Manisnya Buah Kesabaran

Standar

Hari Minggu ini Linda sudah siap sejak pagi di Masjid Lautze. Tak lupa ia membawa rujak sebagaimana yang telah ia janjikan kemarin untuk diberikan kepada Koh Hugo bila nanti jadi hadir dan ikut pengajian di sana. Tapi aku tidak yakin Koh Hugo akan datang. Apalagi kami juga belum banyak saling mengenal.

Dan benar… , hingga acara pengajian usai, Koh Hugo memang benar-benar tidak hadir. Aku tidak terlalu kecewa karena aku juga tidak mau terlalu mengharapkannya. Sejak kekecewaan yang secara beruntun pernah aku alami sebelumnya itu, kini aku menjadi takut berharap terlalu banyak lagi terhadap apa pun dan siapa pun. Apalagi terhadap pasangan hidup.

Akhirnya rujak yang sudah disiapkan oleh Linda tadi kami makan bersama teman-teman yang ikut pengajian pagi itu. Bagaimana pun aku tetap berterimakasih kepada Linda yang selalu memotivasi dan mensupport-ku dalam segala hal. Sejak aku mulai berkenalan dengannya, aku juga sudah kagum pada ketegasan dan kemandiriannya. Apalagi ia sangat rajin shalat Tahajud. Bersama sahabatku itu kami bisa saling belajar untuk menjadi seorang muslimah yang baik.

Seperti biasa di hari Senin sesudah shalat Subuh itu aku sedang bersiap-siap untuk mandi dan berangkat bekerja, Tiba-tiba terdengar suara dering telepon di ruang tengah memecah kesunyian suasana kos di pagi hari itu.

“Ir, ada telepon buat kamu tuh…,” teriak temanku sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku segera keluar dari kamar untuk menerima telepon. Kupikir itu telepon dari ibu atau ayahku di Magelang.

Assalamu’alaikum…,” kudengar suara lelaki dari balik telepon itu. Tapi bukan suara ayahku.

Wa’alaikumussalam. Maaf ini dengan siapa ya?” aku langsung bertanya.

Wah, sudah lupa ya? Saya Hugo dari Cirebon yang kemarin hari Sabtu ketemu di acara LDK itu lho. Maaf ya kemarin Minggu saya tidak bisa datang ke acara pengajian di Masjid Lautze karena harus belanja beberapa barang keperluan pabrik untuk kakak saya. Terus pagi ini saya harus langsung pulang ke Cirebon karena sudah ditunggu kakak saya,“

Nyesss… Suara Koh Hugo dan semua penjelasan atas ketidakhadirannya kemarin di Masjid Lautze itu terasa menyejukkan hati dan menjawab pertanyaan di dalam hatiku.

Oooh, iyaa.. Maaf Koh…, saya kira siapa ini tadi… Hehehe. Iya, nggak apa-apa Koh… Nanti kan kapan-kapan bisa datang lagi,” aku menjawab dengan agak gugup karena tak mengira Koh Hugo akan meneleponku pagi ini.

“Iya, insya Allah nanti saya datang lagi deh. Oke, sudah dulu ya… Ini saya sudah siap-siap mau naik kereta Cirebon Ekspress nih. Mau pulang ke Cirebon. Assalamu’alaikum..,” Koh Hugo pun berpamitan pulang.

Oke, semoga selamat sampai di tempat ya. Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil tersenyum gembira.

Sejak itu, hampir setiap pagi Koh Hugo meneleponku. Teleponnya dari sekedar menanyakan kabarku hingga berdiskusi tentang ajaran Islam. Namun aku tetap memposisikan harapanku di tengah-tengah. Supaya apa pun yang terjadi nanti aku tetap siap dan tidak mudah kecewa lagi.

Hingga kira-kira di hari yang ke sepuluh dari perkenalan kami, tiba-tiba Koh Hugo mengajakku bicara dengan nada yang serius dalam teleponnya,

“Ir, saya pernah membaca sebuah buku agama Islam. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa dalam ajaran Islam tidak diizinkan pacaran.

Nah, makanya saya juga ingin melanjutkan hubungan ini menjadi lebih serius. Saya tidak mau pacaran, Ir… Saya ingin langsung melamar dan menikahimu.”

Sontak aku terkejut sekaligus gembira bukan kepalang. Lalu sesaat aku terdiam. Karena aku tak mengira Koh Hugo akan seberani dan seserius itu.

Semula kusangka Koh Hugo seperti laki-laki kebanyakan yang hanya akan mengajak pacaran terlebih dahulu hingga beberapa lama dengan hubungan yang tidak jelas. Sementara usiaku semakin bertambah sehingga tentu saja membutuhkan suatu kepastian.

Namun prasangkaku terhadapnya ternyata salah besar. Kata-katanya itu telah membuktikan bahwa ia tak seburuk yang kusangka.

Sebenarnya aku masih belum sepenuhnya percaya pada niat baik Koh Hugo. Mungkin karena aku juga masih belum lama mengenalnya. Belum ada 2 minggu malahan… Memang terasa kilat banget permintaannya untuk melamar dan menikahiku.

Maka aku menyarankannya untuk saling mengenal antar keluarga masing-masing saja terlebih dahulu.
Di luar dugaan, Koh Hugo langsung menyambut ‘tantanganku’ itu. Ia meminta alamat rumah kedua orang tuaku di Magelang. Lalu ia mulai mengatur rencana pertemuannya dengan kedua orang tuaku di Magelang.

Untuk menghindari fitnah, ia menyarankanku untuk pulang ke Magelang terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menyusulku ke Magelang.

Dengan hati yang gembira aku langsung menelepon ibu dan ayahku. Aku menceritakan semua hal tentang Koh Hugo. Dari sejak pertama kali aku mengenalnya hingga rencananya untuk datang ke Magelang dalam rangka melamar dan menikahiku.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kedua orang tuaku terkejut ketika mendengar ceritaku. Kata ibuku proses perkenalanku dengannya masih terlalu singkat. Jadi harus dicek dulu bagaimana kepribadian dan keluarganya?

Sebab pernikahan itu bukan main-main. Jadi jangan sampai menikah dengan lelaki yang salah sehingga terjadi penyesalan di kemudian hari.

Namun kedua orang tuaku menyambut baik rencana kedatangannya ke rumah dalam rangka silaturahmi dan saling mengenal di antara kami.

Dalam rangka kehati-hatiannya, ibuku meminta bantuan salah seorang saudaranya yang tinggal di Cirebon untuk menyelidiki keluarga koh Hugo dan memastikan tempat tinggalnya.

Karena ibuku khawatir barangkali Koh Hugo ternyata sudah menikah dan aku hanya dijadikan istri gelapnya, mengingat usianya yang sudah di atas 30 tahun. Na’udzubillahi min dzalik..

Setelah sebagian informasi tentang koh Hugo dan keluarganya diterima kedua orang tuaku dengan baik, mereka kini menjadi lebih percaya akan status Koh Hugo dan rencananya tadi. Tinggal nanti bagaimana penilaian orang tuaku terhadapnya saat bertemu langsung dengannya.

Saat aku sudah tiba di Magelang, kami sekeluarga menunggu kedatangan Koh Hugo dengan harap-harap cemas.

Ketika hari semakin sore dan Koh Hugo masih belum tiba juga di rumah kami, sempat terselip sedikit keraguanku akan keseriusannya untuk berani datang ke Magelang menemui kedua orang tuaku. Apalagi terhadap rencananya untuk melamar dan menikahiku dalam waktu yang begitu singkat ini.

Bayang-bayang kekecewaan di masa lalu pun silih berganti mulai bermunculan di benakku.

Tapi saat kudengar suara bel di depan pintu rumah kami dan sosok Koh Hugo yang sedang kutunggu-tunggu itu benar-benar telah hadir di hadapanku, dalam hati aku berseru, “Alhamdulillah.. ! Koh Hugo ternyata benar-benar menepati kata-katanya!” Kami sekeluarga langsung menyambut kedatangannya dengan gembira.

Keletihan dari perjalanan Cirebon-Magelang, masih tampak di wajahnya. Rupanya tadi ia sempat kebingungan dan hampir ‘nyasar’ ketika mencari alamat rumah kami.

Tapi saat koh Hugo datang kembali ke rumah kami di malam hari sesudah mandi di hotel, wajah gantengnya tampak terlihat segar kembali. Kedua orang tuaku juga senang melihatnya.

Kepercayaan kami kepada Koh Hugo semakin bertambah ketika dengan mantapnya ia menetapkan tanggal lamaran pernikahannya. Setelah membuka-buka lembaran kalender dan mencari-cari waktu yang pas, akhirnya disepakati bersama bahwa pada tanggal 17 Agustus 1997 ia akan datang lagi bersama keluarganya untuk melamarku.

Sebulan kemudian, Koh Hugo kembali membuktikan keseriusannya dalam menjalin hubungan denganku. Pada tanggal yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia itu sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, ia datang lagi bersama rombongan keluarganya untuk melamarku. Alhamdulillah…

Selain membawa barang-barang seserahan lamaran, keluarganya juga mengajak kami berembug untuk langsung menetapkan tanggal pernikahan kami berdua. Hingga akhirnya disepakati bahwa akad nikah kami akan dilaksanakan pada tanggal 16 November 1997 bertempat di rumah orang tuaku di Magelang.

Masya Allah, aku tak menyangka akan secepat ini!

Betapa bahagianya hatiku saat itu. Di hari Kemerdekaan bangsa Indonesia ini, Koh Hugo serasa telah ‘memerdekakan’ perasaanku yang selama ini selalu terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri dan kekecewaan.

Aku menjadi semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik pilihan Allah Swt. yang selama ini telah lama kunantikan.

Apalagi ada beberapa poin penting yang membuatku makin bersimpati dan mantap untuk menerima lamaran dan menikah dengannya. Yaitu keshalehannya. Koh Hugo selalu menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya dan sangat berhati-hati dalam bergaul denganku selama ini dalam rangka menjaga etika Islam.

Selain itu aku melihat adanya hubungan kekeluargaan dan sikap toleransi yang baik dalam keluarga Koh Hugo, meskipun hanya Koh Hugo sendirilah yang muslim dalam keluarganya.

Selama masa proses persiapan menuju tanggal pernikahan kami, aku tetap berdoa memohon kepada Allah Swt, “Ya Allah, bila memang benar Koh Hugo ini adalah jodoh yang terbaik untukku dunia dan akhirat, berilah kelancaran pada setiap proses menuju pernikahan kami nanti. Namun bila dia bukan jodoh terbaikku, putuskan hubungan kami sebelum acara pernikahan kami, agar tidak menjadi duri dalam rumah tangga kami nantinya”

Hingga saat pernikahan kami tiba, kurasakan semua urusan dan prosesnya berjalan dengan sangat baik dan lancar. Alhamdulillah, aku yakin, bahwa inilah jawaban dari Allah Swt. atas doaku selama ini. Aku juga semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik yang Allah Swt. berikan untukku.

Akhirnya, tibalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu! Setelah 4 bulan lebih 4 hari sejak pertemuan kami yang pertama di Jakarta, kami berdua dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang sah. Kedua orang tuaku dan keluarga kami masing-masingpun menjadi lega dan ikut berbahagia dengan pernikahan kami.

Dan alhamdulillah, hingga 22 tahun pernikahan kami saat ini, dalam suka duka berumahtangga, kami merasakan suasana keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Inilah buah manis kesabaran penantian kami. Semoga demikianlah selamanya. Sehidup sesurga bersama keluarga kami. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

– Selesai –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.