Melepas Rindu

Standar

Mempunyai waktu yang tepat untuk bisa bertemu anak yang sedang kuliah di luar kota dan menikmati quality time bersamanya adalah kesempatan emas yang selalu dinantikan bagi setiap orang tua.

Sebab ketika anak sudah kuliah, waktu senggangnya tak bisa diperkirakan secara pasti. Bisa jadi seharian ini tampaknya tak ada kegiatan, tapi tiba-tiba mendadak ada pemberitahuan kerja kelompok atau kegiatan lain.

Belum lagi tugas-tugas kuliah yang cukup menyita waktunya sehingga bahkan untuk mencari waktu senggang untuk istirahatnya sendiri pun menjadi terbatas.

Kondisi semacam ini mau tak mau beresiko mengurangi intensitas komunikasi antara anak dengan orang tua. Sehingga tak jarang menimbulkan kecemasan pada orang tua ketika anaknya sulit dihubungi.

Dari yang sebelumnya ke mana-mana selalu bersama anak. Dari sejak lahir hingga menjelang masa kuliahnya. Dari bangun tidur sampai berangkat tidur lagi. Kini harus terpisah oleh jarak dan waktu, sehingga wajar saja ada rasa kehilangan dan kerinduan yang tak tertahankan.

Demikianlah yang kurasakan setiap kali rasa rindu terhadap Salma sudah mendera. Chattingan lewat Line ataupun video call pun rasanya sudah tak mampu mengobati beratnya rasa rindu ini. Betul juga ya kata Dilan, “Rindu itu berat. “

Oleh karena itu yang kubutuhkan dalam kondisi seperti ini adalah pertemuan langsung dan kontak fisik dengan Salma. Di mana aku bisa membelai rambutnya yang lembut, mencium pipinya yang empuk, memeluk tubuhnya yang hangat dan mengelus jemarinya yang halus.

Tapi percayalah… Ketika seorang ibu bertemu lagi dengan anaknya yang sedang kuliah, bekerja atau tinggal di luar kota, perpaduan antara rasa rindu yang sudah bertumpuk dan keharuan saat bertemu akan menjadi sebuah perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah berulangkali batal bertemu karena kesibukan kami masing-masing, akhirnya hari Kamis minggu yang lalu pun kami sepakati sebagai hari yang tepat untuk bertemu.

Aku berangkat hari Kamis pagi jam 06.05 dengan mengendarai Sahabat Shuttle yang sudah menjadi langgananku setiap kali pergi ke kota Bandung.

Sepanjang perjalanan aku memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas dari proyek menulis yang sedang kuikuti. Sesekali aku tertidur di saat rasa kantuk menyerang.

“Pasteur… Pasteur…, “ suara driver menyadarkanku. Wah, ternyata shuttle sudah memasuki kota Bandung. Aku bersiap-siap untuk turun. Saat shuttle telah tiba di pool-nya yang berada di jalan Cihampelas. aku langsung memesan taksi online dengan tujuan ke Masjid Salman. Masjid ini lokasinya berada di seberang kampus ITB.

Sebelum berangkat ke Bandung kami memang sudah sepakat untuk ketemuan di sana saja sebagai tempat yang paling strategis. Mengingat hari itu Salma juga sedang ada kuliah sampai jam 10-an. Kebetulan Masjid Salman adalah salah satu tempat favoritku di kota Bandung, sehingga aku sering mengusulkan tempat ini sebagai tempat bertemu setiap kali pergi ke Bandung.

Masjid berlantai kayu ini selalu ramai terutama dengan mahasiswa dan mahasiswi ITB yang akan melaksanakan shalat maupun yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Kadangkala ada kegiatan seminar atau pengajian juga di sana.

Entah mengapa aku betah banget berdiam di masjid ini. Pesona masjid dengan imam-imam shalatnya yang sebagian adalah para mahasiswa ITB yang hafal Al Qur’an, menjadi salah satu daya tariknya. Suasananya yang tenang, nyaman dengan fasilitas teh, kopi, air dari keran air yang bisa langsung diminum, dan mukenanya yang wangi juga membuat semua pengunjung masjid betah berlama-lama di sana.

Tak terasa waktu Zuhur telah tiba. Suara azan berkumandang dari masjid. Suasana masjid semakin ramai oleh jamaah masjid. Kulihat ada notifikasi pesan masuk dari Salma.

“Ma, saya lagi otw ke Masjid Salman.”

“Ya Salma. Mama langsung ke gerbang depan Masjid saja ya. ”

“ Oke, Ma…,”

Alhamdulillah, akhirnya kami bertemu di pintu masuk utama Masjid Salman. Bahagia banget rasanya bisa memeluk lagi putri semata wayangku ini. Padahal baru sebulan kami tak bertemu. Mungkin memang begitulah ya rasanya menjadi seorang ibu yang anaknya sedang di luar kota. Rasa rindu terhadap anaknya tak pernah ada habisnya.

Karena sudah waktunya makan siang dan perut kami juga sudah mulai keroncongan, kami segera mencari rumah makan terdekat. Semula Salma mau mengajakku ke Warung Pasta yang terletak di samping Kampus FSRD ITB.

Tapi akhirnya kami putuskan untuk mencoba makan di Cafe 180• saja. Kata salah seorang sahabatku, cafe ini menjadi salah satu area hang out sekaligus tempat mengerjakan tugas favoritnya para mahasiswa ITB. Letaknya tepat di seberangnya Warung Pasta.

Benar juga, baru saja masuk ke cafe tersebut, di sebagian sudut terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Ada juga yang sekedar makan siang atau minum kopi di sana.

Kami akhirnya memilih tempat duduk di lantai 2 karena di ruang bawah sudah dipenuhi oleh pengunjung cafe. Di lantai 2 ada sebuah panggung untuk pertunjukan musik. Tapi siang itu panggung masih tampak kosong. Mungkin baru ada pertunjukan musik kalau malam hari ya?

Seorang pegawai cafe menyodorkan menu makanan dan minuman. Cukup bervariasi dan menggiurkan juga pilihan menunya. Sekilas ketika kulihat harga-harganya, hmm, lumayan juga sih… Tapi bagiku tentu tak masalah karena tak setiap saat bisa makan bareng Salma di cafe seperti ini.

Seperti biasa aku memesan makanan favoritku, nasi goreng. Kali ini yang kupilih nasi goreng ala Cafe 180•. Sedangkan Salma yang senang bereksplorasi dengan aneka makanan, memilih steak daging. Yummy… Rasanya memang lezat, sehingga sepadanlah dengan harganya.

Sembari makan kami saling mengobrol. Salma bercerita tentang kegiatan kuliah dan teman-teman kampusnya. Aku menyimak ceritanya dengan antusias sambil sesekali memberinya support dan pesan positif. Saat-saat seperti inilah saat yang selalu kami nantikan. Bisa bertemu dan saling bercerita.

Ketika waktu hampir menunjukkan jam 1 siang, kami segera meninggalkan cafe. Sebab tepat jam 1 siang ini Salma masih ada kegiatan kuliah 1 sesi lagi. Sehingga terpaksa kami untuk sementara harus kembali berpisah. Salma kembali ke kampusnya dan aku langsung menuju ke kos Salma setelah mengambil tas baju yang kutitipkan di tempat penitipan barang di sana.

Belum lama aku menunggu di kos Salma, tiba-tiba saja Salma sudah datang. Alhamdulillah… Sore itu hingga malam harinya kami hanya menghabiskan waktu di kamar kos saja. Kami sama-sama menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas. Salma dengan tugas kuliahnya dan aku dengan tugas menulisku.

Ketika hari semakin malam, kami sudahi semua aktivitas kami, lalu berbaring di dipan untuk beristirahat.

“Ma, besok pagi kita jalan-jalan ke Lembang ya… “ kata Salma sambil menarik selimutnya.

“Oke Salma, “ aku menyambut gembira ajakannya sambil tersenyum.

Di semester 5 ini setiap hari Jum’at dan Sabtu Salma memang tidak ada kegiatan kuliah. Hanya saja biasanya sering diisi untuk kegiatan lain seperti kerja kelompok atau menyelesaikan tugas lain. Kebetulan hari Jum’at ini Salma sedang luang waktunya.

Sebelum tidur kusempatkan memeluk Salma, membelai rambutnya dan mengelus jemari lentiknya. Rasanya seluruh kerinduanku bisa kulepaskan malam itu. Hingga kami pun tertidur pulas dan bersama-sama terbang ke alam mimpi yang menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.