Sehari Semalam Menjadi โ€˜Raja’ dan โ€˜Ratu’ di Kota Gorontalo ๐Ÿ‘‘

Standar

Ketika pagi menyapa, kami segera berkemas untuk meninggalkan hotel. Sesudah sarapan, kami dijemput oleh rekan sejamaah haji, pak AR Muhammad dan bu Herawati. Betapa senangnya kami bisa berjumpa lagi tepat setahun setelah kami beribadah haji bersama.

Tapi pagi itu pak AR Muhammad harus ke kantornya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Sehingga bu Herawati sajalah yang menemani kami berkeliling kota Gorontalo.

Pertama kami diajak ke rumah makan Sakinah dengan menu spesialnya Milu Siram dan Ikan Bakar. Wah, padahal kami baru saja sarapan di hotel. Tapi untuk menyambut kedatangan kami, tetap saja bu Herawati mengajak kami makan dan langsung memesan aneka menu istimewa di sana dengan menu utama ikan.

Biasanya aku kurang suka menu masakan ikan. Tapi dengan olahan bumbu khas Gorontalo yang lezat ini malah membuatku berselera dan menikmatinya. Beragam masakan ikan dan Milu Siramnya yang unik pun ludes kami santap.

Sesudah itu kami diajak berwisata ke Taman Purbakala Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit Dempe. Benteng ini dibangun Portugis pada tahun 1525, lalu ditemukan pada tahun 1585 oleh Naha (Ota, artinya benteng). Keseluruhan benteng ini ada tiga, yaitu benteng Otanaha, Otahiya dan Ulupahu.

Benteng Otanaha merupakan benteng tertua dan terbuat dari campuran kapur dan putih telur burung Maleo. Benteng yang bentuknya menyerupai mini koloseum ini dibangun sebagai bentuk kerjasama antara Portugis dengan Raja Ilato yang berkuasa pada tahun 1505 – 1585.

Dari atas benteng Otanaha, kami bisa melihat danau Limboto dengan pemandangannya yang menawan. Danau ini luasnya berkisar 1900 – 3000 ha (pada tahun 1999) dan memiliki kedalaman 2 – 4 meter (menurut Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, tahun 2000).

Di danau ini para pengunjungnya bisa melakukan berbagai kegiatan, seperti memancing, berenang dan naik perahu. Mereka juga bisa menikmati ikan bakar dengan harga yang relatif murah dari para nelayan setempat.

Karena bertepatan dengan hari Jum’at, suamiku diantar terlebih dahulu ke Masjid Agung Baiturrahim untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jum’at bersama Pak AR. Muhammad yang sudah menunggu di sana.

Sementara itu, aku dan Bu Herawati menumpang bentor (becak motor) yang merupakan salah satu kendaraan umum di Gorontalo, menuju ke Rumah Makan Pino’s yang terletak di Jalan Sudirman, samping Balai Nikah, Gorontalo. Ada aneka menu khas Gorontalo yang ditawarkan di sini. Tapi menu spesialnya adalah masakan ikan dan ayam.

Sambil menunggu suami kami selesai shalat Jum’at, bu Hera memesankan aneka makanan dan minuman terlebih dahulu untuk hidangan makan siang nanti. Menu makanan yang dipesan selain ikan dan ayam bakar, juga masakan khas Gorontalo yang lain, seperti Pisang Stik Goroho dan Sayur Butungo (terbuat dari jantung pisang). Sedangkan minuman khasnya Es Palubutung (Es dengan campuran pisang, santan, bubur mutiara dan sirup).

Saat suamiku dan Pak AR Muhammad sudah tiba, kami langsung makan siang bersama. Kuakui semua masakan dan minuman khas Gorontalo yang sudah kami rasakan sejak hari pertama kami di sini, memang benar-benar sedap dan cocok dengan selera kami. Kami juga sangat terkesan atas sambutan hangat Pak AR Muhammad dan Bu Herawati terhadap kami sebagai tamunya.

Seusai santap siang bersama, kami diajak berwisata religi ke Bubohu. Sebuah taman wisata religius yang menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Bubohu, salah satu kerajaan kecil yang berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Hulontalo/Gorontalo. Untuk mencapai lokasi tersebut, harus ditempuh dengan kendaraan yang melewati jalanan beraspal berkelok-kelok dengan pemandangan lautan biru yang indah di tepinya.

Sesampainya di sana kami diarahkan untuk memasuki halaman samping sebuah rumah. Yang pertama kami lihat adalah Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia. Beberapa fosil kayu yang berasal dari desa Topoho, Limboto dan Upaha tampak terpajang di sana.

Sebelum masuk ke area wisata religi Bubohu, kami diminta mengambil sebuah biji seukuran kelerang yang telah disediakan, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak sebagai tiket masuknya. Kata salah seorang warga, hal itu untuk mempermudah menghitung berapa banyak jumlah pengunjungnya.

Di dalamnya terpasang beberapa catatan sejarah tentang silsilah Sultan Amai dan Raja Ilato Ju Panggola yang merupakan keturunan dari Raja Hulontalo /Gorontalo. Penyusunnya Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) dan Adnan A Berahim berdasarkan data dari Belanda dan Arab Pegon dari keluarga Idris N Toma, 10 November 2014.

Selain itu terpampang juga silsilah asal usul keturunan bangsa Gorontalo yang dikutip dan disalin ke dalam bahasa Indonesia, dari manuskrip (naskah asli tua) yang menggunakan bahasa Arab Pegon.

Ada sebuah quote bijak dari Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) XVIII yang merupakan trah Kerajaan Bubohu Generasi ke VI sebagai berikut: “Adati hula hula’a to sara’a, sara’a hula hula’a to Qur’ani”. Artinya, “Adat kokoh berdasarkan agama, agama kokoh berdasarkan Qur’an”.

Di bagian dalam terlihat rumah-rumah adat Gorontalo yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang tak terlalu besar. Yang menarik ada puluhan burung merpati jinak yang seakan menanti kehadiran kami untuk memberi mereka makan. Kami membeli dua bungkus biji jagung dari salah seorang pengurus taman.

Benar juga, begitu kami mengambil segenggam jagung dan mengadahkan tangan, semua merpati langsung terbang menyerbu kami. Ada yang langsung mematuk biji jagung di telapak tangan kami, ada yang hinggap di tangan, di pangkuan bahkan di atas kepala kami. Waah, seru juga… ๐Ÿ˜ƒ

Begitu asyiknya kami bercengkerama dengan merpati, sampai tak terasa hari sudah menjelang petang. Pak AR Muhammad dan Bu Herawati pun langsung mengantar kami ke hotel. Mereka membawakan aneka kue basah tradisional, seperti kue lapis dan kue bapel yang lezat untuk kami. Ya Allah, terima kasih sudah mengaruniakan sahabat yang sangat baik dan penuh perhatian kepada kami.

Setelah tiga malam berwisata di kawasan Gorontalo dan sekitarnya, akhirnya tiba saatnya bagi kami untuk pulang ke pulau Jawa. Seusai sarapan di hotel, kami menunggu Pak AR Muhammad dan Bu Herawati yang sesuai rencana akan menjemput sekaligus mengantar kami ke bandara.

Tapi ternyata mereka masih ‘belum puas’ untuk membagikan perhatian dan kebaikan kepada kami. Kami diminta mampir dan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan di rumah mereka. Padahal saat-saat keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi sudah semakin mendekati waktunya. Kami khawatir terlambat sampai di bandara nantinya.

Tapi kami tetap ‘dipaksa’ untuk tetap makan di rumah mereka. Kami juga diyakinkan bahwa semua urusan check in di bandara nanti dijamin beres karena akan mereka bantu. Akhirnya kami menyerah dan langsung menuruti mereka. Ketika tiba di rumah mereka dan melihat hidangan yang telah disajikan, kami hanya bisa berucap, “Masya Allah…

Hidangan yang lengkap seperti hidangan untuk acara pesta telah mereka persiapkan. Ada nasi kuning khas Gorontalo yang dilengkapi telur dan bihun, sate daging sapi, ikan bakar, tiga macam sambal khas Gorontalo yang mantap, plus camilan pisang goreng yang manis.

Dan lagi-lagi, kami terhanyut dalam sedapnya masakan Gorontalo yang selalu menggugah selera. Sehingga seusai makan pun, kami menerima dengan senang hati ketika mereka membawakan sebagian dari makanan tersebut sebagai bekal perjalanan untuk kami.

Tak hanya itu. Mereka juga memberi sekardus oleh-oleh khas Gorontalo untuk kami bawa pulang. Masya Allah… Terima kasih Pak AR Muhammad dan Bu Herawati atas kebaikan dan keramahannya.๐Ÿ˜๐Ÿ™ Sesudah foto bersama, kami segera diantar ke bandara.

Di tengah perjalanan ke bandara, berulangkali kami melirik jam di smartphone kami. Waktu yang semakin terbatas ini membuat kami khawatir akan ketinggalan pesawat. Tapi mereka berulangkali menenangkan kami dan mengatakan waktunya masih keburu. Ketika tiba di bandara kulihat waktu sudah tinggal tujuh menit lagi dari waktu keberangkatan pesawat. Kami langsung berlari menuju ke boarding setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih.

Qadarullah, ternyata pesawat yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan sehingga belum mendarat di bandara. Fiuhhh…, kami langsung duduk di ruang tunggu sambil bernafas lega. Kulihat ada pesan masuk dari Bu Herawati di Whatsapp-ku.

“Bu, tas hijau sama dus tadi ada? KTP juga sudah ada khan ? Insya Allah tiba dengan selamat sampai tujuan… Aamiin“.๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜

Lalu sebuah gambar Flight Radar dikirimnya. Tampak gambar pesawat dari Makasar yang baru saja masuk ke wilayah Gorontalo.

“Iya sudah ada semua Bu. Allahumma aamiin… ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ Jazakumullah khairan katsira Bu Hera, Pak Dokter Muhammad dan Ivan (saudara Pak Dokter yang selalu siap mengantar kami ke mana pun selama di Gorontalo)๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’— Iya Bu Alhamdulillah belum terlambat.” ๐Ÿ˜

Bu Hera rupanya ingin memastikan bahwa tidak ada barang atau oleh-oleh yang tertinggal dan kami memang benar-benar tidak ketinggalan pesawat.

Belum lama aku membalas pesan Whatsapp dari Bu Hera, terdengar pemberitahuan agar seluruh penumpang yang akan berangkat/transit ke Makasar supaya melakukan boarding dan segera memasuki pesawat.

Kami bergegas mengikuti instruksi dari petugas bandara tersebut. Sesaat kemudian pesawat pun melaju meninggalkan kota Gorontalo.

Keindahan alamnya yang tampak dari balik jendela pesawat perlahan menghilang di antara gumpalan awan. Setelah transit sejenak di Makasar, kami langsung terbang menuju ke bandara Soekarno Hatta.

Alhamdulillah akhirnya kami bertemu kembali dengan Salma yang tiba di bandara yang sama beberapa saat kemudian. Kami saling bertukar cerita dan oleh-oleh. Salma membawa oleh-oleh Banana Cake, Cheese Cake dan dompet antik dari Jepang. Sedangkan kami membawa oleh-oleh khas dari kota Gorontalo.

Di dalam dus pemberian sahabat kami di Gorontalo tadi terdapat tiga kotak Kue Pia, lima stoples Kue Kerawang dan dua lembar kain khas Gorontalo (buat pria dan wanita). Masya Allah… ๐Ÿ˜

Sahabat kami di Gorontalo telah mengamalkan Hadits Nabi Muhammad Saw. dengan menyambut baik dan memuliakan tamunya. Berikut ini haditsnya:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู’ู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุฃุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠููƒู’ุฑูู…ู’ ุถูŽูŠู’ููŽู‡ู

โ€œBarang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.โ€ (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/1546-adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

Dan begitulah yang telah kami rasakan selama bertamu di kota Gorontalo. Selama sehari semalam, kami benar-benar telah diperlakukan seperti raja dan ratu oleh sahabat kami di sana. Barakallah fiikum ๐Ÿ‘‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.