Menimba Ilmu Menulis Cerita Anak dari Master-nya Litara

Standar

Berhasil lolos dalam seleksi naskah sebagai persyaratan mengikuti Free Workshop Penulisan Buku Cerita Anak yang diadakan oleh Litara, adalah sebuah rezeki dan kesempatan emas untuk belajar langsung dengan para master/ penulis Litara yang karyanya pernah mendapatkan penghargaan internasional.

Setelah kukirimkan dua naskah pictbook-ku ke Litara, aku pun mempunyai harapan yang sama. Ingin bisa lolos karena berharap mendapatkan kesempatan belajar tersebut. Apalagi workshop keren ini diadakan di Cirebon.

Allah Swt. mengabulkan harapanku. Ketika kubaca sebuah pengumuman di IG Litara yang menyebutkan nama-nama peserta yang lolos seleksi naskah, ada namaku tertera di dalamnya. Selain itu ada email masuk dari Litara yang memberikan informasi yang sama dan menggembirakan ini juga. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…

Workshop ini adalah salah satu even dari rangkaian acara Jagakali International Art Festival. Karena tema yang diangkat dari festival tersebut adalah tentang kepedulian terhadap lingkungan, maka tempat pelaksanaannya di sekitar daerah bertumpuknya sampah. Tepatnya di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Cirebon.

Begitu pun acara workshop dari Litara ini, pelaksanaannya tak jauh dari lokasi panggung utama Jagakali International Art Festival, yaitu di SD Cadas Ngampar, jalan Kopi Luhur.

Akhirnya saat yang kunantikan pun tiba. Pada hari Minggu tanggal 27 Oktober 2019 aku diantar suami, adik lelakiku dan Laura menuju ke lokasi acara dengan mobil. Sebelumnya kami sarapan soto Boyolali di daerah Perumnas.

Seusai sarapan, mobil langsung meluncur ke sana. Kami baru pertama kali memasuki daerah ini. Sehingga masih terasa asing. Awalnya suasana masih banyak rumah dan pepohonan. Tapi semakin ke atas, semakin gersang. Mungkin karena musim kemarau panjang juga.

Semakin mendekati lokasi, kami mulai melihat beberapa tumpukan sampah yang tersebar di sebelah kiri dan kanan jalan. Lingkungan yang seperti ini pasti sangat mengganggu kenyamanan penduduk sekitar. Bayangkan, mereka sehari-hari harus hidup di antara gundukan sampah yang tak hanya kotor, berbau dan tentu bisa menjadi sumber penyakit. Kondisi seperti ini sangat membutuhkan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

Beberapa saat kemudian kami sampai di tujuan. Di sebelah kanan jalan tampak bangunan sekolah dengan gapura yang bertuliskan SD Cadas Ngampar. Mobil masuk ke area halaman sekolah. Dari balik jendela mobil kulihat semua peserta sudah berkumpul di suatu ruangan kelas. Waduh agak telat nih…

Aku langsung turun dari mobil setelah berpamitan dengan suami, adik dan keponakanku, lalu bergegas menuju ke ruangan kelas tadi. Beberapa panitia menyodorkan kertas lembar hadir yang harus kutandatangani terlebih dahulu. Setelah itu aku masuk dan mencari kursi yang kosong.

Sesaat setelah duduk, aku mengatur nafas sambil melihat ke sekeliling. Mayoritas peserta tampaknya anak-anak muda. Mungkin anak-anak kuliahan. Dan ternyata benar juga. Ketika kutanyakan pada seorang gadis yang duduk di sampingku, katanya sebagian besar peserta yang ikut acara ini termasuk dirinya adalah mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jurusan PGMI/PGSD.

Ada juga beberapa ibu dan teman yang sudah kukenal, seperti Ms. Fitri dan Mbak Dinu Chan. Dua orang ibu yang duduk di sebelah kiriku bahkan datang dari luar kota. Yaitu dari Depok dan Karawang. Wah, salut deh dengan semangat belajar mereka. Mereka jauh-jauh hadir ke tempat ini untuk menimba ilmu kepenulisan.

Saat itu yang menyampaikan materi adalah Bu Sofie Dewiyani. Ketua Litara sekaligus seorang penulis dengan karyanya yang berjudul “Teman Bermain dalam Lemari” dan sudah mendapat penghargaan internasional (Pemenang Runner Up Samsung Kidstime, Author’s Award Singapore 2015, Peraih Honorary Mention di Bratislava, Illustration Biennale 2017). Bu Sofie memperkenalkan sekilas tentang Litara. Syukurlah, ternyata baru masuk acara perkenalan.

Setelah Bu Sofie selesai memperkenalkan Litara, giliran Bu Eva Nukman (salah satu pimpinan Litara dan penulis senior juga) yang meminta seluruh peserta saling memperkenalkan diri. Tapi kali ini caranya harus yang unik. Semua peserta diminta berperan seperti anak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun, atau seperti kakek /nenek saat memperkenalkan dirinya.

Tentu suasana menjadi seru karenanya. Ada yang bergaya bocah imut dan polos. Ada yang seperti anak manja. Ada yang pura-pura ngambek. Ada yang menjadi nenek cerewet. Ada yang menjadi kakek bijaksana. Wah, jadi seperti bermain sandiwara, nih

Tapi Bu Eva memang sengaja meminta cara perkenalan seperti itu bukan tanpa maksud. Semua itu adalah untuk pemanasan sebelum semua peserta masuk ke materi menulis cerita anak yang tentu harus bisa menyelami dunia anak.

Setelah itu Bu Sofie menyampaikan materi tentang “Menulis Cerita Ramah Anak”. Ternyata memang tidak mudah menulis cerita anak. Kalau kita memperhatikan pictbook yang kalimatnya sedikit dan singkat-singkat, sebelumnya mungkin kita beranggapan bahwa membuat cerita anak itu gampang. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Nah, berikut ini beberapa alasan mengapa menulis cerita anak tidak bisa dikatakan mudah:

1. Harus masuk ke dunia anak-anak

2. Harus tahu pembaca sasaran, umur berapa dan kelas berapa? Bagaimana mereka berpikir, berbicara, menyampaikan pendapat?

3. Bagaimana tokoh pada cerita digambarkan?

4. Memakai bahasa anak-anak.

5. Tokoh tidak harus anak-anak. Bisa hewan atau tokoh yang disukai anak-anak. Tokoh yang disukai misal kancil karena cerdik dan lincah.

Semua peserta tampak menyimak materi dengan serius.

Setelah itu Bu Eva yang memberikan materi. Materi yang disampaikan Bu Eva cenderung lebih ke teknis menulis cerita anak.

Seperti adanya 5 tahap penguasaan bahasa, yaitu:

1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis
5. Menerjemahkan

Lalu syarat mutlak semua penulis adalah: BACA!

Setelah banyak membaca buku, barulah: Ready to Start. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Ide
2. Brainstorming
3. Tulis
4. Revisi/ Sunting.

Cara menemukan ide cerita, coba galilah: Tentang apa? (konflik utama/alur) Untuk siapa? (pembaca sasaran)

Dan carilah ide yang unik (menarik, tidak membosankan, orisinil)

Lalu berikut ini adalah contoh tema yang sudah umum dan terlalu sering diulas:

1. Susah lepas dari gawai.
2. Pemanfaatan sampah.
3. Anak di-bully tapi malah menolong orang yang mem-bully-nya.

Sumber ide sebetulnya banyak dan ada di sekitar kita. Seperti:

1. Pengalaman sendiri/orang lain.
2. Imajinasi
3. Budaya (makanan, tarian, mainan, kebiasaan lain)
4. Lingkungan (tempat tertentu, flora dan fauna)

Contoh buku yang berjudul: “Pewarna Langit”, karya Bu Eva Nukman yang pernah memenangkan Runner Up Samsung Kidstime dan Author’s Award Singapore 2015.

Adapun elemen cerita tersusun dari:

1. Plot (urutan kejadian dalam cerita
Awal – Tengah – Akhir)
2. Tokoh.
3. Konflik atau Permasalahan

Buatlah tokoh yang kuat dengan kriteria sebagai berikut:

1. Unforgettable
2. 3 Dimensi
3. Menentukan jalannya cerita

Maksud 3 Dimensi:
1. Fisik (gambaran jasad, dapat dilihat)
2. Internal (psikologis, emosional)
3. Eksternal (latar belakang sosial)

Cara pengembangan karakter/tokoh:

1. Obyektif (I want…)
2. Motivation (I want.., because…)
3. Obstacles /distraction (I want…,because…, but…)

Jadikan sifat buku yang kita terbitkan nanti:

1. Menjadi cermin.
2. Menjadi pintu.
3. Jendela.

Jangan lupa, pahamilah:

1. Apa yang disukai dan tidak disukai.
2. Bagaimana kemampuan membacanya.
3. Bagaimana cara mereka berpikir.
4. Bagaimana cara mereka berbicara.

Waw…, materinya padat, bergizi dan perlu proses berlatih yang tekun dan sabar untuk bisa menguasainya.

Sebelum masuk waktu istirahat, shalat dan makan siang, Bu Eva memberi tugas kepada setiap peserta untuk menuliskan: kata benda, kata kerja dan setting tempat pada 3 lembar kertas kecil yang dibagikan.

Lalu semua kertas itu dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai jenis kata. Setelah itu 3 jenis kata itu dibagikan kembali ke semua peserta secara acak. Aku mendapat kata benda: jamu, kata kerja: bermain, dan setting tempat: danau.

Nah, tugas semua peserta, sesudah jam istirahat nanti adalah membuat cerita berdasarkan tiga kata tersebut.

Agar pikiran fresh kembali, kami makan siang dulu, lalu shalat di area panggung utama Jagakali International Art Festival. Sebagian peserta naik motor untuk menuju ke sana. Dan sebagian lagi berjalan kaki. Yah, sebenarnya memang tidak terlalu jauh juga jaraknya.

Kami sempatkan juga melihat-lihat beberapa buku yang diterbitkan Litara di salah satu stand. Bagus-bagus cerita dan gambarnya. Dicetak di kertas yang berkualitas juga. Kata Bu Eva, buku-buku terbitan Litara rata-rata dari proses editing hingga terbit memerlukan waktu kurang lebih 1 tahun. Hal itu dikarenakan adanya proses editing-nya yang ketat dan berhati-hati untuk menjaga agar isi ceritanya ramah dibaca anak-anak.

Dengan berakhirnya waktu ishoma, kami kembali ke kelas dan acara workshop pun dilanjutkan lagi. Seperti tadi yang telah ditugaskan oleh Bu Eva, semua peserta mulai mengembangkan cerita berdasarkan 3 kata tadi.

Udara musim kemarau yang semakin siang semakin panas ini membuat Bu Sofie, Bu Eva dan sebagian peserta sibuk mengipas-ngipas wajah karena kegerahan. Ada yang membawa kipas sendiri, ada juga yang memakai sarana kardus atau buku. Untungnya aku membawa kipas yang kuperoleh dari souvenir pernikahan karena aku sudah menduga ruang kelasnya nanti belum ada kipas angin maupun AC.

Setelah waktu berlalu hampir setengah jam, Bu Eva meminta peserta yang sudah selesai menyusun cerita, memaparkannya. Lalu secara detail Bu Eva mengevaluasinya. Hmmm…, benar juga kata Bu Eva. Kalau sekedar dibuat komersial isi ceritanya mungkin lebih mudah, tapi kadang jadi kurang menyentuh dan kurang ramah anak. Jadi semakin terbukti nih, ternyata menulis cerita anak memang tidak mudah ya…

Tak terasa hari semakin sore, sehingga tugas yang belum terselesaikan dijadikan PR. Semua peserta juga diberi tugas merevisi beberapa naskah yang sudah dikirimkan di pada saat awal pendaftaran, agar ceritanya lebih menarik dan yang pasti, lebih ramah anak.

Jam 16.30 acara workshop ditutup. Semua peserta dan panitia foto bersama di panggung utama acara festival. Sekaligus penyerahan donasi buku Litara kepada perwakilan SD Cadas Ngampar.

Terima kasih Bu Sofie dan Bu Eva atas bimbingan materi kepenulisannya yang luar biasa hari ini. Semoga kami bisa mempraktikkan semua ilmu yang telah kami peroleh secara bertahap sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat, khususnya bagi anak-anak. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.