Bayang-bayang Kekecewaan

Standar

Sumber gambar: Pixabay Pro

Kisah kegagalanku dalam mencari pasangan hidup ini bermula ketika aku diperkenalkan dengan seorang lelaki keturunan Tionghoa yang katanya seorang muslim juga. Dia berasal dari Solo dan lulusan kedokteran dari sebuah PTN ternama. Ternyata dia hanya datang pertama dan terakhir kali di rumah orangtuaku di Magelang. Dan sesudah itu tak ada kabarnya lagi.

Ketika kuliah di Yogyakarta, aku pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa dari sebuah PTN. Dia adalah seorang muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari luar Jawa dan aktif dalam kegiatan dakwah Islamiyah di organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam/dulu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di kota tersebut.

Aku sangat mengaguminya, karena selain wajahnya yang bisa dibilang ganteng, dia juga sangat alim dan bagus dalam hal pengamalan ajaran Islam. Aku senang sekali waktu ia memercayaiku sebagai pengganti dalam mengisi kultum di sebuah masjid di kota Yogyakarta pada saat bulan Ramadhan. Tapi aku hanya bisa memendam perasaan sukaku itu ketika kutahu bahwa ia sudah mempunyai seorang calon istri.

Kemudian ada seorang kakak kelas di kampusku, berasal dari Kalimantan yang ingin menjalin hubungan serius denganku sampai mendatangi rumah orang tuaku di Magelang. Aku sangat menghargai keberanian dan keseriusannya. Tapi kedua orang tuaku masih belum menyetujuinya, di samping memang aku sendiri juga masih belum ‘sreg’ di hati.

Salah seorang pengurus PITI Yogyakarta pun sampai tergerak hatinya ingin mencarikan jodoh untukku. Ia memperkenalkan keponakan laki-lakinya yang lulusan Fakultas Kehutanan. Walaupun kami sudah dipertemukan dan diberi kesempatan untuk saling mengenal, pada akhirnya malah kami berdua dengan penuh kesadaran sepakat untuk tidak melanjutkan pada keseriusan hubungan. Kebetulan kami berdua memang sama-sama tidak mempunyai ‘chemistry’ satu sama lain 😀

Setelah itu aku sempat berkenalan dengan lelaki lain dari berbagai daerah dan etnis. Tapi tak ada satu pun yang menjadi serius dan berkenan di hati. Penyebabnya tentu saja bukan karena aku yang terlalu rewel. Tapi memang entah mengapa setiap kali ada lelaki yang sebetulnya aku sudah merasa cocok dengannya, ternyata laki-laki itu sudah punya calon pendamping atau sudah menikah atau belum ‘sreg’ denganku.

Nah, sebaliknya ketika ada lelaki yang tertarik padaku, dari yang mengejar-ngejarku, memaksa mengantarku kuliah, menulis surat untukku dengan bahasa yang indah dan puitis, sampai yang mengajakku ketemuan padahal sudah punya istri. Entah mengapa, semuanya tidak ada yang cocok di hatiku?

Semua kenyataan ini membuatku semakin gelisah. Karena waktu terus berlalu dan usiaku juga terus bertambah. Apalagi kalau ada yang berulangkali menanyakan perihal pasangan hidup kepadaku. Sedangkan statusku dari tahun ke tahun masih saja jomlo. 😥

Hingga suatu hari saat menjelang acara wisuda sarjanaku, ada seorang laki-laki dewasa berasal dari Jawa Timur yang kembali diperkenalkan padaku. Awalnya aku diperlihatkan sebuah foto seorang lelaki dewasa bermata sipit oleh ibuku. Kata ibuku, dia adalah saudara kenalan ibuku yang juga sedang mencari jodoh dan umurnya sudah memasuki tiga puluh tahunan.

Ia adalah seorang pedagang muslim keturunan Tionghoa yang mempunyai sebuah toko sembako di daerah Bangil, Jawa Timur. Singkat kata, ia mempunyai usaha yang sudah mapan dan tahun ini sudah berencana untuk berangkat haji. Tentu saja kedua orang tuaku sangat mendukungku untuk berkenalan dan menjalin hubungan serius dengannya.

Maka ketika ia datang ke Magelang untuk berjumpa dengan kami sekeluarga, kami menyambutnya dengan baik. Selama beberapa saat terjalin pembicaraan yang akrab di antara kami. Hingga ketika lelaki itu berpamitan pulang, sempat terbersit setitik harapan di hatiku.
Terlebih ketika beberapa hari kemudian aku menerima kiriman surat darinya. Di dalam suratnya ia menceritakan tentang keluarganya, pekerjaannya, dan kondisi kota tempat tinggalnya. Aku pun membalas suratnya dengan senang hati. Aku juga menceritakan berbagai hal tentang diriku dan keluargaku. Lalu dia membalas suratku lagi dengan kata-kata yang semakin akrab. Dan aku kembali membalas suratnya. Begitulah seterusnya kami saling berkirim surat.

Saat itu harapanku akan keseriusan hubungan kami ini menjadi semakin besar ketika melihat respon positif dari setiap isi suratnya. Saat dia akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pun ia sempat memberi kabar, berpamitan dan memohon padaku untuk mendoakannya agar selamat dalam perjalanan dan menjadi haji mabrur. Aku ikut merasa senang karena sebagai seorang mualaf, ia telah membuktikan keseriusannya dalam beribadah, di antaranya dengan menunaikan Rukun Islam yang kelima itu.

Setelah hampir 2 bulan berlalu, aku mulai gelisah karena suratnya tak kunjung datang lagi. Tapi aku mencoba berprasangka baik. Mungkin sekembalinya dari ibadah Haji dia sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sampai suatu sore, sepulangku dari kios ibuku, aku menemukan sepucuk surat di atas meja. Aku berseru gembira ketika kutahu bahwa itu adalah surat darinya yang sudah lama kutunggu-tunggu selama ini. Dengan tak sabar, kusobek amplopnya lalu kubaca suratnya.

Dari awal kata pembuka suratnya hingga setengah bagian surat itu aku masih merasa senang membacanya. Karena di dalam surat itu dia menceritakan suasana dan keadaannya saat beribadah Haji. Tapi ketika aku mulai membaca bagian pertengahan hingga akhir suratnya, alisku menjadi berkerut. Dan aku menjadi sangat terkejut ketika aku membaca kalimat ini,

“Irma, saya senang karena hubungan di antara kita selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Tapi karena ada beberapa hal yang tak bisa saya ceritakan di sini, saya minta maaf ya Irma… Saya tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini menjadi hubungan yang lebih serius. Walaupun begitu tali silaturahmi di antara kita jangan putus ya. “

Kata demi kata dalam kalimat itu serasa menghancurkan bongkahan harapanku dengan seketika. Harapanku untuk bisa didampingi olehnya saat wisuda sarjana. Harapanku untuk bisa menikah dengannya seusai wisuda sarjanaku. Harapanku untuk bisa bersama-sama mengelola usaha yang telah dimilikinya sesudah menikah nanti. Yah, semua harapanku itu kini telah sirna. Yang ada hanyalah harapan yang kosong… 😥

Aku lalu duduk termenung di sebuah kursi di ujung ruang tamu. Dalam kesendirian dan kesedihanku itu, aku hanya bisa menangis, meratapi nasibku ini, “Ya Allah… Mengapa selalu berakhir begini? Mengapa jodohku tak kunjung datang? Apa salahku ya Allah. Aku lelah dengan semua penantian ini…” Berbutir-butir air mata mengalir deras ke pipiku.

Ketika kedua orang tuaku mengetahui tentang kabar ini, mereka juga terkejut. Mereka tak mengira hubungan kami yang sudah terbina dengan baik itu bisa kandas begitu saja. Tapi mereka hanya bisa menghibur, membesarkan hati dan mendoakanku.

“Sabar ya Fang… Jangan berhenti untuk terus memohon pertolongan kepada Allah. Karena Allah itu Maha Penolong dan Maha Penyayang. Allah juga Maha Mengetahui. Dia tahu siapakah yang nanti akan menjadi jodoh terbaikmu sehingga akan menghadirkannya di waktu yang tepat. Siapapun yang hadir, namun pada akhirnya belum berjodoh denganmu, berarti ia bukan yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Kesabaran itu memang pahit, namun pasti akan berbuah manis”

Untuk mengobati semua kekecewaan dan untuk menumbuhkan kembali rasa optimisku, seusai wisuda sarjana aku mengisi waktu dengan bekerja di beberapa tempat. Dari bekerja di kota Yogyakarta sampai ke kota Jakarta.
Hingga akhirnya aku bergabung di Yayasan Haji Karim Oei Jakarta dan bersahabat dengan Linda seorang mualaf keturunan Tionghoa yang berasal dari Nusa Tenggara Barat.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.