Monthly Archives: Desember 2019

Asyiknya ‘Nuthuki Godhong’ dan ‘Nyeruput Jamu’ di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta

Standar

Haduhh…, kok bisa begini ya??” Pak driver mobil shuttle yang kutumpangi bersama Laura itu mulai menggerutu. Wajahnya tampak bingung dan kesal.

Tapi memang mengherankan sih… Baru kali ini juga aku mengalami hal semacam itu. Bayangkan, sampai SPBU kelima yang sudah didatangi, belum ada setetes pun solar yang berhasil dibeli. Semua SPBU tersebut kosong persediaan solarnya.

Mau tak mau mobil shuttle yang kami tumpangi ini jadi harus keluar tol lagi karena solar pada SPBU di sekitar rest area juga kosong semua. Sebab persediaan solar di mobil ini sudah semakin menipis.

Untuk mencegah mobil shuttle-nya mogok di tengah jalan gara-gara kehabisan solar, Pak driver pun beriniasiatif membeli dexlite secukupnya saja di sebuah SPBU yang ditemukan setelah keluar dari tol. Sebelumnya ia sudah meminta izin ke kantor shuttle-nya melalui telepon, mengingat harga dexlite dua kali lipat lebih mahal daripada harga solar.

Syukurlah, sementara ini kami menjadi lebih tenang, karena mobil shuttle sudah cukup terisi dexlite sehingga bisa mencapai daerah Jawa Tengah. Ketika melewati sebuah rest area, Pak driver-nya mampir lagi ke SPBU untuk mengisi solar.

Alhamdulillah, akhirnya kami benar-benar sudah berhasil mendapatkan solar. Meskipun harus menunggu selama beberapa saat karena sedang ada pengisian BBM di SPBU tersebut dari mobil tangki, hati kami sudah lega.

*****

Perjalanan dengan shuttle ini bermula dari keinginan Laura untuk pulang ke Magelang. Mungkin keponakanku yang kini tinggal bersamaku di Cirebon itu sudah kangen dengan Emak (nenek) dan koko-nya setelah lima bulan berpisah.

Tentu tak menjadi masalah bila aku harus mengantarnya ke Magelang. Malahan ini menjadi kesempatan baikku untuk bisa sekalian berkunjung ke rumah Mami. Sebab sudah lima bulan ini sejak Laura tinggal di Cirebon aku belum sempat menjenguk Mami. Biasanya paling tidak dua bulan sekali aku pulang ke Magelang.

Selain itu kebetulan pada hari Minggu tanggal 17 November ini sedang ada acara WorkshopHappy Pounding with Ecoprint” di Pendopo Agung Royal Ambarukmo Hotel, Yogyakarta. Aku sudah mendaftar sebagai peserta acara ini untuk dua orang (aku dan Laura).

Sebelumnya aku sempat bimbang mau naik kereta atau shuttle? Tapi akhirnya kuputuskan memesan Surya Shuttle saja, karena kebetulan pool di Cirebon-nya dekat dengan rumah kami (Jalan Evakuasi) dan pool terakhirnya di Yogyakarta dekat dengan lokasi Workshop (dekat Bandara Adi Sucipto). Sedangkan untuk pulang ke Magelang setelah selesai acara Workshop aku sudah memesan tiket bus Joglosemar jurusan Magelang.

Mungkin karena masih baru beroperasi shuttle ini masih sedikit penumpangnya. Padahal harganya masih harga promo. Seperti ketika berangkat ini penumpangnya hanya dua orang, yaitu aku dan Laura saja. Jadi serasa naik mobil pribadi. Kata adminnya, meskipun hanya satu penumpang pun shuttle tetap berangkat. Wow! Semoga saja semakin laris ya… Aamiin

*****

Gara-gara kesulitan mencari solar di saat awal berangkat tadi, perjalanan kami jadi terlambat hampir dua jam lamanya (seharusnya berangkat dari Cirebon jam 07.00). Semula kami sempat khawatir akan terlambat tiba di Yogyakarta dan terlambat juga acara Workshop-nya. Tapi alhamdulillah sekitar satu setengah jam sebelum acara Workshop dimulai kami sudah tiba di pool Yogyakarta.

Setelah menumpang shalat di sana, aku langsung memesan taksi online. Tak lama kemudian taksi online sudah tiba di depan kantor pool shuttle. Kami bergegas naik taksi online tersebut menuju ke Plaza Ambarrukmo yang masih satu komplek dengan Hotel Ambarrukmo. Rencananya kami mau mengisi perut sebentar di sana.

Hanya dalam beberapa menit kami sudah tiba di lokasi. Kami langsung ke Food Area untuk makan siang. Suasana mall tersebut ramai sekali. Mungkin karena hari Minggu dan sedang ada event lomba tari tradisional di lantai dasar. Suasana ‘njawani‘ begitu terasa ketika suara gamelan terdengar dari pertunjukan tari tradisional tersebut.

Setengah jam sebelum acara Workshop dimulai kami sudah tiba di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Hotel. Suasana masih sepi.

Melihat bangunan hotel Ambarrukmo, membuatku teringat suatu kenangan manis masa kecil ketika bersama orang tua dan kedua adikku saat dulu berkunjung ke hotel ini.

Hotel Ambarrukmo ini memang sudah lama berdiri. Waktu itu kami pernah mampir ke cafe-nya. Yang sampai sekarang tak terlupakan dari cafe-nya adalah rasa minuman hot chocolate-nya yang lezat. Maka sampai sekarang hot chocolate menjadi salah satu minuman favorit-ku, meskipun belum pernah kutemukan lagi hot chocolate yang selezat di cafe tersebut.

*****

Aku kembali tersadar dari memori masa kecilku ketika melihat seorang wanita yang tampaknya pernah kukenal di Facebook baru saja datang. Yup, itu kan Mbak Etyastari Suharto, teman FB-ku yang tak hanya berprofesi sebagai penulis, namun kini juga mempunyai kegiatan baru di bidang Ecoprint. Kami langsung bersalaman. Rasanya senang bisa kopdar dengan Mbak Ety.

Sambil menunggu peserta lain hadir, aku mengajak Laura melihat-lihat pameran jamu yang diadakan dalam event ini juga. Kulihat beberapa stand jamu di halaman depan pendopo agung. Tapi ada sebuah stand jamu yang menarik perhatianku, yaitu stand “Acaraki”.

Yang menarik dari stand ini adalah tampilan, cara pengolahan hingga cara penyajian jamu tradisionalnya yang seperti sebuah cafe. Para barista-nya juga anak-anak muda dengan penampilan kekinian.

Ternyata Acaraki Jamu Cafe ini pusatnya di Jakarta, tepatnya di Gedung Kerta Niaga 3, Kota Tua, Jakarta. Cabangnya juga belum banyak. Baru ada di daerah Kemang Jakarta.

Terlihat cukup banyak juga pengunjung yang ingin membeli jamunya sampai mengantre. Aku juga memesan jamu beras kencur. Karena antrean masih lama, akhirnya pesananku nanti akan diantar saja ke tempat acara. Mengingat acara Workshop juga sudah akan dimulai.

*****

Dan benar, ketika aku dan Laura kembali ke pendopo agung, acara sudah hampir dimulai. Sudah banyak peserta yang hadir. Beberapa lembar kain dan kaos hasil Ecoprint bercorak dedaunan asli diperlihatkan kepada para peserta. Hasilnya memang menjadi lebih menarik, orisinil, khas dan alami.

Lalu Mbak Ety mulai menjelaskan tentang pengertian Ecoprint (yaitu salah satu seni olah kain dengan memanfaatkan berbagai tetumbuhan yang bisa mengeluarkan warna aslinya), teknik Ecoprint sederhananya (meliputi teknik pounding, steaming, rust dye), penjelasan detail teknik pounding (dengan cara nuthuki godhong di atas kain), jenis daun dan bunga yang bisa digunakan, proses persiapan kain (mordanting), hingga proses fiksasi (agar warna cap daunnya tak pudar).

Semua peserta menyimak penjelasan Mbak Ety dengan antusias. Sebab teknik Ecoprint ini memang unik dan hasilnya menarik. Bahkan kain hasil Ecoprint bisa dijual dengan harga yang tinggi karena produknya homemade dan limited edition.

Selagi asyik menyimak, tiba-tiba ada yang mengantarkan 1 cup jamu untukku. Oh iya… Aku baru ingat, tadi aku kan pesan jamu di stand Acaraki Jamu Cafe. Kuseruput pelan-pelan jamu beras kencur yang segar itu sambil kembali menyimak materi.

Belum habis kuminum jamu beras kencurnya, panitia yang bekerjasama dengan sponsor sudah membagikan beberapa cup jamu dari produk Antangin kepada semua peserta.

Jamu yang dibagikan ini semacam teh yang mengandung racikan jahe dan beberapa rempah lain. Bagiku yang termasuk penggemar jamu, ya tentu saja ini menyenangkan. Seketika badan pun terasa lebih segar. Wah, jadi makin terasa deh suasana tradisionalnya kota Yogyakarta.

Setelah materi selesai disampaikan, tibalah saatnya untuk praktek membuat Ecoprint di atas kain dengan teknik pounding (nuthuki godhong). Panitia membagikan kain putih yang seukuran sapu tangan, plastik untuk alas saat nuthuki godhong di atas kain, palu kayu, serta dedaunan.

Peserta mulai menyebar di sekitar halaman pendopo agung untuk mempraktekkan teknik pounding di atas kain yang telah dibagikan tadi. Kegiatan ini tidak dilakukan di dalam pendopo agung untuk mencegah rusaknya ubin akibat ketukan palu yang bertubi.

Mbak Ety juga memperagakan secara langsung bagaimana cara nuthuki godhong yang benar. Untuk menghindari kain menjadi sobek, pada lapisan terakhirnya ditambahkan alas kain yang telah dibawa dari rumah (telah diinstruksikan sebelumnya). Selain itu nuthuki godhong-nya juga jangan terlalu keras dan harus merata. Supaya hasilnya lebih bagus dan natural.

Rupanya keasyikan nuthuki godhong ini membuatku hampir lupa waktu. Padahal jam 17.45 aku harus sudah tiba di pool bus Joglosemar. Sebab jam 18.00 busnya sudah berangkat ke Magelang. Jadi setidaknya jam 16.45 aku harus sudah meninggalkan lokasi Workshop ini. Apalagi bertepatan hari Minggu. Sedangkan saat weekend di Yogyakarta jalanan sangat ramai, sehingga bisa dipastikan banyak terjadi kemacetan.

Sembari menyelesaikan pounding, aku memesan taksi online. Selagi asyik-asyiknya, tiba-tiba ada telepon masuk. Wah dari driver taksi online. Ternyata ia sudah menunggu di area parkir hotel Ambarrukmo. Padahal tugasku sedikit lagi selesai. Tapi apa boleh buat aku harus bergegas meninggalkan tempat karena driver-nya sudah menelpon lagi.

Aku dan Laura segera membereskan peralatan pounding dan mengembalikan ke panitia. Sedangkan kain hasil pounding boleh kami bawa pulang. Sebelum pulang kusempatkan berfoto bersama Mbak Ety, mumpung bisa kopdar dan menimba ilmu darinya. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, kami mengambil tas dan langsung berlari menuju ke tempat taksi online menunggu.

*****

Fiuhhh…, kami bernafas lega saat masuk ke taksi online tersebut. Driver-nya seorang wanita berkerudung dengan penampilan yang rapi. Dalam sekejap kami sudah meninggalkan hotel Ambarrukmo. Jalanan ramai lancar. Sehingga kami bisa mencapai tujuan lebih cepat dari yang kami perkirakan. Alhamdulillah

Baru kali ini aku masuk ke pool Joglosemar ini. Cukup luas juga ruang tunggunya. Ada fasilitas snack dan air minum seperti air putih, teh dan kopi untuk penumpang yang menunggu bus/shuttle. Aku langsung menunjukkan tiket yang sudah kubeli melalui WA. Setelah diperiksa oleh petugas, kami diminta duduk menunggu bus yang sebentar lagi akan berangkat.

Sekitar jam 18.00 lebih sedikit petugas di pool tersebut mengumumkan bahwa para penumpang yang tujuan akhirnya Magelang agar segera masuk ke dalam bus karena sebentar lagi akan berangkat. Aku dan Laura juga bergegas masuk ke dalam bus. Entah mengapa ya, setiap kali naik bus aku selalu teringat masa-masa kecil bersama orang tua.

Hari sudah mulai gelap ketika bus berangkat. Mata kami pun sudah mulai terasa mengantuk. Lalu ada petugas yang membagikan snack box berisi roti manis dan air mineral kepada semua penumpang. Lumayanlah bisa membantu menghilangkan rasa kantuk dan haus.

Menjelang jam 8 malam bus sudah mulai memasuki kota Magelang. Saat bus berhenti di hotel Catur, kami langsung turun karena adikku akan menjemput di sana. Setelah membeli sayur matang di RM Es Enny untuk makan malam, kami langsung meluncur pulang ke rumah Mami.

Ketika sampai di rumah, baik Mami maupun Kevin terkejut melihat kehadiran kami. Mereka tak mengira kami akan datang ke Magelang. Apalagi malam-malam begini. Kami memang sengaja tak memberi kabar akan pulang ke Magelang karena ingin memberi kejutan kepada mereka. Dan hasilnya mereka pun benar-benar terkejut, tapi senang karena akhirnya kami bisa berjumpa lagi.

Malam hari sebelum tidur kami sempatkan mengobrol dengan Mami sambil bermain dengan kucing-kucing yang sudah beranak pinak. Meskipun di awal perjalanan hari ini sempat mendebarkan, namun berakhir melegakan. Alhamdulillah

Last Minutes

Standar

Minggu pertama di bulan Desember ini ada tiga kejadian yang dialami putriku yang sempat membuat hatiku jadi ikut panik dan deg-degan.

Kejadian pertama:

Waktu hari Senin kemarin, Salma menceritakan bahwa ada salah seorang teman kerja kelompoknya yang tiba-tiba ‘menghilang’ dan susah dihubungi. Padahal deadline pengumpulan tubes (tugas besar) harus malam itu juga. Sebetulnya tugas dari para anggota kelompoknya (sesuai pembagian tugasnya) termasuk tugas Salma sendiri juga sudah kelar. Tinggal menunggu satu tugas lagi yang harus diselesaikan oleh seorang temannya itu saja.

Saking paniknya, sore itu Salma sampai meneleponku untuk meminta saran. Sebab bila tugas tersebut tidak terselesaikan, Salma dan teman-teman kelompoknya terancam harus mengulang lagi untuk menyelesaikan tugas baru.

Meskipun ikut panik, namun aku mencoba menenangkan hati Salma. Kusarankan untuk mencoba menghubungi teman Salma lain yang bisa menggantikan temannya yang ‘menghilang’ tadi. Lalu Salma pun mencoba menghubungi beberapa teman yang diperkirakan bisa membantunya menggantikan temannya tersebut. Tapi qadarallah mereka malah susah dihubungi.

Ada yang sudah berhasil dihubungi, tapi sinyal hape-nya sedang tidak bersahabat sehingga komunikasi terputus-putus. Ada juga yang sudah terhubung, tapi ia sedang sibuk belajar untuk persiapan UAS. Sehingga Salma tak mau mengganggunya.

Waduh… Jadi gimana ya… Sementara waktu deadline semakin dekat. Bila dikerjakan sendiri juga sudah tidak memungkinkan lagi karena tugas yang harus dikerjakan cukup banyak dan waktunya sangat singkat. Aku bisa merasakan kepanikan tersebut seperti waktu kemarin dikejar deadline dua proyek menulis dalam waktu yang hampir bersamaan. Tapi tentu tugas Salma ini jauh lebih berat dan sulit.

Salma akhirnya hanya bisa pasrah saja sambil berdoa. Aku juga hanya bisa membantunya melalui doa agar Salma mendapatkan solusi dari masalahnya tersebut.

Sampai menjelang jam 19.00 malam alhamdulillah ada kabar yang melegakan hati. Kata Salma, teman yang tadi ‘menghilang’ itu akhirnya sudah bisa dihubungi dan ternyata tugasnya sudah hampir selesai. Jadi mungkin tadi ia susah dihubungi karena sedang fokus mengerjakan tugas tersebut agar bisa selesai sebelum deadline.

Keesokan harinya kucoba menghubungi Salma lagi dan menanyakan bagaimana kabar tugas kelompoknya? Alhamdulillah, aku ikut senang dan lega saat mendengar kabar bahwa di last minutes sebelum deadline kemarin, akhirnya semua tugas bisa terselesaikan dengan baik.

Kejadian kedua dan ketiga:

Hari Rabunya Salma sudah mulai Ujian Akhir Semester (hari pertama UAS). Sama seperti ibu yang lain, aku juga senantiasa mendoakannya agar diberi kemudahan dan kesuksesan dalam ujian. Dan yang tak henti kupinta dari Allah Swt. adalah Salma selalu diberi kesehatan dan perlindungan-Nya.

Kadangkala sempat terlintas rasa khawatir juga terhadap kesehatan Salma yang beberapa hari ini sering tidur larut malam untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun

Apalagi setelah mendengar berita duka dari seorang mahasiswa ITB yang meninggal dunia karena kesehatannya berangsur memburuk sejak ia menyelesaikan skripsinya nonstop selama 7 hari 7 malam. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Harus diakui kuliah di ITB itu berat. Bahkan ada yang bilang masuknya sulit, keluarnya lebih sulit lagi. Tapi di situlah nilai perjuangannya. Yang penting jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Semoga musibah ini jangan terjadi lagi. Aamiin

Sumber: https://www.instagram.com/p/BiI3PtxhLgC/?igshid=n3gb3me5kwm6

Hari Rabu sorenya, aku mencoba menelepon Salma, menanyakan bagaimana UAS hari pertama ini?

Alhamdulillah, bisa Ma… ,” jawab Salma dengan ceria.

Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya.

Lalu Salma melanjutkan ceritanya.

“Tadi pas pulang kuliah saya kehujanan Ma…”

Hmmm, sekarang di beberapa kota termasuk Bandung memang sudah sering turun hujan.

“Tapi tadi saya hampir saja mengalami kecelakaan lho Ma. Alhamdulillah saya selamat dan masih hidup. ”

“Ya Allah…! Aku terkejut sekaligus merasa tercekam mendengarnya.

“Di mana Salma? Gimana kejadiannya?” Aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan karena merasa cemas.

“Di depan kampus Ma. Pas saya menyeberang jalan. Padahal situasi jalan saat itu sudah aman untuk menyeberang. Di sebelah kiri jalan saya lihat ada beberapa mahasiswa yang sedang menyeberang jalan. Dan di sebelah kanan jalan, saya lihat kendaraan-kendaraan sudah berhenti memberi kesempatan para mahasiwa menyeberang jalan terlebih dahulu.”

“Terus bagaimana Salma?”

“Nah, pas saya menyeberang itulah… Tiba-tiba dari arah kanan jalan ada motor yang menyelonong dan hampiiir saja menabrak saya. Alhamdulillah saya masih selamat.”

Lalu Salma melanjutkan ceritanya lagi.

“Beberapa hari sebelumnya saya juga pernah hampir mengalami kecelakaan lagi Ma… Waktu itu saya lagi naik ojek online. Saat di tikungan jalan, dari arah yang berlawanan ada mobil yang meluncur cepat dan hampir saja menabrak motor ojek online yang saya tumpangi tadi. Fiuuuuh… Nyaris banget Ma. Alhamdulillah nggak kena.”

Mendengar cerita Salma yang menegangkan itu aku langsung menghela nafas lega. Kalau Salma berada di sampingku pasti sudah kupeluk erat-erat karena bersyukur atas keselamatannya.

Alhamdulillah Allah masih melindungi Salma. Jangan lupa selalu baca doa ya Salma. ” Aku mengingatkannya.

“Iya Ma, saya pas mau berangkat juga baca doa sebelum keluar rumah.”

Sumber: rumaysho.com

Aku senang mendengarnya.

Nah, biasakan terus membaca doa ya Salma. Supaya Salma selalu dalam kondisi aman dan dalam penjagaan-Nya, kapan pun dan di mana pun berada.”

*****

Kalau kuperhatikan, ketiga pengalaman mendebarkan putriku itu penentuannya sama-sama di last minutes.

1. Tugas kelompok Salma bersama timnya, “Apakah bisa selesai sebelum deadline atau bakal mengulang?” Penentuannya ada di last minutes ketika Salma sudah pasrah dan deadline sudah di depan mata. Pada saat itulah ada kabar yang melegakan hati dari teman sekelompoknya yang semula susah dihubungi. –> Akhirnya TUGAS SELESAI.

2. Kondisi Salma saat menyeberang jalan “Apakah tertabrak motor/tidak?” Penentuannya ada di last minutes ketika dengan spontan Salma menghentikan langkah kakinya dan pengendara motor mengerem motornya. –> SALMA SELAMAT.

3. Kondisi Salma saat naik ojek online “Apakah ojek online-nya bertabrakan dengan mobil/tidak?” Penentuannya ada di last minutes ketika ojek online dan mobil sama-sama mampu menghindari tabrakan. –> SALMA SELAMAT.

Jadi, di balik penentuan kondisi atau nasib seseorang hingga last minutes, ada suatu kekuatan besar yang mampu menolong, melindungi dan menjaga dari masalah atau musibah atas izin-Nya. Yaitu berkat kekuatan doa.

Oleh karena itu sebaiknya kita membiasakan berdoa, kapan pun dan di mana pun. Tak cukup hanya ketika sesudah shalat. Juga jangan hanya ketika ada tes membaca doa di pelajaran agama.

Karena ada banyak keajaiban dari doa. Dengan doa… Sesuatu yang sulit menjadi mudah. Yang terhimpit masalah menjadi terlepas dari masalahnya. Yang diharapkan menjadi terkabul. Selain itu bisa menghindarkan kita dari musibah.

Namun kadang kita harus bersabar menanti terkabulnya sebuah doa. Sebab ada kalanya Allah Swt. menunda terkabulnya doa karena Allah Maha Tahu ada masa terbaiknya untuk kita nanti atau menggantinya dengan yang lebih baik, atau disimpan-Nya sebagai pahala kita di akhirat.

Teruslah berdoa, berikhtiar dan bertawakkal. Sebab Allah Swt. senang ketika hamba-Nya berdoa.

Sumber: https://bintangpratamasite.wordpress.com/2017/11/03/allah-mengabulkan-doa-hamba-nya-kajian-al-baqarah-186/amp/