Pertemuan Singkat

Standar

Pagi ini cuaca di kota Jakarta cukup cerah. Suasana kota metropolitan ini mulai tampak sibuk dengan berbagai aktivitas warganya. Di jalan raya juga sudah ramai dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang mempunyai tujuan dan arahnya masing-masing.

Ada yang menggunakannya untuk mengantar anaknya ke sekolah. Ada yang memakainya untuk berbelanja ke pasar. Ada juga yang mengendarainya untuk berangkat ke kantor. Mereka sebagian mengendarai kendaraan pribadi. Sedangkan sebagian yang lain naik motor atau menumpang kendaraan umum.

Sementara itu, pagi ini aku sedang bersiap-siap akan berangkat ke daerah kota. Beberapa hari yang lalu pengurus Yayasan Haji Karim Oei Pusat memberi informasi bahwa pada hari ini akan diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei di sana.

Saat itu aku masih belum tahu persis lokasinya. Aku masih bingung, bila berangkat dari daerah Kelapa Gading menuju ke sana, bus kota atau mobil angkot yang jalur berapa yang harus kutumpangi? Aku sudah tanya ke beberapa orang, tapi informasinya kok berbeda-beda? Entah yang mana yang benar? Kalau naik taksi aku tak mau nanti bayarnya jadi mahal ketika nanti tejebak kemacetan di jalan. Maklum di masa itu belum ada taksi online.

Akhirnya aku memilih naik bajaj saja. Meskipun suara mesin kendaraannya agak berisik, tapi aku tak perlu khawatir biayanya jadi membengkak. Aku pun bisa leluasa bertanya ke supir bajaj atau orang yang kutemui di jalan, di mana lokasi yang akan kudatangi ini nanti.

Naik bajaj juga ada kesenangan tersendiri. Aku bisa melihat-lihat suasana jalan dengan leluasa. Sembari menikmati semilirnya angin bila keadaan jalan sedang lancar. Kondisi menjadi berbeda bila jalanan sedang macet. Tak hanya asap kendaraan yang bisa menyesakkan dada. Lama kelamaan udara pun terasa pengap dan gerah.

“Ir, ayo masuk cepetan… ! Sudah ada yang nunggu kamu di dalam! Kalau kamu nggak mau, entar buat aku saja, lho…”

Linda berseru memanggilku, begitu melihatku hadir di antara kerumunan peserta acara Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei yang berlangsung pada hari Sabtu, 12 Juli 1997 di Jakarta. Dengan cepat Linda menarik tanganku masuk ke dalam ruangan tempat acara berlangsung.

Emang ada apa sih? Siapa yang nunggu aku? Terus apanya yang buat kamu?”

Aku malah jadi merasa heran dengan tingkah sahabatku itu yang tampak heboh dan seperti menyembunyikan sesuatu. Sedangkan aku baru saja tiba di tempat, setelah sebelumnya bajaj yang kutumpangi tadi sempat terjebak macet di jalan.

Fiuuuh..!”
Aku menghela nafas sambil menyeka keringat yang menetes di dahiku.

Ketika kami memasuki ruangan tersebut, acara baru saja dimulai. Baru diisi sambutan-sambutan oleh para pimpinan yayasan yang menyelenggarakan acara ini. Yaitu Yayasan Haji Karim Oei, Yayasan Bina Pembangunan dan Yayasan Amanah Ummat.

Ruangan tampak sudah dipenuhi oleh para peserta. Peserta acara ini sebagian besar adalah para mualaf yang tergabung dalam Yayasan Haji Karim Oei. Baik dari Pusat (Jakarta), cabang Bandung dan cabang Cirebon. Aku dan Linda adalah dua di antara peserta dari Yayasan Haji Karim Oei Pusat.

Baru saja aku mendapatkan tempat duduk, tiba-tiba seorang panitia memintaku maju ke depan untuk membaca Al Qur’an sebagai pembuka acara ini.

Deg!! Waduh, kok mendadak banget, sih… Keringat dingin menetes lagi di dahiku. Aku langsung mencari ayat Al Qur’an yang kandungan maknanya kira-kira tepat untuk acara hari ini. Setelah kutemukan dan kubaca sekilas, aku langsung maju ke depan.

Bismillahirrahmanirrahiim, Ya Allah berilah hamba kelancaran dalam membaca ayat-ayat Al Qur’an ini. Aamiin..” dalam hati aku berdoa.

Ayat demi ayat dari surat Al Mukminun pun kubaca perlahan. Ayatnya memang pendek-pendek namun maknanya dalam karena berisi tentang asal muasal kejadian manusia dan beberapa ciri-ciri orang mukmin yang beruntung. Aku hanya membaca dari ayat 1 sampai ayat 16 mengingat waktu yang terbatas.

Alhamdulillah, akhirnya tugasku itu dapat kuselesaikan dengan baik dan lancar. Ketika aku kembali ke tempat dudukku dan belum sempat menanyakan lagi beberapa hal yang masih belum kupahami tadi ke Linda, ia malah membuatku makin penasaran dengan membisikiku, “Eh Ir, kamu tuh belum tahu toh? Kamu tuh mau dikenalin, lho…”

Hah, masa sih? Aku malah baru tahu, lhoEmangnya aku mau dikenalin sama siapa, sih Lin?

“Sama itu tuh yang wajahnya ganteng kayak bintang film Hong Kong itu, lho…,” kata Linda sambil menunjuk ke arah sosok lelaki yang ia maksud dan duduk di seberang kami.

“Hmmm.., “ aku hanya menggumam perlahan sambil diam-diam memperhatikan lelaki yang sedang membaca sebuah koran itu. Entah karena sadar sedang aku perhatikan atau karena kebetulan saja, lelaki itu tiba-tiba menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain karena malu.

Lalu aku bertanya lagi kepada Linda tentang lelaki yang sedang gencar ‘di’promosi’kannya itu. Kata Linda, lelaki itu merupakan salah seorang peserta dari Yayasan Haji Karim Oey Cabang Cirebon.

Berdasarkan informasi yang kuperoleh, ia memang sengaja hadir di sini, tidak hanya untuk mengikuti acara Pelatihan, namun juga karena akan dipertemukan dan diperkenalkan denganku. Hal ini atas inisiatif para pimpinan Yayasan Haji Karim Oei Pusat maupun cabang Cirebon.

Jadi… , pertemuan ini ternyata memang sudah direncanakan ya…?!

Aku semakin paham ketika ‘coffee break’ dan ‘ishoma’, lelaki berkulit putih dan bermata agak sipit itu mulai mendekatiku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Hugo, tinggalnya di Losari Cirebon. Nama yang unik. Selanjutnya kami saling bertukar nomer telepon.

Ayo Koh Hugo, besok Minggu datang juga dong ke acara pengajian rutin YHKO di Masjid Lautze Jakarta! Irma besok juga ke sana, lho. Entar kita bawain rujak deh… ”

Linda makin bersemangat ‘ngomporin’ kami berdua.
Aku tahu sahabat baikku itu ikut senang melihat pertemuan kami ini dan dia mendukung agar hubungan kami berkelanjutan sehingga menjadi lebih serius.

Insya Allah ya, “ begitu jawab Koh Hugo sambil tersenyum. Akhirnya ketika acara selesai, kami saling berpamitan pulang. Aku pulang ke kosku di daerah Kelapa Gading dengan beribu perasaan yang campur aduk tak menentu.

Saat hari semakin malam aku malah tak bisa tidur karena memikirkan pertemuan singkatku tadi dengan Koh Hugo dan masa depanku.

Sejujurnya, aku sudah benar-benar lelah dan pesimis kalau membicarakan masalah pasangan hidup, masalah jodoh, masalah dikenalin, masalah dipertemukan.., dan lain sebagainya..

Setelah kegagalan demi kegagalanku dalam menjalin hubungan dengan beberapa lelaki yang sudah pernah dipertemukan atau diperkenalkan padaku beberapa waktu yang lalu, mengakibatkanku tak bersemangat lagi dalam hal ini karena aku tak mau lagi menelan pil pahit kekecewaan.

Sebelum tidur kupanjatkan doa kepada Allah Swt agar aku diberi-Nya jodoh dan kehidupan yang terbaik, dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Bersambung –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.