Menghidupkan Kembali Ruh Santri dan Semangat Persatuan Bangsa di Kalangan Pemuda

Standar

Pada bulan Oktober ada dua hari besar Nasional yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Yaitu hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober dan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.

Peringatan hari Santri Nasional sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari kiprah para tokoh Islam seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Komitmen Islam dan kebangsaan mereka yang luar biasa menjadi pencetus terciptanya organisasi Islam yang berperan penting dalam perjuangan bangsa melawan penjajah.

Ketika Belanda membonceng Sekutu dalam upayanya menguasai Indonesia kembali, KH Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menyerukan Resolusi Jihad saat diadakan pertemuan para pengurus NU Jawa dan Madura di Surabaya tanggal 21 – 22 Oktober 1945.

Pernyataan sikap untuk melawan penjajah Belanda tersebut disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari kepada pemerintah, umat Islam dan para santri pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sehingga terjadilah pertempuran sengit dari rakyat dan para santri melawan kolonial Belanda yang membuat semangat para pemuda di Surabaya, termasuk Bung Tomo ikut terbakar. Hingga pada saat pertempuran tanggal 27- 29 Oktober 1945 mampu menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Kiprah tokoh Islam dan para santri yang telah berperan aktif membela tanah air tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah sehingga Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Sumber:
https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/22/083739665/22-oktober-mengingat-kembali-sejarah-penetapan-hari-santri?page=all

Sedangkan sejarah Hari Sumpah Pemuda berawal dari timbulnya kesepakatan dari para pemuda yang mewakili daerahnya masing-masing untuk bersatu melawan penjajah Belanda. Sebab bila mereka hanya berjuang sendiri-sendiri atas nama kedaerahannya saja, akan sangat mudah dikalahkan oleh penjajah.

Tepatnya setelah Konggres Pemuda kedua (tanggal 27 dan 28 Oktober 1928), yang diselenggarakan oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia) di Jakarta. Konggres tersebut dihadiri oleh anggota PPPI yang terdiri dari para pelajar di seluruh wilayah Indonesia, perwakilan dari berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia (Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dan Jong Ambon) dan pengamat dari warga Tionghoa (Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie).

Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya WR Supratman juga dikumandangkan pada saat Konggres Pemuda kedua tersebut. Semangat nasional dan persatuan bangsa telah mempersatukan mereka. Sehingga para pemuda dari berbagai organisasi dan kalangan tersebut melebur bersatu padu menjadi sebuah kekuatan untuk melawan Kolonial Belanda.
Hingga tercetuslah Sumpah Pemuda sebagai berikut:

Pertama: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia).

Kedua: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia).

Ketiga: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia)

Sumber: https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/sejarah-sumpah-pemuda

Alhamdulillah, kini kita telah menikmati kemerdekaan hasil dari perjuangan para pahlawan di masa lalu. Bagi kita yang telah menikmati masa kemerdekaan ini, masih banyak yang harus kita lakukan demi menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan dalam rangka mencetak generasi muda yang tak hanya cerdas dan makmur. Namun juga mempunyai karakter terpuji dan berjiwa santri.

Di masa kemerdekaan ini, tantangan terbesar bagi bangsa ini bukan lagi para penjajah Belanda. Bukan pula tembakan senapan kolonial maupun perang melawan senjata dengan negara lain. Kita juga tak perlu lagi angkat senjata untuk melawan mereka.

Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak dan remaja kita agar menjadi generasi yang siap mentalnya dalam menghadapi era globalisasi dengan membangun karakter dan akhlak yang baik.

Sebab yang dihadapi generasi muda sekarang adalah pengaruh informasi dan teknologi yang di satu pihak sangatlah membantu dan bermanfaat dalam menambah wawasan dan mempermudah kehidupan sehari-hari. Tapi di lain pihak juga bisa membahayakan dan menyesatkan bila tak terkontrol dan tak terkendali.

Bila kita coba kilas balik sejenak ke masa di mana para santri dengan penuh kesadaran mengangkat senjata melawan penjajah, demi membela bangsa dan negara, timbulnya kesadaran dan mental yang kuat tersebut tak lain adalah merupakan hasil tempaan mereka selama di pesantren.

Di pesantren, setiap santri tak hanya akan mendapatkan berbagai macam ilmu agama maupun umum. Lebih dari itu mereka juga mendapatkan hal-hal positif seperti berikut ini:

1. Latihan kemandirian agar tak manja dan tak cengeng ketika menghadapi persoalan.
2. Pembiasaan bangun tidur di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat Tahajud agar selalu terjalin hablumminallah dengan baik.
3. Pembiasaan rajin dan tepat waktu saat melaksanakan shalat lima waktu agar selalu dalam penjagaan Allah Swt.
4. Pembiasaaan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah wajib agar memperbaiki kekurangan pada ibadah-ibadah wajib.
5. Pembiasaan tilawah Al Qur’an agar langkah-langkahnya selalu diberkahi Allah Swt.
6. Pembiasaan menjaga kebersihan dan kerapian kamar dan lingkungan sebagai persiapan awal sebelum kelak berumahtangga.
7. Penanaman akidah dan akhlak Islam yang rutin dan mendalam agar menjadi landasan yang kokoh dalam beragama di masyarakat nanti.
8. Pembelajaran hidup bersosialisasi antar santri agar terjalin hablumminannas yang baik.
9. Tausiyah dari ustaz dan ustazah yang selalu mengingatkan agar selalu mengevaluasi diri.
10. Penerapan gaya hidup sederhana agar tak terbawa pada kebiasaan berfoya-foya dan gaya hidup hedonisme.
11. Melatih skill of life sehingga terampil dan survive dalam kehidupannya.
12. Anjuran untuk selalu berbakti kepada orang tua karena melalui bakti dan restu mereka berkah hidup akan terus mengalir.

Nah, bila ruh santri semacam itu kita coba terapkan secara bertahap pada anak-anak kita, sekalipun tidak belajar di pesantren, insya Allah akan memperbaiki akhlak dan membentuk karakter mereka dengan baik.

Sehingga akan terbentuk generasi muda yang shalih dan shalihah. Tangguh memegang prinsip agama dan kebenaran sehingga tak mudah tergoda pada hal-hal negatif.

Dan bila semangat persatuan bangsa dari Sumpah Pemuda pun dinyalakan, maka akan tumbuh generasi muda yang cinta tanah air dan selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya. Menghormati serta menghargai adanya perbedaan suku, warna kulit dan agama yang ada di masyarakat. Sehingga terjalin suasana masyarakat yang rukun dan damai.

Semoga Allah Swt. memampukan kita dalam mendidik anak-anak, di antaranya dengan menghidupkan ruh santri dan menyalakan semangat persatuan bangsa pada jiwa mereka. Sehingga akan lahir generasi muda shalih shalihah yang cerdas dan cinta tanah air.

Kelak melalui kiprah dan karya mereka, semoga negara Indonesia akan menjadi negara yang semakin makmur sejahtera dan tentram. Sehingga menjadi baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Sumber gambar:

1. Desain Salma Fedora

2. https://sosmedpc.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.