebak pada kebenaran yang semu dan membutakan mata hati kita.

Allahumma aamiin…

Wallahu a’lam bishashawab…

Semoga bermanfaat. 😊🙏

Di Derasnya Sungai

Standar

Di derasnya sungai…
Tersimpan kekuatan di balik arusnya
Nan mampu menerjang semua penghalang
Bahkan menghancurkannya dalam sekejap

Di derasnya sungai…
Mengalir semua harapan dan angan
Nan bermuara menjadi satu
Menuju ke lautan cita-cita

Di derasnya sungai…
Tertumpah keleluasaan sikap
Nan mampu melewati setiap celah
Meski sekecil dan serumit apa pun

Di derasnya sungai…
Berbaur semua unsur dan partikel
Membawa warna, aroma dan rasa
Hingga tercipta harmoni dan irama

Di derasnya sungai…
Kutitipkan doa dan pinta pada-Mu
Ya Allah Yang Maha Kuasa
Damaikan bangsa dan makmurkan negeri kami tercinta

Yuk, Semarakkan Pesta Demokrasi dengan Akhlak yang Baik

Standar

Pilpres dan Pileg sudah di ambang pintu. Postingan dan status di beranda/ timeline FB dan Instagram semakin ramai dengan berita politik yang membuat panas dingin para pendukung capres/cawapres pilihannya masing-masing. Ada yang menulis tentang kebaikan-kebaikannya, ada yang nyinyir, ada yang semangat banget menge-share berita, padahal masih belum jelas kebenarannya.

Yah, begitulah hebohnya suasana menjelang Pemilu sekarang ini. Aku yang semula kurang tertarik pada berita politik dan tak terlalu peduli dengan hasil Pemilu pun kini jadi terbawa suasana heboh ini. Sebetulnya sejak jamannya Pilgub DKI, aku sudah mulai penasaran dengan berita-berita politik. Bermula dari panasnya perdebatan netizen di medsos karena keberanian Ahok mendobrak birokrasi dan korupsi di pemerintahan DKI ditambah dengan cara bicaranya yang ceplas-ceplos cenderung kasar, sampai ia dipenjara gara-gara menyinggung surat Al Maidah ayat 51.

Sebagian berpendapat bahwa Ahok tak bermaksud menista agama, karena ia pun mengikuti pendapat Gus Dur dalam menafsirkan surat Al Maidah ayat 51. Tapi mayoritas muslim menganggapnya sebagai penista agama dan lancang karena mencampuri agama Islam yang bukan agamanya. Sehingga terjadilah demo berjilid-jilid yang berhasil menjebloskannya ke dalam penjara meskipun ia sudah meminta maaf kepada umat muslim secara resmi.

Kejadian itu seakan membuat Ahok sudah jatuh tertimpa tangga karena ia pun akhirnya kalah dalam meraih suara di Pilgub DKI. Sebuah pelajaran berharga dalam hal ini ialah betapa pentingnya kita untuk menjaga lisan. Meskipun begitu jasa Ahok dalam membenahi Jakarta selama menjadi gubernur tentu tak boleh kita kesampingkan. Tak dapat dipungkiri juga bahwa isu SARA yang mewarnai suasana Pilgub DKI memang cukup berpengaruh dalam kekalahannya.

Setelah masa Pilgub DKI yang penuh huru hara berlalu, kini masyarakat kembali dipanaskan dengan suasana pemilihan capres/cawapres. Sebelumnya kupikir Pemilu kali ini lebih adem ayem suasananya karena masing-masing capres kan sama-sama muslim. Tapi ternyata suasananya tak kalah panas dengan suasana Pilgub DKI. Dan yang membuatku tak habis pikir, ternyata isu SARA pun masih mewarnai Pilpres ini. Istilah kampret dan cebong yang tercipta di masa Pilgub DKI makin membelah dua kubu pendukung capres saat ini.

Kalau dulu waktu Pilgub DKI mungkin yang dipersoalkan adalah pemimpin non muslim, karena tak sesuai Al Maidah ayat 51. Nah kalau dalam Pilpres sekarang ini, kan kedua calon sama-sama muslim. Tapi kok malah jadi terkesan saling menghakimi kadar ke-Islam-an capres/cawapres maupun para pendukungnya masing-masing. Bahkan fitnah, hoax, hasutan, dan ujaran kebencian semakin marak di medsos. Sampai terjadi pertikaian dan permusuhan antar keluarga, teman dan warga gara-gara perbedaan pilihan. Sungguh menyedihkan…

Apakah ini demokrasi yang kebablasan? Mengapa sampai begitu mudahnya ada penilaian kadar keimanan seseorang hanya dengan tolok ukur capres/cawapres pilihan dan ulama pendukungnya saja? Padahal masalah keimanan seseorang kan hanya Allah Yang Maha Tahu. Apakah demi sebuah kekuasaan dan kedudukan di pemerintahan, harus dengan cara saling menjatuhkan karakter capres/cawapres lawannya? Apakah demi kemenangan dalam Pemilu segala cara lalu dihalalkan? Sampai terjadi money politics, kecurangan dan saling fitnah? Bahkan belakangan ini, ibadahnya salah seorang capres pun di-nyinyirin habis-habisan oleh orang-orang yang bukan pendukungnya tapi sama keyakinannya. Padahal urusan ibadah kan urusan beliau dengan Gusti Allah… Apakah kebencian dan kedengkian sampai membuat mereka berani mengolok hamba-Nya yang sedang beribadah?

Astaghfirullah…, ini pesta demokrasi, kawan… Kenapa yang terjadi malah timbulnya akhlak yang buruk di mana-mana hanya gara-gara perbedaan pilihan capres/cawapres dan caleg? Sebuah pesta, seharusnya kan disambut dengan gembira. Semarakkan sajalah dengan akhlak yang baik. Silakan memilih capres/cawapres dan caleg dengan melihat latar belakang mereka masing-masing agar lebih mantap. Lalu hargai pilihan saudara/kawan/warga lain.

Jangan memaksakan pilihanmu ke yang lainnya. Apalagi sampai pakai cara menghasutnya dengan menyebar fitnah dan berita hoax gara-gara rasa benci dan dengkimu terhadap capres/cawapres yang tak kau pilih. Bolehlah waspada, tapi bila memang ada dasar dan bukti yang jelas dan benar. Kalau belum jelas kebenarannya jangan buru-buru kalian share ke mana-mana. Ingat, apa yang telah kau share itu ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat, kawan. Apalagi bila yang menerima berita/info tak benar itu jumlahnya banyak. Aduh makin berat dosa dan bebanmu di akhirat. Maka marilah kita memohon ampun atas dosa fitnah, ghibah, dan prasangka buruk yang telah kita lakukan selama ini. Nastaghfirullahal’azhimAamiin ya Allah…

Hari Rabu 17 April 2019 adalah hari yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Hari ini seluruh rakyat Indonesia akan menggunakan hak suaranya untuk memilih capres/cawapres dan caleg sesuai kemantapan hati. Yuk saling menjaga agar tidak ada kecurangan dalam bentuk apa pun. Ingat, menyebar fitnah dan hoax untuk menjatuhkan capres/cawapres yang bukan pilihanmu juga merupakan salah satu bentuk kecurangan lho, kawan… Semua capres/cawapres/caleg insya Allah mempunyai niat dan tujuan yang baik untuk memajukan negara dan memakmurkan rakyat Indonesia.

Dan namanya sebuah pemilihan, tentu nanti ada yang terpilih dan ada yang tak terpilih. Ibarat menanti sebuah hasil lomba. Aku yakin banyak yang dag dig dug menunggu hasilnya.

Seandainya nanti capres/cawapres dan caleg kita tak terpilih, meskipun kecewa, tapi kita harus siap menerimanya dan berlapang dada. Hargai yang sudah terpilih, sepanjang tak ada tindak kecurangan yang bisa terbuktikan. Dan seandainya capres/cawapres kita yang terpilih, bersyukurlah… Berarti beliau adalah pemimpin negara kita yang sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk 5 tahun ke depan. Doakan saja agar beliau dapat menjadi pemimpin yang amanah, adil, bijaksana dan dapat merealisasikan janji-janjinya.

Dan yang terpenting, semoga beliau dapat menjaga dengan baik keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan etnis ini dengan tidak menyimpang dari jalan-Nya. Sehingga negara kita menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allahumma aamiin…


Sumber gambar: reformasiindonesia.com

Surprise untuk Mami

Standar

Sejak beberapa minggu terakhir ini, Mami (ibuku) sering menangis setiap kali berkomunikasi lewat telepon. Dari penuturannya aku bisa memahami akan rasa kesepiannya sejak Papi rahimahullah berpulang ke hadirat-Nya. Aku juga mengerti, Mami hanya ingin agar kami dapat sering berkumpul lagi seperti dulu. Tapi setelah kami menikah dan masing-masing tinggal di luar kota, situasi dan kondisi jadi tak memungkinkan lagi untuk bisa sering berkumpul.

Sebetulnya keinginan untuk menjenguk dan menemani Mami di Magelang selama beberapa hari sudah kupendam sejak satu bulan yang lalu. Tapi aku bimbang karena saat ini di rumah kami sudah tidak ada pembantu yang menginap. Aku hanya khawatir ketika suamiku sedang sendirian di rumah, mendadak sakit jantungnya kambuh.

Akhirnya kami menemukan solusinya. Salah seorang karyawan kepercayaan kami bersedia menginap di rumah menemani suamiku selama aku ke Magelang. Sehingga kupastikan bisa berangkat ke Magelang hari Sabtu, 6 April 2019 dengan diantar suami. Suamiku hanya menginap semalam, lalu hari Senin siang sudah pulang ke Cirebon. Sedangkan aku menemani Mami di Magelang sampai hari Jum’at (8 – 12 April 2019).

Sebelum pulang ke Magelang, sempat terpikir rencana memberi surprise untuk menyenangkan hati Mami di hari ulang tahunnya. Karena kebetulan hari Jum’at tanggal 12 April 2019, bertepatan dengan hari ulang tahun Mami yang ke 77. Untuk mengobati rasa kesepiannya, mungkin acara kumpul keluarga bisa menjadi surprise yang dapat menyenangkan hatinya.

Oleh karena itu aku lalu berembug dengan kedua adikku sebelum pulang untuk menyusun rencana tersebut. Alhamdulillah adik perempuanku (Vera) yang tinggal di Lampung bisa pulang ke Magelang dari hari Rabu 10 April sampai hari Senin, 15 April 2019. Tapi adik lelakiku (Roy) terpaksa tak bisa hadir di acara ulang tahun Mami karena dari hari Senin 8 April sampai Minggu 14 April 2019, ia harus pergi ke Ambon untuk urusan pekerjaannya.

Rencananya, Vera nanti diam-diam akan pulang ke Magelang sebagai surprise untuk Mami. Sedangkan aku akan memberi surprise ke Mami dengan cara mengundang adik-adik Papi rahimahullah dan kakak perempuan Mami ke rumah Mami tepat di hari ulang tahunnya. Selain itu aku juga akan memesan kue tar (untuk menyemarakkan suasana) serta kue lapis mandarin, lemper dan nasi kotak (menunya nasi gudeg) untuk disajikan kepada keluarga yang nanti hadir.

Untuk dapat menyajikan semuanya itu tanpa sepengetahuan Mami, tentu tak semudah yang dibayangkan. Apalagi Mami tipe orang yang sangat waspada terhadap gelagat/ gerak -gerik siapapun yang ada di dekatnya. Oleh karena itu, daripada nanti ketahuan, sebelum suami mengantarku ke rumah Mami, semua kue itu sudah kupesan terlebih dahulu. Aku juga sekaligus memesan oleh-oleh buat suami. Alhamdulillah, dalam hal ini aku banyak dibantu oleh Tode dan Cek Yan (tante dan Om-ku). Hanya saja nasi gudegnya terpaksa harus langsung kupesan di rumah makan Tip Top pada hari H berhubung nomor kontaknya susah dihubungi.

Surprise pertama dari Vera telah berlangsung dengan sukses. Mami kaget sekaligus senang ketika melihat adik perempuanku itu tiba-tiba datang ke rumahnya. Nah, untuk melancarkan surprise berikutnya di hari H, aku harus bekerjasama dengan Vera, adik-adiknya Papi rahimahullah dan kakak perempuannya Mami. Bagian yang tersulit adalah ketika harus mencari alasan yang tepat agar bisa keluar dari rumah untuk mengambil kue dan nasi kotak pesanan kami tanpa mengundang kecurigaan Mami. Apa boleh buat, aku harus mengambilnya sendiri karena memang tidak ada yang bisa mengantar semua pesananku itu ke rumah.

Sedangkan Mami biasanya akan selalu ‘menginterogasi’-ku setiap kali mau keluar rumah. Apalagi pagi itu malah Mami pengin mengajak kami sarapan di luar. Padahal undangan acara ulang tahun Mami hari ini jam 10 pagi. Sementara saat itu waktu sudah menunjukkan jam 8 lebih. Bila ditambah persiapan untuk mandi dan lain-lain, bisa dipastikan tak akan keburu waktunya. Hmmm, tapi akhirnya aku malah berpikir, bahwa justru ketika Mami mandi, aku kan malah bisa memanfaatkan waktu untuk mengambil pesanan kue dan nasi kotak.

Akhirnya aku mencoba izin keluar rumah dengan alasan mau minta surat rujukan BPJS ke seorang dokter (faskes 1) di jalan Ahmad Yani. Karena kebetulan Mami memang sudah ada rencana mau periksa ke dokter penyakit dalam di RS Harapan tersebut, tapi belum mengambil surat rujukan BPJS-nya ke dokter tersebut.

Syukurlah Mami mengizinkan. Maka yang pertama kulakukan adalah meminta surat rujukan dokter di faskes 1. Sebelumnya aku sempat mau balik lagi ke rumah untuk ambil surat kontrol dokter yang tertinggal. Untungnya Vera bisa membantuku mengambilkanmya dengan cepat, lalu memberikannya kepadaku di pinggir jalan yang kulewati tanpa aku harus pulang ke rumah.

Tapi terpaksa aku harus mengantre 3 orang pasien lagi dan menunggu tamunya dokter pulang. Duh, jadi deg-degan nih… Karena waktu berjalan terus hingga saat itu sudah jam 9. Sementara itu melalui WA, Vera juga bilang kalau Mami sudah mulai bertanya-tanya, mengapa aku lama dan tak kunjung pulang ke rumah? Aku juga takut nggak keburu waktunya, mengingat masih ada 3 tempat lagi yang harus kudatangi. Yaitu Toko Iriana (ambil kue tar), toko Saniter/tanteku (ambil lemper dan oleh-oleh) dan Rumah Makan Tip Top (ambil nasi kotak).

Syukurlah, akhirnya tamunya dokter sudah pulang dan antrean pasien juga tidak lama, sehingga tiba giliranku masuk ke ruang dokter. Setelah ditanya data-data fisik dan kesehatan Mami, akhirnya kelar juga surat rujukannya. Aku bergegas kembali ke mobil dan tancap gas menuju ke toko Iriana, toko Saniter dan RM Tip Top untuk mengambil semua pesanan. Termasuk pesanan nasi langgi untuk sarapan kami bertiga yang kupesan dadakan lewat Tode mengingat sudah tak memungkinkan lagi bagi kami untuk sarapan di luar rumah. Alhamdulillah, satu demi satu tugas dan semua pesanan pun beres, sehingga aku langsung meluncur pulang ke rumah.

Begitu sampai di rumah, semua kue dan nasi kotak kutitipkan sementara ke karyawannya Roy (Pak Anto) yang kebetulan sedang bertugas di sana. Aku memberi instruksi kepadanya, kapan saat yang tepat untuk membawa masuk nasi kotaknya. Dan aku langsung memberikan nasi langgi ke Mami dan Vera untuk sarapan. Waktu sudah mendekati jam 10 pagi. Untungnya tadi pagi perut kami sudah diganjal susu dan roti, sehingga tak terlalu lapar meskipun sarapannya kesiangan. Tapi aku senang karena Mami dan Vera cocok dengan sarapan yang kubawakan. Aku meminta maaf ke Mami, tadi agak lama karena antre di dokter dan beli oleh-oleh.

Setelah sarapan, aku dan Vera kembali mengatur rencana surprise berikutnya. Kebetulan Mami sedang ke kamar mandi. Sehingga aku dan Vera langsung memanfaatkan waktu, bergerak cepat mempersiapkan kue di piring dan menyajikannya di atas meja. Air mineral kemasan pun juga sudah diambilkan oleh Pak Anto dari toko Mami.

Tak lama kemudian, rombongan keluarga mulai berdatangan. Aku dan Vera menyambut dan mempersilakan mereka duduk sambil menunggu Mami keluar dari kamar mandi. Ketika Mami keluar dari kamar mandi, ekspresi wajahnya tampak terkejut melihat tamu dari keluarga yang sudah duduk di sofa.

“Lho, kok tumben pada datang? Ada apa sih Fang?” Mami bertanya kepadaku dengan wajah kebingungan.

Belum sempat kujawab pertanyaan Mami, adik-adik Papi rahimahullah dan kakak perempuan Mami satu persatu menghampiri dan menyalami tangan Mami, sambil menyerahkan kado ulang tahun.

“Selamat ulang tahun Cik Mey Sung (nama Mami). ”

“Oh…, ya… Makasih, ya… Saya malah lupa kalau saya sekarang ulang tahun… , ” jawab Mami sambil tersenyum, tapi dengan wajah yang masih tampak kebingungan.

Mami juga tampak keheranan ketika melihat kue-kue sudah tersaji rapi di meja. Apalagi ketika kukeluarkan kue tarnya.

“Kapan belinya sih Fang? Kok Mami ndak tahu?” tanya Mami.

Aku hanya tersenyum dan berbisik, “Rahasia, Mami…”

Lalu kami saling mengobrol antar saudara dengan akrab. Lilin berwarna merah yang berbentuk angka 77 (sesuai usia Mami) pun kupasang di atas kue tar. Vera menyalakan apinya. Kemudian Mami meniup lilin dan memotong kuenya.

Potongan pertama diberikan kepada Wak Ik (kakak perempuan Mami satu-satunya). Lalu berikutnya ke adik-adiknya Papi rahimahullah serta istri/suaminya, dari yang paling tua ke yang paling muda. Dari Tode, Ntio Sioe An, Cek Yan, A Eng, Tante Ay Lan lalu Panji (anaknya A Eng). Suasana kekeluargaan menjadi semakin hangat.

Ketika aku memberikan kata sambutan kepada keluarga yang hadir, ucapan selamat ulang tahun dan doa kepada Mami, kulihat Mami terharu dan mengusap air matanya. Aku jadi ikut terharu sampai suaraku jadi bergetar. Dalam hati aku hanya berharap semoga hubungan keluarga di antara kami dapat terus terjalin dengan baik meskipun Papi rahimahullah telah tiada. Dan semoga Mami bahagia dengan surprise ini.

Di acara syukuran hari lahir Mami ini, alhamdulillah komunikasi antar keluarga yang hadir jadi bisa tersambung lagi setelah sekian lama tak saling bersua. Bagiku, ini juga menjadi cara berbakti kepada Papi rahimahullah, dengan tetap menjalin hubungan yang baik dengan saudara kandungnya.

Tak terasa hari semakin siang. Keluarga yang hadir pun berpamitan untuk pulang. Nasi kotak kami bagikan kepada mereka sebelum pulang sambil mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kehadiran mereka. Sebelumnya kami juga berfoto bersama.

Ketika semua sudah pulang, kami satu persatu mencium tangan dan pipi Mami sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakannya. Mami juga mendapatkan doa dan ucapan ulang tahun dari cucu-cucunya (Lia, Salma dan Laura) baik langsung lewat telepon, maupun dengan mengirimkan video dan rekamn suaranya. Saat itu Mami kembali terisak menangis karena terharu. Sampai kami semua juga ikut menangis.

Lalu kami membantu Mami membukakan kado dari keluarga yang hadir. Wah, ternyata isinya mukena, sajadah dengan tasnya dan kerudung syar’i. Alhamdulillah, pas banget buat Mami yang nanti tanggal 22 April 2019 akan berangkat umrah ditemani Vera dan keluarganya. Semoga menjadi penyemangat Mami dalam beribadah umrah. Aamiin

Barakallah fii umrik Mami. Semoga Mami selalu sehat, panjang umur dan bahagia. Aamiin ya rabbal’aalamiin

💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

Biarkan Tumbuh Mekar Berseri

Standar

Saat bibit tanaman bunga telah disebarkan di tanah, mulailah dengan merawatnya secara baik. Sirami dengan air secukupnya dan teratur… Sebagaimana saat tumbuh janin di rahim seorang ibu. Maka sang Ibu akan menjaganya dengan baik.

Saat telah tumbuh batang, tangkai dan daunnya, perawatan dan pemeliharan harus menjadi lebih optimal. Beri pupuk dan vitamin yang terbaik. Bila ada hama dan penyakit yang menyerang, basmi segera agar tak mengganggu pertumbuhannya. Demikian pula janin yang telah menjadi bayi yang lahir dan menjadi anak-anak, tentu akan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibundanya.

Saat bunga-bunga mulai tumbuh bermekaran, biarkan keindahannya berseri menghiasi tanaman dan lingkungannya. Biarkan keharumannya menebar di mana-mana. Jangan kau cabut apalagi kau rusak. Namun rawatlah keindahannya dengan baik.

Begitu pun anak-anak yang telah tumbuh menjadi remaja. Bekali mereka dengan keimanan yang lurus dan teguh serta akhlak yang mulia. Biarkan mereka berkembang sesuai minat dan bakatnya. Dukung mereka dalam meraih prestasi, harapan dan cita-cita. Jauhkan dari pengaruh teman dan lingkungan buruk. Agar tak ada seorang pun yang mengganggu dan merusak masa depannya.

Manisnya Hubungan Adik dan Kakak

Standar

Bila kalian memiliki adik atau kakak, baik kandung maupun sepupu, maka berbahagialah. Karena mereka adalah orang terdekat yang akan mengisi hari-hari kita. Hubungan antara kakak dan adik memang penuh warna. Ada kalanya akur, kadang penuh persaingan, tapi tak jarang bisa saling mendukung dan tolong menolong.

Saat pulang ke Magelang ini, aku makin merasakan betapa indahnya hubungan antar saudara. Dimulai dari saat bersilaturahmi ke rumah adik-adiknya ayahku rahimahullah. Dari cerita mereka, aku jadi mengerti…, bahwa di balik sifatnya yang introvert, ayahku rahimahullah adalah sosok kakak yang sangat sayang dan peduli terhadap adik-adiknya.

Walaupun kondisi fisiknya sudah lemah dan sakit, beliau tetap meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah adik-adiknya meski dengan menumpang becak. Bahkan beberapa minggu sebelum berpulang ke hadirat Allah Swt. (setelah dirawat 5 hari di sebuah rumah sakit di Cirebon), beliau sempat berkunjung ke rumah adiknya yang sedang sakit dan akan dioperasi di luar negeri.

Beliau datang dengan menumpang becak lalu memberikan seamplop uang yang dimilikinya sebagai bentuk kepeduliannya. Beliau juga sering menangis memikirkan kesehatan adiknya. Air mataku sampai menetes saat mendengarkan cerita tersebut. 😢😢

Contoh lainnya adalah ketika memperhatikan polah tingkah keponakan kembarku, Kevin dan Laura. Namanya saudara, kadang mereka bisa berselisih karena beda pendapat atau berantem gara-gara keusilan salah satu di antara mereka.

Kevin yang lebih menguasai pelajaran matematika itu cenderung egois dan tak mau mengajari Laura yang sering mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR matematika. Padahal Laura masih mau membantunya saat ia mengalami kesulitan di pelajaran/hal lain.

Tapi malam ini kulihat Kevin menunjukkan perubahan. Sejak tadi sore Laura mengalami kesulitan saat akan mengeprint tugas sekolahnya melalui smartphone. Sedangkan tugas itu harus dikumpulkan besok pagi. Ayahnya yang paham tentang gadget sedang bertugas ke luar kota. Tantenya yang gaptek ini pun sudah mencoba membantunya, tapi tak berhasil. Akhirnya Kevin tergerak hatinya dan berusaha menolong adiknya yang sudah mulai kebingungan itu.

Alhamdulillah, tanpa memakan waktu lama, tugas sekolah Laura pun berhasil di-print setelah ia browsing cara-caranya melalui internet dan mencoba mempraktekkannya. Laura menjadi riang kembali dan tampak lega. Aku juga ikut senang melihat kekompakan mereka. Selamat ya Kevin, sudah berhasil mengalahkan egonya. 😊👍👍

Begitulah manisnya hubungan antar saudara bila diikat dengan rasa saling peduli, tolong menolong, dan kerjasama dalam kebaikan. Dengan ikatan persaudaraan yang baik tersebut, maka segala macam kesalahpahaman dan pertikaian akan terhindarkan. Sehingga keharmonisan dalam keluarga akan terangkai dengan indahnya.

Sisi Positif di Balik Hebohnya Pilpres

Standar

Sebelas hari lagi Pilpres /Pemilu akan dilaksanakan. Sabtu depan akan berlangsung debat terakhir Capres/ Cawapres. Kampanye terbuka dari masing-masing Capres pun sudah digelar di berbagai kota di Indonesia. Gegap gempitanya suasana pesta demokrasi menjelang Pemilu, sebenarnya sudah pernah beberapa kali kurasakan.

Tapi sejak Pilgub DKI yang lalu dan Pilpres yang sekarang ini, suasana Pemilu sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Sekarang jadi semakin heboh. Mungkin karena adanya media sosial yang selalu diramaikan oleh berbagai berita, isu, komentar bahkan curhatan dari masing-masing pendukungnya.

Ada yang memang berupa berita murni. Namun yang menyedihkan banyak juga yang bernuansa hasutan, ujaran kebencian, bahkan fitnah dan hoax. Ketika sedang membaca berita-berita tersebut, kadang timbul rasa penasaran, geregetan, kesal, lega, terkejut, tapi juga geli sampai senyam senyum sendiri. Terutama pas membaca komentar para netizen yang ngotot pisan, padahal salah. Duh, rasanya tuh gimanaaa gitu… 😂

Kadang ada juga netizen yang kreatif membuat video atau meme-meme yang lucu meskipun sebetulnya agak kurang etis juga sih, ya… Apalagi dengan munculnya dua julukan untuk masing-masing pendukung yang cenderung mengolok, yaitu cebong dan kampret (sejak Pilgub DKI). Pas mendengarnya, jadi mau ketawa tapi serba salah, karena tidak pantas juga.

Yang paling kesal, kalau sudah ada yang mulai menyebar fitnah/hoax dan menyinggung SARA. Jadi terbawa emosi dan pengin ikut menanggapi komentarnya. Pernah sih, waktu itu aku mencoba meluruskan beberapa berita bermuatan fitnah dan hoax yang di-share teman. Ada yang bisa menerima, tapi ada juga yang ngotot. Daripada nanti malah berdebat nggak karuan, ya sudahlah akhirnya aku mengalah saja dan hanya bisa menuliskan kekesalanku di blog.

Begitulah serba serbi suasana Pemilu/Pilpres. Selama ini mungkin kita menghadapinya dalam suasana yang tegang dan panas, karena seringnya terpancing emosi. Tapi bila kita menghadapinya dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang, sebetulnya ada banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari kehebohan Pilpres ini, kok… Nggak percaya? Yuk, dibaca saja sisi positifnya bawah ini ya… :

1. Bisa lebih mengenali sosok capres/cawapres masing-masing dan para tokoh politik di sekitarnya.

2. Belajar menilai kepribadian dan strategi yang dilancarkan oleh masing-masing capres dan para tokoh politiknya.

3. Bisa mengambil hikmah dari sepak terjang para tokoh politik tersebut dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

4. Membiasakan diri untuk check and recheck berita atau informasi dari mana pun untuk menghindarkan diri terjerumus dalam arus fitnah dan hoax yang makin tak terkendali.

5. Belajar sabar dalam mengendalikan emosi saat harus menghadapi teman/netizen bertipe militan yang rajin banget share berita bermuatan fitnah dan hoax, tapi ngotot dengan pendapatnya yang salah padahal sudah diingatkan berulangkali.

6. Menjadi termotivasi untuk lebih maksimal dalam mempelajari agama, sejarah dan politik untuk menambah wawasan. Sehingga mempunyai dasar dan alasan yang kuat ketika harus menentukan suatu pilihan maupun saat mengeluarkan suatu pendapat.

7. Belajar saling menghormati dan menghargai satu sama lain, meskipun berbeda pendapat/ pilihan. Serta tetap saling menjaga hubungan baik dengan menghindarkan diri dari perdebatan yang tak perlu.

Nah…, di situasi politik yang makin memanas ini, ternyata kita masih bisa mengambil sisi positifnya, kan…😊 Maka sering-seringlah berpikiran yang baik dan positif, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun, agar kebaikan selalu melingkupimu. Waspada boleh, tapi jangan curigaan melulu ya… 😃

Sumber gambar: harian.analisadaily.com

Filosofi Catur

Standar

Sejak kecil Salma memang anak yang menggemaskan, karena suka usil dan sering iseng. Kadang temannya yang diusilin. Tak jarang Mama Papanya juga diisengin. Seperti sore itu, tiba-tiba Salma mengajakku bermain catur. Padahal sudah tahu kalau Mamanya nggak bisa main catur. Tapi ya tetap saja membujukku bermain catur. Ya sudah, akhirnya aku menuruti ajakannya untuk menyenangkan hatinya.

Berbeda dengan putriku itu yang memang sudah sering berkecimpung di dunia catur, hingga pernah meraih prestasi di beberapa pertandingan. Lha, kalau Mamanya ini malah sama sekali nggak mengenal langkah-langkah permainan catur.

Salma langsung mengeluarkan peralatan caturnya dan membantuku menyusun semua bidak di papan catur yang terdiri dari 64 petak itu. Lalu ia mempersilakanku memulainya sebagai pemegang bidak catur putih. Aku mulai melangkahkan pion. Lalu Salma gantian melangkahkan bidaknya. Demikianlah seterusnya bergantian. Tapi hanya bidak pion saja yang kulangkahkan.

Pikirku, biarlah yang bertempur dan berkorban pion-pionnya saja dulu. Bidak-bidak lain yang kuanggap lebih penting sengaja kusimpan agar tak dimakan lawan.

“Ma, jangan semua pionnya yang dimajuin. Entar malah kalah…, ” Salma memberitahuku.

“Oh gitu ya…, “ jawabku sambil kebingungan karena memang belum tahu teknik permainan caturnya sama sekali. 😅

Salma tersenyum memahamiku.

“Nggak papa Ma… Lagian ini cuma iseng saja kok, buat refreshing sore hari.” kata Salma sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa geli melihat pion-pionku yang kumajukan semua di papan catur. 😂

Lalu bak pelatih catur Salma menjelaskan bahwa semua bidak catur itu ada tugasnya masing-masing dan harus saling bekerja sama. Jadi tidak bisa melangkah sendiri-sendiri. Harus diperhitungkan baik-baik langkahnya bila ingin meraih kemenangan.

Berikut ini beberapa bidak catur, posisi dan langkahnya:

1. King (Raja)
Bidak yang paling tinggi dan bisa melangkah ke arah mana pun. Tapi hanya boleh 1 langkah saja.

2 Queen (Ratu/Menteri)
Bidak ini juga bisa bergerak ke mana saja. Asalkan tidak ada bidak teman yang menghalangi di depannya. Biasanya digunakan untuk menghabisi lawan.

3. Bishop (Menteri/Gajah)
Bergeraknya secara diagonal dan bebas berapa langkah pun.

4. Rook (Benteng)
Bergeraknya secara vertikal atau horizontal dan bisa satu langkah atau lebih asalkan tak ada bidak teman yang menghalanginya.

5. Knight (Kuda)
Bergeraknya seperti bentuk huruf L. Jadi maju dua petak, lalu maju ke kanan atau ke kiri satu petak. Langkahnya bebas meskipun ada penghalang di depannya juga.

6. Pawn (Pion/Prajurit)
Ini bidak paling kecil yang hanya bisa melangkah maju satu petak ke depan. Tapi bisa memakan lawan yang di posisi diagonal. Dan hebatnya, bidak ini bisa ditukar dengan bidak yang dimakan lawan.

(sumber: https://loop.co.id/articles/bidak-bidak-catur-itu-apa-aja-sih-macamnya/full)

Bila diperhatikan, ternyata dalam permainan catur itu ada filosofinya juga, lho… Cekidot, yuk… :

1. Jumlah masing-masing bidak baik putih maupun hitam sama. Aturan yang diberlakukan juga sama. Jadi menunjukkan keadilan.

2. Dalam bermain catur, semua bidak menunjukkan kerjasama yang kompak untuk mencapai kemenangan dan kesuksesan sesuai dengan fungsi, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa dalam suatu kelompok, keluarga, atau negara, bila masing-masing anggota, warga maupun wakil rakyat dan kepala negaranya bisa saling bekerjasama sesuai dengan kemampuan, kelebihan dan kekurangannya, maka akan terbentuk kelompok, keluarga dan negara yang sejahtera, bahagia dan kuat.

3. Bidak Pion menunjukkan sosok yang kecil dan mungkin diremehkan, tapi pantang mundur dalam berjuang. Bahkan ketika mampu melewati semua rintangan dan berhasil mencapai titik awal lawan, bisa berubah menjadi bidak yang lebih kuat, yaitu Benteng bahkan Ratu. Hal ini menunjukan bahwa meskipun fisik/penampilan kita diremehkan, bila gigih berjuang dan pantang menyerah, maka seluruh perjuangan itu akan terbayarkan dengan hasil yang memuaskan.

Tapi… , bidak Pion ini juga mengingatkan, agar kita selalu waspada. Jangan mau kita dijadikan Pion oleh sekelompok oknum untuk kepentingan mereka. Terlebih di tahun politik seperti sekarang ini. Jangan sampai seluruh energi, bahkan ghirah keimanan kita hanya dimanfaatkan oleh mereka yang menginginkan kekuasaan.

4. Ketika menghadapi posisi skak, ibaratnya kita tengah menghadapi situasi yang sulit dan dilematis. Nah, pada saat itu, dibutuhkan hati yang tenang dan strategi yang matang agar bisa melewati semua permasalahan yang ada.

5. Saat menghadapi situasi yang sulit, dalam bermain catur kadang harus mengorbankan beberapa bidak untuk mendapatkan pencapaian yang lebih baik. Demikian pula dalam kehidupan, kadang kita dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit, sehingga mau tak mau ada yang harus kita korbankan demi mencapai keadaan yang lebih baik. Tapi tentu saja jangan sampai mengorbankan keimanan dan kehormatan ya, kawan…

6. Tujuan dari suatu permainan catur adalah bisa mengalahkan Raja dengan berbagai cara sepanjang tidak melanggar aturan. Hal ini bisa dianalogikan bagaimana cara mencapai suatu target tertentu dalam menjalani kehidupan.

Semisal kalau dalam Pilpres sekarang ini, bagaimana cara mencapai suara rakyat terbanyak dan terpilih? Berbagai cara akan dilakukan. Baik petahana maupun oposisi, melalui timses dan pendukungnya tentu akan berusaha dan saling membantu demi memenangkannya. Baik dengan cara berkampanye atau menunjukkan program-program yang telah/akan dilakukan. Hingga disusunnya berbagai macam strategi agar dapat memenangkan capres/cawapresnya.

Tentu semua itu boleh dilakukan sepanjang tidak menggunakan cara yang curang. Dan pengertian tidak curang di sini, bukan hanya yang menyangkut tata cara pemilu secara praktik maupun administratifnya saja. Namun juga tidak saling menjatuhkan lawan politiknya dengan serangan fitnah, hoax, hasutan dan ujaran kebencian.

7. Ketika terjadi skakmat yang berarti Raja harus mengalami kekalahan, maka ia harus bisa menerimanya dengan sportif. Dan antar pecatur pun mengakhirinya dengan saling bersalaman, tak bermusuhan, serta siap bangkit dan maju lagi untuk pertandingan berikutnya. Begitu pun dalam sebuah kompetisi atau pesta demokrasi. Apa pun hasil akhirnya, harus siap menerima dengan lapang dada dan tidak rusuh. Saling menghormati hasil akhirnya satu sama lain.

8. Dalam permainan catur, yang paling berperan penting tentu yang menjalankan bidak-bidaknya. Ada yang menjalankannya dengan kalem, agresif, grusa grusu, hati-hati dan teliti. Sukses dan tidaknya permainan caturnya tergantung bagaimana ia menjalankan semua bidaknya.

Di samping itu, biasanya yang juga ikut menentukan kesuksesan seorang pecatur adalah faktor jam terbang (pengalaman), ketelitian, keuletan, kesabaran, ketangguhan fisik (cukup istirahat dan makan), persiapan yang matang (latihan rutin), doa dan keberuntungan. Nah, semua faktor itu pun bila kita terapkan dalam setiap perjuangan kita untuk mencapai cita-cita/ harapan, insya Allah akan berakhir dengan kesuksesan. Aamiin

(Sumber: http://thefilosofi.blogspot.com/2013/12/terapkan-filosofi-permainan-catur-dalam.html?m=1)

Wow, rupanya bermain catur tak hanya bisa mengasah otak, namun juga memuat filosofi kehidupan yang luar biasa ya, kawan… Bolehlah di waktu senggang sesekali bermain catur bersama kawan-kawanmu. Tapi dengan catatan, jangan sampai gara-gara keasyikan bermain catur lalu lupa segalanya ya… 😃

(Tak) Dilarang Menulis

Standar

Kegiatan menulis secara umum sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa pun yang sudah lancar membaca dan merangkai huruf menjadi kata dan kalimat. Tapi kegiatan menulis secara khusus diartikan sebagai sebuah kegiatan menuangkan perasaan, pemikiran, imajinasi, hingga pengalaman dalam rangkaian kalimat yang mengandung makna dan pesan.

Mungkin sebuah tulisan awalnya hanya berupa sebuah coretan curhat, puisi sederhana, surat pendek atau status di medsos. Bagi para penulis pemula dan siapa pun yang masih dianggap newbie oleh mereka yang menganggap tulisannya lebih mumpuni, tak usah minder apalagi sampai takut menulis.

Abaikan saja komentar atau nyinyiran mereka yang menghakimi dirimu/ tulisanmu dengan penafsiran yang hanya sedangkal otak mereka saja. Biarkan saja, ketika mereka mencercamu saat kau tengah menuliskan buah pikiranmu hanya karena tak sejalan dengan pemikiran mereka.

Keep calm, ketika kau sedang bersemangat menuliskan pengalaman inspiratifmu, lalu tiba-tiba ada yang menganggapmu hanya melakukan sebuah pencitraan. Senyumin saja ketika kau tengah menuliskan pengalaman perjalanan wisatamu, mendadak ada yang menganggapmu pamer dan sombong.

Cuekin saja ketika kau tengah berproses berlatih menulis step by step, lalu ada yang meremehkan karyamu. Mungkin mereka sudah lupa kalau dulu pun mereka pernah jadi penulis pemula. Biarkan anjing menggonggong, asal kafilah berlalu.

Tetap tekun, sabar dan nikmati semua proses belajarmu. Anggap saja semua komentar negatif, penafsiran seenak udel dan nyinyiran mereka itu sebagai cambuk motivasimu untuk tetap konsisten berlatih menulis.

Sebab pada dasarnya, siapa pun tak dilarang menulis, kan? Kecuali kalau yang ditulis itu berita bohong, fitnah dan ujaran kebencian. Nah…, kalau yang seperti itu memang harus dilarang.

So…, tetap semangat menulis ya sahabatku… Jangan minder jadi penulis pemula. Karena setiap ide dan karya sederhanamu sungguh jauh lebih berharga daripada komentar negatif dan nyinyiran rekan penulis lain bahkan yang sudah level senior/profesional sekali pun.