Monthly Archives: Oktober 2019

Arisan Bocah

Standar

Seorang Ibu sejatinya adalah sosok yang sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya sejak lahir. Ibu selalu mendampingi anaknya sejak masih menyusui, saat belajar berbicara/berjalan hingga mulai masuk sekolahnya.

Ketika anak-anak mulai memasuki usia sekolah, biasanya para ibu jugalah yang paling sibuk. Dari mencari perlengkapan sekolah, seperti buku, alat tulis dan tas, hingga memesan seragam sekolah.

Di sekolah tak hanya anak-anak yang mulai bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Para ibundanya pun saat mengantar dan menjemput anaknya, akan mendapatkan teman-teman baru. Biasanya sambil menunggu anak pulang sekolah, komunikasi antar para ibu mulai terjalin.

Dimulai dari obrolan ringan seputar perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka hingga tukar menukar resep masakan.

Ada juga yang berjiwa bisnis, biasanya sambil mengobrol ia akan menawarkan barang-barang dagangannya. Tapi tak menjadi masalah karena antar ibu-ibu itu malah merasa saling membutuhkan.

Ada juga kelompok ibu-ibu yang suka saling curhat dan ‘ngerumpi ngalor ngidul’. Biasanya mereka curhat tentang berbagai masalah, dari keluarga, pembantu, tetangga sampai temannya. Tapi hebatnya antar mereka kadang bisa saling memberi solusi dan tak hanya sekedar menghibur.

Di komunitas lain ada ibu-ibu yang suka mengantar anaknya les/belajar bersama dengan teman-temannya atau ikut mengantar saat akan lomba. Kebetulan aku masuk dalam komunitas tersebut. Ada beberapa teman yang sejak anak-anak kami masih SD selalu bersama dalam setiap kegiatan lomba. Karena dari SD yang sama, kekompakan pun terjalin erat.

Biasanya kami akan saling mendukung dengan mempersiapkan anak-anak menjelang mengikuti lomba dengan belajar bersama. Ketika lomba pun kami saling memotivasi agar dapat membawa nama baik sekolah. Alhamdulillah pada beberapa lomba anak-anak kami berhasil meraih prestasinya.

Tapi ketika anak-anak sudah naik ke tingkat SMP, saat itulah kami menjadi jarang bertemu lagi. Karena sebagian besar anak-anak kami memilih sekolah lanjutan yang berbeda. Sehingga resikonya, anak-anak kami harus siap bersaing ketika ikut lomba yang mewakili sekolahnya.

Bila sebelumnya anak-anak saling mendukung karena mewakili sekolah yang sama, kini malah menjadi kompetitornya yang berat karena berbeda sekolah. Kondisi seperti ini mau tak mau kadang berpengaruh juga dalam hal hubungan keakraban di antara kami sebagai para ibunya.

Akibatnya kami yang sudah jarang bertemu ini menjadi semakin jauh dan jarang berkomunikasi. Oleh karena itu, akhirnya timbullah inisiatif untuk kembali mempererat hubungan di antara kami. Kami sepakat untuk saling bertemu sebulan sekali sambil makan siang bersama sebagai upaya menjalin keakraban kembali.

Untuk mengikat pertemuan sebulan sekali tersebut, akhirnya diadakanlah arisan. Kami memberi nama kelompok arisan kami “Arisan Bocah” karena keakraban hubungan kami diawali dari kekompakan anak-anak kami sejak masih ‘bocah’.

Alhamdulillah, upaya kami membawa hasil yang positif. Kami jadi sering berkomunikasi lagi melalui WA grup yang kami bentuk. Saat arisan, kami kembali saling curhat tentang perkembangan anak kami masing-masing meskipun berbeda sekolah.

Kadang kami saling memberi informasi even atau lomba.Meskipun anak-anak kami saling bersaing, pada akhirnya kami belajar untuk bersikap sportif dan legawa. Ketika ada anak yang menang lomba, meskipun anak kami kalah, tapi kami tetap saling memberi selamat kepada anak yang menang lomba dan memberi motivasi kepada anak yang kalah.

Keuntungannya sikap sportif dan legawa ini pun memberi pengaruh yang positif kepada anak-anak kami. Sehingga ketika meraih kemenangan saat lomba, tetap humble. Dan ketika kalah, cukup kecewa sejenak lalu kembali semangat dan tak berputus asa untuk berjuang kembali.

Hal ini terus berlanjut hingga anak-anak kami masuk SMA. Kegiatan yang kami lakukan saat arisan pun tak sekedar kumpul-kumpul dan makan bersama. Kami juga mengadakan kegiatan bakti sosial, ikut pengajian atau seminar bersama, saling menjenguk bila ada yang sakit, serta saling memberi bingkisan kado ketika ada yang ulang tahun.

Ketika anak-anak kami akan memasuki jenjang kuliah, kami sama-sama mempunyai harapan agar bisa diterima di kampus yang sama. Alhamdulillah, di luar dugaan semua anak-anak kami bisa diterima di ITB.

Sehingga bagi yang belum mengenal kelompok arisan kami sejak awal biasanya mengira kelompok arisan kami ini khusus Ibu-ibu yang anaknya kuliah di ITB. Padahal itu di luar rencana kami sebelumnya.

Ketika anak-anak kami sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi ITB, pertemuan di antara kami menjadi semakin berarti karena dapat menghalau rasa sepi yang disebabkan oleh jauhnya anak-anak kami (kuliah di luar kota).

Pembicaraan di antara kami biasanya adalah tentang rasa khawatir dan kerinduan kami terhadap anak-anak kami yang kini sedang belajar hidup mandiri dan harus survive menghadapi beratnya kehidupan perkuliahan.

Ketika masa Pilpres yang lalu suasana panas tahun politik sempat ikut mewarnai grup WA kami. Sebagian besar dari kami mendukung capres 02. Tapi ada juga yang mendukung capres 01. Sempat terjadi suasana tidak nyaman juga nih gara-gara masalah ini.

Dibutuhkan hati yang sejuk dan pikiran yang tertata agar tidak terbawa panasnya suasana. Sebab bila kami ikut terbawa suasana panas politik tersebut, bisa-bisa kami juga terlibat perdebatan sebagaimana yang sering terjadi pada grup WA lain sampai berakibat saling left grup.

Nah, tentu kami tak menginginkan hal seperti itu terjadi pada grup kami. Sehingga sebaiknya memang harus saling mengendalikan emosi dan jangan mudah terbawa pengaruh berita yang memprovokasi.

Alhamdulillah, setelah Pilpres usai, suasana pembicaraan di grup sejuk kembali. Kami juga kembali hanya sharing informasi umum dan tausiyah ustaz-ustaz yang bermanfaat, menyejukkan dan sebagai reminder saja.

Selanjutnya pembicaraan kami yang berhubungan dengan anak-anak kami kini pun bukan lagi seputar keaktifan mengikuti lomba sebagaimana saat anak-anak kami masih bersekolah di SD, SMP atau SMA.

Sekarang orientasi kami sudah berubah.Yang menjadi harapan utama kami terhadap anak-anak adalah bagaimana anak-anak mampu menjadi pribadi yang shalih shalihah, tidak meninggalkan shalat dan ibadah lain, mampu merawat dan menjaga diri serta lingkungan sekitar, mampu menyelesaikan kuliah dengan baik dan sukses, serta siap menghadapi masa depan dengan bekal ilmu yang sudah diperoleh selama kuliah.

Selebihnya bila ada prestasi, atau kelebihan lainnya itu adalah bonus bagi kami. Sebab setelah anak-anak kami lulus, mereka akan menghadapi tiga pilihan. Yaitu melanjutkan S2, langsung bekerja atau menikah. Nah ketiga pilihan itu tentu tak cukup bila hanya berbekal prestasi lomba. Karena hal terpentingnya adalah karakter dan akhlak yang baik serta kemampuan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Waktu memang terus berjalan dengan cepat. Usia kami juga terus merangkak. Anak-anak pun sudah semakin dewasa. Semoga keakraban yang sudah terjalin dengan baik di antara kami terus berlanjut.

Di mana kami bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dan semoga kami mampu mengantar anak-anak kami ke gerbang kesuksesan dan kebahagiaan mereka baik untuk di dunia ini maupun hingga di akhirat nanti. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Menghidupkan Kembali Ruh Santri dan Semangat Persatuan Bangsa di Kalangan Pemuda

Standar

Pada bulan Oktober ada dua hari besar Nasional yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Yaitu hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober dan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.

Peringatan hari Santri Nasional sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari kiprah para tokoh Islam seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Komitmen Islam dan kebangsaan mereka yang luar biasa menjadi pencetus terciptanya organisasi Islam yang berperan penting dalam perjuangan bangsa melawan penjajah.

Ketika Belanda membonceng Sekutu dalam upayanya menguasai Indonesia kembali, KH Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menyerukan Resolusi Jihad saat diadakan pertemuan para pengurus NU Jawa dan Madura di Surabaya tanggal 21 – 22 Oktober 1945.

Pernyataan sikap untuk melawan penjajah Belanda tersebut disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari kepada pemerintah, umat Islam dan para santri pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sehingga terjadilah pertempuran sengit dari rakyat dan para santri melawan kolonial Belanda yang membuat semangat para pemuda di Surabaya, termasuk Bung Tomo ikut terbakar. Hingga pada saat pertempuran tanggal 27- 29 Oktober 1945 mampu menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Kiprah tokoh Islam dan para santri yang telah berperan aktif membela tanah air tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah sehingga Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Sumber:
https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/22/083739665/22-oktober-mengingat-kembali-sejarah-penetapan-hari-santri?page=all

Sedangkan sejarah Hari Sumpah Pemuda berawal dari timbulnya kesepakatan dari para pemuda yang mewakili daerahnya masing-masing untuk bersatu melawan penjajah Belanda. Sebab bila mereka hanya berjuang sendiri-sendiri atas nama kedaerahannya saja, akan sangat mudah dikalahkan oleh penjajah.

Tepatnya setelah Konggres Pemuda kedua (tanggal 27 dan 28 Oktober 1928), yang diselenggarakan oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia) di Jakarta. Konggres tersebut dihadiri oleh anggota PPPI yang terdiri dari para pelajar di seluruh wilayah Indonesia, perwakilan dari berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia (Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dan Jong Ambon) dan pengamat dari warga Tionghoa (Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie).

Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya WR Supratman juga dikumandangkan pada saat Konggres Pemuda kedua tersebut. Semangat nasional dan persatuan bangsa telah mempersatukan mereka. Sehingga para pemuda dari berbagai organisasi dan kalangan tersebut melebur bersatu padu menjadi sebuah kekuatan untuk melawan Kolonial Belanda.
Hingga tercetuslah Sumpah Pemuda sebagai berikut:

Pertama: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia).

Kedua: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia).

Ketiga: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia)

Sumber: https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/sejarah-sumpah-pemuda

Alhamdulillah, kini kita telah menikmati kemerdekaan hasil dari perjuangan para pahlawan di masa lalu. Bagi kita yang telah menikmati masa kemerdekaan ini, masih banyak yang harus kita lakukan demi menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan dalam rangka mencetak generasi muda yang tak hanya cerdas dan makmur. Namun juga mempunyai karakter terpuji dan berjiwa santri.

Di masa kemerdekaan ini, tantangan terbesar bagi bangsa ini bukan lagi para penjajah Belanda. Bukan pula tembakan senapan kolonial maupun perang melawan senjata dengan negara lain. Kita juga tak perlu lagi angkat senjata untuk melawan mereka.

Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak dan remaja kita agar menjadi generasi yang siap mentalnya dalam menghadapi era globalisasi dengan membangun karakter dan akhlak yang baik.

Sebab yang dihadapi generasi muda sekarang adalah pengaruh informasi dan teknologi yang di satu pihak sangatlah membantu dan bermanfaat dalam menambah wawasan dan mempermudah kehidupan sehari-hari. Tapi di lain pihak juga bisa membahayakan dan menyesatkan bila tak terkontrol dan tak terkendali.

Bila kita coba kilas balik sejenak ke masa di mana para santri dengan penuh kesadaran mengangkat senjata melawan penjajah, demi membela bangsa dan negara, timbulnya kesadaran dan mental yang kuat tersebut tak lain adalah merupakan hasil tempaan mereka selama di pesantren.

Di pesantren, setiap santri tak hanya akan mendapatkan berbagai macam ilmu agama maupun umum. Lebih dari itu mereka juga mendapatkan hal-hal positif seperti berikut ini:

1. Latihan kemandirian agar tak manja dan tak cengeng ketika menghadapi persoalan.
2. Pembiasaan bangun tidur di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat Tahajud agar selalu terjalin hablumminallah dengan baik.
3. Pembiasaan rajin dan tepat waktu saat melaksanakan shalat lima waktu agar selalu dalam penjagaan Allah Swt.
4. Pembiasaaan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah wajib agar memperbaiki kekurangan pada ibadah-ibadah wajib.
5. Pembiasaan tilawah Al Qur’an agar langkah-langkahnya selalu diberkahi Allah Swt.
6. Pembiasaan menjaga kebersihan dan kerapian kamar dan lingkungan sebagai persiapan awal sebelum kelak berumahtangga.
7. Penanaman akidah dan akhlak Islam yang rutin dan mendalam agar menjadi landasan yang kokoh dalam beragama di masyarakat nanti.
8. Pembelajaran hidup bersosialisasi antar santri agar terjalin hablumminannas yang baik.
9. Tausiyah dari ustaz dan ustazah yang selalu mengingatkan agar selalu mengevaluasi diri.
10. Penerapan gaya hidup sederhana agar tak terbawa pada kebiasaan berfoya-foya dan gaya hidup hedonisme.
11. Melatih skill of life sehingga terampil dan survive dalam kehidupannya.
12. Anjuran untuk selalu berbakti kepada orang tua karena melalui bakti dan restu mereka berkah hidup akan terus mengalir.

Nah, bila ruh santri semacam itu kita coba terapkan secara bertahap pada anak-anak kita, sekalipun tidak belajar di pesantren, insya Allah akan memperbaiki akhlak dan membentuk karakter mereka dengan baik.

Sehingga akan terbentuk generasi muda yang shalih dan shalihah. Tangguh memegang prinsip agama dan kebenaran sehingga tak mudah tergoda pada hal-hal negatif.

Dan bila semangat persatuan bangsa dari Sumpah Pemuda pun dinyalakan, maka akan tumbuh generasi muda yang cinta tanah air dan selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya. Menghormati serta menghargai adanya perbedaan suku, warna kulit dan agama yang ada di masyarakat. Sehingga terjalin suasana masyarakat yang rukun dan damai.

Semoga Allah Swt. memampukan kita dalam mendidik anak-anak, di antaranya dengan menghidupkan ruh santri dan menyalakan semangat persatuan bangsa pada jiwa mereka. Sehingga akan lahir generasi muda shalih shalihah yang cerdas dan cinta tanah air.

Kelak melalui kiprah dan karya mereka, semoga negara Indonesia akan menjadi negara yang semakin makmur sejahtera dan tentram. Sehingga menjadi baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Sumber gambar:

1. Desain Salma Fedora

2. https://sosmedpc.blogspot.com/

Sehari Semalam Menjadi โ€˜Raja’ dan โ€˜Ratu’ di Kota Gorontalo ๐Ÿ‘‘

Standar

Ketika pagi menyapa, kami segera berkemas untuk meninggalkan hotel. Sesudah sarapan, kami dijemput oleh rekan sejamaah haji, pak AR Muhammad dan bu Herawati. Betapa senangnya kami bisa berjumpa lagi tepat setahun setelah kami beribadah haji bersama.

Tapi pagi itu pak AR Muhammad harus ke kantornya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Sehingga bu Herawati sajalah yang menemani kami berkeliling kota Gorontalo.

Pertama kami diajak ke rumah makan Sakinah dengan menu spesialnya Milu Siram dan Ikan Bakar. Wah, padahal kami baru saja sarapan di hotel. Tapi untuk menyambut kedatangan kami, tetap saja bu Herawati mengajak kami makan dan langsung memesan aneka menu istimewa di sana dengan menu utama ikan.

Biasanya aku kurang suka menu masakan ikan. Tapi dengan olahan bumbu khas Gorontalo yang lezat ini malah membuatku berselera dan menikmatinya. Beragam masakan ikan dan Milu Siramnya yang unik pun ludes kami santap.

Sesudah itu kami diajak berwisata ke Taman Purbakala Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit Dempe. Benteng ini dibangun Portugis pada tahun 1525, lalu ditemukan pada tahun 1585 oleh Naha (Ota, artinya benteng). Keseluruhan benteng ini ada tiga, yaitu benteng Otanaha, Otahiya dan Ulupahu.

Benteng Otanaha merupakan benteng tertua dan terbuat dari campuran kapur dan putih telur burung Maleo. Benteng yang bentuknya menyerupai mini koloseum ini dibangun sebagai bentuk kerjasama antara Portugis dengan Raja Ilato yang berkuasa pada tahun 1505 – 1585.

Dari atas benteng Otanaha, kami bisa melihat danau Limboto dengan pemandangannya yang menawan. Danau ini luasnya berkisar 1900 – 3000 ha (pada tahun 1999) dan memiliki kedalaman 2 – 4 meter (menurut Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, tahun 2000).

Di danau ini para pengunjungnya bisa melakukan berbagai kegiatan, seperti memancing, berenang dan naik perahu. Mereka juga bisa menikmati ikan bakar dengan harga yang relatif murah dari para nelayan setempat.

Karena bertepatan dengan hari Jum’at, suamiku diantar terlebih dahulu ke Masjid Agung Baiturrahim untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jum’at bersama Pak AR. Muhammad yang sudah menunggu di sana.

Sementara itu, aku dan Bu Herawati menumpang bentor (becak motor) yang merupakan salah satu kendaraan umum di Gorontalo, menuju ke Rumah Makan Pino’s yang terletak di Jalan Sudirman, samping Balai Nikah, Gorontalo. Ada aneka menu khas Gorontalo yang ditawarkan di sini. Tapi menu spesialnya adalah masakan ikan dan ayam.

Sambil menunggu suami kami selesai shalat Jum’at, bu Hera memesankan aneka makanan dan minuman terlebih dahulu untuk hidangan makan siang nanti. Menu makanan yang dipesan selain ikan dan ayam bakar, juga masakan khas Gorontalo yang lain, seperti Pisang Stik Goroho dan Sayur Butungo (terbuat dari jantung pisang). Sedangkan minuman khasnya Es Palubutung (Es dengan campuran pisang, santan, bubur mutiara dan sirup).

Saat suamiku dan Pak AR Muhammad sudah tiba, kami langsung makan siang bersama. Kuakui semua masakan dan minuman khas Gorontalo yang sudah kami rasakan sejak hari pertama kami di sini, memang benar-benar sedap dan cocok dengan selera kami. Kami juga sangat terkesan atas sambutan hangat Pak AR Muhammad dan Bu Herawati terhadap kami sebagai tamunya.

Seusai santap siang bersama, kami diajak berwisata religi ke Bubohu. Sebuah taman wisata religius yang menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Bubohu, salah satu kerajaan kecil yang berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Hulontalo/Gorontalo. Untuk mencapai lokasi tersebut, harus ditempuh dengan kendaraan yang melewati jalanan beraspal berkelok-kelok dengan pemandangan lautan biru yang indah di tepinya.

Sesampainya di sana kami diarahkan untuk memasuki halaman samping sebuah rumah. Yang pertama kami lihat adalah Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia. Beberapa fosil kayu yang berasal dari desa Topoho, Limboto dan Upaha tampak terpajang di sana.

Sebelum masuk ke area wisata religi Bubohu, kami diminta mengambil sebuah biji seukuran kelerang yang telah disediakan, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak sebagai tiket masuknya. Kata salah seorang warga, hal itu untuk mempermudah menghitung berapa banyak jumlah pengunjungnya.

Di dalamnya terpasang beberapa catatan sejarah tentang silsilah Sultan Amai dan Raja Ilato Ju Panggola yang merupakan keturunan dari Raja Hulontalo /Gorontalo. Penyusunnya Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) dan Adnan A Berahim berdasarkan data dari Belanda dan Arab Pegon dari keluarga Idris N Toma, 10 November 2014.

Selain itu terpampang juga silsilah asal usul keturunan bangsa Gorontalo yang dikutip dan disalin ke dalam bahasa Indonesia, dari manuskrip (naskah asli tua) yang menggunakan bahasa Arab Pegon.

Ada sebuah quote bijak dari Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) XVIII yang merupakan trah Kerajaan Bubohu Generasi ke VI sebagai berikut: “Adati hula hula’a to sara’a, sara’a hula hula’a to Qur’ani”. Artinya, “Adat kokoh berdasarkan agama, agama kokoh berdasarkan Qur’an”.

Di bagian dalam terlihat rumah-rumah adat Gorontalo yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang tak terlalu besar. Yang menarik ada puluhan burung merpati jinak yang seakan menanti kehadiran kami untuk memberi mereka makan. Kami membeli dua bungkus biji jagung dari salah seorang pengurus taman.

Benar juga, begitu kami mengambil segenggam jagung dan mengadahkan tangan, semua merpati langsung terbang menyerbu kami. Ada yang langsung mematuk biji jagung di telapak tangan kami, ada yang hinggap di tangan, di pangkuan bahkan di atas kepala kami. Waah, seru juga… ๐Ÿ˜ƒ

Begitu asyiknya kami bercengkerama dengan merpati, sampai tak terasa hari sudah menjelang petang. Pak AR Muhammad dan Bu Herawati pun langsung mengantar kami ke hotel. Mereka membawakan aneka kue basah tradisional, seperti kue lapis dan kue bapel yang lezat untuk kami. Ya Allah, terima kasih sudah mengaruniakan sahabat yang sangat baik dan penuh perhatian kepada kami.

Setelah tiga malam berwisata di kawasan Gorontalo dan sekitarnya, akhirnya tiba saatnya bagi kami untuk pulang ke pulau Jawa. Seusai sarapan di hotel, kami menunggu Pak AR Muhammad dan Bu Herawati yang sesuai rencana akan menjemput sekaligus mengantar kami ke bandara.

Tapi ternyata mereka masih ‘belum puas’ untuk membagikan perhatian dan kebaikan kepada kami. Kami diminta mampir dan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan di rumah mereka. Padahal saat-saat keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi sudah semakin mendekati waktunya. Kami khawatir terlambat sampai di bandara nantinya.

Tapi kami tetap ‘dipaksa’ untuk tetap makan di rumah mereka. Kami juga diyakinkan bahwa semua urusan check in di bandara nanti dijamin beres karena akan mereka bantu. Akhirnya kami menyerah dan langsung menuruti mereka. Ketika tiba di rumah mereka dan melihat hidangan yang telah disajikan, kami hanya bisa berucap, “Masya Allah…

Hidangan yang lengkap seperti hidangan untuk acara pesta telah mereka persiapkan. Ada nasi kuning khas Gorontalo yang dilengkapi telur dan bihun, sate daging sapi, ikan bakar, tiga macam sambal khas Gorontalo yang mantap, plus camilan pisang goreng yang manis.

Dan lagi-lagi, kami terhanyut dalam sedapnya masakan Gorontalo yang selalu menggugah selera. Sehingga seusai makan pun, kami menerima dengan senang hati ketika mereka membawakan sebagian dari makanan tersebut sebagai bekal perjalanan untuk kami.

Tak hanya itu. Mereka juga memberi sekardus oleh-oleh khas Gorontalo untuk kami bawa pulang. Masya Allah… Terima kasih Pak AR Muhammad dan Bu Herawati atas kebaikan dan keramahannya.๐Ÿ˜๐Ÿ™ Sesudah foto bersama, kami segera diantar ke bandara.

Di tengah perjalanan ke bandara, berulangkali kami melirik jam di smartphone kami. Waktu yang semakin terbatas ini membuat kami khawatir akan ketinggalan pesawat. Tapi mereka berulangkali menenangkan kami dan mengatakan waktunya masih keburu. Ketika tiba di bandara kulihat waktu sudah tinggal tujuh menit lagi dari waktu keberangkatan pesawat. Kami langsung berlari menuju ke boarding setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih.

Qadarullah, ternyata pesawat yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan sehingga belum mendarat di bandara. Fiuhhh…, kami langsung duduk di ruang tunggu sambil bernafas lega. Kulihat ada pesan masuk dari Bu Herawati di Whatsapp-ku.

“Bu, tas hijau sama dus tadi ada? KTP juga sudah ada khan ? Insya Allah tiba dengan selamat sampai tujuan… Aamiin“.๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜

Lalu sebuah gambar Flight Radar dikirimnya. Tampak gambar pesawat dari Makasar yang baru saja masuk ke wilayah Gorontalo.

“Iya sudah ada semua Bu. Allahumma aamiin… ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ Jazakumullah khairan katsira Bu Hera, Pak Dokter Muhammad dan Ivan (saudara Pak Dokter yang selalu siap mengantar kami ke mana pun selama di Gorontalo)๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’— Iya Bu Alhamdulillah belum terlambat.” ๐Ÿ˜

Bu Hera rupanya ingin memastikan bahwa tidak ada barang atau oleh-oleh yang tertinggal dan kami memang benar-benar tidak ketinggalan pesawat.

Belum lama aku membalas pesan Whatsapp dari Bu Hera, terdengar pemberitahuan agar seluruh penumpang yang akan berangkat/transit ke Makasar supaya melakukan boarding dan segera memasuki pesawat.

Kami bergegas mengikuti instruksi dari petugas bandara tersebut. Sesaat kemudian pesawat pun melaju meninggalkan kota Gorontalo.

Keindahan alamnya yang tampak dari balik jendela pesawat perlahan menghilang di antara gumpalan awan. Setelah transit sejenak di Makasar, kami langsung terbang menuju ke bandara Soekarno Hatta.

Alhamdulillah akhirnya kami bertemu kembali dengan Salma yang tiba di bandara yang sama beberapa saat kemudian. Kami saling bertukar cerita dan oleh-oleh. Salma membawa oleh-oleh Banana Cake, Cheese Cake dan dompet antik dari Jepang. Sedangkan kami membawa oleh-oleh khas dari kota Gorontalo.

Di dalam dus pemberian sahabat kami di Gorontalo tadi terdapat tiga kotak Kue Pia, lima stoples Kue Kerawang dan dua lembar kain khas Gorontalo (buat pria dan wanita). Masya Allah… ๐Ÿ˜

Sahabat kami di Gorontalo telah mengamalkan Hadits Nabi Muhammad Saw. dengan menyambut baik dan memuliakan tamunya. Berikut ini haditsnya:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู’ู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุฃุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠููƒู’ุฑูู…ู’ ุถูŽูŠู’ููŽู‡ู

โ€œBarang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.โ€ (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/1546-adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

Dan begitulah yang telah kami rasakan selama bertamu di kota Gorontalo. Selama sehari semalam, kami benar-benar telah diperlakukan seperti raja dan ratu oleh sahabat kami di sana. Barakallah fiikum ๐Ÿ‘‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

Menikmati Pesona Alam Pulo Cinta

Standar

Pulau Sulawesi yang sejak dulu kukenal sebagai pulau dengan bentuknya yang menyerupai huruf K, akhirnya kusinggahi bersama suami sekitar enam minggu sesudah Lebaran di tahun lalu.

Sebenarnya keberangkatan kami kali ini bisa dibilang cukup mendadak karena direncanakannya kurang dari satu minggu. Rencana ke Sulawesi ini baru terpikirkan oleh suami menjelang keberangkatan Salma untuk study tour ke Tokyo, Jepang.

Menurut suami, sembari mengantar Salma ke bandara Soekarno Hatta Jakarta dan menunggunya pulang, kami berdua bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk berwisata ke pulau Sulawesi. Waktunya juga bisa diatur. Jadi nanti saat Salma pulang, kami juga sudah pulang, sehingga bisa bertemu kembali di bandara Soekarno Hatta pada hari yang sama.

Kali ini suamiku sengaja memilih kota Gorontalo sebagai destinasi wisatanya karena baru saja mendapatkan informasi tentang tempat-tempat wisata yang menarik di sana. Selain itu nanti kami juga bisa sekaligus bersilaturahmi ke rumah Pak AR Muhammad dan istrinya, Bu Hera (teman satu rombongan Haji tahun lalu) yang tinggal di kota tersebut.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah Salma terbang ke Tokyo tengah malam, aku dan suami terbang ke Gorontalo dini harinya. Perjalanan dari Jakarta ke Gorontalo setelah transit sejenak di Bandara Sultan Hasanudin (Makasar) ini memakan waktu hampir lima jam.

Sesampainya di Bandara Jalaluddin, Gorontalo, kami mampir makan siang sebentar di Rumah Makan Cita Rasa “Jampang II” yang kami temukan di tengah perjalanan. Menu yang kami pesan adalah Sup Ayam, Nasi Ayam Rica-Rica dan Telur Dadar. Meskipun menunya sederhana, tapi rasanya mantap.

Setelah itu kami langsung menuju ke Pulo Cinta yang terletak di kabupaten Boaleamo, sekitar 100 kilometer dari kota Gorontalo. Untuk menuju ke pulau mungil yang terletak di Teluk Tomini ini, kami harus naik perahu diesel.

Angin laut berembus lembut menerpa wajah, mengiringi perjalanan kami. Ombak yang bergelombang terasa mengayun perahu yang kami tumpangi. Sejauh mata kami memandang, yang tampak lautan berwarna biru. Dari kejauhan samar-samar mulai terlihat bangunan-bangunan resor Pulo Cinta yang terbuat dari bambu.

Akhirnya sampailah kami di Pulo Cinta. Perahu menepi dan kami pun turun. Setelah mengurus administrasi penginapan, petugas mengantar kami ke salah satu resornya. Rencananya kami menginap semalam di sini karena ingin merasakan suasana bermalam di tengah lautan.

Pemandangan di sini memang sangat elok dan eksotik. Pulaunya berbentuk hati dengan pasir yang berwarna putih berpadu dengan lautnya yang berwarna biru jernih. Pulau ini dikelilingi dengan beberapa resor terapung dengan suasana seperti di Maldives. Mungkin karena ini ya pulau ini disebut Pulo Cinta?

Di Pulo Cinta ini memang terlihat beberapa pasang pengantin muda yang mungkin sedang berbulan madu dan menginap di sini. Ada yang sedang mengambil foto pasangannya. Ada yang sedang berenang bersama. Ada juga yang sedang duduk berdua menikmati keindahan panorama laut.

Suasana resor di sini memang sangat cocok sebagai tempat berbulan madunya para pengantin. Apalagi ada fasilitas diving dan snorkeling di sini. Serta didukung pesona alamnya yang cantik.

Ternyata ada legenda menarik di Pulo Cinta ini. Konon ada sebuah kisah cinta yang bersemi di antara seorang pangeran muda dari Gorontalo dengan seorang gadis cantik putri pedagang dari Belanda. Padahal saat itu tengah berkecamuk peperangan antara penduduk setempat dengan penjajah Belanda.

Untuk menyelamatkan diri dari suasana perang yang membahayakan dan demi mempertahankan cinta terlarang mereka, sepasang kekasih tersebut pergi mencari suatu tempat yang tepat.

Hingga akhirnya ditemukanlah Pulo Cinta ini sebagai tempat persembunyian mereka. Di bawah taburan bintang di langit saat malam hari dan di antara laut lepas berwarna biru di siang hari, mereka menemukan kebahagiaan dengan membangun cinta mereka. (sumber: https://www.pulocinta.com/)

Hmm… Sebuah kisah cinta yang menarik ya. Tapi harus dipahami dengan hati-hati agar tidak disalahartikan oleh para remaja khususnya yang sedang dimabuk cinta. Karena bagi kita, khususnya para muslim dan muslimah, tentu sudah paham ya bahwa pergaulan antara lelaki dan perempuan itu ada batasan-batasannya. Agar terhindar dari fitnah dan perbuatan zina.

Oke, ceritanya kulanjut lagi ya… Saat hari makin siang, seorang petugas mengetuk pintu kamar. Ternyata ia mengantarkan makan siang untuk kami. Menu makan siang yang disajikan di Pulo Cinta ini seperti menu masakan daerah pada umumnya. Tapi kekhasan Sulawesi tampak pada hidangan lauk ikan dan kue apangnya.

Kami menikmati makan siang di dek tempat berjemur yang berada di bagian belakang kamar sambil merendam kaki kami di air laut yang hangat. Ikan-ikan kecil tampak berenang lincah di antara kaki kami.

Resor ini sepenuhnya menggunakan tenaga surya untuk fasilitas listriknya. Meskipun berada di tengah laut, namun air untuk keperluan mandi tetap menggunakan air tawar.

Ketika hari mulai gelap, suasana resor semakin romantis. Dalam kegelapan malam dan cahaya remang lampu di kamar, kami bisa menyaksikan jutaan bintang yang berkelip indah di langit. Suara musik alam dari angin dan ombak mengiringi keindahan ini. Membuat kami jadi teringat kisah legenda cinta tadi.

Tapi semakin malam deru angin dan gelora ombak semakin kencang. Semalaman kami sampai tak bisa tidur gara-gara berulangkali terbangun oleh kerasnya suara hempasan ombak dan tak kuat menahan dinginnya angin yang menderu kencang melalui sela-sela pintu, jendela dan atap.

Padahal kami sudah mengenakan jaket dan selimut tebal. Saat itu bahkan sempat terselip rasa khawatir bila terjadi tsunami karena merasakan angin yang bertiup semakin kencang dan menyaksikan gelombang laut yang semakin besar dari balik jendela. Alhamdulillah suasana mencekam malam itu segera berlalu.

Keesokan harinya, di antara kehangatan cahaya mentari dan hembusan sejuk angin pagi kami menikmati sarapan dengan menu nasi goreng. Kemudian kami berjalan-jalan sejenak menyusuri pantainya yang indah.

Sesudah Zuhur kami meninggalkan Pulo Cinta, dan langsung menuju ke kota Gorontalo dengan menumpang mobil yang kami sewa dengan bantuan petugas hotel.

Di tengah perjalanan, driver-nya menawarkan makan siang khas Gorontalo kepada kami, lalu menghentikan mobilnya di rumah makan Pilitode yang terletak di Jalan Trans Sulawesi. Menurutnya masakan di rumah makan ini patut dicoba.

Dalam sekejap hidangan Ayam Iloni dan Ayam Santan yang kami pesan telah tersaji. Rasa masakannya memang lezat, dengan aroma bumbunya yang kuat. Ada juga Nasi Milu yang terbuat dari campuran beras dan jagung yang tak kalah lezatnya.

Pantaslah, di sepanjang perjalanan tadi banyak terlihat ladang tanaman jagung, baik di kiri maupun kanan jalan. Berbeda dengan di pulau Jawa yang lebih banyak tanaman padi di sawah.

Menjelang Asar kami baru tiba di Gorontalo. Kami menginap di sebuah hotel syari’ah yang terletak di daerah Limboto. Seusai mandi dan shalat kami langsung beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Sebuah pengalaman berkesan di Pulo Cinta akhirnya telah kami rasakan. Di mana kami tidur di bawah langit berbintang dan di antara deburan ombak dari lautan yang menggelora. Alhamdulillah…

Bukan Sembarang Spa

Standar

Sebelumnya, yang kutahu dari sebuah salon kecantikan adalah suatu tempat khusus untuk merias wajah dan menggunting rambut. Dulu ketika aku masih kecil, biasanya Mami mengajakku ke sana saat rambutku sudah mulai panjang dan tak rapi. Di salon itulah rambutku digunting dan dirapikan.

Ketika ada acara pernikahan salah seorang anggota keluarga, kadang-kadang Mami dan tanteku juga merias wajahnya di salon. Penampilan mereka menjadi tampak lebih menarik seusai dirias. Pernah juga aku dan adik perempuanku dirias tipis-tipis saat hadir ke acara pernikahan. Begitu pun ketika aku wisuda sarjana. Selain mengenakan kebaya, wajahku juga dirias di salon agar tampil beda.

Tapi ketika sudah bekerja di Jakarta, aku mulai mengenal istilah creambath, facial dan lulur di salon dari pembicaraan teman-temanku di kantor. Hanya saja aku belum pernah mencobanya sama sekali.

Hingga ketika menjelang hari pernikahan, barulah aku merasakan seperti apa facial dan creambath di salon . Kebetulan saat itu memang perawatan tersebut menjadi bagian dari paket perawatan pra nikah yang kuambil. Hmm, ternyata enak juga ya… Rasanya benar-benar dirawat dan dimanjakan bagai seorang ratu.

Tapi setelah menikah dan melahirkan anak, aku tak pernah facial dan creambath lagi. Kalau ke salon, hanya sekedar untuk potong rambut saja. Atau untuk merias wajah bila ada acara pernikahan di keluarga.

Hingga ketika Salma telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja, tiba-tiba terbersit dalam pikiranku, ingin mengajaknya perawatan lulur di salon untuk membantu menghilangkan bekas cacar airnya.

Kebetulan waktu itu di Cirebon ada salon yang baru saja dibuka dan menyediakan paket-paket perawatan wanita yang harganya terjangkau. Aku langsung mengajak Salma ke sana. Alhamdulillah, kami cocok sehingga sebulan sekali datang untuk perawatan di sana.

Ada beberapa terapis yang baik pelayanannya sehingga setiap kali akan perawatan, kami menghubunginya sebelumnya. Kami sempat menjadi pelanggan setia di sana.

Namun sayang ketika salon tersebut semakin ramai, ada beberapa hal yang membuat kami malah merasa semakin tidak nyaman saat perawatan. Seperti tidak adanya ruang khusus muslimah ketika cuci rambut, terapis langganan kami sudah resign dan area parkirnya terlalu sempit.

Terpaksa kami mencari salon/spa lain yang terpisah perawatannya antara pria dan wanita. Sebetulnya ada beberapa spa yang cocok. Tapi tidak bertahan lama karena tempat perawatannya tak terpisah sepenuhnya antara pria dan wanita.

Suatu hari ketika kami lewat jalan Drajat, Cirebon kami menemukan sebuah salon muslimah. Namanya Moza Salon Muslimah. Mobilku langsung kuparkir di area parkir yang berada pada halaman depannya. Area parkirnya cukup luas.

Di pintu masuknya yang bergambar wanita berbusana muslimah, tertera tulisan, “Pria dilarang masuk. ”

Dari kesan pertama tersebut, aku sudah mulai tertarik dengan salon ini. Apalagi ketika staf di front office menyambut kami dengan ramah. Suasana ruangan juga rapi dan bersih. Di beberapa sudut ruangan tampak berhiaskan bunga-bunga kecil bertema vintage. Ketika baru pertama kali mencoba refleksi saja kami sudah merasa cocok. Sebab terapisnya terampil dan pelayanannya memuaskan.

Akhirnya kami menjadi pelanggan setia di sana. Bisa dibilang hampir setiap bulan kami datang ke sana. Kadang untuk refleksi, kadang beauty massage, kadang hair spa, kadang totok wajah. Semua perawatannya baik, cocok dan bisa menghilangkan keletihan. Sesudah perawatan badan jadi terasa lebih segar kembali.

Beberapa poin yang membuat salon ini berbeda dari salon kebanyakan dan membuat kami cocok adalah sebagai berikut:

1. Pria dilarang masuk sama sekali sejak dari depan pintu masuk.
2. Semua terapisnya muslimah dan berkerudung/berbusana muslimah.
3. Setiap bulan ada pilihan paket perawatan menarik yang bisa menghemat pengeluaran.
4. Kadang diberikan voucher free perawatan atau senam di sanggar milik owner salonnya.
5. Sebelum dimulai perawatan, para terapis selalu mengajak para customernya untuk membaca Basmallah. Lalu sesudah selesai perawatan membaca Hamdallah.
6. Pada saat perawatan refleksi, beauty massage dan hair spa ada tambahan terapi hot stone.
7. Ada sajian camilan ringan yang lezat dan minuman teh/jahe panas bagi setiap customer seusai perawatan.

Sampai ketika Salma sudah kuliah pun bila sedang libur kuliahnya, ia masih suka mengajakku untuk perawatan di sana. Di Bandung juga sebetulnya ada cabang Moza Salon Muslimah. Tapi yang di Cirebon jauh lebih nyaman, pelayanannya lebih memuaskan dan lebih bersih.

Akhir bulan Agustus yang lalu ada pesan masuk dari admin Moza Salon Muslimah ke Whatsapp-ku.

Assalamualaikum ibu Irma .. Apa kabar ? Semoga sehat2 selalu..
Kami mengundang untuk hadir di acara silaturahmi member moz5 salon cirebon (beauteatime) 2019.
Untuk rules nya bisa di lihat di undangan yg kami sertakan..
Kegiatan beauteatime ini diantaranya sharing antar member, dan mini talkshow..dan juga ada give menarik yg bisa di bawa pulang setelah acara selesai..
Untuk konfirmasi kehadiran bisa kami tunggu sampai tanggal 5 september.
Terimakasih ๐Ÿ˜˜

Rupanya aku diundang ke acara Beautea Time yang diadakan oleh Moza Salon Muslimah Cirebon dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke 3. Yang diundang adalah para member setianya. Kebetulan aku memang sudah menjadi member di sana selama kira-kira lebih dari 2 tahun.

Saat hari pelaksanaan acara tiba, aku datang 15 menit lebih awal. Semula yang datang hanya 1 hingga 3 orang saja. Lama kelamaan bertambah banyak. Kami jadi bisa saling berkenalan satu sama lain. Suasana di ruang salon jadi berubah seperti suasana pesta. Terlihat hiasan dekorasi pada dinding dan deretan aneka kue.

Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan Moza Salon Muslimah dari Pusat dan pemilik salon ini yang cabang Cirebon. Mereka memaparkan tentang jumlah cabangnya yang kini sudah ada sebanyak 26 outlet dan tersebar di seluruh Indonesia hingga rencana program barunya.

Seperti:

– Setiap hari Jumat minggu ke 3 gunting rambut suka-suka (bayar bebas)

– Agenda collect stamp dengan minimum transaksi Rp150.000 akan mendapat 1 stempel. Bila transaksi mencapai Rp400.000 maka akan mendapat 2 stempel.
10 stempel: free hair spa
12 stempel: free totok wajah

– Selanjutnya akan ada Mozbile, yaitu aplikasi online bisa panggil terapis, bisa juga booking perawatan sebelumnya.

– Nanti juga ada Program Office to Office, di mana terapis akan datang ke kantor-kantor untuk membuka beauty class, hijab class dan lain-lain.

Di akhir acara ada sesi tanya jawab yang berhadiah produk kecantikan Moza Salon Muslimah. Aku juga sempat bertanya sehingga mendapat produk sebotol cologne ukuran kecil.

Saat acara berakhir, semua member diberi oleh-oleh produk perawatan rambut dari Moza. Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. Alhamdulillah, aku bersyukur telah menjadi member dan pelanggan setia Moza Salon Muslimah Cirebon.

Terima kasih Moza Salon Muslimah atas pelayanannya yang memuaskan selama ini. Semoga usahanya semakin sukses dan berkah. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

Investasi Terbaik

Standar

Kehidupan ini bagaikan roda yang terus berputar. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Kadang sukses, di lain waktu gagal.

Maka tak heran bila semakin banyak orang yang mempersiapkan diri dari berbagai kemungkinan yang terburuk dalam hidupnya dengan berbagai macam cara agar terhindar dari kondisi yang tidak diharapkan.

Di antara persiapan yang bisa dilakukan adalah dengan berinvestasi. Bila berhubungan dengan persiapan dan cadangan harta, maka investasi yang biasanya dilakukan adalah dengan menabung, asuransi, membeli tanah, rumah atau emas.

Tapi di luar investasi yang berbentuk harta, sebetulnya ada investasi lain yang tidak kalah penting. Yaitu :

1. Investasi ilmu
2. Investasi kesehatan
3. Investasi kebaikan

Baik, mari kita bahaa satu persatu ya…

1. Investasi Ilmu

Ketika seseorang mengisi masa mudanya dengan rajin dan tekun belajar dalam mempelajari sebuah ilmu pengetahuan atau ketrampilan, maka ia adalah seorang yang beruntung. Sebab sesungguhnya ia tengah menanam investasi ilmu yang kelak akan dituainya di masa depan.

Bisa jadi di saat ia tengah bersusah payah belajar, sebagian temannya malah bermalas-malasan. Sebagian lagi memilih berfoya-foya menghamburkan uang. Atau memilih menghabiskan waktunya untuk bermain game sampai lupa waktu.

Ketika masa demi masa telah berlalu dan si pembelajar yang rajin tadi tengah menuai kesuksesannya, serta menikmati kebahagiaan hidup sebagai buah dari ketekunannya dalam belajar, pada saat itulah teman-temannya yang dulu bermalas-malasan akhirnya merasakan penyesalan yang mendalam.

Dulu mereka terburu ingin segera menuai hasil dan menikmati kesenangan secara instan, sehingga malas belajar dan enggan berusaha secara maksimal. Bahkan ada yang melakukan cara-cara yang curang demi meraih harapannya secara instan tanpa harus bersusah payah. Akibat dari ketidaksabaran dalam menjalani kehidupan itulah, akhirnya mereka harus menanggung penyesalan tersebut.

Coba saja dulu mereka mau berinvestasi ilmu dengan belajar sungguh-sungguh bersama si pembelajar tadi, pasti mereka pada saatnya juga akan menikmati hasil dari kesungguhan dalam belajarnya tersebut.

Beberapa contoh dari investasi ilmu dan hasilnya adalah sebagai berikut:

– Rajin belajar sejak kecil –> sukses masuk di perguruan tinggi dan jurusan yang diharapkannya.
– Aktif dalam mengikuti kegiatan yang menambah wawasan, seperti seminar, workshop –> mendapatkan ilmu, relasi dan terasah kemampuannya –> sukses dalam pekerjaannya
– Gemar membaca buku –> memperluas wawasan –> bekal penting untuk meraih kesuksesan sesuai bidangnya masing-masing.

2. Investasi Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu kenikmatan dari Allah Swt. yang sering dilalaikan orang. Banyak orang ketika masih muda melalaikan kesehatannya dengan melakukan berbagai hal yang menurutnya nikmat dan mengasyikkannya.

Seperti merokok, mengonsumsi makanan/minuman yang berkadar gula, garam dan lemak yang tinggi secara berlebihan, malas berolah raga, sering begadang, melakukan pergaulan bebas, dan lain-lain.

Tanpa sadar, apa yang dilakukannya itu secara perlahan tapi pasti tengah menggerogoti kesehatannya sendiri. Kenikmatannya hanya sesaat, namun berakibat pada penderitaan yang berkepanjangan. Itulah sebuah kerugian yang sesungguhnya.

Mungkin sebagian orang ada yang menganggap aneh terhadap mereka yang berhati – hati dalam menjaga kesehatannya. Padahal justru mereka patut diteladani karena apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah upayanya dalam berinvestasi kesehatan. Dan investasi kesehatan memang tak selalu berupa asuransi kesehatan atau BPJS Kesehatan.

Ada investasi yang jauh lebih penting, yaitu dengan membiasakan hidup sehat. Seperti melindungi diri dari asap rokok dan polusi udara, menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, serta selalu mencuci tangannya sebelum makan, mampu mengendalikan nafsu makannya. Tidak berlebihan namun juga tidak kurang. Pandai memilih makanan yang bergizi. Pola hidupnya teratur dan seimbang antara waktu bekerja dan beristirahat. Antara waktu ibadah, olah raga dan rekreasi. Antara waktu bersama keluarga dan teman.

Investasi kesehatan di masa muda tersebut akan menghasilkan fisik dan mental yang tetap sehat dan kuat tatkala tiba masa tuanya dibandingkan dengan teman seusianya yang lalai dalam kesehatan. Ketika memasuki masa tua ia akan menjadi lebih bugar dan jarang sakit.

Keuntungannya, selain lebih awet muda dan panjang umur, ia bisa lebih banyak bekerja maupun berkarya dengan maksimal tanpa gangguan kesehatan. Dan ia juga akan mempunyai waktu lebih lama dalam membersamai anak dan cucunya tanpa merepotkan mereka.

3. Investasi Kebaikan

Investasi yang ketiga ini adalah sebuah Investasi yang berhubungan dengan sikap dan perilaku kita, baik dalam beribadah kepada Allah Swt. maupun terhadap orang – orang di sekitar kita, baik itu saudara, keluarga, tetangga atau masyarakat luas.

Apabila ibadah, sikap dan perilaku kita baik, maka Allah Swt. akan mengembalikan semua kebaikan tersebut kepada kita. Begitu pun sebaliknya. Hidup adalah pilihan. Kita mau memilih panen kebaikan kelak di masa depan, baik dunia maupun akhirat, atau sebaliknya?

Nah investasi kebaikan ini bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Seperti mengucap salam ketika saling bertemu. Saling mendoakan keselamatan dan kesuksesan. Saling menasihati dalam kebaikan. Saling bersilaturahmi dan saling mendukung. Ketika melakukan kesalahan tidak gengsi untuk minta maaf.

Hasil dari investasi kebaikan ini kelak juga luar biasa lho… Allah Swt. akan melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Siapa pun pasti mendambakannya bukan? Nah mulai dari sekarang bersegeralah melakukan investasi kebaikan.

Yuk kita investasikan ilmu, kesehatan dan amal baik kita dengan maksimal. Terutama bagi yang masih berusia muda. Agar tak merugi di masa depan dan tak ada penyesalan di kemudian hari.

Sebagai pengingat, mari kita renungkan ayat-ayat Al Quran di bawah ini:

ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู
Demi masa.”

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูฐู†ูŽ ู„ูŽููู‰ ุฎูุณู’ุฑู

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian,”

ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุนูŽู…ูู„ููˆุง ุงู„ุตู‘ูฐู„ูุญูฐุชู ูˆูŽุชูŽูˆูŽุงุตูŽูˆู’ุง ุจูุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ูˆูŽุชูŽูˆูŽุงุตูŽูˆู’ุง ุจูุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

(QS. Al-‘Asr 103: Ayat 1 – 3)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Simak juga sabda Rasulullah Saw. (dari Ibnu โ€˜Abbas ra):

ุงูุบู’ุชูŽู†ูู…ู’ ุฎูŽู…ู’ุณู‹ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฎูŽู…ู’ุณู : ุดูŽุจูŽุงุจูŽูƒูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู‡ูŽุฑูŽู…ููƒูŽ ูˆูŽ ุตูุญู‘ูŽุชูŽูƒูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุณูŽู‚ูŽู…ููƒูŽ ูˆูŽ ุบูู†ูŽุงูƒูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ููŽู‚ู’ุฑููƒูŽ ูˆูŽ ููŽุฑูŽุงุบูŽูƒูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุดูŽุบู’ู„ููƒูŽ ูˆูŽ ุญูŽูŠูŽุงุชูŽูƒูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู…ูŽูˆู’ุชููƒูŽ

โ€œManfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.โ€

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sumber:
https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html

Sumber gambar: http://www.pinterest.com

Universitas Kehidupan

Standar

Liburan kuliah yang panjang tak hanya menjadi kesempatan terbaik bagi Salma (putriku) untuk menuangkan hobi menggambar sepuas-puasnya ke dalam beberapa karya ilustrasi atau sekedar coretan imajinasinya.

Liburan ini juga menjadi saat yang paling kunantikan. Karena pada masa itulah kami bisa menikmati quality time bersama. Tak setiap saat aku bisa menikmati masa yang menyenangkan ini ketika Salma sedang kuliah.

Mengobrol berdua bersama Salma sambil makan sashimi kesukaannya atau ‘kruntelan‘ bersamanya di kasur sambil mengelus-elus telapak tangannya (seperti kesukaannya semenjak kecil), sudah cukup menyenangkan hati kami.

Biasanya tema yang diobrolin seputar teman-teman kuliahnya dengan berbagai sifat dan keunikannya. Atau tentang kesibukannya selama kuliah dengan tugasnya yang bejibun. Juga tentang proyek-proyek yang sedang diambilnya.

Tapi malam itu rupanya Salma ingin minta waktu khusus denganku. Ia ingin mengobrol sesuatu yang lebih serius bersamaku. Aku menyambutnya dengan baik. Dengan senang hati kupersiapkan waktuku untuk menyimak semua curhat dan obrolannya.

Sejenak kulihat wajahnya yang tampak murung. Seperti memikirkan sesuatu.

S: “Ma, maaf ya Ma… Selama kuliah ini saya belum punya sesuatu yang bisa membanggakan Mama Papa. Beda banget sama waktu dulu pas masih SMP atau SMA. Dulu kan sering menang lomba dan di sekolah juga masih bisa masuk 5 besar. Tapi sekarang… Boro-boro punya prestasi, Ma… ”

I: โ€œHmmm, Mama dengar dari seorang Psikolog di ITB memang mayoritas seperti itulah yang sering dikeluhkan oleh para mahasiswanya. Dulu di sekolahnya masing-masing mereka punya banyak prestasi.

Setelah masuk ITB dan bertemu dengan teman-teman barunya yang juga memiliki banyak prestasi di sekolah sebelumnya, prestasi mereka jadi seperti tenggelam. Itulah yang namanya di atas langit ada langit.

Dengan kondisi semacam ini bagaimana pun tetap ada efek positifnya. Karena malah bisa membuat kita jadi lebih memahami, bagaimana rasanya ketika kita sedang tidak berada pada posisi di atas/yang diharapkan. Sehingga akan mencegah diri dari keangkuhan dan meremehkan orang lain.

Jadi buat Mama nggak masalah kok, Salma… Ada pembelajaran berharga di dalamnya. Yang penting Salma tetap rajin belajar dan survive. Nanti ada saatnya Salma bisa kembali meraih prestasi.

Di luar itu semua, yang membanggakan bagi Mama dan Papa sebetulnya tak selalu berupa prestasi dengan menang lomba atau rangking di sekolah.

Ketika Salma mampu hidup mandiri, sering kontak Mama Papa, bisa menjaga diri, tetap rajin shalat dan baca Al Quran… Bagi Mama itu sudah merupakan pencapaian Salma yang sangat membanggakan.

Lagipula kan Salma sudah banyak membantu Mama, sering bikin ilustrasi di buku-buku Mama. Bahkan bikin logo Rumah Belajar Cirebon yang sekarang jadi branding-nya.โ€
Senyum Salma mulai merekah.

S: “Oh gitu ya…Terima kasih Ma… Tapi kenapa ya saya belakangan ini jadi cenderung apatis?”

I: โ€œApatis itu biasanya timbul karena merasa dirinya tak dianggap dalam suatu komunitas sehingga cenderung menarik diri. Padahal bisa jadi perasaan itu timbul karena kurang percaya diri. โ€œ

S: “Iya Ma… Saya memang belakangan merasa kurang percaya diri. Saya lihat teman-teman kuliah saya itu pada bagus komunikasinya. Pada punya prestasi. Yang perempuan juga pada cantik dan cerdas. Sedangkan saya? Sudah jerawatan, kaku komunikasinya, belum punya prestasi lagi.”

Salma murung lagi. Aku memeluk Salma.

I: “Hayo Salma. Jangan berkata seperti itu lagi ya… Salma harus banyak bersyukur karena sudah berhasil melewati 4 semester di ITB. Padahal waktu itu sempat terpikir salah jurusan kan…. Tapi terbukti Salma bisa tangguh dan pencapaiannya pun masih terbilang bagus.”

“Salma juga cantik kok… Masalah jerawat, nanti juga bisa hilang. Masalah kekakuan dalam berkomunikasi, dengan sering bertemu banyak orang , nanti Salma akan luwes bergaul dengan sendirinya.”

Jadi sekarang semangat lagi ya Salma… Karena memang tak ada lagi yang perlu Salma resahkan dari diri Salma. Pada dasarnya memang Salma tidak ada masalah dan semua baik-baik saja.

Salma mengangguk dengan bola mata yang berbinar. Senyumnya pun kembali mengembang.

I: “Nah, Salma… Sebetulnya sekarang Salma sedang menempuh dua perkuliahan, lho… Yang pertama kuliah di ITB dan yang kedua kuliah di Universitas Kehidupan.”

Salma tampak menyimak dengan serius.

“Kalau materi perkuliahan di ITB kan Salma sudah paham ya…
Nah kalau materi penting yang perlu Salma kuasai dari Universitas Kehidupan adalah sebagai berikut:

1. Perbanyak mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan menjaga shalat, sering berzikir dan membaca Al Qur’an. Kalau ada masalah, curhatlah pada-Nya terutama di sepertiga malam. Mohon ampun dulu atas semua dosa yang pernah dilakukan. Tumpahkan semua masalah yang ada. Dan mohon pertolongan-Nya.

Setelah itu maksimalkan baktimu kepada kedua orang tua agar setiap langkahmu mendapat berkah.

2. Selalu ucapkan kata-kata yang positif. Agar aura dan semua hal yang positif melingkupimu. Biasakan selalu optimis dan tersenyum dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Agar dunia pun selalu tersenyum padamu.

3. Cerdas dalam mengendalikan emosi dan nafsu. Sehingga dalam segala kondisi tidak mudah terpengaruh godaan apapun yang bisa menggelincirkanmu dalam dosa dan maksiat.

4. Sering-seringlah berbuat baik kepada siapa pun. Maka kebaikan akan kembali kepadamu.

5. Jangan apatis. Jadilah orang yang punya rasa empati meskipun saat itu tak ada orang yang mempedulikanmu.

6. Seburuk apa pun wajah, bila memiliki kecantikan batin, maka kecantikan batin inilah yang akan lebih terpancar daripada sekedar cantik secara fisik.

Oke Salma… Mama doakan semoga sukses ya kuliah di ITB dan Universitas Kehidupannya. Semoga Salma juga sehat dan bahagia selalu.

Barakallah Salma sayangku… “
Aamiin ya rabbal’aalamiin

Kulihat Salma sedang sibuk merangkum apa yang tadi telah kusampaikan. Lalu dijadikan wallpaper di smartphone-nya sebagai pengingat.

Tiba-tiba Salma beranjak dari duduknya lalu bergegas keluar dari kamar meninggalkanku tanpa berkata apa pun.

Aku terkejut melihat reaksinya yang tiba-tiba itu.

โ€œLho, mau ke mana Salma?โ€

Aku pun beranjak dari kasur hangatnya Salma, lalu keluar dari kamar, mencari Salma.

โ€œSalma, ada di mana? Lagi apa nih?โ€

โ€œSebentar Ma…, โ€œ terdengar suara Salma dari arah dapur.

Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan gelas. Belum sempat aku menyusulnya ke dapur, Salma sudah muncul sambil membawa segelas lemon tea hangat, lengkap dengan biskuit Marie.

โ€œWow, terima kasih sayangku… โ€œ

โ€œSama-sama Ma…, ini sebagai tanda terima kasih buat Mama yang sudah kasih motivasi ke sayaโ€

Meleleh rasanya hati ini jadinya.

Lalu kami kembali ke kamar Salma. Sambil menemaninya tidur, perlahan kuseruput lemon tea buatan Salma itu.

Rasanya tak hanya menghangatkan tenggorokan, tapi juga hatiku. Apalagi ketika malam itu kulihat Salma tidur pulas dengan wajah tanpa beban. Kuelus rambutnya dan kucium pipinya.

Ya Allah jaga dan lindungilah selalu putriku ini di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Aamiin ya Allah…

Filosofi Sari Lemon ๐Ÿ‹

Standar

Bismillahirrahmaanirrahiim… Dalam tulisan pertama di pertengahan bulan Oktober ini, izinkan aku bercerita tentang sebuah pencapaian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Sebelumnya, aku hanyalah seorang ibu sederhana yang belum punya banyak pengalaman dalam hal direct selling, selain menjual buku. Apalagi sejak kecil aku memang kurang pede di urusan begini.

Semua ini berawal dari ketika aku membaca status di FB Mas Buyut (Jendral OSB) yang menawarkan peluang menjadi reseller NutriLemon dengan cara menghubungi sebuah nomor WA (Nomor WA Mas Baim/Juragan NutriLemon).

Setelah mendapatkan informasi seputar NutriLemon darinya, aku lalu mencoba memesan 4 botol NutriLemon (NL) saja dulu untuk dijual secara eceran di Rumah Belajar Cirebon. Pesanan pertama tersebut tepatnya di tanggal 29 Agustus 2019. Bila tak laku terjual, toh bisa kukonsumsi sendiri karena kebetulan aku suka minum sari lemon, begitu pikirku saat itu.

Dari 4 botol itu, yang 1 botol kukonsumsi sendiri, dan yang 3 botol lainnya kupajang di Rumah Belajar Cirebon, barangkali saja ada yang berminat membelinya.

Dalam waktu kira-kira 2 minggu, 3 botol NL tersebut laku terjual. Aku menambah pesanan lagi 10 botol NL pada tanggal 15 September 2019. Alhamdulillah perlahan tapi pasti NL-nya kembali laku terjual.

Lalu 4 hari kemudian aku memesan 36 botol lagi untuk menggenapkan pesanan sebelumnya sehingga menjadi total 50 botol sesudah dimotivasi oleh Mas Baim untuk meng-upgrade dari posisi reseller menjadi grosir dengan minimal pembelanjaan (saat itu) 50 botol.

Hingga suatu hari ‘keajaiban’ pun datang. Tepatnya ketika diadakan acara seminar “5 Formula Bisnis” pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 di Rumah Belajar Cirebon yang diisi oleh Mas Ardi Gunawan (Founder OSB)

Sore hari sebelum acara seminar dimulai, aku ‘dipaksa’ oleh Mas Ardi untuk memesan 100 botol NL ke Pusat. Aku sempat ragu dan pesimis. Apa bisa laku terjual NL sebanyak itu? Sedangkan yang 4 botol saja baru laku terjual setelah 2 minggu.

Tapi akhirnya aku nekat memesannya. Mas Ardi meminta supaya malam itu juga kiriman NL tersebut sudah sampai di Cirebon agar bisa ditawarkan ke peserta seminar. Sehingga digunakanlah bus malam sebagai sarana pengirimannya.

Saat menjelang dini hari kiriman NL pun sampai di Cirebon dan langsung diamankan oleh Mas Ardi yang sudah tiba lebih dahulu di Cirebon. Saat itu Mas Ardi memang sedang menjenguk kedua orang tuanya yang tinggal di Kuningan, Cirebon.

Acara seminar yang direncanakan secara mendadak (2 hari sebelumnya) pun alhamdulillah berlangsung sukses dengan dihadiri sekitar 61 orang. Menjelang berakhirnya acara, tiba-tiba aku ‘ditodong’ oleh Mas Ardi di depan seluruh peserta seminar.

“Bu Irma siap ya menjadi stokis NutriLemon dan OSB untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya?”

Saat itu sebetulnya aku bingung mau jawab apa? Karena yang terbayang di benakku, berapa banyakkah modal yang harus kupersiapkan bila nanti menjadi stokis? Belum lagi kekhawatiran bila stok barang berlebih pun bila kurang. Tapi di sisi lain aku juga merasa senang karena mendapat kepercayaan dari Mas Ardi. Sehingga aku langsung menjawab.

“Ya insya Allah saya siap Mas Ardi”

Lalu Mas Ardi menawarkan peluang berbisnis NL dan OSB kepada para peserta. Sebagian peserta mengacungkan tangannya tanda berminat.

Alhamdulillah, pada hari itu juga 50 botol NL laku terjual dan sebagian peserta bergabung menjadi mitra. Keesokan harinya ada lagi yang memborong 50 botol NL sehingga 100 botol NL pun seketika habis terjual. Pantaslah bila dikatakan NL ini seperti berlian yang banyak diperebutkan orang.

Sejak launching-nya pada tanggal 25 Agustus 2019, NL menjadi produk yang banyak dicari orang. Aku bisa menyaksikan sendiri bagaimana para grosir dari berbagai kota di Indonesia sampai berebut memesannya dalam jumlah banyak. Apalagi persediaan buah lemon dari para petani lemonnya pun semakin terbatas. Sehingga otomatis persedian NL di produsennya pun kian menipis.

Maka Mas Ardi sampai menyarankanku untuk memesan 200 botol NL lagi agar stok di wilayah Cirebon selalu tersedia. Sehingga sehari setelah acara seminar aku langsung memesan NL sejumlah itu.

Dan…, memang benar, para mitra secara bergantian memesan NL kembali (repeat order). Di akhir bulan September, aku kembali memesan NL sebanyak 150 botol sebagai antisipasi barangkali ada peserta yang berminat membelinya saat acara Kajian Magnet Rezeki. Acara ini berlangsung pada tanggal 1 Oktober 2019 dan diisi oleh Mas Ardi Gunawan dan Kang Tendi Murti (Founder KMO).

Di luar prediksi, ternyata sesudah acara kajian tak banyak yang membeli NL seperti saat acara seminar sebelumnya, sehingga stok NL sempat mengalami kelebihan selama beberapa minggu. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagiku agar berikutnya bila mau menambah pesanan NL sebaiknya ketika stok sudah menipis saja.

Meskipun begitu ada berita yang menggembirakan. Aku melihat ada foto dan namaku tercantum di poster pengumuman Top Leader NutriLemon (yang dishare di FB Mbak Siti Khodijah). Mbak Siti Khodijah juga salah seorang grosir yang masuk 10 besar Top Leader NutriLemon.

Masya Allah… Sebuah pencapaian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Saat dimasukkan ke grup grosir utama, jujur saja, aku sempat merasa minder, sekaligus kagum dan salut kepada para grosir lain yang penjualan NL- nya bisa mencapai 500 hingga 1000 botol.

Berkat kemudahan yang Allah Swt. berikan, serta kerjasama yang baik dengan staf, guru-guru Rumah Belajar Cirebon dan semua yang telah bergabung menjadi mitra, kini aku pun berhasil masuk ke posisi di antara mereka. Jazakumullah khairan katsira untuk semuanya.

Sempat tak percaya dengan pencapaian ini, sampai kuhitung ulang total pemesanan NL sejak awal hingga akhir bulan lalu. Ternyata memang betul sudah mencapai 530 botol (karena ada tambahan 30 botol di akhir bulan). Dan dalam waktu kira-kira 3 minggu, yang sudah berhasil terjual sebanyak 406 botol. Alhamdulillah

Kebahagiaan lain yang kurasakan adalah melalui wasilah NL ini tak hanya aku yang merasakan manfaat finansial dan kesehatannya. Staf, guru-guru Rumah Belajar Cirebon dan para mitra di wilayah kota Cirebon pun ikut merasakannya. Alhamdulillah

Bagaimana pun aku menyadari bahwa roda kehidupan itu terus berputar. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Begitu pun dengan suka duka menjadi seorang stokis. Sehingga aku harus siap dengan naik turunnya omset penjualan NL dan OSB. Yang penting aku tidak boleh menyerah dan berputus asa.

Aku bersyukur, bahwa di balik pencapaian ini, aku mendapatkan banyak sekali hikmah yang membuat pikiranku terbuka, di antaranya:

1. Tak ada kata mustahil bila Allah Swt. sudah berkehendak.

2. Berbakti kepada orang tua akan membawa berkah dalam kehidupan.

3. Doa orang tua, khususnya doa seorang Ibu adalah doa yang makbul.

4. Kita akan mengalami percepatan dalam bisnis dan karir bila kita:
– Bergaul dengan orang-orang yang sukses dan memiliki aura positif
– Bermitra/bekerjasama dengan orang-orang yang sukses.
– Mengikuti pola hidup/ kebiasaan orang-orang yang sukses dengan menjadi karyawannya.

5. Bila kita hanya bekerja sendiri, maka hasil yang diperoleh tak akan semaksimal bila kita bekerjasama dengan orang lain.

6. Luruskan niat saat bekerja. Tak hanya untuk meraih keuntungan pribadi, namun yang utama adalah untuk mencari keridhaan Allah Swt. dan untuk kebermanfaatan bersama.

7. Carilah rezeki dari sumber dan cara yang halal agar rezeki yang telah diperoleh diberkahi Allah Swt dan membawa ketenangan dalam keluarga.

8. Ada kalanya kita harus dipaksa untuk melakukan suatu hal yang di luar kebiasaan kita untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik.

9. Di balik rasa ‘kecut-kecut’ menyegarkannya sari lemon, ada sebuah filosofi yang bisa kita renungkan.

Acapkali kita harus melalui suatu kondisi yang tak diharapkan, yang membuat hati dan senyum menjadikecut’.

Tetapi bila kita sabar, keajaiban akan datang, sehingga hati dan senyum ‘kecut’ pun kan berganti senyum yang segar ‘sumringah‘. Sesegar sari lemon. ๐Ÿ‹