Arisan Bocah

Standar

Seorang Ibu sejatinya adalah sosok yang sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya sejak lahir. Ibu selalu mendampingi anaknya sejak masih menyusui, saat belajar berbicara/berjalan hingga mulai masuk sekolahnya.

Ketika anak-anak mulai memasuki usia sekolah, biasanya para ibu jugalah yang paling sibuk. Dari mencari perlengkapan sekolah, seperti buku, alat tulis dan tas, hingga memesan seragam sekolah.

Di sekolah tak hanya anak-anak yang mulai bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Para ibundanya pun saat mengantar dan menjemput anaknya, akan mendapatkan teman-teman baru. Biasanya sambil menunggu anak pulang sekolah, komunikasi antar para ibu mulai terjalin.

Dimulai dari obrolan ringan seputar perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka hingga tukar menukar resep masakan.

Ada juga yang berjiwa bisnis, biasanya sambil mengobrol ia akan menawarkan barang-barang dagangannya. Tapi tak menjadi masalah karena antar ibu-ibu itu malah merasa saling membutuhkan.

Ada juga kelompok ibu-ibu yang suka saling curhat dan ‘ngerumpi ngalor ngidul’. Biasanya mereka curhat tentang berbagai masalah, dari keluarga, pembantu, tetangga sampai temannya. Tapi hebatnya antar mereka kadang bisa saling memberi solusi dan tak hanya sekedar menghibur.

Di komunitas lain ada ibu-ibu yang suka mengantar anaknya les/belajar bersama dengan teman-temannya atau ikut mengantar saat akan lomba. Kebetulan aku masuk dalam komunitas tersebut. Ada beberapa teman yang sejak anak-anak kami masih SD selalu bersama dalam setiap kegiatan lomba. Karena dari SD yang sama, kekompakan pun terjalin erat.

Biasanya kami akan saling mendukung dengan mempersiapkan anak-anak menjelang mengikuti lomba dengan belajar bersama. Ketika lomba pun kami saling memotivasi agar dapat membawa nama baik sekolah. Alhamdulillah pada beberapa lomba anak-anak kami berhasil meraih prestasinya.

Tapi ketika anak-anak sudah naik ke tingkat SMP, saat itulah kami menjadi jarang bertemu lagi. Karena sebagian besar anak-anak kami memilih sekolah lanjutan yang berbeda. Sehingga resikonya, anak-anak kami harus siap bersaing ketika ikut lomba yang mewakili sekolahnya.

Bila sebelumnya anak-anak saling mendukung karena mewakili sekolah yang sama, kini malah menjadi kompetitornya yang berat karena berbeda sekolah. Kondisi seperti ini mau tak mau kadang berpengaruh juga dalam hal hubungan keakraban di antara kami sebagai para ibunya.

Akibatnya kami yang sudah jarang bertemu ini menjadi semakin jauh dan jarang berkomunikasi. Oleh karena itu, akhirnya timbullah inisiatif untuk kembali mempererat hubungan di antara kami. Kami sepakat untuk saling bertemu sebulan sekali sambil makan siang bersama sebagai upaya menjalin keakraban kembali.

Untuk mengikat pertemuan sebulan sekali tersebut, akhirnya diadakanlah arisan. Kami memberi nama kelompok arisan kami “Arisan Bocah” karena keakraban hubungan kami diawali dari kekompakan anak-anak kami sejak masih ‘bocah’.

Alhamdulillah, upaya kami membawa hasil yang positif. Kami jadi sering berkomunikasi lagi melalui WA grup yang kami bentuk. Saat arisan, kami kembali saling curhat tentang perkembangan anak kami masing-masing meskipun berbeda sekolah.

Kadang kami saling memberi informasi even atau lomba.Meskipun anak-anak kami saling bersaing, pada akhirnya kami belajar untuk bersikap sportif dan legawa. Ketika ada anak yang menang lomba, meskipun anak kami kalah, tapi kami tetap saling memberi selamat kepada anak yang menang lomba dan memberi motivasi kepada anak yang kalah.

Keuntungannya sikap sportif dan legawa ini pun memberi pengaruh yang positif kepada anak-anak kami. Sehingga ketika meraih kemenangan saat lomba, tetap humble. Dan ketika kalah, cukup kecewa sejenak lalu kembali semangat dan tak berputus asa untuk berjuang kembali.

Hal ini terus berlanjut hingga anak-anak kami masuk SMA. Kegiatan yang kami lakukan saat arisan pun tak sekedar kumpul-kumpul dan makan bersama. Kami juga mengadakan kegiatan bakti sosial, ikut pengajian atau seminar bersama, saling menjenguk bila ada yang sakit, serta saling memberi bingkisan kado ketika ada yang ulang tahun.

Ketika anak-anak kami akan memasuki jenjang kuliah, kami sama-sama mempunyai harapan agar bisa diterima di kampus yang sama. Alhamdulillah, di luar dugaan semua anak-anak kami bisa diterima di ITB.

Sehingga bagi yang belum mengenal kelompok arisan kami sejak awal biasanya mengira kelompok arisan kami ini khusus Ibu-ibu yang anaknya kuliah di ITB. Padahal itu di luar rencana kami sebelumnya.

Ketika anak-anak kami sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi ITB, pertemuan di antara kami menjadi semakin berarti karena dapat menghalau rasa sepi yang disebabkan oleh jauhnya anak-anak kami (kuliah di luar kota).

Pembicaraan di antara kami biasanya adalah tentang rasa khawatir dan kerinduan kami terhadap anak-anak kami yang kini sedang belajar hidup mandiri dan harus survive menghadapi beratnya kehidupan perkuliahan.

Ketika masa Pilpres yang lalu suasana panas tahun politik sempat ikut mewarnai grup WA kami. Sebagian besar dari kami mendukung capres 02. Tapi ada juga yang mendukung capres 01. Sempat terjadi suasana tidak nyaman juga nih gara-gara masalah ini.

Dibutuhkan hati yang sejuk dan pikiran yang tertata agar tidak terbawa panasnya suasana. Sebab bila kami ikut terbawa suasana panas politik tersebut, bisa-bisa kami juga terlibat perdebatan sebagaimana yang sering terjadi pada grup WA lain sampai berakibat saling left grup.

Nah, tentu kami tak menginginkan hal seperti itu terjadi pada grup kami. Sehingga sebaiknya memang harus saling mengendalikan emosi dan jangan mudah terbawa pengaruh berita yang memprovokasi.

Alhamdulillah, setelah Pilpres usai, suasana pembicaraan di grup sejuk kembali. Kami juga kembali hanya sharing informasi umum dan tausiyah ustaz-ustaz yang bermanfaat, menyejukkan dan sebagai reminder saja.

Selanjutnya pembicaraan kami yang berhubungan dengan anak-anak kami kini pun bukan lagi seputar keaktifan mengikuti lomba sebagaimana saat anak-anak kami masih bersekolah di SD, SMP atau SMA.

Sekarang orientasi kami sudah berubah.Yang menjadi harapan utama kami terhadap anak-anak adalah bagaimana anak-anak mampu menjadi pribadi yang shalih shalihah, tidak meninggalkan shalat dan ibadah lain, mampu merawat dan menjaga diri serta lingkungan sekitar, mampu menyelesaikan kuliah dengan baik dan sukses, serta siap menghadapi masa depan dengan bekal ilmu yang sudah diperoleh selama kuliah.

Selebihnya bila ada prestasi, atau kelebihan lainnya itu adalah bonus bagi kami. Sebab setelah anak-anak kami lulus, mereka akan menghadapi tiga pilihan. Yaitu melanjutkan S2, langsung bekerja atau menikah. Nah ketiga pilihan itu tentu tak cukup bila hanya berbekal prestasi lomba. Karena hal terpentingnya adalah karakter dan akhlak yang baik serta kemampuan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Waktu memang terus berjalan dengan cepat. Usia kami juga terus merangkak. Anak-anak pun sudah semakin dewasa. Semoga keakraban yang sudah terjalin dengan baik di antara kami terus berlanjut.

Di mana kami bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dan semoga kami mampu mengantar anak-anak kami ke gerbang kesuksesan dan kebahagiaan mereka baik untuk di dunia ini maupun hingga di akhirat nanti. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.