Kilas Balik Berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan Kelas Pertamanya

Standar

Sebuah bangunan rumah berhalaman luas yang terletak di jalan Evakuasi No. 1 Cirebon itu awalnya adalah sebuah rumah tempat tinggalku bersama suami dan putri semata wayangku.

Sebuah rumah nyaman dan asri yang membuat kami sekeluarga betah tinggal di sana. Rumah yang sangat berarti bagi kami karena merupakan rumah milik kami sendiri dari hasil jerih payah suamiku bekerja. Sebelumnya kami tinggal menumpang di rumah kakak iparku di perumahan Pegambiran Estate.

Dari sebidang tanah kosong di daerah yang masih sepi, suamiku merancangnya menjadi sebuah rumah dengan ukuran yang besar dan halaman yang luas agar kelak menjadi tempat pertemuan antar keluarga saat kedua orangtuaku jadi tinggal bersama kami. Selain itu supaya kedua orang tuaku merasa betah dan nyaman tinggal di rumah kami.

Sebelumnya aku dan suami memang sudah berniat mengajak kedua orang tuaku untuk pindah ke kota Cirebon agar mereka bisa tinggal dekat bersama kami. Apalagi saat itu kondisi rumah mereka di Magelang sudah banyak yang harus segera diperbaiki. Semula mereka bersedia. Tapi saat rumah kami sudah selesai dibangun dan siap ditempati, mereka berubah pikiran

Walaupun sedikit kecewa, tapi aku bisa memahami mereka. Kota Magelang adalah kota tempat di mana sejarah hidup mereka terukir. Setiap sudut kotanya sudah menjadi menjadi bagian dari perjalanan kehidupan mereka. Di kota tersebut juga lebih banyak sanak saudara dan teman mereka.

Sementara rumah yang sudah terlanjur dirancang dan dibangun dengan ukuran yang cukup besar, ruangan yang banyak dan halaman yang luas ini akhirnya hanya ditempati kami bertiga saja (aku, suamiku dan putriku). Rasanya kami bagai mendiami sebuah istana dengan halamannya yang luas.

Salma, putriku yang saat itu masih berusia 3 tahun pun tampak menikmati luasnya halaman rumah yang kami tanami dengan berbagai tanaman buah dan bunga. Setiap pagi atau sore hari Salma senang memetik bunga atau berlari-lari mengejar kupu-kupu atau capung yang terbang disekitar halaman luas kami. Kami juga sering menikmati singkong goreng yang lezat dan buah-buahan segar dari hasil kebun kami.

Saat Salma mulai bersekolah di play group dan TK, suasana bermain dan belajar bersama teman-temannya di sekolah menjadi kegembiraan tersendiri baginya. Selama ini, sebagai anak tunggal Salma lebih sering bermain sendiri. Sesekali anak-anak tetangga yang tinggal di belakang rumah juga suka main ke rumah kami sehingga bisa menjadi teman bermainnya Salma.

Ketika Salma memasuki usia 5 tahun, aku mengadakan pesta ulang tahunnya di rumah dengan mengundang guru, teman-teman sekolahnya serta anak-anak tetangga kami. Aku mencoba mengemas acaranya lain dari yang lain, tak seperti pesta ulang tahun kebanyakan.

Di acara ulang tahun ini aku menggabungkan suasana pesta dengan suasana bermain, bernyanyi dan belajar yang seru di halaman rumah kami. Aku bekerjasama dengan guru-guru dari tempat lesnya Salma (Fastrack Kids) yang kebetulan menyediakan paket ulang tahun.

Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar dan sukses. Dan yang membuat kami senang…, tidak hanya Salma dan teman-temannya yang gembira. Semua guru dan mama-mamanya juga ikut menikmati serunya acara ini.

Keceriaan anak-anak dan kesuksesan acara ulang tahun Salma tersebut memberiku inspirasi untuk membuat sebuah tempat belajar yang bernuansa rumah dan taman, yang bisa membuat anak-anak belajar sambil bermain dengan nyaman dan aman.

Apalagi selama ini aku juga sering mengalami kesulitan saat menunggu dan mencari mobil angkot setiap kali mengantar Salma menuju ke tempat les. Ketika itu masih jarang mobil angkot yang lewat depan rumah kami. Sedangkan pada waktu itu aku belum bisa mengemudikan mobil.

Kalau aku membuka les di rumah sendiri, Salma tak lagi belajar sendirian karena akan banyak anak-anak yang datang dan menjadi teman belajar Salma di rumah kami. Aku bisa memanfaatkan beberapa ruangan yang kosong menjadi ruangan kelas. Anak-anak pasti nanti juga akan gembira bila belajar dan bermain di halaman rumah kami yang luas.

Inspirasi yang timbul itu membuatku bersemangat mencari informasi franchise pendidikan di beberapa majalah. Padahal sebelumnya aku pernah punya rencana untuk membuka apotik. Tapi baik aku maupun suami kan tidak punya background apoteker sama sekali ya. Pernah juga terpikir ingin membuka perpustakaan. Tapi sepertinya minat baca warga kota Cirebon masih agak kurang.

Suatu hari di tahun 2006, aku membaca sebuah artikel pada sebuah majalah yang membahas program kursus bahasa Inggris yang menggunakan multimedia dan proyektor. Pada program ini, anak-anak seperti menonton film animasi, tapi sambil belajar dan bermain. Wah, menarik juga ya…

Apalagi bila membeli program bahasa Inggris tersebut, nanti sekaligus akan mendapatkan program bahasa Mandarin dan program Matematika serta Sains dalam bahasa Inggris.

Nama programnya adalah i-tutor.net, beralamat di Jakarta. Aku meminta izin kepada suamiku untuk mencari informasi lebih lanjut tentang program kursus tersebut dengan langsung mengunjungi kantornya di sana.

Semula suamiku tidak mengizinkan. Tapi setelah kujelaskan sekilas tentang programnya, barulah suami memberiku izin berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh adik laki-lakiku. Suamiku tidak bisa mengantarku karena sedang ada kesibukan lain.

Setelah sampai di kantor i-tutor.net Jakarta dan mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang programnya, aku semakin tertarik dan keinginanku untuk membuka kursus tersebut di rumah semakin kuat.

Saat itu juga aku langsung mengambil programnya dengan biaya franchise Rp. 10 juta dan berlaku seumur hidup. Jadi nanti untuk selanjutnya tidak akan ada biaya perpanjangan kerjasama lagi.

Kadang sampai sekarang aku tak habis pikir, kok bisa senekat itu. Sebab biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Dan di luar dugaan, suamiku pun mengizinkanl dan langsung mentransfer uang untuk biaya franchise tersebut. Mungkin itu memang sudah jalan rezeki dari-Nya.

Setelah semua peralatan untuk program kursus i-tutor.net tersedia, aku mulai merancang ruangan yang akan kujadikan sebagai kelas pertama dari kursus yang nanti akan kubuka. Ruangan yang kupakai di rumah adalah ruang paviliun.

Sebagai tahap awal aku membuat kelas dengan meja lesehan dengan lantai yang kuberi alas karpet. Sebanyak 10 meja lesehan yang kutempeli logo i-tutor.net telah tertata rapi. Kini ruangan kelas telah siap digunakan.

Sedangkan ruang garasi kugunakan sebagai ruang administrasi dengan dilengkapi sebuah meja dan dua buah kursi. Sebagai alat promosi, aku memesan papan nama yang aku pasang di depan rumah. Dua buah banner juga aku pasang di ruang administrasi.

Aku mulai mempromosikannya dengan berbagai cara. Baik dengan memasang iklan di koran, menyebarkan brosur, memasang spanduk dan banner, memasang nama les di kaca mobil bagian belakang, membuka stand saat ada acara/bazaar di sekolah-sekolah, mengadakan presentasi ke sekolah-sekolah, mengadakan acara lomba, mengadakan kegiatan mengisi liburan, dan lain-lain.

Saat itu aku sudah tak mempedulikan lagi rasa malu dan gengsiku yang biasanya suka muncul. Yang penting aku berusaha dengan cara yang benar, halal dan semampuku dalam rangka merintis usaha kursus ini.

Alhamdulillah, usahaku mulai menunjukkan hasilnya. Satu demi satu orang mulai berdatangan. Ada yang baru mencari informasi tentang kursus, ada yang mau coba gratis dulu (sesuai dengan promo kami), ada juga yang langsung mendaftarkan putra dan putrinya.

Saat itu aku membuka 2 macam kursus. Yaitu kursus bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Program Matematika dalam bahasa Inggris aku selipkan sebagai bonus dalam program kursus Bahasa Inggris.

Pada tanggal 16 November 2006, kelas pertama kursus bahasa Inggris (jumlah siswa 5 anak, termasuk anakku) dan kursus bahasa Mandarin (jumlah siswa 2 anak, termasuk anakku) mulai berjalan. Saat itu aku masih ikut mengajar dengan dibantu oleh Ms. Iffah. Dengan berjalannya waktu, siswa makin bertambah sehingga aku harus menambah guru lagi.

Melalui referensi karyawati suamiku yang saat itu membuka toko pernak pernik “Rumahku” di jalan Bahagia, Cirebon, aku mendapatkan guru baru. Yaitu Ms. Nuri. Lalu ada Ms. Rita, Ms. Dwi, dan Ms. Citra, Ms. Fitri dan Mr. Gatot.

Demikianlah sekilas cikal bakal berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan kelas pertamanya. Perkembangan selanjutnya dari Rumah Belajar Cirebon akan saya ceritakan pada kisah berikutnya ya…

About IrmaFang

- Sederhana, menyukai kejujuran, ketenangan dan kedamaian... - Punya impian bisa travelling keliling dunia bersama keluarga... :D

Komentar ditutup.