Monthly Archives: Juni 2019

Bernostalgia dengan Bus Jurusan Yogyakarta – Magelang

Standar

Rencana berlebaran ke rumah Mami di Magelang akhirnya baru terlaksana pada minggu terakhir bulan Juni setelah mengikuti acara keluarga besar suami di Malang pada minggu pertama Lebaran.

Sebelumnya kami berencana ke Magelang bersama pada hari Kamis 27 Juni yang lalu dengan mengendarai mobil. Tapi karena mendadak ada kegiatan pada hari itu juga yang tak bisa ditunda, aku pulang ke Magelang terlebih dahulu dengan kereta Ranggajati jurusan Cirebon – Yogyakarta. Suami dan putriku baru menyusul keesokan harinya.

Aku hanya tak ingin mengecewakan Mami dan adikku yang sudah menunggu kehadiranku sejak beberapa hari yang lalu, setelah sebelumnya rencana pulang kami berubah-ubah waktunya karena ada acara lain.

Perjalanan dengan kereta dari jam 5 pagi berakhir di stasiun Tugu Yogyakarta pada jam 09.30 lebih sedikit. Menjelang tiba di stasiun, aku baru teringat kalau mobil elf Damri yang jurusan Magelang baru tersedia pada jam 12 siang (sesuai jadwal Damri di kartu).

Karena tak ingin menunggu di stasiun terlalu lama, aku berusaha mencari informasi travel yang jurusan Yogyakarta – Magelang melalui Google. Barangkali ada yang berangkat jam 10.30 atau jam 11.00.

Ternyata berdasar informasi dari beberapa travel yang kuhubungi secara online, jadwal berangkat yang tersedia hanya tinggal yang jam 12.00. Yah, itu sih sama saja dengan jadwal berangkatnya Damri dong… Meskipun demikian setibanya di stasiun Tugu aku tetap mencari informasi keberangkatan Damri untuk lebih memastikannya.

Wah, menurut petugas administrasi Damri-nya malahan jadwal berangkat terdekat yang tersedia jam 13.00. Makin lama atuh ya menunggunya… Ya sudahlah, akhirnya kuputuskan untuk memesan travel saja langsung ke tempatnya. Dari informasi yang kuperoleh di Google tadi lokasi travelnya berada di jalan Diponegoro, Yogyakarta.

Beberapa becak motor dan tukang ojek menawarkan diri untuk mengantar ke lokasi yang kuinginkan. Entah mengapa pagi itu aku merasa agak bimbang antara pengin beli bakpia kukus yang terkenal di jalan Solo untuk oleh-oleh atau langsung ke lokasi travel.

Bahkan aku sampai tak terpikir untuk memesan taksi online seperti biasanya bila sedang berada di luar kota. Malah tiba-tiba aku pengin mencoba naik bus Trans Jogja.

Berdasar informasi yang kuperoleh, halte busnya memang tak terlalu dekat. Tapi ketika disebutkan letaknya dekat pintu keluar stasiun, kuputuskan menuju ke sana cukup berjalan kaki saja. Toh tak terlalu jauhlah… Begitu menurutku.

Tapi ketika kujalani, wew, ternyata lumayan bikin keringat bercucuran juga. Apalagi sambil membawa tas jinjing dan tas koper yang cukup berat. Aku sempat terpikir akan memesan becak saja untuk menuju ke halte tersebut. Tapi karena menurut informasi beberapa orang yang kutemui di jalan letak haltenya tak jauh lagi, sehingga aku kembali berjalan kaki.

Alhamdulillah, akhirnya kutemukan juga halte busnya. Tapi menurutku lebih tepat disebut tangga untuk naik ke bus. Sebab tak terlihat bangunan halte dengan atap dan tempat duduk untuk menunggu seperti biasanya. Sebetulnya agak sungkan juga berdiri di atas tangga tersebut sembari menunggu kedatangan bus. Karena terlihat menyolok seperti berdiri di atas panggung yang berada di antara lalu lalang kendaraan.

Syukurlah, tak lama kemudian bus Trans Jogja pun datang. Aku langsung melompat masuk ke dalam bus tersebut. Tapi belum lama duduk, aku harus turun di halte berikutnya lagi dan pindah ke bus jurusan lain. Karena menurut kondekturnya, aku lebih baik pindah ke bus jurusan lain bila ingin menuju ke lokasi yang dimaksud. Kondektur tersebut tak meminta biaya tiket busnya.

Di halte kedua, aku semakin bimbang. Karena ternyata menurut petugas di halte tersebut tidak ada bus yang langsung turun di jalan Diponegoro. Yah paling nanti jalan lagi beberapa ratus meter, begitu katanya. Lalu ada seorang bapak yang menyarankanku lebih baik naik bus saja dari terminal Jombor kalau mau ke Magelang.

Di tengah kebimbangan, bus Trans Jogja yang tujuan akhirnya ke Terminal Jombor pun tiba. Setelah membayar tiket busnya sebesar Rp3500, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung masuk ke bus tersebut. Di dalam bus tidak banyak penumpang. Hanya ada dua orang ibu dan seorang bapak. Udara sejuk AC di dalam bus sejenak membuatku nyaman dan mengeringkan keringatku.

Lalu aku mencari informasi kendaraan apa yang menuju ke Magelang kepada salah seorang ibu yang duduk di depanku. Ibu itu menyarankanku untuk turun di terminal Jombor dan naik bus saja bila ingin ke Magelang.

Saat aku tengah mempertimbangkan sarannya, terlintas sebuah papan nama jalan yang bertuliskan jalan Diponegoro. Tapi aku tak meminta turun karena percuma juga, bus tak akan berhenti bila tidak ada halte bus di sekitarnya.

Akhirnya kuputuskan untuk naik bus saja ke Magelang. Apalagi ibu yang baik tadi juga bersedia menemaniku karena ia pun kebetulan tujuannya ke terminal bus Jombor dan akan naik bus jurusan ke Magelang. Alhamdulillah

Ketika bus Trans Jogja yang kami tumpangi tiba di terminal Jombor, kami langsung turun dan pindah ke bus Sumber Waras jurusan Magelang. Harga tiketnya murah. Hanya Rp12 ribu per orang. Sesuai dengan kondisinya yang tanpa AC dan tampak jadul. Memang jauh lebih ekonomis daripada harga tiket mobil elf Damri yang biasa kutumpangi dari Jogja ke Magelang (Rp50 ribu per orang).

Sebetulnya sejak kecil hingga masa kuliah di Yogyakarta, aku sudah familiar dengan kendaraan bus. Sebab bus adalah transportasi utama yang biasanya kugunakan bersama kedua orang tua dan adikku saat ke Yogyakarta atau ke Semarang, dua kota yang sering kami kunjungi. Tapi sejak memiliki kendaraan pribadi, kami semakin jarang menumpang bus.

Kulihat penumpang bus ini hanya beberapa orang saja. Sesekali tampak pedagang asongan berseliweran keluar masuk bus menawarkan dagangannya. Meskipun tak ada tambahan penumpang lagi, sekitar jam 10.30 bus langsung berangkat menuju ke Magelang.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan. Ibu dengan nama Bu Tika itu mempunyai seorang putra dan dua orang putri. Ia tinggal di daerah Sambung, Magelang. Usaha sampingan suaminya adalah di bidang valuta asing. Ia ke Yogyakarta juga dalam rangka menukar mata uang asing.

Tak terasa bus mulai memasuki kota Magelang pada sekitar jam 12.30. Kami turun di persimpangan lampu merah dekat Mall Artos. Lalu naik angkot jalur 10 sesuai dengan petunjuk Bu Tika. Aku turun di seberang Masjid SMPN 2 dan Bu Tika melanjutkan perjalanannya ke Sambung.

Sebelumnya aku berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Tika yang sudah menemani dan memberi petunjuk selama di perjalanan sehingga aku tak tersesat.

Lalu aku menyeberang jalan dan berjalan cepat menuju ke rumah Mami yang hanya tinggal beberapa langkah lagi dari tempat turun dari angkot tadi. Adikku dan Mami menyambutku dengan hangat ketika melihat kehadiranku. Alhamdulillah akhirnya aku bisa tiba di rumah Mami lebih awal (sekitar jam 13.00) meskipun harus sedikit bersusah payah di perjalanan tadi.

Seandainya aku naik mobil elf Damri yang berangkat jam 13.00, saat ini aku masih duduk di stasiun kereta menunggu waktu berangkatnya mobil elf tersebut dan baru tiba di rumah sekitar jam 15.00-an. Itu pun bila tak dipindah ke elf Damri lain di tengah jalan dan tak menunggu penumpang dari bandara. Alhamdulillah, rasanya lega dan senang hati ini bisa bertemu lagi dengan Mami, adik dan keponakan kembarku.

Wisata Keluarga ke Jawa Timur

Standar

Mencari waktu yang tepat untuk berwisata bersama keluarga besar memang tak mudah. Karena setiap keluarga sudah mempunyai kesibukan masing-masing dengan waktu senggang yang berbeda-beda.

Sebelumnya keluarga besar Specia (keluarga suami) sudah pernah mengadakan acara wisata keluarga ke Bali dan Jawa Timur. Kira-kira 16 tahun yang lalu, di saat putriku masih berusia 3 tahun.

Setelah sekian lama, hari ini acara wisata keluarga yang difasilitasi oleh Pak Handoyo (Koh Han Liong), kembali diselenggarakan. Sayang, tak semua anggota keluarga bisa ikut karena adanya berbagai kegiatan sekolah dan kesibukan di pekerjaannya.

Meskipun begitu, dari keluarga yang hadir cukup bisa mewakili. Apalagi beberapa keluarga karyawan juga ikut bergabung sehingga bisa menyemarakkan suasana wisata. Di bawah ini kuceritakan sekilas pengalaman dan perjalanan wisata kami.

• HARI PERTAMA

Kami berangkat dari Losari sekitar jam 1 dini hari dengan mengendarai bus pariwisata. Alhamdulillah perjalanan cukup lancar sehingga kami masih bisa tiba di kota Batu, Malang pada sekitar jam 13.00-an walaupun tadi kami sempat beberapa kali berhenti di rest area.

Yang cukup berkesan saat kami berhenti di rest area KM 429. Fasilitasnya yang berupa angkringan, pujasera, minimarket, masjid dan toilet yang cukup bagus dan bersih membuat kami merasa nyaman saat singgah di sana. Di sana udaranya cukup sejuk serta dikelilingi perbukitan dan gunung Ungaran sehingga memperindah suasana.

Selain melaksanakan shalat Subuh, kami juga sekaligus sarapan di sana. Sarapannya nasi kotak yang sudah disiapkan oleh karyawan yang mengurus konsumsi untuk wisata ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota Batu, Malang.

Sebelum menuju ke hotel, kami makan siang dengan menu nasi pecel dan shalat di masjid yang sekomplek dengan rumah makan Deduwa. Cita rasa makanan dan minuman khas Jawa Timur/Tengah yang serba manis mulai terasa. Berbeda dengan di Jawa Barat yang hidangan tehnya selalu teh tawar.

Akhirnya sampai juga kami di Hotel Senyum World yang lokasinya berada di Jatim Park 3. Dari luar sudah tampak keunikan hotel ini dengan tampilan patung dinosaurusnya (Dino Mall). Kami langsung membersihkan diri dan beristirahat sejenak begitu tiba di hotel.

Hotel ini memang keren desain interior dan fasilitasnya. Selain menyatu dengan Jatim Park 3, di hotel ini terdapat kolam renang, spa, indoor dan outdoor playground & rock climbing, perpustakaan, mini golf dan masjid. Dan uniknya hotel dengan 9 lantai ini dimulai dari lantai 2 bertemakan nama negara.

Dan ternyata nuansa kamarnya pun mengikuti nuansa negaranya. Kebetulan kami mendapat kamar yang bernuansa Jepang, karena sesuai dengan tema lantai 3 (Japanese Room). Di sekeliling lorong lantai 3 tersebut juga dipenuhi dengan lukisan dan ornamen Jepang. Bahkan ada seragam Samurai.

Jendela kamar kami menghadap ke arah Selatan dengan pemandangan kolam renang, play ground, serta gunung Panderman dan gunung Kawi. Di bagian Utara hotel yang tersaji adalah pemandangan gunung Arjuna dan gunung Semeru. Hmm, panorama yang indah.

Sesuai dengan kesepakatan bersama tour leader, sekitar jam 5 sore kami langsung menuju ke Museum Angkut tak jauh dari hotel. Semula kami mengira yang dipajang di sana hanya berupa kendaraan-kendaran zaman dulu. Ternyata ada tema aneka negara baik dari kendaraan yang dipajang maupun nuansa khas dari setiap negara tersebut.

Ada semacam kota mini juga yang sekilas hampir serupa di Kidzania. Ada juga floating market yang menyajikan berbagai macam kuliner khas Jawa Timur.

Setelah puas berkeliling dan mengambil beberapa foto di sana, kami bergegas kembali ke bus. Waktu sudah menunjukkan jam 20.30. Akhirnya kami makan malam di area Jatim Park 3 di dekat hotel. Nasi rames, bakso Malang, wedang jahe dan angsle cukup mengenyangkan kami.

Ketika hari semakin malam, kami segera kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

*.HARI KEDUA

Suasana pagi yang segar menyapa dari balik jendela kamar hotel. Keletihan perjalanan kemarin pun menjadi sirna. Hari ini sesudah sarapan kami langsung menjelajah beberapa wahana di sekitar Jatim Park 3.

Karena free tiket yang diberikan kepada kami adalah Dino Park, maka mayoritas wahana yang kami kunjungi bertema dinosaurus. Meskipun begitu, wahananya cukup bervariasi dan menarik. Selain wahana uji adrenalin, ada juga pengetahuan tentang fosil, zaman demi zaman dari kehidupan masa prasejarah, anatomi tubuh hingga misteri punahnya dinosaurus.

Semua pengetahuan dan sejarah tersebut disampaikan secara menarik dengan aneka media. Dari tertulis, lisan hingga dengan sarana multimedia. Baik berupa gambaran secara dua dimensi hingga tiga dimensi.

Walaupun hari ini hanya mengitari Jatim Park 3 yang menyatu di hotel dan terfokus di wahana Dino Park saja, ternyata cukup menghabiskan waktu juga karena begitu luasnya area.

Ketika hari semakin sore kami bergegas kembali ke kamar hotel untuk beristirahat karena malamnya sebagian dari kami akan berwisata ke gunung Bromo hingga terbit fajar.

Sebelumnya kami sempat mampir ke wahana Rumah Kaca. Menyusuri jalan berliku seperti labirin di antara pantulan kaca dan cahaya lampu ternyata cukup membuat bingung, deg-degan sekaligus takjub. Tapi yang pasti seru deh…

* HARI KETIGA

Kemarin malam, perjalanan seru menuju ke Bromo dimulai. Kami berangkat dari hotel jam 12 malam lebih sedikit. Peserta yang ikut berjumlah 42 orang, yang kemudian dibagi menjadi 7 tim dengan jumlah anggota setiap timnya 6 orang saja (menyesuaikan kapasitas kursi mobil Jeep yang akan mengantar kami ke Bromo). Sedangkan keluarga yang tidak ikut ke Bromo punya agenda wisata ke Jatim Park 2.

Setelah menempuh perjalanan tengah malam dengan bus, sekitar jam 3 dini hari kami tiba di pangkalan penyewaan mobil Jeep. Saat itulah kami pindah dari bus ke mobil Jeep. Kami melalui jalan yang berkelok-kelok dan semakin menanjak menuju ke Bukit Cinta (Love Hill).

Meskipun musim liburan sudah berlalu, ternyata banyak juga yang masih menikmati perjalanan wisata ke Bromo. Beberapa rombongan mobil Jeep tampak beriringan membawa mereka berwisata menuju ke tujuan yang sama. Sehingga di tengah perjalanan sempat beberapa kali terjadi kemacetan karena padatnya mobil Jeep yang akan menuju ke destinasi wisata yang sama.

Yang paling menegangkan adalah ketika mobil Jeep yang kami tumpangi mengalami kemacetan di tikungan jalan yang menanjak. Apalagi kemacetan tersebut terjadi tidak dalam waktu yang singkat. Mobil Jeep yang kami tumpangi tersebut sempat hampir saja meluncur mundur.

Padahal di belakangnya sudah berderet banyak mobil. Driver-nya sampai berteriak minta tolong ke sesama rekannya supaya mencarikan batu yang bisa menahan mobilnya agar tidak bergerak mundur.

Sayang tidak ditemukan batu berukuran besar yang bisa menahan mobil, sehingga mobil mulai bergerak mundur meskipun sudah diinjak remnya. Aku bisa memahami keletihan driver-nya karena ketahanan fisiknya tentu ada batasnya.

Di saat yang mencekam itu alhamdulillah kemacetan mulai terurai. Mobil-mobil di depan mulai berjalan lancar kembali. Dan mobil Jeep kami pun mulai bergerak maju kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata tadi ada mobil Jeep yang mogok di tengah jalan.

Sekitar jam 4 pagi kami tiba di Love Hill. Udara mulai terasa semakin dingin. Sebelum mendaki bukit tersebut, kami mampir mengisi perut sejenak di warung makan yang banyak dibuka di seberangnya. Mie instan plus telur, tempe/tahu goreng dan teh manis panas cukup menambah energi dan menghangatkan badan kami. Kami juga mampir di toilet dan shalat Subuh di mushala yang tersedia di sana.

Setelah semua tim berkumpul, kami
bersama-sama mendaki bukit Love Hill dengan menaiki sekitar 200 anak tangga. Waduh, lumayan bikin kaki jadi pegal juga nih… Nafas kami pun sampai terengah-engah antara melawan udara dingin sembari menyeimbangkan tubuh ketika mendaki anak tangga yang cukup curam tersebut.

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di puncak bukit. Di atas bukit sudah banyak orang yang berkumpul tengah menanti terbitnya sang surya (Sunrise). Ada yang sudah siap dengan kamera dari smartphone canggihnya. Ada yang siap merekam detik demi detik terbitnya sang surya dengan kamera khusus. Tapi ada juga yang hanya sekedar menikmati suasana fajar di antara pegunungan.

Kami juga ikut mengabadikan suasana indah ini dengan mengambil fotonya. Dari yang semula langit masih tampak gelap dan dipenuhi bintang, perlahan mulai terang dengan terbitnya sang mentari. Rona langit saat fajar menyingsing memang tampak indah. Apalagi saat cahayanya berpadu dengan lekukan yang tampak pada gunung Bromo, gunung Semeru, dan gunung/bukit lain yang mengelilingi bukit ini. Masya Allah.

Setelah puas menikmati keindahan dan berfoto di sana, kami turun menuju ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger dengan melewati Pasir Berbisik yang luas, Pura Luhur Poten dan Bukit Teletubbies Bromo.

Saat itu angin musim kemarau yang bertiup kencang dengan membawa debu dari pasir maupun abu vulkanik membuat kami harus selalu menutup hidung dengan masker dan menutup mata dengan kacamata. Bila tidak membawa kacamata, apa boleh buat harus sesekali memejamkan mata dan menunduk agar tidak kelilipan debunya.

Berada di kawasan Taman Nasional ini membuat kami merasa begitu dekat dengan gunung Bromo dan bukit/gunung yang berada di sekitarnya. Saat tadi di Love Hill saja kami sudah takjub melihat keindahan gunung-gunung tersebut. Apalagi sekarang tampak nyata di depan mata kami.

Semula kami bermaksud melihat kawah gunung Bromo dengan mendaki puncaknya. Tapi mempertimbangkan debu yang makin tebal hingga serupa kabut yang berada di sekeliling gunung Bromo, membuat kami sempat mengurungkan niat kami. Sebagai gantinya, dari 7 tim yang ada, 5 tim memutuskan untuk menjelajah bukit Teletubbies dan 2 tim lainnya akan mengunjungi Pura Luhur Poten.

Tapi ketika kabut debu berangsur menipis, 2 tim yang semula akan berkunjung ke Pura membatalkan rencana tersebut. Lalu kembali ke rencana semula, yaitu ke kawah gunung Bromo. Kebetulan aku dan Salma masuk dalam tim tersebut. Mobil Jeep mengantar kami ke area tersebut. Di sekitar kawasan tersebut banyak penduduk setempat yang menawarkan penyewaan kuda. Khususnya yang menuju puncak Bromo.

Aku dan Salma juga ikut menyewa kuda. Dari area berpasir sampai di bawah tangga menuju ke kawah Bromo biayanya Rp50 ribu sekali antar. Bagi Salma mungkin tak masalah karena sudah pernah berlatih menunggang kuda.

Tapi bagiku…, fiuuh, jujur saja sebetulnya aku takut menunggang kuda. Bahkan untuk menaikinya hingga turun dari kuda pun mau tak mau aku harus dibantu. Apalagi ketika kuda mulai berjalan.

Aku takut jatuh karena belum bisa menyeimbangkan badan. Tapi setelah diarahkan oleh Pak Roto (pemilik kuda), lama kelamaan, syukurlah badanku mulai stabil dan tidak miring-miring lagi. Caranya, yang penting badan jangan kaku dan kaki menapak kuat pada sandaran kaki.

Setelah sampai di bawah tangga menuju kawah Bromo, bersama sebagian anggota tim lain yang sudah siap, kami pun langsung menapaki anak tangga demi anak tangga menuju ke kawah Bromo. Mendaki anak tangga di sini ternyata lebih berat dari mendaki anak tangga di bukit Love Hill. Kecuramannya bisa dikatakan hampir serupa dengan anak tangga di Tembok Besar Cina.

Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat sejenak untuk mengatur nafas dan melemaskan kaki. Dan saat kami berhasil mencapai kawah Bromo, rasanya seperti sudah lulus ujian. Alhamdulillah… Aroma belerang tercium dari asap yang mengepul dari dalam kawah Bromo. Di sekitar puncak Bromo tersebut terlihat juga beberapa wisatawan manca negara. Pesona gunung Bromo ini memang sudah mendunia.

Bila tadi saat berada di Taman Nasional kami dapat melihat gunung Bromo dan sekitarnya dengan jarak yang sangat dekat di depan mata, kini bahkan kami dapat menyentuh langsung permukaan gunung ini. Dari puncak Bromo, kami dapat melihat betapa indahnya pemandangan di sekitarnya dan betapa kecil diri kita sebagai manusia di antara ciptaan-Nya. Ya Allah, terima kasih atas kesempatan yang Kau berikan pada kami untuk menikmati keindahan ciptaan-Mu ini.

Setelah berfoto-foto, perlahan kami turun dan kembali menunggang kuda menuju ke area parkir mobil Jeep. Sebelum kembali ke bus kami mampir makan di warung makan yang berada di GSS (Gunung Sari Sunset). Menu yang tersedia nasi Soto Ayam, nasi Pecel dan mie instan. Sebagian dari kami memilih Nasi Soto Ayam dan mie instan.

Lalu kami kembali ke bus yang mengantar kami kembali ke hotel. Menjelang Asar kami baru tiba di hotel. Hari ini sebetulnya kami berencana ingin menjelajah Wahana The Legends yang berada di Jatim Park 3 (di sekitar hotel) setelah mandi. Tapi akhirnya kami memilih untuk beristirahat saja agar besok pagi segar kembali saat mengikuti acara wisata selanjutnya.

* HARI KEEMPAT (Terakhir)

Seharian ini sejak jam 10 pagi hingga jam 4 sore kami menghabiskan waktu di Jatim Park 1. Meskipun tema pameran di sana mayoritas merupakan tema yang lama, namun tetap asyik untuk dikunjungi.

Apalagi dengan adanya museum tubuh manusia (The Bagong Adventure) dan koleksi Cadaver-nya (untuk usia 18 tahun ke atas). Di sana kami bisa melihat spesimen manusia asli yang diawetkan dengan teknik plastinasi.

Beberapa zona yang kami kunjungi adalah zona gigi, zona telinga, zona hidung, zona otak, zona mata, zona jantung, zona ginjal dan zona hati. Memperhatikan setiap bagian tubuh manusia secara detail membuat kami takjub, betapa teliti, rapi dan sempurnanya susunan tubuh manusia serta fungsi-fungsi setiap bagiannya. Allahu Akbar.

Lalu berikutnya yang kami kunjungi adalah Heritage Museum. Di sana berbagai kesenian dan kebudayaan Nusantara ditampilkan dalam berbagai media. Juga ada uraian tentang asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia dan bagaimana proses akulturasi/asimilasinya dengan budaya India, Arab dan Cina.

Ada juga Taman Fisika, Science Center & Science Stadium, Taman Buah dan Sayur, Taman Sejarah, Galeri Numismatik (sejarah mata uang Indonesia), Diorama Momentum Sejarah Bangsa, Keraton Nusantara, Balai Undagi & Sentra Batik, Galeri Pos Indonesia, Galeri Kumpulan Binatang Mitologi, Adegan Prasejarah dan lain-lain. Semua itu membuktikan betapa beraneka ragamnya suku dan budaya Indonesia. Bhineka Tunggal Ika!

Bagi yang suka dengan tantangan dan permainan, ada wahana berbagai permainan untuk anak maupun dewasa. Dari yang sederhana hingga yang menguji adrenalin. Dan bagi yang ingin mencari makan siang dan berbelanja oleh-oleh khas Malang, tersedia Pasar Wisata dan Pasar Buah.

Ketika waktu sudah menunjukkan jam 3 sore lebih, kami berkumpul di tempat pertama kali masuk. Kebetulan banyak pedagang yang berjualan aneka jajanan dan makanan dalam gerobaknya, seperti Jasuke (jagung manis plus susu dan keju), sate ayam dan sate kelinci, rangin. Sambil menunggu semua berkumpul, sebagian dari kami membeli jajanan di sana.

Akhirnya setelah semua berkumpul, kami langsung menuju ke bus untuk bersiap-siap pulang ke Cirebon sore ini juga. Tapi sebelumnya kami mampir di Deduwa untuk makan malam dengan menu Rawon, membeli oleh-oleh, dan shalat Maghrib & Isya.

Sekitar jam 7 malam bus langsung berangkat menuju ke Cirebon. Sebagian besar keluarga dan karyawan sudah tampak lelah dan mengantuk, sehingga tertidur lelap sepanjang perjalanan. Karena tak banyak berhenti di rest area seperti waktu berangkat, bus jadi lebih cepat sampai tujuan.

Bus sampai di Losari keesokan harinya kira-kira jam 04.30 (waktu tempuhnya hanya 9 – 10 jam). Sebelumnya saat berangkat, waktu yang ditempuh sekitar 12 jam mungkin karena banyak berhenti di rest area.

Setelah menurunkan sebagian keluarga dan karyawan di Losari, bus mengantar kami ke kota Cirebon. Ada yang turun di Tiga Berlian dan terminal Harjamukti. Sedangkan kami bertiga turun di lampu merah Sunyaragi. Pak Jai sudah stand by di sana untuk menjemput kami. Sekitar jam 05.30 kami tiba di rumah. Alhamdulillah…

Banyak hal positif dari perjalanan wisata bersama keluarga ini. Selain mempererat hubungan dengan keluarga dan karyawan, menyegarkan pikiran, juga menambah wawasan. Terima kasih kepada Koh Han Liong yang sudah memfasilitasi kami dalam wisata keluarga ini. Barakallah fiik.

#FamilyTrip
#SpeciaFamily
#WisataJatim
#LetsGuide

Sumber:

1. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214564720332528&id=1256901858
2. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214570155628407&id=1256901858
3. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214577582534075&id=1256901858
4. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214589819599994&id=1256901858