Menikmati Pesona Alam Pulo Cinta

Standar

Pulau Sulawesi yang sejak dulu kukenal sebagai pulau dengan bentuknya yang menyerupai huruf K, akhirnya kusinggahi bersama suami sekitar enam minggu sesudah Lebaran di tahun lalu.

Sebenarnya keberangkatan kami kali ini bisa dibilang cukup mendadak karena direncanakannya kurang dari satu minggu. Rencana ke Sulawesi ini baru terpikirkan oleh suami menjelang keberangkatan Salma untuk study tour ke Tokyo, Jepang.

Menurut suami, sembari mengantar Salma ke bandara Soekarno Hatta Jakarta dan menunggunya pulang, kami berdua bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk berwisata ke pulau Sulawesi. Waktunya juga bisa diatur. Jadi nanti saat Salma pulang, kami juga sudah pulang, sehingga bisa bertemu kembali di bandara Soekarno Hatta pada hari yang sama.

Kali ini suamiku sengaja memilih kota Gorontalo sebagai destinasi wisatanya karena baru saja mendapatkan informasi tentang tempat-tempat wisata yang menarik di sana. Selain itu nanti kami juga bisa sekaligus bersilaturahmi ke rumah Pak AR Muhammad dan istrinya, Bu Hera (teman satu rombongan Haji tahun lalu) yang tinggal di kota tersebut.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah Salma terbang ke Tokyo tengah malam, aku dan suami terbang ke Gorontalo dini harinya. Perjalanan dari Jakarta ke Gorontalo setelah transit sejenak di Bandara Sultan Hasanudin (Makasar) ini memakan waktu hampir lima jam.

Sesampainya di Bandara Jalaluddin, Gorontalo, kami mampir makan siang sebentar di Rumah Makan Cita Rasa “Jampang II” yang kami temukan di tengah perjalanan. Menu yang kami pesan adalah Sup Ayam, Nasi Ayam Rica-Rica dan Telur Dadar. Meskipun menunya sederhana, tapi rasanya mantap.

Setelah itu kami langsung menuju ke Pulo Cinta yang terletak di kabupaten Boaleamo, sekitar 100 kilometer dari kota Gorontalo. Untuk menuju ke pulau mungil yang terletak di Teluk Tomini ini, kami harus naik perahu diesel.

Angin laut berembus lembut menerpa wajah, mengiringi perjalanan kami. Ombak yang bergelombang terasa mengayun perahu yang kami tumpangi. Sejauh mata kami memandang, yang tampak lautan berwarna biru. Dari kejauhan samar-samar mulai terlihat bangunan-bangunan resor Pulo Cinta yang terbuat dari bambu.

Akhirnya sampailah kami di Pulo Cinta. Perahu menepi dan kami pun turun. Setelah mengurus administrasi penginapan, petugas mengantar kami ke salah satu resornya. Rencananya kami menginap semalam di sini karena ingin merasakan suasana bermalam di tengah lautan.

Pemandangan di sini memang sangat elok dan eksotik. Pulaunya berbentuk hati dengan pasir yang berwarna putih berpadu dengan lautnya yang berwarna biru jernih. Pulau ini dikelilingi dengan beberapa resor terapung dengan suasana seperti di Maldives. Mungkin karena ini ya pulau ini disebut Pulo Cinta?

Di Pulo Cinta ini memang terlihat beberapa pasang pengantin muda yang mungkin sedang berbulan madu dan menginap di sini. Ada yang sedang mengambil foto pasangannya. Ada yang sedang berenang bersama. Ada juga yang sedang duduk berdua menikmati keindahan panorama laut.

Suasana resor di sini memang sangat cocok sebagai tempat berbulan madunya para pengantin. Apalagi ada fasilitas diving dan snorkeling di sini. Serta didukung pesona alamnya yang cantik.

Ternyata ada legenda menarik di Pulo Cinta ini. Konon ada sebuah kisah cinta yang bersemi di antara seorang pangeran muda dari Gorontalo dengan seorang gadis cantik putri pedagang dari Belanda. Padahal saat itu tengah berkecamuk peperangan antara penduduk setempat dengan penjajah Belanda.

Untuk menyelamatkan diri dari suasana perang yang membahayakan dan demi mempertahankan cinta terlarang mereka, sepasang kekasih tersebut pergi mencari suatu tempat yang tepat.

Hingga akhirnya ditemukanlah Pulo Cinta ini sebagai tempat persembunyian mereka. Di bawah taburan bintang di langit saat malam hari dan di antara laut lepas berwarna biru di siang hari, mereka menemukan kebahagiaan dengan membangun cinta mereka. (sumber: https://www.pulocinta.com/)

Hmm… Sebuah kisah cinta yang menarik ya. Tapi harus dipahami dengan hati-hati agar tidak disalahartikan oleh para remaja khususnya yang sedang dimabuk cinta. Karena bagi kita, khususnya para muslim dan muslimah, tentu sudah paham ya bahwa pergaulan antara lelaki dan perempuan itu ada batasan-batasannya. Agar terhindar dari fitnah dan perbuatan zina.

Oke, ceritanya kulanjut lagi ya… Saat hari makin siang, seorang petugas mengetuk pintu kamar. Ternyata ia mengantarkan makan siang untuk kami. Menu makan siang yang disajikan di Pulo Cinta ini seperti menu masakan daerah pada umumnya. Tapi kekhasan Sulawesi tampak pada hidangan lauk ikan dan kue apangnya.

Kami menikmati makan siang di dek tempat berjemur yang berada di bagian belakang kamar sambil merendam kaki kami di air laut yang hangat. Ikan-ikan kecil tampak berenang lincah di antara kaki kami.

Resor ini sepenuhnya menggunakan tenaga surya untuk fasilitas listriknya. Meskipun berada di tengah laut, namun air untuk keperluan mandi tetap menggunakan air tawar.

Ketika hari mulai gelap, suasana resor semakin romantis. Dalam kegelapan malam dan cahaya remang lampu di kamar, kami bisa menyaksikan jutaan bintang yang berkelip indah di langit. Suara musik alam dari angin dan ombak mengiringi keindahan ini. Membuat kami jadi teringat kisah legenda cinta tadi.

Tapi semakin malam deru angin dan gelora ombak semakin kencang. Semalaman kami sampai tak bisa tidur gara-gara berulangkali terbangun oleh kerasnya suara hempasan ombak dan tak kuat menahan dinginnya angin yang menderu kencang melalui sela-sela pintu, jendela dan atap.

Padahal kami sudah mengenakan jaket dan selimut tebal. Saat itu bahkan sempat terselip rasa khawatir bila terjadi tsunami karena merasakan angin yang bertiup semakin kencang dan menyaksikan gelombang laut yang semakin besar dari balik jendela. Alhamdulillah suasana mencekam malam itu segera berlalu.

Keesokan harinya, di antara kehangatan cahaya mentari dan hembusan sejuk angin pagi kami menikmati sarapan dengan menu nasi goreng. Kemudian kami berjalan-jalan sejenak menyusuri pantainya yang indah.

Sesudah Zuhur kami meninggalkan Pulo Cinta, dan langsung menuju ke kota Gorontalo dengan menumpang mobil yang kami sewa dengan bantuan petugas hotel.

Di tengah perjalanan, driver-nya menawarkan makan siang khas Gorontalo kepada kami, lalu menghentikan mobilnya di rumah makan Pilitode yang terletak di Jalan Trans Sulawesi. Menurutnya masakan di rumah makan ini patut dicoba.

Dalam sekejap hidangan Ayam Iloni dan Ayam Santan yang kami pesan telah tersaji. Rasa masakannya memang lezat, dengan aroma bumbunya yang kuat. Ada juga Nasi Milu yang terbuat dari campuran beras dan jagung yang tak kalah lezatnya.

Pantaslah, di sepanjang perjalanan tadi banyak terlihat ladang tanaman jagung, baik di kiri maupun kanan jalan. Berbeda dengan di pulau Jawa yang lebih banyak tanaman padi di sawah.

Menjelang Asar kami baru tiba di Gorontalo. Kami menginap di sebuah hotel syari’ah yang terletak di daerah Limboto. Seusai mandi dan shalat kami langsung beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Sebuah pengalaman berkesan di Pulo Cinta akhirnya telah kami rasakan. Di mana kami tidur di bawah langit berbintang dan di antara deburan ombak dari lautan yang menggelora. Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.