Keajaiban Pesan-pesan Papi rahimahullah

Standar

Ketika pulang ke rumah orang tua di Magelang, aku suka membuka-buka buku koleksi Papi rahimahullah seperti dulu ketika masih tinggal bersama mereka. Karena koleksi bukunya sangat lengkap dan berkualitas.

Secara tak sengaja aku menemukan sebuah buku yang bersampul kertas tipis dengan gambar penari balet. Karena penasaran, aku mengambil dan membuka buku itu. Semula kusangka itu buku resep masakan milik Mami. Karena aku tahu Mami selalu rapi dalam menyimpan bukunya.

Tapi ternyata itu buku psikologi/motivasi dengan ejaan lama yang berjudul “Bagaimana Melenjapkan Tjemas dan Menikmati Hidup” (ditulis oleh Dale Carnegie). Sebuah buku untuk membantu mengatasi kecemasan yang masih cocok dibaca hingga sekarang.

Tapi ada yang menarik perhatianku di buku itu. Ada sebuah pesan yang ditulis rapi dengan ejaan lama oleh Papi rahimahullah dan ditujukan untuk Mami di halaman paling awal dari buku itu, sebagai berikut: “Buku jang berguna tidak akan berguna bila tidak dibatja dan diturut isinya.”

Pesan Papi rahimahullah itu membuatku merenung. Yah, benar juga sih ya… Sebab sebanyak apa pun buku yang kita beli, tapi kalau tidak pernah dibaca dan hanya dijadikan koleksi saja, isi buku tersebut ya tak akan pernah kita ketahui.

Sedangkan bila sudah dibaca saja namun pesan-pesan positif, tips atau ilmu di dalamnya tak kita praktikkan, ya sangat disayangkan. Karena tujuan kita membaca buku adalah untuk mempelajari isinya, lalu mengamalkannya sesuai petunjuk di dalamnya.

Itu baru sebuah pesan saja yang kutemukan di buku Papi rahimahullah. Sebetulnya masih banyak pesan beliau yang penuh hikmah dan pernah disampaikan secara langsung kepada kami para anak dan cucunya semasa beliau masih hidup.

Bagi yang tidak mengenal Papi rahimahullah lebih dekat, pasti akan menganggap beliau mempunyai pribadi yang unik. Sebab bila dilihat penampilannya sehari-hari, Papi rahimahullah sangat low profile. Kalau mau pergi ke mana-mana lebih suka naik sepeda atau becak.

Papi rahimahullah juga suka membawa sisir rambut di saku bajunya. Barang lain yang tak pernah beliau lupakan adalah buku. Di mana pun dan kapan pun berada, buku tak pernah ketinggalan dibawanya. Sebab beliau sangat gemar membaca buku.
Di rumahnya ada beberapa lemari buku yang sudah penuh dengan buku-buku bacaannya. Semuanya buku-buku pilihan dan berkualitas. Ada buku tentang sejarah, agama, psikologi, novel, politik, kesehatan, geografi dan lain-lain. Dan tentu saja semuanya menarik untuk dibaca.

Maka sejak SD aku paling senang ‘ngoprek‘ lemari bukunya. Sebab nanti ada saja ilmu atau informasi baru yang bisa kuperoleh dari buku-bukunya itu. Kalau ada yang tak kupahami dari buku yang kubaca, biasanya aku langsung menanyakan padanya.

Aku sangat merindukan masa-masa seperti itu bersama Papi rahimahullah. Di mana aku bisa curhat, konsultasi dan bertanya banyak hal kepadanya. Bahkan banyak terjadi perubahan yang positif pada diriku bila aku sering dekat bersamanya.

Dulu aku adalah gadis remaja yang sangat pemalu, kurang percaya diri, gampang gugup, dan tidak memiliki kemampuan yang bisa kubanggakan. Kulitku paling kusam di antara dua saudara kandungku. Wajahku biasa saja. Aku juga kurang terampil berdagang, sehingga tidak bisa banyak membantu Mami di Pasar. Kemampuan akademikku juga kurang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas.

Ketika aku merasakan semua kekuranganku itu kadang aku hanya bisa menyendiri dan menangis sedih. Tapi kadang aku juga marah dan meluapkan emosiku dengan membanting benda yang tak mudah pecah.

Nah, pada saat itulah Papi rahimahullah akan mendekatiku. Beliau biasanya langsung menghibur dan menasihatiku dengan lembut.

Beberapa pesan beliau yang sampai sekarang masih kuingat dan selalu menjadi motivasi dalam hidupku adalah sebagai berikut:

1. Katanya mau sabar seperti Papi (beliau ucapkan ketika aku sedang marah-marah dan meluapkan emosiku). Papi rahimahullah adalah sosok ayah dan suami yang luar biasa sabar dalam menghadapi berbagai persoalan. Baik rumah tangga maupun pekerjaan. Ketika melihat kesabarannya, aku pernah berkata kepadanya, “Papi kok bisa sabar banget sih…. Saya juga pengin bisa sabar seperti Papi.”

Nah, sejak itulah bila aku sedang emosi, Papi selalu mengatakan hal itu.

2. Nggeguyu? Tak oyak…! (artinya: Menertawakanku? Aku akan kejar kamu..! Beliau sampaikan kata-kata itu padaku ketika aku curhat bahwa ada teman /orang yang menertawakan kekuranganku).

Beliau memotivasiku agar jangan minder saat ada yang menertawakan dan meremehkan kekurangan kita. Balas ejekannya dengan ‘mengejar’ kelebihan mereka. Caranya dengan memperbaiki kekurangan yang ada serta memaksimalkan kemampuan kita. Lalu buktikan bahwa kita bisa lebih baik darinya.

3. Jangan menangis bila dihina. (beliau sampaikan hal itu ketika aku menangis sedih karena ada yang menghina). Beliau menghiburku agar jangan terlarut dalam kesedihan setiap kali ada yang menghina. Aku harus tegar.

4. Cepat bangun bila jatuh. (beliau sampaikan hal itu ketika aku mengalami kegagalan. Tujuannya supaya aku tidak mudah menyerah atau berputus asa, melainkan mau bangkit lagi dan bersemangat untuk berusaha kembali.

Semua pesan Papi rahimahullah tersebut telah terbukti ampuh karena aku telah merasakan sendiri beberapa ‘keajaiban’ setelah melaksanakan pesan-pesan beliau.

Di antara ‘keajaiban’ yang telah kurasakan adalah sebagai berikut:

1. Dulu aku cenderung agak emosional ketika menghadapi suatu masalah. Setelah melaksanakan pesan Papi, aku menjadi lebih tenang dan sabar.

2. Ketika kelas 4 SD aku pernah tidak naik kelas. Setelah kulaksanakan pesan beliau, bisa dikatakan aku hampir selalu meraih rangking 1 saat sekolah di pesantren, padahal ketika baru masuk di sana, termasuk kelompok yang masih belum menguasai pelajaran.

3. Dulu aku tidak bisa mengemudikan motor sama sekali karena gugup. Apalagi mengemudikan mobil. Setelah kulaksanakan pesan beliau, sekarang aku mahir mengemudikan mobil.

4. Dulu aku tidak terampil berdagang. Setelah melaksanakan pesan beliau, aku jadi lebih percaya diri dan bisa berdagang. Bahkan pernah mencapai Top Leader dalam penjualan NutriLemon.

Alhamdulillah, semua pencapaian itu tentu saja atas izin dan pertolongan Allah Swt.

Ternyata tak hanya aku yang telah merasakan suatu perubahan yang positif setelah melaksanakan pesan Papi rahimahullah. Cucunya pun ikut merasakan pengaruh positifnya.

Seperti yang telah dirasakan sendiri oleh Laura, keponakanku dan cucu perempuan beliau. Dulu saat Laura masih bersekolah di Magelang, ia sering merasa kurang bisa memahami pelajaran di sekolah. Terutama sejak beliau sudah berpulang ke hadirat-Nya.

Akibatnya Laura sering diejek dan diremehkan teman-temannya. Dulu Laura juga sering diremehkan karena dianggap tidak bisa naik sepeda dan bermain badminton.

Untuk menghibur dan memotivasinya, aku sering menyampaikan pesan-pesan dari Papi rahimahullah tadi kepada Laura. Sehingga Laura menjadi lebih bersemangat belajar dan lebih percaya diri.

Alhamdulillah, setelah Laura melaksanakan pesan beliau, perlahan tapi pasti Laura mulai meraih prestasi di sekolahnya. Dari menjadi juara Rangking 1 saat ada lomba memperingati kemerdekaan RI di sekolahnya, mewakili sekolahnya saat ada olimpiade Biologi, meraih peringkat pertama di kelasnya, sudah mahir naik sepeda dan mulai bisa bermain badminton.

Jazakallah khairan katsira Papi atas semua pesan dan nasihatnya yang luar biasa kepada kami anak dan cucunya.

Semoga semua pesan dan nasihat Papi yang telah membawa perubahan positif tersebut menjadi amal jariyah yang bisa memberatkan timbangan amal baik dan bisa menghapus dosa Papi di akhirat.

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.