Monthly Archives: November 2019

Kenikmatan yang Sering Terlupakan

Standar

“Keluhannya apa?”

“Dada kiri terasa sakit”

“Buat bernafas sakit?”

“Kalau batuk dan bersin terasa sakit”

“Sekarang kan Soso (panggilan untuk kakak ipar perempuan di keluarga Tionghoa) sudah berusia di atas 50 tahun ya. Saya sarankan untuk rontgen dada dan rekam jantung (EKG) saja ke laboratorium klinik untuk pemeriksaan pertama.”

Pembicaraanku pagi itu lewat telpon dengan adiknya suami yang berprofesi sebagai seorang dokter di Jakarta itu membuatku berpikiran macam-macam.

Sebetulnya aku sudah periksa ke dokter di sebuah klinik. Beedasarkan diagnosanya, aku baik-baik saja. Hanya tekanan darahku agak rendah (90/60). Dokter itu hanya memberiku resep obat pereda nyeri dan vitamin yang akhirnya tak kutebus. Tapi aku masih merasa belum yakin sehingga menghubungi adik iparku yang dokter itu.

Keesokan harinya aku benar-benar periksa ke sebuah laboratorium klinik yang terkenal di kota Cirebon. Kebetulan lagi diskon 25% karena menyambut Hari Kesehatan Nasional.

Antrean belum panjang dan pemeriksaan berlangsung cepat sehingga bisa selesai dalam waktu yang singkat.

Hanya sayang hasil pemeriksaan baru bisa diambil pada pukul 19.00 malam. Aku benar-benar penasaran akan hasilnya karena rasa nyeri di dada kiriku itu terasa sudah sejak dua minggu yang lalu.

Aku hanya khawatir kalau sampai terkena penyakit jantung atau kanker payudara. Sebab kedua penyakit tersebut termasuk penyakit berbahaya yang beresiko pada kematian. Na’udzu billahi min dzalik.

Dan akhirnya tibalah saatnya untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium. Suamiku dan adik lelakiku yang kebetulan sedang datang ke Cirebon yang mengambilnya.

Setelah kuterima hasil rontgen dan EKG-nya, segera kubuka dan kubaca uraian keterangan yang dilampirkan di dalamnya. Hmm…, aku tak begitu paham maksudnya. Hanya saja kulihat ada beberapa kata ‘normal’.

Daripada hanya menebak-nebak, hasil laboratorium tersebut kufoto, lalu kukirim ke adik iparku yang dokter melalui Whatsapp.

“Yusuf, ini hasil rontgen dan EKG-nya. Bagaimana menurut Yusuf? ”

Beberapa saat kemudian Yusuf membalas chat-ku.

“Hasil EKG oke. Semua baik kok, So…”

“Jadi bukan penyakit jantung atau yang lainnya, kan? “

“Bukan. Itu hanya nyeri otot. “

“Alhamdulillah… “

Hatiku rasanya lega dan gembira. Terima kasih ya Allah yang telah memberikan kesehatan ini. Apalagi rasa nyeri di dada kiriku pun berangsur menghilang. Aku langsung sujud syukur.

Sejak itu makin kurasakan betapa luar biasanya kenikmatan dari Allah Swt. yang berupa waktu, kesehatan dan kesempatan hidup. Selama ini kita sering melalaikannya dan kurang mensyukurinya.

Dan hingga hari ini tanggal 21 November 2819, di mana usiaku telah genap memasuki usia 52 tahun, Allah Swt. masih mengaruniakanku kesempatan hidup, dan kesehatan yang baik. Alhamdulillah… 😊😊

Semoga sisa usia ini bisa kugunakan untuk beribadah yang benar dan banyak beramal shalih agar Allah Swt. memberkahi hidupku. Aamiin

Terima kasih kepada semua teman, saudara dan keluarga yang telah memberiku ucapan selamat dan doa-doa yang baik. Semoga Allah mengabulkan dan semua doa baik tersebut dikabulkan juga untuk kalian yang mendoakannya. 🙏🙏😍😍💕Aamiin

Terima kasih dan peluk sayang dari jauh juga untuk Salma Fedora putri tercintaku atas semua doa baik dan kiriman kadonya yang cantik ya. 😍💖😘

Jazakumullah khairan katsira. Wa barakallah fiikum.

Keajaiban Pesan-pesan Papi rahimahullah

Standar

Ketika pulang ke rumah orang tua di Magelang, aku suka membuka-buka buku koleksi Papi rahimahullah seperti dulu ketika masih tinggal bersama mereka. Karena koleksi bukunya sangat lengkap dan berkualitas.

Secara tak sengaja aku menemukan sebuah buku yang bersampul kertas tipis dengan gambar penari balet. Karena penasaran, aku mengambil dan membuka buku itu. Semula kusangka itu buku resep masakan milik Mami. Karena aku tahu Mami selalu rapi dalam menyimpan bukunya.

Tapi ternyata itu buku psikologi/motivasi dengan ejaan lama yang berjudul “Bagaimana Melenjapkan Tjemas dan Menikmati Hidup” (ditulis oleh Dale Carnegie). Sebuah buku untuk membantu mengatasi kecemasan yang masih cocok dibaca hingga sekarang.

Tapi ada yang menarik perhatianku di buku itu. Ada sebuah pesan yang ditulis rapi dengan ejaan lama oleh Papi rahimahullah dan ditujukan untuk Mami di halaman paling awal dari buku itu, sebagai berikut: “Buku jang berguna tidak akan berguna bila tidak dibatja dan diturut isinya.”

Pesan Papi rahimahullah itu membuatku merenung. Yah, benar juga sih ya… Sebab sebanyak apa pun buku yang kita beli, tapi kalau tidak pernah dibaca dan hanya dijadikan koleksi saja, isi buku tersebut ya tak akan pernah kita ketahui.

Sedangkan bila sudah dibaca saja namun pesan-pesan positif, tips atau ilmu di dalamnya tak kita praktikkan, ya sangat disayangkan. Karena tujuan kita membaca buku adalah untuk mempelajari isinya, lalu mengamalkannya sesuai petunjuk di dalamnya.

Itu baru sebuah pesan saja yang kutemukan di buku Papi rahimahullah. Sebetulnya masih banyak pesan beliau yang penuh hikmah dan pernah disampaikan secara langsung kepada kami para anak dan cucunya semasa beliau masih hidup.

Bagi yang tidak mengenal Papi rahimahullah lebih dekat, pasti akan menganggap beliau mempunyai pribadi yang unik. Sebab bila dilihat penampilannya sehari-hari, Papi rahimahullah sangat low profile. Kalau mau pergi ke mana-mana lebih suka naik sepeda atau becak.

Papi rahimahullah juga suka membawa sisir rambut di saku bajunya. Barang lain yang tak pernah beliau lupakan adalah buku. Di mana pun dan kapan pun berada, buku tak pernah ketinggalan dibawanya. Sebab beliau sangat gemar membaca buku.
Di rumahnya ada beberapa lemari buku yang sudah penuh dengan buku-buku bacaannya. Semuanya buku-buku pilihan dan berkualitas. Ada buku tentang sejarah, agama, psikologi, novel, politik, kesehatan, geografi dan lain-lain. Dan tentu saja semuanya menarik untuk dibaca.

Maka sejak SD aku paling senang ‘ngoprek‘ lemari bukunya. Sebab nanti ada saja ilmu atau informasi baru yang bisa kuperoleh dari buku-bukunya itu. Kalau ada yang tak kupahami dari buku yang kubaca, biasanya aku langsung menanyakan padanya.

Aku sangat merindukan masa-masa seperti itu bersama Papi rahimahullah. Di mana aku bisa curhat, konsultasi dan bertanya banyak hal kepadanya. Bahkan banyak terjadi perubahan yang positif pada diriku bila aku sering dekat bersamanya.

Dulu aku adalah gadis remaja yang sangat pemalu, kurang percaya diri, gampang gugup, dan tidak memiliki kemampuan yang bisa kubanggakan. Kulitku paling kusam di antara dua saudara kandungku. Wajahku biasa saja. Aku juga kurang terampil berdagang, sehingga tidak bisa banyak membantu Mami di Pasar. Kemampuan akademikku juga kurang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas.

Ketika aku merasakan semua kekuranganku itu kadang aku hanya bisa menyendiri dan menangis sedih. Tapi kadang aku juga marah dan meluapkan emosiku dengan membanting benda yang tak mudah pecah.

Nah, pada saat itulah Papi rahimahullah akan mendekatiku. Beliau biasanya langsung menghibur dan menasihatiku dengan lembut.

Beberapa pesan beliau yang sampai sekarang masih kuingat dan selalu menjadi motivasi dalam hidupku adalah sebagai berikut:

1. Katanya mau sabar seperti Papi (beliau ucapkan ketika aku sedang marah-marah dan meluapkan emosiku). Papi rahimahullah adalah sosok ayah dan suami yang luar biasa sabar dalam menghadapi berbagai persoalan. Baik rumah tangga maupun pekerjaan. Ketika melihat kesabarannya, aku pernah berkata kepadanya, “Papi kok bisa sabar banget sih…. Saya juga pengin bisa sabar seperti Papi.”

Nah, sejak itulah bila aku sedang emosi, Papi selalu mengatakan hal itu.

2. Nggeguyu? Tak oyak…! (artinya: Menertawakanku? Aku akan kejar kamu..! Beliau sampaikan kata-kata itu padaku ketika aku curhat bahwa ada teman /orang yang menertawakan kekuranganku).

Beliau memotivasiku agar jangan minder saat ada yang menertawakan dan meremehkan kekurangan kita. Balas ejekannya dengan ‘mengejar’ kelebihan mereka. Caranya dengan memperbaiki kekurangan yang ada serta memaksimalkan kemampuan kita. Lalu buktikan bahwa kita bisa lebih baik darinya.

3. Jangan menangis bila dihina. (beliau sampaikan hal itu ketika aku menangis sedih karena ada yang menghina). Beliau menghiburku agar jangan terlarut dalam kesedihan setiap kali ada yang menghina. Aku harus tegar.

4. Cepat bangun bila jatuh. (beliau sampaikan hal itu ketika aku mengalami kegagalan. Tujuannya supaya aku tidak mudah menyerah atau berputus asa, melainkan mau bangkit lagi dan bersemangat untuk berusaha kembali.

Semua pesan Papi rahimahullah tersebut telah terbukti ampuh karena aku telah merasakan sendiri beberapa ‘keajaiban’ setelah melaksanakan pesan-pesan beliau.

Di antara ‘keajaiban’ yang telah kurasakan adalah sebagai berikut:

1. Dulu aku cenderung agak emosional ketika menghadapi suatu masalah. Setelah melaksanakan pesan Papi, aku menjadi lebih tenang dan sabar.

2. Ketika kelas 4 SD aku pernah tidak naik kelas. Setelah kulaksanakan pesan beliau, bisa dikatakan aku hampir selalu meraih rangking 1 saat sekolah di pesantren, padahal ketika baru masuk di sana, termasuk kelompok yang masih belum menguasai pelajaran.

3. Dulu aku tidak bisa mengemudikan motor sama sekali karena gugup. Apalagi mengemudikan mobil. Setelah kulaksanakan pesan beliau, sekarang aku mahir mengemudikan mobil.

4. Dulu aku tidak terampil berdagang. Setelah melaksanakan pesan beliau, aku jadi lebih percaya diri dan bisa berdagang. Bahkan pernah mencapai Top Leader dalam penjualan NutriLemon.

Alhamdulillah, semua pencapaian itu tentu saja atas izin dan pertolongan Allah Swt.

Ternyata tak hanya aku yang telah merasakan suatu perubahan yang positif setelah melaksanakan pesan Papi rahimahullah. Cucunya pun ikut merasakan pengaruh positifnya.

Seperti yang telah dirasakan sendiri oleh Laura, keponakanku dan cucu perempuan beliau. Dulu saat Laura masih bersekolah di Magelang, ia sering merasa kurang bisa memahami pelajaran di sekolah. Terutama sejak beliau sudah berpulang ke hadirat-Nya.

Akibatnya Laura sering diejek dan diremehkan teman-temannya. Dulu Laura juga sering diremehkan karena dianggap tidak bisa naik sepeda dan bermain badminton.

Untuk menghibur dan memotivasinya, aku sering menyampaikan pesan-pesan dari Papi rahimahullah tadi kepada Laura. Sehingga Laura menjadi lebih bersemangat belajar dan lebih percaya diri.

Alhamdulillah, setelah Laura melaksanakan pesan beliau, perlahan tapi pasti Laura mulai meraih prestasi di sekolahnya. Dari menjadi juara Rangking 1 saat ada lomba memperingati kemerdekaan RI di sekolahnya, mewakili sekolahnya saat ada olimpiade Biologi, meraih peringkat pertama di kelasnya, sudah mahir naik sepeda dan mulai bisa bermain badminton.

Jazakallah khairan katsira Papi atas semua pesan dan nasihatnya yang luar biasa kepada kami anak dan cucunya.

Semoga semua pesan dan nasihat Papi yang telah membawa perubahan positif tersebut menjadi amal jariyah yang bisa memberatkan timbangan amal baik dan bisa menghapus dosa Papi di akhirat.

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Dari Kursus Rumahan Menjadi Lembaga Pendidikan Resmi dan Berprestasi

Standar

Setelah melewati tahun-tahun pertama merintis usaha kursus di Rumah Belajar Cirebon, kami mulai dituntut untuk membuat usaha kursus yang tak hanya rumahan, namun menjadi sebuah lembaga pendidikan yang resmi.

Diawali dengan hadirnya beberapa penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon ke Rumah Belajar Cirebon pada bulan Mei 2009, mereka menganjurkan kami untuk segera mengurus surat izin operasional. Sehingga mulai tanggal 30 Juli 2009, Rumah Belajar Cirebon sudah mempunyai sertifikat resmi izin operasional dari Dinas Pendidikan sebagai LKP yang berada di bawah naungan bidang Pendidikan Non Formal (PNF).

Izin operasional tersebut berlaku selama 3 tahun, sehingga setiap 3 tahun sekali kami harus memperpanjangnya kembali. Setelah Rumah Belajar Cirebon resmi menjadi LKP yang mempunyai izin operasional, aku sering diundang dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan Dinas Pendidikan bidang Non Formal. Baik itu undangan untuk kegiatan rapat, seminar, pelatihan, hingga acara berbuka puasa bersama seluruh LKP resmi lain di kota Cirebon.

Melalui pertemuan-pertemuan tersebut, efek positifnya kami jadi bisa saling mengenal antar LKP, baik secara personal dengan pimpinannya maupun secara kelembagaannya. Mayoritas LKP yang kukenal tersebut memang bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang siap dan terampil. Seperti LKP Tata Rias Pengantin dan Kursus Kecantikan, LKP Tata Boga, LKP Kursus Mengemudi, LKP Tata Busana, dan LKP Komputer.
Kalaupun ada LKP Kursus Bahasa Asing, biasanya LKP tersebut sudah memiliki kelas khusus untuk mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja. Tujuannya untuk disalurkan di bidang pariwisata atau perhotelan.

Berbeda dengan kursus yang kubuka di Rumah Belajar Cirebon. Semua program yang ada justru diperuntukkan anak-anak. Tujuannya agar mampu menguasai mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika di sekolah serta untuk mengasah bakat anak-anak di bidang seni menggambar.

Pada sekitar tahun 2013 ada perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini yang datang ke Rumah Belajar Cirebon untuk melakukan penilaian kinerja lembaga. Pada saat itu terus terang saja aku masih agak bingung. Sebab belum ada persiapan sama sekali.

Apalagi bapak perwakilan Ditjen PAUDNI tersebut meminta berbagai macam berkas yang memang sejak awal belum pernah kami buat secara terperinci seperti LKP resmi lainnya. Sebab aku tak pernah terpikir sebelumnya bahwa tempat kursus yang sebelumnya hanya ditujukan untuk mencari teman belajar buat Salma ini akan menjadi lembaga resmi.

Maka ketika sertifikat hasil penilaian kinerja telah dikeluarkan, aku sudah bisa memperkirakan hasilnya. Sertifikat yang telah ditandatangani oleh Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan di Jakarta pada tanggal 24 April 2014 itu memberi nilai C pada kinerja lembaga kami.

Tapi apa pun hasilnya, kami tetap bersyukur dan bisa menerima hasilnya, mengingat pada kenyataannya kelengkapan dokumen kami memang masih minim. Semoga hasil penilaian kinerja ini bisa menjadi pemicu bagi kami untuk lebih memperhatikan kelengkapan dokumen dan administrasi nantinya.

Pada tahun 2013 Rumah Belajar Cirebon juga telah terdaftar resmi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan dikeluarkannya kartu Nomor Induk Lembaga Kursus dan Pelatihan (NILEK).

Setelah itu pada tanggal 4 Juni tahun 2015 para penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon Bidang PNF mendukung kami untuk mengikuti lomba Keteladanan PAUDNI tingkat Bakorwil Cirebon. Alhamdulillah pada lomba tersebut, Rumah Belajar Cirebon meraih juara 1. Sehingga kami mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan kota Cirebon dan Walikota Cirebon.

Selanjutnya Rumah Belajar Cirebon kembali mengikuti lomba LKP Standar Nasional Kategori Berkinerja C/D Bidang Non Vokasional Tingkat Provinsi Jawa Barat. Semua persyaratan administrasi, berkas dan dokumen penting harus segera dilengkapi guna menunjang penilaian tersebut. Seperti Surat Keterangan Domisili, NPWP LKP, Akte Notaris untuk Pendirian LKP dan Yayasan Rumah Belajar Cirebon, rekening Bank atas nama LKP Rumah Belajar Cirebon, Surat Izin Operasional LKP yang masih berlaku, Kartu NILEK, NSPN dan Bukti Pengesahan Yayasan Rumah Belajar Cirebon dari Menkumham.

Syukurlah suamiku bergerak cepat dengan dibantu Pak Akhmad Yani (guru dan sekretaris LKP Rumah Belajar Cirebon) dan Bu Iis Ngasiah (penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon Bidang PNF) dalam melengkapi semua dokumen tersebut.

Pada lomba ini Rumah Belajar Cirebon alhamdulillah meraih juara 3 tingkat Provinsi Jawa Barat. Pada tanggal 25 November 2015 aku menerima penghargaan langsung dari Gubernur Jawa Barat bersama para pimpinan LKP lain dari berbagai kota di Jawa Barat yang telah meraih prestasi pada even yang sama.
Semua prestasi yang telah diraih oleh Rumah Belajar Cirebon tersebut adalah berkat dukungan suami, bantuan Pak Akhmad Yani serta kerjasama yang baik dengan staf dan guru Rumah Belajar Cirebon. Jazakumullah khairan katsira.

Dari waktu ke waktu Rumah Belajar Cirebon terus berusaha memperbaiki kinerja lembaga, staf dan guru-gurunya agar menjadi lembaga yang semakin profesional sesuai dengan visi dan misi.

Akhirnya tibalah saatnya kami harus segera mengurus akreditasi lembaga. Tentu saja ini bukan tugas yang mudah. Karena berkas yang harus dipersiapkan juga tidak sedikit. Apalagi semua berkas tersebut harus memenuhi 8 Standar Pendidikan sebagai berikut:
1. Standar Kompetensi Lulusan
2. Standar Isi
3. Standar Proses
4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana dan Prasarana
6. Standar Pengelolaan

7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian Pendidikan

Karena banyak dan rumitnya berkas yang harus kami persiapkan itu, aku membentuk tim dari staf dan guru lalu membagi tugas pengumpulan berkas dari setiap Standar Pendidikan tersebut.

Sempat terjadi kemacetan selama beberapa bulan karena timbulnya kebingungan dan kejenuhan saat pengumpulan berkas tersebut.

Sampai kami berulangkali diingatkan oleh pengurus Bidang PNF Dinas Pendidikan Kota Cirebon. Sehingga kami kembali mengumpulkan berkas yang dibutuhkan.

Ketika Tim Asesor dari Pusat sudah mulai ditetapkan dan jadwal penilaian akreditasi sudah diagendakan, aku bersama staf dan beberapa orang guru (Pak Akhmad Yani, Saddam Husein, Bu Tri dan Ms. Hesti) bekerja keras sampai malam melengkapi berkas dan borang yang dibutuhkan.

LKP Rumah Belajar Cirebon mendapat jadwal hari pertama visitasi di kota Cirebon, yaitu pada hari Senin, 22 Oktober 2018.
Bertepatan dengan Hari Santri Nasional, visitasi yang merupakan rangkaian dari proses akreditasi akhirnya dilaksanakan di LKP Rumah Belajar Cirebon. Yang bertindak sebagai asesornya adalah Bu Eti Rusmiati SE., MM dari Sumedang dan Bu Retno Wiyati, S.Pd. dari Bandung.

Pada hari itu hadir juga Bapak Kabid Pembinaan PAUD PNF, Ibu Kasi Kelembagaan dan Sarpras Paud PNF, Bapak Kasi Kurikulum, Bapak Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter, serta Ibu Penilik LKP dari Dinas Pendidikan Kota Cirebon sebagai tamu undangan. Bapak Kepala Dinas Pendidikan berhalangan hadir karena sedang ada kegiatan lain.

Hati kami rasanya dag dig dug saat berkas dan borang yang telah kami kumpulkan dan kami klasifikasikan sesuai Standar Pendidikan tersebut satu persatu mulai dicocokkan dan dinilai oleh para Asesor. Apalagi ketika kami ditanya-tanya secara detail oleh mereka.

Sejak pagi hingga Isya barulah visitasi berakhir. Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka sebelum pulang.

Setelah beberapa bulan menunggu hasil akreditasi dengan harap-harap cemas, akhirnya sertifikatnya dikirim juga melalui web BAN PAUD. Ketika kami buka, alhamdulillah kami mendapat nilai B.

Jazakumullah khairan katsira kusampaikan kepada suamiku, staf dan guru, khususnya yang sudah bekerja lembur sampai malam hari menjelang visitasi.

Dengan telah terakreditasinya LKP Rumah Belajar Cirebon, semoga usaha kami yang semula hanya berupa kursus rumahan ini bisa menjadi lembaga kursus yang lebih profesional dan berprestasi. Ya Alalh berkahilah usaha kami dan semua yang terlibat di dalamnya. Aamiin ya rabbal’aalamiin

Bersahabat dengan Kelinci

Standar

Hai teman-teman, siapa yang tidak gemas melihat hewan bertelinga panjang dan berbulu halus yang jalannya melompat-lompat ini? Hampir setiap orang pasti menyayangi kelinci, terutama anak-anak. Jadi, tak heran jika hewan ini cocok menjadi hewan peliharaan kesayangan keluarga.

Salma juga suka dengan hewan lucu ini. Berawal dari sepasang kelinci yang dibelikan oleh papanya di pasar ketika Salma masih SD. Sungguh gembira hati Salma karena punya teman bermain baru di rumahnya. Kelinci jantan yang bulunya berwarna hitam itu diberinya nama Knight dan kelinci yang betina diberinya nama Snowy karena bulunya yang putih bersih seperti salju.

Knight termasuk jenis kelinci angora. Bulunya terlihat lebih lebat. Sedangkan Snowy termasuk jenis kelinci lokal yang bermata merah.
Setiap hari Salma bermain dengan Knight dan Snowy. Kadang bermain di kebun, sesekali di dalam rumah. Setiap hari Knight dan Snowy diberi makan kangkung dan wortel. Semakin lama perut Snowy bertambah buncit. Ternyata Snowy sedang hamil. Setelah beberapa bulan kemudian di sekitar tahun 2009, lahirlah anak-anak Snowy yang imut-imut dan menggemaskan. Jumlah anaknya ada 4 ekor.

Salma yang baru pertama kali melihat anak kelinci baru lahir itu merasa takjub. Sekilas anak-anak kelinci yang bulunya belum tumbuh itu terlihat seperti anak-anak tikus. Aku sendiri juga masih merasa ‘geli’ ketika akan memegangnya. Sepanjang hari Snowy menyusui anak-anaknya dengan telaten dan penuh kasih sayang sehingga semakin gemuk dan sehat.

Lama kelamaan bulunya juga tumbuh semakin lebat sehingga mulai terlihat warna bulunya dengan jelas. Ada 3 ekor anak kelinci yang bulunya berwarna putih dan yang 1 ekor lagi warna bulunya perpaduan hitam agak kecoklatan dan putih.

Salma semakin senang karena teman bermain di rumahnya bertambah banyak. Apalagi ketika 4 ekor anak kelinci tersebut sudah bisa berlari dan meloncat ke sana kemari. Semuanya lincah dan menggemaskan. Salma suka mengejar-ngejarnya di kebun belakang rumah. Kadang-kadang anak-anak kelinci itu digendong dan dielusnya bergantian.

Tapi dari 4 ekor anak kelinci itu ada 1 ekor yang paling disukainya, yaitu yang warna bulunya perpaduan hitam kecoklatan dan putih. Salma memberinya nama Chesster, (namanya diambil dari kata Chess/Catur) karena saat itu Salma memang masih menjadi atlet catur yang sering mewakili sekolahnya setiap kali ada pertandingan catur. Dan kebetulan warna bulunya juga ada hitam dan putihnya seperti warna papan catur.

Dari semua kelinci itu, hanya Chesster-lah yang paling sering dibawa masuk Salma ke dalam rumah atau diajak keluar. Sehingga Chesster menjadi kelinci yang paling jinak. Makanan kegemarannya tak hanya kangkung dan wortel. Biskuit dan kerupuk pun Chesster sukai. Chesster kelinci yang bersih, sehat dan rapi. Chesster membuang kotoran dan air seninya juga tidak sembarangan. Biasanya Chesster akan menuju ke toilet mini buatan kami (dari bekas wadah pencampur cat) yang kami letakkan di sudut rumah. Kotoran dan air seni Chesster bisa kami manfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Dari sepasang kelinci yang terus beranak pinak, lama kelamaan kami jadi mempunyai banyak kelinci. Chesster pun ikut menambah populasi kelinci di rumah kami ketika sudah melahirkan anaknya.

Saking banyaknya kelinci yang kami miliki sampai dibuatkan kandang khusus. Rasanya saat itu kami jadi seperti peternak kelinci. Karena cukup kewalahan mengurusnya, sebagian kelinci itu ada yang kami jual, ada juga yang kami berikan kepada teman dan saudara.

Kelinci-kelinci itu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kami atau pun bagi tamu yang datang ke rumah kami. Ketika ada saudara atau teman datang berkunjung ke rumah kami bersama anaknya, biasanya anak-anaknya akan betah karena senang bermain dengan kelinci-kelinci kami.

Seiring dengan berjalannya waktu, kelinci-kelinci yang usianya sudah semakin tua pun mulai mati satu demi satu. Ada juga yang mati karena sakit. Hanya tinggal Chesster yang tetap sehat dan masih hidup. Waktu tahun 2014 Chesster pernah sakit dan tidak nafsu makan.

Ketika kami bawa ke dokter hewan malah dokternya keheranan setelah tahu usianya Chesster. Menurut dokter tersebut, Chesster termasuk panjang umur karena masih bisa bertahan hidup hingga usia 5 tahun. Karena rata-rata usia kelinci hanya sampai 2 tahun. Wah, bisa jadi Chesster kelinci tertua di kota Cirebon nih

Tapi akhirnya pada tanggal 9 Januari 2015, Chesster meninggalkan kami untuk selama-lamanya.😭 Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun… Terima kasih Chesster, sudah menemani kami, khususnya Salma selama 6 tahun. Keceriaan saat bersamamu selalu melekat di hati kami.

Setelah itu kami tidak memelihara kelinci lagi karena Salma juga sudah semakin sibuk dengan sekolahnya. Apalagi sekarang sudah kuliah di Bandung. Namun keinginan untuk memelihara kelinci lagi selalu timbul di hati Salma. Setiap kali melihat kelinci di Lembang atau di mana pun, sebetulnya Salma ingin membelinya, tapi bingung bagaimana cara memeliharanya nanti karena tidak mungkin dibawa ke kamar kos. Mungkin nanti setelah selesai kuliah, Salma baru bisa memelihara kelinci lagi.

Nah, itulah sekilas cerita persahabatan kami dengan kelinci. Bila teman-teman suka kelinci dan ingin memeliharanya juga, berikut ini saya sertakan sekilas pengetahuan tentang kelinci, manfaat dan cara-cara memeliharanya, ya… Semoga bermanfaat. 😊

Kelinci termasuk hewan mamalia dari famili leporidae. Di Indonesia secara garis besarnya kelinci lokal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelinci Jawa (Lepus Negricollis) dan kelinci Sumatera (Nesolagus Netseherischlgel).

Kelinci Jawa diperkirakan pertama kali dibawa ke Indonesia pada tahun 1835 oleh seorang punggawa Belanda dan masih berkeliaran di sekitar hutan Jawa Barat. Warna bulunya cokelat bergradasi perunggu kehitaman dan berat badannya bisa mencapai 4 kg.

Sedangkan kelinci Sumatera merupakan kelinci asli Indonesia yang tersebar di sekitar hutan pegunungan Sumatra. Warna bulunya kelabu bergradasi coklat kekuningan dan panjang badannya bisa mencapai 40 cm. (Sumber: hamsterdankelinci.blogspot.com).

Kelinci tidak hanya bermanfaat sebagai teman dan hiburan yang menyenangkan bagi keluarga. Ada beberapa manfaat lain yang akan kita rasakan ketika memelihara kelinci, yaitu:
1. Menumbuhkan rasa sayang dan peduli terhadap hewan sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.
2. Melatih kedisiplinan dalam memberi makan pada kelinci setiap harinya.
3. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan saat kita ikut membersihkan kandang kelinci secara teratur.
4. Menimbulkan motivasi untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana cara merawat hewan/kelinci dengan baik.
5. Air seni dan kotoran kelinci dapat dijadikan sebagai pupuk kandang yang dapat menyuburkan tanaman.
6. Kelinci dapat membantu membersihkan kebun saat dilepas di kebun/taman dengan memakan rumput-rumput liarnya.
Jenis makanan yang bisa diberikan untuk kelinci adalah aneka sayuran (kangkung, kol, daun singkong, sawi) dan umbi-umbian (wortel, singkong, talas, ubi). Hay (rumput awetan) adalah makanan terbaik untuk kelinci karena berserat tinggi sehingga menyehatkan pencernaannya. Biji-bijian (biji bunga matahari, kedelai, jagung, kacang juga tanah) cocok diberikan untuk kelinci, terutama yang sedang hamil atau baru saja melahirkan. Yang penting semua makanan tersebut tak mengandung pestisida. Sedangkan pelet bisa diberikan sebagai makanan tambahan, asalkan jangan terlalu banyak.

Adapun jadwal dan jenis pemberian makannya bisa diatur sebagai berikut:
– Jam 10 pagi: biji-bijian yang sudah dihaluskan, umbi-umbian dan pelet.
– jam 1 siang: sayuran atau rumput segar (1/2 kg per kelinci dewasa)
– jam 6 sore: sayuran atau rumput yang berserat kasar (1 kg per kelinci dewasa).

Malam hari porsinya lebih banyak, karena kelinci banyak beraktivitas di malam hari. Bila kelinci sehat, umurnya bisa bertahan antara 5 – 12 tahun. (Sumber: satujam.com)

Kelinci adalah hewan yang bersih sehingga kebersihan kandangnya harus selalu dijaga agar tak mudah terjangkit penyakit. Berbagai penyakit yang biasanya menyerang kelinci, di antaranya adalah:

– Kudis (Scabiosis). Gejalanya kulit kemerahan disertai gatal yang menyiksa. Cara mengatasinya, pisahkan dari kandang, cukur bulunya dan oleskan Scabicid Cream pada bagian kulit yang gatal. Semprot kandang dengan disinfektan, jemur dan biarkan selama 15 hari.
Enteritis Kompleks. Penyakit pencernaan yang biasanya menyerang kelinci yang masih kecil. Gejalanya, kelinci tampak kurus dan lesu. Warna kotorannya hijau gelap, bau, berlendir dan menggantung. Penyebabnya, terlalu banyak makan sayuran basah, makanan tercemar, kandang kotor, makan obat berbahaya/tak sesuai dosis. Cara mengatasinya, bersihkan kandang, ganti sayuran basah dengan hay dan pelet, campurkan antibiotik pada air minumnya.
– Pilek. Gejalanya hidung berlendir dan bersin-bersin. Cara mengatasinya, bersihkan kandang, jemur di bawah sinar matahari, semprot hidungnya dengan larutan antiseptik dan berikan antiobitik (Penicilin) dan Anticold. (Sumber: dictio.id)

Nah, demikianlah manfaat dan cara memelihara kelinci. Yuk kita rawat hewan lucu ini dengan baik agar makin sehat, menggemaskan dan bermanfaat.

Manisnya Buah Kesabaran

Standar

Hari Minggu ini Linda sudah siap sejak pagi di Masjid Lautze. Tak lupa ia membawa rujak sebagaimana yang telah ia janjikan kemarin untuk diberikan kepada Koh Hugo bila nanti jadi hadir dan ikut pengajian di sana. Tapi aku tidak yakin Koh Hugo akan datang. Apalagi kami juga belum banyak saling mengenal.

Dan benar… , hingga acara pengajian usai, Koh Hugo memang benar-benar tidak hadir. Aku tidak terlalu kecewa karena aku juga tidak mau terlalu mengharapkannya. Sejak kekecewaan yang secara beruntun pernah aku alami sebelumnya itu, kini aku menjadi takut berharap terlalu banyak lagi terhadap apa pun dan siapa pun. Apalagi terhadap pasangan hidup.

Akhirnya rujak yang sudah disiapkan oleh Linda tadi kami makan bersama teman-teman yang ikut pengajian pagi itu. Bagaimana pun aku tetap berterimakasih kepada Linda yang selalu memotivasi dan mensupport-ku dalam segala hal. Sejak aku mulai berkenalan dengannya, aku juga sudah kagum pada ketegasan dan kemandiriannya. Apalagi ia sangat rajin shalat Tahajud. Bersama sahabatku itu kami bisa saling belajar untuk menjadi seorang muslimah yang baik.

Seperti biasa di hari Senin sesudah shalat Subuh itu aku sedang bersiap-siap untuk mandi dan berangkat bekerja, Tiba-tiba terdengar suara dering telepon di ruang tengah memecah kesunyian suasana kos di pagi hari itu.

“Ir, ada telepon buat kamu tuh…,” teriak temanku sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku segera keluar dari kamar untuk menerima telepon. Kupikir itu telepon dari ibu atau ayahku di Magelang.

Assalamu’alaikum…,” kudengar suara lelaki dari balik telepon itu. Tapi bukan suara ayahku.

Wa’alaikumussalam. Maaf ini dengan siapa ya?” aku langsung bertanya.

Wah, sudah lupa ya? Saya Hugo dari Cirebon yang kemarin hari Sabtu ketemu di acara LDK itu lho. Maaf ya kemarin Minggu saya tidak bisa datang ke acara pengajian di Masjid Lautze karena harus belanja beberapa barang keperluan pabrik untuk kakak saya. Terus pagi ini saya harus langsung pulang ke Cirebon karena sudah ditunggu kakak saya,“

Nyesss… Suara Koh Hugo dan semua penjelasan atas ketidakhadirannya kemarin di Masjid Lautze itu terasa menyejukkan hati dan menjawab pertanyaan di dalam hatiku.

Oooh, iyaa.. Maaf Koh…, saya kira siapa ini tadi… Hehehe. Iya, nggak apa-apa Koh… Nanti kan kapan-kapan bisa datang lagi,” aku menjawab dengan agak gugup karena tak mengira Koh Hugo akan meneleponku pagi ini.

“Iya, insya Allah nanti saya datang lagi deh. Oke, sudah dulu ya… Ini saya sudah siap-siap mau naik kereta Cirebon Ekspress nih. Mau pulang ke Cirebon. Assalamu’alaikum..,” Koh Hugo pun berpamitan pulang.

Oke, semoga selamat sampai di tempat ya. Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil tersenyum gembira.

Sejak itu, hampir setiap pagi Koh Hugo meneleponku. Teleponnya dari sekedar menanyakan kabarku hingga berdiskusi tentang ajaran Islam. Namun aku tetap memposisikan harapanku di tengah-tengah. Supaya apa pun yang terjadi nanti aku tetap siap dan tidak mudah kecewa lagi.

Hingga kira-kira di hari yang ke sepuluh dari perkenalan kami, tiba-tiba Koh Hugo mengajakku bicara dengan nada yang serius dalam teleponnya,

“Ir, saya pernah membaca sebuah buku agama Islam. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa dalam ajaran Islam tidak diizinkan pacaran.

Nah, makanya saya juga ingin melanjutkan hubungan ini menjadi lebih serius. Saya tidak mau pacaran, Ir… Saya ingin langsung melamar dan menikahimu.”

Sontak aku terkejut sekaligus gembira bukan kepalang. Lalu sesaat aku terdiam. Karena aku tak mengira Koh Hugo akan seberani dan seserius itu.

Semula kusangka Koh Hugo seperti laki-laki kebanyakan yang hanya akan mengajak pacaran terlebih dahulu hingga beberapa lama dengan hubungan yang tidak jelas. Sementara usiaku semakin bertambah sehingga tentu saja membutuhkan suatu kepastian.

Namun prasangkaku terhadapnya ternyata salah besar. Kata-katanya itu telah membuktikan bahwa ia tak seburuk yang kusangka.

Sebenarnya aku masih belum sepenuhnya percaya pada niat baik Koh Hugo. Mungkin karena aku juga masih belum lama mengenalnya. Belum ada 2 minggu malahan… Memang terasa kilat banget permintaannya untuk melamar dan menikahiku.

Maka aku menyarankannya untuk saling mengenal antar keluarga masing-masing saja terlebih dahulu.
Di luar dugaan, Koh Hugo langsung menyambut ‘tantanganku’ itu. Ia meminta alamat rumah kedua orang tuaku di Magelang. Lalu ia mulai mengatur rencana pertemuannya dengan kedua orang tuaku di Magelang.

Untuk menghindari fitnah, ia menyarankanku untuk pulang ke Magelang terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menyusulku ke Magelang.

Dengan hati yang gembira aku langsung menelepon ibu dan ayahku. Aku menceritakan semua hal tentang Koh Hugo. Dari sejak pertama kali aku mengenalnya hingga rencananya untuk datang ke Magelang dalam rangka melamar dan menikahiku.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kedua orang tuaku terkejut ketika mendengar ceritaku. Kata ibuku proses perkenalanku dengannya masih terlalu singkat. Jadi harus dicek dulu bagaimana kepribadian dan keluarganya?

Sebab pernikahan itu bukan main-main. Jadi jangan sampai menikah dengan lelaki yang salah sehingga terjadi penyesalan di kemudian hari.

Namun kedua orang tuaku menyambut baik rencana kedatangannya ke rumah dalam rangka silaturahmi dan saling mengenal di antara kami.

Dalam rangka kehati-hatiannya, ibuku meminta bantuan salah seorang saudaranya yang tinggal di Cirebon untuk menyelidiki keluarga koh Hugo dan memastikan tempat tinggalnya.

Karena ibuku khawatir barangkali Koh Hugo ternyata sudah menikah dan aku hanya dijadikan istri gelapnya, mengingat usianya yang sudah di atas 30 tahun. Na’udzubillahi min dzalik..

Setelah sebagian informasi tentang koh Hugo dan keluarganya diterima kedua orang tuaku dengan baik, mereka kini menjadi lebih percaya akan status Koh Hugo dan rencananya tadi. Tinggal nanti bagaimana penilaian orang tuaku terhadapnya saat bertemu langsung dengannya.

Saat aku sudah tiba di Magelang, kami sekeluarga menunggu kedatangan Koh Hugo dengan harap-harap cemas.

Ketika hari semakin sore dan Koh Hugo masih belum tiba juga di rumah kami, sempat terselip sedikit keraguanku akan keseriusannya untuk berani datang ke Magelang menemui kedua orang tuaku. Apalagi terhadap rencananya untuk melamar dan menikahiku dalam waktu yang begitu singkat ini.

Bayang-bayang kekecewaan di masa lalu pun silih berganti mulai bermunculan di benakku.

Tapi saat kudengar suara bel di depan pintu rumah kami dan sosok Koh Hugo yang sedang kutunggu-tunggu itu benar-benar telah hadir di hadapanku, dalam hati aku berseru, “Alhamdulillah.. ! Koh Hugo ternyata benar-benar menepati kata-katanya!” Kami sekeluarga langsung menyambut kedatangannya dengan gembira.

Keletihan dari perjalanan Cirebon-Magelang, masih tampak di wajahnya. Rupanya tadi ia sempat kebingungan dan hampir ‘nyasar’ ketika mencari alamat rumah kami.

Tapi saat koh Hugo datang kembali ke rumah kami di malam hari sesudah mandi di hotel, wajah gantengnya tampak terlihat segar kembali. Kedua orang tuaku juga senang melihatnya.

Kepercayaan kami kepada Koh Hugo semakin bertambah ketika dengan mantapnya ia menetapkan tanggal lamaran pernikahannya. Setelah membuka-buka lembaran kalender dan mencari-cari waktu yang pas, akhirnya disepakati bersama bahwa pada tanggal 17 Agustus 1997 ia akan datang lagi bersama keluarganya untuk melamarku.

Sebulan kemudian, Koh Hugo kembali membuktikan keseriusannya dalam menjalin hubungan denganku. Pada tanggal yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia itu sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, ia datang lagi bersama rombongan keluarganya untuk melamarku. Alhamdulillah…

Selain membawa barang-barang seserahan lamaran, keluarganya juga mengajak kami berembug untuk langsung menetapkan tanggal pernikahan kami berdua. Hingga akhirnya disepakati bahwa akad nikah kami akan dilaksanakan pada tanggal 16 November 1997 bertempat di rumah orang tuaku di Magelang.

Masya Allah, aku tak menyangka akan secepat ini!

Betapa bahagianya hatiku saat itu. Di hari Kemerdekaan bangsa Indonesia ini, Koh Hugo serasa telah ‘memerdekakan’ perasaanku yang selama ini selalu terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri dan kekecewaan.

Aku menjadi semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik pilihan Allah Swt. yang selama ini telah lama kunantikan.

Apalagi ada beberapa poin penting yang membuatku makin bersimpati dan mantap untuk menerima lamaran dan menikah dengannya. Yaitu keshalehannya. Koh Hugo selalu menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya dan sangat berhati-hati dalam bergaul denganku selama ini dalam rangka menjaga etika Islam.

Selain itu aku melihat adanya hubungan kekeluargaan dan sikap toleransi yang baik dalam keluarga Koh Hugo, meskipun hanya Koh Hugo sendirilah yang muslim dalam keluarganya.

Selama masa proses persiapan menuju tanggal pernikahan kami, aku tetap berdoa memohon kepada Allah Swt, “Ya Allah, bila memang benar Koh Hugo ini adalah jodoh yang terbaik untukku dunia dan akhirat, berilah kelancaran pada setiap proses menuju pernikahan kami nanti. Namun bila dia bukan jodoh terbaikku, putuskan hubungan kami sebelum acara pernikahan kami, agar tidak menjadi duri dalam rumah tangga kami nantinya”

Hingga saat pernikahan kami tiba, kurasakan semua urusan dan prosesnya berjalan dengan sangat baik dan lancar. Alhamdulillah, aku yakin, bahwa inilah jawaban dari Allah Swt. atas doaku selama ini. Aku juga semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik yang Allah Swt. berikan untukku.

Akhirnya, tibalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu! Setelah 4 bulan lebih 4 hari sejak pertemuan kami yang pertama di Jakarta, kami berdua dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang sah. Kedua orang tuaku dan keluarga kami masing-masingpun menjadi lega dan ikut berbahagia dengan pernikahan kami.

Dan alhamdulillah, hingga 22 tahun pernikahan kami saat ini, dalam suka duka berumahtangga, kami merasakan suasana keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Inilah buah manis kesabaran penantian kami. Semoga demikianlah selamanya. Sehidup sesurga bersama keluarga kami. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

– Selesai –

Bayang-bayang Kekecewaan

Standar

Sumber gambar: Pixabay Pro

Kisah kegagalanku dalam mencari pasangan hidup ini bermula ketika aku diperkenalkan dengan seorang lelaki keturunan Tionghoa yang katanya seorang muslim juga. Dia berasal dari Solo dan lulusan kedokteran dari sebuah PTN ternama. Ternyata dia hanya datang pertama dan terakhir kali di rumah orangtuaku di Magelang. Dan sesudah itu tak ada kabarnya lagi.

Ketika kuliah di Yogyakarta, aku pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa dari sebuah PTN. Dia adalah seorang muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari luar Jawa dan aktif dalam kegiatan dakwah Islamiyah di organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam/dulu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di kota tersebut.

Aku sangat mengaguminya, karena selain wajahnya yang bisa dibilang ganteng, dia juga sangat alim dan bagus dalam hal pengamalan ajaran Islam. Aku senang sekali waktu ia memercayaiku sebagai pengganti dalam mengisi kultum di sebuah masjid di kota Yogyakarta pada saat bulan Ramadhan. Tapi aku hanya bisa memendam perasaan sukaku itu ketika kutahu bahwa ia sudah mempunyai seorang calon istri.

Kemudian ada seorang kakak kelas di kampusku, berasal dari Kalimantan yang ingin menjalin hubungan serius denganku sampai mendatangi rumah orang tuaku di Magelang. Aku sangat menghargai keberanian dan keseriusannya. Tapi kedua orang tuaku masih belum menyetujuinya, di samping memang aku sendiri juga masih belum ‘sreg’ di hati.

Salah seorang pengurus PITI Yogyakarta pun sampai tergerak hatinya ingin mencarikan jodoh untukku. Ia memperkenalkan keponakan laki-lakinya yang lulusan Fakultas Kehutanan. Walaupun kami sudah dipertemukan dan diberi kesempatan untuk saling mengenal, pada akhirnya malah kami berdua dengan penuh kesadaran sepakat untuk tidak melanjutkan pada keseriusan hubungan. Kebetulan kami berdua memang sama-sama tidak mempunyai ‘chemistry’ satu sama lain 😀

Setelah itu aku sempat berkenalan dengan lelaki lain dari berbagai daerah dan etnis. Tapi tak ada satu pun yang menjadi serius dan berkenan di hati. Penyebabnya tentu saja bukan karena aku yang terlalu rewel. Tapi memang entah mengapa setiap kali ada lelaki yang sebetulnya aku sudah merasa cocok dengannya, ternyata laki-laki itu sudah punya calon pendamping atau sudah menikah atau belum ‘sreg’ denganku.

Nah, sebaliknya ketika ada lelaki yang tertarik padaku, dari yang mengejar-ngejarku, memaksa mengantarku kuliah, menulis surat untukku dengan bahasa yang indah dan puitis, sampai yang mengajakku ketemuan padahal sudah punya istri. Entah mengapa, semuanya tidak ada yang cocok di hatiku?

Semua kenyataan ini membuatku semakin gelisah. Karena waktu terus berlalu dan usiaku juga terus bertambah. Apalagi kalau ada yang berulangkali menanyakan perihal pasangan hidup kepadaku. Sedangkan statusku dari tahun ke tahun masih saja jomlo. 😥

Hingga suatu hari saat menjelang acara wisuda sarjanaku, ada seorang laki-laki dewasa berasal dari Jawa Timur yang kembali diperkenalkan padaku. Awalnya aku diperlihatkan sebuah foto seorang lelaki dewasa bermata sipit oleh ibuku. Kata ibuku, dia adalah saudara kenalan ibuku yang juga sedang mencari jodoh dan umurnya sudah memasuki tiga puluh tahunan.

Ia adalah seorang pedagang muslim keturunan Tionghoa yang mempunyai sebuah toko sembako di daerah Bangil, Jawa Timur. Singkat kata, ia mempunyai usaha yang sudah mapan dan tahun ini sudah berencana untuk berangkat haji. Tentu saja kedua orang tuaku sangat mendukungku untuk berkenalan dan menjalin hubungan serius dengannya.

Maka ketika ia datang ke Magelang untuk berjumpa dengan kami sekeluarga, kami menyambutnya dengan baik. Selama beberapa saat terjalin pembicaraan yang akrab di antara kami. Hingga ketika lelaki itu berpamitan pulang, sempat terbersit setitik harapan di hatiku.
Terlebih ketika beberapa hari kemudian aku menerima kiriman surat darinya. Di dalam suratnya ia menceritakan tentang keluarganya, pekerjaannya, dan kondisi kota tempat tinggalnya. Aku pun membalas suratnya dengan senang hati. Aku juga menceritakan berbagai hal tentang diriku dan keluargaku. Lalu dia membalas suratku lagi dengan kata-kata yang semakin akrab. Dan aku kembali membalas suratnya. Begitulah seterusnya kami saling berkirim surat.

Saat itu harapanku akan keseriusan hubungan kami ini menjadi semakin besar ketika melihat respon positif dari setiap isi suratnya. Saat dia akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pun ia sempat memberi kabar, berpamitan dan memohon padaku untuk mendoakannya agar selamat dalam perjalanan dan menjadi haji mabrur. Aku ikut merasa senang karena sebagai seorang mualaf, ia telah membuktikan keseriusannya dalam beribadah, di antaranya dengan menunaikan Rukun Islam yang kelima itu.

Setelah hampir 2 bulan berlalu, aku mulai gelisah karena suratnya tak kunjung datang lagi. Tapi aku mencoba berprasangka baik. Mungkin sekembalinya dari ibadah Haji dia sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sampai suatu sore, sepulangku dari kios ibuku, aku menemukan sepucuk surat di atas meja. Aku berseru gembira ketika kutahu bahwa itu adalah surat darinya yang sudah lama kutunggu-tunggu selama ini. Dengan tak sabar, kusobek amplopnya lalu kubaca suratnya.

Dari awal kata pembuka suratnya hingga setengah bagian surat itu aku masih merasa senang membacanya. Karena di dalam surat itu dia menceritakan suasana dan keadaannya saat beribadah Haji. Tapi ketika aku mulai membaca bagian pertengahan hingga akhir suratnya, alisku menjadi berkerut. Dan aku menjadi sangat terkejut ketika aku membaca kalimat ini,

“Irma, saya senang karena hubungan di antara kita selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Tapi karena ada beberapa hal yang tak bisa saya ceritakan di sini, saya minta maaf ya Irma… Saya tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini menjadi hubungan yang lebih serius. Walaupun begitu tali silaturahmi di antara kita jangan putus ya. “

Kata demi kata dalam kalimat itu serasa menghancurkan bongkahan harapanku dengan seketika. Harapanku untuk bisa didampingi olehnya saat wisuda sarjana. Harapanku untuk bisa menikah dengannya seusai wisuda sarjanaku. Harapanku untuk bisa bersama-sama mengelola usaha yang telah dimilikinya sesudah menikah nanti. Yah, semua harapanku itu kini telah sirna. Yang ada hanyalah harapan yang kosong… 😥

Aku lalu duduk termenung di sebuah kursi di ujung ruang tamu. Dalam kesendirian dan kesedihanku itu, aku hanya bisa menangis, meratapi nasibku ini, “Ya Allah… Mengapa selalu berakhir begini? Mengapa jodohku tak kunjung datang? Apa salahku ya Allah. Aku lelah dengan semua penantian ini…” Berbutir-butir air mata mengalir deras ke pipiku.

Ketika kedua orang tuaku mengetahui tentang kabar ini, mereka juga terkejut. Mereka tak mengira hubungan kami yang sudah terbina dengan baik itu bisa kandas begitu saja. Tapi mereka hanya bisa menghibur, membesarkan hati dan mendoakanku.

“Sabar ya Fang… Jangan berhenti untuk terus memohon pertolongan kepada Allah. Karena Allah itu Maha Penolong dan Maha Penyayang. Allah juga Maha Mengetahui. Dia tahu siapakah yang nanti akan menjadi jodoh terbaikmu sehingga akan menghadirkannya di waktu yang tepat. Siapapun yang hadir, namun pada akhirnya belum berjodoh denganmu, berarti ia bukan yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Kesabaran itu memang pahit, namun pasti akan berbuah manis”

Untuk mengobati semua kekecewaan dan untuk menumbuhkan kembali rasa optimisku, seusai wisuda sarjana aku mengisi waktu dengan bekerja di beberapa tempat. Dari bekerja di kota Yogyakarta sampai ke kota Jakarta.
Hingga akhirnya aku bergabung di Yayasan Haji Karim Oei Jakarta dan bersahabat dengan Linda seorang mualaf keturunan Tionghoa yang berasal dari Nusa Tenggara Barat.

Bersambung

Pertemuan Singkat

Standar

Pagi ini cuaca di kota Jakarta cukup cerah. Suasana kota metropolitan ini mulai tampak sibuk dengan berbagai aktivitas warganya. Di jalan raya juga sudah ramai dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang mempunyai tujuan dan arahnya masing-masing.

Ada yang menggunakannya untuk mengantar anaknya ke sekolah. Ada yang memakainya untuk berbelanja ke pasar. Ada juga yang mengendarainya untuk berangkat ke kantor. Mereka sebagian mengendarai kendaraan pribadi. Sedangkan sebagian yang lain naik motor atau menumpang kendaraan umum.

Sementara itu, pagi ini aku sedang bersiap-siap akan berangkat ke daerah kota. Beberapa hari yang lalu pengurus Yayasan Haji Karim Oei Pusat memberi informasi bahwa pada hari ini akan diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei di sana.

Saat itu aku masih belum tahu persis lokasinya. Aku masih bingung, bila berangkat dari daerah Kelapa Gading menuju ke sana, bus kota atau mobil angkot yang jalur berapa yang harus kutumpangi? Aku sudah tanya ke beberapa orang, tapi informasinya kok berbeda-beda? Entah yang mana yang benar? Kalau naik taksi aku tak mau nanti bayarnya jadi mahal ketika nanti tejebak kemacetan di jalan. Maklum di masa itu belum ada taksi online.

Akhirnya aku memilih naik bajaj saja. Meskipun suara mesin kendaraannya agak berisik, tapi aku tak perlu khawatir biayanya jadi membengkak. Aku pun bisa leluasa bertanya ke supir bajaj atau orang yang kutemui di jalan, di mana lokasi yang akan kudatangi ini nanti.

Naik bajaj juga ada kesenangan tersendiri. Aku bisa melihat-lihat suasana jalan dengan leluasa. Sembari menikmati semilirnya angin bila keadaan jalan sedang lancar. Kondisi menjadi berbeda bila jalanan sedang macet. Tak hanya asap kendaraan yang bisa menyesakkan dada. Lama kelamaan udara pun terasa pengap dan gerah.

“Ir, ayo masuk cepetan… ! Sudah ada yang nunggu kamu di dalam! Kalau kamu nggak mau, entar buat aku saja, lho…”

Linda berseru memanggilku, begitu melihatku hadir di antara kerumunan peserta acara Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei yang berlangsung pada hari Sabtu, 12 Juli 1997 di Jakarta. Dengan cepat Linda menarik tanganku masuk ke dalam ruangan tempat acara berlangsung.

Emang ada apa sih? Siapa yang nunggu aku? Terus apanya yang buat kamu?”

Aku malah jadi merasa heran dengan tingkah sahabatku itu yang tampak heboh dan seperti menyembunyikan sesuatu. Sedangkan aku baru saja tiba di tempat, setelah sebelumnya bajaj yang kutumpangi tadi sempat terjebak macet di jalan.

Fiuuuh..!”
Aku menghela nafas sambil menyeka keringat yang menetes di dahiku.

Ketika kami memasuki ruangan tersebut, acara baru saja dimulai. Baru diisi sambutan-sambutan oleh para pimpinan yayasan yang menyelenggarakan acara ini. Yaitu Yayasan Haji Karim Oei, Yayasan Bina Pembangunan dan Yayasan Amanah Ummat.

Ruangan tampak sudah dipenuhi oleh para peserta. Peserta acara ini sebagian besar adalah para mualaf yang tergabung dalam Yayasan Haji Karim Oei. Baik dari Pusat (Jakarta), cabang Bandung dan cabang Cirebon. Aku dan Linda adalah dua di antara peserta dari Yayasan Haji Karim Oei Pusat.

Baru saja aku mendapatkan tempat duduk, tiba-tiba seorang panitia memintaku maju ke depan untuk membaca Al Qur’an sebagai pembuka acara ini.

Deg!! Waduh, kok mendadak banget, sih… Keringat dingin menetes lagi di dahiku. Aku langsung mencari ayat Al Qur’an yang kandungan maknanya kira-kira tepat untuk acara hari ini. Setelah kutemukan dan kubaca sekilas, aku langsung maju ke depan.

Bismillahirrahmanirrahiim, Ya Allah berilah hamba kelancaran dalam membaca ayat-ayat Al Qur’an ini. Aamiin..” dalam hati aku berdoa.

Ayat demi ayat dari surat Al Mukminun pun kubaca perlahan. Ayatnya memang pendek-pendek namun maknanya dalam karena berisi tentang asal muasal kejadian manusia dan beberapa ciri-ciri orang mukmin yang beruntung. Aku hanya membaca dari ayat 1 sampai ayat 16 mengingat waktu yang terbatas.

Alhamdulillah, akhirnya tugasku itu dapat kuselesaikan dengan baik dan lancar. Ketika aku kembali ke tempat dudukku dan belum sempat menanyakan lagi beberapa hal yang masih belum kupahami tadi ke Linda, ia malah membuatku makin penasaran dengan membisikiku, “Eh Ir, kamu tuh belum tahu toh? Kamu tuh mau dikenalin, lho…”

Hah, masa sih? Aku malah baru tahu, lhoEmangnya aku mau dikenalin sama siapa, sih Lin?

“Sama itu tuh yang wajahnya ganteng kayak bintang film Hong Kong itu, lho…,” kata Linda sambil menunjuk ke arah sosok lelaki yang ia maksud dan duduk di seberang kami.

“Hmmm.., “ aku hanya menggumam perlahan sambil diam-diam memperhatikan lelaki yang sedang membaca sebuah koran itu. Entah karena sadar sedang aku perhatikan atau karena kebetulan saja, lelaki itu tiba-tiba menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain karena malu.

Lalu aku bertanya lagi kepada Linda tentang lelaki yang sedang gencar ‘di’promosi’kannya itu. Kata Linda, lelaki itu merupakan salah seorang peserta dari Yayasan Haji Karim Oey Cabang Cirebon.

Berdasarkan informasi yang kuperoleh, ia memang sengaja hadir di sini, tidak hanya untuk mengikuti acara Pelatihan, namun juga karena akan dipertemukan dan diperkenalkan denganku. Hal ini atas inisiatif para pimpinan Yayasan Haji Karim Oei Pusat maupun cabang Cirebon.

Jadi… , pertemuan ini ternyata memang sudah direncanakan ya…?!

Aku semakin paham ketika ‘coffee break’ dan ‘ishoma’, lelaki berkulit putih dan bermata agak sipit itu mulai mendekatiku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Hugo, tinggalnya di Losari Cirebon. Nama yang unik. Selanjutnya kami saling bertukar nomer telepon.

Ayo Koh Hugo, besok Minggu datang juga dong ke acara pengajian rutin YHKO di Masjid Lautze Jakarta! Irma besok juga ke sana, lho. Entar kita bawain rujak deh… ”

Linda makin bersemangat ‘ngomporin’ kami berdua.
Aku tahu sahabat baikku itu ikut senang melihat pertemuan kami ini dan dia mendukung agar hubungan kami berkelanjutan sehingga menjadi lebih serius.

Insya Allah ya, “ begitu jawab Koh Hugo sambil tersenyum. Akhirnya ketika acara selesai, kami saling berpamitan pulang. Aku pulang ke kosku di daerah Kelapa Gading dengan beribu perasaan yang campur aduk tak menentu.

Saat hari semakin malam aku malah tak bisa tidur karena memikirkan pertemuan singkatku tadi dengan Koh Hugo dan masa depanku.

Sejujurnya, aku sudah benar-benar lelah dan pesimis kalau membicarakan masalah pasangan hidup, masalah jodoh, masalah dikenalin, masalah dipertemukan.., dan lain sebagainya..

Setelah kegagalan demi kegagalanku dalam menjalin hubungan dengan beberapa lelaki yang sudah pernah dipertemukan atau diperkenalkan padaku beberapa waktu yang lalu, mengakibatkanku tak bersemangat lagi dalam hal ini karena aku tak mau lagi menelan pil pahit kekecewaan.

Sebelum tidur kupanjatkan doa kepada Allah Swt agar aku diberi-Nya jodoh dan kehidupan yang terbaik, dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Bersambung –

Suka Duka Mengelola Rumah Belajar Cirebon bersama Para Staf dan Guru

Standar

Selama tiga belas tahun mengelola Rumah Belajar Cirebon, banyak pengalaman suka dan duka yang kurasakan. Dari senangnya mempunyai ratusan murid sampai sedihnya saat murid hanya tinggal beberapa gelintir saja. Dari bangganya mendapat reward Jarimatika Pusat ke Singapura hingga paniknya saat mengalami kerugian dan harus nombok untuk gaji staf dan guru.

Mengelola sebuah lembaga kursus memang susah-susah gampang. Karena bukanlah sebuah usaha yang semata-mata hanya mencari keuntungan belaka. Jadi butuh kesabaran, keikhlasan, penuh pengertian dan tahan banting terhadap pasang surutnya kondisi finansialnya.

Berkat dukungan para staf dan guru yang loyal bekerjasama denganku, alhamdulillah Rumah Belajar Cirebon bisa tetap berjalan dan bertahan sampai sekarang.

Ada beberapa hal yang memberi kebahagiaan tersendiri di hatiku. Yaitu ketika aku bisa berbagi rezeki dari hasil kursus kepada staf dan guru dengan memberi mereka gaji, melihat murid-murid semangat belajarnya dan saat mendengar kesaksian orangtua murid yang puas dengan kemajuan belajar anaknya.

Di samping itu, banyak kisah inspiratif yang kuperoleh bersama para staf dan guru selama mengelola Rumah Belajar Cirebon. Beberapa staf dan guru di Rumah Belajar Cirebon telah menunjukkan ketangguhan, kejujuran dan tanggung jawabnya dalam setiap tugas mereka.
Berikut ini beberapa guru yang sampai sekarang masih mengajar di Rumah Belajar Cirebon:

1. Bu Rita S.Si adalah guru yang jago matematika. Ia telah menjadi guru Jarimatika sejak tahun kedua berdirinya Rumah Belajar Cirebon (2007). Sekarang Bu Rita juga mengajar Matematika APIQ. Sudah banyak murid yang dibantunya hingga mampu menguasai metode Jarimatika dan APIQ. Anak-anak jadi lebih mudah dalam berhitung dan menyelesaikan soal-soal matematika. Keakraban dengan murid-muridnya pun terjalin dengan baik karena Bu Rita selalu menganggap mereka seperti anaknya sendiri. Hampir setiap hari bu Rita berangkat mengajar dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan motor dari rumahnya di daerah Palimanan. Untuk menambah penghasilannya, ia juga berjualan berbagai produk seperti tas, peralatan makan, dan lain-lain.

2. Pak Akhmad Yani S.Pd.Cht, guru Matematika APIQ, E Learning for Kids, i-tutor.net dan Bimbel yang sabar, tulus, loyal, cerdas, ulet dalam setiap tugas yang diberikan. Baik tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar maupun pembuatan dokumen penting untuk Rumah Belajar Cirebon. Pak Akhmad menjadi guru di Rumah Belajar Cirebon sejak bulan Juni 2009. Ia juga membantu usaha spare part milik suamiku (Specia Mandiri) sejak tahun 2014. Sekarang ia tengah menempuh studi Pasca Sarjana jurusan Bahasa Inggris di Unnes Semarang.

3. Bu Neneng S.Pd.I, guru Calistung Cahaya Bintang yang sudah biasa dan telaten mengajar anak-anak usia dini. Bu Neneng mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2013.

4. Ms. Hesti SE, guru E Learning for Kids yang mengajar di Rumah Belajar Cirebon sejak tahun 2014. Di sela kesibukannya mengurus dua orang anaknya, ia tetap berusaha meluangkan waktunya mengajar di Rumah Belajar Cirebon. Untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarganya, Ms. Hesti juga berjualan aneka baju muslimah dan perlengkapannya. Ms. Hesti termasuk guru yang lembut dan bagus pendekatannya ke anak-anak sehingga mampu membuat murid-muridnya betah belajar.

5. Kak Niko, guru Art Kids Studio yang ‘nyeni’ dan kreatif. Kelihatannya pendiam tapi ternyata enak diajak ngobrol. Kak Niko adalah salah seorang personil Sinau Art yang senang membuat kerajinan dari kayu. Ia mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2015.

6. Bu Tri S.Pd. guru Calistung Cahaya Bintang yang enerjik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang bisa menambah wawasannya. Kalau pagi ia mengajar di TK. Bu Tri mengajar di Rumah Belajar Cirebon sejak tahun 2016.

7. Puri, guru Art Kids Studio dan Matematika APIQ. Mulai mengajar dari bulan November tahun 2018. Sekarang sedang menunggu proses sidang dari skripsinya di Fakultas Matematika, IAIN Sunan Gunung Jati, Cirebon. Ia sangat peduli terhadap keluarga dan lingkungan masyarakatnya di daerah Losari. Saat Losari kemarin terkena musibah banjir, Puri ikut aktif menggalang dana untuk membantu korban banjir di sana.

8. Bu Nia, termasuk guru baru Calistung Cahaya Bintang. Mulai mengajar pertengahan tahun 2019. Pagi harinya ia mengajar di TK. Sesudah itu sorenya mengajar di Rumah Belajar Cirebon.

9. Bu Nur’aeni S.Pd. guru Jarimatika yang ramah dan ceria. Ia masih termasuk guru baru, karena mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2018. Semula mengajar ekskul Jarimatika di SDIT Sabilul Huda. Sekarang mengajar kelas reguler Jarimatika di Rumah Belajar Cirebon. Saat ini Bu Nur’aeni juga sedang menempuh kuliahnya di Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon, jurusan Ekonomi Islam.

10. Pak Ammar S.Pd.i, juga guru baru di Rumah Belajar Cirebon. Mulai mengajar tahun 2018. Semula mengajar ekskul Jarimatika di SDIT Sabilul Huda. Sekarang mengajar kelas reguler.

11. Inayah S.Pd. baru saja lulus dati kuliahnya di UPI Bandung jurusan PGSD. Saat ini mengajar ekskul E Learning for Toddlers di TKIT Nurushshidiq. Mulai mengajar ekskul dari bulan Januari tahun 2019.

12. Saddam Husein S.E., staf administrasi yang ulet dan cekatan dalam mengurus pendaftaran murid baru, pembayaran SPP, memberikan informasi tentang program kursus di Rumah Belajar Cirebon, sekaligus mengurus toko/kantin. Saddam mulai bekerja di Rumah Belajar Cirebon dari bulan Agustus 2018. Berkat keuletannya, penambahan jumlah murid meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Selain itu Saddam juga mampu memperbaiki ketertiban pembayaran SPP murid.

13. Pak Ramdia, staf cleaning service dan juru parkir yang menjaga keamanan kendaraan di area parkir. Pak Ramdia mulai bekerja di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2006.

Last but not least adalah Ms. Puji S.Pd, guru bahasa Inggris (e Learning for Kids) yang selalu enerjik dan kreatif dalam mengajar. Meskipun sementara ini terpaksa ia berhenti mengajar karena baru saja melahirkan anak ke tiganya dan rumahnya sudah pindah ke lokasi yang makin jauh dari Rumah Belajar Cirebon, namun dedikasinya dalam mengajar sejak tahun 2007 tak pernah kulupakan. Ms. Puji kini membuka toko busana muslimah di rumahnya sambil mengasuh ketiga anaknya untuk menunjang kelangsungan ekonomi keluarganya. Semoga nanti suatu saat bisa mengajar kembali.

Nah, demikianlah sekilas kisahku saat merintis dan mengelola Rumah Belajar Cirebon bersama para staf dan guru Rumah Belajar Cirebon yang tangguh.

Kesulitan dan kegagalan yang pernah kami alami memang acapkali hampir meruntuhkan semangat kami. Rasa putus asa pun beberapa kali hinggap dan menghalangi langkah kami.
Sehingga sempat terpikir untuk menutup usaha ini.

Namun kekompakan dan loyalitas mereka menjadi spirit yang mampu memotivasiku untuk terus mempertahankan Rumah Belajar Cirebon.

Semoga Allah Swt. meridhai dan memberkahi usaha kami dalam mengelola Rumah Belajar Cirebon. Sehingga kami mampu menebar kebaikan dan ilmu yang bermanfaat kepada semua yang terlibat di dalamnya maupun kepada masyarakat. Allahumma aamiin…

Mengembangkan Program Kursus di Rumah Belajar Cirebon

Standar

Aku bersyukur ketika program i-tutor.net yang menjadi program kursus pertama di Rumah Belajar Cirebon dan telah kurintis sejak bulan November 2006 itu kini sudah mulai berjalan. Alhamdulillah

Tapi setelah beberapa bulan berjalan, kuperhatikan penambahan jumlah murid selama ini tidak pernah mencapai lebih dari 30 murid. Yang ada justru frekuensi murid yang keluar lebih banyak. Aku merasa heran dan hampir berputus asa.

Sekilas aku teringat komentar salah seorang rekan yang pernah mempertanyakanku, mengapa membuka kursus di jalan Evakuasi? Menurutnya, kawasan jalan Evakuasi itu terlalu sepi dan tidak cocok untuk membuka usaha kursus di daerah ini. Kalau mau membuka usaha kursus lebih baik di daerah kota. Begitu katanya.

Hmm, mungkin ada benarnya juga ya? Tapi aku tidak memiliki rumah di daerah kota dan tidak berniat menyewa tempat juga di sana. Aku masih ingin mencoba bertahan dan berusaha lebih maksimal. Aku ingin tahu, mengapa murid-muridku tidak bertahan lama?

Beberapa orang tua murid pun kutanya, apakah putra/putrinya selama mengikuti kursus di tempat kami mengalami kendala atau masalah?

Setelah mengumpulkan dan menganalisa semua keluhan murid dan orang tuanya, barulah kutemukan penyebabnya. Ternyata sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa bobot materi i-tutor.net terlalu tinggi sehingga anak-anaknya mengalami kesulitan dalam memahaminya.

Oleh karena itu, aku segera menghubungi salah seorang pengurus di kantor Pusat i-tutor.net untuk berkonsultasi. Apakah materi i-tutor.net tepat sasaran bila diberikan untuk anak usia TK sampai SD sebagaimana yang disarankan waktu training guru di sana? Ternyata mereka mengiyakan. Tapi mengapa bagi anak-anak di kota kami kurang cocok ya?

Setelah kupelajari kembali, akhirnya kutemukan penyebab ketidakcocokkan materi ini. Kurikulum i-tutor.net menggunakan kurikulum sekolah dasar di Singapura, yang mana bahasa Inggris disana adalah sebagai salah satu bahasa yang dipakai sehari-hari. Berbeda dengan di Indonesia, khususnya di daerah seperti di kota Cirebon. Bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing. Kalau di kota Jakarta sebagian anak-anaknya sudah bersekolah di sekolah internasional, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mempelajarinya.

Sejak itu aku membuka program bahasa Inggris i-tutor.net ini untuk anak-anak yang dimulai dari kelas 4-6 SD. Sedangkan untuk anak-anak TK hingga kelas 3 SD, aku membuka program baru yaitu Little Bee. Sebuah program baru yang kurancang sendiri dengan tujuan mempersiapkan anak-anak sebelum masuk ke program i-tutor.net dengan memperkuat basic bahasa Inggrisnya terlebih dahulu.

Alhamdulillah secara bertahap usaha ini membawa hasil positif. Anak-anak bisa belajar bahasa Inggris sesuai dengan kemampuannya. Dan perlahan murid pun mulai bertambah kembali.

Di sekitar bulan Mei tahun 2007, aku mulai membuka program Jarimatika. Aku mendapatkan informasi tentang program ini dari Pak Iwan yang datang dan memperkenalkan program tersebut kepadaku. Program berhitung menggunakan jari tangan ini ditemukan serta dikembangkan oleh bu Septi Peni Wulandani, seorang ibu rumah tangga profesional dan kreatif dari Salatiga.

Sebetulnya aku sudah mengenal metode Jarimatika ini sebelumnya melalui buku tentang Jarimatika yang dulu pernah kubeli di toko buku Gramedia. Tujuanku membeli buku tersebut waktu itu untuk membantu Salma mengenal dasar-dasar berhitung. Tapi aku belum mempelajarinya sampai tuntas sehingga belum sempat mengajarkannya.

Aku kembali mempromosikan program Jarimatika melalui koran, acara-acara seminar dan demo praktik Jarimatika oleh anak-anak yang sudah menguasai metodenya dengan dibantu oleh Bu Dina, Bu Novi dan Bu Rita sebagai guru-guru Jarimatika pertama.

Orang-orang banyak yang tertarik karena program berhitung dengan metode Jarimatika ini memang mudah dan menyenangkan. Sehingga dalam waktu singkat, banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk belajar Jarimatika di tempat kami.

Penambahan jumlah siswa Jarimatika berlangsung cepat dan fantastis. Bahkan pernah mencapai 200 murid. Sehingga unit kami pernah mendapat penghargaan dari Jarimatika Pusat karenanya. Tiket gratis wisata ke Singapura juga kuperoleh sebagai reward-nya. Alhamdulillah

Dengan banyaknya anak-anak yang terbantu dalam belajar berhitung, les Jarimatika ini menjadi semakin banyak peminatnya. Apalagi Salma dan beberapa murid kami yang menggunakan metode Jarimatika dapat membuktikan prestasinya dengan meraih prestasi di beberapa lomba matematika.

Untuk melengkapi program kursus dengan seni menggambar, aku bekerjasama dengan lembaga pendidikan ESC di program Global Art/ kursus menggambar dan mewarnai untuk anak-anak dari Malaysia. Programnya bagus dan sistematis cara belajarnya. Namun sayang, untuk daerah di sekitar kami tampaknya kurang terjangkau dari segi biaya kursusnya. Sehingga murid yang mendaftar juga tidak banyak.

Sementara itu kami ditarget harus mempunyai sekian banyak murid setiap bulannya. Karena merasa belum sanggup, aku menyerah dan tak melanjutkan kerjasama lagi.

Setelah itu ada lagi yang datang dari Bandung menawarkan program bahasa Inggris (E Learning for Kids) dan menggambar (Art Kids Studio). Aku mengambil kedua program tersebut untuk melengkapi program kursus yang sudah ada. Apalagi kedua program tersebut bisa menjadi solusi pengganti dua program sebelumnya. Program E learning for Kids menggantikan program Little Bee dan Art Kids Studio menggantikan Global Art.

Aku juga pernah membuka kursus balet Little Fairy dan kursus masak untuk anak Fun Cooking sebagai kursus alternatif yang tujuannya untuk menyalurkan minat dan bakat anak selain menggambar.

Kedua kursus tersebut awalnya mendapat respon positif dengan banyaknya orang tua yang mendaftarkan anaknya. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, ketika guru les baletnya sedang hamil dan di sekolah-sekolah mulai diberlakukan full day school, terpaksa kedua kursus tersebut tak kulanjutkan lagi.

Pada perjalanan berikutnya dalam mengelola berbagai macam program kursus ini, aku kembali mengambil program baru sebagai alternatif dan solusi atas masalah yang sering timbul. Program baru yang kuambil adalah Matematika APIQ dan Abaca/ Calistung Cahaya Bintang.

Program Matematika APIQ sebagai solusi untuk anak-anak yang ingin belajar matematika sekolah secara langsung, khususnya untuk anak-anak yang sudah kelas 4 SD ke atas. Serta sebagai tahap belajar matematika setelah menyelesaikan program Jarimatika.

Sedangkan program Abaca /Calistung Cahaya Bintang sebagai alternatif belajar membaca, menulis dan berhitung dari dasar, step by step, dengan cara yang fun dan berdasarkan multiple intelligence. Sehingga anak senang membaca buku dan mendapatkan dasar berhitung.

Dengan banyaknya program kursus tersebut, kadang orang-orang yang akan mencari alamat kursus kami merasa kesulitan untuk menentukan nama kursusnya karena ada bermacam-macam nama programnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kami memberi sebuah nama khusus untuk tempat kursus kami sebagai wadah untuk semua program kursus yang ada. Tujuannya selain mempermudah saat mencarinya, juga agar lebih mudah dikenal. Nama yang kami berikan adalah: Rumah Belajar Cirebon.

Kami memilih nama tersebut karena tempat belajar ini memang berawal dari sebuah rumah tempat tinggal kami yang kini digunakan sebagai tempat belajar bernuansa rumah. Penambahan kata “Cirebon” di belakangnya selain untuk memperjelas lokasinya, juga untuk membedakan tempat belajar/les lain yang menggunakan nama serupa.

Logo Rumah Belajar Cirebon yang berupa gambar lebah sedang membawa buku dan pensil itu adalah karya Salma saat masih berusia 6 tahun. Gambarnya kujadikan logo karena kurasa dapat mewakili harapan kami untuk tempat les ini.

Sebagaimana lebah yang makanan, lingkungan serta yang dihasilkannya baik dan bermanfaat. Harapan kami, Rumah Belajar Cirebon juga mampu menjadi tempat belajar yang memberikan ilmu serta lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk kami, staf dan guru, serta murid dan orangtuanya. Sehingga menjadi berkah untuk semuanya. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

Kilas Balik Berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan Kelas Pertamanya

Standar

Sebuah bangunan rumah berhalaman luas yang terletak di jalan Evakuasi No. 1 Cirebon itu awalnya adalah sebuah rumah tempat tinggalku bersama suami dan putri semata wayangku.

Sebuah rumah nyaman dan asri yang membuat kami sekeluarga betah tinggal di sana. Rumah yang sangat berarti bagi kami karena merupakan rumah milik kami sendiri dari hasil jerih payah suamiku bekerja. Sebelumnya kami tinggal menumpang di rumah kakak iparku di perumahan Pegambiran Estate.

Dari sebidang tanah kosong di daerah yang masih sepi, suamiku merancangnya menjadi sebuah rumah dengan ukuran yang besar dan halaman yang luas agar kelak menjadi tempat pertemuan antar keluarga saat kedua orangtuaku jadi tinggal bersama kami. Selain itu supaya kedua orang tuaku merasa betah dan nyaman tinggal di rumah kami.

Sebelumnya aku dan suami memang sudah berniat mengajak kedua orang tuaku untuk pindah ke kota Cirebon agar mereka bisa tinggal dekat bersama kami. Apalagi saat itu kondisi rumah mereka di Magelang sudah banyak yang harus segera diperbaiki. Semula mereka bersedia. Tapi saat rumah kami sudah selesai dibangun dan siap ditempati, mereka berubah pikiran

Walaupun sedikit kecewa, tapi aku bisa memahami mereka. Kota Magelang adalah kota tempat di mana sejarah hidup mereka terukir. Setiap sudut kotanya sudah menjadi menjadi bagian dari perjalanan kehidupan mereka. Di kota tersebut juga lebih banyak sanak saudara dan teman mereka.

Sementara rumah yang sudah terlanjur dirancang dan dibangun dengan ukuran yang cukup besar, ruangan yang banyak dan halaman yang luas ini akhirnya hanya ditempati kami bertiga saja (aku, suamiku dan putriku). Rasanya kami bagai mendiami sebuah istana dengan halamannya yang luas.

Salma, putriku yang saat itu masih berusia 3 tahun pun tampak menikmati luasnya halaman rumah yang kami tanami dengan berbagai tanaman buah dan bunga. Setiap pagi atau sore hari Salma senang memetik bunga atau berlari-lari mengejar kupu-kupu atau capung yang terbang disekitar halaman luas kami. Kami juga sering menikmati singkong goreng yang lezat dan buah-buahan segar dari hasil kebun kami.

Saat Salma mulai bersekolah di play group dan TK, suasana bermain dan belajar bersama teman-temannya di sekolah menjadi kegembiraan tersendiri baginya. Selama ini, sebagai anak tunggal Salma lebih sering bermain sendiri. Sesekali anak-anak tetangga yang tinggal di belakang rumah juga suka main ke rumah kami sehingga bisa menjadi teman bermainnya Salma.

Ketika Salma memasuki usia 5 tahun, aku mengadakan pesta ulang tahunnya di rumah dengan mengundang guru, teman-teman sekolahnya serta anak-anak tetangga kami. Aku mencoba mengemas acaranya lain dari yang lain, tak seperti pesta ulang tahun kebanyakan.

Di acara ulang tahun ini aku menggabungkan suasana pesta dengan suasana bermain, bernyanyi dan belajar yang seru di halaman rumah kami. Aku bekerjasama dengan guru-guru dari tempat lesnya Salma (Fastrack Kids) yang kebetulan menyediakan paket ulang tahun.

Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar dan sukses. Dan yang membuat kami senang…, tidak hanya Salma dan teman-temannya yang gembira. Semua guru dan mama-mamanya juga ikut menikmati serunya acara ini.

Keceriaan anak-anak dan kesuksesan acara ulang tahun Salma tersebut memberiku inspirasi untuk membuat sebuah tempat belajar yang bernuansa rumah dan taman, yang bisa membuat anak-anak belajar sambil bermain dengan nyaman dan aman.

Apalagi selama ini aku juga sering mengalami kesulitan saat menunggu dan mencari mobil angkot setiap kali mengantar Salma menuju ke tempat les. Ketika itu masih jarang mobil angkot yang lewat depan rumah kami. Sedangkan pada waktu itu aku belum bisa mengemudikan mobil.

Kalau aku membuka les di rumah sendiri, Salma tak lagi belajar sendirian karena akan banyak anak-anak yang datang dan menjadi teman belajar Salma di rumah kami. Aku bisa memanfaatkan beberapa ruangan yang kosong menjadi ruangan kelas. Anak-anak pasti nanti juga akan gembira bila belajar dan bermain di halaman rumah kami yang luas.

Inspirasi yang timbul itu membuatku bersemangat mencari informasi franchise pendidikan di beberapa majalah. Padahal sebelumnya aku pernah punya rencana untuk membuka apotik. Tapi baik aku maupun suami kan tidak punya background apoteker sama sekali ya. Pernah juga terpikir ingin membuka perpustakaan. Tapi sepertinya minat baca warga kota Cirebon masih agak kurang.

Suatu hari di tahun 2006, aku membaca sebuah artikel pada sebuah majalah yang membahas program kursus bahasa Inggris yang menggunakan multimedia dan proyektor. Pada program ini, anak-anak seperti menonton film animasi, tapi sambil belajar dan bermain. Wah, menarik juga ya…

Apalagi bila membeli program bahasa Inggris tersebut, nanti sekaligus akan mendapatkan program bahasa Mandarin dan program Matematika serta Sains dalam bahasa Inggris.

Nama programnya adalah i-tutor.net, beralamat di Jakarta. Aku meminta izin kepada suamiku untuk mencari informasi lebih lanjut tentang program kursus tersebut dengan langsung mengunjungi kantornya di sana.

Semula suamiku tidak mengizinkan. Tapi setelah kujelaskan sekilas tentang programnya, barulah suami memberiku izin berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh adik laki-lakiku. Suamiku tidak bisa mengantarku karena sedang ada kesibukan lain.

Setelah sampai di kantor i-tutor.net Jakarta dan mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang programnya, aku semakin tertarik dan keinginanku untuk membuka kursus tersebut di rumah semakin kuat.

Saat itu juga aku langsung mengambil programnya dengan biaya franchise Rp. 10 juta dan berlaku seumur hidup. Jadi nanti untuk selanjutnya tidak akan ada biaya perpanjangan kerjasama lagi.

Kadang sampai sekarang aku tak habis pikir, kok bisa senekat itu. Sebab biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Dan di luar dugaan, suamiku pun mengizinkanl dan langsung mentransfer uang untuk biaya franchise tersebut. Mungkin itu memang sudah jalan rezeki dari-Nya.

Setelah semua peralatan untuk program kursus i-tutor.net tersedia, aku mulai merancang ruangan yang akan kujadikan sebagai kelas pertama dari kursus yang nanti akan kubuka. Ruangan yang kupakai di rumah adalah ruang paviliun.

Sebagai tahap awal aku membuat kelas dengan meja lesehan dengan lantai yang kuberi alas karpet. Sebanyak 10 meja lesehan yang kutempeli logo i-tutor.net telah tertata rapi. Kini ruangan kelas telah siap digunakan.

Sedangkan ruang garasi kugunakan sebagai ruang administrasi dengan dilengkapi sebuah meja dan dua buah kursi. Sebagai alat promosi, aku memesan papan nama yang aku pasang di depan rumah. Dua buah banner juga aku pasang di ruang administrasi.

Aku mulai mempromosikannya dengan berbagai cara. Baik dengan memasang iklan di koran, menyebarkan brosur, memasang spanduk dan banner, memasang nama les di kaca mobil bagian belakang, membuka stand saat ada acara/bazaar di sekolah-sekolah, mengadakan presentasi ke sekolah-sekolah, mengadakan acara lomba, mengadakan kegiatan mengisi liburan, dan lain-lain.

Saat itu aku sudah tak mempedulikan lagi rasa malu dan gengsiku yang biasanya suka muncul. Yang penting aku berusaha dengan cara yang benar, halal dan semampuku dalam rangka merintis usaha kursus ini.

Alhamdulillah, usahaku mulai menunjukkan hasilnya. Satu demi satu orang mulai berdatangan. Ada yang baru mencari informasi tentang kursus, ada yang mau coba gratis dulu (sesuai dengan promo kami), ada juga yang langsung mendaftarkan putra dan putrinya.

Saat itu aku membuka 2 macam kursus. Yaitu kursus bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Program Matematika dalam bahasa Inggris aku selipkan sebagai bonus dalam program kursus Bahasa Inggris.

Pada tanggal 16 November 2006, kelas pertama kursus bahasa Inggris (jumlah siswa 5 anak, termasuk anakku) dan kursus bahasa Mandarin (jumlah siswa 2 anak, termasuk anakku) mulai berjalan. Saat itu aku masih ikut mengajar dengan dibantu oleh Ms. Iffah. Dengan berjalannya waktu, siswa makin bertambah sehingga aku harus menambah guru lagi.

Melalui referensi karyawati suamiku yang saat itu membuka toko pernak pernik “Rumahku” di jalan Bahagia, Cirebon, aku mendapatkan guru baru. Yaitu Ms. Nuri. Lalu ada Ms. Rita, Ms. Dwi, dan Ms. Citra, Ms. Fitri dan Mr. Gatot.

Demikianlah sekilas cikal bakal berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan kelas pertamanya. Perkembangan selanjutnya dari Rumah Belajar Cirebon akan saya ceritakan pada kisah berikutnya ya…

Menimba Ilmu Menulis Cerita Anak dari Master-nya Litara

Standar

Berhasil lolos dalam seleksi naskah sebagai persyaratan mengikuti Free Workshop Penulisan Buku Cerita Anak yang diadakan oleh Litara, adalah sebuah rezeki dan kesempatan emas untuk belajar langsung dengan para master/ penulis Litara yang karyanya pernah mendapatkan penghargaan internasional.

Setelah kukirimkan dua naskah pictbook-ku ke Litara, aku pun mempunyai harapan yang sama. Ingin bisa lolos karena berharap mendapatkan kesempatan belajar tersebut. Apalagi workshop keren ini diadakan di Cirebon.

Allah Swt. mengabulkan harapanku. Ketika kubaca sebuah pengumuman di IG Litara yang menyebutkan nama-nama peserta yang lolos seleksi naskah, ada namaku tertera di dalamnya. Selain itu ada email masuk dari Litara yang memberikan informasi yang sama dan menggembirakan ini juga. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…

Workshop ini adalah salah satu even dari rangkaian acara Jagakali International Art Festival. Karena tema yang diangkat dari festival tersebut adalah tentang kepedulian terhadap lingkungan, maka tempat pelaksanaannya di sekitar daerah bertumpuknya sampah. Tepatnya di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Cirebon.

Begitu pun acara workshop dari Litara ini, pelaksanaannya tak jauh dari lokasi panggung utama Jagakali International Art Festival, yaitu di SD Cadas Ngampar, jalan Kopi Luhur.

Akhirnya saat yang kunantikan pun tiba. Pada hari Minggu tanggal 27 Oktober 2019 aku diantar suami, adik lelakiku dan Laura menuju ke lokasi acara dengan mobil. Sebelumnya kami sarapan soto Boyolali di daerah Perumnas.

Seusai sarapan, mobil langsung meluncur ke sana. Kami baru pertama kali memasuki daerah ini. Sehingga masih terasa asing. Awalnya suasana masih banyak rumah dan pepohonan. Tapi semakin ke atas, semakin gersang. Mungkin karena musim kemarau panjang juga.

Semakin mendekati lokasi, kami mulai melihat beberapa tumpukan sampah yang tersebar di sebelah kiri dan kanan jalan. Lingkungan yang seperti ini pasti sangat mengganggu kenyamanan penduduk sekitar. Bayangkan, mereka sehari-hari harus hidup di antara gundukan sampah yang tak hanya kotor, berbau dan tentu bisa menjadi sumber penyakit. Kondisi seperti ini sangat membutuhkan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

Beberapa saat kemudian kami sampai di tujuan. Di sebelah kanan jalan tampak bangunan sekolah dengan gapura yang bertuliskan SD Cadas Ngampar. Mobil masuk ke area halaman sekolah. Dari balik jendela mobil kulihat semua peserta sudah berkumpul di suatu ruangan kelas. Waduh agak telat nih…

Aku langsung turun dari mobil setelah berpamitan dengan suami, adik dan keponakanku, lalu bergegas menuju ke ruangan kelas tadi. Beberapa panitia menyodorkan kertas lembar hadir yang harus kutandatangani terlebih dahulu. Setelah itu aku masuk dan mencari kursi yang kosong.

Sesaat setelah duduk, aku mengatur nafas sambil melihat ke sekeliling. Mayoritas peserta tampaknya anak-anak muda. Mungkin anak-anak kuliahan. Dan ternyata benar juga. Ketika kutanyakan pada seorang gadis yang duduk di sampingku, katanya sebagian besar peserta yang ikut acara ini termasuk dirinya adalah mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jurusan PGMI/PGSD.

Ada juga beberapa ibu dan teman yang sudah kukenal, seperti Ms. Fitri dan Mbak Dinu Chan. Dua orang ibu yang duduk di sebelah kiriku bahkan datang dari luar kota. Yaitu dari Depok dan Karawang. Wah, salut deh dengan semangat belajar mereka. Mereka jauh-jauh hadir ke tempat ini untuk menimba ilmu kepenulisan.

Saat itu yang menyampaikan materi adalah Bu Sofie Dewiyani. Ketua Litara sekaligus seorang penulis dengan karyanya yang berjudul “Teman Bermain dalam Lemari” dan sudah mendapat penghargaan internasional (Pemenang Runner Up Samsung Kidstime, Author’s Award Singapore 2015, Peraih Honorary Mention di Bratislava, Illustration Biennale 2017). Bu Sofie memperkenalkan sekilas tentang Litara. Syukurlah, ternyata baru masuk acara perkenalan.

Setelah Bu Sofie selesai memperkenalkan Litara, giliran Bu Eva Nukman (salah satu pimpinan Litara dan penulis senior juga) yang meminta seluruh peserta saling memperkenalkan diri. Tapi kali ini caranya harus yang unik. Semua peserta diminta berperan seperti anak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun, atau seperti kakek /nenek saat memperkenalkan dirinya.

Tentu suasana menjadi seru karenanya. Ada yang bergaya bocah imut dan polos. Ada yang seperti anak manja. Ada yang pura-pura ngambek. Ada yang menjadi nenek cerewet. Ada yang menjadi kakek bijaksana. Wah, jadi seperti bermain sandiwara, nih

Tapi Bu Eva memang sengaja meminta cara perkenalan seperti itu bukan tanpa maksud. Semua itu adalah untuk pemanasan sebelum semua peserta masuk ke materi menulis cerita anak yang tentu harus bisa menyelami dunia anak.

Setelah itu Bu Sofie menyampaikan materi tentang “Menulis Cerita Ramah Anak”. Ternyata memang tidak mudah menulis cerita anak. Kalau kita memperhatikan pictbook yang kalimatnya sedikit dan singkat-singkat, sebelumnya mungkin kita beranggapan bahwa membuat cerita anak itu gampang. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Nah, berikut ini beberapa alasan mengapa menulis cerita anak tidak bisa dikatakan mudah:

1. Harus masuk ke dunia anak-anak

2. Harus tahu pembaca sasaran, umur berapa dan kelas berapa? Bagaimana mereka berpikir, berbicara, menyampaikan pendapat?

3. Bagaimana tokoh pada cerita digambarkan?

4. Memakai bahasa anak-anak.

5. Tokoh tidak harus anak-anak. Bisa hewan atau tokoh yang disukai anak-anak. Tokoh yang disukai misal kancil karena cerdik dan lincah.

Semua peserta tampak menyimak materi dengan serius.

Setelah itu Bu Eva yang memberikan materi. Materi yang disampaikan Bu Eva cenderung lebih ke teknis menulis cerita anak.

Seperti adanya 5 tahap penguasaan bahasa, yaitu:

1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis
5. Menerjemahkan

Lalu syarat mutlak semua penulis adalah: BACA!

Setelah banyak membaca buku, barulah: Ready to Start. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Ide
2. Brainstorming
3. Tulis
4. Revisi/ Sunting.

Cara menemukan ide cerita, coba galilah: Tentang apa? (konflik utama/alur) Untuk siapa? (pembaca sasaran)

Dan carilah ide yang unik (menarik, tidak membosankan, orisinil)

Lalu berikut ini adalah contoh tema yang sudah umum dan terlalu sering diulas:

1. Susah lepas dari gawai.
2. Pemanfaatan sampah.
3. Anak di-bully tapi malah menolong orang yang mem-bully-nya.

Sumber ide sebetulnya banyak dan ada di sekitar kita. Seperti:

1. Pengalaman sendiri/orang lain.
2. Imajinasi
3. Budaya (makanan, tarian, mainan, kebiasaan lain)
4. Lingkungan (tempat tertentu, flora dan fauna)

Contoh buku yang berjudul: “Pewarna Langit”, karya Bu Eva Nukman yang pernah memenangkan Runner Up Samsung Kidstime dan Author’s Award Singapore 2015.

Adapun elemen cerita tersusun dari:

1. Plot (urutan kejadian dalam cerita
Awal – Tengah – Akhir)
2. Tokoh.
3. Konflik atau Permasalahan

Buatlah tokoh yang kuat dengan kriteria sebagai berikut:

1. Unforgettable
2. 3 Dimensi
3. Menentukan jalannya cerita

Maksud 3 Dimensi:
1. Fisik (gambaran jasad, dapat dilihat)
2. Internal (psikologis, emosional)
3. Eksternal (latar belakang sosial)

Cara pengembangan karakter/tokoh:

1. Obyektif (I want…)
2. Motivation (I want.., because…)
3. Obstacles /distraction (I want…,because…, but…)

Jadikan sifat buku yang kita terbitkan nanti:

1. Menjadi cermin.
2. Menjadi pintu.
3. Jendela.

Jangan lupa, pahamilah:

1. Apa yang disukai dan tidak disukai.
2. Bagaimana kemampuan membacanya.
3. Bagaimana cara mereka berpikir.
4. Bagaimana cara mereka berbicara.

Waw…, materinya padat, bergizi dan perlu proses berlatih yang tekun dan sabar untuk bisa menguasainya.

Sebelum masuk waktu istirahat, shalat dan makan siang, Bu Eva memberi tugas kepada setiap peserta untuk menuliskan: kata benda, kata kerja dan setting tempat pada 3 lembar kertas kecil yang dibagikan.

Lalu semua kertas itu dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai jenis kata. Setelah itu 3 jenis kata itu dibagikan kembali ke semua peserta secara acak. Aku mendapat kata benda: jamu, kata kerja: bermain, dan setting tempat: danau.

Nah, tugas semua peserta, sesudah jam istirahat nanti adalah membuat cerita berdasarkan tiga kata tersebut.

Agar pikiran fresh kembali, kami makan siang dulu, lalu shalat di area panggung utama Jagakali International Art Festival. Sebagian peserta naik motor untuk menuju ke sana. Dan sebagian lagi berjalan kaki. Yah, sebenarnya memang tidak terlalu jauh juga jaraknya.

Kami sempatkan juga melihat-lihat beberapa buku yang diterbitkan Litara di salah satu stand. Bagus-bagus cerita dan gambarnya. Dicetak di kertas yang berkualitas juga. Kata Bu Eva, buku-buku terbitan Litara rata-rata dari proses editing hingga terbit memerlukan waktu kurang lebih 1 tahun. Hal itu dikarenakan adanya proses editing-nya yang ketat dan berhati-hati untuk menjaga agar isi ceritanya ramah dibaca anak-anak.

Dengan berakhirnya waktu ishoma, kami kembali ke kelas dan acara workshop pun dilanjutkan lagi. Seperti tadi yang telah ditugaskan oleh Bu Eva, semua peserta mulai mengembangkan cerita berdasarkan 3 kata tadi.

Udara musim kemarau yang semakin siang semakin panas ini membuat Bu Sofie, Bu Eva dan sebagian peserta sibuk mengipas-ngipas wajah karena kegerahan. Ada yang membawa kipas sendiri, ada juga yang memakai sarana kardus atau buku. Untungnya aku membawa kipas yang kuperoleh dari souvenir pernikahan karena aku sudah menduga ruang kelasnya nanti belum ada kipas angin maupun AC.

Setelah waktu berlalu hampir setengah jam, Bu Eva meminta peserta yang sudah selesai menyusun cerita, memaparkannya. Lalu secara detail Bu Eva mengevaluasinya. Hmmm…, benar juga kata Bu Eva. Kalau sekedar dibuat komersial isi ceritanya mungkin lebih mudah, tapi kadang jadi kurang menyentuh dan kurang ramah anak. Jadi semakin terbukti nih, ternyata menulis cerita anak memang tidak mudah ya…

Tak terasa hari semakin sore, sehingga tugas yang belum terselesaikan dijadikan PR. Semua peserta juga diberi tugas merevisi beberapa naskah yang sudah dikirimkan di pada saat awal pendaftaran, agar ceritanya lebih menarik dan yang pasti, lebih ramah anak.

Jam 16.30 acara workshop ditutup. Semua peserta dan panitia foto bersama di panggung utama acara festival. Sekaligus penyerahan donasi buku Litara kepada perwakilan SD Cadas Ngampar.

Terima kasih Bu Sofie dan Bu Eva atas bimbingan materi kepenulisannya yang luar biasa hari ini. Semoga kami bisa mempraktikkan semua ilmu yang telah kami peroleh secara bertahap sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat, khususnya bagi anak-anak. Aamiin

Bercengkerama dengan Aneka Unggas di Taman Burung Bird and Bromelia Pavillion, Bandung

Standar

Saat pagi menyapa dan mentari semakin tinggi, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Lembang sesuai rencana kami tadi malam. Salma berinisiatif mengajakku berwisata ke Taman Burung Bird and Bromelia Pavillion yang berada di Lembang Kami berangkat sekitar jam 8 pagi dengan taksi online.

Sebelumnya kami sarapan di warung makan dekat kos Salma. Ada beberapa pilihan sayur dan lauknya yang khas masakan rumah. Seperti sayur sop, tumis jamur, sambal goreng kentang, ca sawi putih, telur balado, perkedel tahu dan tempe goreng. Harganya cocok untuk anak kos dan rasanya mirasa.

Dijual juga aneka jus buah di sana. Tapi ada satu minuman favorit kami, yaitu susu kunyit. Gurihnya susu segar yang berpadu dengan aroma khas kunyit membuat nikmatnya rasa minuman itu . Rupanya minuman tersebut menjadi minuman kesehatan di keluarga pemilik warung tersebut. Pantaslah setelah meminumnya, badan jadi terasa lebih fit dan segar.

Mungkin karena belum masuk masa weekend dan hari masih pagi, perjalanan menuju ke lokasi berjalan lancar dan tidak macet sama sekali. Alhamdulillah

Kira-kira jam 10-an kami sampai di lokasi. Di bagian depan terlihat ada beberapa restoran. Setelah membayar tiket masuk, kami langsung masuk ke lokasi. Yah syukurlah kami kesini pas waktu weekday. Sehingga harga tiketnya bisa lebih murah daripada harga tiket weekend. Kami juga membeli sebungkus kuaci untuk makanan burung.

Kesan pertama masuk ke area Taman Burung ini adalah tampak rindang karena banyaknya pepohonan di sekitarnya. Burung yang pertama kami lihat adalah burung Beo Jawa dengan bulunya yang berwarna hitam dan paruhnya yang berwarna orange. Burung tersebut pandai meniru ucapan manusia, seperti, “Haii…. Namamu siapa?”

Lalu ada lagi burung hantu yang jinak dengan matanya yang besar berbinar seperti mata kucing. Tingkahnya juga malu-malu kucing. Kata Salma, ia pernah mendapat informasi bahwa burung hantu kalau sudah sangat jinak, tingkah lakunya memang bisa manja seperti manjanya seekor kucing. Wah, pasti bisa membuat kami jadi makin gemas melihatnya, nih kalau ada yang seperti itu. Petugas di Taman Burung pun menawarkan barangkali lengan kami siap dihinggapi burung hantu tersebut.

Meskipun tampak jinak, kami sempat ragu karena takut dipatuk atau digigit, mengingat burung ini sebetulnya termasuk jenis burung buas dan carnivora. Akhirnya Salma yang siap dan menyodorkan lengannya. Tapi petugas meminta Salma mengenakan sarung tangan yang tebal dan panjangnya sampai lengan terlebih dahulu. Hal ini untuk mencegah terjadinya luka pada lengan akibat cengkeraman dari cakar burung hantu yang kukunya tajam-tajam itu.

Burung lain yang kami lihat adalah burung Makau. Keunikan burung ini adalah warna bulunya yang cerah dan berwarna-warni. Kami bergantian memberinya kuaci. Ternyata kuacinya tidak langsung dimakan, tapi dikupas terlebih dahulu dengan paruhnya, lalu baru dimakan isi kuacinya.

Sebagian kuaci yang berjatuhan di tanah langsung diserbu sekawanan burung merpati. Asyik juga bercengkerama dengan burung-burung ini.

Di Taman Burung ini juga ada Taman Kelinci. Wah, ini hewan kesayangan Salma. Tak heran begitu melihatnya, Salma langsung mengelus-ngelus hewan yang lucu dan menggemaskan itu.

Di sana kami juga menonton Bird Show bersama para pengunjung lain. Lucu dan cerdas juga tingkah polah burung-burung itu. Burung-burung itu bisa menegakkan kartu huruf yang telah tersusun berupa ucapan Selamat Datang, membuang sampah ke keranjang, memasukkan bola ke ring, naik sepeda mini, mengibarkan bendera, menghormat bendera, lalu diakhiri dengan menegakkan kartu huruf yang tersusun menjadi kalimat Terima Kasih. Kami dan semua pengunjung bertepuk tangan setelah Bird Show berakhir.

Setelah itu kami melanjutkan eksplorasi kembali di Taman Burung ini dengan melihat aneka jenis unggas lain seperti burung gagak, bebek angsa, burung puyuh, burung puter, belibis, burung parkit, ayam kate, burung merak dan lain-lain.

Yang paling menarik ketika melihat burung merak jantan yang sedang merayu betinanya. Ekornya dengan coraknya yang indah itu mengembang lalu digerak-gerakkan seperti sedang menari.

Demikianlah kebesaran Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan beraneka ragam makhluk dengan segala caranya dalam melanjutkan keturunannya masing-masing.

Setelah puas berkeliling Taman Burung, kami melanjutkan perjalanan menuju ke mall Paris Van Java (PVJ) dengan taksi online untuk makan siang di sana.

Kali ini kami mampir ke restoran Jepang, Sushi Tei. Japanese food memang makanan favorit Salma, terutama Salmon Sashimi. Cha Soba, yaitu semacam mie berwarna hijau (dicampur green tea) tapi rasanya dingin juga dipilihnya. Sedangkan aku memilih ramen saja. Aku sempat heran juga, lho kok makanan yang dipilih Salma tadi tidak disajikan hangat-hangat, tapi malah dicampur es batu ya?

Tapi ya begitulah, restoran Jepang rata-rata memang unik dan khas anak muda. Seperti di Sushi Tei ini juga ada sushi dengan wadahnya yang bisa mondar mandir jalan sendiri di atas meja seperti robot. Dan setiap ada pengunjung restoran yang datang para pelayannya selalu menyapa ramah dengan kata-kata “Irasshaimase!” yang artinya, “Selamat Datang!“

Setelah selesai makan, aku menemani Salma ke supermarket, belanja kebutuhan sehari-harinya di kos karena persediaannya sudah mulai menipis. Seperti beras, telur, sabun mandi, sabun cuci baju, sabun cuci tangan, pasta gigi dan makanan ringan.

Lalu kami bersiap-siap pulang ke kos Salma. Sebelumnya kami membeli beberapa potong Hokkaido baked cheese tart buat camilan nanti malam. Salma sudah memesan taksi online. Tapi kali ini kami menunggu datangnya taksi online-nya agak lama. Mungkin karena terhadang macet saat memasuki mall. Selain itu driver-nya rupanya agak kesulitan mencari kami. Mungkin karena di PVJ ini ada beberapa pintu keluar sehingga cukup membingungkan juga.

Alhamdulillah akhirnya taksi online yang kami tunggu-tunggu datang juga. Kami segera masuk ke mobilnya dan langsung meluncur pulang ke kos Salma.

Begitu sampai di kos, kami langsung mandi, beristirahat sebentar, dan membereskan barang-barang yang tadi dibeli. Lalu kami menikmati Hokkaido baked cheese tart bersama. Enak juga rasanya. Kalau menurutku rasanya hampir serupa pie susu. Tadi kami membeli yang rasa keju, coklat, oreo dan tiramishu. Bagian isinya terasa lembut dan lumer di lidah.

Kami menghabiskan sisa waktu ini untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Seperti rencana proyek kami yang berhubungan dengan dunia menulis dan ilustrasi. Juga tentang persiapan magangnya Salma yang tak lama lagi akan ditempuhnya.

Sebetulnya aku ingin menemani Salma sampai hari Minggu. Tapi karena besok Sabtu aku harus menghadiri undangan pernikahan anaknya kawan dekatku, mau tak mau aku harus pulang besok pagi. Selain itu besok siang Salma juga ada kegiatan di kampusnya.

Malam itu juga aku memesan tiket melalui aplikasi Sahabat Shuttle untuk pulang besok pagi jam 09.05. Jujur saja sebetulnya aku masih belum puas bertemu Salma. Bahkan rasanya ingin berlama-lama di sini.

Tapi aku menyadari, meskipun harus jauh dari Salma, ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk melatih kemandirian dan daya survive-nya dalam menghadapi suka duka masa perkuliahan di luar kota. Semoga Allah Swt. selalu memberikan berkah, ketegaran dan kesuksesan ya Salma. Aamiin

Di Cirebon aku juga sudah ditunggu suamiku, Laura dan tugas-tugas di Rumah Belajar Cirebon, seperti mempersiapkan honor untuk guru dan staf.

Ya Allah mudahkanlah semua urusan kami. Dan jadikan kami hamba-Mu yang selalu mengingat-Mu kapanpun dan di manapun berada. Aamiin ya Allah…

Melepas Rindu

Standar

Mempunyai waktu yang tepat untuk bisa bertemu anak yang sedang kuliah di luar kota dan menikmati quality time bersamanya adalah kesempatan emas yang selalu dinantikan bagi setiap orang tua.

Sebab ketika anak sudah kuliah, waktu senggangnya tak bisa diperkirakan secara pasti. Bisa jadi seharian ini tampaknya tak ada kegiatan, tapi tiba-tiba mendadak ada pemberitahuan kerja kelompok atau kegiatan lain.

Belum lagi tugas-tugas kuliah yang cukup menyita waktunya sehingga bahkan untuk mencari waktu senggang untuk istirahatnya sendiri pun menjadi terbatas.

Kondisi semacam ini mau tak mau beresiko mengurangi intensitas komunikasi antara anak dengan orang tua. Sehingga tak jarang menimbulkan kecemasan pada orang tua ketika anaknya sulit dihubungi.

Dari yang sebelumnya ke mana-mana selalu bersama anak. Dari sejak lahir hingga menjelang masa kuliahnya. Dari bangun tidur sampai berangkat tidur lagi. Kini harus terpisah oleh jarak dan waktu, sehingga wajar saja ada rasa kehilangan dan kerinduan yang tak tertahankan.

Demikianlah yang kurasakan setiap kali rasa rindu terhadap Salma sudah mendera. Chattingan lewat Line ataupun video call pun rasanya sudah tak mampu mengobati beratnya rasa rindu ini. Betul juga ya kata Dilan, “Rindu itu berat. “

Oleh karena itu yang kubutuhkan dalam kondisi seperti ini adalah pertemuan langsung dan kontak fisik dengan Salma. Di mana aku bisa membelai rambutnya yang lembut, mencium pipinya yang empuk, memeluk tubuhnya yang hangat dan mengelus jemarinya yang halus.

Tapi percayalah… Ketika seorang ibu bertemu lagi dengan anaknya yang sedang kuliah, bekerja atau tinggal di luar kota, perpaduan antara rasa rindu yang sudah bertumpuk dan keharuan saat bertemu akan menjadi sebuah perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah berulangkali batal bertemu karena kesibukan kami masing-masing, akhirnya hari Kamis minggu yang lalu pun kami sepakati sebagai hari yang tepat untuk bertemu.

Aku berangkat hari Kamis pagi jam 06.05 dengan mengendarai Sahabat Shuttle yang sudah menjadi langgananku setiap kali pergi ke kota Bandung.

Sepanjang perjalanan aku memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas dari proyek menulis yang sedang kuikuti. Sesekali aku tertidur di saat rasa kantuk menyerang.

“Pasteur… Pasteur…, “ suara driver menyadarkanku. Wah, ternyata shuttle sudah memasuki kota Bandung. Aku bersiap-siap untuk turun. Saat shuttle telah tiba di pool-nya yang berada di jalan Cihampelas. aku langsung memesan taksi online dengan tujuan ke Masjid Salman. Masjid ini lokasinya berada di seberang kampus ITB.

Sebelum berangkat ke Bandung kami memang sudah sepakat untuk ketemuan di sana saja sebagai tempat yang paling strategis. Mengingat hari itu Salma juga sedang ada kuliah sampai jam 10-an. Kebetulan Masjid Salman adalah salah satu tempat favoritku di kota Bandung, sehingga aku sering mengusulkan tempat ini sebagai tempat bertemu setiap kali pergi ke Bandung.

Masjid berlantai kayu ini selalu ramai terutama dengan mahasiswa dan mahasiswi ITB yang akan melaksanakan shalat maupun yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Kadangkala ada kegiatan seminar atau pengajian juga di sana.

Entah mengapa aku betah banget berdiam di masjid ini. Pesona masjid dengan imam-imam shalatnya yang sebagian adalah para mahasiswa ITB yang hafal Al Qur’an, menjadi salah satu daya tariknya. Suasananya yang tenang, nyaman dengan fasilitas teh, kopi, air dari keran air yang bisa langsung diminum, dan mukenanya yang wangi juga membuat semua pengunjung masjid betah berlama-lama di sana.

Tak terasa waktu Zuhur telah tiba. Suara azan berkumandang dari masjid. Suasana masjid semakin ramai oleh jamaah masjid. Kulihat ada notifikasi pesan masuk dari Salma.

“Ma, saya lagi otw ke Masjid Salman.”

“Ya Salma. Mama langsung ke gerbang depan Masjid saja ya. ”

“ Oke, Ma…,”

Alhamdulillah, akhirnya kami bertemu di pintu masuk utama Masjid Salman. Bahagia banget rasanya bisa memeluk lagi putri semata wayangku ini. Padahal baru sebulan kami tak bertemu. Mungkin memang begitulah ya rasanya menjadi seorang ibu yang anaknya sedang di luar kota. Rasa rindu terhadap anaknya tak pernah ada habisnya.

Karena sudah waktunya makan siang dan perut kami juga sudah mulai keroncongan, kami segera mencari rumah makan terdekat. Semula Salma mau mengajakku ke Warung Pasta yang terletak di samping Kampus FSRD ITB.

Tapi akhirnya kami putuskan untuk mencoba makan di Cafe 180• saja. Kata salah seorang sahabatku, cafe ini menjadi salah satu area hang out sekaligus tempat mengerjakan tugas favoritnya para mahasiswa ITB. Letaknya tepat di seberangnya Warung Pasta.

Benar juga, baru saja masuk ke cafe tersebut, di sebagian sudut terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Ada juga yang sekedar makan siang atau minum kopi di sana.

Kami akhirnya memilih tempat duduk di lantai 2 karena di ruang bawah sudah dipenuhi oleh pengunjung cafe. Di lantai 2 ada sebuah panggung untuk pertunjukan musik. Tapi siang itu panggung masih tampak kosong. Mungkin baru ada pertunjukan musik kalau malam hari ya?

Seorang pegawai cafe menyodorkan menu makanan dan minuman. Cukup bervariasi dan menggiurkan juga pilihan menunya. Sekilas ketika kulihat harga-harganya, hmm, lumayan juga sih… Tapi bagiku tentu tak masalah karena tak setiap saat bisa makan bareng Salma di cafe seperti ini.

Seperti biasa aku memesan makanan favoritku, nasi goreng. Kali ini yang kupilih nasi goreng ala Cafe 180•. Sedangkan Salma yang senang bereksplorasi dengan aneka makanan, memilih steak daging. Yummy… Rasanya memang lezat, sehingga sepadanlah dengan harganya.

Sembari makan kami saling mengobrol. Salma bercerita tentang kegiatan kuliah dan teman-teman kampusnya. Aku menyimak ceritanya dengan antusias sambil sesekali memberinya support dan pesan positif. Saat-saat seperti inilah saat yang selalu kami nantikan. Bisa bertemu dan saling bercerita.

Ketika waktu hampir menunjukkan jam 1 siang, kami segera meninggalkan cafe. Sebab tepat jam 1 siang ini Salma masih ada kegiatan kuliah 1 sesi lagi. Sehingga terpaksa kami untuk sementara harus kembali berpisah. Salma kembali ke kampusnya dan aku langsung menuju ke kos Salma setelah mengambil tas baju yang kutitipkan di tempat penitipan barang di sana.

Belum lama aku menunggu di kos Salma, tiba-tiba saja Salma sudah datang. Alhamdulillah… Sore itu hingga malam harinya kami hanya menghabiskan waktu di kamar kos saja. Kami sama-sama menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas. Salma dengan tugas kuliahnya dan aku dengan tugas menulisku.

Ketika hari semakin malam, kami sudahi semua aktivitas kami, lalu berbaring di dipan untuk beristirahat.

“Ma, besok pagi kita jalan-jalan ke Lembang ya… “ kata Salma sambil menarik selimutnya.

“Oke Salma, “ aku menyambut gembira ajakannya sambil tersenyum.

Di semester 5 ini setiap hari Jum’at dan Sabtu Salma memang tidak ada kegiatan kuliah. Hanya saja biasanya sering diisi untuk kegiatan lain seperti kerja kelompok atau menyelesaikan tugas lain. Kebetulan hari Jum’at ini Salma sedang luang waktunya.

Sebelum tidur kusempatkan memeluk Salma, membelai rambutnya dan mengelus jemari lentiknya. Rasanya seluruh kerinduanku bisa kulepaskan malam itu. Hingga kami pun tertidur pulas dan bersama-sama terbang ke alam mimpi yang menyenangkan.