Author Archives: IrmaFang

About IrmaFang

- Sederhana, menyukai kejujuran, ketenangan dan kedamaian... - Punya impian bisa travelling keliling dunia bersama keluarga... :D

Asyiknya ‘Nuthuki Godhong’ dan ‘Nyeruput Jamu’ di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta

Standar

Haduhh…, kok bisa begini ya??” Pak driver mobil shuttle yang kutumpangi bersama Laura itu mulai menggerutu. Wajahnya tampak bingung dan kesal.

Tapi memang mengherankan sih… Baru kali ini juga aku mengalami hal semacam itu. Bayangkan, sampai SPBU kelima yang sudah didatangi, belum ada setetes pun solar yang berhasil dibeli. Semua SPBU tersebut kosong persediaan solarnya.

Mau tak mau mobil shuttle yang kami tumpangi ini jadi harus keluar tol lagi karena solar pada SPBU di sekitar rest area juga kosong semua. Sebab persediaan solar di mobil ini sudah semakin menipis.

Untuk mencegah mobil shuttle-nya mogok di tengah jalan gara-gara kehabisan solar, Pak driver pun beriniasiatif membeli dexlite secukupnya saja di sebuah SPBU yang ditemukan setelah keluar dari tol. Sebelumnya ia sudah meminta izin ke kantor shuttle-nya melalui telepon, mengingat harga dexlite dua kali lipat lebih mahal daripada harga solar.

Syukurlah, sementara ini kami menjadi lebih tenang, karena mobil shuttle sudah cukup terisi dexlite sehingga bisa mencapai daerah Jawa Tengah. Ketika melewati sebuah rest area, Pak driver-nya mampir lagi ke SPBU untuk mengisi solar.

Alhamdulillah, akhirnya kami benar-benar sudah berhasil mendapatkan solar. Meskipun harus menunggu selama beberapa saat karena sedang ada pengisian BBM di SPBU tersebut dari mobil tangki, hati kami sudah lega.

*****

Perjalanan dengan shuttle ini bermula dari keinginan Laura untuk pulang ke Magelang. Mungkin keponakanku yang kini tinggal bersamaku di Cirebon itu sudah kangen dengan Emak (nenek) dan koko-nya setelah lima bulan berpisah.

Tentu tak menjadi masalah bila aku harus mengantarnya ke Magelang. Malahan ini menjadi kesempatan baikku untuk bisa sekalian berkunjung ke rumah Mami. Sebab sudah lima bulan ini sejak Laura tinggal di Cirebon aku belum sempat menjenguk Mami. Biasanya paling tidak dua bulan sekali aku pulang ke Magelang.

Selain itu kebetulan pada hari Minggu tanggal 17 November ini sedang ada acara WorkshopHappy Pounding with Ecoprint” di Pendopo Agung Royal Ambarukmo Hotel, Yogyakarta. Aku sudah mendaftar sebagai peserta acara ini untuk dua orang (aku dan Laura).

Sebelumnya aku sempat bimbang mau naik kereta atau shuttle? Tapi akhirnya kuputuskan memesan Surya Shuttle saja, karena kebetulan pool di Cirebon-nya dekat dengan rumah kami (Jalan Evakuasi) dan pool terakhirnya di Yogyakarta dekat dengan lokasi Workshop (dekat Bandara Adi Sucipto). Sedangkan untuk pulang ke Magelang setelah selesai acara Workshop aku sudah memesan tiket bus Joglosemar jurusan Magelang.

Mungkin karena masih baru beroperasi shuttle ini masih sedikit penumpangnya. Padahal harganya masih harga promo. Seperti ketika berangkat ini penumpangnya hanya dua orang, yaitu aku dan Laura saja. Jadi serasa naik mobil pribadi. Kata adminnya, meskipun hanya satu penumpang pun shuttle tetap berangkat. Wow! Semoga saja semakin laris ya… Aamiin

*****

Gara-gara kesulitan mencari solar di saat awal berangkat tadi, perjalanan kami jadi terlambat hampir dua jam lamanya (seharusnya berangkat dari Cirebon jam 07.00). Semula kami sempat khawatir akan terlambat tiba di Yogyakarta dan terlambat juga acara Workshop-nya. Tapi alhamdulillah sekitar satu setengah jam sebelum acara Workshop dimulai kami sudah tiba di pool Yogyakarta.

Setelah menumpang shalat di sana, aku langsung memesan taksi online. Tak lama kemudian taksi online sudah tiba di depan kantor pool shuttle. Kami bergegas naik taksi online tersebut menuju ke Plaza Ambarrukmo yang masih satu komplek dengan Hotel Ambarrukmo. Rencananya kami mau mengisi perut sebentar di sana.

Hanya dalam beberapa menit kami sudah tiba di lokasi. Kami langsung ke Food Area untuk makan siang. Suasana mall tersebut ramai sekali. Mungkin karena hari Minggu dan sedang ada event lomba tari tradisional di lantai dasar. Suasana ‘njawani‘ begitu terasa ketika suara gamelan terdengar dari pertunjukan tari tradisional tersebut.

Setengah jam sebelum acara Workshop dimulai kami sudah tiba di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Hotel. Suasana masih sepi.

Melihat bangunan hotel Ambarrukmo, membuatku teringat suatu kenangan manis masa kecil ketika bersama orang tua dan kedua adikku saat dulu berkunjung ke hotel ini.

Hotel Ambarrukmo ini memang sudah lama berdiri. Waktu itu kami pernah mampir ke cafe-nya. Yang sampai sekarang tak terlupakan dari cafe-nya adalah rasa minuman hot chocolate-nya yang lezat. Maka sampai sekarang hot chocolate menjadi salah satu minuman favorit-ku, meskipun belum pernah kutemukan lagi hot chocolate yang selezat di cafe tersebut.

*****

Aku kembali tersadar dari memori masa kecilku ketika melihat seorang wanita yang tampaknya pernah kukenal di Facebook baru saja datang. Yup, itu kan Mbak Etyastari Suharto, teman FB-ku yang tak hanya berprofesi sebagai penulis, namun kini juga mempunyai kegiatan baru di bidang Ecoprint. Kami langsung bersalaman. Rasanya senang bisa kopdar dengan Mbak Ety.

Sambil menunggu peserta lain hadir, aku mengajak Laura melihat-lihat pameran jamu yang diadakan dalam event ini juga. Kulihat beberapa stand jamu di halaman depan pendopo agung. Tapi ada sebuah stand jamu yang menarik perhatianku, yaitu stand “Acaraki”.

Yang menarik dari stand ini adalah tampilan, cara pengolahan hingga cara penyajian jamu tradisionalnya yang seperti sebuah cafe. Para barista-nya juga anak-anak muda dengan penampilan kekinian.

Ternyata Acaraki Jamu Cafe ini pusatnya di Jakarta, tepatnya di Gedung Kerta Niaga 3, Kota Tua, Jakarta. Cabangnya juga belum banyak. Baru ada di daerah Kemang Jakarta.

Terlihat cukup banyak juga pengunjung yang ingin membeli jamunya sampai mengantre. Aku juga memesan jamu beras kencur. Karena antrean masih lama, akhirnya pesananku nanti akan diantar saja ke tempat acara. Mengingat acara Workshop juga sudah akan dimulai.

*****

Dan benar, ketika aku dan Laura kembali ke pendopo agung, acara sudah hampir dimulai. Sudah banyak peserta yang hadir. Beberapa lembar kain dan kaos hasil Ecoprint bercorak dedaunan asli diperlihatkan kepada para peserta. Hasilnya memang menjadi lebih menarik, orisinil, khas dan alami.

Lalu Mbak Ety mulai menjelaskan tentang pengertian Ecoprint (yaitu salah satu seni olah kain dengan memanfaatkan berbagai tetumbuhan yang bisa mengeluarkan warna aslinya), teknik Ecoprint sederhananya (meliputi teknik pounding, steaming, rust dye), penjelasan detail teknik pounding (dengan cara nuthuki godhong di atas kain), jenis daun dan bunga yang bisa digunakan, proses persiapan kain (mordanting), hingga proses fiksasi (agar warna cap daunnya tak pudar).

Semua peserta menyimak penjelasan Mbak Ety dengan antusias. Sebab teknik Ecoprint ini memang unik dan hasilnya menarik. Bahkan kain hasil Ecoprint bisa dijual dengan harga yang tinggi karena produknya homemade dan limited edition.

Selagi asyik menyimak, tiba-tiba ada yang mengantarkan 1 cup jamu untukku. Oh iya… Aku baru ingat, tadi aku kan pesan jamu di stand Acaraki Jamu Cafe. Kuseruput pelan-pelan jamu beras kencur yang segar itu sambil kembali menyimak materi.

Belum habis kuminum jamu beras kencurnya, panitia yang bekerjasama dengan sponsor sudah membagikan beberapa cup jamu dari produk Antangin kepada semua peserta.

Jamu yang dibagikan ini semacam teh yang mengandung racikan jahe dan beberapa rempah lain. Bagiku yang termasuk penggemar jamu, ya tentu saja ini menyenangkan. Seketika badan pun terasa lebih segar. Wah, jadi makin terasa deh suasana tradisionalnya kota Yogyakarta.

Setelah materi selesai disampaikan, tibalah saatnya untuk praktek membuat Ecoprint di atas kain dengan teknik pounding (nuthuki godhong). Panitia membagikan kain putih yang seukuran sapu tangan, plastik untuk alas saat nuthuki godhong di atas kain, palu kayu, serta dedaunan.

Peserta mulai menyebar di sekitar halaman pendopo agung untuk mempraktekkan teknik pounding di atas kain yang telah dibagikan tadi. Kegiatan ini tidak dilakukan di dalam pendopo agung untuk mencegah rusaknya ubin akibat ketukan palu yang bertubi.

Mbak Ety juga memperagakan secara langsung bagaimana cara nuthuki godhong yang benar. Untuk menghindari kain menjadi sobek, pada lapisan terakhirnya ditambahkan alas kain yang telah dibawa dari rumah (telah diinstruksikan sebelumnya). Selain itu nuthuki godhong-nya juga jangan terlalu keras dan harus merata. Supaya hasilnya lebih bagus dan natural.

Rupanya keasyikan nuthuki godhong ini membuatku hampir lupa waktu. Padahal jam 17.45 aku harus sudah tiba di pool bus Joglosemar. Sebab jam 18.00 busnya sudah berangkat ke Magelang. Jadi setidaknya jam 16.45 aku harus sudah meninggalkan lokasi Workshop ini. Apalagi bertepatan hari Minggu. Sedangkan saat weekend di Yogyakarta jalanan sangat ramai, sehingga bisa dipastikan banyak terjadi kemacetan.

Sembari menyelesaikan pounding, aku memesan taksi online. Selagi asyik-asyiknya, tiba-tiba ada telepon masuk. Wah dari driver taksi online. Ternyata ia sudah menunggu di area parkir hotel Ambarrukmo. Padahal tugasku sedikit lagi selesai. Tapi apa boleh buat aku harus bergegas meninggalkan tempat karena driver-nya sudah menelpon lagi.

Aku dan Laura segera membereskan peralatan pounding dan mengembalikan ke panitia. Sedangkan kain hasil pounding boleh kami bawa pulang. Sebelum pulang kusempatkan berfoto bersama Mbak Ety, mumpung bisa kopdar dan menimba ilmu darinya. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, kami mengambil tas dan langsung berlari menuju ke tempat taksi online menunggu.

*****

Fiuhhh…, kami bernafas lega saat masuk ke taksi online tersebut. Driver-nya seorang wanita berkerudung dengan penampilan yang rapi. Dalam sekejap kami sudah meninggalkan hotel Ambarrukmo. Jalanan ramai lancar. Sehingga kami bisa mencapai tujuan lebih cepat dari yang kami perkirakan. Alhamdulillah

Baru kali ini aku masuk ke pool Joglosemar ini. Cukup luas juga ruang tunggunya. Ada fasilitas snack dan air minum seperti air putih, teh dan kopi untuk penumpang yang menunggu bus/shuttle. Aku langsung menunjukkan tiket yang sudah kubeli melalui WA. Setelah diperiksa oleh petugas, kami diminta duduk menunggu bus yang sebentar lagi akan berangkat.

Sekitar jam 18.00 lebih sedikit petugas di pool tersebut mengumumkan bahwa para penumpang yang tujuan akhirnya Magelang agar segera masuk ke dalam bus karena sebentar lagi akan berangkat. Aku dan Laura juga bergegas masuk ke dalam bus. Entah mengapa ya, setiap kali naik bus aku selalu teringat masa-masa kecil bersama orang tua.

Hari sudah mulai gelap ketika bus berangkat. Mata kami pun sudah mulai terasa mengantuk. Lalu ada petugas yang membagikan snack box berisi roti manis dan air mineral kepada semua penumpang. Lumayanlah bisa membantu menghilangkan rasa kantuk dan haus.

Menjelang jam 8 malam bus sudah mulai memasuki kota Magelang. Saat bus berhenti di hotel Catur, kami langsung turun karena adikku akan menjemput di sana. Setelah membeli sayur matang di RM Es Enny untuk makan malam, kami langsung meluncur pulang ke rumah Mami.

Ketika sampai di rumah, baik Mami maupun Kevin terkejut melihat kehadiran kami. Mereka tak mengira kami akan datang ke Magelang. Apalagi malam-malam begini. Kami memang sengaja tak memberi kabar akan pulang ke Magelang karena ingin memberi kejutan kepada mereka. Dan hasilnya mereka pun benar-benar terkejut, tapi senang karena akhirnya kami bisa berjumpa lagi.

Malam hari sebelum tidur kami sempatkan mengobrol dengan Mami sambil bermain dengan kucing-kucing yang sudah beranak pinak. Meskipun di awal perjalanan hari ini sempat mendebarkan, namun berakhir melegakan. Alhamdulillah

Last Minutes

Standar

Minggu pertama di bulan Desember ini ada tiga kejadian yang dialami putriku yang sempat membuat hatiku jadi ikut panik dan deg-degan.

Kejadian pertama:

Waktu hari Senin kemarin, Salma menceritakan bahwa ada salah seorang teman kerja kelompoknya yang tiba-tiba ‘menghilang’ dan susah dihubungi. Padahal deadline pengumpulan tubes (tugas besar) harus malam itu juga. Sebetulnya tugas dari para anggota kelompoknya (sesuai pembagian tugasnya) termasuk tugas Salma sendiri juga sudah kelar. Tinggal menunggu satu tugas lagi yang harus diselesaikan oleh seorang temannya itu saja.

Saking paniknya, sore itu Salma sampai meneleponku untuk meminta saran. Sebab bila tugas tersebut tidak terselesaikan, Salma dan teman-teman kelompoknya terancam harus mengulang lagi untuk menyelesaikan tugas baru.

Meskipun ikut panik, namun aku mencoba menenangkan hati Salma. Kusarankan untuk mencoba menghubungi teman Salma lain yang bisa menggantikan temannya yang ‘menghilang’ tadi. Lalu Salma pun mencoba menghubungi beberapa teman yang diperkirakan bisa membantunya menggantikan temannya tersebut. Tapi qadarallah mereka malah susah dihubungi.

Ada yang sudah berhasil dihubungi, tapi sinyal hape-nya sedang tidak bersahabat sehingga komunikasi terputus-putus. Ada juga yang sudah terhubung, tapi ia sedang sibuk belajar untuk persiapan UAS. Sehingga Salma tak mau mengganggunya.

Waduh… Jadi gimana ya… Sementara waktu deadline semakin dekat. Bila dikerjakan sendiri juga sudah tidak memungkinkan lagi karena tugas yang harus dikerjakan cukup banyak dan waktunya sangat singkat. Aku bisa merasakan kepanikan tersebut seperti waktu kemarin dikejar deadline dua proyek menulis dalam waktu yang hampir bersamaan. Tapi tentu tugas Salma ini jauh lebih berat dan sulit.

Salma akhirnya hanya bisa pasrah saja sambil berdoa. Aku juga hanya bisa membantunya melalui doa agar Salma mendapatkan solusi dari masalahnya tersebut.

Sampai menjelang jam 19.00 malam alhamdulillah ada kabar yang melegakan hati. Kata Salma, teman yang tadi ‘menghilang’ itu akhirnya sudah bisa dihubungi dan ternyata tugasnya sudah hampir selesai. Jadi mungkin tadi ia susah dihubungi karena sedang fokus mengerjakan tugas tersebut agar bisa selesai sebelum deadline.

Keesokan harinya kucoba menghubungi Salma lagi dan menanyakan bagaimana kabar tugas kelompoknya? Alhamdulillah, aku ikut senang dan lega saat mendengar kabar bahwa di last minutes sebelum deadline kemarin, akhirnya semua tugas bisa terselesaikan dengan baik.

Kejadian kedua dan ketiga:

Hari Rabunya Salma sudah mulai Ujian Akhir Semester (hari pertama UAS). Sama seperti ibu yang lain, aku juga senantiasa mendoakannya agar diberi kemudahan dan kesuksesan dalam ujian. Dan yang tak henti kupinta dari Allah Swt. adalah Salma selalu diberi kesehatan dan perlindungan-Nya.

Kadangkala sempat terlintas rasa khawatir juga terhadap kesehatan Salma yang beberapa hari ini sering tidur larut malam untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun

Apalagi setelah mendengar berita duka dari seorang mahasiswa ITB yang meninggal dunia karena kesehatannya berangsur memburuk sejak ia menyelesaikan skripsinya nonstop selama 7 hari 7 malam. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Harus diakui kuliah di ITB itu berat. Bahkan ada yang bilang masuknya sulit, keluarnya lebih sulit lagi. Tapi di situlah nilai perjuangannya. Yang penting jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Semoga musibah ini jangan terjadi lagi. Aamiin

Sumber: https://www.instagram.com/p/BiI3PtxhLgC/?igshid=n3gb3me5kwm6

Hari Rabu sorenya, aku mencoba menelepon Salma, menanyakan bagaimana UAS hari pertama ini?

Alhamdulillah, bisa Ma… ,” jawab Salma dengan ceria.

Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya.

Lalu Salma melanjutkan ceritanya.

“Tadi pas pulang kuliah saya kehujanan Ma…”

Hmmm, sekarang di beberapa kota termasuk Bandung memang sudah sering turun hujan.

“Tapi tadi saya hampir saja mengalami kecelakaan lho Ma. Alhamdulillah saya selamat dan masih hidup. ”

“Ya Allah…! Aku terkejut sekaligus merasa tercekam mendengarnya.

“Di mana Salma? Gimana kejadiannya?” Aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan karena merasa cemas.

“Di depan kampus Ma. Pas saya menyeberang jalan. Padahal situasi jalan saat itu sudah aman untuk menyeberang. Di sebelah kiri jalan saya lihat ada beberapa mahasiswa yang sedang menyeberang jalan. Dan di sebelah kanan jalan, saya lihat kendaraan-kendaraan sudah berhenti memberi kesempatan para mahasiwa menyeberang jalan terlebih dahulu.”

“Terus bagaimana Salma?”

“Nah, pas saya menyeberang itulah… Tiba-tiba dari arah kanan jalan ada motor yang menyelonong dan hampiiir saja menabrak saya. Alhamdulillah saya masih selamat.”

Lalu Salma melanjutkan ceritanya lagi.

“Beberapa hari sebelumnya saya juga pernah hampir mengalami kecelakaan lagi Ma… Waktu itu saya lagi naik ojek online. Saat di tikungan jalan, dari arah yang berlawanan ada mobil yang meluncur cepat dan hampir saja menabrak motor ojek online yang saya tumpangi tadi. Fiuuuuh… Nyaris banget Ma. Alhamdulillah nggak kena.”

Mendengar cerita Salma yang menegangkan itu aku langsung menghela nafas lega. Kalau Salma berada di sampingku pasti sudah kupeluk erat-erat karena bersyukur atas keselamatannya.

Alhamdulillah Allah masih melindungi Salma. Jangan lupa selalu baca doa ya Salma. ” Aku mengingatkannya.

“Iya Ma, saya pas mau berangkat juga baca doa sebelum keluar rumah.”

Sumber: rumaysho.com

Aku senang mendengarnya.

Nah, biasakan terus membaca doa ya Salma. Supaya Salma selalu dalam kondisi aman dan dalam penjagaan-Nya, kapan pun dan di mana pun berada.”

*****

Kalau kuperhatikan, ketiga pengalaman mendebarkan putriku itu penentuannya sama-sama di last minutes.

1. Tugas kelompok Salma bersama timnya, “Apakah bisa selesai sebelum deadline atau bakal mengulang?” Penentuannya ada di last minutes ketika Salma sudah pasrah dan deadline sudah di depan mata. Pada saat itulah ada kabar yang melegakan hati dari teman sekelompoknya yang semula susah dihubungi. –> Akhirnya TUGAS SELESAI.

2. Kondisi Salma saat menyeberang jalan “Apakah tertabrak motor/tidak?” Penentuannya ada di last minutes ketika dengan spontan Salma menghentikan langkah kakinya dan pengendara motor mengerem motornya. –> SALMA SELAMAT.

3. Kondisi Salma saat naik ojek online “Apakah ojek online-nya bertabrakan dengan mobil/tidak?” Penentuannya ada di last minutes ketika ojek online dan mobil sama-sama mampu menghindari tabrakan. –> SALMA SELAMAT.

Jadi, di balik penentuan kondisi atau nasib seseorang hingga last minutes, ada suatu kekuatan besar yang mampu menolong, melindungi dan menjaga dari masalah atau musibah atas izin-Nya. Yaitu berkat kekuatan doa.

Oleh karena itu sebaiknya kita membiasakan berdoa, kapan pun dan di mana pun. Tak cukup hanya ketika sesudah shalat. Juga jangan hanya ketika ada tes membaca doa di pelajaran agama.

Karena ada banyak keajaiban dari doa. Dengan doa… Sesuatu yang sulit menjadi mudah. Yang terhimpit masalah menjadi terlepas dari masalahnya. Yang diharapkan menjadi terkabul. Selain itu bisa menghindarkan kita dari musibah.

Namun kadang kita harus bersabar menanti terkabulnya sebuah doa. Sebab ada kalanya Allah Swt. menunda terkabulnya doa karena Allah Maha Tahu ada masa terbaiknya untuk kita nanti atau menggantinya dengan yang lebih baik, atau disimpan-Nya sebagai pahala kita di akhirat.

Teruslah berdoa, berikhtiar dan bertawakkal. Sebab Allah Swt. senang ketika hamba-Nya berdoa.

Sumber: https://bintangpratamasite.wordpress.com/2017/11/03/allah-mengabulkan-doa-hamba-nya-kajian-al-baqarah-186/amp/

Kenikmatan yang Sering Terlupakan

Standar

“Keluhannya apa?”

“Dada kiri terasa sakit”

“Buat bernafas sakit?”

“Kalau batuk dan bersin terasa sakit”

“Sekarang kan Soso (panggilan untuk kakak ipar perempuan di keluarga Tionghoa) sudah berusia di atas 50 tahun ya. Saya sarankan untuk rontgen dada dan rekam jantung (EKG) saja ke laboratorium klinik untuk pemeriksaan pertama.”

Pembicaraanku pagi itu lewat telpon dengan adiknya suami yang berprofesi sebagai seorang dokter di Jakarta itu membuatku berpikiran macam-macam.

Sebetulnya aku sudah periksa ke dokter di sebuah klinik. Beedasarkan diagnosanya, aku baik-baik saja. Hanya tekanan darahku agak rendah (90/60). Dokter itu hanya memberiku resep obat pereda nyeri dan vitamin yang akhirnya tak kutebus. Tapi aku masih merasa belum yakin sehingga menghubungi adik iparku yang dokter itu.

Keesokan harinya aku benar-benar periksa ke sebuah laboratorium klinik yang terkenal di kota Cirebon. Kebetulan lagi diskon 25% karena menyambut Hari Kesehatan Nasional.

Antrean belum panjang dan pemeriksaan berlangsung cepat sehingga bisa selesai dalam waktu yang singkat.

Hanya sayang hasil pemeriksaan baru bisa diambil pada pukul 19.00 malam. Aku benar-benar penasaran akan hasilnya karena rasa nyeri di dada kiriku itu terasa sudah sejak dua minggu yang lalu.

Aku hanya khawatir kalau sampai terkena penyakit jantung atau kanker payudara. Sebab kedua penyakit tersebut termasuk penyakit berbahaya yang beresiko pada kematian. Na’udzu billahi min dzalik.

Dan akhirnya tibalah saatnya untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium. Suamiku dan adik lelakiku yang kebetulan sedang datang ke Cirebon yang mengambilnya.

Setelah kuterima hasil rontgen dan EKG-nya, segera kubuka dan kubaca uraian keterangan yang dilampirkan di dalamnya. Hmm…, aku tak begitu paham maksudnya. Hanya saja kulihat ada beberapa kata ‘normal’.

Daripada hanya menebak-nebak, hasil laboratorium tersebut kufoto, lalu kukirim ke adik iparku yang dokter melalui Whatsapp.

“Yusuf, ini hasil rontgen dan EKG-nya. Bagaimana menurut Yusuf? ”

Beberapa saat kemudian Yusuf membalas chat-ku.

“Hasil EKG oke. Semua baik kok, So…”

“Jadi bukan penyakit jantung atau yang lainnya, kan? “

“Bukan. Itu hanya nyeri otot. “

“Alhamdulillah… “

Hatiku rasanya lega dan gembira. Terima kasih ya Allah yang telah memberikan kesehatan ini. Apalagi rasa nyeri di dada kiriku pun berangsur menghilang. Aku langsung sujud syukur.

Sejak itu makin kurasakan betapa luar biasanya kenikmatan dari Allah Swt. yang berupa waktu, kesehatan dan kesempatan hidup. Selama ini kita sering melalaikannya dan kurang mensyukurinya.

Dan hingga hari ini tanggal 21 November 2819, di mana usiaku telah genap memasuki usia 52 tahun, Allah Swt. masih mengaruniakanku kesempatan hidup, dan kesehatan yang baik. Alhamdulillah… 😊😊

Semoga sisa usia ini bisa kugunakan untuk beribadah yang benar dan banyak beramal shalih agar Allah Swt. memberkahi hidupku. Aamiin

Terima kasih kepada semua teman, saudara dan keluarga yang telah memberiku ucapan selamat dan doa-doa yang baik. Semoga Allah mengabulkan dan semua doa baik tersebut dikabulkan juga untuk kalian yang mendoakannya. 🙏🙏😍😍💕Aamiin

Terima kasih dan peluk sayang dari jauh juga untuk Salma Fedora putri tercintaku atas semua doa baik dan kiriman kadonya yang cantik ya. 😍💖😘

Jazakumullah khairan katsira. Wa barakallah fiikum.

Keajaiban Pesan-pesan Papi rahimahullah

Standar

Ketika pulang ke rumah orang tua di Magelang, aku suka membuka-buka buku koleksi Papi rahimahullah seperti dulu ketika masih tinggal bersama mereka. Karena koleksi bukunya sangat lengkap dan berkualitas.

Secara tak sengaja aku menemukan sebuah buku yang bersampul kertas tipis dengan gambar penari balet. Karena penasaran, aku mengambil dan membuka buku itu. Semula kusangka itu buku resep masakan milik Mami. Karena aku tahu Mami selalu rapi dalam menyimpan bukunya.

Tapi ternyata itu buku psikologi/motivasi dengan ejaan lama yang berjudul “Bagaimana Melenjapkan Tjemas dan Menikmati Hidup” (ditulis oleh Dale Carnegie). Sebuah buku untuk membantu mengatasi kecemasan yang masih cocok dibaca hingga sekarang.

Tapi ada yang menarik perhatianku di buku itu. Ada sebuah pesan yang ditulis rapi dengan ejaan lama oleh Papi rahimahullah dan ditujukan untuk Mami di halaman paling awal dari buku itu, sebagai berikut: “Buku jang berguna tidak akan berguna bila tidak dibatja dan diturut isinya.”

Pesan Papi rahimahullah itu membuatku merenung. Yah, benar juga sih ya… Sebab sebanyak apa pun buku yang kita beli, tapi kalau tidak pernah dibaca dan hanya dijadikan koleksi saja, isi buku tersebut ya tak akan pernah kita ketahui.

Sedangkan bila sudah dibaca saja namun pesan-pesan positif, tips atau ilmu di dalamnya tak kita praktikkan, ya sangat disayangkan. Karena tujuan kita membaca buku adalah untuk mempelajari isinya, lalu mengamalkannya sesuai petunjuk di dalamnya.

Itu baru sebuah pesan saja yang kutemukan di buku Papi rahimahullah. Sebetulnya masih banyak pesan beliau yang penuh hikmah dan pernah disampaikan secara langsung kepada kami para anak dan cucunya semasa beliau masih hidup.

Bagi yang tidak mengenal Papi rahimahullah lebih dekat, pasti akan menganggap beliau mempunyai pribadi yang unik. Sebab bila dilihat penampilannya sehari-hari, Papi rahimahullah sangat low profile. Kalau mau pergi ke mana-mana lebih suka naik sepeda atau becak.

Papi rahimahullah juga suka membawa sisir rambut di saku bajunya. Barang lain yang tak pernah beliau lupakan adalah buku. Di mana pun dan kapan pun berada, buku tak pernah ketinggalan dibawanya. Sebab beliau sangat gemar membaca buku.
Di rumahnya ada beberapa lemari buku yang sudah penuh dengan buku-buku bacaannya. Semuanya buku-buku pilihan dan berkualitas. Ada buku tentang sejarah, agama, psikologi, novel, politik, kesehatan, geografi dan lain-lain. Dan tentu saja semuanya menarik untuk dibaca.

Maka sejak SD aku paling senang ‘ngoprek‘ lemari bukunya. Sebab nanti ada saja ilmu atau informasi baru yang bisa kuperoleh dari buku-bukunya itu. Kalau ada yang tak kupahami dari buku yang kubaca, biasanya aku langsung menanyakan padanya.

Aku sangat merindukan masa-masa seperti itu bersama Papi rahimahullah. Di mana aku bisa curhat, konsultasi dan bertanya banyak hal kepadanya. Bahkan banyak terjadi perubahan yang positif pada diriku bila aku sering dekat bersamanya.

Dulu aku adalah gadis remaja yang sangat pemalu, kurang percaya diri, gampang gugup, dan tidak memiliki kemampuan yang bisa kubanggakan. Kulitku paling kusam di antara dua saudara kandungku. Wajahku biasa saja. Aku juga kurang terampil berdagang, sehingga tidak bisa banyak membantu Mami di Pasar. Kemampuan akademikku juga kurang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas.

Ketika aku merasakan semua kekuranganku itu kadang aku hanya bisa menyendiri dan menangis sedih. Tapi kadang aku juga marah dan meluapkan emosiku dengan membanting benda yang tak mudah pecah.

Nah, pada saat itulah Papi rahimahullah akan mendekatiku. Beliau biasanya langsung menghibur dan menasihatiku dengan lembut.

Beberapa pesan beliau yang sampai sekarang masih kuingat dan selalu menjadi motivasi dalam hidupku adalah sebagai berikut:

1. Katanya mau sabar seperti Papi (beliau ucapkan ketika aku sedang marah-marah dan meluapkan emosiku). Papi rahimahullah adalah sosok ayah dan suami yang luar biasa sabar dalam menghadapi berbagai persoalan. Baik rumah tangga maupun pekerjaan. Ketika melihat kesabarannya, aku pernah berkata kepadanya, “Papi kok bisa sabar banget sih…. Saya juga pengin bisa sabar seperti Papi.”

Nah, sejak itulah bila aku sedang emosi, Papi selalu mengatakan hal itu.

2. Nggeguyu? Tak oyak…! (artinya: Menertawakanku? Aku akan kejar kamu..! Beliau sampaikan kata-kata itu padaku ketika aku curhat bahwa ada teman /orang yang menertawakan kekuranganku).

Beliau memotivasiku agar jangan minder saat ada yang menertawakan dan meremehkan kekurangan kita. Balas ejekannya dengan ‘mengejar’ kelebihan mereka. Caranya dengan memperbaiki kekurangan yang ada serta memaksimalkan kemampuan kita. Lalu buktikan bahwa kita bisa lebih baik darinya.

3. Jangan menangis bila dihina. (beliau sampaikan hal itu ketika aku menangis sedih karena ada yang menghina). Beliau menghiburku agar jangan terlarut dalam kesedihan setiap kali ada yang menghina. Aku harus tegar.

4. Cepat bangun bila jatuh. (beliau sampaikan hal itu ketika aku mengalami kegagalan. Tujuannya supaya aku tidak mudah menyerah atau berputus asa, melainkan mau bangkit lagi dan bersemangat untuk berusaha kembali.

Semua pesan Papi rahimahullah tersebut telah terbukti ampuh karena aku telah merasakan sendiri beberapa ‘keajaiban’ setelah melaksanakan pesan-pesan beliau.

Di antara ‘keajaiban’ yang telah kurasakan adalah sebagai berikut:

1. Dulu aku cenderung agak emosional ketika menghadapi suatu masalah. Setelah melaksanakan pesan Papi, aku menjadi lebih tenang dan sabar.

2. Ketika kelas 4 SD aku pernah tidak naik kelas. Setelah kulaksanakan pesan beliau, bisa dikatakan aku hampir selalu meraih rangking 1 saat sekolah di pesantren, padahal ketika baru masuk di sana, termasuk kelompok yang masih belum menguasai pelajaran.

3. Dulu aku tidak bisa mengemudikan motor sama sekali karena gugup. Apalagi mengemudikan mobil. Setelah kulaksanakan pesan beliau, sekarang aku mahir mengemudikan mobil.

4. Dulu aku tidak terampil berdagang. Setelah melaksanakan pesan beliau, aku jadi lebih percaya diri dan bisa berdagang. Bahkan pernah mencapai Top Leader dalam penjualan NutriLemon.

Alhamdulillah, semua pencapaian itu tentu saja atas izin dan pertolongan Allah Swt.

Ternyata tak hanya aku yang telah merasakan suatu perubahan yang positif setelah melaksanakan pesan Papi rahimahullah. Cucunya pun ikut merasakan pengaruh positifnya.

Seperti yang telah dirasakan sendiri oleh Laura, keponakanku dan cucu perempuan beliau. Dulu saat Laura masih bersekolah di Magelang, ia sering merasa kurang bisa memahami pelajaran di sekolah. Terutama sejak beliau sudah berpulang ke hadirat-Nya.

Akibatnya Laura sering diejek dan diremehkan teman-temannya. Dulu Laura juga sering diremehkan karena dianggap tidak bisa naik sepeda dan bermain badminton.

Untuk menghibur dan memotivasinya, aku sering menyampaikan pesan-pesan dari Papi rahimahullah tadi kepada Laura. Sehingga Laura menjadi lebih bersemangat belajar dan lebih percaya diri.

Alhamdulillah, setelah Laura melaksanakan pesan beliau, perlahan tapi pasti Laura mulai meraih prestasi di sekolahnya. Dari menjadi juara Rangking 1 saat ada lomba memperingati kemerdekaan RI di sekolahnya, mewakili sekolahnya saat ada olimpiade Biologi, meraih peringkat pertama di kelasnya, sudah mahir naik sepeda dan mulai bisa bermain badminton.

Jazakallah khairan katsira Papi atas semua pesan dan nasihatnya yang luar biasa kepada kami anak dan cucunya.

Semoga semua pesan dan nasihat Papi yang telah membawa perubahan positif tersebut menjadi amal jariyah yang bisa memberatkan timbangan amal baik dan bisa menghapus dosa Papi di akhirat.

Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Dari Kursus Rumahan Menjadi Lembaga Pendidikan Resmi dan Berprestasi

Standar

Setelah melewati tahun-tahun pertama merintis usaha kursus di Rumah Belajar Cirebon, kami mulai dituntut untuk membuat usaha kursus yang tak hanya rumahan, namun menjadi sebuah lembaga pendidikan yang resmi.

Diawali dengan hadirnya beberapa penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon ke Rumah Belajar Cirebon pada bulan Mei 2009, mereka menganjurkan kami untuk segera mengurus surat izin operasional. Sehingga mulai tanggal 30 Juli 2009, Rumah Belajar Cirebon sudah mempunyai sertifikat resmi izin operasional dari Dinas Pendidikan sebagai LKP yang berada di bawah naungan bidang Pendidikan Non Formal (PNF).

Izin operasional tersebut berlaku selama 3 tahun, sehingga setiap 3 tahun sekali kami harus memperpanjangnya kembali. Setelah Rumah Belajar Cirebon resmi menjadi LKP yang mempunyai izin operasional, aku sering diundang dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan Dinas Pendidikan bidang Non Formal. Baik itu undangan untuk kegiatan rapat, seminar, pelatihan, hingga acara berbuka puasa bersama seluruh LKP resmi lain di kota Cirebon.

Melalui pertemuan-pertemuan tersebut, efek positifnya kami jadi bisa saling mengenal antar LKP, baik secara personal dengan pimpinannya maupun secara kelembagaannya. Mayoritas LKP yang kukenal tersebut memang bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang siap dan terampil. Seperti LKP Tata Rias Pengantin dan Kursus Kecantikan, LKP Tata Boga, LKP Kursus Mengemudi, LKP Tata Busana, dan LKP Komputer.
Kalaupun ada LKP Kursus Bahasa Asing, biasanya LKP tersebut sudah memiliki kelas khusus untuk mahasiswa dan orang-orang yang sudah bekerja. Tujuannya untuk disalurkan di bidang pariwisata atau perhotelan.

Berbeda dengan kursus yang kubuka di Rumah Belajar Cirebon. Semua program yang ada justru diperuntukkan anak-anak. Tujuannya agar mampu menguasai mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika di sekolah serta untuk mengasah bakat anak-anak di bidang seni menggambar.

Pada sekitar tahun 2013 ada perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini yang datang ke Rumah Belajar Cirebon untuk melakukan penilaian kinerja lembaga. Pada saat itu terus terang saja aku masih agak bingung. Sebab belum ada persiapan sama sekali.

Apalagi bapak perwakilan Ditjen PAUDNI tersebut meminta berbagai macam berkas yang memang sejak awal belum pernah kami buat secara terperinci seperti LKP resmi lainnya. Sebab aku tak pernah terpikir sebelumnya bahwa tempat kursus yang sebelumnya hanya ditujukan untuk mencari teman belajar buat Salma ini akan menjadi lembaga resmi.

Maka ketika sertifikat hasil penilaian kinerja telah dikeluarkan, aku sudah bisa memperkirakan hasilnya. Sertifikat yang telah ditandatangani oleh Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan di Jakarta pada tanggal 24 April 2014 itu memberi nilai C pada kinerja lembaga kami.

Tapi apa pun hasilnya, kami tetap bersyukur dan bisa menerima hasilnya, mengingat pada kenyataannya kelengkapan dokumen kami memang masih minim. Semoga hasil penilaian kinerja ini bisa menjadi pemicu bagi kami untuk lebih memperhatikan kelengkapan dokumen dan administrasi nantinya.

Pada tahun 2013 Rumah Belajar Cirebon juga telah terdaftar resmi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan dikeluarkannya kartu Nomor Induk Lembaga Kursus dan Pelatihan (NILEK).

Setelah itu pada tanggal 4 Juni tahun 2015 para penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon Bidang PNF mendukung kami untuk mengikuti lomba Keteladanan PAUDNI tingkat Bakorwil Cirebon. Alhamdulillah pada lomba tersebut, Rumah Belajar Cirebon meraih juara 1. Sehingga kami mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan kota Cirebon dan Walikota Cirebon.

Selanjutnya Rumah Belajar Cirebon kembali mengikuti lomba LKP Standar Nasional Kategori Berkinerja C/D Bidang Non Vokasional Tingkat Provinsi Jawa Barat. Semua persyaratan administrasi, berkas dan dokumen penting harus segera dilengkapi guna menunjang penilaian tersebut. Seperti Surat Keterangan Domisili, NPWP LKP, Akte Notaris untuk Pendirian LKP dan Yayasan Rumah Belajar Cirebon, rekening Bank atas nama LKP Rumah Belajar Cirebon, Surat Izin Operasional LKP yang masih berlaku, Kartu NILEK, NSPN dan Bukti Pengesahan Yayasan Rumah Belajar Cirebon dari Menkumham.

Syukurlah suamiku bergerak cepat dengan dibantu Pak Akhmad Yani (guru dan sekretaris LKP Rumah Belajar Cirebon) dan Bu Iis Ngasiah (penilik dari Dinas Pendidikan kota Cirebon Bidang PNF) dalam melengkapi semua dokumen tersebut.

Pada lomba ini Rumah Belajar Cirebon alhamdulillah meraih juara 3 tingkat Provinsi Jawa Barat. Pada tanggal 25 November 2015 aku menerima penghargaan langsung dari Gubernur Jawa Barat bersama para pimpinan LKP lain dari berbagai kota di Jawa Barat yang telah meraih prestasi pada even yang sama.
Semua prestasi yang telah diraih oleh Rumah Belajar Cirebon tersebut adalah berkat dukungan suami, bantuan Pak Akhmad Yani serta kerjasama yang baik dengan staf dan guru Rumah Belajar Cirebon. Jazakumullah khairan katsira.

Dari waktu ke waktu Rumah Belajar Cirebon terus berusaha memperbaiki kinerja lembaga, staf dan guru-gurunya agar menjadi lembaga yang semakin profesional sesuai dengan visi dan misi.

Akhirnya tibalah saatnya kami harus segera mengurus akreditasi lembaga. Tentu saja ini bukan tugas yang mudah. Karena berkas yang harus dipersiapkan juga tidak sedikit. Apalagi semua berkas tersebut harus memenuhi 8 Standar Pendidikan sebagai berikut:
1. Standar Kompetensi Lulusan
2. Standar Isi
3. Standar Proses
4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana dan Prasarana
6. Standar Pengelolaan

7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian Pendidikan

Karena banyak dan rumitnya berkas yang harus kami persiapkan itu, aku membentuk tim dari staf dan guru lalu membagi tugas pengumpulan berkas dari setiap Standar Pendidikan tersebut.

Sempat terjadi kemacetan selama beberapa bulan karena timbulnya kebingungan dan kejenuhan saat pengumpulan berkas tersebut.

Sampai kami berulangkali diingatkan oleh pengurus Bidang PNF Dinas Pendidikan Kota Cirebon. Sehingga kami kembali mengumpulkan berkas yang dibutuhkan.

Ketika Tim Asesor dari Pusat sudah mulai ditetapkan dan jadwal penilaian akreditasi sudah diagendakan, aku bersama staf dan beberapa orang guru (Pak Akhmad Yani, Saddam Husein, Bu Tri dan Ms. Hesti) bekerja keras sampai malam melengkapi berkas dan borang yang dibutuhkan.

LKP Rumah Belajar Cirebon mendapat jadwal hari pertama visitasi di kota Cirebon, yaitu pada hari Senin, 22 Oktober 2018.
Bertepatan dengan Hari Santri Nasional, visitasi yang merupakan rangkaian dari proses akreditasi akhirnya dilaksanakan di LKP Rumah Belajar Cirebon. Yang bertindak sebagai asesornya adalah Bu Eti Rusmiati SE., MM dari Sumedang dan Bu Retno Wiyati, S.Pd. dari Bandung.

Pada hari itu hadir juga Bapak Kabid Pembinaan PAUD PNF, Ibu Kasi Kelembagaan dan Sarpras Paud PNF, Bapak Kasi Kurikulum, Bapak Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter, serta Ibu Penilik LKP dari Dinas Pendidikan Kota Cirebon sebagai tamu undangan. Bapak Kepala Dinas Pendidikan berhalangan hadir karena sedang ada kegiatan lain.

Hati kami rasanya dag dig dug saat berkas dan borang yang telah kami kumpulkan dan kami klasifikasikan sesuai Standar Pendidikan tersebut satu persatu mulai dicocokkan dan dinilai oleh para Asesor. Apalagi ketika kami ditanya-tanya secara detail oleh mereka.

Sejak pagi hingga Isya barulah visitasi berakhir. Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka sebelum pulang.

Setelah beberapa bulan menunggu hasil akreditasi dengan harap-harap cemas, akhirnya sertifikatnya dikirim juga melalui web BAN PAUD. Ketika kami buka, alhamdulillah kami mendapat nilai B.

Jazakumullah khairan katsira kusampaikan kepada suamiku, staf dan guru, khususnya yang sudah bekerja lembur sampai malam hari menjelang visitasi.

Dengan telah terakreditasinya LKP Rumah Belajar Cirebon, semoga usaha kami yang semula hanya berupa kursus rumahan ini bisa menjadi lembaga kursus yang lebih profesional dan berprestasi. Ya Alalh berkahilah usaha kami dan semua yang terlibat di dalamnya. Aamiin ya rabbal’aalamiin

Bersahabat dengan Kelinci

Standar

Hai teman-teman, siapa yang tidak gemas melihat hewan bertelinga panjang dan berbulu halus yang jalannya melompat-lompat ini? Hampir setiap orang pasti menyayangi kelinci, terutama anak-anak. Jadi, tak heran jika hewan ini cocok menjadi hewan peliharaan kesayangan keluarga.

Salma juga suka dengan hewan lucu ini. Berawal dari sepasang kelinci yang dibelikan oleh papanya di pasar ketika Salma masih SD. Sungguh gembira hati Salma karena punya teman bermain baru di rumahnya. Kelinci jantan yang bulunya berwarna hitam itu diberinya nama Knight dan kelinci yang betina diberinya nama Snowy karena bulunya yang putih bersih seperti salju.

Knight termasuk jenis kelinci angora. Bulunya terlihat lebih lebat. Sedangkan Snowy termasuk jenis kelinci lokal yang bermata merah.
Setiap hari Salma bermain dengan Knight dan Snowy. Kadang bermain di kebun, sesekali di dalam rumah. Setiap hari Knight dan Snowy diberi makan kangkung dan wortel. Semakin lama perut Snowy bertambah buncit. Ternyata Snowy sedang hamil. Setelah beberapa bulan kemudian di sekitar tahun 2009, lahirlah anak-anak Snowy yang imut-imut dan menggemaskan. Jumlah anaknya ada 4 ekor.

Salma yang baru pertama kali melihat anak kelinci baru lahir itu merasa takjub. Sekilas anak-anak kelinci yang bulunya belum tumbuh itu terlihat seperti anak-anak tikus. Aku sendiri juga masih merasa ‘geli’ ketika akan memegangnya. Sepanjang hari Snowy menyusui anak-anaknya dengan telaten dan penuh kasih sayang sehingga semakin gemuk dan sehat.

Lama kelamaan bulunya juga tumbuh semakin lebat sehingga mulai terlihat warna bulunya dengan jelas. Ada 3 ekor anak kelinci yang bulunya berwarna putih dan yang 1 ekor lagi warna bulunya perpaduan hitam agak kecoklatan dan putih.

Salma semakin senang karena teman bermain di rumahnya bertambah banyak. Apalagi ketika 4 ekor anak kelinci tersebut sudah bisa berlari dan meloncat ke sana kemari. Semuanya lincah dan menggemaskan. Salma suka mengejar-ngejarnya di kebun belakang rumah. Kadang-kadang anak-anak kelinci itu digendong dan dielusnya bergantian.

Tapi dari 4 ekor anak kelinci itu ada 1 ekor yang paling disukainya, yaitu yang warna bulunya perpaduan hitam kecoklatan dan putih. Salma memberinya nama Chesster, (namanya diambil dari kata Chess/Catur) karena saat itu Salma memang masih menjadi atlet catur yang sering mewakili sekolahnya setiap kali ada pertandingan catur. Dan kebetulan warna bulunya juga ada hitam dan putihnya seperti warna papan catur.

Dari semua kelinci itu, hanya Chesster-lah yang paling sering dibawa masuk Salma ke dalam rumah atau diajak keluar. Sehingga Chesster menjadi kelinci yang paling jinak. Makanan kegemarannya tak hanya kangkung dan wortel. Biskuit dan kerupuk pun Chesster sukai. Chesster kelinci yang bersih, sehat dan rapi. Chesster membuang kotoran dan air seninya juga tidak sembarangan. Biasanya Chesster akan menuju ke toilet mini buatan kami (dari bekas wadah pencampur cat) yang kami letakkan di sudut rumah. Kotoran dan air seni Chesster bisa kami manfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Dari sepasang kelinci yang terus beranak pinak, lama kelamaan kami jadi mempunyai banyak kelinci. Chesster pun ikut menambah populasi kelinci di rumah kami ketika sudah melahirkan anaknya.

Saking banyaknya kelinci yang kami miliki sampai dibuatkan kandang khusus. Rasanya saat itu kami jadi seperti peternak kelinci. Karena cukup kewalahan mengurusnya, sebagian kelinci itu ada yang kami jual, ada juga yang kami berikan kepada teman dan saudara.

Kelinci-kelinci itu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kami atau pun bagi tamu yang datang ke rumah kami. Ketika ada saudara atau teman datang berkunjung ke rumah kami bersama anaknya, biasanya anak-anaknya akan betah karena senang bermain dengan kelinci-kelinci kami.

Seiring dengan berjalannya waktu, kelinci-kelinci yang usianya sudah semakin tua pun mulai mati satu demi satu. Ada juga yang mati karena sakit. Hanya tinggal Chesster yang tetap sehat dan masih hidup. Waktu tahun 2014 Chesster pernah sakit dan tidak nafsu makan.

Ketika kami bawa ke dokter hewan malah dokternya keheranan setelah tahu usianya Chesster. Menurut dokter tersebut, Chesster termasuk panjang umur karena masih bisa bertahan hidup hingga usia 5 tahun. Karena rata-rata usia kelinci hanya sampai 2 tahun. Wah, bisa jadi Chesster kelinci tertua di kota Cirebon nih

Tapi akhirnya pada tanggal 9 Januari 2015, Chesster meninggalkan kami untuk selama-lamanya.😭 Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun… Terima kasih Chesster, sudah menemani kami, khususnya Salma selama 6 tahun. Keceriaan saat bersamamu selalu melekat di hati kami.

Setelah itu kami tidak memelihara kelinci lagi karena Salma juga sudah semakin sibuk dengan sekolahnya. Apalagi sekarang sudah kuliah di Bandung. Namun keinginan untuk memelihara kelinci lagi selalu timbul di hati Salma. Setiap kali melihat kelinci di Lembang atau di mana pun, sebetulnya Salma ingin membelinya, tapi bingung bagaimana cara memeliharanya nanti karena tidak mungkin dibawa ke kamar kos. Mungkin nanti setelah selesai kuliah, Salma baru bisa memelihara kelinci lagi.

Nah, itulah sekilas cerita persahabatan kami dengan kelinci. Bila teman-teman suka kelinci dan ingin memeliharanya juga, berikut ini saya sertakan sekilas pengetahuan tentang kelinci, manfaat dan cara-cara memeliharanya, ya… Semoga bermanfaat. 😊

Kelinci termasuk hewan mamalia dari famili leporidae. Di Indonesia secara garis besarnya kelinci lokal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelinci Jawa (Lepus Negricollis) dan kelinci Sumatera (Nesolagus Netseherischlgel).

Kelinci Jawa diperkirakan pertama kali dibawa ke Indonesia pada tahun 1835 oleh seorang punggawa Belanda dan masih berkeliaran di sekitar hutan Jawa Barat. Warna bulunya cokelat bergradasi perunggu kehitaman dan berat badannya bisa mencapai 4 kg.

Sedangkan kelinci Sumatera merupakan kelinci asli Indonesia yang tersebar di sekitar hutan pegunungan Sumatra. Warna bulunya kelabu bergradasi coklat kekuningan dan panjang badannya bisa mencapai 40 cm. (Sumber: hamsterdankelinci.blogspot.com).

Kelinci tidak hanya bermanfaat sebagai teman dan hiburan yang menyenangkan bagi keluarga. Ada beberapa manfaat lain yang akan kita rasakan ketika memelihara kelinci, yaitu:
1. Menumbuhkan rasa sayang dan peduli terhadap hewan sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.
2. Melatih kedisiplinan dalam memberi makan pada kelinci setiap harinya.
3. Membiasakan diri untuk menjaga kebersihan saat kita ikut membersihkan kandang kelinci secara teratur.
4. Menimbulkan motivasi untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana cara merawat hewan/kelinci dengan baik.
5. Air seni dan kotoran kelinci dapat dijadikan sebagai pupuk kandang yang dapat menyuburkan tanaman.
6. Kelinci dapat membantu membersihkan kebun saat dilepas di kebun/taman dengan memakan rumput-rumput liarnya.
Jenis makanan yang bisa diberikan untuk kelinci adalah aneka sayuran (kangkung, kol, daun singkong, sawi) dan umbi-umbian (wortel, singkong, talas, ubi). Hay (rumput awetan) adalah makanan terbaik untuk kelinci karena berserat tinggi sehingga menyehatkan pencernaannya. Biji-bijian (biji bunga matahari, kedelai, jagung, kacang juga tanah) cocok diberikan untuk kelinci, terutama yang sedang hamil atau baru saja melahirkan. Yang penting semua makanan tersebut tak mengandung pestisida. Sedangkan pelet bisa diberikan sebagai makanan tambahan, asalkan jangan terlalu banyak.

Adapun jadwal dan jenis pemberian makannya bisa diatur sebagai berikut:
– Jam 10 pagi: biji-bijian yang sudah dihaluskan, umbi-umbian dan pelet.
– jam 1 siang: sayuran atau rumput segar (1/2 kg per kelinci dewasa)
– jam 6 sore: sayuran atau rumput yang berserat kasar (1 kg per kelinci dewasa).

Malam hari porsinya lebih banyak, karena kelinci banyak beraktivitas di malam hari. Bila kelinci sehat, umurnya bisa bertahan antara 5 – 12 tahun. (Sumber: satujam.com)

Kelinci adalah hewan yang bersih sehingga kebersihan kandangnya harus selalu dijaga agar tak mudah terjangkit penyakit. Berbagai penyakit yang biasanya menyerang kelinci, di antaranya adalah:

– Kudis (Scabiosis). Gejalanya kulit kemerahan disertai gatal yang menyiksa. Cara mengatasinya, pisahkan dari kandang, cukur bulunya dan oleskan Scabicid Cream pada bagian kulit yang gatal. Semprot kandang dengan disinfektan, jemur dan biarkan selama 15 hari.
Enteritis Kompleks. Penyakit pencernaan yang biasanya menyerang kelinci yang masih kecil. Gejalanya, kelinci tampak kurus dan lesu. Warna kotorannya hijau gelap, bau, berlendir dan menggantung. Penyebabnya, terlalu banyak makan sayuran basah, makanan tercemar, kandang kotor, makan obat berbahaya/tak sesuai dosis. Cara mengatasinya, bersihkan kandang, ganti sayuran basah dengan hay dan pelet, campurkan antibiotik pada air minumnya.
– Pilek. Gejalanya hidung berlendir dan bersin-bersin. Cara mengatasinya, bersihkan kandang, jemur di bawah sinar matahari, semprot hidungnya dengan larutan antiseptik dan berikan antiobitik (Penicilin) dan Anticold. (Sumber: dictio.id)

Nah, demikianlah manfaat dan cara memelihara kelinci. Yuk kita rawat hewan lucu ini dengan baik agar makin sehat, menggemaskan dan bermanfaat.

Manisnya Buah Kesabaran

Standar

Hari Minggu ini Linda sudah siap sejak pagi di Masjid Lautze. Tak lupa ia membawa rujak sebagaimana yang telah ia janjikan kemarin untuk diberikan kepada Koh Hugo bila nanti jadi hadir dan ikut pengajian di sana. Tapi aku tidak yakin Koh Hugo akan datang. Apalagi kami juga belum banyak saling mengenal.

Dan benar… , hingga acara pengajian usai, Koh Hugo memang benar-benar tidak hadir. Aku tidak terlalu kecewa karena aku juga tidak mau terlalu mengharapkannya. Sejak kekecewaan yang secara beruntun pernah aku alami sebelumnya itu, kini aku menjadi takut berharap terlalu banyak lagi terhadap apa pun dan siapa pun. Apalagi terhadap pasangan hidup.

Akhirnya rujak yang sudah disiapkan oleh Linda tadi kami makan bersama teman-teman yang ikut pengajian pagi itu. Bagaimana pun aku tetap berterimakasih kepada Linda yang selalu memotivasi dan mensupport-ku dalam segala hal. Sejak aku mulai berkenalan dengannya, aku juga sudah kagum pada ketegasan dan kemandiriannya. Apalagi ia sangat rajin shalat Tahajud. Bersama sahabatku itu kami bisa saling belajar untuk menjadi seorang muslimah yang baik.

Seperti biasa di hari Senin sesudah shalat Subuh itu aku sedang bersiap-siap untuk mandi dan berangkat bekerja, Tiba-tiba terdengar suara dering telepon di ruang tengah memecah kesunyian suasana kos di pagi hari itu.

“Ir, ada telepon buat kamu tuh…,” teriak temanku sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku segera keluar dari kamar untuk menerima telepon. Kupikir itu telepon dari ibu atau ayahku di Magelang.

Assalamu’alaikum…,” kudengar suara lelaki dari balik telepon itu. Tapi bukan suara ayahku.

Wa’alaikumussalam. Maaf ini dengan siapa ya?” aku langsung bertanya.

Wah, sudah lupa ya? Saya Hugo dari Cirebon yang kemarin hari Sabtu ketemu di acara LDK itu lho. Maaf ya kemarin Minggu saya tidak bisa datang ke acara pengajian di Masjid Lautze karena harus belanja beberapa barang keperluan pabrik untuk kakak saya. Terus pagi ini saya harus langsung pulang ke Cirebon karena sudah ditunggu kakak saya,“

Nyesss… Suara Koh Hugo dan semua penjelasan atas ketidakhadirannya kemarin di Masjid Lautze itu terasa menyejukkan hati dan menjawab pertanyaan di dalam hatiku.

Oooh, iyaa.. Maaf Koh…, saya kira siapa ini tadi… Hehehe. Iya, nggak apa-apa Koh… Nanti kan kapan-kapan bisa datang lagi,” aku menjawab dengan agak gugup karena tak mengira Koh Hugo akan meneleponku pagi ini.

“Iya, insya Allah nanti saya datang lagi deh. Oke, sudah dulu ya… Ini saya sudah siap-siap mau naik kereta Cirebon Ekspress nih. Mau pulang ke Cirebon. Assalamu’alaikum..,” Koh Hugo pun berpamitan pulang.

Oke, semoga selamat sampai di tempat ya. Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil tersenyum gembira.

Sejak itu, hampir setiap pagi Koh Hugo meneleponku. Teleponnya dari sekedar menanyakan kabarku hingga berdiskusi tentang ajaran Islam. Namun aku tetap memposisikan harapanku di tengah-tengah. Supaya apa pun yang terjadi nanti aku tetap siap dan tidak mudah kecewa lagi.

Hingga kira-kira di hari yang ke sepuluh dari perkenalan kami, tiba-tiba Koh Hugo mengajakku bicara dengan nada yang serius dalam teleponnya,

“Ir, saya pernah membaca sebuah buku agama Islam. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa dalam ajaran Islam tidak diizinkan pacaran.

Nah, makanya saya juga ingin melanjutkan hubungan ini menjadi lebih serius. Saya tidak mau pacaran, Ir… Saya ingin langsung melamar dan menikahimu.”

Sontak aku terkejut sekaligus gembira bukan kepalang. Lalu sesaat aku terdiam. Karena aku tak mengira Koh Hugo akan seberani dan seserius itu.

Semula kusangka Koh Hugo seperti laki-laki kebanyakan yang hanya akan mengajak pacaran terlebih dahulu hingga beberapa lama dengan hubungan yang tidak jelas. Sementara usiaku semakin bertambah sehingga tentu saja membutuhkan suatu kepastian.

Namun prasangkaku terhadapnya ternyata salah besar. Kata-katanya itu telah membuktikan bahwa ia tak seburuk yang kusangka.

Sebenarnya aku masih belum sepenuhnya percaya pada niat baik Koh Hugo. Mungkin karena aku juga masih belum lama mengenalnya. Belum ada 2 minggu malahan… Memang terasa kilat banget permintaannya untuk melamar dan menikahiku.

Maka aku menyarankannya untuk saling mengenal antar keluarga masing-masing saja terlebih dahulu.
Di luar dugaan, Koh Hugo langsung menyambut ‘tantanganku’ itu. Ia meminta alamat rumah kedua orang tuaku di Magelang. Lalu ia mulai mengatur rencana pertemuannya dengan kedua orang tuaku di Magelang.

Untuk menghindari fitnah, ia menyarankanku untuk pulang ke Magelang terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menyusulku ke Magelang.

Dengan hati yang gembira aku langsung menelepon ibu dan ayahku. Aku menceritakan semua hal tentang Koh Hugo. Dari sejak pertama kali aku mengenalnya hingga rencananya untuk datang ke Magelang dalam rangka melamar dan menikahiku.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kedua orang tuaku terkejut ketika mendengar ceritaku. Kata ibuku proses perkenalanku dengannya masih terlalu singkat. Jadi harus dicek dulu bagaimana kepribadian dan keluarganya?

Sebab pernikahan itu bukan main-main. Jadi jangan sampai menikah dengan lelaki yang salah sehingga terjadi penyesalan di kemudian hari.

Namun kedua orang tuaku menyambut baik rencana kedatangannya ke rumah dalam rangka silaturahmi dan saling mengenal di antara kami.

Dalam rangka kehati-hatiannya, ibuku meminta bantuan salah seorang saudaranya yang tinggal di Cirebon untuk menyelidiki keluarga koh Hugo dan memastikan tempat tinggalnya.

Karena ibuku khawatir barangkali Koh Hugo ternyata sudah menikah dan aku hanya dijadikan istri gelapnya, mengingat usianya yang sudah di atas 30 tahun. Na’udzubillahi min dzalik..

Setelah sebagian informasi tentang koh Hugo dan keluarganya diterima kedua orang tuaku dengan baik, mereka kini menjadi lebih percaya akan status Koh Hugo dan rencananya tadi. Tinggal nanti bagaimana penilaian orang tuaku terhadapnya saat bertemu langsung dengannya.

Saat aku sudah tiba di Magelang, kami sekeluarga menunggu kedatangan Koh Hugo dengan harap-harap cemas.

Ketika hari semakin sore dan Koh Hugo masih belum tiba juga di rumah kami, sempat terselip sedikit keraguanku akan keseriusannya untuk berani datang ke Magelang menemui kedua orang tuaku. Apalagi terhadap rencananya untuk melamar dan menikahiku dalam waktu yang begitu singkat ini.

Bayang-bayang kekecewaan di masa lalu pun silih berganti mulai bermunculan di benakku.

Tapi saat kudengar suara bel di depan pintu rumah kami dan sosok Koh Hugo yang sedang kutunggu-tunggu itu benar-benar telah hadir di hadapanku, dalam hati aku berseru, “Alhamdulillah.. ! Koh Hugo ternyata benar-benar menepati kata-katanya!” Kami sekeluarga langsung menyambut kedatangannya dengan gembira.

Keletihan dari perjalanan Cirebon-Magelang, masih tampak di wajahnya. Rupanya tadi ia sempat kebingungan dan hampir ‘nyasar’ ketika mencari alamat rumah kami.

Tapi saat koh Hugo datang kembali ke rumah kami di malam hari sesudah mandi di hotel, wajah gantengnya tampak terlihat segar kembali. Kedua orang tuaku juga senang melihatnya.

Kepercayaan kami kepada Koh Hugo semakin bertambah ketika dengan mantapnya ia menetapkan tanggal lamaran pernikahannya. Setelah membuka-buka lembaran kalender dan mencari-cari waktu yang pas, akhirnya disepakati bersama bahwa pada tanggal 17 Agustus 1997 ia akan datang lagi bersama keluarganya untuk melamarku.

Sebulan kemudian, Koh Hugo kembali membuktikan keseriusannya dalam menjalin hubungan denganku. Pada tanggal yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia itu sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, ia datang lagi bersama rombongan keluarganya untuk melamarku. Alhamdulillah…

Selain membawa barang-barang seserahan lamaran, keluarganya juga mengajak kami berembug untuk langsung menetapkan tanggal pernikahan kami berdua. Hingga akhirnya disepakati bahwa akad nikah kami akan dilaksanakan pada tanggal 16 November 1997 bertempat di rumah orang tuaku di Magelang.

Masya Allah, aku tak menyangka akan secepat ini!

Betapa bahagianya hatiku saat itu. Di hari Kemerdekaan bangsa Indonesia ini, Koh Hugo serasa telah ‘memerdekakan’ perasaanku yang selama ini selalu terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri dan kekecewaan.

Aku menjadi semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik pilihan Allah Swt. yang selama ini telah lama kunantikan.

Apalagi ada beberapa poin penting yang membuatku makin bersimpati dan mantap untuk menerima lamaran dan menikah dengannya. Yaitu keshalehannya. Koh Hugo selalu menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya dan sangat berhati-hati dalam bergaul denganku selama ini dalam rangka menjaga etika Islam.

Selain itu aku melihat adanya hubungan kekeluargaan dan sikap toleransi yang baik dalam keluarga Koh Hugo, meskipun hanya Koh Hugo sendirilah yang muslim dalam keluarganya.

Selama masa proses persiapan menuju tanggal pernikahan kami, aku tetap berdoa memohon kepada Allah Swt, “Ya Allah, bila memang benar Koh Hugo ini adalah jodoh yang terbaik untukku dunia dan akhirat, berilah kelancaran pada setiap proses menuju pernikahan kami nanti. Namun bila dia bukan jodoh terbaikku, putuskan hubungan kami sebelum acara pernikahan kami, agar tidak menjadi duri dalam rumah tangga kami nantinya”

Hingga saat pernikahan kami tiba, kurasakan semua urusan dan prosesnya berjalan dengan sangat baik dan lancar. Alhamdulillah, aku yakin, bahwa inilah jawaban dari Allah Swt. atas doaku selama ini. Aku juga semakin yakin bahwa Koh Hugo inilah jodoh terbaik yang Allah Swt. berikan untukku.

Akhirnya, tibalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu! Setelah 4 bulan lebih 4 hari sejak pertemuan kami yang pertama di Jakarta, kami berdua dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang sah. Kedua orang tuaku dan keluarga kami masing-masingpun menjadi lega dan ikut berbahagia dengan pernikahan kami.

Dan alhamdulillah, hingga 22 tahun pernikahan kami saat ini, dalam suka duka berumahtangga, kami merasakan suasana keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Inilah buah manis kesabaran penantian kami. Semoga demikianlah selamanya. Sehidup sesurga bersama keluarga kami. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

– Selesai –

Bayang-bayang Kekecewaan

Standar

Sumber gambar: Pixabay Pro

Kisah kegagalanku dalam mencari pasangan hidup ini bermula ketika aku diperkenalkan dengan seorang lelaki keturunan Tionghoa yang katanya seorang muslim juga. Dia berasal dari Solo dan lulusan kedokteran dari sebuah PTN ternama. Ternyata dia hanya datang pertama dan terakhir kali di rumah orangtuaku di Magelang. Dan sesudah itu tak ada kabarnya lagi.

Ketika kuliah di Yogyakarta, aku pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa dari sebuah PTN. Dia adalah seorang muslim keturunan Tionghoa yang berasal dari luar Jawa dan aktif dalam kegiatan dakwah Islamiyah di organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Islam/dulu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di kota tersebut.

Aku sangat mengaguminya, karena selain wajahnya yang bisa dibilang ganteng, dia juga sangat alim dan bagus dalam hal pengamalan ajaran Islam. Aku senang sekali waktu ia memercayaiku sebagai pengganti dalam mengisi kultum di sebuah masjid di kota Yogyakarta pada saat bulan Ramadhan. Tapi aku hanya bisa memendam perasaan sukaku itu ketika kutahu bahwa ia sudah mempunyai seorang calon istri.

Kemudian ada seorang kakak kelas di kampusku, berasal dari Kalimantan yang ingin menjalin hubungan serius denganku sampai mendatangi rumah orang tuaku di Magelang. Aku sangat menghargai keberanian dan keseriusannya. Tapi kedua orang tuaku masih belum menyetujuinya, di samping memang aku sendiri juga masih belum ‘sreg’ di hati.

Salah seorang pengurus PITI Yogyakarta pun sampai tergerak hatinya ingin mencarikan jodoh untukku. Ia memperkenalkan keponakan laki-lakinya yang lulusan Fakultas Kehutanan. Walaupun kami sudah dipertemukan dan diberi kesempatan untuk saling mengenal, pada akhirnya malah kami berdua dengan penuh kesadaran sepakat untuk tidak melanjutkan pada keseriusan hubungan. Kebetulan kami berdua memang sama-sama tidak mempunyai ‘chemistry’ satu sama lain 😀

Setelah itu aku sempat berkenalan dengan lelaki lain dari berbagai daerah dan etnis. Tapi tak ada satu pun yang menjadi serius dan berkenan di hati. Penyebabnya tentu saja bukan karena aku yang terlalu rewel. Tapi memang entah mengapa setiap kali ada lelaki yang sebetulnya aku sudah merasa cocok dengannya, ternyata laki-laki itu sudah punya calon pendamping atau sudah menikah atau belum ‘sreg’ denganku.

Nah, sebaliknya ketika ada lelaki yang tertarik padaku, dari yang mengejar-ngejarku, memaksa mengantarku kuliah, menulis surat untukku dengan bahasa yang indah dan puitis, sampai yang mengajakku ketemuan padahal sudah punya istri. Entah mengapa, semuanya tidak ada yang cocok di hatiku?

Semua kenyataan ini membuatku semakin gelisah. Karena waktu terus berlalu dan usiaku juga terus bertambah. Apalagi kalau ada yang berulangkali menanyakan perihal pasangan hidup kepadaku. Sedangkan statusku dari tahun ke tahun masih saja jomlo. 😥

Hingga suatu hari saat menjelang acara wisuda sarjanaku, ada seorang laki-laki dewasa berasal dari Jawa Timur yang kembali diperkenalkan padaku. Awalnya aku diperlihatkan sebuah foto seorang lelaki dewasa bermata sipit oleh ibuku. Kata ibuku, dia adalah saudara kenalan ibuku yang juga sedang mencari jodoh dan umurnya sudah memasuki tiga puluh tahunan.

Ia adalah seorang pedagang muslim keturunan Tionghoa yang mempunyai sebuah toko sembako di daerah Bangil, Jawa Timur. Singkat kata, ia mempunyai usaha yang sudah mapan dan tahun ini sudah berencana untuk berangkat haji. Tentu saja kedua orang tuaku sangat mendukungku untuk berkenalan dan menjalin hubungan serius dengannya.

Maka ketika ia datang ke Magelang untuk berjumpa dengan kami sekeluarga, kami menyambutnya dengan baik. Selama beberapa saat terjalin pembicaraan yang akrab di antara kami. Hingga ketika lelaki itu berpamitan pulang, sempat terbersit setitik harapan di hatiku.
Terlebih ketika beberapa hari kemudian aku menerima kiriman surat darinya. Di dalam suratnya ia menceritakan tentang keluarganya, pekerjaannya, dan kondisi kota tempat tinggalnya. Aku pun membalas suratnya dengan senang hati. Aku juga menceritakan berbagai hal tentang diriku dan keluargaku. Lalu dia membalas suratku lagi dengan kata-kata yang semakin akrab. Dan aku kembali membalas suratnya. Begitulah seterusnya kami saling berkirim surat.

Saat itu harapanku akan keseriusan hubungan kami ini menjadi semakin besar ketika melihat respon positif dari setiap isi suratnya. Saat dia akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pun ia sempat memberi kabar, berpamitan dan memohon padaku untuk mendoakannya agar selamat dalam perjalanan dan menjadi haji mabrur. Aku ikut merasa senang karena sebagai seorang mualaf, ia telah membuktikan keseriusannya dalam beribadah, di antaranya dengan menunaikan Rukun Islam yang kelima itu.

Setelah hampir 2 bulan berlalu, aku mulai gelisah karena suratnya tak kunjung datang lagi. Tapi aku mencoba berprasangka baik. Mungkin sekembalinya dari ibadah Haji dia sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sampai suatu sore, sepulangku dari kios ibuku, aku menemukan sepucuk surat di atas meja. Aku berseru gembira ketika kutahu bahwa itu adalah surat darinya yang sudah lama kutunggu-tunggu selama ini. Dengan tak sabar, kusobek amplopnya lalu kubaca suratnya.

Dari awal kata pembuka suratnya hingga setengah bagian surat itu aku masih merasa senang membacanya. Karena di dalam surat itu dia menceritakan suasana dan keadaannya saat beribadah Haji. Tapi ketika aku mulai membaca bagian pertengahan hingga akhir suratnya, alisku menjadi berkerut. Dan aku menjadi sangat terkejut ketika aku membaca kalimat ini,

“Irma, saya senang karena hubungan di antara kita selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Tapi karena ada beberapa hal yang tak bisa saya ceritakan di sini, saya minta maaf ya Irma… Saya tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini menjadi hubungan yang lebih serius. Walaupun begitu tali silaturahmi di antara kita jangan putus ya. “

Kata demi kata dalam kalimat itu serasa menghancurkan bongkahan harapanku dengan seketika. Harapanku untuk bisa didampingi olehnya saat wisuda sarjana. Harapanku untuk bisa menikah dengannya seusai wisuda sarjanaku. Harapanku untuk bisa bersama-sama mengelola usaha yang telah dimilikinya sesudah menikah nanti. Yah, semua harapanku itu kini telah sirna. Yang ada hanyalah harapan yang kosong… 😥

Aku lalu duduk termenung di sebuah kursi di ujung ruang tamu. Dalam kesendirian dan kesedihanku itu, aku hanya bisa menangis, meratapi nasibku ini, “Ya Allah… Mengapa selalu berakhir begini? Mengapa jodohku tak kunjung datang? Apa salahku ya Allah. Aku lelah dengan semua penantian ini…” Berbutir-butir air mata mengalir deras ke pipiku.

Ketika kedua orang tuaku mengetahui tentang kabar ini, mereka juga terkejut. Mereka tak mengira hubungan kami yang sudah terbina dengan baik itu bisa kandas begitu saja. Tapi mereka hanya bisa menghibur, membesarkan hati dan mendoakanku.

“Sabar ya Fang… Jangan berhenti untuk terus memohon pertolongan kepada Allah. Karena Allah itu Maha Penolong dan Maha Penyayang. Allah juga Maha Mengetahui. Dia tahu siapakah yang nanti akan menjadi jodoh terbaikmu sehingga akan menghadirkannya di waktu yang tepat. Siapapun yang hadir, namun pada akhirnya belum berjodoh denganmu, berarti ia bukan yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Kesabaran itu memang pahit, namun pasti akan berbuah manis”

Untuk mengobati semua kekecewaan dan untuk menumbuhkan kembali rasa optimisku, seusai wisuda sarjana aku mengisi waktu dengan bekerja di beberapa tempat. Dari bekerja di kota Yogyakarta sampai ke kota Jakarta.
Hingga akhirnya aku bergabung di Yayasan Haji Karim Oei Jakarta dan bersahabat dengan Linda seorang mualaf keturunan Tionghoa yang berasal dari Nusa Tenggara Barat.

Bersambung

Pertemuan Singkat

Standar

Pagi ini cuaca di kota Jakarta cukup cerah. Suasana kota metropolitan ini mulai tampak sibuk dengan berbagai aktivitas warganya. Di jalan raya juga sudah ramai dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang mempunyai tujuan dan arahnya masing-masing.

Ada yang menggunakannya untuk mengantar anaknya ke sekolah. Ada yang memakainya untuk berbelanja ke pasar. Ada juga yang mengendarainya untuk berangkat ke kantor. Mereka sebagian mengendarai kendaraan pribadi. Sedangkan sebagian yang lain naik motor atau menumpang kendaraan umum.

Sementara itu, pagi ini aku sedang bersiap-siap akan berangkat ke daerah kota. Beberapa hari yang lalu pengurus Yayasan Haji Karim Oei Pusat memberi informasi bahwa pada hari ini akan diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei di sana.

Saat itu aku masih belum tahu persis lokasinya. Aku masih bingung, bila berangkat dari daerah Kelapa Gading menuju ke sana, bus kota atau mobil angkot yang jalur berapa yang harus kutumpangi? Aku sudah tanya ke beberapa orang, tapi informasinya kok berbeda-beda? Entah yang mana yang benar? Kalau naik taksi aku tak mau nanti bayarnya jadi mahal ketika nanti tejebak kemacetan di jalan. Maklum di masa itu belum ada taksi online.

Akhirnya aku memilih naik bajaj saja. Meskipun suara mesin kendaraannya agak berisik, tapi aku tak perlu khawatir biayanya jadi membengkak. Aku pun bisa leluasa bertanya ke supir bajaj atau orang yang kutemui di jalan, di mana lokasi yang akan kudatangi ini nanti.

Naik bajaj juga ada kesenangan tersendiri. Aku bisa melihat-lihat suasana jalan dengan leluasa. Sembari menikmati semilirnya angin bila keadaan jalan sedang lancar. Kondisi menjadi berbeda bila jalanan sedang macet. Tak hanya asap kendaraan yang bisa menyesakkan dada. Lama kelamaan udara pun terasa pengap dan gerah.

“Ir, ayo masuk cepetan… ! Sudah ada yang nunggu kamu di dalam! Kalau kamu nggak mau, entar buat aku saja, lho…”

Linda berseru memanggilku, begitu melihatku hadir di antara kerumunan peserta acara Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam Yayasan Haji Karim Oei yang berlangsung pada hari Sabtu, 12 Juli 1997 di Jakarta. Dengan cepat Linda menarik tanganku masuk ke dalam ruangan tempat acara berlangsung.

Emang ada apa sih? Siapa yang nunggu aku? Terus apanya yang buat kamu?”

Aku malah jadi merasa heran dengan tingkah sahabatku itu yang tampak heboh dan seperti menyembunyikan sesuatu. Sedangkan aku baru saja tiba di tempat, setelah sebelumnya bajaj yang kutumpangi tadi sempat terjebak macet di jalan.

Fiuuuh..!”
Aku menghela nafas sambil menyeka keringat yang menetes di dahiku.

Ketika kami memasuki ruangan tersebut, acara baru saja dimulai. Baru diisi sambutan-sambutan oleh para pimpinan yayasan yang menyelenggarakan acara ini. Yaitu Yayasan Haji Karim Oei, Yayasan Bina Pembangunan dan Yayasan Amanah Ummat.

Ruangan tampak sudah dipenuhi oleh para peserta. Peserta acara ini sebagian besar adalah para mualaf yang tergabung dalam Yayasan Haji Karim Oei. Baik dari Pusat (Jakarta), cabang Bandung dan cabang Cirebon. Aku dan Linda adalah dua di antara peserta dari Yayasan Haji Karim Oei Pusat.

Baru saja aku mendapatkan tempat duduk, tiba-tiba seorang panitia memintaku maju ke depan untuk membaca Al Qur’an sebagai pembuka acara ini.

Deg!! Waduh, kok mendadak banget, sih… Keringat dingin menetes lagi di dahiku. Aku langsung mencari ayat Al Qur’an yang kandungan maknanya kira-kira tepat untuk acara hari ini. Setelah kutemukan dan kubaca sekilas, aku langsung maju ke depan.

Bismillahirrahmanirrahiim, Ya Allah berilah hamba kelancaran dalam membaca ayat-ayat Al Qur’an ini. Aamiin..” dalam hati aku berdoa.

Ayat demi ayat dari surat Al Mukminun pun kubaca perlahan. Ayatnya memang pendek-pendek namun maknanya dalam karena berisi tentang asal muasal kejadian manusia dan beberapa ciri-ciri orang mukmin yang beruntung. Aku hanya membaca dari ayat 1 sampai ayat 16 mengingat waktu yang terbatas.

Alhamdulillah, akhirnya tugasku itu dapat kuselesaikan dengan baik dan lancar. Ketika aku kembali ke tempat dudukku dan belum sempat menanyakan lagi beberapa hal yang masih belum kupahami tadi ke Linda, ia malah membuatku makin penasaran dengan membisikiku, “Eh Ir, kamu tuh belum tahu toh? Kamu tuh mau dikenalin, lho…”

Hah, masa sih? Aku malah baru tahu, lhoEmangnya aku mau dikenalin sama siapa, sih Lin?

“Sama itu tuh yang wajahnya ganteng kayak bintang film Hong Kong itu, lho…,” kata Linda sambil menunjuk ke arah sosok lelaki yang ia maksud dan duduk di seberang kami.

“Hmmm.., “ aku hanya menggumam perlahan sambil diam-diam memperhatikan lelaki yang sedang membaca sebuah koran itu. Entah karena sadar sedang aku perhatikan atau karena kebetulan saja, lelaki itu tiba-tiba menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain karena malu.

Lalu aku bertanya lagi kepada Linda tentang lelaki yang sedang gencar ‘di’promosi’kannya itu. Kata Linda, lelaki itu merupakan salah seorang peserta dari Yayasan Haji Karim Oey Cabang Cirebon.

Berdasarkan informasi yang kuperoleh, ia memang sengaja hadir di sini, tidak hanya untuk mengikuti acara Pelatihan, namun juga karena akan dipertemukan dan diperkenalkan denganku. Hal ini atas inisiatif para pimpinan Yayasan Haji Karim Oei Pusat maupun cabang Cirebon.

Jadi… , pertemuan ini ternyata memang sudah direncanakan ya…?!

Aku semakin paham ketika ‘coffee break’ dan ‘ishoma’, lelaki berkulit putih dan bermata agak sipit itu mulai mendekatiku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Hugo, tinggalnya di Losari Cirebon. Nama yang unik. Selanjutnya kami saling bertukar nomer telepon.

Ayo Koh Hugo, besok Minggu datang juga dong ke acara pengajian rutin YHKO di Masjid Lautze Jakarta! Irma besok juga ke sana, lho. Entar kita bawain rujak deh… ”

Linda makin bersemangat ‘ngomporin’ kami berdua.
Aku tahu sahabat baikku itu ikut senang melihat pertemuan kami ini dan dia mendukung agar hubungan kami berkelanjutan sehingga menjadi lebih serius.

Insya Allah ya, “ begitu jawab Koh Hugo sambil tersenyum. Akhirnya ketika acara selesai, kami saling berpamitan pulang. Aku pulang ke kosku di daerah Kelapa Gading dengan beribu perasaan yang campur aduk tak menentu.

Saat hari semakin malam aku malah tak bisa tidur karena memikirkan pertemuan singkatku tadi dengan Koh Hugo dan masa depanku.

Sejujurnya, aku sudah benar-benar lelah dan pesimis kalau membicarakan masalah pasangan hidup, masalah jodoh, masalah dikenalin, masalah dipertemukan.., dan lain sebagainya..

Setelah kegagalan demi kegagalanku dalam menjalin hubungan dengan beberapa lelaki yang sudah pernah dipertemukan atau diperkenalkan padaku beberapa waktu yang lalu, mengakibatkanku tak bersemangat lagi dalam hal ini karena aku tak mau lagi menelan pil pahit kekecewaan.

Sebelum tidur kupanjatkan doa kepada Allah Swt agar aku diberi-Nya jodoh dan kehidupan yang terbaik, dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Bersambung –

Suka Duka Mengelola Rumah Belajar Cirebon bersama Para Staf dan Guru

Standar

Selama tiga belas tahun mengelola Rumah Belajar Cirebon, banyak pengalaman suka dan duka yang kurasakan. Dari senangnya mempunyai ratusan murid sampai sedihnya saat murid hanya tinggal beberapa gelintir saja. Dari bangganya mendapat reward Jarimatika Pusat ke Singapura hingga paniknya saat mengalami kerugian dan harus nombok untuk gaji staf dan guru.

Mengelola sebuah lembaga kursus memang susah-susah gampang. Karena bukanlah sebuah usaha yang semata-mata hanya mencari keuntungan belaka. Jadi butuh kesabaran, keikhlasan, penuh pengertian dan tahan banting terhadap pasang surutnya kondisi finansialnya.

Berkat dukungan para staf dan guru yang loyal bekerjasama denganku, alhamdulillah Rumah Belajar Cirebon bisa tetap berjalan dan bertahan sampai sekarang.

Ada beberapa hal yang memberi kebahagiaan tersendiri di hatiku. Yaitu ketika aku bisa berbagi rezeki dari hasil kursus kepada staf dan guru dengan memberi mereka gaji, melihat murid-murid semangat belajarnya dan saat mendengar kesaksian orangtua murid yang puas dengan kemajuan belajar anaknya.

Di samping itu, banyak kisah inspiratif yang kuperoleh bersama para staf dan guru selama mengelola Rumah Belajar Cirebon. Beberapa staf dan guru di Rumah Belajar Cirebon telah menunjukkan ketangguhan, kejujuran dan tanggung jawabnya dalam setiap tugas mereka.
Berikut ini beberapa guru yang sampai sekarang masih mengajar di Rumah Belajar Cirebon:

1. Bu Rita S.Si adalah guru yang jago matematika. Ia telah menjadi guru Jarimatika sejak tahun kedua berdirinya Rumah Belajar Cirebon (2007). Sekarang Bu Rita juga mengajar Matematika APIQ. Sudah banyak murid yang dibantunya hingga mampu menguasai metode Jarimatika dan APIQ. Anak-anak jadi lebih mudah dalam berhitung dan menyelesaikan soal-soal matematika. Keakraban dengan murid-muridnya pun terjalin dengan baik karena Bu Rita selalu menganggap mereka seperti anaknya sendiri. Hampir setiap hari bu Rita berangkat mengajar dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan motor dari rumahnya di daerah Palimanan. Untuk menambah penghasilannya, ia juga berjualan berbagai produk seperti tas, peralatan makan, dan lain-lain.

2. Pak Akhmad Yani S.Pd.Cht, guru Matematika APIQ, E Learning for Kids, i-tutor.net dan Bimbel yang sabar, tulus, loyal, cerdas, ulet dalam setiap tugas yang diberikan. Baik tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar maupun pembuatan dokumen penting untuk Rumah Belajar Cirebon. Pak Akhmad menjadi guru di Rumah Belajar Cirebon sejak bulan Juni 2009. Ia juga membantu usaha spare part milik suamiku (Specia Mandiri) sejak tahun 2014. Sekarang ia tengah menempuh studi Pasca Sarjana jurusan Bahasa Inggris di Unnes Semarang.

3. Bu Neneng S.Pd.I, guru Calistung Cahaya Bintang yang sudah biasa dan telaten mengajar anak-anak usia dini. Bu Neneng mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2013.

4. Ms. Hesti SE, guru E Learning for Kids yang mengajar di Rumah Belajar Cirebon sejak tahun 2014. Di sela kesibukannya mengurus dua orang anaknya, ia tetap berusaha meluangkan waktunya mengajar di Rumah Belajar Cirebon. Untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarganya, Ms. Hesti juga berjualan aneka baju muslimah dan perlengkapannya. Ms. Hesti termasuk guru yang lembut dan bagus pendekatannya ke anak-anak sehingga mampu membuat murid-muridnya betah belajar.

5. Kak Niko, guru Art Kids Studio yang ‘nyeni’ dan kreatif. Kelihatannya pendiam tapi ternyata enak diajak ngobrol. Kak Niko adalah salah seorang personil Sinau Art yang senang membuat kerajinan dari kayu. Ia mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2015.

6. Bu Tri S.Pd. guru Calistung Cahaya Bintang yang enerjik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang bisa menambah wawasannya. Kalau pagi ia mengajar di TK. Bu Tri mengajar di Rumah Belajar Cirebon sejak tahun 2016.

7. Puri, guru Art Kids Studio dan Matematika APIQ. Mulai mengajar dari bulan November tahun 2018. Sekarang sedang menunggu proses sidang dari skripsinya di Fakultas Matematika, IAIN Sunan Gunung Jati, Cirebon. Ia sangat peduli terhadap keluarga dan lingkungan masyarakatnya di daerah Losari. Saat Losari kemarin terkena musibah banjir, Puri ikut aktif menggalang dana untuk membantu korban banjir di sana.

8. Bu Nia, termasuk guru baru Calistung Cahaya Bintang. Mulai mengajar pertengahan tahun 2019. Pagi harinya ia mengajar di TK. Sesudah itu sorenya mengajar di Rumah Belajar Cirebon.

9. Bu Nur’aeni S.Pd. guru Jarimatika yang ramah dan ceria. Ia masih termasuk guru baru, karena mulai mengajar di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2018. Semula mengajar ekskul Jarimatika di SDIT Sabilul Huda. Sekarang mengajar kelas reguler Jarimatika di Rumah Belajar Cirebon. Saat ini Bu Nur’aeni juga sedang menempuh kuliahnya di Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon, jurusan Ekonomi Islam.

10. Pak Ammar S.Pd.i, juga guru baru di Rumah Belajar Cirebon. Mulai mengajar tahun 2018. Semula mengajar ekskul Jarimatika di SDIT Sabilul Huda. Sekarang mengajar kelas reguler.

11. Inayah S.Pd. baru saja lulus dati kuliahnya di UPI Bandung jurusan PGSD. Saat ini mengajar ekskul E Learning for Toddlers di TKIT Nurushshidiq. Mulai mengajar ekskul dari bulan Januari tahun 2019.

12. Saddam Husein S.E., staf administrasi yang ulet dan cekatan dalam mengurus pendaftaran murid baru, pembayaran SPP, memberikan informasi tentang program kursus di Rumah Belajar Cirebon, sekaligus mengurus toko/kantin. Saddam mulai bekerja di Rumah Belajar Cirebon dari bulan Agustus 2018. Berkat keuletannya, penambahan jumlah murid meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Selain itu Saddam juga mampu memperbaiki ketertiban pembayaran SPP murid.

13. Pak Ramdia, staf cleaning service dan juru parkir yang menjaga keamanan kendaraan di area parkir. Pak Ramdia mulai bekerja di Rumah Belajar Cirebon dari tahun 2006.

Last but not least adalah Ms. Puji S.Pd, guru bahasa Inggris (e Learning for Kids) yang selalu enerjik dan kreatif dalam mengajar. Meskipun sementara ini terpaksa ia berhenti mengajar karena baru saja melahirkan anak ke tiganya dan rumahnya sudah pindah ke lokasi yang makin jauh dari Rumah Belajar Cirebon, namun dedikasinya dalam mengajar sejak tahun 2007 tak pernah kulupakan. Ms. Puji kini membuka toko busana muslimah di rumahnya sambil mengasuh ketiga anaknya untuk menunjang kelangsungan ekonomi keluarganya. Semoga nanti suatu saat bisa mengajar kembali.

Nah, demikianlah sekilas kisahku saat merintis dan mengelola Rumah Belajar Cirebon bersama para staf dan guru Rumah Belajar Cirebon yang tangguh.

Kesulitan dan kegagalan yang pernah kami alami memang acapkali hampir meruntuhkan semangat kami. Rasa putus asa pun beberapa kali hinggap dan menghalangi langkah kami.
Sehingga sempat terpikir untuk menutup usaha ini.

Namun kekompakan dan loyalitas mereka menjadi spirit yang mampu memotivasiku untuk terus mempertahankan Rumah Belajar Cirebon.

Semoga Allah Swt. meridhai dan memberkahi usaha kami dalam mengelola Rumah Belajar Cirebon. Sehingga kami mampu menebar kebaikan dan ilmu yang bermanfaat kepada semua yang terlibat di dalamnya maupun kepada masyarakat. Allahumma aamiin…

Mengembangkan Program Kursus di Rumah Belajar Cirebon

Standar

Aku bersyukur ketika program i-tutor.net yang menjadi program kursus pertama di Rumah Belajar Cirebon dan telah kurintis sejak bulan November 2006 itu kini sudah mulai berjalan. Alhamdulillah

Tapi setelah beberapa bulan berjalan, kuperhatikan penambahan jumlah murid selama ini tidak pernah mencapai lebih dari 30 murid. Yang ada justru frekuensi murid yang keluar lebih banyak. Aku merasa heran dan hampir berputus asa.

Sekilas aku teringat komentar salah seorang rekan yang pernah mempertanyakanku, mengapa membuka kursus di jalan Evakuasi? Menurutnya, kawasan jalan Evakuasi itu terlalu sepi dan tidak cocok untuk membuka usaha kursus di daerah ini. Kalau mau membuka usaha kursus lebih baik di daerah kota. Begitu katanya.

Hmm, mungkin ada benarnya juga ya? Tapi aku tidak memiliki rumah di daerah kota dan tidak berniat menyewa tempat juga di sana. Aku masih ingin mencoba bertahan dan berusaha lebih maksimal. Aku ingin tahu, mengapa murid-muridku tidak bertahan lama?

Beberapa orang tua murid pun kutanya, apakah putra/putrinya selama mengikuti kursus di tempat kami mengalami kendala atau masalah?

Setelah mengumpulkan dan menganalisa semua keluhan murid dan orang tuanya, barulah kutemukan penyebabnya. Ternyata sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa bobot materi i-tutor.net terlalu tinggi sehingga anak-anaknya mengalami kesulitan dalam memahaminya.

Oleh karena itu, aku segera menghubungi salah seorang pengurus di kantor Pusat i-tutor.net untuk berkonsultasi. Apakah materi i-tutor.net tepat sasaran bila diberikan untuk anak usia TK sampai SD sebagaimana yang disarankan waktu training guru di sana? Ternyata mereka mengiyakan. Tapi mengapa bagi anak-anak di kota kami kurang cocok ya?

Setelah kupelajari kembali, akhirnya kutemukan penyebab ketidakcocokkan materi ini. Kurikulum i-tutor.net menggunakan kurikulum sekolah dasar di Singapura, yang mana bahasa Inggris disana adalah sebagai salah satu bahasa yang dipakai sehari-hari. Berbeda dengan di Indonesia, khususnya di daerah seperti di kota Cirebon. Bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing. Kalau di kota Jakarta sebagian anak-anaknya sudah bersekolah di sekolah internasional, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam mempelajarinya.

Sejak itu aku membuka program bahasa Inggris i-tutor.net ini untuk anak-anak yang dimulai dari kelas 4-6 SD. Sedangkan untuk anak-anak TK hingga kelas 3 SD, aku membuka program baru yaitu Little Bee. Sebuah program baru yang kurancang sendiri dengan tujuan mempersiapkan anak-anak sebelum masuk ke program i-tutor.net dengan memperkuat basic bahasa Inggrisnya terlebih dahulu.

Alhamdulillah secara bertahap usaha ini membawa hasil positif. Anak-anak bisa belajar bahasa Inggris sesuai dengan kemampuannya. Dan perlahan murid pun mulai bertambah kembali.

Di sekitar bulan Mei tahun 2007, aku mulai membuka program Jarimatika. Aku mendapatkan informasi tentang program ini dari Pak Iwan yang datang dan memperkenalkan program tersebut kepadaku. Program berhitung menggunakan jari tangan ini ditemukan serta dikembangkan oleh bu Septi Peni Wulandani, seorang ibu rumah tangga profesional dan kreatif dari Salatiga.

Sebetulnya aku sudah mengenal metode Jarimatika ini sebelumnya melalui buku tentang Jarimatika yang dulu pernah kubeli di toko buku Gramedia. Tujuanku membeli buku tersebut waktu itu untuk membantu Salma mengenal dasar-dasar berhitung. Tapi aku belum mempelajarinya sampai tuntas sehingga belum sempat mengajarkannya.

Aku kembali mempromosikan program Jarimatika melalui koran, acara-acara seminar dan demo praktik Jarimatika oleh anak-anak yang sudah menguasai metodenya dengan dibantu oleh Bu Dina, Bu Novi dan Bu Rita sebagai guru-guru Jarimatika pertama.

Orang-orang banyak yang tertarik karena program berhitung dengan metode Jarimatika ini memang mudah dan menyenangkan. Sehingga dalam waktu singkat, banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk belajar Jarimatika di tempat kami.

Penambahan jumlah siswa Jarimatika berlangsung cepat dan fantastis. Bahkan pernah mencapai 200 murid. Sehingga unit kami pernah mendapat penghargaan dari Jarimatika Pusat karenanya. Tiket gratis wisata ke Singapura juga kuperoleh sebagai reward-nya. Alhamdulillah

Dengan banyaknya anak-anak yang terbantu dalam belajar berhitung, les Jarimatika ini menjadi semakin banyak peminatnya. Apalagi Salma dan beberapa murid kami yang menggunakan metode Jarimatika dapat membuktikan prestasinya dengan meraih prestasi di beberapa lomba matematika.

Untuk melengkapi program kursus dengan seni menggambar, aku bekerjasama dengan lembaga pendidikan ESC di program Global Art/ kursus menggambar dan mewarnai untuk anak-anak dari Malaysia. Programnya bagus dan sistematis cara belajarnya. Namun sayang, untuk daerah di sekitar kami tampaknya kurang terjangkau dari segi biaya kursusnya. Sehingga murid yang mendaftar juga tidak banyak.

Sementara itu kami ditarget harus mempunyai sekian banyak murid setiap bulannya. Karena merasa belum sanggup, aku menyerah dan tak melanjutkan kerjasama lagi.

Setelah itu ada lagi yang datang dari Bandung menawarkan program bahasa Inggris (E Learning for Kids) dan menggambar (Art Kids Studio). Aku mengambil kedua program tersebut untuk melengkapi program kursus yang sudah ada. Apalagi kedua program tersebut bisa menjadi solusi pengganti dua program sebelumnya. Program E learning for Kids menggantikan program Little Bee dan Art Kids Studio menggantikan Global Art.

Aku juga pernah membuka kursus balet Little Fairy dan kursus masak untuk anak Fun Cooking sebagai kursus alternatif yang tujuannya untuk menyalurkan minat dan bakat anak selain menggambar.

Kedua kursus tersebut awalnya mendapat respon positif dengan banyaknya orang tua yang mendaftarkan anaknya. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, ketika guru les baletnya sedang hamil dan di sekolah-sekolah mulai diberlakukan full day school, terpaksa kedua kursus tersebut tak kulanjutkan lagi.

Pada perjalanan berikutnya dalam mengelola berbagai macam program kursus ini, aku kembali mengambil program baru sebagai alternatif dan solusi atas masalah yang sering timbul. Program baru yang kuambil adalah Matematika APIQ dan Abaca/ Calistung Cahaya Bintang.

Program Matematika APIQ sebagai solusi untuk anak-anak yang ingin belajar matematika sekolah secara langsung, khususnya untuk anak-anak yang sudah kelas 4 SD ke atas. Serta sebagai tahap belajar matematika setelah menyelesaikan program Jarimatika.

Sedangkan program Abaca /Calistung Cahaya Bintang sebagai alternatif belajar membaca, menulis dan berhitung dari dasar, step by step, dengan cara yang fun dan berdasarkan multiple intelligence. Sehingga anak senang membaca buku dan mendapatkan dasar berhitung.

Dengan banyaknya program kursus tersebut, kadang orang-orang yang akan mencari alamat kursus kami merasa kesulitan untuk menentukan nama kursusnya karena ada bermacam-macam nama programnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kami memberi sebuah nama khusus untuk tempat kursus kami sebagai wadah untuk semua program kursus yang ada. Tujuannya selain mempermudah saat mencarinya, juga agar lebih mudah dikenal. Nama yang kami berikan adalah: Rumah Belajar Cirebon.

Kami memilih nama tersebut karena tempat belajar ini memang berawal dari sebuah rumah tempat tinggal kami yang kini digunakan sebagai tempat belajar bernuansa rumah. Penambahan kata “Cirebon” di belakangnya selain untuk memperjelas lokasinya, juga untuk membedakan tempat belajar/les lain yang menggunakan nama serupa.

Logo Rumah Belajar Cirebon yang berupa gambar lebah sedang membawa buku dan pensil itu adalah karya Salma saat masih berusia 6 tahun. Gambarnya kujadikan logo karena kurasa dapat mewakili harapan kami untuk tempat les ini.

Sebagaimana lebah yang makanan, lingkungan serta yang dihasilkannya baik dan bermanfaat. Harapan kami, Rumah Belajar Cirebon juga mampu menjadi tempat belajar yang memberikan ilmu serta lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk kami, staf dan guru, serta murid dan orangtuanya. Sehingga menjadi berkah untuk semuanya. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

Kilas Balik Berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan Kelas Pertamanya

Standar

Sebuah bangunan rumah berhalaman luas yang terletak di jalan Evakuasi No. 1 Cirebon itu awalnya adalah sebuah rumah tempat tinggalku bersama suami dan putri semata wayangku.

Sebuah rumah nyaman dan asri yang membuat kami sekeluarga betah tinggal di sana. Rumah yang sangat berarti bagi kami karena merupakan rumah milik kami sendiri dari hasil jerih payah suamiku bekerja. Sebelumnya kami tinggal menumpang di rumah kakak iparku di perumahan Pegambiran Estate.

Dari sebidang tanah kosong di daerah yang masih sepi, suamiku merancangnya menjadi sebuah rumah dengan ukuran yang besar dan halaman yang luas agar kelak menjadi tempat pertemuan antar keluarga saat kedua orangtuaku jadi tinggal bersama kami. Selain itu supaya kedua orang tuaku merasa betah dan nyaman tinggal di rumah kami.

Sebelumnya aku dan suami memang sudah berniat mengajak kedua orang tuaku untuk pindah ke kota Cirebon agar mereka bisa tinggal dekat bersama kami. Apalagi saat itu kondisi rumah mereka di Magelang sudah banyak yang harus segera diperbaiki. Semula mereka bersedia. Tapi saat rumah kami sudah selesai dibangun dan siap ditempati, mereka berubah pikiran

Walaupun sedikit kecewa, tapi aku bisa memahami mereka. Kota Magelang adalah kota tempat di mana sejarah hidup mereka terukir. Setiap sudut kotanya sudah menjadi menjadi bagian dari perjalanan kehidupan mereka. Di kota tersebut juga lebih banyak sanak saudara dan teman mereka.

Sementara rumah yang sudah terlanjur dirancang dan dibangun dengan ukuran yang cukup besar, ruangan yang banyak dan halaman yang luas ini akhirnya hanya ditempati kami bertiga saja (aku, suamiku dan putriku). Rasanya kami bagai mendiami sebuah istana dengan halamannya yang luas.

Salma, putriku yang saat itu masih berusia 3 tahun pun tampak menikmati luasnya halaman rumah yang kami tanami dengan berbagai tanaman buah dan bunga. Setiap pagi atau sore hari Salma senang memetik bunga atau berlari-lari mengejar kupu-kupu atau capung yang terbang disekitar halaman luas kami. Kami juga sering menikmati singkong goreng yang lezat dan buah-buahan segar dari hasil kebun kami.

Saat Salma mulai bersekolah di play group dan TK, suasana bermain dan belajar bersama teman-temannya di sekolah menjadi kegembiraan tersendiri baginya. Selama ini, sebagai anak tunggal Salma lebih sering bermain sendiri. Sesekali anak-anak tetangga yang tinggal di belakang rumah juga suka main ke rumah kami sehingga bisa menjadi teman bermainnya Salma.

Ketika Salma memasuki usia 5 tahun, aku mengadakan pesta ulang tahunnya di rumah dengan mengundang guru, teman-teman sekolahnya serta anak-anak tetangga kami. Aku mencoba mengemas acaranya lain dari yang lain, tak seperti pesta ulang tahun kebanyakan.

Di acara ulang tahun ini aku menggabungkan suasana pesta dengan suasana bermain, bernyanyi dan belajar yang seru di halaman rumah kami. Aku bekerjasama dengan guru-guru dari tempat lesnya Salma (Fastrack Kids) yang kebetulan menyediakan paket ulang tahun.

Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar dan sukses. Dan yang membuat kami senang…, tidak hanya Salma dan teman-temannya yang gembira. Semua guru dan mama-mamanya juga ikut menikmati serunya acara ini.

Keceriaan anak-anak dan kesuksesan acara ulang tahun Salma tersebut memberiku inspirasi untuk membuat sebuah tempat belajar yang bernuansa rumah dan taman, yang bisa membuat anak-anak belajar sambil bermain dengan nyaman dan aman.

Apalagi selama ini aku juga sering mengalami kesulitan saat menunggu dan mencari mobil angkot setiap kali mengantar Salma menuju ke tempat les. Ketika itu masih jarang mobil angkot yang lewat depan rumah kami. Sedangkan pada waktu itu aku belum bisa mengemudikan mobil.

Kalau aku membuka les di rumah sendiri, Salma tak lagi belajar sendirian karena akan banyak anak-anak yang datang dan menjadi teman belajar Salma di rumah kami. Aku bisa memanfaatkan beberapa ruangan yang kosong menjadi ruangan kelas. Anak-anak pasti nanti juga akan gembira bila belajar dan bermain di halaman rumah kami yang luas.

Inspirasi yang timbul itu membuatku bersemangat mencari informasi franchise pendidikan di beberapa majalah. Padahal sebelumnya aku pernah punya rencana untuk membuka apotik. Tapi baik aku maupun suami kan tidak punya background apoteker sama sekali ya. Pernah juga terpikir ingin membuka perpustakaan. Tapi sepertinya minat baca warga kota Cirebon masih agak kurang.

Suatu hari di tahun 2006, aku membaca sebuah artikel pada sebuah majalah yang membahas program kursus bahasa Inggris yang menggunakan multimedia dan proyektor. Pada program ini, anak-anak seperti menonton film animasi, tapi sambil belajar dan bermain. Wah, menarik juga ya…

Apalagi bila membeli program bahasa Inggris tersebut, nanti sekaligus akan mendapatkan program bahasa Mandarin dan program Matematika serta Sains dalam bahasa Inggris.

Nama programnya adalah i-tutor.net, beralamat di Jakarta. Aku meminta izin kepada suamiku untuk mencari informasi lebih lanjut tentang program kursus tersebut dengan langsung mengunjungi kantornya di sana.

Semula suamiku tidak mengizinkan. Tapi setelah kujelaskan sekilas tentang programnya, barulah suami memberiku izin berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh adik laki-lakiku. Suamiku tidak bisa mengantarku karena sedang ada kesibukan lain.

Setelah sampai di kantor i-tutor.net Jakarta dan mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang programnya, aku semakin tertarik dan keinginanku untuk membuka kursus tersebut di rumah semakin kuat.

Saat itu juga aku langsung mengambil programnya dengan biaya franchise Rp. 10 juta dan berlaku seumur hidup. Jadi nanti untuk selanjutnya tidak akan ada biaya perpanjangan kerjasama lagi.

Kadang sampai sekarang aku tak habis pikir, kok bisa senekat itu. Sebab biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Dan di luar dugaan, suamiku pun mengizinkanl dan langsung mentransfer uang untuk biaya franchise tersebut. Mungkin itu memang sudah jalan rezeki dari-Nya.

Setelah semua peralatan untuk program kursus i-tutor.net tersedia, aku mulai merancang ruangan yang akan kujadikan sebagai kelas pertama dari kursus yang nanti akan kubuka. Ruangan yang kupakai di rumah adalah ruang paviliun.

Sebagai tahap awal aku membuat kelas dengan meja lesehan dengan lantai yang kuberi alas karpet. Sebanyak 10 meja lesehan yang kutempeli logo i-tutor.net telah tertata rapi. Kini ruangan kelas telah siap digunakan.

Sedangkan ruang garasi kugunakan sebagai ruang administrasi dengan dilengkapi sebuah meja dan dua buah kursi. Sebagai alat promosi, aku memesan papan nama yang aku pasang di depan rumah. Dua buah banner juga aku pasang di ruang administrasi.

Aku mulai mempromosikannya dengan berbagai cara. Baik dengan memasang iklan di koran, menyebarkan brosur, memasang spanduk dan banner, memasang nama les di kaca mobil bagian belakang, membuka stand saat ada acara/bazaar di sekolah-sekolah, mengadakan presentasi ke sekolah-sekolah, mengadakan acara lomba, mengadakan kegiatan mengisi liburan, dan lain-lain.

Saat itu aku sudah tak mempedulikan lagi rasa malu dan gengsiku yang biasanya suka muncul. Yang penting aku berusaha dengan cara yang benar, halal dan semampuku dalam rangka merintis usaha kursus ini.

Alhamdulillah, usahaku mulai menunjukkan hasilnya. Satu demi satu orang mulai berdatangan. Ada yang baru mencari informasi tentang kursus, ada yang mau coba gratis dulu (sesuai dengan promo kami), ada juga yang langsung mendaftarkan putra dan putrinya.

Saat itu aku membuka 2 macam kursus. Yaitu kursus bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Program Matematika dalam bahasa Inggris aku selipkan sebagai bonus dalam program kursus Bahasa Inggris.

Pada tanggal 16 November 2006, kelas pertama kursus bahasa Inggris (jumlah siswa 5 anak, termasuk anakku) dan kursus bahasa Mandarin (jumlah siswa 2 anak, termasuk anakku) mulai berjalan. Saat itu aku masih ikut mengajar dengan dibantu oleh Ms. Iffah. Dengan berjalannya waktu, siswa makin bertambah sehingga aku harus menambah guru lagi.

Melalui referensi karyawati suamiku yang saat itu membuka toko pernak pernik “Rumahku” di jalan Bahagia, Cirebon, aku mendapatkan guru baru. Yaitu Ms. Nuri. Lalu ada Ms. Rita, Ms. Dwi, dan Ms. Citra, Ms. Fitri dan Mr. Gatot.

Demikianlah sekilas cikal bakal berdirinya Rumah Belajar Cirebon dan kelas pertamanya. Perkembangan selanjutnya dari Rumah Belajar Cirebon akan saya ceritakan pada kisah berikutnya ya…

Menimba Ilmu Menulis Cerita Anak dari Master-nya Litara

Standar

Berhasil lolos dalam seleksi naskah sebagai persyaratan mengikuti Free Workshop Penulisan Buku Cerita Anak yang diadakan oleh Litara, adalah sebuah rezeki dan kesempatan emas untuk belajar langsung dengan para master/ penulis Litara yang karyanya pernah mendapatkan penghargaan internasional.

Setelah kukirimkan dua naskah pictbook-ku ke Litara, aku pun mempunyai harapan yang sama. Ingin bisa lolos karena berharap mendapatkan kesempatan belajar tersebut. Apalagi workshop keren ini diadakan di Cirebon.

Allah Swt. mengabulkan harapanku. Ketika kubaca sebuah pengumuman di IG Litara yang menyebutkan nama-nama peserta yang lolos seleksi naskah, ada namaku tertera di dalamnya. Selain itu ada email masuk dari Litara yang memberikan informasi yang sama dan menggembirakan ini juga. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…

Workshop ini adalah salah satu even dari rangkaian acara Jagakali International Art Festival. Karena tema yang diangkat dari festival tersebut adalah tentang kepedulian terhadap lingkungan, maka tempat pelaksanaannya di sekitar daerah bertumpuknya sampah. Tepatnya di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Cirebon.

Begitu pun acara workshop dari Litara ini, pelaksanaannya tak jauh dari lokasi panggung utama Jagakali International Art Festival, yaitu di SD Cadas Ngampar, jalan Kopi Luhur.

Akhirnya saat yang kunantikan pun tiba. Pada hari Minggu tanggal 27 Oktober 2019 aku diantar suami, adik lelakiku dan Laura menuju ke lokasi acara dengan mobil. Sebelumnya kami sarapan soto Boyolali di daerah Perumnas.

Seusai sarapan, mobil langsung meluncur ke sana. Kami baru pertama kali memasuki daerah ini. Sehingga masih terasa asing. Awalnya suasana masih banyak rumah dan pepohonan. Tapi semakin ke atas, semakin gersang. Mungkin karena musim kemarau panjang juga.

Semakin mendekati lokasi, kami mulai melihat beberapa tumpukan sampah yang tersebar di sebelah kiri dan kanan jalan. Lingkungan yang seperti ini pasti sangat mengganggu kenyamanan penduduk sekitar. Bayangkan, mereka sehari-hari harus hidup di antara gundukan sampah yang tak hanya kotor, berbau dan tentu bisa menjadi sumber penyakit. Kondisi seperti ini sangat membutuhkan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

Beberapa saat kemudian kami sampai di tujuan. Di sebelah kanan jalan tampak bangunan sekolah dengan gapura yang bertuliskan SD Cadas Ngampar. Mobil masuk ke area halaman sekolah. Dari balik jendela mobil kulihat semua peserta sudah berkumpul di suatu ruangan kelas. Waduh agak telat nih…

Aku langsung turun dari mobil setelah berpamitan dengan suami, adik dan keponakanku, lalu bergegas menuju ke ruangan kelas tadi. Beberapa panitia menyodorkan kertas lembar hadir yang harus kutandatangani terlebih dahulu. Setelah itu aku masuk dan mencari kursi yang kosong.

Sesaat setelah duduk, aku mengatur nafas sambil melihat ke sekeliling. Mayoritas peserta tampaknya anak-anak muda. Mungkin anak-anak kuliahan. Dan ternyata benar juga. Ketika kutanyakan pada seorang gadis yang duduk di sampingku, katanya sebagian besar peserta yang ikut acara ini termasuk dirinya adalah mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jurusan PGMI/PGSD.

Ada juga beberapa ibu dan teman yang sudah kukenal, seperti Ms. Fitri dan Mbak Dinu Chan. Dua orang ibu yang duduk di sebelah kiriku bahkan datang dari luar kota. Yaitu dari Depok dan Karawang. Wah, salut deh dengan semangat belajar mereka. Mereka jauh-jauh hadir ke tempat ini untuk menimba ilmu kepenulisan.

Saat itu yang menyampaikan materi adalah Bu Sofie Dewiyani. Ketua Litara sekaligus seorang penulis dengan karyanya yang berjudul “Teman Bermain dalam Lemari” dan sudah mendapat penghargaan internasional (Pemenang Runner Up Samsung Kidstime, Author’s Award Singapore 2015, Peraih Honorary Mention di Bratislava, Illustration Biennale 2017). Bu Sofie memperkenalkan sekilas tentang Litara. Syukurlah, ternyata baru masuk acara perkenalan.

Setelah Bu Sofie selesai memperkenalkan Litara, giliran Bu Eva Nukman (salah satu pimpinan Litara dan penulis senior juga) yang meminta seluruh peserta saling memperkenalkan diri. Tapi kali ini caranya harus yang unik. Semua peserta diminta berperan seperti anak usia 4 tahun hingga usia 12 tahun, atau seperti kakek /nenek saat memperkenalkan dirinya.

Tentu suasana menjadi seru karenanya. Ada yang bergaya bocah imut dan polos. Ada yang seperti anak manja. Ada yang pura-pura ngambek. Ada yang menjadi nenek cerewet. Ada yang menjadi kakek bijaksana. Wah, jadi seperti bermain sandiwara, nih

Tapi Bu Eva memang sengaja meminta cara perkenalan seperti itu bukan tanpa maksud. Semua itu adalah untuk pemanasan sebelum semua peserta masuk ke materi menulis cerita anak yang tentu harus bisa menyelami dunia anak.

Setelah itu Bu Sofie menyampaikan materi tentang “Menulis Cerita Ramah Anak”. Ternyata memang tidak mudah menulis cerita anak. Kalau kita memperhatikan pictbook yang kalimatnya sedikit dan singkat-singkat, sebelumnya mungkin kita beranggapan bahwa membuat cerita anak itu gampang. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Nah, berikut ini beberapa alasan mengapa menulis cerita anak tidak bisa dikatakan mudah:

1. Harus masuk ke dunia anak-anak

2. Harus tahu pembaca sasaran, umur berapa dan kelas berapa? Bagaimana mereka berpikir, berbicara, menyampaikan pendapat?

3. Bagaimana tokoh pada cerita digambarkan?

4. Memakai bahasa anak-anak.

5. Tokoh tidak harus anak-anak. Bisa hewan atau tokoh yang disukai anak-anak. Tokoh yang disukai misal kancil karena cerdik dan lincah.

Semua peserta tampak menyimak materi dengan serius.

Setelah itu Bu Eva yang memberikan materi. Materi yang disampaikan Bu Eva cenderung lebih ke teknis menulis cerita anak.

Seperti adanya 5 tahap penguasaan bahasa, yaitu:

1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis
5. Menerjemahkan

Lalu syarat mutlak semua penulis adalah: BACA!

Setelah banyak membaca buku, barulah: Ready to Start. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Ide
2. Brainstorming
3. Tulis
4. Revisi/ Sunting.

Cara menemukan ide cerita, coba galilah: Tentang apa? (konflik utama/alur) Untuk siapa? (pembaca sasaran)

Dan carilah ide yang unik (menarik, tidak membosankan, orisinil)

Lalu berikut ini adalah contoh tema yang sudah umum dan terlalu sering diulas:

1. Susah lepas dari gawai.
2. Pemanfaatan sampah.
3. Anak di-bully tapi malah menolong orang yang mem-bully-nya.

Sumber ide sebetulnya banyak dan ada di sekitar kita. Seperti:

1. Pengalaman sendiri/orang lain.
2. Imajinasi
3. Budaya (makanan, tarian, mainan, kebiasaan lain)
4. Lingkungan (tempat tertentu, flora dan fauna)

Contoh buku yang berjudul: “Pewarna Langit”, karya Bu Eva Nukman yang pernah memenangkan Runner Up Samsung Kidstime dan Author’s Award Singapore 2015.

Adapun elemen cerita tersusun dari:

1. Plot (urutan kejadian dalam cerita
Awal – Tengah – Akhir)
2. Tokoh.
3. Konflik atau Permasalahan

Buatlah tokoh yang kuat dengan kriteria sebagai berikut:

1. Unforgettable
2. 3 Dimensi
3. Menentukan jalannya cerita

Maksud 3 Dimensi:
1. Fisik (gambaran jasad, dapat dilihat)
2. Internal (psikologis, emosional)
3. Eksternal (latar belakang sosial)

Cara pengembangan karakter/tokoh:

1. Obyektif (I want…)
2. Motivation (I want.., because…)
3. Obstacles /distraction (I want…,because…, but…)

Jadikan sifat buku yang kita terbitkan nanti:

1. Menjadi cermin.
2. Menjadi pintu.
3. Jendela.

Jangan lupa, pahamilah:

1. Apa yang disukai dan tidak disukai.
2. Bagaimana kemampuan membacanya.
3. Bagaimana cara mereka berpikir.
4. Bagaimana cara mereka berbicara.

Waw…, materinya padat, bergizi dan perlu proses berlatih yang tekun dan sabar untuk bisa menguasainya.

Sebelum masuk waktu istirahat, shalat dan makan siang, Bu Eva memberi tugas kepada setiap peserta untuk menuliskan: kata benda, kata kerja dan setting tempat pada 3 lembar kertas kecil yang dibagikan.

Lalu semua kertas itu dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai jenis kata. Setelah itu 3 jenis kata itu dibagikan kembali ke semua peserta secara acak. Aku mendapat kata benda: jamu, kata kerja: bermain, dan setting tempat: danau.

Nah, tugas semua peserta, sesudah jam istirahat nanti adalah membuat cerita berdasarkan tiga kata tersebut.

Agar pikiran fresh kembali, kami makan siang dulu, lalu shalat di area panggung utama Jagakali International Art Festival. Sebagian peserta naik motor untuk menuju ke sana. Dan sebagian lagi berjalan kaki. Yah, sebenarnya memang tidak terlalu jauh juga jaraknya.

Kami sempatkan juga melihat-lihat beberapa buku yang diterbitkan Litara di salah satu stand. Bagus-bagus cerita dan gambarnya. Dicetak di kertas yang berkualitas juga. Kata Bu Eva, buku-buku terbitan Litara rata-rata dari proses editing hingga terbit memerlukan waktu kurang lebih 1 tahun. Hal itu dikarenakan adanya proses editing-nya yang ketat dan berhati-hati untuk menjaga agar isi ceritanya ramah dibaca anak-anak.

Dengan berakhirnya waktu ishoma, kami kembali ke kelas dan acara workshop pun dilanjutkan lagi. Seperti tadi yang telah ditugaskan oleh Bu Eva, semua peserta mulai mengembangkan cerita berdasarkan 3 kata tadi.

Udara musim kemarau yang semakin siang semakin panas ini membuat Bu Sofie, Bu Eva dan sebagian peserta sibuk mengipas-ngipas wajah karena kegerahan. Ada yang membawa kipas sendiri, ada juga yang memakai sarana kardus atau buku. Untungnya aku membawa kipas yang kuperoleh dari souvenir pernikahan karena aku sudah menduga ruang kelasnya nanti belum ada kipas angin maupun AC.

Setelah waktu berlalu hampir setengah jam, Bu Eva meminta peserta yang sudah selesai menyusun cerita, memaparkannya. Lalu secara detail Bu Eva mengevaluasinya. Hmmm…, benar juga kata Bu Eva. Kalau sekedar dibuat komersial isi ceritanya mungkin lebih mudah, tapi kadang jadi kurang menyentuh dan kurang ramah anak. Jadi semakin terbukti nih, ternyata menulis cerita anak memang tidak mudah ya…

Tak terasa hari semakin sore, sehingga tugas yang belum terselesaikan dijadikan PR. Semua peserta juga diberi tugas merevisi beberapa naskah yang sudah dikirimkan di pada saat awal pendaftaran, agar ceritanya lebih menarik dan yang pasti, lebih ramah anak.

Jam 16.30 acara workshop ditutup. Semua peserta dan panitia foto bersama di panggung utama acara festival. Sekaligus penyerahan donasi buku Litara kepada perwakilan SD Cadas Ngampar.

Terima kasih Bu Sofie dan Bu Eva atas bimbingan materi kepenulisannya yang luar biasa hari ini. Semoga kami bisa mempraktikkan semua ilmu yang telah kami peroleh secara bertahap sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat, khususnya bagi anak-anak. Aamiin

Bercengkerama dengan Aneka Unggas di Taman Burung Bird and Bromelia Pavillion, Bandung

Standar

Saat pagi menyapa dan mentari semakin tinggi, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Lembang sesuai rencana kami tadi malam. Salma berinisiatif mengajakku berwisata ke Taman Burung Bird and Bromelia Pavillion yang berada di Lembang Kami berangkat sekitar jam 8 pagi dengan taksi online.

Sebelumnya kami sarapan di warung makan dekat kos Salma. Ada beberapa pilihan sayur dan lauknya yang khas masakan rumah. Seperti sayur sop, tumis jamur, sambal goreng kentang, ca sawi putih, telur balado, perkedel tahu dan tempe goreng. Harganya cocok untuk anak kos dan rasanya mirasa.

Dijual juga aneka jus buah di sana. Tapi ada satu minuman favorit kami, yaitu susu kunyit. Gurihnya susu segar yang berpadu dengan aroma khas kunyit membuat nikmatnya rasa minuman itu . Rupanya minuman tersebut menjadi minuman kesehatan di keluarga pemilik warung tersebut. Pantaslah setelah meminumnya, badan jadi terasa lebih fit dan segar.

Mungkin karena belum masuk masa weekend dan hari masih pagi, perjalanan menuju ke lokasi berjalan lancar dan tidak macet sama sekali. Alhamdulillah

Kira-kira jam 10-an kami sampai di lokasi. Di bagian depan terlihat ada beberapa restoran. Setelah membayar tiket masuk, kami langsung masuk ke lokasi. Yah syukurlah kami kesini pas waktu weekday. Sehingga harga tiketnya bisa lebih murah daripada harga tiket weekend. Kami juga membeli sebungkus kuaci untuk makanan burung.

Kesan pertama masuk ke area Taman Burung ini adalah tampak rindang karena banyaknya pepohonan di sekitarnya. Burung yang pertama kami lihat adalah burung Beo Jawa dengan bulunya yang berwarna hitam dan paruhnya yang berwarna orange. Burung tersebut pandai meniru ucapan manusia, seperti, “Haii…. Namamu siapa?”

Lalu ada lagi burung hantu yang jinak dengan matanya yang besar berbinar seperti mata kucing. Tingkahnya juga malu-malu kucing. Kata Salma, ia pernah mendapat informasi bahwa burung hantu kalau sudah sangat jinak, tingkah lakunya memang bisa manja seperti manjanya seekor kucing. Wah, pasti bisa membuat kami jadi makin gemas melihatnya, nih kalau ada yang seperti itu. Petugas di Taman Burung pun menawarkan barangkali lengan kami siap dihinggapi burung hantu tersebut.

Meskipun tampak jinak, kami sempat ragu karena takut dipatuk atau digigit, mengingat burung ini sebetulnya termasuk jenis burung buas dan carnivora. Akhirnya Salma yang siap dan menyodorkan lengannya. Tapi petugas meminta Salma mengenakan sarung tangan yang tebal dan panjangnya sampai lengan terlebih dahulu. Hal ini untuk mencegah terjadinya luka pada lengan akibat cengkeraman dari cakar burung hantu yang kukunya tajam-tajam itu.

Burung lain yang kami lihat adalah burung Makau. Keunikan burung ini adalah warna bulunya yang cerah dan berwarna-warni. Kami bergantian memberinya kuaci. Ternyata kuacinya tidak langsung dimakan, tapi dikupas terlebih dahulu dengan paruhnya, lalu baru dimakan isi kuacinya.

Sebagian kuaci yang berjatuhan di tanah langsung diserbu sekawanan burung merpati. Asyik juga bercengkerama dengan burung-burung ini.

Di Taman Burung ini juga ada Taman Kelinci. Wah, ini hewan kesayangan Salma. Tak heran begitu melihatnya, Salma langsung mengelus-ngelus hewan yang lucu dan menggemaskan itu.

Di sana kami juga menonton Bird Show bersama para pengunjung lain. Lucu dan cerdas juga tingkah polah burung-burung itu. Burung-burung itu bisa menegakkan kartu huruf yang telah tersusun berupa ucapan Selamat Datang, membuang sampah ke keranjang, memasukkan bola ke ring, naik sepeda mini, mengibarkan bendera, menghormat bendera, lalu diakhiri dengan menegakkan kartu huruf yang tersusun menjadi kalimat Terima Kasih. Kami dan semua pengunjung bertepuk tangan setelah Bird Show berakhir.

Setelah itu kami melanjutkan eksplorasi kembali di Taman Burung ini dengan melihat aneka jenis unggas lain seperti burung gagak, bebek angsa, burung puyuh, burung puter, belibis, burung parkit, ayam kate, burung merak dan lain-lain.

Yang paling menarik ketika melihat burung merak jantan yang sedang merayu betinanya. Ekornya dengan coraknya yang indah itu mengembang lalu digerak-gerakkan seperti sedang menari.

Demikianlah kebesaran Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan beraneka ragam makhluk dengan segala caranya dalam melanjutkan keturunannya masing-masing.

Setelah puas berkeliling Taman Burung, kami melanjutkan perjalanan menuju ke mall Paris Van Java (PVJ) dengan taksi online untuk makan siang di sana.

Kali ini kami mampir ke restoran Jepang, Sushi Tei. Japanese food memang makanan favorit Salma, terutama Salmon Sashimi. Cha Soba, yaitu semacam mie berwarna hijau (dicampur green tea) tapi rasanya dingin juga dipilihnya. Sedangkan aku memilih ramen saja. Aku sempat heran juga, lho kok makanan yang dipilih Salma tadi tidak disajikan hangat-hangat, tapi malah dicampur es batu ya?

Tapi ya begitulah, restoran Jepang rata-rata memang unik dan khas anak muda. Seperti di Sushi Tei ini juga ada sushi dengan wadahnya yang bisa mondar mandir jalan sendiri di atas meja seperti robot. Dan setiap ada pengunjung restoran yang datang para pelayannya selalu menyapa ramah dengan kata-kata “Irasshaimase!” yang artinya, “Selamat Datang!“

Setelah selesai makan, aku menemani Salma ke supermarket, belanja kebutuhan sehari-harinya di kos karena persediaannya sudah mulai menipis. Seperti beras, telur, sabun mandi, sabun cuci baju, sabun cuci tangan, pasta gigi dan makanan ringan.

Lalu kami bersiap-siap pulang ke kos Salma. Sebelumnya kami membeli beberapa potong Hokkaido baked cheese tart buat camilan nanti malam. Salma sudah memesan taksi online. Tapi kali ini kami menunggu datangnya taksi online-nya agak lama. Mungkin karena terhadang macet saat memasuki mall. Selain itu driver-nya rupanya agak kesulitan mencari kami. Mungkin karena di PVJ ini ada beberapa pintu keluar sehingga cukup membingungkan juga.

Alhamdulillah akhirnya taksi online yang kami tunggu-tunggu datang juga. Kami segera masuk ke mobilnya dan langsung meluncur pulang ke kos Salma.

Begitu sampai di kos, kami langsung mandi, beristirahat sebentar, dan membereskan barang-barang yang tadi dibeli. Lalu kami menikmati Hokkaido baked cheese tart bersama. Enak juga rasanya. Kalau menurutku rasanya hampir serupa pie susu. Tadi kami membeli yang rasa keju, coklat, oreo dan tiramishu. Bagian isinya terasa lembut dan lumer di lidah.

Kami menghabiskan sisa waktu ini untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Seperti rencana proyek kami yang berhubungan dengan dunia menulis dan ilustrasi. Juga tentang persiapan magangnya Salma yang tak lama lagi akan ditempuhnya.

Sebetulnya aku ingin menemani Salma sampai hari Minggu. Tapi karena besok Sabtu aku harus menghadiri undangan pernikahan anaknya kawan dekatku, mau tak mau aku harus pulang besok pagi. Selain itu besok siang Salma juga ada kegiatan di kampusnya.

Malam itu juga aku memesan tiket melalui aplikasi Sahabat Shuttle untuk pulang besok pagi jam 09.05. Jujur saja sebetulnya aku masih belum puas bertemu Salma. Bahkan rasanya ingin berlama-lama di sini.

Tapi aku menyadari, meskipun harus jauh dari Salma, ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk melatih kemandirian dan daya survive-nya dalam menghadapi suka duka masa perkuliahan di luar kota. Semoga Allah Swt. selalu memberikan berkah, ketegaran dan kesuksesan ya Salma. Aamiin

Di Cirebon aku juga sudah ditunggu suamiku, Laura dan tugas-tugas di Rumah Belajar Cirebon, seperti mempersiapkan honor untuk guru dan staf.

Ya Allah mudahkanlah semua urusan kami. Dan jadikan kami hamba-Mu yang selalu mengingat-Mu kapanpun dan di manapun berada. Aamiin ya Allah…

Melepas Rindu

Standar

Mempunyai waktu yang tepat untuk bisa bertemu anak yang sedang kuliah di luar kota dan menikmati quality time bersamanya adalah kesempatan emas yang selalu dinantikan bagi setiap orang tua.

Sebab ketika anak sudah kuliah, waktu senggangnya tak bisa diperkirakan secara pasti. Bisa jadi seharian ini tampaknya tak ada kegiatan, tapi tiba-tiba mendadak ada pemberitahuan kerja kelompok atau kegiatan lain.

Belum lagi tugas-tugas kuliah yang cukup menyita waktunya sehingga bahkan untuk mencari waktu senggang untuk istirahatnya sendiri pun menjadi terbatas.

Kondisi semacam ini mau tak mau beresiko mengurangi intensitas komunikasi antara anak dengan orang tua. Sehingga tak jarang menimbulkan kecemasan pada orang tua ketika anaknya sulit dihubungi.

Dari yang sebelumnya ke mana-mana selalu bersama anak. Dari sejak lahir hingga menjelang masa kuliahnya. Dari bangun tidur sampai berangkat tidur lagi. Kini harus terpisah oleh jarak dan waktu, sehingga wajar saja ada rasa kehilangan dan kerinduan yang tak tertahankan.

Demikianlah yang kurasakan setiap kali rasa rindu terhadap Salma sudah mendera. Chattingan lewat Line ataupun video call pun rasanya sudah tak mampu mengobati beratnya rasa rindu ini. Betul juga ya kata Dilan, “Rindu itu berat. “

Oleh karena itu yang kubutuhkan dalam kondisi seperti ini adalah pertemuan langsung dan kontak fisik dengan Salma. Di mana aku bisa membelai rambutnya yang lembut, mencium pipinya yang empuk, memeluk tubuhnya yang hangat dan mengelus jemarinya yang halus.

Tapi percayalah… Ketika seorang ibu bertemu lagi dengan anaknya yang sedang kuliah, bekerja atau tinggal di luar kota, perpaduan antara rasa rindu yang sudah bertumpuk dan keharuan saat bertemu akan menjadi sebuah perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah berulangkali batal bertemu karena kesibukan kami masing-masing, akhirnya hari Kamis minggu yang lalu pun kami sepakati sebagai hari yang tepat untuk bertemu.

Aku berangkat hari Kamis pagi jam 06.05 dengan mengendarai Sahabat Shuttle yang sudah menjadi langgananku setiap kali pergi ke kota Bandung.

Sepanjang perjalanan aku memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas dari proyek menulis yang sedang kuikuti. Sesekali aku tertidur di saat rasa kantuk menyerang.

“Pasteur… Pasteur…, “ suara driver menyadarkanku. Wah, ternyata shuttle sudah memasuki kota Bandung. Aku bersiap-siap untuk turun. Saat shuttle telah tiba di pool-nya yang berada di jalan Cihampelas. aku langsung memesan taksi online dengan tujuan ke Masjid Salman. Masjid ini lokasinya berada di seberang kampus ITB.

Sebelum berangkat ke Bandung kami memang sudah sepakat untuk ketemuan di sana saja sebagai tempat yang paling strategis. Mengingat hari itu Salma juga sedang ada kuliah sampai jam 10-an. Kebetulan Masjid Salman adalah salah satu tempat favoritku di kota Bandung, sehingga aku sering mengusulkan tempat ini sebagai tempat bertemu setiap kali pergi ke Bandung.

Masjid berlantai kayu ini selalu ramai terutama dengan mahasiswa dan mahasiswi ITB yang akan melaksanakan shalat maupun yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Kadangkala ada kegiatan seminar atau pengajian juga di sana.

Entah mengapa aku betah banget berdiam di masjid ini. Pesona masjid dengan imam-imam shalatnya yang sebagian adalah para mahasiswa ITB yang hafal Al Qur’an, menjadi salah satu daya tariknya. Suasananya yang tenang, nyaman dengan fasilitas teh, kopi, air dari keran air yang bisa langsung diminum, dan mukenanya yang wangi juga membuat semua pengunjung masjid betah berlama-lama di sana.

Tak terasa waktu Zuhur telah tiba. Suara azan berkumandang dari masjid. Suasana masjid semakin ramai oleh jamaah masjid. Kulihat ada notifikasi pesan masuk dari Salma.

“Ma, saya lagi otw ke Masjid Salman.”

“Ya Salma. Mama langsung ke gerbang depan Masjid saja ya. ”

“ Oke, Ma…,”

Alhamdulillah, akhirnya kami bertemu di pintu masuk utama Masjid Salman. Bahagia banget rasanya bisa memeluk lagi putri semata wayangku ini. Padahal baru sebulan kami tak bertemu. Mungkin memang begitulah ya rasanya menjadi seorang ibu yang anaknya sedang di luar kota. Rasa rindu terhadap anaknya tak pernah ada habisnya.

Karena sudah waktunya makan siang dan perut kami juga sudah mulai keroncongan, kami segera mencari rumah makan terdekat. Semula Salma mau mengajakku ke Warung Pasta yang terletak di samping Kampus FSRD ITB.

Tapi akhirnya kami putuskan untuk mencoba makan di Cafe 180• saja. Kata salah seorang sahabatku, cafe ini menjadi salah satu area hang out sekaligus tempat mengerjakan tugas favoritnya para mahasiswa ITB. Letaknya tepat di seberangnya Warung Pasta.

Benar juga, baru saja masuk ke cafe tersebut, di sebagian sudut terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Ada juga yang sekedar makan siang atau minum kopi di sana.

Kami akhirnya memilih tempat duduk di lantai 2 karena di ruang bawah sudah dipenuhi oleh pengunjung cafe. Di lantai 2 ada sebuah panggung untuk pertunjukan musik. Tapi siang itu panggung masih tampak kosong. Mungkin baru ada pertunjukan musik kalau malam hari ya?

Seorang pegawai cafe menyodorkan menu makanan dan minuman. Cukup bervariasi dan menggiurkan juga pilihan menunya. Sekilas ketika kulihat harga-harganya, hmm, lumayan juga sih… Tapi bagiku tentu tak masalah karena tak setiap saat bisa makan bareng Salma di cafe seperti ini.

Seperti biasa aku memesan makanan favoritku, nasi goreng. Kali ini yang kupilih nasi goreng ala Cafe 180•. Sedangkan Salma yang senang bereksplorasi dengan aneka makanan, memilih steak daging. Yummy… Rasanya memang lezat, sehingga sepadanlah dengan harganya.

Sembari makan kami saling mengobrol. Salma bercerita tentang kegiatan kuliah dan teman-teman kampusnya. Aku menyimak ceritanya dengan antusias sambil sesekali memberinya support dan pesan positif. Saat-saat seperti inilah saat yang selalu kami nantikan. Bisa bertemu dan saling bercerita.

Ketika waktu hampir menunjukkan jam 1 siang, kami segera meninggalkan cafe. Sebab tepat jam 1 siang ini Salma masih ada kegiatan kuliah 1 sesi lagi. Sehingga terpaksa kami untuk sementara harus kembali berpisah. Salma kembali ke kampusnya dan aku langsung menuju ke kos Salma setelah mengambil tas baju yang kutitipkan di tempat penitipan barang di sana.

Belum lama aku menunggu di kos Salma, tiba-tiba saja Salma sudah datang. Alhamdulillah… Sore itu hingga malam harinya kami hanya menghabiskan waktu di kamar kos saja. Kami sama-sama menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas. Salma dengan tugas kuliahnya dan aku dengan tugas menulisku.

Ketika hari semakin malam, kami sudahi semua aktivitas kami, lalu berbaring di dipan untuk beristirahat.

“Ma, besok pagi kita jalan-jalan ke Lembang ya… “ kata Salma sambil menarik selimutnya.

“Oke Salma, “ aku menyambut gembira ajakannya sambil tersenyum.

Di semester 5 ini setiap hari Jum’at dan Sabtu Salma memang tidak ada kegiatan kuliah. Hanya saja biasanya sering diisi untuk kegiatan lain seperti kerja kelompok atau menyelesaikan tugas lain. Kebetulan hari Jum’at ini Salma sedang luang waktunya.

Sebelum tidur kusempatkan memeluk Salma, membelai rambutnya dan mengelus jemari lentiknya. Rasanya seluruh kerinduanku bisa kulepaskan malam itu. Hingga kami pun tertidur pulas dan bersama-sama terbang ke alam mimpi yang menyenangkan.

Arisan Bocah

Standar

Seorang Ibu sejatinya adalah sosok yang sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya sejak lahir. Ibu selalu mendampingi anaknya sejak masih menyusui, saat belajar berbicara/berjalan hingga mulai masuk sekolahnya.

Ketika anak-anak mulai memasuki usia sekolah, biasanya para ibu jugalah yang paling sibuk. Dari mencari perlengkapan sekolah, seperti buku, alat tulis dan tas, hingga memesan seragam sekolah.

Di sekolah tak hanya anak-anak yang mulai bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Para ibundanya pun saat mengantar dan menjemput anaknya, akan mendapatkan teman-teman baru. Biasanya sambil menunggu anak pulang sekolah, komunikasi antar para ibu mulai terjalin.

Dimulai dari obrolan ringan seputar perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka hingga tukar menukar resep masakan.

Ada juga yang berjiwa bisnis, biasanya sambil mengobrol ia akan menawarkan barang-barang dagangannya. Tapi tak menjadi masalah karena antar ibu-ibu itu malah merasa saling membutuhkan.

Ada juga kelompok ibu-ibu yang suka saling curhat dan ‘ngerumpi ngalor ngidul’. Biasanya mereka curhat tentang berbagai masalah, dari keluarga, pembantu, tetangga sampai temannya. Tapi hebatnya antar mereka kadang bisa saling memberi solusi dan tak hanya sekedar menghibur.

Di komunitas lain ada ibu-ibu yang suka mengantar anaknya les/belajar bersama dengan teman-temannya atau ikut mengantar saat akan lomba. Kebetulan aku masuk dalam komunitas tersebut. Ada beberapa teman yang sejak anak-anak kami masih SD selalu bersama dalam setiap kegiatan lomba. Karena dari SD yang sama, kekompakan pun terjalin erat.

Biasanya kami akan saling mendukung dengan mempersiapkan anak-anak menjelang mengikuti lomba dengan belajar bersama. Ketika lomba pun kami saling memotivasi agar dapat membawa nama baik sekolah. Alhamdulillah pada beberapa lomba anak-anak kami berhasil meraih prestasinya.

Tapi ketika anak-anak sudah naik ke tingkat SMP, saat itulah kami menjadi jarang bertemu lagi. Karena sebagian besar anak-anak kami memilih sekolah lanjutan yang berbeda. Sehingga resikonya, anak-anak kami harus siap bersaing ketika ikut lomba yang mewakili sekolahnya.

Bila sebelumnya anak-anak saling mendukung karena mewakili sekolah yang sama, kini malah menjadi kompetitornya yang berat karena berbeda sekolah. Kondisi seperti ini mau tak mau kadang berpengaruh juga dalam hal hubungan keakraban di antara kami sebagai para ibunya.

Akibatnya kami yang sudah jarang bertemu ini menjadi semakin jauh dan jarang berkomunikasi. Oleh karena itu, akhirnya timbullah inisiatif untuk kembali mempererat hubungan di antara kami. Kami sepakat untuk saling bertemu sebulan sekali sambil makan siang bersama sebagai upaya menjalin keakraban kembali.

Untuk mengikat pertemuan sebulan sekali tersebut, akhirnya diadakanlah arisan. Kami memberi nama kelompok arisan kami “Arisan Bocah” karena keakraban hubungan kami diawali dari kekompakan anak-anak kami sejak masih ‘bocah’.

Alhamdulillah, upaya kami membawa hasil yang positif. Kami jadi sering berkomunikasi lagi melalui WA grup yang kami bentuk. Saat arisan, kami kembali saling curhat tentang perkembangan anak kami masing-masing meskipun berbeda sekolah.

Kadang kami saling memberi informasi even atau lomba.Meskipun anak-anak kami saling bersaing, pada akhirnya kami belajar untuk bersikap sportif dan legawa. Ketika ada anak yang menang lomba, meskipun anak kami kalah, tapi kami tetap saling memberi selamat kepada anak yang menang lomba dan memberi motivasi kepada anak yang kalah.

Keuntungannya sikap sportif dan legawa ini pun memberi pengaruh yang positif kepada anak-anak kami. Sehingga ketika meraih kemenangan saat lomba, tetap humble. Dan ketika kalah, cukup kecewa sejenak lalu kembali semangat dan tak berputus asa untuk berjuang kembali.

Hal ini terus berlanjut hingga anak-anak kami masuk SMA. Kegiatan yang kami lakukan saat arisan pun tak sekedar kumpul-kumpul dan makan bersama. Kami juga mengadakan kegiatan bakti sosial, ikut pengajian atau seminar bersama, saling menjenguk bila ada yang sakit, serta saling memberi bingkisan kado ketika ada yang ulang tahun.

Ketika anak-anak kami akan memasuki jenjang kuliah, kami sama-sama mempunyai harapan agar bisa diterima di kampus yang sama. Alhamdulillah, di luar dugaan semua anak-anak kami bisa diterima di ITB.

Sehingga bagi yang belum mengenal kelompok arisan kami sejak awal biasanya mengira kelompok arisan kami ini khusus Ibu-ibu yang anaknya kuliah di ITB. Padahal itu di luar rencana kami sebelumnya.

Ketika anak-anak kami sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi ITB, pertemuan di antara kami menjadi semakin berarti karena dapat menghalau rasa sepi yang disebabkan oleh jauhnya anak-anak kami (kuliah di luar kota).

Pembicaraan di antara kami biasanya adalah tentang rasa khawatir dan kerinduan kami terhadap anak-anak kami yang kini sedang belajar hidup mandiri dan harus survive menghadapi beratnya kehidupan perkuliahan.

Ketika masa Pilpres yang lalu suasana panas tahun politik sempat ikut mewarnai grup WA kami. Sebagian besar dari kami mendukung capres 02. Tapi ada juga yang mendukung capres 01. Sempat terjadi suasana tidak nyaman juga nih gara-gara masalah ini.

Dibutuhkan hati yang sejuk dan pikiran yang tertata agar tidak terbawa panasnya suasana. Sebab bila kami ikut terbawa suasana panas politik tersebut, bisa-bisa kami juga terlibat perdebatan sebagaimana yang sering terjadi pada grup WA lain sampai berakibat saling left grup.

Nah, tentu kami tak menginginkan hal seperti itu terjadi pada grup kami. Sehingga sebaiknya memang harus saling mengendalikan emosi dan jangan mudah terbawa pengaruh berita yang memprovokasi.

Alhamdulillah, setelah Pilpres usai, suasana pembicaraan di grup sejuk kembali. Kami juga kembali hanya sharing informasi umum dan tausiyah ustaz-ustaz yang bermanfaat, menyejukkan dan sebagai reminder saja.

Selanjutnya pembicaraan kami yang berhubungan dengan anak-anak kami kini pun bukan lagi seputar keaktifan mengikuti lomba sebagaimana saat anak-anak kami masih bersekolah di SD, SMP atau SMA.

Sekarang orientasi kami sudah berubah.Yang menjadi harapan utama kami terhadap anak-anak adalah bagaimana anak-anak mampu menjadi pribadi yang shalih shalihah, tidak meninggalkan shalat dan ibadah lain, mampu merawat dan menjaga diri serta lingkungan sekitar, mampu menyelesaikan kuliah dengan baik dan sukses, serta siap menghadapi masa depan dengan bekal ilmu yang sudah diperoleh selama kuliah.

Selebihnya bila ada prestasi, atau kelebihan lainnya itu adalah bonus bagi kami. Sebab setelah anak-anak kami lulus, mereka akan menghadapi tiga pilihan. Yaitu melanjutkan S2, langsung bekerja atau menikah. Nah ketiga pilihan itu tentu tak cukup bila hanya berbekal prestasi lomba. Karena hal terpentingnya adalah karakter dan akhlak yang baik serta kemampuan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Waktu memang terus berjalan dengan cepat. Usia kami juga terus merangkak. Anak-anak pun sudah semakin dewasa. Semoga keakraban yang sudah terjalin dengan baik di antara kami terus berlanjut.

Di mana kami bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dan semoga kami mampu mengantar anak-anak kami ke gerbang kesuksesan dan kebahagiaan mereka baik untuk di dunia ini maupun hingga di akhirat nanti. Aamiin ya rabbal’aalamiin..

Menghidupkan Kembali Ruh Santri dan Semangat Persatuan Bangsa di Kalangan Pemuda

Standar

Pada bulan Oktober ada dua hari besar Nasional yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Yaitu hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober dan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.

Peringatan hari Santri Nasional sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari kiprah para tokoh Islam seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Komitmen Islam dan kebangsaan mereka yang luar biasa menjadi pencetus terciptanya organisasi Islam yang berperan penting dalam perjuangan bangsa melawan penjajah.

Ketika Belanda membonceng Sekutu dalam upayanya menguasai Indonesia kembali, KH Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menyerukan Resolusi Jihad saat diadakan pertemuan para pengurus NU Jawa dan Madura di Surabaya tanggal 21 – 22 Oktober 1945.

Pernyataan sikap untuk melawan penjajah Belanda tersebut disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari kepada pemerintah, umat Islam dan para santri pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sehingga terjadilah pertempuran sengit dari rakyat dan para santri melawan kolonial Belanda yang membuat semangat para pemuda di Surabaya, termasuk Bung Tomo ikut terbakar. Hingga pada saat pertempuran tanggal 27- 29 Oktober 1945 mampu menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Kiprah tokoh Islam dan para santri yang telah berperan aktif membela tanah air tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah sehingga Presiden Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Sumber:
https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/22/083739665/22-oktober-mengingat-kembali-sejarah-penetapan-hari-santri?page=all

Sedangkan sejarah Hari Sumpah Pemuda berawal dari timbulnya kesepakatan dari para pemuda yang mewakili daerahnya masing-masing untuk bersatu melawan penjajah Belanda. Sebab bila mereka hanya berjuang sendiri-sendiri atas nama kedaerahannya saja, akan sangat mudah dikalahkan oleh penjajah.

Tepatnya setelah Konggres Pemuda kedua (tanggal 27 dan 28 Oktober 1928), yang diselenggarakan oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia) di Jakarta. Konggres tersebut dihadiri oleh anggota PPPI yang terdiri dari para pelajar di seluruh wilayah Indonesia, perwakilan dari berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia (Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dan Jong Ambon) dan pengamat dari warga Tionghoa (Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie).

Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya WR Supratman juga dikumandangkan pada saat Konggres Pemuda kedua tersebut. Semangat nasional dan persatuan bangsa telah mempersatukan mereka. Sehingga para pemuda dari berbagai organisasi dan kalangan tersebut melebur bersatu padu menjadi sebuah kekuatan untuk melawan Kolonial Belanda.
Hingga tercetuslah Sumpah Pemuda sebagai berikut:

Pertama: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia).

Kedua: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia).

Ketiga: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia)

Sumber: https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/sejarah-sumpah-pemuda

Alhamdulillah, kini kita telah menikmati kemerdekaan hasil dari perjuangan para pahlawan di masa lalu. Bagi kita yang telah menikmati masa kemerdekaan ini, masih banyak yang harus kita lakukan demi menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan dalam rangka mencetak generasi muda yang tak hanya cerdas dan makmur. Namun juga mempunyai karakter terpuji dan berjiwa santri.

Di masa kemerdekaan ini, tantangan terbesar bagi bangsa ini bukan lagi para penjajah Belanda. Bukan pula tembakan senapan kolonial maupun perang melawan senjata dengan negara lain. Kita juga tak perlu lagi angkat senjata untuk melawan mereka.

Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak dan remaja kita agar menjadi generasi yang siap mentalnya dalam menghadapi era globalisasi dengan membangun karakter dan akhlak yang baik.

Sebab yang dihadapi generasi muda sekarang adalah pengaruh informasi dan teknologi yang di satu pihak sangatlah membantu dan bermanfaat dalam menambah wawasan dan mempermudah kehidupan sehari-hari. Tapi di lain pihak juga bisa membahayakan dan menyesatkan bila tak terkontrol dan tak terkendali.

Bila kita coba kilas balik sejenak ke masa di mana para santri dengan penuh kesadaran mengangkat senjata melawan penjajah, demi membela bangsa dan negara, timbulnya kesadaran dan mental yang kuat tersebut tak lain adalah merupakan hasil tempaan mereka selama di pesantren.

Di pesantren, setiap santri tak hanya akan mendapatkan berbagai macam ilmu agama maupun umum. Lebih dari itu mereka juga mendapatkan hal-hal positif seperti berikut ini:

1. Latihan kemandirian agar tak manja dan tak cengeng ketika menghadapi persoalan.
2. Pembiasaan bangun tidur di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat Tahajud agar selalu terjalin hablumminallah dengan baik.
3. Pembiasaan rajin dan tepat waktu saat melaksanakan shalat lima waktu agar selalu dalam penjagaan Allah Swt.
4. Pembiasaaan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah wajib agar memperbaiki kekurangan pada ibadah-ibadah wajib.
5. Pembiasaan tilawah Al Qur’an agar langkah-langkahnya selalu diberkahi Allah Swt.
6. Pembiasaan menjaga kebersihan dan kerapian kamar dan lingkungan sebagai persiapan awal sebelum kelak berumahtangga.
7. Penanaman akidah dan akhlak Islam yang rutin dan mendalam agar menjadi landasan yang kokoh dalam beragama di masyarakat nanti.
8. Pembelajaran hidup bersosialisasi antar santri agar terjalin hablumminannas yang baik.
9. Tausiyah dari ustaz dan ustazah yang selalu mengingatkan agar selalu mengevaluasi diri.
10. Penerapan gaya hidup sederhana agar tak terbawa pada kebiasaan berfoya-foya dan gaya hidup hedonisme.
11. Melatih skill of life sehingga terampil dan survive dalam kehidupannya.
12. Anjuran untuk selalu berbakti kepada orang tua karena melalui bakti dan restu mereka berkah hidup akan terus mengalir.

Nah, bila ruh santri semacam itu kita coba terapkan secara bertahap pada anak-anak kita, sekalipun tidak belajar di pesantren, insya Allah akan memperbaiki akhlak dan membentuk karakter mereka dengan baik.

Sehingga akan terbentuk generasi muda yang shalih dan shalihah. Tangguh memegang prinsip agama dan kebenaran sehingga tak mudah tergoda pada hal-hal negatif.

Dan bila semangat persatuan bangsa dari Sumpah Pemuda pun dinyalakan, maka akan tumbuh generasi muda yang cinta tanah air dan selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya. Menghormati serta menghargai adanya perbedaan suku, warna kulit dan agama yang ada di masyarakat. Sehingga terjalin suasana masyarakat yang rukun dan damai.

Semoga Allah Swt. memampukan kita dalam mendidik anak-anak, di antaranya dengan menghidupkan ruh santri dan menyalakan semangat persatuan bangsa pada jiwa mereka. Sehingga akan lahir generasi muda shalih shalihah yang cerdas dan cinta tanah air.

Kelak melalui kiprah dan karya mereka, semoga negara Indonesia akan menjadi negara yang semakin makmur sejahtera dan tentram. Sehingga menjadi baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Aamiin ya rabbal’aalamiin…

Sumber gambar:

1. Desain Salma Fedora

2. https://sosmedpc.blogspot.com/

Sehari Semalam Menjadi ‘Raja’ dan ‘Ratu’ di Kota Gorontalo 👑

Standar

Ketika pagi menyapa, kami segera berkemas untuk meninggalkan hotel. Sesudah sarapan, kami dijemput oleh rekan sejamaah haji, pak AR Muhammad dan bu Herawati. Betapa senangnya kami bisa berjumpa lagi tepat setahun setelah kami beribadah haji bersama.

Tapi pagi itu pak AR Muhammad harus ke kantornya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Sehingga bu Herawati sajalah yang menemani kami berkeliling kota Gorontalo.

Pertama kami diajak ke rumah makan Sakinah dengan menu spesialnya Milu Siram dan Ikan Bakar. Wah, padahal kami baru saja sarapan di hotel. Tapi untuk menyambut kedatangan kami, tetap saja bu Herawati mengajak kami makan dan langsung memesan aneka menu istimewa di sana dengan menu utama ikan.

Biasanya aku kurang suka menu masakan ikan. Tapi dengan olahan bumbu khas Gorontalo yang lezat ini malah membuatku berselera dan menikmatinya. Beragam masakan ikan dan Milu Siramnya yang unik pun ludes kami santap.

Sesudah itu kami diajak berwisata ke Taman Purbakala Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit Dempe. Benteng ini dibangun Portugis pada tahun 1525, lalu ditemukan pada tahun 1585 oleh Naha (Ota, artinya benteng). Keseluruhan benteng ini ada tiga, yaitu benteng Otanaha, Otahiya dan Ulupahu.

Benteng Otanaha merupakan benteng tertua dan terbuat dari campuran kapur dan putih telur burung Maleo. Benteng yang bentuknya menyerupai mini koloseum ini dibangun sebagai bentuk kerjasama antara Portugis dengan Raja Ilato yang berkuasa pada tahun 1505 – 1585.

Dari atas benteng Otanaha, kami bisa melihat danau Limboto dengan pemandangannya yang menawan. Danau ini luasnya berkisar 1900 – 3000 ha (pada tahun 1999) dan memiliki kedalaman 2 – 4 meter (menurut Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, tahun 2000).

Di danau ini para pengunjungnya bisa melakukan berbagai kegiatan, seperti memancing, berenang dan naik perahu. Mereka juga bisa menikmati ikan bakar dengan harga yang relatif murah dari para nelayan setempat.

Karena bertepatan dengan hari Jum’at, suamiku diantar terlebih dahulu ke Masjid Agung Baiturrahim untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jum’at bersama Pak AR. Muhammad yang sudah menunggu di sana.

Sementara itu, aku dan Bu Herawati menumpang bentor (becak motor) yang merupakan salah satu kendaraan umum di Gorontalo, menuju ke Rumah Makan Pino’s yang terletak di Jalan Sudirman, samping Balai Nikah, Gorontalo. Ada aneka menu khas Gorontalo yang ditawarkan di sini. Tapi menu spesialnya adalah masakan ikan dan ayam.

Sambil menunggu suami kami selesai shalat Jum’at, bu Hera memesankan aneka makanan dan minuman terlebih dahulu untuk hidangan makan siang nanti. Menu makanan yang dipesan selain ikan dan ayam bakar, juga masakan khas Gorontalo yang lain, seperti Pisang Stik Goroho dan Sayur Butungo (terbuat dari jantung pisang). Sedangkan minuman khasnya Es Palubutung (Es dengan campuran pisang, santan, bubur mutiara dan sirup).

Saat suamiku dan Pak AR Muhammad sudah tiba, kami langsung makan siang bersama. Kuakui semua masakan dan minuman khas Gorontalo yang sudah kami rasakan sejak hari pertama kami di sini, memang benar-benar sedap dan cocok dengan selera kami. Kami juga sangat terkesan atas sambutan hangat Pak AR Muhammad dan Bu Herawati terhadap kami sebagai tamunya.

Seusai santap siang bersama, kami diajak berwisata religi ke Bubohu. Sebuah taman wisata religius yang menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Bubohu, salah satu kerajaan kecil yang berada di wilayah pemerintahan Kerajaan Hulontalo/Gorontalo. Untuk mencapai lokasi tersebut, harus ditempuh dengan kendaraan yang melewati jalanan beraspal berkelok-kelok dengan pemandangan lautan biru yang indah di tepinya.

Sesampainya di sana kami diarahkan untuk memasuki halaman samping sebuah rumah. Yang pertama kami lihat adalah Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia. Beberapa fosil kayu yang berasal dari desa Topoho, Limboto dan Upaha tampak terpajang di sana.

Sebelum masuk ke area wisata religi Bubohu, kami diminta mengambil sebuah biji seukuran kelerang yang telah disediakan, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak sebagai tiket masuknya. Kata salah seorang warga, hal itu untuk mempermudah menghitung berapa banyak jumlah pengunjungnya.

Di dalamnya terpasang beberapa catatan sejarah tentang silsilah Sultan Amai dan Raja Ilato Ju Panggola yang merupakan keturunan dari Raja Hulontalo /Gorontalo. Penyusunnya Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) dan Adnan A Berahim berdasarkan data dari Belanda dan Arab Pegon dari keluarga Idris N Toma, 10 November 2014.

Selain itu terpampang juga silsilah asal usul keturunan bangsa Gorontalo yang dikutip dan disalin ke dalam bahasa Indonesia, dari manuskrip (naskah asli tua) yang menggunakan bahasa Arab Pegon.

Ada sebuah quote bijak dari Yosep Tahir Ma’ruf (Yotama) XVIII yang merupakan trah Kerajaan Bubohu Generasi ke VI sebagai berikut: “Adati hula hula’a to sara’a, sara’a hula hula’a to Qur’ani”. Artinya, “Adat kokoh berdasarkan agama, agama kokoh berdasarkan Qur’an”.

Di bagian dalam terlihat rumah-rumah adat Gorontalo yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang tak terlalu besar. Yang menarik ada puluhan burung merpati jinak yang seakan menanti kehadiran kami untuk memberi mereka makan. Kami membeli dua bungkus biji jagung dari salah seorang pengurus taman.

Benar juga, begitu kami mengambil segenggam jagung dan mengadahkan tangan, semua merpati langsung terbang menyerbu kami. Ada yang langsung mematuk biji jagung di telapak tangan kami, ada yang hinggap di tangan, di pangkuan bahkan di atas kepala kami. Waah, seru juga… 😃

Begitu asyiknya kami bercengkerama dengan merpati, sampai tak terasa hari sudah menjelang petang. Pak AR Muhammad dan Bu Herawati pun langsung mengantar kami ke hotel. Mereka membawakan aneka kue basah tradisional, seperti kue lapis dan kue bapel yang lezat untuk kami. Ya Allah, terima kasih sudah mengaruniakan sahabat yang sangat baik dan penuh perhatian kepada kami.

Setelah tiga malam berwisata di kawasan Gorontalo dan sekitarnya, akhirnya tiba saatnya bagi kami untuk pulang ke pulau Jawa. Seusai sarapan di hotel, kami menunggu Pak AR Muhammad dan Bu Herawati yang sesuai rencana akan menjemput sekaligus mengantar kami ke bandara.

Tapi ternyata mereka masih ‘belum puas’ untuk membagikan perhatian dan kebaikan kepada kami. Kami diminta mampir dan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan di rumah mereka. Padahal saat-saat keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi sudah semakin mendekati waktunya. Kami khawatir terlambat sampai di bandara nantinya.

Tapi kami tetap ‘dipaksa’ untuk tetap makan di rumah mereka. Kami juga diyakinkan bahwa semua urusan check in di bandara nanti dijamin beres karena akan mereka bantu. Akhirnya kami menyerah dan langsung menuruti mereka. Ketika tiba di rumah mereka dan melihat hidangan yang telah disajikan, kami hanya bisa berucap, “Masya Allah…

Hidangan yang lengkap seperti hidangan untuk acara pesta telah mereka persiapkan. Ada nasi kuning khas Gorontalo yang dilengkapi telur dan bihun, sate daging sapi, ikan bakar, tiga macam sambal khas Gorontalo yang mantap, plus camilan pisang goreng yang manis.

Dan lagi-lagi, kami terhanyut dalam sedapnya masakan Gorontalo yang selalu menggugah selera. Sehingga seusai makan pun, kami menerima dengan senang hati ketika mereka membawakan sebagian dari makanan tersebut sebagai bekal perjalanan untuk kami.

Tak hanya itu. Mereka juga memberi sekardus oleh-oleh khas Gorontalo untuk kami bawa pulang. Masya Allah… Terima kasih Pak AR Muhammad dan Bu Herawati atas kebaikan dan keramahannya.😍🙏 Sesudah foto bersama, kami segera diantar ke bandara.

Di tengah perjalanan ke bandara, berulangkali kami melirik jam di smartphone kami. Waktu yang semakin terbatas ini membuat kami khawatir akan ketinggalan pesawat. Tapi mereka berulangkali menenangkan kami dan mengatakan waktunya masih keburu. Ketika tiba di bandara kulihat waktu sudah tinggal tujuh menit lagi dari waktu keberangkatan pesawat. Kami langsung berlari menuju ke boarding setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih.

Qadarullah, ternyata pesawat yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan sehingga belum mendarat di bandara. Fiuhhh…, kami langsung duduk di ruang tunggu sambil bernafas lega. Kulihat ada pesan masuk dari Bu Herawati di Whatsapp-ku.

“Bu, tas hijau sama dus tadi ada? KTP juga sudah ada khan ? Insya Allah tiba dengan selamat sampai tujuan… Aamiin“.😘😍

Lalu sebuah gambar Flight Radar dikirimnya. Tampak gambar pesawat dari Makasar yang baru saja masuk ke wilayah Gorontalo.

“Iya sudah ada semua Bu. Allahumma aamiin… 🙏🙏🙏 Jazakumullah khairan katsira Bu Hera, Pak Dokter Muhammad dan Ivan (saudara Pak Dokter yang selalu siap mengantar kami ke mana pun selama di Gorontalo)💗💗💗 Iya Bu Alhamdulillah belum terlambat.” 😍

Bu Hera rupanya ingin memastikan bahwa tidak ada barang atau oleh-oleh yang tertinggal dan kami memang benar-benar tidak ketinggalan pesawat.

Belum lama aku membalas pesan Whatsapp dari Bu Hera, terdengar pemberitahuan agar seluruh penumpang yang akan berangkat/transit ke Makasar supaya melakukan boarding dan segera memasuki pesawat.

Kami bergegas mengikuti instruksi dari petugas bandara tersebut. Sesaat kemudian pesawat pun melaju meninggalkan kota Gorontalo.

Keindahan alamnya yang tampak dari balik jendela pesawat perlahan menghilang di antara gumpalan awan. Setelah transit sejenak di Makasar, kami langsung terbang menuju ke bandara Soekarno Hatta.

Alhamdulillah akhirnya kami bertemu kembali dengan Salma yang tiba di bandara yang sama beberapa saat kemudian. Kami saling bertukar cerita dan oleh-oleh. Salma membawa oleh-oleh Banana Cake, Cheese Cake dan dompet antik dari Jepang. Sedangkan kami membawa oleh-oleh khas dari kota Gorontalo.

Di dalam dus pemberian sahabat kami di Gorontalo tadi terdapat tiga kotak Kue Pia, lima stoples Kue Kerawang dan dua lembar kain khas Gorontalo (buat pria dan wanita). Masya Allah… 😍

Sahabat kami di Gorontalo telah mengamalkan Hadits Nabi Muhammad Saw. dengan menyambut baik dan memuliakan tamunya. Berikut ini haditsnya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/1546-adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html

Dan begitulah yang telah kami rasakan selama bertamu di kota Gorontalo. Selama sehari semalam, kami benar-benar telah diperlakukan seperti raja dan ratu oleh sahabat kami di sana. Barakallah fiikum 👑😊🙏

Menikmati Pesona Alam Pulo Cinta

Standar

Pulau Sulawesi yang sejak dulu kukenal sebagai pulau dengan bentuknya yang menyerupai huruf K, akhirnya kusinggahi bersama suami sekitar enam minggu sesudah Lebaran di tahun lalu.

Sebenarnya keberangkatan kami kali ini bisa dibilang cukup mendadak karena direncanakannya kurang dari satu minggu. Rencana ke Sulawesi ini baru terpikirkan oleh suami menjelang keberangkatan Salma untuk study tour ke Tokyo, Jepang.

Menurut suami, sembari mengantar Salma ke bandara Soekarno Hatta Jakarta dan menunggunya pulang, kami berdua bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk berwisata ke pulau Sulawesi. Waktunya juga bisa diatur. Jadi nanti saat Salma pulang, kami juga sudah pulang, sehingga bisa bertemu kembali di bandara Soekarno Hatta pada hari yang sama.

Kali ini suamiku sengaja memilih kota Gorontalo sebagai destinasi wisatanya karena baru saja mendapatkan informasi tentang tempat-tempat wisata yang menarik di sana. Selain itu nanti kami juga bisa sekaligus bersilaturahmi ke rumah Pak AR Muhammad dan istrinya, Bu Hera (teman satu rombongan Haji tahun lalu) yang tinggal di kota tersebut.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah Salma terbang ke Tokyo tengah malam, aku dan suami terbang ke Gorontalo dini harinya. Perjalanan dari Jakarta ke Gorontalo setelah transit sejenak di Bandara Sultan Hasanudin (Makasar) ini memakan waktu hampir lima jam.

Sesampainya di Bandara Jalaluddin, Gorontalo, kami mampir makan siang sebentar di Rumah Makan Cita Rasa “Jampang II” yang kami temukan di tengah perjalanan. Menu yang kami pesan adalah Sup Ayam, Nasi Ayam Rica-Rica dan Telur Dadar. Meskipun menunya sederhana, tapi rasanya mantap.

Setelah itu kami langsung menuju ke Pulo Cinta yang terletak di kabupaten Boaleamo, sekitar 100 kilometer dari kota Gorontalo. Untuk menuju ke pulau mungil yang terletak di Teluk Tomini ini, kami harus naik perahu diesel.

Angin laut berembus lembut menerpa wajah, mengiringi perjalanan kami. Ombak yang bergelombang terasa mengayun perahu yang kami tumpangi. Sejauh mata kami memandang, yang tampak lautan berwarna biru. Dari kejauhan samar-samar mulai terlihat bangunan-bangunan resor Pulo Cinta yang terbuat dari bambu.

Akhirnya sampailah kami di Pulo Cinta. Perahu menepi dan kami pun turun. Setelah mengurus administrasi penginapan, petugas mengantar kami ke salah satu resornya. Rencananya kami menginap semalam di sini karena ingin merasakan suasana bermalam di tengah lautan.

Pemandangan di sini memang sangat elok dan eksotik. Pulaunya berbentuk hati dengan pasir yang berwarna putih berpadu dengan lautnya yang berwarna biru jernih. Pulau ini dikelilingi dengan beberapa resor terapung dengan suasana seperti di Maldives. Mungkin karena ini ya pulau ini disebut Pulo Cinta?

Di Pulo Cinta ini memang terlihat beberapa pasang pengantin muda yang mungkin sedang berbulan madu dan menginap di sini. Ada yang sedang mengambil foto pasangannya. Ada yang sedang berenang bersama. Ada juga yang sedang duduk berdua menikmati keindahan panorama laut.

Suasana resor di sini memang sangat cocok sebagai tempat berbulan madunya para pengantin. Apalagi ada fasilitas diving dan snorkeling di sini. Serta didukung pesona alamnya yang cantik.

Ternyata ada legenda menarik di Pulo Cinta ini. Konon ada sebuah kisah cinta yang bersemi di antara seorang pangeran muda dari Gorontalo dengan seorang gadis cantik putri pedagang dari Belanda. Padahal saat itu tengah berkecamuk peperangan antara penduduk setempat dengan penjajah Belanda.

Untuk menyelamatkan diri dari suasana perang yang membahayakan dan demi mempertahankan cinta terlarang mereka, sepasang kekasih tersebut pergi mencari suatu tempat yang tepat.

Hingga akhirnya ditemukanlah Pulo Cinta ini sebagai tempat persembunyian mereka. Di bawah taburan bintang di langit saat malam hari dan di antara laut lepas berwarna biru di siang hari, mereka menemukan kebahagiaan dengan membangun cinta mereka. (sumber: https://www.pulocinta.com/)

Hmm… Sebuah kisah cinta yang menarik ya. Tapi harus dipahami dengan hati-hati agar tidak disalahartikan oleh para remaja khususnya yang sedang dimabuk cinta. Karena bagi kita, khususnya para muslim dan muslimah, tentu sudah paham ya bahwa pergaulan antara lelaki dan perempuan itu ada batasan-batasannya. Agar terhindar dari fitnah dan perbuatan zina.

Oke, ceritanya kulanjut lagi ya… Saat hari makin siang, seorang petugas mengetuk pintu kamar. Ternyata ia mengantarkan makan siang untuk kami. Menu makan siang yang disajikan di Pulo Cinta ini seperti menu masakan daerah pada umumnya. Tapi kekhasan Sulawesi tampak pada hidangan lauk ikan dan kue apangnya.

Kami menikmati makan siang di dek tempat berjemur yang berada di bagian belakang kamar sambil merendam kaki kami di air laut yang hangat. Ikan-ikan kecil tampak berenang lincah di antara kaki kami.

Resor ini sepenuhnya menggunakan tenaga surya untuk fasilitas listriknya. Meskipun berada di tengah laut, namun air untuk keperluan mandi tetap menggunakan air tawar.

Ketika hari mulai gelap, suasana resor semakin romantis. Dalam kegelapan malam dan cahaya remang lampu di kamar, kami bisa menyaksikan jutaan bintang yang berkelip indah di langit. Suara musik alam dari angin dan ombak mengiringi keindahan ini. Membuat kami jadi teringat kisah legenda cinta tadi.

Tapi semakin malam deru angin dan gelora ombak semakin kencang. Semalaman kami sampai tak bisa tidur gara-gara berulangkali terbangun oleh kerasnya suara hempasan ombak dan tak kuat menahan dinginnya angin yang menderu kencang melalui sela-sela pintu, jendela dan atap.

Padahal kami sudah mengenakan jaket dan selimut tebal. Saat itu bahkan sempat terselip rasa khawatir bila terjadi tsunami karena merasakan angin yang bertiup semakin kencang dan menyaksikan gelombang laut yang semakin besar dari balik jendela. Alhamdulillah suasana mencekam malam itu segera berlalu.

Keesokan harinya, di antara kehangatan cahaya mentari dan hembusan sejuk angin pagi kami menikmati sarapan dengan menu nasi goreng. Kemudian kami berjalan-jalan sejenak menyusuri pantainya yang indah.

Sesudah Zuhur kami meninggalkan Pulo Cinta, dan langsung menuju ke kota Gorontalo dengan menumpang mobil yang kami sewa dengan bantuan petugas hotel.

Di tengah perjalanan, driver-nya menawarkan makan siang khas Gorontalo kepada kami, lalu menghentikan mobilnya di rumah makan Pilitode yang terletak di Jalan Trans Sulawesi. Menurutnya masakan di rumah makan ini patut dicoba.

Dalam sekejap hidangan Ayam Iloni dan Ayam Santan yang kami pesan telah tersaji. Rasa masakannya memang lezat, dengan aroma bumbunya yang kuat. Ada juga Nasi Milu yang terbuat dari campuran beras dan jagung yang tak kalah lezatnya.

Pantaslah, di sepanjang perjalanan tadi banyak terlihat ladang tanaman jagung, baik di kiri maupun kanan jalan. Berbeda dengan di pulau Jawa yang lebih banyak tanaman padi di sawah.

Menjelang Asar kami baru tiba di Gorontalo. Kami menginap di sebuah hotel syari’ah yang terletak di daerah Limboto. Seusai mandi dan shalat kami langsung beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Sebuah pengalaman berkesan di Pulo Cinta akhirnya telah kami rasakan. Di mana kami tidur di bawah langit berbintang dan di antara deburan ombak dari lautan yang menggelora. Alhamdulillah…

Bukan Sembarang Spa

Standar

Sebelumnya, yang kutahu dari sebuah salon kecantikan adalah suatu tempat khusus untuk merias wajah dan menggunting rambut. Dulu ketika aku masih kecil, biasanya Mami mengajakku ke sana saat rambutku sudah mulai panjang dan tak rapi. Di salon itulah rambutku digunting dan dirapikan.

Ketika ada acara pernikahan salah seorang anggota keluarga, kadang-kadang Mami dan tanteku juga merias wajahnya di salon. Penampilan mereka menjadi tampak lebih menarik seusai dirias. Pernah juga aku dan adik perempuanku dirias tipis-tipis saat hadir ke acara pernikahan. Begitu pun ketika aku wisuda sarjana. Selain mengenakan kebaya, wajahku juga dirias di salon agar tampil beda.

Tapi ketika sudah bekerja di Jakarta, aku mulai mengenal istilah creambath, facial dan lulur di salon dari pembicaraan teman-temanku di kantor. Hanya saja aku belum pernah mencobanya sama sekali.

Hingga ketika menjelang hari pernikahan, barulah aku merasakan seperti apa facial dan creambath di salon . Kebetulan saat itu memang perawatan tersebut menjadi bagian dari paket perawatan pra nikah yang kuambil. Hmm, ternyata enak juga ya… Rasanya benar-benar dirawat dan dimanjakan bagai seorang ratu.

Tapi setelah menikah dan melahirkan anak, aku tak pernah facial dan creambath lagi. Kalau ke salon, hanya sekedar untuk potong rambut saja. Atau untuk merias wajah bila ada acara pernikahan di keluarga.

Hingga ketika Salma telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja, tiba-tiba terbersit dalam pikiranku, ingin mengajaknya perawatan lulur di salon untuk membantu menghilangkan bekas cacar airnya.

Kebetulan waktu itu di Cirebon ada salon yang baru saja dibuka dan menyediakan paket-paket perawatan wanita yang harganya terjangkau. Aku langsung mengajak Salma ke sana. Alhamdulillah, kami cocok sehingga sebulan sekali datang untuk perawatan di sana.

Ada beberapa terapis yang baik pelayanannya sehingga setiap kali akan perawatan, kami menghubunginya sebelumnya. Kami sempat menjadi pelanggan setia di sana.

Namun sayang ketika salon tersebut semakin ramai, ada beberapa hal yang membuat kami malah merasa semakin tidak nyaman saat perawatan. Seperti tidak adanya ruang khusus muslimah ketika cuci rambut, terapis langganan kami sudah resign dan area parkirnya terlalu sempit.

Terpaksa kami mencari salon/spa lain yang terpisah perawatannya antara pria dan wanita. Sebetulnya ada beberapa spa yang cocok. Tapi tidak bertahan lama karena tempat perawatannya tak terpisah sepenuhnya antara pria dan wanita.

Suatu hari ketika kami lewat jalan Drajat, Cirebon kami menemukan sebuah salon muslimah. Namanya Moza Salon Muslimah. Mobilku langsung kuparkir di area parkir yang berada pada halaman depannya. Area parkirnya cukup luas.

Di pintu masuknya yang bergambar wanita berbusana muslimah, tertera tulisan, “Pria dilarang masuk. ”

Dari kesan pertama tersebut, aku sudah mulai tertarik dengan salon ini. Apalagi ketika staf di front office menyambut kami dengan ramah. Suasana ruangan juga rapi dan bersih. Di beberapa sudut ruangan tampak berhiaskan bunga-bunga kecil bertema vintage. Ketika baru pertama kali mencoba refleksi saja kami sudah merasa cocok. Sebab terapisnya terampil dan pelayanannya memuaskan.

Akhirnya kami menjadi pelanggan setia di sana. Bisa dibilang hampir setiap bulan kami datang ke sana. Kadang untuk refleksi, kadang beauty massage, kadang hair spa, kadang totok wajah. Semua perawatannya baik, cocok dan bisa menghilangkan keletihan. Sesudah perawatan badan jadi terasa lebih segar kembali.

Beberapa poin yang membuat salon ini berbeda dari salon kebanyakan dan membuat kami cocok adalah sebagai berikut:

1. Pria dilarang masuk sama sekali sejak dari depan pintu masuk.
2. Semua terapisnya muslimah dan berkerudung/berbusana muslimah.
3. Setiap bulan ada pilihan paket perawatan menarik yang bisa menghemat pengeluaran.
4. Kadang diberikan voucher free perawatan atau senam di sanggar milik owner salonnya.
5. Sebelum dimulai perawatan, para terapis selalu mengajak para customernya untuk membaca Basmallah. Lalu sesudah selesai perawatan membaca Hamdallah.
6. Pada saat perawatan refleksi, beauty massage dan hair spa ada tambahan terapi hot stone.
7. Ada sajian camilan ringan yang lezat dan minuman teh/jahe panas bagi setiap customer seusai perawatan.

Sampai ketika Salma sudah kuliah pun bila sedang libur kuliahnya, ia masih suka mengajakku untuk perawatan di sana. Di Bandung juga sebetulnya ada cabang Moza Salon Muslimah. Tapi yang di Cirebon jauh lebih nyaman, pelayanannya lebih memuaskan dan lebih bersih.

Akhir bulan Agustus yang lalu ada pesan masuk dari admin Moza Salon Muslimah ke Whatsapp-ku.

Assalamualaikum ibu Irma .. Apa kabar ? Semoga sehat2 selalu..
Kami mengundang untuk hadir di acara silaturahmi member moz5 salon cirebon (beauteatime) 2019.
Untuk rules nya bisa di lihat di undangan yg kami sertakan..
Kegiatan beauteatime ini diantaranya sharing antar member, dan mini talkshow..dan juga ada give menarik yg bisa di bawa pulang setelah acara selesai..
Untuk konfirmasi kehadiran bisa kami tunggu sampai tanggal 5 september.
Terimakasih 😘

Rupanya aku diundang ke acara Beautea Time yang diadakan oleh Moza Salon Muslimah Cirebon dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke 3. Yang diundang adalah para member setianya. Kebetulan aku memang sudah menjadi member di sana selama kira-kira lebih dari 2 tahun.

Saat hari pelaksanaan acara tiba, aku datang 15 menit lebih awal. Semula yang datang hanya 1 hingga 3 orang saja. Lama kelamaan bertambah banyak. Kami jadi bisa saling berkenalan satu sama lain. Suasana di ruang salon jadi berubah seperti suasana pesta. Terlihat hiasan dekorasi pada dinding dan deretan aneka kue.

Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan Moza Salon Muslimah dari Pusat dan pemilik salon ini yang cabang Cirebon. Mereka memaparkan tentang jumlah cabangnya yang kini sudah ada sebanyak 26 outlet dan tersebar di seluruh Indonesia hingga rencana program barunya.

Seperti:

– Setiap hari Jumat minggu ke 3 gunting rambut suka-suka (bayar bebas)

– Agenda collect stamp dengan minimum transaksi Rp150.000 akan mendapat 1 stempel. Bila transaksi mencapai Rp400.000 maka akan mendapat 2 stempel.
10 stempel: free hair spa
12 stempel: free totok wajah

– Selanjutnya akan ada Mozbile, yaitu aplikasi online bisa panggil terapis, bisa juga booking perawatan sebelumnya.

– Nanti juga ada Program Office to Office, di mana terapis akan datang ke kantor-kantor untuk membuka beauty class, hijab class dan lain-lain.

Di akhir acara ada sesi tanya jawab yang berhadiah produk kecantikan Moza Salon Muslimah. Aku juga sempat bertanya sehingga mendapat produk sebotol cologne ukuran kecil.

Saat acara berakhir, semua member diberi oleh-oleh produk perawatan rambut dari Moza. Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. Alhamdulillah, aku bersyukur telah menjadi member dan pelanggan setia Moza Salon Muslimah Cirebon.

Terima kasih Moza Salon Muslimah atas pelayanannya yang memuaskan selama ini. Semoga usahanya semakin sukses dan berkah. Aamiin ya rabbal’aalamiin.

Investasi Terbaik

Standar

Kehidupan ini bagaikan roda yang terus berputar. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Kadang sukses, di lain waktu gagal.

Maka tak heran bila semakin banyak orang yang mempersiapkan diri dari berbagai kemungkinan yang terburuk dalam hidupnya dengan berbagai macam cara agar terhindar dari kondisi yang tidak diharapkan.

Di antara persiapan yang bisa dilakukan adalah dengan berinvestasi. Bila berhubungan dengan persiapan dan cadangan harta, maka investasi yang biasanya dilakukan adalah dengan menabung, asuransi, membeli tanah, rumah atau emas.

Tapi di luar investasi yang berbentuk harta, sebetulnya ada investasi lain yang tidak kalah penting. Yaitu :

1. Investasi ilmu
2. Investasi kesehatan
3. Investasi kebaikan

Baik, mari kita bahaa satu persatu ya…

1. Investasi Ilmu

Ketika seseorang mengisi masa mudanya dengan rajin dan tekun belajar dalam mempelajari sebuah ilmu pengetahuan atau ketrampilan, maka ia adalah seorang yang beruntung. Sebab sesungguhnya ia tengah menanam investasi ilmu yang kelak akan dituainya di masa depan.

Bisa jadi di saat ia tengah bersusah payah belajar, sebagian temannya malah bermalas-malasan. Sebagian lagi memilih berfoya-foya menghamburkan uang. Atau memilih menghabiskan waktunya untuk bermain game sampai lupa waktu.

Ketika masa demi masa telah berlalu dan si pembelajar yang rajin tadi tengah menuai kesuksesannya, serta menikmati kebahagiaan hidup sebagai buah dari ketekunannya dalam belajar, pada saat itulah teman-temannya yang dulu bermalas-malasan akhirnya merasakan penyesalan yang mendalam.

Dulu mereka terburu ingin segera menuai hasil dan menikmati kesenangan secara instan, sehingga malas belajar dan enggan berusaha secara maksimal. Bahkan ada yang melakukan cara-cara yang curang demi meraih harapannya secara instan tanpa harus bersusah payah. Akibat dari ketidaksabaran dalam menjalani kehidupan itulah, akhirnya mereka harus menanggung penyesalan tersebut.

Coba saja dulu mereka mau berinvestasi ilmu dengan belajar sungguh-sungguh bersama si pembelajar tadi, pasti mereka pada saatnya juga akan menikmati hasil dari kesungguhan dalam belajarnya tersebut.

Beberapa contoh dari investasi ilmu dan hasilnya adalah sebagai berikut:

– Rajin belajar sejak kecil –> sukses masuk di perguruan tinggi dan jurusan yang diharapkannya.
– Aktif dalam mengikuti kegiatan yang menambah wawasan, seperti seminar, workshop –> mendapatkan ilmu, relasi dan terasah kemampuannya –> sukses dalam pekerjaannya
– Gemar membaca buku –> memperluas wawasan –> bekal penting untuk meraih kesuksesan sesuai bidangnya masing-masing.

2. Investasi Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu kenikmatan dari Allah Swt. yang sering dilalaikan orang. Banyak orang ketika masih muda melalaikan kesehatannya dengan melakukan berbagai hal yang menurutnya nikmat dan mengasyikkannya.

Seperti merokok, mengonsumsi makanan/minuman yang berkadar gula, garam dan lemak yang tinggi secara berlebihan, malas berolah raga, sering begadang, melakukan pergaulan bebas, dan lain-lain.

Tanpa sadar, apa yang dilakukannya itu secara perlahan tapi pasti tengah menggerogoti kesehatannya sendiri. Kenikmatannya hanya sesaat, namun berakibat pada penderitaan yang berkepanjangan. Itulah sebuah kerugian yang sesungguhnya.

Mungkin sebagian orang ada yang menganggap aneh terhadap mereka yang berhati – hati dalam menjaga kesehatannya. Padahal justru mereka patut diteladani karena apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah upayanya dalam berinvestasi kesehatan. Dan investasi kesehatan memang tak selalu berupa asuransi kesehatan atau BPJS Kesehatan.

Ada investasi yang jauh lebih penting, yaitu dengan membiasakan hidup sehat. Seperti melindungi diri dari asap rokok dan polusi udara, menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, serta selalu mencuci tangannya sebelum makan, mampu mengendalikan nafsu makannya. Tidak berlebihan namun juga tidak kurang. Pandai memilih makanan yang bergizi. Pola hidupnya teratur dan seimbang antara waktu bekerja dan beristirahat. Antara waktu ibadah, olah raga dan rekreasi. Antara waktu bersama keluarga dan teman.

Investasi kesehatan di masa muda tersebut akan menghasilkan fisik dan mental yang tetap sehat dan kuat tatkala tiba masa tuanya dibandingkan dengan teman seusianya yang lalai dalam kesehatan. Ketika memasuki masa tua ia akan menjadi lebih bugar dan jarang sakit.

Keuntungannya, selain lebih awet muda dan panjang umur, ia bisa lebih banyak bekerja maupun berkarya dengan maksimal tanpa gangguan kesehatan. Dan ia juga akan mempunyai waktu lebih lama dalam membersamai anak dan cucunya tanpa merepotkan mereka.

3. Investasi Kebaikan

Investasi yang ketiga ini adalah sebuah Investasi yang berhubungan dengan sikap dan perilaku kita, baik dalam beribadah kepada Allah Swt. maupun terhadap orang – orang di sekitar kita, baik itu saudara, keluarga, tetangga atau masyarakat luas.

Apabila ibadah, sikap dan perilaku kita baik, maka Allah Swt. akan mengembalikan semua kebaikan tersebut kepada kita. Begitu pun sebaliknya. Hidup adalah pilihan. Kita mau memilih panen kebaikan kelak di masa depan, baik dunia maupun akhirat, atau sebaliknya?

Nah investasi kebaikan ini bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Seperti mengucap salam ketika saling bertemu. Saling mendoakan keselamatan dan kesuksesan. Saling menasihati dalam kebaikan. Saling bersilaturahmi dan saling mendukung. Ketika melakukan kesalahan tidak gengsi untuk minta maaf.

Hasil dari investasi kebaikan ini kelak juga luar biasa lho… Allah Swt. akan melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Siapa pun pasti mendambakannya bukan? Nah mulai dari sekarang bersegeralah melakukan investasi kebaikan.

Yuk kita investasikan ilmu, kesehatan dan amal baik kita dengan maksimal. Terutama bagi yang masih berusia muda. Agar tak merugi di masa depan dan tak ada penyesalan di kemudian hari.

Sebagai pengingat, mari kita renungkan ayat-ayat Al Quran di bawah ini:

وَالْعَصْرِ
Demi masa.”

إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَفِى خُسْرٍ

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian,”

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

(QS. Al-‘Asr 103: Ayat 1 – 3)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Simak juga sabda Rasulullah Saw. (dari Ibnu ‘Abbas ra):

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sumber:
https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html

Sumber gambar: http://www.pinterest.com

Universitas Kehidupan

Standar

Liburan kuliah yang panjang tak hanya menjadi kesempatan terbaik bagi Salma (putriku) untuk menuangkan hobi menggambar sepuas-puasnya ke dalam beberapa karya ilustrasi atau sekedar coretan imajinasinya.

Liburan ini juga menjadi saat yang paling kunantikan. Karena pada masa itulah kami bisa menikmati quality time bersama. Tak setiap saat aku bisa menikmati masa yang menyenangkan ini ketika Salma sedang kuliah.

Mengobrol berdua bersama Salma sambil makan sashimi kesukaannya atau ‘kruntelan‘ bersamanya di kasur sambil mengelus-elus telapak tangannya (seperti kesukaannya semenjak kecil), sudah cukup menyenangkan hati kami.

Biasanya tema yang diobrolin seputar teman-teman kuliahnya dengan berbagai sifat dan keunikannya. Atau tentang kesibukannya selama kuliah dengan tugasnya yang bejibun. Juga tentang proyek-proyek yang sedang diambilnya.

Tapi malam itu rupanya Salma ingin minta waktu khusus denganku. Ia ingin mengobrol sesuatu yang lebih serius bersamaku. Aku menyambutnya dengan baik. Dengan senang hati kupersiapkan waktuku untuk menyimak semua curhat dan obrolannya.

Sejenak kulihat wajahnya yang tampak murung. Seperti memikirkan sesuatu.

S: “Ma, maaf ya Ma… Selama kuliah ini saya belum punya sesuatu yang bisa membanggakan Mama Papa. Beda banget sama waktu dulu pas masih SMP atau SMA. Dulu kan sering menang lomba dan di sekolah juga masih bisa masuk 5 besar. Tapi sekarang… Boro-boro punya prestasi, Ma… ”

I: “Hmmm, Mama dengar dari seorang Psikolog di ITB memang mayoritas seperti itulah yang sering dikeluhkan oleh para mahasiswanya. Dulu di sekolahnya masing-masing mereka punya banyak prestasi.

Setelah masuk ITB dan bertemu dengan teman-teman barunya yang juga memiliki banyak prestasi di sekolah sebelumnya, prestasi mereka jadi seperti tenggelam. Itulah yang namanya di atas langit ada langit.

Dengan kondisi semacam ini bagaimana pun tetap ada efek positifnya. Karena malah bisa membuat kita jadi lebih memahami, bagaimana rasanya ketika kita sedang tidak berada pada posisi di atas/yang diharapkan. Sehingga akan mencegah diri dari keangkuhan dan meremehkan orang lain.

Jadi buat Mama nggak masalah kok, Salma… Ada pembelajaran berharga di dalamnya. Yang penting Salma tetap rajin belajar dan survive. Nanti ada saatnya Salma bisa kembali meraih prestasi.

Di luar itu semua, yang membanggakan bagi Mama dan Papa sebetulnya tak selalu berupa prestasi dengan menang lomba atau rangking di sekolah.

Ketika Salma mampu hidup mandiri, sering kontak Mama Papa, bisa menjaga diri, tetap rajin shalat dan baca Al Quran… Bagi Mama itu sudah merupakan pencapaian Salma yang sangat membanggakan.

Lagipula kan Salma sudah banyak membantu Mama, sering bikin ilustrasi di buku-buku Mama. Bahkan bikin logo Rumah Belajar Cirebon yang sekarang jadi branding-nya.”
Senyum Salma mulai merekah.

S: “Oh gitu ya…Terima kasih Ma… Tapi kenapa ya saya belakangan ini jadi cenderung apatis?”

I: “Apatis itu biasanya timbul karena merasa dirinya tak dianggap dalam suatu komunitas sehingga cenderung menarik diri. Padahal bisa jadi perasaan itu timbul karena kurang percaya diri. “

S: “Iya Ma… Saya memang belakangan merasa kurang percaya diri. Saya lihat teman-teman kuliah saya itu pada bagus komunikasinya. Pada punya prestasi. Yang perempuan juga pada cantik dan cerdas. Sedangkan saya? Sudah jerawatan, kaku komunikasinya, belum punya prestasi lagi.”

Salma murung lagi. Aku memeluk Salma.

I: “Hayo Salma. Jangan berkata seperti itu lagi ya… Salma harus banyak bersyukur karena sudah berhasil melewati 4 semester di ITB. Padahal waktu itu sempat terpikir salah jurusan kan…. Tapi terbukti Salma bisa tangguh dan pencapaiannya pun masih terbilang bagus.”

“Salma juga cantik kok… Masalah jerawat, nanti juga bisa hilang. Masalah kekakuan dalam berkomunikasi, dengan sering bertemu banyak orang , nanti Salma akan luwes bergaul dengan sendirinya.”

Jadi sekarang semangat lagi ya Salma… Karena memang tak ada lagi yang perlu Salma resahkan dari diri Salma. Pada dasarnya memang Salma tidak ada masalah dan semua baik-baik saja.

Salma mengangguk dengan bola mata yang berbinar. Senyumnya pun kembali mengembang.

I: “Nah, Salma… Sebetulnya sekarang Salma sedang menempuh dua perkuliahan, lho… Yang pertama kuliah di ITB dan yang kedua kuliah di Universitas Kehidupan.”

Salma tampak menyimak dengan serius.

“Kalau materi perkuliahan di ITB kan Salma sudah paham ya…
Nah kalau materi penting yang perlu Salma kuasai dari Universitas Kehidupan adalah sebagai berikut:

1. Perbanyak mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan menjaga shalat, sering berzikir dan membaca Al Qur’an. Kalau ada masalah, curhatlah pada-Nya terutama di sepertiga malam. Mohon ampun dulu atas semua dosa yang pernah dilakukan. Tumpahkan semua masalah yang ada. Dan mohon pertolongan-Nya.

Setelah itu maksimalkan baktimu kepada kedua orang tua agar setiap langkahmu mendapat berkah.

2. Selalu ucapkan kata-kata yang positif. Agar aura dan semua hal yang positif melingkupimu. Biasakan selalu optimis dan tersenyum dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Agar dunia pun selalu tersenyum padamu.

3. Cerdas dalam mengendalikan emosi dan nafsu. Sehingga dalam segala kondisi tidak mudah terpengaruh godaan apapun yang bisa menggelincirkanmu dalam dosa dan maksiat.

4. Sering-seringlah berbuat baik kepada siapa pun. Maka kebaikan akan kembali kepadamu.

5. Jangan apatis. Jadilah orang yang punya rasa empati meskipun saat itu tak ada orang yang mempedulikanmu.

6. Seburuk apa pun wajah, bila memiliki kecantikan batin, maka kecantikan batin inilah yang akan lebih terpancar daripada sekedar cantik secara fisik.

Oke Salma… Mama doakan semoga sukses ya kuliah di ITB dan Universitas Kehidupannya. Semoga Salma juga sehat dan bahagia selalu.

Barakallah Salma sayangku… “
Aamiin ya rabbal’aalamiin

Kulihat Salma sedang sibuk merangkum apa yang tadi telah kusampaikan. Lalu dijadikan wallpaper di smartphone-nya sebagai pengingat.

Tiba-tiba Salma beranjak dari duduknya lalu bergegas keluar dari kamar meninggalkanku tanpa berkata apa pun.

Aku terkejut melihat reaksinya yang tiba-tiba itu.

Lho, mau ke mana Salma?”

Aku pun beranjak dari kasur hangatnya Salma, lalu keluar dari kamar, mencari Salma.

“Salma, ada di mana? Lagi apa nih?”

“Sebentar Ma…, “ terdengar suara Salma dari arah dapur.

Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan gelas. Belum sempat aku menyusulnya ke dapur, Salma sudah muncul sambil membawa segelas lemon tea hangat, lengkap dengan biskuit Marie.

Wow, terima kasih sayangku… “

“Sama-sama Ma…, ini sebagai tanda terima kasih buat Mama yang sudah kasih motivasi ke saya”

Meleleh rasanya hati ini jadinya.

Lalu kami kembali ke kamar Salma. Sambil menemaninya tidur, perlahan kuseruput lemon tea buatan Salma itu.

Rasanya tak hanya menghangatkan tenggorokan, tapi juga hatiku. Apalagi ketika malam itu kulihat Salma tidur pulas dengan wajah tanpa beban. Kuelus rambutnya dan kucium pipinya.

Ya Allah jaga dan lindungilah selalu putriku ini di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Aamiin ya Allah…

Filosofi Sari Lemon 🍋

Standar

Bismillahirrahmaanirrahiim… Dalam tulisan pertama di pertengahan bulan Oktober ini, izinkan aku bercerita tentang sebuah pencapaian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Sebelumnya, aku hanyalah seorang ibu sederhana yang belum punya banyak pengalaman dalam hal direct selling, selain menjual buku. Apalagi sejak kecil aku memang kurang pede di urusan begini.

Semua ini berawal dari ketika aku membaca status di FB Mas Buyut (Jendral OSB) yang menawarkan peluang menjadi reseller NutriLemon dengan cara menghubungi sebuah nomor WA (Nomor WA Mas Baim/Juragan NutriLemon).

Setelah mendapatkan informasi seputar NutriLemon darinya, aku lalu mencoba memesan 4 botol NutriLemon (NL) saja dulu untuk dijual secara eceran di Rumah Belajar Cirebon. Pesanan pertama tersebut tepatnya di tanggal 29 Agustus 2019. Bila tak laku terjual, toh bisa kukonsumsi sendiri karena kebetulan aku suka minum sari lemon, begitu pikirku saat itu.

Dari 4 botol itu, yang 1 botol kukonsumsi sendiri, dan yang 3 botol lainnya kupajang di Rumah Belajar Cirebon, barangkali saja ada yang berminat membelinya.

Dalam waktu kira-kira 2 minggu, 3 botol NL tersebut laku terjual. Aku menambah pesanan lagi 10 botol NL pada tanggal 15 September 2019. Alhamdulillah perlahan tapi pasti NL-nya kembali laku terjual.

Lalu 4 hari kemudian aku memesan 36 botol lagi untuk menggenapkan pesanan sebelumnya sehingga menjadi total 50 botol sesudah dimotivasi oleh Mas Baim untuk meng-upgrade dari posisi reseller menjadi grosir dengan minimal pembelanjaan (saat itu) 50 botol.

Hingga suatu hari ‘keajaiban’ pun datang. Tepatnya ketika diadakan acara seminar “5 Formula Bisnis” pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 di Rumah Belajar Cirebon yang diisi oleh Mas Ardi Gunawan (Founder OSB)

Sore hari sebelum acara seminar dimulai, aku ‘dipaksa’ oleh Mas Ardi untuk memesan 100 botol NL ke Pusat. Aku sempat ragu dan pesimis. Apa bisa laku terjual NL sebanyak itu? Sedangkan yang 4 botol saja baru laku terjual setelah 2 minggu.

Tapi akhirnya aku nekat memesannya. Mas Ardi meminta supaya malam itu juga kiriman NL tersebut sudah sampai di Cirebon agar bisa ditawarkan ke peserta seminar. Sehingga digunakanlah bus malam sebagai sarana pengirimannya.

Saat menjelang dini hari kiriman NL pun sampai di Cirebon dan langsung diamankan oleh Mas Ardi yang sudah tiba lebih dahulu di Cirebon. Saat itu Mas Ardi memang sedang menjenguk kedua orang tuanya yang tinggal di Kuningan, Cirebon.

Acara seminar yang direncanakan secara mendadak (2 hari sebelumnya) pun alhamdulillah berlangsung sukses dengan dihadiri sekitar 61 orang. Menjelang berakhirnya acara, tiba-tiba aku ‘ditodong’ oleh Mas Ardi di depan seluruh peserta seminar.

“Bu Irma siap ya menjadi stokis NutriLemon dan OSB untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya?”

Saat itu sebetulnya aku bingung mau jawab apa? Karena yang terbayang di benakku, berapa banyakkah modal yang harus kupersiapkan bila nanti menjadi stokis? Belum lagi kekhawatiran bila stok barang berlebih pun bila kurang. Tapi di sisi lain aku juga merasa senang karena mendapat kepercayaan dari Mas Ardi. Sehingga aku langsung menjawab.

“Ya insya Allah saya siap Mas Ardi”

Lalu Mas Ardi menawarkan peluang berbisnis NL dan OSB kepada para peserta. Sebagian peserta mengacungkan tangannya tanda berminat.

Alhamdulillah, pada hari itu juga 50 botol NL laku terjual dan sebagian peserta bergabung menjadi mitra. Keesokan harinya ada lagi yang memborong 50 botol NL sehingga 100 botol NL pun seketika habis terjual. Pantaslah bila dikatakan NL ini seperti berlian yang banyak diperebutkan orang.

Sejak launching-nya pada tanggal 25 Agustus 2019, NL menjadi produk yang banyak dicari orang. Aku bisa menyaksikan sendiri bagaimana para grosir dari berbagai kota di Indonesia sampai berebut memesannya dalam jumlah banyak. Apalagi persediaan buah lemon dari para petani lemonnya pun semakin terbatas. Sehingga otomatis persedian NL di produsennya pun kian menipis.

Maka Mas Ardi sampai menyarankanku untuk memesan 200 botol NL lagi agar stok di wilayah Cirebon selalu tersedia. Sehingga sehari setelah acara seminar aku langsung memesan NL sejumlah itu.

Dan…, memang benar, para mitra secara bergantian memesan NL kembali (repeat order). Di akhir bulan September, aku kembali memesan NL sebanyak 150 botol sebagai antisipasi barangkali ada peserta yang berminat membelinya saat acara Kajian Magnet Rezeki. Acara ini berlangsung pada tanggal 1 Oktober 2019 dan diisi oleh Mas Ardi Gunawan dan Kang Tendi Murti (Founder KMO).

Di luar prediksi, ternyata sesudah acara kajian tak banyak yang membeli NL seperti saat acara seminar sebelumnya, sehingga stok NL sempat mengalami kelebihan selama beberapa minggu. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagiku agar berikutnya bila mau menambah pesanan NL sebaiknya ketika stok sudah menipis saja.

Meskipun begitu ada berita yang menggembirakan. Aku melihat ada foto dan namaku tercantum di poster pengumuman Top Leader NutriLemon (yang dishare di FB Mbak Siti Khodijah). Mbak Siti Khodijah juga salah seorang grosir yang masuk 10 besar Top Leader NutriLemon.

Masya Allah… Sebuah pencapaian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Saat dimasukkan ke grup grosir utama, jujur saja, aku sempat merasa minder, sekaligus kagum dan salut kepada para grosir lain yang penjualan NL- nya bisa mencapai 500 hingga 1000 botol.

Berkat kemudahan yang Allah Swt. berikan, serta kerjasama yang baik dengan staf, guru-guru Rumah Belajar Cirebon dan semua yang telah bergabung menjadi mitra, kini aku pun berhasil masuk ke posisi di antara mereka. Jazakumullah khairan katsira untuk semuanya.

Sempat tak percaya dengan pencapaian ini, sampai kuhitung ulang total pemesanan NL sejak awal hingga akhir bulan lalu. Ternyata memang betul sudah mencapai 530 botol (karena ada tambahan 30 botol di akhir bulan). Dan dalam waktu kira-kira 3 minggu, yang sudah berhasil terjual sebanyak 406 botol. Alhamdulillah

Kebahagiaan lain yang kurasakan adalah melalui wasilah NL ini tak hanya aku yang merasakan manfaat finansial dan kesehatannya. Staf, guru-guru Rumah Belajar Cirebon dan para mitra di wilayah kota Cirebon pun ikut merasakannya. Alhamdulillah

Bagaimana pun aku menyadari bahwa roda kehidupan itu terus berputar. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Begitu pun dengan suka duka menjadi seorang stokis. Sehingga aku harus siap dengan naik turunnya omset penjualan NL dan OSB. Yang penting aku tidak boleh menyerah dan berputus asa.

Aku bersyukur, bahwa di balik pencapaian ini, aku mendapatkan banyak sekali hikmah yang membuat pikiranku terbuka, di antaranya:

1. Tak ada kata mustahil bila Allah Swt. sudah berkehendak.

2. Berbakti kepada orang tua akan membawa berkah dalam kehidupan.

3. Doa orang tua, khususnya doa seorang Ibu adalah doa yang makbul.

4. Kita akan mengalami percepatan dalam bisnis dan karir bila kita:
– Bergaul dengan orang-orang yang sukses dan memiliki aura positif
– Bermitra/bekerjasama dengan orang-orang yang sukses.
– Mengikuti pola hidup/ kebiasaan orang-orang yang sukses dengan menjadi karyawannya.

5. Bila kita hanya bekerja sendiri, maka hasil yang diperoleh tak akan semaksimal bila kita bekerjasama dengan orang lain.

6. Luruskan niat saat bekerja. Tak hanya untuk meraih keuntungan pribadi, namun yang utama adalah untuk mencari keridhaan Allah Swt. dan untuk kebermanfaatan bersama.

7. Carilah rezeki dari sumber dan cara yang halal agar rezeki yang telah diperoleh diberkahi Allah Swt dan membawa ketenangan dalam keluarga.

8. Ada kalanya kita harus dipaksa untuk melakukan suatu hal yang di luar kebiasaan kita untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik.

9. Di balik rasa ‘kecut-kecut’ menyegarkannya sari lemon, ada sebuah filosofi yang bisa kita renungkan.

Acapkali kita harus melalui suatu kondisi yang tak diharapkan, yang membuat hati dan senyum menjadikecut’.

Tetapi bila kita sabar, keajaiban akan datang, sehingga hati dan senyum ‘kecut’ pun kan berganti senyum yang segar ‘sumringah‘. Sesegar sari lemon. 🍋

Mendaki Mimpi hingga Mount Titlis (buku soloku ke 5)

Standar

Setiap orang boleh bermimpi dan memiliki impian. Saya yakin teman-teman juga mempunyai impian. Mungkin impian ini bisa berupa cita-cita di masa depan, target dalam pencapaian karir atau sebuah perjalanan wisata. Semua itu tentu sah-sah saja bila tujuan dan mencapainya secara positif.

Tak perlu malu dengan impian-impian kita. Karena boleh jadi bermula dari impian tersebut kita menjadi lebih termotivasi untuk terus berusaha dan berdoa hingga tercapai.

Berwisata ke negara Swiss dan negara-negara di sekitar Eropa adalah impian saya sejak masa kecil. Iklim empat musim dan hamparan bukit dengan panorama pegunungan Alpennya yang indah menjadi daya tarik utama.

Bagi sebagian orang, berwisata ke benua Eropa mungkin sudah bukan sesuatu yang ‘wah’ lagi. Karena faktanya, sekarang sudah semakin banyak yang dikarunia kesempatan dan kelebihan secara ekonomi sehingga mampu berwisata kesana.

Tapi bagi saya dan keluarga, terutama di masa awal merintis usaha tentu bukanlah sesuatu yang mudah untuk mencapai impian tersebut. Jalan mendaki harus kami tempuh untuk mencapainya. Alhamdulillah, di tahun 2015 impian kami terwujud.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan kesan mendalam atas terwujudnya impian ini, saya coba menuliskan semua pengalaman sejak dari awal rencana berangkat hingga tiba kembali ke tanah air dalam buku yang berjudul “Mendaki Mimpi hingga Mount Titlis” dengan tebal sekitar 265 halaman ini.

Buku ini menjadi catatan perjalanan kami selama 12 hari berwisata di 7 negara Eropa Barat. Ada aneka pengalaman unik, menyenangkan dan mendebarkan yang saya tuliskan dengan bahasa yang ringan. Saya sertakan juga tips wisata di setiap akhir bab dalam buku ini untuk membantu teman-teman yang sedang mempunyai rencana berwisata ke Eropa untuk pertama kalinya.

Di bagian akhir buku ini saya tambahkan tulisan Salma putri saya yang menceritakan pengalamannya selama berwisata di sana dengan bahasanya yang kocak dan ceplas ceplos khas gadis remaja sehingga menjadi bumbu penyegar buku ini.

Bila teman-teman berminat membeli buku saya, mulai hari ini, 1 Juli 2019 saya Open PO hingga tanggal 20 Juli 2019.

– Harga buku selama masa PO : Rp65.000
– Harga buku sesudah masa PO: Rp72.000
(belum termasuk ongkos kirim)

Untuk memesan buku ini, silakan kontak saya dengan klik nomor ini: https://wa.me/6285864306210

Terima kasih ya teman-teman atas pesanan bukunya. 😊💕🙏

#BukuBaru #travelwriting #WestEurope #Family Trip

Bernostalgia dengan Bus Jurusan Yogyakarta – Magelang

Standar

Rencana berlebaran ke rumah Mami di Magelang akhirnya baru terlaksana pada minggu terakhir bulan Juni setelah mengikuti acara keluarga besar suami di Malang pada minggu pertama Lebaran.

Sebelumnya kami berencana ke Magelang bersama pada hari Kamis 27 Juni yang lalu dengan mengendarai mobil. Tapi karena mendadak ada kegiatan pada hari itu juga yang tak bisa ditunda, aku pulang ke Magelang terlebih dahulu dengan kereta Ranggajati jurusan Cirebon – Yogyakarta. Suami dan putriku baru menyusul keesokan harinya.

Aku hanya tak ingin mengecewakan Mami dan adikku yang sudah menunggu kehadiranku sejak beberapa hari yang lalu, setelah sebelumnya rencana pulang kami berubah-ubah waktunya karena ada acara lain.

Perjalanan dengan kereta dari jam 5 pagi berakhir di stasiun Tugu Yogyakarta pada jam 09.30 lebih sedikit. Menjelang tiba di stasiun, aku baru teringat kalau mobil elf Damri yang jurusan Magelang baru tersedia pada jam 12 siang (sesuai jadwal Damri di kartu).

Karena tak ingin menunggu di stasiun terlalu lama, aku berusaha mencari informasi travel yang jurusan Yogyakarta – Magelang melalui Google. Barangkali ada yang berangkat jam 10.30 atau jam 11.00.

Ternyata berdasar informasi dari beberapa travel yang kuhubungi secara online, jadwal berangkat yang tersedia hanya tinggal yang jam 12.00. Yah, itu sih sama saja dengan jadwal berangkatnya Damri dong… Meskipun demikian setibanya di stasiun Tugu aku tetap mencari informasi keberangkatan Damri untuk lebih memastikannya.

Wah, menurut petugas administrasi Damri-nya malahan jadwal berangkat terdekat yang tersedia jam 13.00. Makin lama atuh ya menunggunya… Ya sudahlah, akhirnya kuputuskan untuk memesan travel saja langsung ke tempatnya. Dari informasi yang kuperoleh di Google tadi lokasi travelnya berada di jalan Diponegoro, Yogyakarta.

Beberapa becak motor dan tukang ojek menawarkan diri untuk mengantar ke lokasi yang kuinginkan. Entah mengapa pagi itu aku merasa agak bimbang antara pengin beli bakpia kukus yang terkenal di jalan Solo untuk oleh-oleh atau langsung ke lokasi travel.

Bahkan aku sampai tak terpikir untuk memesan taksi online seperti biasanya bila sedang berada di luar kota. Malah tiba-tiba aku pengin mencoba naik bus Trans Jogja.

Berdasar informasi yang kuperoleh, halte busnya memang tak terlalu dekat. Tapi ketika disebutkan letaknya dekat pintu keluar stasiun, kuputuskan menuju ke sana cukup berjalan kaki saja. Toh tak terlalu jauhlah… Begitu menurutku.

Tapi ketika kujalani, wew, ternyata lumayan bikin keringat bercucuran juga. Apalagi sambil membawa tas jinjing dan tas koper yang cukup berat. Aku sempat terpikir akan memesan becak saja untuk menuju ke halte tersebut. Tapi karena menurut informasi beberapa orang yang kutemui di jalan letak haltenya tak jauh lagi, sehingga aku kembali berjalan kaki.

Alhamdulillah, akhirnya kutemukan juga halte busnya. Tapi menurutku lebih tepat disebut tangga untuk naik ke bus. Sebab tak terlihat bangunan halte dengan atap dan tempat duduk untuk menunggu seperti biasanya. Sebetulnya agak sungkan juga berdiri di atas tangga tersebut sembari menunggu kedatangan bus. Karena terlihat menyolok seperti berdiri di atas panggung yang berada di antara lalu lalang kendaraan.

Syukurlah, tak lama kemudian bus Trans Jogja pun datang. Aku langsung melompat masuk ke dalam bus tersebut. Tapi belum lama duduk, aku harus turun di halte berikutnya lagi dan pindah ke bus jurusan lain. Karena menurut kondekturnya, aku lebih baik pindah ke bus jurusan lain bila ingin menuju ke lokasi yang dimaksud. Kondektur tersebut tak meminta biaya tiket busnya.

Di halte kedua, aku semakin bimbang. Karena ternyata menurut petugas di halte tersebut tidak ada bus yang langsung turun di jalan Diponegoro. Yah paling nanti jalan lagi beberapa ratus meter, begitu katanya. Lalu ada seorang bapak yang menyarankanku lebih baik naik bus saja dari terminal Jombor kalau mau ke Magelang.

Di tengah kebimbangan, bus Trans Jogja yang tujuan akhirnya ke Terminal Jombor pun tiba. Setelah membayar tiket busnya sebesar Rp3500, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung masuk ke bus tersebut. Di dalam bus tidak banyak penumpang. Hanya ada dua orang ibu dan seorang bapak. Udara sejuk AC di dalam bus sejenak membuatku nyaman dan mengeringkan keringatku.

Lalu aku mencari informasi kendaraan apa yang menuju ke Magelang kepada salah seorang ibu yang duduk di depanku. Ibu itu menyarankanku untuk turun di terminal Jombor dan naik bus saja bila ingin ke Magelang.

Saat aku tengah mempertimbangkan sarannya, terlintas sebuah papan nama jalan yang bertuliskan jalan Diponegoro. Tapi aku tak meminta turun karena percuma juga, bus tak akan berhenti bila tidak ada halte bus di sekitarnya.

Akhirnya kuputuskan untuk naik bus saja ke Magelang. Apalagi ibu yang baik tadi juga bersedia menemaniku karena ia pun kebetulan tujuannya ke terminal bus Jombor dan akan naik bus jurusan ke Magelang. Alhamdulillah

Ketika bus Trans Jogja yang kami tumpangi tiba di terminal Jombor, kami langsung turun dan pindah ke bus Sumber Waras jurusan Magelang. Harga tiketnya murah. Hanya Rp12 ribu per orang. Sesuai dengan kondisinya yang tanpa AC dan tampak jadul. Memang jauh lebih ekonomis daripada harga tiket mobil elf Damri yang biasa kutumpangi dari Jogja ke Magelang (Rp50 ribu per orang).

Sebetulnya sejak kecil hingga masa kuliah di Yogyakarta, aku sudah familiar dengan kendaraan bus. Sebab bus adalah transportasi utama yang biasanya kugunakan bersama kedua orang tua dan adikku saat ke Yogyakarta atau ke Semarang, dua kota yang sering kami kunjungi. Tapi sejak memiliki kendaraan pribadi, kami semakin jarang menumpang bus.

Kulihat penumpang bus ini hanya beberapa orang saja. Sesekali tampak pedagang asongan berseliweran keluar masuk bus menawarkan dagangannya. Meskipun tak ada tambahan penumpang lagi, sekitar jam 10.30 bus langsung berangkat menuju ke Magelang.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan. Ibu dengan nama Bu Tika itu mempunyai seorang putra dan dua orang putri. Ia tinggal di daerah Sambung, Magelang. Usaha sampingan suaminya adalah di bidang valuta asing. Ia ke Yogyakarta juga dalam rangka menukar mata uang asing.

Tak terasa bus mulai memasuki kota Magelang pada sekitar jam 12.30. Kami turun di persimpangan lampu merah dekat Mall Artos. Lalu naik angkot jalur 10 sesuai dengan petunjuk Bu Tika. Aku turun di seberang Masjid SMPN 2 dan Bu Tika melanjutkan perjalanannya ke Sambung.

Sebelumnya aku berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Tika yang sudah menemani dan memberi petunjuk selama di perjalanan sehingga aku tak tersesat.

Lalu aku menyeberang jalan dan berjalan cepat menuju ke rumah Mami yang hanya tinggal beberapa langkah lagi dari tempat turun dari angkot tadi. Adikku dan Mami menyambutku dengan hangat ketika melihat kehadiranku. Alhamdulillah akhirnya aku bisa tiba di rumah Mami lebih awal (sekitar jam 13.00) meskipun harus sedikit bersusah payah di perjalanan tadi.

Seandainya aku naik mobil elf Damri yang berangkat jam 13.00, saat ini aku masih duduk di stasiun kereta menunggu waktu berangkatnya mobil elf tersebut dan baru tiba di rumah sekitar jam 15.00-an. Itu pun bila tak dipindah ke elf Damri lain di tengah jalan dan tak menunggu penumpang dari bandara. Alhamdulillah, rasanya lega dan senang hati ini bisa bertemu lagi dengan Mami, adik dan keponakan kembarku.

Wisata Keluarga ke Jawa Timur

Standar

Mencari waktu yang tepat untuk berwisata bersama keluarga besar memang tak mudah. Karena setiap keluarga sudah mempunyai kesibukan masing-masing dengan waktu senggang yang berbeda-beda.

Sebelumnya keluarga besar Specia (keluarga suami) sudah pernah mengadakan acara wisata keluarga ke Bali dan Jawa Timur. Kira-kira 16 tahun yang lalu, di saat putriku masih berusia 3 tahun.

Setelah sekian lama, hari ini acara wisata keluarga yang difasilitasi oleh Pak Handoyo (Koh Han Liong), kembali diselenggarakan. Sayang, tak semua anggota keluarga bisa ikut karena adanya berbagai kegiatan sekolah dan kesibukan di pekerjaannya.

Meskipun begitu, dari keluarga yang hadir cukup bisa mewakili. Apalagi beberapa keluarga karyawan juga ikut bergabung sehingga bisa menyemarakkan suasana wisata. Di bawah ini kuceritakan sekilas pengalaman dan perjalanan wisata kami.

• HARI PERTAMA

Kami berangkat dari Losari sekitar jam 1 dini hari dengan mengendarai bus pariwisata. Alhamdulillah perjalanan cukup lancar sehingga kami masih bisa tiba di kota Batu, Malang pada sekitar jam 13.00-an walaupun tadi kami sempat beberapa kali berhenti di rest area.

Yang cukup berkesan saat kami berhenti di rest area KM 429. Fasilitasnya yang berupa angkringan, pujasera, minimarket, masjid dan toilet yang cukup bagus dan bersih membuat kami merasa nyaman saat singgah di sana. Di sana udaranya cukup sejuk serta dikelilingi perbukitan dan gunung Ungaran sehingga memperindah suasana.

Selain melaksanakan shalat Subuh, kami juga sekaligus sarapan di sana. Sarapannya nasi kotak yang sudah disiapkan oleh karyawan yang mengurus konsumsi untuk wisata ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota Batu, Malang.

Sebelum menuju ke hotel, kami makan siang dengan menu nasi pecel dan shalat di masjid yang sekomplek dengan rumah makan Deduwa. Cita rasa makanan dan minuman khas Jawa Timur/Tengah yang serba manis mulai terasa. Berbeda dengan di Jawa Barat yang hidangan tehnya selalu teh tawar.

Akhirnya sampai juga kami di Hotel Senyum World yang lokasinya berada di Jatim Park 3. Dari luar sudah tampak keunikan hotel ini dengan tampilan patung dinosaurusnya (Dino Mall). Kami langsung membersihkan diri dan beristirahat sejenak begitu tiba di hotel.

Hotel ini memang keren desain interior dan fasilitasnya. Selain menyatu dengan Jatim Park 3, di hotel ini terdapat kolam renang, spa, indoor dan outdoor playground & rock climbing, perpustakaan, mini golf dan masjid. Dan uniknya hotel dengan 9 lantai ini dimulai dari lantai 2 bertemakan nama negara.

Dan ternyata nuansa kamarnya pun mengikuti nuansa negaranya. Kebetulan kami mendapat kamar yang bernuansa Jepang, karena sesuai dengan tema lantai 3 (Japanese Room). Di sekeliling lorong lantai 3 tersebut juga dipenuhi dengan lukisan dan ornamen Jepang. Bahkan ada seragam Samurai.

Jendela kamar kami menghadap ke arah Selatan dengan pemandangan kolam renang, play ground, serta gunung Panderman dan gunung Kawi. Di bagian Utara hotel yang tersaji adalah pemandangan gunung Arjuna dan gunung Semeru. Hmm, panorama yang indah.

Sesuai dengan kesepakatan bersama tour leader, sekitar jam 5 sore kami langsung menuju ke Museum Angkut tak jauh dari hotel. Semula kami mengira yang dipajang di sana hanya berupa kendaraan-kendaran zaman dulu. Ternyata ada tema aneka negara baik dari kendaraan yang dipajang maupun nuansa khas dari setiap negara tersebut.

Ada semacam kota mini juga yang sekilas hampir serupa di Kidzania. Ada juga floating market yang menyajikan berbagai macam kuliner khas Jawa Timur.

Setelah puas berkeliling dan mengambil beberapa foto di sana, kami bergegas kembali ke bus. Waktu sudah menunjukkan jam 20.30. Akhirnya kami makan malam di area Jatim Park 3 di dekat hotel. Nasi rames, bakso Malang, wedang jahe dan angsle cukup mengenyangkan kami.

Ketika hari semakin malam, kami segera kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

*.HARI KEDUA

Suasana pagi yang segar menyapa dari balik jendela kamar hotel. Keletihan perjalanan kemarin pun menjadi sirna. Hari ini sesudah sarapan kami langsung menjelajah beberapa wahana di sekitar Jatim Park 3.

Karena free tiket yang diberikan kepada kami adalah Dino Park, maka mayoritas wahana yang kami kunjungi bertema dinosaurus. Meskipun begitu, wahananya cukup bervariasi dan menarik. Selain wahana uji adrenalin, ada juga pengetahuan tentang fosil, zaman demi zaman dari kehidupan masa prasejarah, anatomi tubuh hingga misteri punahnya dinosaurus.

Semua pengetahuan dan sejarah tersebut disampaikan secara menarik dengan aneka media. Dari tertulis, lisan hingga dengan sarana multimedia. Baik berupa gambaran secara dua dimensi hingga tiga dimensi.

Walaupun hari ini hanya mengitari Jatim Park 3 yang menyatu di hotel dan terfokus di wahana Dino Park saja, ternyata cukup menghabiskan waktu juga karena begitu luasnya area.

Ketika hari semakin sore kami bergegas kembali ke kamar hotel untuk beristirahat karena malamnya sebagian dari kami akan berwisata ke gunung Bromo hingga terbit fajar.

Sebelumnya kami sempat mampir ke wahana Rumah Kaca. Menyusuri jalan berliku seperti labirin di antara pantulan kaca dan cahaya lampu ternyata cukup membuat bingung, deg-degan sekaligus takjub. Tapi yang pasti seru deh…

* HARI KETIGA

Kemarin malam, perjalanan seru menuju ke Bromo dimulai. Kami berangkat dari hotel jam 12 malam lebih sedikit. Peserta yang ikut berjumlah 42 orang, yang kemudian dibagi menjadi 7 tim dengan jumlah anggota setiap timnya 6 orang saja (menyesuaikan kapasitas kursi mobil Jeep yang akan mengantar kami ke Bromo). Sedangkan keluarga yang tidak ikut ke Bromo punya agenda wisata ke Jatim Park 2.

Setelah menempuh perjalanan tengah malam dengan bus, sekitar jam 3 dini hari kami tiba di pangkalan penyewaan mobil Jeep. Saat itulah kami pindah dari bus ke mobil Jeep. Kami melalui jalan yang berkelok-kelok dan semakin menanjak menuju ke Bukit Cinta (Love Hill).

Meskipun musim liburan sudah berlalu, ternyata banyak juga yang masih menikmati perjalanan wisata ke Bromo. Beberapa rombongan mobil Jeep tampak beriringan membawa mereka berwisata menuju ke tujuan yang sama. Sehingga di tengah perjalanan sempat beberapa kali terjadi kemacetan karena padatnya mobil Jeep yang akan menuju ke destinasi wisata yang sama.

Yang paling menegangkan adalah ketika mobil Jeep yang kami tumpangi mengalami kemacetan di tikungan jalan yang menanjak. Apalagi kemacetan tersebut terjadi tidak dalam waktu yang singkat. Mobil Jeep yang kami tumpangi tersebut sempat hampir saja meluncur mundur.

Padahal di belakangnya sudah berderet banyak mobil. Driver-nya sampai berteriak minta tolong ke sesama rekannya supaya mencarikan batu yang bisa menahan mobilnya agar tidak bergerak mundur.

Sayang tidak ditemukan batu berukuran besar yang bisa menahan mobil, sehingga mobil mulai bergerak mundur meskipun sudah diinjak remnya. Aku bisa memahami keletihan driver-nya karena ketahanan fisiknya tentu ada batasnya.

Di saat yang mencekam itu alhamdulillah kemacetan mulai terurai. Mobil-mobil di depan mulai berjalan lancar kembali. Dan mobil Jeep kami pun mulai bergerak maju kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata tadi ada mobil Jeep yang mogok di tengah jalan.

Sekitar jam 4 pagi kami tiba di Love Hill. Udara mulai terasa semakin dingin. Sebelum mendaki bukit tersebut, kami mampir mengisi perut sejenak di warung makan yang banyak dibuka di seberangnya. Mie instan plus telur, tempe/tahu goreng dan teh manis panas cukup menambah energi dan menghangatkan badan kami. Kami juga mampir di toilet dan shalat Subuh di mushala yang tersedia di sana.

Setelah semua tim berkumpul, kami
bersama-sama mendaki bukit Love Hill dengan menaiki sekitar 200 anak tangga. Waduh, lumayan bikin kaki jadi pegal juga nih… Nafas kami pun sampai terengah-engah antara melawan udara dingin sembari menyeimbangkan tubuh ketika mendaki anak tangga yang cukup curam tersebut.

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di puncak bukit. Di atas bukit sudah banyak orang yang berkumpul tengah menanti terbitnya sang surya (Sunrise). Ada yang sudah siap dengan kamera dari smartphone canggihnya. Ada yang siap merekam detik demi detik terbitnya sang surya dengan kamera khusus. Tapi ada juga yang hanya sekedar menikmati suasana fajar di antara pegunungan.

Kami juga ikut mengabadikan suasana indah ini dengan mengambil fotonya. Dari yang semula langit masih tampak gelap dan dipenuhi bintang, perlahan mulai terang dengan terbitnya sang mentari. Rona langit saat fajar menyingsing memang tampak indah. Apalagi saat cahayanya berpadu dengan lekukan yang tampak pada gunung Bromo, gunung Semeru, dan gunung/bukit lain yang mengelilingi bukit ini. Masya Allah.

Setelah puas menikmati keindahan dan berfoto di sana, kami turun menuju ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger dengan melewati Pasir Berbisik yang luas, Pura Luhur Poten dan Bukit Teletubbies Bromo.

Saat itu angin musim kemarau yang bertiup kencang dengan membawa debu dari pasir maupun abu vulkanik membuat kami harus selalu menutup hidung dengan masker dan menutup mata dengan kacamata. Bila tidak membawa kacamata, apa boleh buat harus sesekali memejamkan mata dan menunduk agar tidak kelilipan debunya.

Berada di kawasan Taman Nasional ini membuat kami merasa begitu dekat dengan gunung Bromo dan bukit/gunung yang berada di sekitarnya. Saat tadi di Love Hill saja kami sudah takjub melihat keindahan gunung-gunung tersebut. Apalagi sekarang tampak nyata di depan mata kami.

Semula kami bermaksud melihat kawah gunung Bromo dengan mendaki puncaknya. Tapi mempertimbangkan debu yang makin tebal hingga serupa kabut yang berada di sekeliling gunung Bromo, membuat kami sempat mengurungkan niat kami. Sebagai gantinya, dari 7 tim yang ada, 5 tim memutuskan untuk menjelajah bukit Teletubbies dan 2 tim lainnya akan mengunjungi Pura Luhur Poten.

Tapi ketika kabut debu berangsur menipis, 2 tim yang semula akan berkunjung ke Pura membatalkan rencana tersebut. Lalu kembali ke rencana semula, yaitu ke kawah gunung Bromo. Kebetulan aku dan Salma masuk dalam tim tersebut. Mobil Jeep mengantar kami ke area tersebut. Di sekitar kawasan tersebut banyak penduduk setempat yang menawarkan penyewaan kuda. Khususnya yang menuju puncak Bromo.

Aku dan Salma juga ikut menyewa kuda. Dari area berpasir sampai di bawah tangga menuju ke kawah Bromo biayanya Rp50 ribu sekali antar. Bagi Salma mungkin tak masalah karena sudah pernah berlatih menunggang kuda.

Tapi bagiku…, fiuuh, jujur saja sebetulnya aku takut menunggang kuda. Bahkan untuk menaikinya hingga turun dari kuda pun mau tak mau aku harus dibantu. Apalagi ketika kuda mulai berjalan.

Aku takut jatuh karena belum bisa menyeimbangkan badan. Tapi setelah diarahkan oleh Pak Roto (pemilik kuda), lama kelamaan, syukurlah badanku mulai stabil dan tidak miring-miring lagi. Caranya, yang penting badan jangan kaku dan kaki menapak kuat pada sandaran kaki.

Setelah sampai di bawah tangga menuju kawah Bromo, bersama sebagian anggota tim lain yang sudah siap, kami pun langsung menapaki anak tangga demi anak tangga menuju ke kawah Bromo. Mendaki anak tangga di sini ternyata lebih berat dari mendaki anak tangga di bukit Love Hill. Kecuramannya bisa dikatakan hampir serupa dengan anak tangga di Tembok Besar Cina.

Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat sejenak untuk mengatur nafas dan melemaskan kaki. Dan saat kami berhasil mencapai kawah Bromo, rasanya seperti sudah lulus ujian. Alhamdulillah… Aroma belerang tercium dari asap yang mengepul dari dalam kawah Bromo. Di sekitar puncak Bromo tersebut terlihat juga beberapa wisatawan manca negara. Pesona gunung Bromo ini memang sudah mendunia.

Bila tadi saat berada di Taman Nasional kami dapat melihat gunung Bromo dan sekitarnya dengan jarak yang sangat dekat di depan mata, kini bahkan kami dapat menyentuh langsung permukaan gunung ini. Dari puncak Bromo, kami dapat melihat betapa indahnya pemandangan di sekitarnya dan betapa kecil diri kita sebagai manusia di antara ciptaan-Nya. Ya Allah, terima kasih atas kesempatan yang Kau berikan pada kami untuk menikmati keindahan ciptaan-Mu ini.

Setelah berfoto-foto, perlahan kami turun dan kembali menunggang kuda menuju ke area parkir mobil Jeep. Sebelum kembali ke bus kami mampir makan di warung makan yang berada di GSS (Gunung Sari Sunset). Menu yang tersedia nasi Soto Ayam, nasi Pecel dan mie instan. Sebagian dari kami memilih Nasi Soto Ayam dan mie instan.

Lalu kami kembali ke bus yang mengantar kami kembali ke hotel. Menjelang Asar kami baru tiba di hotel. Hari ini sebetulnya kami berencana ingin menjelajah Wahana The Legends yang berada di Jatim Park 3 (di sekitar hotel) setelah mandi. Tapi akhirnya kami memilih untuk beristirahat saja agar besok pagi segar kembali saat mengikuti acara wisata selanjutnya.

* HARI KEEMPAT (Terakhir)

Seharian ini sejak jam 10 pagi hingga jam 4 sore kami menghabiskan waktu di Jatim Park 1. Meskipun tema pameran di sana mayoritas merupakan tema yang lama, namun tetap asyik untuk dikunjungi.

Apalagi dengan adanya museum tubuh manusia (The Bagong Adventure) dan koleksi Cadaver-nya (untuk usia 18 tahun ke atas). Di sana kami bisa melihat spesimen manusia asli yang diawetkan dengan teknik plastinasi.

Beberapa zona yang kami kunjungi adalah zona gigi, zona telinga, zona hidung, zona otak, zona mata, zona jantung, zona ginjal dan zona hati. Memperhatikan setiap bagian tubuh manusia secara detail membuat kami takjub, betapa teliti, rapi dan sempurnanya susunan tubuh manusia serta fungsi-fungsi setiap bagiannya. Allahu Akbar.

Lalu berikutnya yang kami kunjungi adalah Heritage Museum. Di sana berbagai kesenian dan kebudayaan Nusantara ditampilkan dalam berbagai media. Juga ada uraian tentang asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia dan bagaimana proses akulturasi/asimilasinya dengan budaya India, Arab dan Cina.

Ada juga Taman Fisika, Science Center & Science Stadium, Taman Buah dan Sayur, Taman Sejarah, Galeri Numismatik (sejarah mata uang Indonesia), Diorama Momentum Sejarah Bangsa, Keraton Nusantara, Balai Undagi & Sentra Batik, Galeri Pos Indonesia, Galeri Kumpulan Binatang Mitologi, Adegan Prasejarah dan lain-lain. Semua itu membuktikan betapa beraneka ragamnya suku dan budaya Indonesia. Bhineka Tunggal Ika!

Bagi yang suka dengan tantangan dan permainan, ada wahana berbagai permainan untuk anak maupun dewasa. Dari yang sederhana hingga yang menguji adrenalin. Dan bagi yang ingin mencari makan siang dan berbelanja oleh-oleh khas Malang, tersedia Pasar Wisata dan Pasar Buah.

Ketika waktu sudah menunjukkan jam 3 sore lebih, kami berkumpul di tempat pertama kali masuk. Kebetulan banyak pedagang yang berjualan aneka jajanan dan makanan dalam gerobaknya, seperti Jasuke (jagung manis plus susu dan keju), sate ayam dan sate kelinci, rangin. Sambil menunggu semua berkumpul, sebagian dari kami membeli jajanan di sana.

Akhirnya setelah semua berkumpul, kami langsung menuju ke bus untuk bersiap-siap pulang ke Cirebon sore ini juga. Tapi sebelumnya kami mampir di Deduwa untuk makan malam dengan menu Rawon, membeli oleh-oleh, dan shalat Maghrib & Isya.

Sekitar jam 7 malam bus langsung berangkat menuju ke Cirebon. Sebagian besar keluarga dan karyawan sudah tampak lelah dan mengantuk, sehingga tertidur lelap sepanjang perjalanan. Karena tak banyak berhenti di rest area seperti waktu berangkat, bus jadi lebih cepat sampai tujuan.

Bus sampai di Losari keesokan harinya kira-kira jam 04.30 (waktu tempuhnya hanya 9 – 10 jam). Sebelumnya saat berangkat, waktu yang ditempuh sekitar 12 jam mungkin karena banyak berhenti di rest area.

Setelah menurunkan sebagian keluarga dan karyawan di Losari, bus mengantar kami ke kota Cirebon. Ada yang turun di Tiga Berlian dan terminal Harjamukti. Sedangkan kami bertiga turun di lampu merah Sunyaragi. Pak Jai sudah stand by di sana untuk menjemput kami. Sekitar jam 05.30 kami tiba di rumah. Alhamdulillah…

Banyak hal positif dari perjalanan wisata bersama keluarga ini. Selain mempererat hubungan dengan keluarga dan karyawan, menyegarkan pikiran, juga menambah wawasan. Terima kasih kepada Koh Han Liong yang sudah memfasilitasi kami dalam wisata keluarga ini. Barakallah fiik.

#FamilyTrip
#SpeciaFamily
#WisataJatim
#LetsGuide

Sumber:

1. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214564720332528&id=1256901858
2. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214570155628407&id=1256901858
3. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214577582534075&id=1256901858
4. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214589819599994&id=1256901858

Quality Time with My Beloved Daughter

Standar

Masa liburan kuliah putri kami yang cukup panjang seperti sekarang ini, menjadi saat yang sangat kami tunggu-tunggu setelah sekian lama tak berjumpa. Oleh karena itu kami berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin agar setiap saat bisa quality time bersama Salma Fedora, putri tercinta. 💖

Kesempatan untuk jalan-jalan, senam yoga bareng, atau sekedar saling bercerita dan bercanda bersamanya memang tak selalu bisa kami nikmati di masa-masa sibuk perkuliahannya.

Sore ini kami memanfaatkan waktu untuk membuat funny cookies bersama. 💕 Sebetulnya kami sudah pernah beberapa kali membuatnya ketika kami masih membuka kursus masak untuk anak-anak di Rumah Belajar Cirebon. Waktu itu Salma juga sempat ikut belajar bikin kue.

Cookies yang bentuknya lucu hasil kreasi Salma ini sekarang sudah matang dan siap dinikmati sebagai pelengkap hidangan berbuka puasa. Alhamdulillah…, rasanya tak kalah dengan rasa cookies yang biasa dijual di toko-toko kue. Memang tak ada yang sia-sia ya, bila kita punya kemauan untuk belajar apa pun, termasuk belajar membuat kue. 😍

Next, insya Allah kami juga akan mencoba membuat kue nastar, kastengel, pizza dan roti manis. 😃 Terima kasih ya Pak Awal/Bu Fuji Dapur Anak, Bu Novi Agustien dan Debby R R yang sudah pernah berbagi ilmu masaknya. 😊🙏

#qualitytime
#familytime
#cooking
#cookies

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214411698867087&id=1256901858

Bersihkan Dulu ‘Kacamata’- mu

Standar

Bila kau sering menyalahkan orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu perhatikan dirimu
Mungkin ‘kaca mata’-mu berdebu
Sehingga kau salah menilainya

Bila kau sering mengeluhkan kondisimu
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu amati dirimu baik-baik
Mungkin ‘kaca mata’-mu kotor
Sehingga kebahagiaan yang ada pada dirimu tak nampak

Bila kau sering memfitnah orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata-‘mu
Lalu awasi hatimu dengan seksama
Mungkin di hatimu ada sepercik kedengkian
Sehingga kebaikan orang lain malah kau nilai sebagai keburukan

Bila kau sering menghina orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu periksa dirimu dengan teliti
Mungkin kekurangan yang ada pada dirimu tak terlihat
Sehingga kau tak pernah menyadari bahwa ternyata kekuranganmu jauh lebih banyak

Bila kau sering menghakimi orang lain
Bersihkan dulu ‘kacamata’-mu
Lalu evaluasi dirimu
Mungkin noda dosa yang makin menebal di hatimu tak pernah kau ketahui
Sehingga kau selalu menganggap dirimu lebih suci daripada yang lain


Sumber gambar: hellosehat.com

Agar Lulus Seleksi-Nya

Standar

Pada saat diadakan lomba atau olimpiade, para pesertanya pasti akan berlatih siang dan malam agar nanti bisa lulus di setiap tahap seleksinya.

Ketika para pelajar telah lulus dari SMA, pasti mereka akan belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus tes masuk ke perguruan tinggi dan jurusan yang diharapkannya.

Begitu pun para lulusan perguruan tinggi, tentu mereka akan mempersiapkan diri agar bisa lulus seleksi dan diterima di perusahaan yang diharapkannya.

Namun ironisnya, mengapa kita malah sering abai dan lalai dalam mempersiapkan diri agar kelak lulus dari seleksi-Nya? Sedangkan tahapan seleksi-Nya nya juga banyak serta membutuhkan persiapan yang matang dan maksimal, lho…

Apa sajakah seleksi-Nya? Secara garis besar ada 2 macam.Yuk kita kenali satu persatu tahapan seleksi-Nya agar bisa mulai kita persiapkan sedari sekarang. Cekidot:

1. Seleksi di Dunia

Di sini, kita dituntut mampu menjaga hubungan baik dengan Allah Swt. (hablum minallah), seperti menjaga Rukun Iman, melaksanakan Rukun Islam, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Begitu pun kita harus mampu menjaga hubungan baik dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, khususnya dengan sesama manusia (hablum minannas). Caranya dengan berakhlak baik, pandai mengelola pikiran, hati, cara berbicara maupun tingkah laku kita. Upaya yang bisa kita lakukan:
– Bersihkan pikiran dari hal yang buruk
– Luruskan niat dalam hati kita, agar senantiasa mengharap keridhaan-Nya. Jagalah agar tidak terserang ‘penyakit hati’ seperti riya‘, sum’ah, ujub, takabur, sombong, iri, hasad, dengki dan berprasangka buruk.
– Berbicaralah dengan bahasa yang baik. Jangan kasar. Hindari berkata bohong, fitnah dan ghibah.
– Selalu bersikap baik terhadap semua makhluk-Nya, tidak berbuat zalim.
– Mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga diri dari godaan setan.

2. Seleksi di Akhirat

Seleksi ini sebetulnya merupakan dampak dan pertanggungjawaban dari semua yang telah kita lakukan selama di dunia. Jadi nanti ketika di akhirat kita akan mulai diperiksa, ditanya-tanya, diadili dan dinilai oleh Allah Swt. serta para malaikat-Nya.

Sejak dari saat sakaratul maut, di Alam Kubur, Alam Barzakh, Padang Mahsyar, ketika proses Hisab, Mizan, saat di Telaga dan saat melewati Sirat untuk penentuan tujuan akhir kita. Apakah kita nanti berhasil lulus dan masuk Surga? (Aamiin ya Allah…) Ataukah gagal dalam seleksi-Nya sehingga masuk Neraka? (Na’udzu billahi min dzalik… )

Sebetulnya, ada kunci utama agar kita bisa lulus seleksi-Nya. Yaitu:

1. Menjaga keimanan dan kemurnian Tauhid dengan ibadah yang benar, dan selalu bertawakkal kepada Allah Swt. setelah berikhtiar dengan cara yang diizinkan-Nya.
2. Menjaga hati dari syirik kecil dan besar.
3. Menjaga kemuliaan akhlak.
4. Selalu evaluasi diri setiap saat. Ketika melakukan kesalahan segera istighfar dan memperbaiki diri

Nah, setelah melihat semua seleksi yang harus kita hadapi tersebut, tentu kita makin menyadari bahwa ternyata masih banyak banget ya yang harus kita persiapkan… 😢

Semoga mulai saat ini kita bisa lebih serius mempersiapkan diri agar lulus dari semua ujian dan seleksi-Nya. Sehingga nanti berhasil meraih prestasi paling gemilang, yaitu keridhaan dan surga-Nya.

Allahumma aamiin ya rabbal’aalamiin….


Sumber gambar: dakwahmuslimah.com

Segumpal Salju

Standar

Dalam dinginnya udara Mount Titlis…
Segumpal salju di kepalan tanganku ini seakan menjadi bukti dan saksi…
Atas pencapaian mimpi dan harapan
Yang telah lama kupendam…
Melewati masa demi masa

Segumpal salju ini memang bukan benda istimewa
Sebab hanya kumpulan kristal es berwarna putih
Wujudnya sama seperti es serut di abang penjual es
Namun berbeda dalam makna yang tersimpan
Sebab membuncahkan bahagia di lubuk hati

Segumpal salju ini menyejukkan tanganku
Sekaligus menghangatkan hati
Sehangat kasih sayang Heidi dan kakeknya
Pun membawa kenikmatan dengan panorama alamnya
Senikmat rasa coklat buatan Swiss asli
Yang takkan kulupa seumur hidupku

Terima kasih ya Allah…
Atas izin-Mu, Kau mampukan kami bersama keluarga
Tuk menginjakkan kaki di tanah Swiss ini
Hingga mendaki mimpi di Mount Titlis
Memang tiada kata mustahil
Bila ikhtiar telah maksimal dan kehendak-Mu mewujudkannya menjadi nyata


16 Mei 2015, Mount Titlis, Swiss

Pohon Kelengkeng dan Filosofinya

Standar

Alhamdulillah, hari ini pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman parkir Rumah Belajar Cirebon telah kami panen kembali buahnya. Pohon kelengkeng yang berbatang kurus itu ternyata masih bisa berbuah cukup banyak sehingga banyak pula yang bisa menikmati buahnya yang manis dan segar.

Pohon ini sebetulnya sudah kami tanam sejak tahun 2014. Meskipun tidak pernah diberi pupuk dan dibiarkan tumbuh apa adanya, pohon ini cukup subur hingga sudah beberapa kali kami panen buahnya. Dari tahun ke tahun daunnya pun semakin lebat dan berat sehingga membuat batang dengan dahannya menjadi melengkung karenanya.

Sempat terpikir untuk menebang dahan yang letaknya paling atas karena khawatir roboh dan menimpa mobil-mobil yang diparkir di bawahnya. Tapi sampai saat kami memanen buahnya hari ini, dahan dari pohon tersebut tak pernah kami tebang. Alhamdulillah sampai kini tetap kuat dan tak roboh.

Malahan banyak yang ingin memarkir mobilnya di bawah rimbunnya daun pohon kelengkeng itu karena teduh dan sejuk. Apalagi di saat cuaca yang belakangan ini semakin panas di kota Cirebon yang udaranya memang sudah panas ini. Sehingga kerimbunan daunnya dapat melindungi mobil dari efek rumah kaca meskipun matahari sedang garang-garangnya memancarkan sinarnya.

Pohon kelengkeng ini seperti mengajarkan kepada kami banyak hal. Di antaranya :

1. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, bersabarlah dalam setiap prosesnya.
2. Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan fisiknya saja.
3. Seseorang yang mungkin selama ini dianggap lemah, bisa jadi nantinya justru yang akan membawa kebaikan dan menguatkanmu. Jadi jangan pernah meremehkan dan menghina orang lain apa pun kelemahannya.
4. Di setiap kekurangan, pasti ada kelebihan di baliknya.
5. Cobaan hidup, kerasnya kehidupan dan kondisi yang berkekurangan akan membuat seseorang menjadi lebih survive dan sukses dalam hidupnya.
6. Tumbuhlah menjadi sosok yang selalu menebar kebaikan dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Masya Allah, luar biasa ya filosofi dari pohon kelengkeng yang tampak sederhana ini. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan menerapkan setiap kebaikannya dalam hidup ini. Aamiin… 💖💖🙏🙏

Mengasah Mata Hati

Standar

Alhamdulillah, Allah Swt. telah mengaruniakan sepasang mata kepada kita untuk melihat semua yang ada dan tampak di depan kita. Secara kasat mata, yang tampak buruk pastilah akan dikatakan buruk dan yang tampak indah pastilah dikatakan indah. Yang tampak kasar pasti akan dinilai kasar. Yang tampak santun pasti dinilai santun pula.

Selain mata yang merupakan salah satu dari panca indera, Allah Swt. juga mengaruniakan kepada kita mata hati yang berhubungan erat dengan hati nurani kita. Keistimewaannya, mata hati kita itu hanya dapat berfungsi dengan baik tatkala kita berpikir secara jernih, berhati bersih dan bertindak dengan tulus.

Di tengah suasana yang sedang kisruh pasca Pemilu seperti sekarang ini, mata hati kita seakan menjadi tertutup. Apalagi dengan berseliwerannya berita medsos yang sarat akan nyinyiran, kemarahan, kebencian dan cacian yang kasar, dibumbui fitnah dan hoax di sana sini. Rasanya memang sulit bagi kita untuk melihat setiap masalah dengan mata hati yang jernih. Kita hanya bisa melihat dan menilai apa yang tampak di depan mata saja, lalu menafsirkannya sesuai emosi dan kepentingan kita saja.

Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk membersihkan mata hati kita yang sudah tercemar debu amarah dan kebencian. Yuk, kita renungkan setiap masalah dan kejadian dengan hati yang tenang, emosi yang stabil dan pikiran yang bersih agar lebih peka dan bijaksana dalam memandang suatu masalah. Berbagai cara di bawah ini insya Allah bisa membantu dalam mengasah mata hati kita:

1. Melihat setiap masalah dari berbagai sudut pandang dan sumber berita. Sehingga tidak hanya menilai/menafsirkannya secara sepihak.
2. Hindari perdebatan yang hanya menimbulkan permusuhan.
3. Redam kebencian dan kedengkian hati dengan banyak ber-istighfar dan belajar menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
4. Tahan diri untuk tidak share berita /informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya agar kita tidak terlibat dalam penyebaran berita bohong dan fitnah.
5. Kendalikan diri untuk tidak menulis status, mengeluarkan statement atau berkomentar dengan bahasa yang kasar, nyinyir atau provokatif, baik di medsos maupun secara langsung. Agar tidak menyulut emosi pada pihak lain.
6. Ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati atau kurang setuju terhadap suatu hal, lebih baik sampaikan secara baik-baik sesuai mekanisme yang ada.
7. Hindarkan menghina orang lain dengan julukan/panggilan yang kasar atau kurang pantas, karena itu justru akan menunjukkan betapa rendah dan hinanya dirimu.
8. Jangan mudah menyalahkan orang lain tanpa mengevaluasi diri kita sendiri terlebih dahulu. Ini untuk melatih rasa tanggung jawab dan mencegah prasangka buruk.
9. Selalu ingatlah jasa dan kebaikan orang-orang yang pernah menolong dan membantu kita dalam mengentaskan dari masalah. Sebaliknya, kita tak perlu mengungkit kebaikan kita pada orang lain untuk melatih keikhlasan dan meluruskan niat.
10. Hindarkan sifat riya/sombong dengan merasa paling suci dan benar karena punya background amalan, ulama dan agama, lalu begitu mudahnya merendahkan kadar keimanan orang lain, hanya karena berbeda pendapat /pilihan/ bukan kelompoknya. Ingat, hanya Allah Yang Maha Tahu akan keimanan seseorang.
11. Sesekali mungkin kita perlu piknik, olah raga, membaca buku dan menonton film yang berkualitas agar pikiran dan hati menjadi segar kembali dan emosi kita tidak gampang tersulut.
12. Lebih baik hindari lingkungan/grup yang membawa pada fitnah, hoax, hasutan dan ujaran kebencian agar kita tak terbawa pengaruh negatifnya. Bila perlu left grup saja, lalu cari lingkungan /grup yang membawa aura positif.
13. Perbanyak ibadah, tilawah, zikir dan doa kepada Allah Swt. serta amal shalih dan silaturahmi antar keluarga/sahabat/ umat agar hablun minallah dan hablum minannas selalu terjaga dengan baik.

Untuk sementara, mungkin itu dulu yang bisa kita coba untuk membantu mata hati kita menjadi lebih terasah kembali.

Semoga Allah Swt. memampukan kita dalam melihat dan menilai mana yang benar dengan sebenar-benarnya dan mana yang salah itu memang salah dengan kejernihan mata hati kita.

Sehingga kita tak mudah tertipu dan terjebak pada kebenaran yang semu dan membutakan mata hati kita.

Allahumma aamiin…

Wallahu a’lam bishashawab…

Semoga bermanfaat. 😊🙏

Di Derasnya Sungai

Standar

Di derasnya sungai…
Tersimpan kekuatan di balik arusnya
Nan mampu menerjang semua penghalang
Bahkan menghancurkannya dalam sekejap

Di derasnya sungai…
Mengalir semua harapan dan angan
Nan bermuara menjadi satu
Menuju ke lautan cita-cita

Di derasnya sungai…
Tertumpah keleluasaan sikap
Nan mampu melewati setiap celah
Meski sekecil dan serumit apa pun

Di derasnya sungai…
Berbaur semua unsur dan partikel
Membawa warna, aroma dan rasa
Hingga tercipta harmoni dan irama

Di derasnya sungai…
Kutitipkan doa dan pinta pada-Mu
Ya Allah Yang Maha Kuasa
Damaikan bangsa dan makmurkan negeri kami tercinta

Yuk, Semarakkan Pesta Demokrasi dengan Akhlak yang Baik

Standar

Pilpres dan Pileg sudah di ambang pintu. Postingan dan status di beranda/ timeline FB dan Instagram semakin ramai dengan berita politik yang membuat panas dingin para pendukung capres/cawapres pilihannya masing-masing. Ada yang menulis tentang kebaikan-kebaikannya, ada yang nyinyir, ada yang semangat banget menge-share berita, padahal masih belum jelas kebenarannya.

Yah, begitulah hebohnya suasana menjelang Pemilu sekarang ini. Aku yang semula kurang tertarik pada berita politik dan tak terlalu peduli dengan hasil Pemilu pun kini jadi terbawa suasana heboh ini. Sebetulnya sejak jamannya Pilgub DKI, aku sudah mulai penasaran dengan berita-berita politik. Bermula dari panasnya perdebatan netizen di medsos karena keberanian Ahok mendobrak birokrasi dan korupsi di pemerintahan DKI ditambah dengan cara bicaranya yang ceplas-ceplos cenderung kasar, sampai ia dipenjara gara-gara menyinggung surat Al Maidah ayat 51.

Sebagian berpendapat bahwa Ahok tak bermaksud menista agama, karena ia pun mengikuti pendapat Gus Dur dalam menafsirkan surat Al Maidah ayat 51. Tapi mayoritas muslim menganggapnya sebagai penista agama dan lancang karena mencampuri agama Islam yang bukan agamanya. Sehingga terjadilah demo berjilid-jilid yang berhasil menjebloskannya ke dalam penjara meskipun ia sudah meminta maaf kepada umat muslim secara resmi.

Kejadian itu seakan membuat Ahok sudah jatuh tertimpa tangga karena ia pun akhirnya kalah dalam meraih suara di Pilgub DKI. Sebuah pelajaran berharga dalam hal ini ialah betapa pentingnya kita untuk menjaga lisan. Meskipun begitu jasa Ahok dalam membenahi Jakarta selama menjadi gubernur tentu tak boleh kita kesampingkan. Tak dapat dipungkiri juga bahwa isu SARA yang mewarnai suasana Pilgub DKI memang cukup berpengaruh dalam kekalahannya.

Setelah masa Pilgub DKI yang penuh huru hara berlalu, kini masyarakat kembali dipanaskan dengan suasana pemilihan capres/cawapres. Sebelumnya kupikir Pemilu kali ini lebih adem ayem suasananya karena masing-masing capres kan sama-sama muslim. Tapi ternyata suasananya tak kalah panas dengan suasana Pilgub DKI. Dan yang membuatku tak habis pikir, ternyata isu SARA pun masih mewarnai Pilpres ini. Istilah kampret dan cebong yang tercipta di masa Pilgub DKI makin membelah dua kubu pendukung capres saat ini.

Kalau dulu waktu Pilgub DKI mungkin yang dipersoalkan adalah pemimpin non muslim, karena tak sesuai Al Maidah ayat 51. Nah kalau dalam Pilpres sekarang ini, kan kedua calon sama-sama muslim. Tapi kok malah jadi terkesan saling menghakimi kadar ke-Islam-an capres/cawapres maupun para pendukungnya masing-masing. Bahkan fitnah, hoax, hasutan, dan ujaran kebencian semakin marak di medsos. Sampai terjadi pertikaian dan permusuhan antar keluarga, teman dan warga gara-gara perbedaan pilihan. Sungguh menyedihkan…

Apakah ini demokrasi yang kebablasan? Mengapa sampai begitu mudahnya ada penilaian kadar keimanan seseorang hanya dengan tolok ukur capres/cawapres pilihan dan ulama pendukungnya saja? Padahal masalah keimanan seseorang kan hanya Allah Yang Maha Tahu. Apakah demi sebuah kekuasaan dan kedudukan di pemerintahan, harus dengan cara saling menjatuhkan karakter capres/cawapres lawannya? Apakah demi kemenangan dalam Pemilu segala cara lalu dihalalkan? Sampai terjadi money politics, kecurangan dan saling fitnah? Bahkan belakangan ini, ibadahnya salah seorang capres pun di-nyinyirin habis-habisan oleh orang-orang yang bukan pendukungnya tapi sama keyakinannya. Padahal urusan ibadah kan urusan beliau dengan Gusti Allah… Apakah kebencian dan kedengkian sampai membuat mereka berani mengolok hamba-Nya yang sedang beribadah?

Astaghfirullah…, ini pesta demokrasi, kawan… Kenapa yang terjadi malah timbulnya akhlak yang buruk di mana-mana hanya gara-gara perbedaan pilihan capres/cawapres dan caleg? Sebuah pesta, seharusnya kan disambut dengan gembira. Semarakkan sajalah dengan akhlak yang baik. Silakan memilih capres/cawapres dan caleg dengan melihat latar belakang mereka masing-masing agar lebih mantap. Lalu hargai pilihan saudara/kawan/warga lain.

Jangan memaksakan pilihanmu ke yang lainnya. Apalagi sampai pakai cara menghasutnya dengan menyebar fitnah dan berita hoax gara-gara rasa benci dan dengkimu terhadap capres/cawapres yang tak kau pilih. Bolehlah waspada, tapi bila memang ada dasar dan bukti yang jelas dan benar. Kalau belum jelas kebenarannya jangan buru-buru kalian share ke mana-mana. Ingat, apa yang telah kau share itu ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat, kawan. Apalagi bila yang menerima berita/info tak benar itu jumlahnya banyak. Aduh makin berat dosa dan bebanmu di akhirat. Maka marilah kita memohon ampun atas dosa fitnah, ghibah, dan prasangka buruk yang telah kita lakukan selama ini. Nastaghfirullahal’azhimAamiin ya Allah…

Hari Rabu 17 April 2019 adalah hari yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Hari ini seluruh rakyat Indonesia akan menggunakan hak suaranya untuk memilih capres/cawapres dan caleg sesuai kemantapan hati. Yuk saling menjaga agar tidak ada kecurangan dalam bentuk apa pun. Ingat, menyebar fitnah dan hoax untuk menjatuhkan capres/cawapres yang bukan pilihanmu juga merupakan salah satu bentuk kecurangan lho, kawan… Semua capres/cawapres/caleg insya Allah mempunyai niat dan tujuan yang baik untuk memajukan negara dan memakmurkan rakyat Indonesia.

Dan namanya sebuah pemilihan, tentu nanti ada yang terpilih dan ada yang tak terpilih. Ibarat menanti sebuah hasil lomba. Aku yakin banyak yang dag dig dug menunggu hasilnya.

Seandainya nanti capres/cawapres dan caleg kita tak terpilih, meskipun kecewa, tapi kita harus siap menerimanya dan berlapang dada. Hargai yang sudah terpilih, sepanjang tak ada tindak kecurangan yang bisa terbuktikan. Dan seandainya capres/cawapres kita yang terpilih, bersyukurlah… Berarti beliau adalah pemimpin negara kita yang sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk 5 tahun ke depan. Doakan saja agar beliau dapat menjadi pemimpin yang amanah, adil, bijaksana dan dapat merealisasikan janji-janjinya.

Dan yang terpenting, semoga beliau dapat menjaga dengan baik keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan etnis ini dengan tidak menyimpang dari jalan-Nya. Sehingga negara kita menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allahumma aamiin…


Sumber gambar: reformasiindonesia.com

Surprise untuk Mami

Standar

Sejak beberapa minggu terakhir ini, Mami (ibuku) sering menangis setiap kali berkomunikasi lewat telepon. Dari penuturannya aku bisa memahami akan rasa kesepiannya sejak Papi rahimahullah berpulang ke hadirat-Nya. Aku juga mengerti, Mami hanya ingin agar kami dapat sering berkumpul lagi seperti dulu. Tapi setelah kami menikah dan masing-masing tinggal di luar kota, situasi dan kondisi jadi tak memungkinkan lagi untuk bisa sering berkumpul.

Sebetulnya keinginan untuk menjenguk dan menemani Mami di Magelang selama beberapa hari sudah kupendam sejak satu bulan yang lalu. Tapi aku bimbang karena saat ini di rumah kami sudah tidak ada pembantu yang menginap. Aku hanya khawatir ketika suamiku sedang sendirian di rumah, mendadak sakit jantungnya kambuh.

Akhirnya kami menemukan solusinya. Salah seorang karyawan kepercayaan kami bersedia menginap di rumah menemani suamiku selama aku ke Magelang. Sehingga kupastikan bisa berangkat ke Magelang hari Sabtu, 6 April 2019 dengan diantar suami. Suamiku hanya menginap semalam, lalu hari Senin siang sudah pulang ke Cirebon. Sedangkan aku menemani Mami di Magelang sampai hari Jum’at (8 – 12 April 2019).

Sebelum pulang ke Magelang, sempat terpikir rencana memberi surprise untuk menyenangkan hati Mami di hari ulang tahunnya. Karena kebetulan hari Jum’at tanggal 12 April 2019, bertepatan dengan hari ulang tahun Mami yang ke 77. Untuk mengobati rasa kesepiannya, mungkin acara kumpul keluarga bisa menjadi surprise yang dapat menyenangkan hatinya.

Oleh karena itu aku lalu berembug dengan kedua adikku sebelum pulang untuk menyusun rencana tersebut. Alhamdulillah adik perempuanku (Vera) yang tinggal di Lampung bisa pulang ke Magelang dari hari Rabu 10 April sampai hari Senin, 15 April 2019. Tapi adik lelakiku (Roy) terpaksa tak bisa hadir di acara ulang tahun Mami karena dari hari Senin 8 April sampai Minggu 14 April 2019, ia harus pergi ke Ambon untuk urusan pekerjaannya.

Rencananya, Vera nanti diam-diam akan pulang ke Magelang sebagai surprise untuk Mami. Sedangkan aku akan memberi surprise ke Mami dengan cara mengundang adik-adik Papi rahimahullah dan kakak perempuan Mami ke rumah Mami tepat di hari ulang tahunnya. Selain itu aku juga akan memesan kue tar (untuk menyemarakkan suasana) serta kue lapis mandarin, lemper dan nasi kotak (menunya nasi gudeg) untuk disajikan kepada keluarga yang nanti hadir.

Untuk dapat menyajikan semuanya itu tanpa sepengetahuan Mami, tentu tak semudah yang dibayangkan. Apalagi Mami tipe orang yang sangat waspada terhadap gelagat/ gerak -gerik siapapun yang ada di dekatnya. Oleh karena itu, daripada nanti ketahuan, sebelum suami mengantarku ke rumah Mami, semua kue itu sudah kupesan terlebih dahulu. Aku juga sekaligus memesan oleh-oleh buat suami. Alhamdulillah, dalam hal ini aku banyak dibantu oleh Tode dan Cek Yan (tante dan Om-ku). Hanya saja nasi gudegnya terpaksa harus langsung kupesan di rumah makan Tip Top pada hari H berhubung nomor kontaknya susah dihubungi.

Surprise pertama dari Vera telah berlangsung dengan sukses. Mami kaget sekaligus senang ketika melihat adik perempuanku itu tiba-tiba datang ke rumahnya. Nah, untuk melancarkan surprise berikutnya di hari H, aku harus bekerjasama dengan Vera, adik-adiknya Papi rahimahullah dan kakak perempuannya Mami. Bagian yang tersulit adalah ketika harus mencari alasan yang tepat agar bisa keluar dari rumah untuk mengambil kue dan nasi kotak pesanan kami tanpa mengundang kecurigaan Mami. Apa boleh buat, aku harus mengambilnya sendiri karena memang tidak ada yang bisa mengantar semua pesananku itu ke rumah.

Sedangkan Mami biasanya akan selalu ‘menginterogasi’-ku setiap kali mau keluar rumah. Apalagi pagi itu malah Mami pengin mengajak kami sarapan di luar. Padahal undangan acara ulang tahun Mami hari ini jam 10 pagi. Sementara saat itu waktu sudah menunjukkan jam 8 lebih. Bila ditambah persiapan untuk mandi dan lain-lain, bisa dipastikan tak akan keburu waktunya. Hmmm, tapi akhirnya aku malah berpikir, bahwa justru ketika Mami mandi, aku kan malah bisa memanfaatkan waktu untuk mengambil pesanan kue dan nasi kotak.

Akhirnya aku mencoba izin keluar rumah dengan alasan mau minta surat rujukan BPJS ke seorang dokter (faskes 1) di jalan Ahmad Yani. Karena kebetulan Mami memang sudah ada rencana mau periksa ke dokter penyakit dalam di RS Harapan tersebut, tapi belum mengambil surat rujukan BPJS-nya ke dokter tersebut.

Syukurlah Mami mengizinkan. Maka yang pertama kulakukan adalah meminta surat rujukan dokter di faskes 1. Sebelumnya aku sempat mau balik lagi ke rumah untuk ambil surat kontrol dokter yang tertinggal. Untungnya Vera bisa membantuku mengambilkanmya dengan cepat, lalu memberikannya kepadaku di pinggir jalan yang kulewati tanpa aku harus pulang ke rumah.

Tapi terpaksa aku harus mengantre 3 orang pasien lagi dan menunggu tamunya dokter pulang. Duh, jadi deg-degan nih… Karena waktu berjalan terus hingga saat itu sudah jam 9. Sementara itu melalui WA, Vera juga bilang kalau Mami sudah mulai bertanya-tanya, mengapa aku lama dan tak kunjung pulang ke rumah? Aku juga takut nggak keburu waktunya, mengingat masih ada 3 tempat lagi yang harus kudatangi. Yaitu Toko Iriana (ambil kue tar), toko Saniter/tanteku (ambil lemper dan oleh-oleh) dan Rumah Makan Tip Top (ambil nasi kotak).

Syukurlah, akhirnya tamunya dokter sudah pulang dan antrean pasien juga tidak lama, sehingga tiba giliranku masuk ke ruang dokter. Setelah ditanya data-data fisik dan kesehatan Mami, akhirnya kelar juga surat rujukannya. Aku bergegas kembali ke mobil dan tancap gas menuju ke toko Iriana, toko Saniter dan RM Tip Top untuk mengambil semua pesanan. Termasuk pesanan nasi langgi untuk sarapan kami bertiga yang kupesan dadakan lewat Tode mengingat sudah tak memungkinkan lagi bagi kami untuk sarapan di luar rumah. Alhamdulillah, satu demi satu tugas dan semua pesanan pun beres, sehingga aku langsung meluncur pulang ke rumah.

Begitu sampai di rumah, semua kue dan nasi kotak kutitipkan sementara ke karyawannya Roy (Pak Anto) yang kebetulan sedang bertugas di sana. Aku memberi instruksi kepadanya, kapan saat yang tepat untuk membawa masuk nasi kotaknya. Dan aku langsung memberikan nasi langgi ke Mami dan Vera untuk sarapan. Waktu sudah mendekati jam 10 pagi. Untungnya tadi pagi perut kami sudah diganjal susu dan roti, sehingga tak terlalu lapar meskipun sarapannya kesiangan. Tapi aku senang karena Mami dan Vera cocok dengan sarapan yang kubawakan. Aku meminta maaf ke Mami, tadi agak lama karena antre di dokter dan beli oleh-oleh.

Setelah sarapan, aku dan Vera kembali mengatur rencana surprise berikutnya. Kebetulan Mami sedang ke kamar mandi. Sehingga aku dan Vera langsung memanfaatkan waktu, bergerak cepat mempersiapkan kue di piring dan menyajikannya di atas meja. Air mineral kemasan pun juga sudah diambilkan oleh Pak Anto dari toko Mami.

Tak lama kemudian, rombongan keluarga mulai berdatangan. Aku dan Vera menyambut dan mempersilakan mereka duduk sambil menunggu Mami keluar dari kamar mandi. Ketika Mami keluar dari kamar mandi, ekspresi wajahnya tampak terkejut melihat tamu dari keluarga yang sudah duduk di sofa.

“Lho, kok tumben pada datang? Ada apa sih Fang?” Mami bertanya kepadaku dengan wajah kebingungan.

Belum sempat kujawab pertanyaan Mami, adik-adik Papi rahimahullah dan kakak perempuan Mami satu persatu menghampiri dan menyalami tangan Mami, sambil menyerahkan kado ulang tahun.

“Selamat ulang tahun Cik Mey Sung (nama Mami). ”

“Oh…, ya… Makasih, ya… Saya malah lupa kalau saya sekarang ulang tahun… , ” jawab Mami sambil tersenyum, tapi dengan wajah yang masih tampak kebingungan.

Mami juga tampak keheranan ketika melihat kue-kue sudah tersaji rapi di meja. Apalagi ketika kukeluarkan kue tarnya.

“Kapan belinya sih Fang? Kok Mami ndak tahu?” tanya Mami.

Aku hanya tersenyum dan berbisik, “Rahasia, Mami…”

Lalu kami saling mengobrol antar saudara dengan akrab. Lilin berwarna merah yang berbentuk angka 77 (sesuai usia Mami) pun kupasang di atas kue tar. Vera menyalakan apinya. Kemudian Mami meniup lilin dan memotong kuenya.

Potongan pertama diberikan kepada Wak Ik (kakak perempuan Mami satu-satunya). Lalu berikutnya ke adik-adiknya Papi rahimahullah serta istri/suaminya, dari yang paling tua ke yang paling muda. Dari Tode, Ntio Sioe An, Cek Yan, A Eng, Tante Ay Lan lalu Panji (anaknya A Eng). Suasana kekeluargaan menjadi semakin hangat.

Ketika aku memberikan kata sambutan kepada keluarga yang hadir, ucapan selamat ulang tahun dan doa kepada Mami, kulihat Mami terharu dan mengusap air matanya. Aku jadi ikut terharu sampai suaraku jadi bergetar. Dalam hati aku hanya berharap semoga hubungan keluarga di antara kami dapat terus terjalin dengan baik meskipun Papi rahimahullah telah tiada. Dan semoga Mami bahagia dengan surprise ini.

Di acara syukuran hari lahir Mami ini, alhamdulillah komunikasi antar keluarga yang hadir jadi bisa tersambung lagi setelah sekian lama tak saling bersua. Bagiku, ini juga menjadi cara berbakti kepada Papi rahimahullah, dengan tetap menjalin hubungan yang baik dengan saudara kandungnya.

Tak terasa hari semakin siang. Keluarga yang hadir pun berpamitan untuk pulang. Nasi kotak kami bagikan kepada mereka sebelum pulang sambil mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kehadiran mereka. Sebelumnya kami juga berfoto bersama.

Ketika semua sudah pulang, kami satu persatu mencium tangan dan pipi Mami sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakannya. Mami juga mendapatkan doa dan ucapan ulang tahun dari cucu-cucunya (Lia, Salma dan Laura) baik langsung lewat telepon, maupun dengan mengirimkan video dan rekamn suaranya. Saat itu Mami kembali terisak menangis karena terharu. Sampai kami semua juga ikut menangis.

Lalu kami membantu Mami membukakan kado dari keluarga yang hadir. Wah, ternyata isinya mukena, sajadah dengan tasnya dan kerudung syar’i. Alhamdulillah, pas banget buat Mami yang nanti tanggal 22 April 2019 akan berangkat umrah ditemani Vera dan keluarganya. Semoga menjadi penyemangat Mami dalam beribadah umrah. Aamiin

Barakallah fii umrik Mami. Semoga Mami selalu sehat, panjang umur dan bahagia. Aamiin ya rabbal’aalamiin

💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

Biarkan Tumbuh Mekar Berseri

Standar

Saat bibit tanaman bunga telah disebarkan di tanah, mulailah dengan merawatnya secara baik. Sirami dengan air secukupnya dan teratur… Sebagaimana saat tumbuh janin di rahim seorang ibu. Maka sang Ibu akan menjaganya dengan baik.

Saat telah tumbuh batang, tangkai dan daunnya, perawatan dan pemeliharan harus menjadi lebih optimal. Beri pupuk dan vitamin yang terbaik. Bila ada hama dan penyakit yang menyerang, basmi segera agar tak mengganggu pertumbuhannya. Demikian pula janin yang telah menjadi bayi yang lahir dan menjadi anak-anak, tentu akan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibundanya.

Saat bunga-bunga mulai tumbuh bermekaran, biarkan keindahannya berseri menghiasi tanaman dan lingkungannya. Biarkan keharumannya menebar di mana-mana. Jangan kau cabut apalagi kau rusak. Namun rawatlah keindahannya dengan baik.

Begitu pun anak-anak yang telah tumbuh menjadi remaja. Bekali mereka dengan keimanan yang lurus dan teguh serta akhlak yang mulia. Biarkan mereka berkembang sesuai minat dan bakatnya. Dukung mereka dalam meraih prestasi, harapan dan cita-cita. Jauhkan dari pengaruh teman dan lingkungan buruk. Agar tak ada seorang pun yang mengganggu dan merusak masa depannya.

Manisnya Hubungan Adik dan Kakak

Standar

Bila kalian memiliki adik atau kakak, baik kandung maupun sepupu, maka berbahagialah. Karena mereka adalah orang terdekat yang akan mengisi hari-hari kita. Hubungan antara kakak dan adik memang penuh warna. Ada kalanya akur, kadang penuh persaingan, tapi tak jarang bisa saling mendukung dan tolong menolong.

Saat pulang ke Magelang ini, aku makin merasakan betapa indahnya hubungan antar saudara. Dimulai dari saat bersilaturahmi ke rumah adik-adiknya ayahku rahimahullah. Dari cerita mereka, aku jadi mengerti…, bahwa di balik sifatnya yang introvert, ayahku rahimahullah adalah sosok kakak yang sangat sayang dan peduli terhadap adik-adiknya.

Walaupun kondisi fisiknya sudah lemah dan sakit, beliau tetap meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah adik-adiknya meski dengan menumpang becak. Bahkan beberapa minggu sebelum berpulang ke hadirat Allah Swt. (setelah dirawat 5 hari di sebuah rumah sakit di Cirebon), beliau sempat berkunjung ke rumah adiknya yang sedang sakit dan akan dioperasi di luar negeri.

Beliau datang dengan menumpang becak lalu memberikan seamplop uang yang dimilikinya sebagai bentuk kepeduliannya. Beliau juga sering menangis memikirkan kesehatan adiknya. Air mataku sampai menetes saat mendengarkan cerita tersebut. 😢😢

Contoh lainnya adalah ketika memperhatikan polah tingkah keponakan kembarku, Kevin dan Laura. Namanya saudara, kadang mereka bisa berselisih karena beda pendapat atau berantem gara-gara keusilan salah satu di antara mereka.

Kevin yang lebih menguasai pelajaran matematika itu cenderung egois dan tak mau mengajari Laura yang sering mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR matematika. Padahal Laura masih mau membantunya saat ia mengalami kesulitan di pelajaran/hal lain.

Tapi malam ini kulihat Kevin menunjukkan perubahan. Sejak tadi sore Laura mengalami kesulitan saat akan mengeprint tugas sekolahnya melalui smartphone. Sedangkan tugas itu harus dikumpulkan besok pagi. Ayahnya yang paham tentang gadget sedang bertugas ke luar kota. Tantenya yang gaptek ini pun sudah mencoba membantunya, tapi tak berhasil. Akhirnya Kevin tergerak hatinya dan berusaha menolong adiknya yang sudah mulai kebingungan itu.

Alhamdulillah, tanpa memakan waktu lama, tugas sekolah Laura pun berhasil di-print setelah ia browsing cara-caranya melalui internet dan mencoba mempraktekkannya. Laura menjadi riang kembali dan tampak lega. Aku juga ikut senang melihat kekompakan mereka. Selamat ya Kevin, sudah berhasil mengalahkan egonya. 😊👍👍

Begitulah manisnya hubungan antar saudara bila diikat dengan rasa saling peduli, tolong menolong, dan kerjasama dalam kebaikan. Dengan ikatan persaudaraan yang baik tersebut, maka segala macam kesalahpahaman dan pertikaian akan terhindarkan. Sehingga keharmonisan dalam keluarga akan terangkai dengan indahnya.

Sisi Positif di Balik Hebohnya Pilpres

Standar

Sebelas hari lagi Pilpres /Pemilu akan dilaksanakan. Sabtu depan akan berlangsung debat terakhir Capres/ Cawapres. Kampanye terbuka dari masing-masing Capres pun sudah digelar di berbagai kota di Indonesia. Gegap gempitanya suasana pesta demokrasi menjelang Pemilu, sebenarnya sudah pernah beberapa kali kurasakan.

Tapi sejak Pilgub DKI yang lalu dan Pilpres yang sekarang ini, suasana Pemilu sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Sekarang jadi semakin heboh. Mungkin karena adanya media sosial yang selalu diramaikan oleh berbagai berita, isu, komentar bahkan curhatan dari masing-masing pendukungnya.

Ada yang memang berupa berita murni. Namun yang menyedihkan banyak juga yang bernuansa hasutan, ujaran kebencian, bahkan fitnah dan hoax. Ketika sedang membaca berita-berita tersebut, kadang timbul rasa penasaran, geregetan, kesal, lega, terkejut, tapi juga geli sampai senyam senyum sendiri. Terutama pas membaca komentar para netizen yang ngotot pisan, padahal salah. Duh, rasanya tuh gimanaaa gitu… 😂

Kadang ada juga netizen yang kreatif membuat video atau meme-meme yang lucu meskipun sebetulnya agak kurang etis juga sih, ya… Apalagi dengan munculnya dua julukan untuk masing-masing pendukung yang cenderung mengolok, yaitu cebong dan kampret (sejak Pilgub DKI). Pas mendengarnya, jadi mau ketawa tapi serba salah, karena tidak pantas juga.

Yang paling kesal, kalau sudah ada yang mulai menyebar fitnah/hoax dan menyinggung SARA. Jadi terbawa emosi dan pengin ikut menanggapi komentarnya. Pernah sih, waktu itu aku mencoba meluruskan beberapa berita bermuatan fitnah dan hoax yang di-share teman. Ada yang bisa menerima, tapi ada juga yang ngotot. Daripada nanti malah berdebat nggak karuan, ya sudahlah akhirnya aku mengalah saja dan hanya bisa menuliskan kekesalanku di blog.

Begitulah serba serbi suasana Pemilu/Pilpres. Selama ini mungkin kita menghadapinya dalam suasana yang tegang dan panas, karena seringnya terpancing emosi. Tapi bila kita menghadapinya dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang, sebetulnya ada banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari kehebohan Pilpres ini, kok… Nggak percaya? Yuk, dibaca saja sisi positifnya bawah ini ya… :

1. Bisa lebih mengenali sosok capres/cawapres masing-masing dan para tokoh politik di sekitarnya.

2. Belajar menilai kepribadian dan strategi yang dilancarkan oleh masing-masing capres dan para tokoh politiknya.

3. Bisa mengambil hikmah dari sepak terjang para tokoh politik tersebut dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

4. Membiasakan diri untuk check and recheck berita atau informasi dari mana pun untuk menghindarkan diri terjerumus dalam arus fitnah dan hoax yang makin tak terkendali.

5. Belajar sabar dalam mengendalikan emosi saat harus menghadapi teman/netizen bertipe militan yang rajin banget share berita bermuatan fitnah dan hoax, tapi ngotot dengan pendapatnya yang salah padahal sudah diingatkan berulangkali.

6. Menjadi termotivasi untuk lebih maksimal dalam mempelajari agama, sejarah dan politik untuk menambah wawasan. Sehingga mempunyai dasar dan alasan yang kuat ketika harus menentukan suatu pilihan maupun saat mengeluarkan suatu pendapat.

7. Belajar saling menghormati dan menghargai satu sama lain, meskipun berbeda pendapat/ pilihan. Serta tetap saling menjaga hubungan baik dengan menghindarkan diri dari perdebatan yang tak perlu.

Nah…, di situasi politik yang makin memanas ini, ternyata kita masih bisa mengambil sisi positifnya, kan…😊 Maka sering-seringlah berpikiran yang baik dan positif, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun, agar kebaikan selalu melingkupimu. Waspada boleh, tapi jangan curigaan melulu ya… 😃

Sumber gambar: harian.analisadaily.com

Filosofi Catur

Standar

Sejak kecil Salma memang anak yang menggemaskan, karena suka usil dan sering iseng. Kadang temannya yang diusilin. Tak jarang Mama Papanya juga diisengin. Seperti sore itu, tiba-tiba Salma mengajakku bermain catur. Padahal sudah tahu kalau Mamanya nggak bisa main catur. Tapi ya tetap saja membujukku bermain catur. Ya sudah, akhirnya aku menuruti ajakannya untuk menyenangkan hatinya.

Berbeda dengan putriku itu yang memang sudah sering berkecimpung di dunia catur, hingga pernah meraih prestasi di beberapa pertandingan. Lha, kalau Mamanya ini malah sama sekali nggak mengenal langkah-langkah permainan catur.

Salma langsung mengeluarkan peralatan caturnya dan membantuku menyusun semua bidak di papan catur yang terdiri dari 64 petak itu. Lalu ia mempersilakanku memulainya sebagai pemegang bidak catur putih. Aku mulai melangkahkan pion. Lalu Salma gantian melangkahkan bidaknya. Demikianlah seterusnya bergantian. Tapi hanya bidak pion saja yang kulangkahkan.

Pikirku, biarlah yang bertempur dan berkorban pion-pionnya saja dulu. Bidak-bidak lain yang kuanggap lebih penting sengaja kusimpan agar tak dimakan lawan.

“Ma, jangan semua pionnya yang dimajuin. Entar malah kalah…, ” Salma memberitahuku.

“Oh gitu ya…, “ jawabku sambil kebingungan karena memang belum tahu teknik permainan caturnya sama sekali. 😅

Salma tersenyum memahamiku.

“Nggak papa Ma… Lagian ini cuma iseng saja kok, buat refreshing sore hari.” kata Salma sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa geli melihat pion-pionku yang kumajukan semua di papan catur. 😂

Lalu bak pelatih catur Salma menjelaskan bahwa semua bidak catur itu ada tugasnya masing-masing dan harus saling bekerja sama. Jadi tidak bisa melangkah sendiri-sendiri. Harus diperhitungkan baik-baik langkahnya bila ingin meraih kemenangan.

Berikut ini beberapa bidak catur, posisi dan langkahnya:

1. King (Raja)
Bidak yang paling tinggi dan bisa melangkah ke arah mana pun. Tapi hanya boleh 1 langkah saja.

2 Queen (Ratu/Menteri)
Bidak ini juga bisa bergerak ke mana saja. Asalkan tidak ada bidak teman yang menghalangi di depannya. Biasanya digunakan untuk menghabisi lawan.

3. Bishop (Menteri/Gajah)
Bergeraknya secara diagonal dan bebas berapa langkah pun.

4. Rook (Benteng)
Bergeraknya secara vertikal atau horizontal dan bisa satu langkah atau lebih asalkan tak ada bidak teman yang menghalanginya.

5. Knight (Kuda)
Bergeraknya seperti bentuk huruf L. Jadi maju dua petak, lalu maju ke kanan atau ke kiri satu petak. Langkahnya bebas meskipun ada penghalang di depannya juga.

6. Pawn (Pion/Prajurit)
Ini bidak paling kecil yang hanya bisa melangkah maju satu petak ke depan. Tapi bisa memakan lawan yang di posisi diagonal. Dan hebatnya, bidak ini bisa ditukar dengan bidak yang dimakan lawan.

(sumber: https://loop.co.id/articles/bidak-bidak-catur-itu-apa-aja-sih-macamnya/full)

Bila diperhatikan, ternyata dalam permainan catur itu ada filosofinya juga, lho… Cekidot, yuk… :

1. Jumlah masing-masing bidak baik putih maupun hitam sama. Aturan yang diberlakukan juga sama. Jadi menunjukkan keadilan.

2. Dalam bermain catur, semua bidak menunjukkan kerjasama yang kompak untuk mencapai kemenangan dan kesuksesan sesuai dengan fungsi, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa dalam suatu kelompok, keluarga, atau negara, bila masing-masing anggota, warga maupun wakil rakyat dan kepala negaranya bisa saling bekerjasama sesuai dengan kemampuan, kelebihan dan kekurangannya, maka akan terbentuk kelompok, keluarga dan negara yang sejahtera, bahagia dan kuat.

3. Bidak Pion menunjukkan sosok yang kecil dan mungkin diremehkan, tapi pantang mundur dalam berjuang. Bahkan ketika mampu melewati semua rintangan dan berhasil mencapai titik awal lawan, bisa berubah menjadi bidak yang lebih kuat, yaitu Benteng bahkan Ratu. Hal ini menunjukan bahwa meskipun fisik/penampilan kita diremehkan, bila gigih berjuang dan pantang menyerah, maka seluruh perjuangan itu akan terbayarkan dengan hasil yang memuaskan.

Tapi… , bidak Pion ini juga mengingatkan, agar kita selalu waspada. Jangan mau kita dijadikan Pion oleh sekelompok oknum untuk kepentingan mereka. Terlebih di tahun politik seperti sekarang ini. Jangan sampai seluruh energi, bahkan ghirah keimanan kita hanya dimanfaatkan oleh mereka yang menginginkan kekuasaan.

4. Ketika menghadapi posisi skak, ibaratnya kita tengah menghadapi situasi yang sulit dan dilematis. Nah, pada saat itu, dibutuhkan hati yang tenang dan strategi yang matang agar bisa melewati semua permasalahan yang ada.

5. Saat menghadapi situasi yang sulit, dalam bermain catur kadang harus mengorbankan beberapa bidak untuk mendapatkan pencapaian yang lebih baik. Demikian pula dalam kehidupan, kadang kita dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit, sehingga mau tak mau ada yang harus kita korbankan demi mencapai keadaan yang lebih baik. Tapi tentu saja jangan sampai mengorbankan keimanan dan kehormatan ya, kawan…

6. Tujuan dari suatu permainan catur adalah bisa mengalahkan Raja dengan berbagai cara sepanjang tidak melanggar aturan. Hal ini bisa dianalogikan bagaimana cara mencapai suatu target tertentu dalam menjalani kehidupan.

Semisal kalau dalam Pilpres sekarang ini, bagaimana cara mencapai suara rakyat terbanyak dan terpilih? Berbagai cara akan dilakukan. Baik petahana maupun oposisi, melalui timses dan pendukungnya tentu akan berusaha dan saling membantu demi memenangkannya. Baik dengan cara berkampanye atau menunjukkan program-program yang telah/akan dilakukan. Hingga disusunnya berbagai macam strategi agar dapat memenangkan capres/cawapresnya.

Tentu semua itu boleh dilakukan sepanjang tidak menggunakan cara yang curang. Dan pengertian tidak curang di sini, bukan hanya yang menyangkut tata cara pemilu secara praktik maupun administratifnya saja. Namun juga tidak saling menjatuhkan lawan politiknya dengan serangan fitnah, hoax, hasutan dan ujaran kebencian.

7. Ketika terjadi skakmat yang berarti Raja harus mengalami kekalahan, maka ia harus bisa menerimanya dengan sportif. Dan antar pecatur pun mengakhirinya dengan saling bersalaman, tak bermusuhan, serta siap bangkit dan maju lagi untuk pertandingan berikutnya. Begitu pun dalam sebuah kompetisi atau pesta demokrasi. Apa pun hasil akhirnya, harus siap menerima dengan lapang dada dan tidak rusuh. Saling menghormati hasil akhirnya satu sama lain.

8. Dalam permainan catur, yang paling berperan penting tentu yang menjalankan bidak-bidaknya. Ada yang menjalankannya dengan kalem, agresif, grusa grusu, hati-hati dan teliti. Sukses dan tidaknya permainan caturnya tergantung bagaimana ia menjalankan semua bidaknya.

Di samping itu, biasanya yang juga ikut menentukan kesuksesan seorang pecatur adalah faktor jam terbang (pengalaman), ketelitian, keuletan, kesabaran, ketangguhan fisik (cukup istirahat dan makan), persiapan yang matang (latihan rutin), doa dan keberuntungan. Nah, semua faktor itu pun bila kita terapkan dalam setiap perjuangan kita untuk mencapai cita-cita/ harapan, insya Allah akan berakhir dengan kesuksesan. Aamiin

(Sumber: http://thefilosofi.blogspot.com/2013/12/terapkan-filosofi-permainan-catur-dalam.html?m=1)

Wow, rupanya bermain catur tak hanya bisa mengasah otak, namun juga memuat filosofi kehidupan yang luar biasa ya, kawan… Bolehlah di waktu senggang sesekali bermain catur bersama kawan-kawanmu. Tapi dengan catatan, jangan sampai gara-gara keasyikan bermain catur lalu lupa segalanya ya… 😃

(Tak) Dilarang Menulis

Standar

Kegiatan menulis secara umum sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa pun yang sudah lancar membaca dan merangkai huruf menjadi kata dan kalimat. Tapi kegiatan menulis secara khusus diartikan sebagai sebuah kegiatan menuangkan perasaan, pemikiran, imajinasi, hingga pengalaman dalam rangkaian kalimat yang mengandung makna dan pesan.

Mungkin sebuah tulisan awalnya hanya berupa sebuah coretan curhat, puisi sederhana, surat pendek atau status di medsos. Bagi para penulis pemula dan siapa pun yang masih dianggap newbie oleh mereka yang menganggap tulisannya lebih mumpuni, tak usah minder apalagi sampai takut menulis.

Abaikan saja komentar atau nyinyiran mereka yang menghakimi dirimu/ tulisanmu dengan penafsiran yang hanya sedangkal otak mereka saja. Biarkan saja, ketika mereka mencercamu saat kau tengah menuliskan buah pikiranmu hanya karena tak sejalan dengan pemikiran mereka.

Keep calm, ketika kau sedang bersemangat menuliskan pengalaman inspiratifmu, lalu tiba-tiba ada yang menganggapmu hanya melakukan sebuah pencitraan. Senyumin saja ketika kau tengah menuliskan pengalaman perjalanan wisatamu, mendadak ada yang menganggapmu pamer dan sombong.

Cuekin saja ketika kau tengah berproses berlatih menulis step by step, lalu ada yang meremehkan karyamu. Mungkin mereka sudah lupa kalau dulu pun mereka pernah jadi penulis pemula. Biarkan anjing menggonggong, asal kafilah berlalu.

Tetap tekun, sabar dan nikmati semua proses belajarmu. Anggap saja semua komentar negatif, penafsiran seenak udel dan nyinyiran mereka itu sebagai cambuk motivasimu untuk tetap konsisten berlatih menulis.

Sebab pada dasarnya, siapa pun tak dilarang menulis, kan? Kecuali kalau yang ditulis itu berita bohong, fitnah dan ujaran kebencian. Nah…, kalau yang seperti itu memang harus dilarang.

So…, tetap semangat menulis ya sahabatku… Jangan minder jadi penulis pemula. Karena setiap ide dan karya sederhanamu sungguh jauh lebih berharga daripada komentar negatif dan nyinyiran rekan penulis lain bahkan yang sudah level senior/profesional sekali pun.

Keep Calm, Friend…

Standar

Keep calm, friend…
Bila kau dihina karena kekurangan fisikmu
Ingatlah, kemuliaan seseorang tak dilihat dari fisik dan penampilannya
Melainkan dari akhlak dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Keep calm, friend…
Bila kau dilecehkan gara-gara kemampuanmu di bawah mereka
Tetap semangat dan jangan putus asa
Buktikan bahwa suatu saat nanti kau bisa melampaui mereka

Keep calm, friend…
Bila kau dikucilkan hanya karena kau berbeda dengan mereka
Bukankah perbedaan diciptakan-Nya untuk saling mengenal dan melengkapi?
Biarkan kau menjadi dirimu sendiri apa adanya

Keep calm, friend
Bila kau diabaikan, bahkan keberadaanmu dianggap tak ada
Teruslah bekerja dan belajar dalam diam
Bila tiba saatnya, guncang mereka dengan karya dan prestasimu

Keep calm, friend…
Bila kau dikhianati, bahkan oleh orang yang paling kaupercaya.
Buktikan bahwa kau tetap mampu berdiri dengan tegar tanpa bantuannya
Biarkan ia menyesal telah meninggalkanmu

Keep calm, friend…
Bila kau ditertawakan karena keterbatasanmu
Yakinlah di balik keterbatasanmu, ada kekuatan yang membuatmu survive
Hingga seberat apa pun cobaan, kau mampu mengatasinya

Di Antara Lebah-Lebah Kecil

Standar

Seharian berkutat dengan naskah dan pekerjaan di rumah maupun kantor, membuat waktu ini berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin masuk awal Maret, sekarang sudah hampir akhir bulan.

Sejak putriku kuliah di Bandung, aku sengaja menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif agar tak ada pikiran yang kosong dan rasa rindu kepada putriku bisa terlipur.

Alhamdulillah, melalui Rumah Belajar Cirebon (lembaga pendidikan yang kukelola), hari demi hari dapat kulalui dengan lebih bersemangat dan bermanfaat, dengan segala suka dukanya. Tak hanya kepuasan batin saja yang kurasakan saat dapat berbagi bersama staf dan guru setiap bulannya.

Namun juga ada rasa bahagia saat melihat anak-anak dapat terbantu dalam menghadapi pelajaran di sekolahnya serta makin terasah bakatnya. Apalagi ketika orang tua puas terhadap peningkatan kemampuan anaknya setelah belajar di Rumah Belajar Cirebon. Pun saat orang tua mendaftarkan lagi anak keduanya setelah anak pertamanya merasa cocok belajar di tempat kami. Kalau pun ada kritik dan saran dari orang tua murid, kami menerimanya dengan terbuka demi kebaikan kami.

Di balik semua kebahagiaan ini, aku sangat berterima kasih kepada suami yang sudah berusaha keras mendesain ruangan dan taman Rumah Belajar Cirebon sehingga membuat anak-anak dan orang tuanya semakin betah di sini. Juga kepada staf dan guru yang sabar dan bertanggungjawab dalam setiap tugasnya.

Hal-hal lain yang membuat hatiku bahagia selama mengelola Rumah Belajar Cirebon adalah tatkala berinteraksi dengan anak-anak dan mengikuti perkembangannya dari waktu ke waktu. Ada murid yang dulu masih imut dan lugu. Sekarang sudah remaja dan tampak dewasa. Ada yang semula sulit diajak berkomunikasi, kini sudah lebih supel. Ada yang kesulitan di pelajaran sekolahnya, sekarang sudah mulai menunjukkan peningkatan kemampuannya.

Satu hal yang selalu berkesan di hatiku adalah sapaan dan senyuman tulus para murid. Kebetulan pintu kantorku berupa pintu kaca sehingga bisa saling melihat antara di dalam maupun di luar kantor. Waktu itu aku sedang sibuk menyusun honor staf dan guru di kantor.

Tiba-tiba ada seorang anak perempuan kecil, berusia sekitar 6 tahun berdiri di depan pintu kaca kantorku. Sorot matanya lugu dan bibirnya menyunggingkan senyum ke arahku. Aku membalas senyumnya sambil kulambaikan tangan ke arahnya. Anak itu membalas lambaian tanganku. Senyumnya semakin membuncah dan matanya berbinar. Nyesss rasa hatiku melihatnya. Lalu ia berlari ke arah lain. Mungkin berbaur dengan teman-temannya.

Nama anak itu Seowyn (kayak nama Korea ya?). Murid les menggambar Art Kids Studio. Sudah beberapa kali Seowyn melakukan hal tersebut. Sehingga pernah kupanggil masuk dan kuhampiri. Lalu ia mencium tanganku. Aku mengelus rambutnya dengan rasa sayang dan kutepuk bahunya untuk memberi semangat dalam belajar.

Di kesempatan lain ada Dhea, murid Jarimatika yang rajin dan konsisten dalam menggunakan metode berhitung tersebut sehingga sukses di pelajaran matematika sekolahnya. Alhamdulillah… Suatu sore tiba-tiba ia menghampiriku dan mencium tanganku. Lalu ia menyapaku dengan wajahnya yang lugu, “Bu Irma sehat kan, Bu?”

Aku senang sekaligus agak terkejut mendengarnya. Karena Dhea kok seperti memahami kondisi fisikku hari itu. Saat itu sebenarnya aku memang sedang tidak enak badan. Mungkin ia melihat wajahku agak lesu ya? Tapi aku tetap menjawab sapaan tulus Dhea sambil tersenyum, “Alhamdulillah, Ibu sehat, Dhea. ” Lalu kuelus rambutnya.

Aku juga bahagia ketika melihat murid-murid tampak bersemangat membaca buku-buku yang kusediakan di Taman Bacaan Rumah Belajar Cirebon. Di tengah anak-anak zaman now yang tak bisa lepas dari gadget, mereka yang bisa begitu antusiasnya dalam membaca buku memang patut kuacungi jempol.

Begitu pun anak-anak yang ramah dan santun tadi, di antara anak-anak lain yang mungkin belum mengenal pelajaran budi pekerti dengan baik, bagaikan berlian yang cemerlang di antara sekumpulan batu-batu kerikil.

Berada di antara ‘lebah-lebah kecil’-nya Rumah Belajar Cirebon ini memberiku sebuah oase yang menyegarkan hati serta pikiran di tengah kisruhnya perseteruan politik dan mengerikannya peristiwa kriminal akhir-akhir ini di berita nasional. Mungkin kita memang harus banyak belajar dari keluguan, kejujuran, kepekaan dan ketulusan hati anak-anak ya, kawan…

Sumber gambar: http://www.tollebild.com

Fenomena Pilpres

Standar

Sore itu Rima sedang membaca sebuah informasi tentang kepenulisan di FB. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Sebuah permintaan pertemanan dari seorang wanita dengan nama Diyah yang membuatnya penasaran untuk membuka informasi profilnya. Sebab ia seperti pernah mengenal wajahnya.

Ooh, ternyata Diyah adalah teman sekolahnya dulu saat masih SMA. Yup, ia masih ingat sosok wanita yang dulu pernah menjadi sahabat karibnya di masa SMA. Rima langsung mengkonfirmasi permintaan pertemanannya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk melalui inbox.

Assalamualaikum. Rima, terima kasih ya sudah dikonfirmasi. Masih ingat aku, kan?”

Wa’alaikumussalam. Sama-sama. Masih dong, Diyah. Masa aku lupa sama sahabat karibku. Alhamdulillah, kita bisa berjumpa lagi di FB, ya.”

Perkembangan teknologi memang luar biasa. Melalui FB ia bisa bertemu sahabatnya lagi. Padahal sudah hilang kontak selama 30 tahun lebih.

“Aku minta nomor WA-mu dong. Entar aku masukin ke grup alumni SMA kita. Biar kita bisa saling berkomunikasi lagi.”

“Oke Diyah. Makasih, ” sambut Rima dengan gembira. Lalu ia mengirim nomor WA-nya.

Dalam sekejap nomornya sudah tergabung dalam WA grup alumni SMA-nya.

Assalamu’alaikum, Rima. ”
“Halo Rima. ”
“Asyik…kita ketemu Rima lagi!”
“Sekarang tinggal di mana Rima?”
“Kamu sekarang kegiatannya apa, Rima?”
“Anakmu sudah berapa Rima?”

Pertanyaan demi pertanyaan dari teman-teman SMA-nya pun ditujukan kepadanya secara bertubi seakan melepas kerinduan setelah lama tak saling berkomunikasi.

Dengan senang hati Rima menjawab semua pertanyaan itu satu persatu. Dan sebaliknya ia pun menanyakan kabar teman-temannya di grup itu.

Begitulah, hampir setiap hari komunikasi antar mereka terus terjalin. Rima merasa bersyukur bisa bergabung di grup tersebut. Karena tak hanya silaturahmi antar mereka bisa tersambung lagi, namun juga banyak informasi dan motivasi yang bermanfaat yang bisa ia dapatkan dari grup tersebut.

Tapi suatu malam, WA grup tersebut dikejutkan oleh sebuah kiriman berita dari Amir yang isinya berupa kecurigaan terhadap salah satu etnis.

Sontak Albert menimpali isi WA itu dengan emosi.

“Berita apaan ini! Jangan curigaan coba!”

“Aku juga dapat berita ini dari temenku, ” kata Amir yang tak mau disalahkan.

Lalu beberapa hari kemudian ada lagi kiriman berita dari Doni yang isinya berupa informasi tentang keburukan-keburukan salah seorang capres.

“Eh, Doni, cek dulu kebenaran beritanya dong sebelum kau kirim kesini! ” tegur Rima.

“Memang bener gitu sih kenyataannya, Rima….,” Diyah mendukung berita yang dikirim Doni tersebut.

“Tuh, kaan… Dikasih tahu, malah protes! Makanya jangan pilih dia nanti pas Pilpres” Fadli menambahkan.

“Eh, kamu belum baca sumber informasinya yang benar sih ya. Itu tuh fitnah… Tauu!!” Albert ikut emosi.

“Huu… Dasar kampret!”

Ape lo, ape lo, cebong…!”

Demikianlah, semakin lama grup yang semula penuh canda tawa dan saling memberi informasi positif itu tiba-tiba berubah menjadi grup yang penuh ujaran kebencian, hoax dan fitnah sejak menjelang Pilpres ini.

Karena tak tahan dengan suasana grup yang semakin memanas, beberapa teman mulai left grup. Rima yang semula berusaha bertahan, lama-lama geram juga sehingga akhirnya ikut left grup.

Sungguh sayang, sebuah persahabatan di masa lalu yang telah dipertemukan kembali melalui FB dan dipererat di WA grup, akhirnya dipisahkan kembali gara-gara Pilpres.

Saya yakin sudah banyak kejadian seperti ini, apalagi menjelang Pilpres. Sebetulnya hal ini bisa dihindarkan bila antara satu anggota dengan yang lainnya mau saling menghormati pilihan masing-masing.

Selain itu harus bisa menghindarkan pembicaraan yang menjurus pada fitnah dan ujaran kebencian dengan tidak sembarangan share berita atau informasi yang masih belum jelas kebenarannya. Hati-hati kawan, pelaku fitnah dan ghibah terancam bangkrut di akhirat, lho… Coba saja simak berikut ini: https://youtu.be/nC-9b9ax_tw, https://youtu.be/K-SbIkHvtmQ dan https://m.youtube.com/watch?v=b8xRwg_sshw. Ngeri kan… 😱😱😱Na’udzu billahi min dzalik…

Bila menghendaki sebuah WA grup bisa tetap nyaman dan awet, ada beberapa hal yang harus diperhatikan di bawah ini:

1. Jangan menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras/Etnis dan Antar Golongan).
2. Jangan bicara masalah politik.
3. Jangan saling mengolok/menghina.
4. Jangan share hal-hal yang vulgar.
5. Jangan mendominasi pembicaraan.
6. Jangan menyombongkan diri.
7. Jangan membicarakan aib teman.
8. Jangan mempermalukan teman dengan membahas hal-hal yang bersifat privasi darinya.

Semoga tak ada lagi pertikaian dan perpecahan antar teman/saudara di grup WA gara-gara Pilpres ya kawan. Karena sungguh sangat disayangkan bila keakraban di antara kita harus dikorbankan hanya gara-gara sebuah Pilpres.

Sumber gambar: Whatsapp

Secangkir Teh Hangat

Standar

Secangkir teh hangat
Menemani obrolan sore hari
Mengenang cerita masa lalu
Yang kini menjadi memori tak terlupa

Secangkir teh hangat
Melepas kekecewaan, menghalau duka
Sembari termenung menatap samudra
Merenungi hikmah setiap peristiwa

Secangkir teh hangat
Menyegarkan pikiran yang letih
Memancing kembali ide yang segar
Hingga kata menjadi paragraf dan bab

Secangkir teh hangat
Menyatukan insan yang tersekat jarak dan waktu
Menghangatkan kembali hati yang beku
Hingga tawa dan canda kembali terurai

Yuk kita nikmati secangkir teh hangat sore ini
Dengan camilan pisang goreng dan kue pukis
Persahabatan kita ini begitu berarti, kawan…
Jangan sampai terputus hanya karena sebuah perbedaan

@ Pulo Cinta, Gorontalo, Sulawesi

Tampilkan Indahnya Ajaran Islam dengan Keindahan Akhlakmu

Standar

Ajaran Islam itu secara subtansinya sudah tak terbantahkan lagi…, sangat indah dan sempurna. Karena tak hanya mencakup aturan yang bersifat vertikal (hubungan dengan Allah Swt.), namun juga horisontal (hubungan dengan sesama manusia dan makhluk ciptaan-Nya yang lain).

Tapi keindahan dan kesempurnaan ajarannya itu seringkali tertutupi oleh perilaku umatnya yang ironisnya seringkali malah tak sesuai dengan ajarannya. Sehingga menimbulkan image negatif tentang Islam.

Tiba-tiba aku jadi teringat saat dulu masih bekerja di Jakarta. Beberapa kali aku diajak berdiskusi oleh teman salah seorang rekan yang non muslim di kantorku melalui telepon. Bahkan ia sampai memintaku membawa Alquran ke kantor karena ada beberapa ayat yang ingin ia tanyakan.

Waktu itu (sekitar tahun 1995-1996), di antara mereka mungkin masih merasa heran saat mengenalku sebagai keturunan Tionghoa, tapi kok beragama Islam. Padahal agama Islam lebih dahulu masuk di negara China lho ya sebelum ke Indonesia.

Lanjut lagi ya… Jadi hal-hal yang ingin ditanyakan waktu itu adalah seputar apakah ada hubungannya antara teroris dan Islam? Mengapa ada ayat tentang perang dalam Islam? Benarkah bila menikah dengan orang Islam harus siap dipoligami? Aku berusaha menjawab dan mencoba menjelaskan semampuku.

Pada dasarnya, semua pertanyaan, pendapat dan pandangannya tentang Islam sangat mewakili pandangan mayoritas non Islam terhadap Islam dan muslim. Bahkan sampai sekarang stereotip negatif tersebut masih terekam dalam benak mereka. Bahwa Islam itu agama teroris, agama yang suka ngajak perang, agama poligami, dan lain-lain.

Mungkin sebagian orang ada yang berpendapat, “Ah, bodo amat mereka mau bilang apa… Emang gua pikirin? Yang penting kan gua sudah yakin dengan ajaran Islam.”

“Oke, oke… Bagi teman-teman yang memang tinggal di lingkungan keluarga/teman yang muslim semua sih mungkin nggak masalah ya… Nah, bagi kami yang tinggal bersama lingkungan keluarga/teman yang mayoritas non muslim, apalagi kalau ada yang punya stereotip seperti itu tentang Islam, tentu suasananya jadi serba tidak enak. Terlebih ketika tersiar berita pengeboman oleh teroris yang mengatasnamakan kelompok muslim.

Saat itu kami harus bisa menjelaskan dengan baik dan menunjukkan kepada mereka, bahwa sesungguhnya Islam tidak seburuk yang mereka sangka. Kalau pun ada muslim yang berperilaku demikian, semata-mata itu hanyalah perilaku umatnya secara personal saja yang khilaf dan melanggar ajaran Islam yang sebenarnya.

Di masa itu, jarang ada muslimah yang berkerudung rapat menutup aurat. Sehingga ketika aku dan adik perempuanku mengenakannya masih dianggap aneh dan kurang menarik. Terutama bila sedang berada di lingkungan keluarga yang berbeda akidah. Sehingga selepas dari pesantren dan dalam kegalauan masa remaja menuju dewasa, aku sempat tergoda untuk melepas kerudungku. Tapi alhamdulillah keimanan dan Ke-Islaman-ku tidak ikut tergerus.

Setelah dua puluh tahun lebih berlalu, menjadi muslim Tionghoa sudah bukan hal yang aneh lagi. Karena alhamdulillah sekarang sudah semakin banyak yang mendapat hidayah dan semakin banyak pula yang ‘merangkul’.

Hanya saja ketika mulai masuk tahun politik dengan isu-isu SARA-nya, suasana jadi tidak nyaman lagi. Paling sedih kalau membaca status atau komentar orang yang saling mengolok agama atau etnisnya masing-masing hanya gara-gara beda pilihan capres. Rasanya jadi pengin cepat berlalu dan berakhir Pilpres ini dengan damai, siapapun Presiden yang terpilih nanti.

Dalam situasi yang panas seperti ini, aku harus bisa menjadi penengah antara keluarga dan teman yang mempunyai perbedaan. Bila diistilahkan, kami ini seperti minoritas di tengah minoritas. Di dalam keluarga besar, kami minoritas karena berada di tengah keluarga yang mayoritas Tionghoa non muslim. Kami harus bisa menunjukkan kebaikan ajaran Islam.

Di kalangan muslim, kami minoritas karena berada di antara WNI muslim yang beda etnis. Kami harus bisa menjelaskan bahwa tak semua etnis kami seburuk yang mereka sangka. Tapi tidak masalah, karena dengan begini kami jadi bisa belajar bagaimana menempatkan diri dengan baik dan bisa lebih menghargai perbedaan.

*****

Setelah terjadinya terorisme yang berupa penembakan brutal terhadap jamaah shalat Jumat di masjid Linwood dan Al Noor, Christchurch, Selandia Baru pada hari Jum’at 15 Maret 2019 yang lalu, tak hanya duka dan kemarahan yang terluapkan. Rasa simpati pun terus mengalir tehadap korban dan keluarga korban dari seluruh negara, baik muslim maupun non muslim.

Berikut ini kurangkum beragam reaksi dan peristiwa dari keluarga korban, pemimpin negara, pejabat pemerintah hingga warga berbagai negara, khususnya dari Selandia Baru yang dapat membuat perasaan kita bercampur aduk. Antara perasaan haru, kagum, bangga, geram hingga sedih. Cekidot:

1. Sapaan hangat salah seorang jamaah muslim di masjid yang mewakili keramahan dan persaudaraan dari wajah Islam yang sesungguhnya (Hello Brother) malah dibalas berondongan peluru dari teroris. Netizen banyak yang bereaksi karena merasa terharu sekaligus marah akan kejadian ini.

2. Kepedulian PM Selandia Baru, Jacinda Ardern terhadap korban dan keluarganya sangat luar biasa. Ia merespon dengan cepat dan sangat tanggap. Dengan tegas ia mengecam keras tindakan yang disebutnya sebagai terorisme itu. Ia bahkan sampai tak mau menyebutkan nama terorisnya. Sikapnya ini membuat seluruh dunia, khususnya kaum muslim menjadi kagum dan berterima kasih kepadanya. Terlebih ketika ia mengatakan bahwa Selandia Baru juga merupakan rumah bagi kaum imigran karena mereka adalah sama-sama warganya.

3. Besok Jumat (22 Maret 2019) sepekan setelah peristiwa teror, akan diselenggarakan gerakan Scarves in Solidarity, yaitu gerakan yang mengajak para wanita di Selandia Baru untuk mengenakan kerudung. Gerakan ini merupakan respon atas peristiwa tersebut dan sebagai bentuk solidaritas terhadap para pemeluk agama Islam di Selandia Baru, bahwa mereka tidak sendiri.

4. Salah seorang keluarga korban yang berkursi roda berhasil selamat (Farid Ahmed). Namun istrinya yang baru saja menyelamatkan muslimah dan beberapa anak keluar dari masjid menjadi korban saat kembali untuk menyelamatkannya dari tembakan teroris. Farid Ahmed tidak membenci atau dendam terhadap si teroris. Malahan ia memaafkan dan berusaha memahami masalah yang mungkin sedang terjadi pada teroris tersebut. Masya Allah... Kita seperti menyaksikan kisah love story sekaligus keindahan akhlak muslim sejati secara live.

5. Sikap Senator Australia, Fraser Anning yang cenderung menyalahkan kebijakan pemerintah Selandia Baru yang membuka pintu masuk untuk para imigran dan menganggap bahwa imigran muslim penyebab teror membuat seorang remaja lelaki Australia (Will Connolly) tidak terima. Sampai ia menyeplokkan telur mentah ke kepala senator itu saat sedang diwawancarai. Sontak keberanian “Egg boy” tersebut mengundang banyak dukungan. Hingga ada penggalangan uang lewat akun GoFundMe, dan terkumpul US$42 ribu, yang setara Rp5,9 miliar. Semula uang tersebut akan digunakan untuk membantu menyelesaikan proses pembebasannya setelah ia ditangkap. Tapi karena tak dikenakan biaya, uang tersebut ia sumbangkan untuk membantu korban teroris.

6. Dengan sukarela geng-geng motor di Selandia Baru seperti “Mongrel Mob”,King Cobra” dan “Black Power” siap menjaga keamanan masjid selama digunakan beribadah.

7. PM Selandia Baru, Jacinda Ardern secara resmi mengumumkan bahwa besok Jumat (22 Maret 2019) ia akan mengheningkan cipta selama dua menit untuk mengenang korban teroris di masjid kota Christchurch. Tak hanya itu, suara azan pun akan disiarkan secara langsung di televisi–televisi Nasional Selandia Baru.

8. Untuk pertama kalinya, pada hari Selasa 19 Maret 2019 kemarin PM Selandia Baru Jacinda Ardern memulai pidatonya di gedung parlemen dengan ucapan assalamualaikum. Sebelum dimulai rapat, untuk pertama kalinya juga dibacakan Alquran (surat Al Baqarah) oleh Imam Nizam ul haq Thanvi, lalu setelah itu ia menyampaikannya dalam bahasa Inggris.

*****

Pengalaman pribadi di atas sengaja kupadukan dengan kisah-kisah penuh hikmah di Selandia Baru tersebut karena ada benang merah yang bisa ditarik di dalamnya, sebagai berikut:

Keindahan ajaran Islam yang rahmatan lil’aalamiin akan tampak tatkala umatnya mampu menampilkan keindahan akhlaknya. Sesungguhnya sebaik baik dakwah adalah dengan akhlak yang baik. Dan hakekatnya, persahabatan/persaudaraan sejati itu bersifat universal. Tak ada sekat suku, agama, ras/etnis maupun bangsa

Sumber berita:

1. https://m.detik.com/news/internasional/d-4469926/viral-kata-kata-terakhir-korban-teror-masjid-new-zealand-hello-brother

2. https://www.facebook.com/433396333744127/posts/716468478770243/

3. https://www.facebook.com/433396333744127/posts/716957198721371/

4. https://m.kumparan.com/berita-heboh/gerakan-solidaritas-ajak-wanita-selandia-baru-pakai-hijab-jumat-besok-1553086228908835889?utm_medium=post&utm_source=Facebook&utm_campaign=int

5. https://m.dream.co.id/news/egg-boy-sumbang-uang-untuk-keluarga-korban-christchruch-190321o.html

6. https://suar.grid.id/amp/201672915/anggota-geng-motor-selandia-baru-siap-berjaga-di-masjid-untuk-menjaga-umat-muslim

7. https://internasional.republika.co.id/berita/internasional/asia/pony9h382/selandia-baru-akan-siarkan-azan-di-tv-nasional

8. https://dunia.tempo.co/read/1187694/pertama-kali-al-quran-berkumandang-di-parlemen-selandia-baru

Sumber gambar: Pinterest

10 Fakta dan 6 Pelajaran Berharga dari Kasus Teroris Brenton Tarrant di Selandia Baru

Standar

Di tengah memanasnya suhu politik di negara kita menjelang Pilpres ini, pada hari Jumat 15 Maret 2019 yang lalu, kita dikejutkan berita tentang aksi sadis Brenton Tarrant (BT) yang melakukan penembakan secara membabi buta terhadap jamaah shalat Jumat di masjid Linwood dan masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Sebanyak 49 jamaah muslim telah gugur dalam peristiwa tersebut. 😭😭😭 Bahkan mungkin bisa bertambah lagi. Semoga mereka husnul khatimah dan menjadi syuhada. Aamiin… Sementara itu jamaah yang luka-luka hampir mencapai 50 orang. Duka mendalam tak hanya mengguncang keluarga yang ditinggalkan, namun juga dirasakan kaum muslim dari berbagai negara. Rasa marah terhadap kejahatan teroris yang tak berperikemanusiaan itu sungguh melukai perasaan umat muslim seluruh dunia.

Kejadian mengerikan ini menimbulkan kepanikan pada warga sekitar sampai sekolah yang berada di area tersebut diliburkan. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern dan Duta Besar Australia juga mengutuk tindakan brutal teroris yang diduga dilakukan bersama dua lelaki dan satu perempuan itu. Menteri Luar Negeri Inggris Sajid Javid pun mengecam keras dan muak akan tindakan para teroris yang menyerang orang yang sedang beribadah.

Teroris berasal dari Australia yang menjadi pelaku penembakan tersebut sudah ditangkap polisi dan kini tengah menjalani proses pemeriksaan di pengadilan. Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan beberapa fakta mengejutkan sebagai berikut:

1. BT berasal dari keluarga baik-baik, keturunan Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Ayahnya pernah bekerja sebagai buruh kasar dan atlet. Namun sudah meninggal saat menjelang kelulusannya dari SMA, karena sakit kanker. Sedangkan ibunya seorang guru. Track record-nya bersama tiga pelaku teror lain juga bersih, belum pernah terlibat tindakan kriminal sebelumnya.

2. BT kini berusia 28 tahun. Saat bersekolah dulu, ia jarang naik kelas dan tak berminat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena kurang menarik baginya.

3. BT pernah bekerja sebagai pelatih gym. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia melakukan perjalanan ke berbagai negara di benua Eropa, Asia Tenggara dan Asia Timur. Sekembalinya dari perjalanannya tersebut, terjadi perubahan pada diri BT hingga cenderung pada ekstremisme.

4. BT sering memainkan game yang mengandung unsur kekerasan yang mempengaruhinya. Seperti permainan game Spyro The Dragon 3 yang mengajarinya etnonasionalisme dan Fortnite yang melatihnya menjadi seorang pembunuh dan menyisir mayat ‘musuh-musuh’-nya.

5. Sebelum melakukan penembakan brutal, BT memposting di Twitter beberapa foto yang menunjukan serangan teror Bastille Day 2016 di Nice, yang diduga kuat menjadi alasannya melakukan penembakan di masjid tersebut.
Ia juga terdorong ingin membalas dendam atas terbunuhnya Ebba Akerlund gadis berusia 11 tahun dalam serangan teror 2017 di Stockholm.
Sosok lain yang dijadikan panutan BT adalah Anders Breivik, seorang ekstremis sayap kanan yang menyerang kantor pemerintah di Oslo, Norwegia, pada 22 Juli 2011 silam. Dalam aksinya ia meledakkan bom mobil di depan kantor pemerintah, dan melakukan penembakan di kamp musim panas sayap muda Partai Buruh di Pulau Utoya hingga menewaskan 77 orang. Alasannya membunuh para korban karena mereka mendukung multikulturalisme.
Orang-orang dan peristiwa itulah yang menginspirasinya untuk melakukan tindakan teror ini.

6. BT telah merencanakan serangan ini sejak dua tahun terakhir dan menetapkan lokasi di Selandia Baru sejak tiga bulan yang lalu. Di dalam mobil minivan putihnya, telah disiapkan dua senjata laras panjang (di kursi depan) dan dua senjata mesin laras panjang dan magasen (di kabin bagasi belakang). Di senapannya tertulis nama-nama teroris. Seperti Alexandre Bissonette dan Luca Traini (nama-nama penembak masjid di Italia dan Kanada).

7. Saat beraksi, BT mengenakan baju tentara siap perang, kaos tangan kulit dan topi. Ia memakai GPS yang memandunya ke arah sasaran. Ia merekam sendiri aksi penembakannya dengan kamera GoPro yang diletakkan di penutup kepalanya. Lalu livestreming di akun media sosialnya. Video berdurasi 16 menit yang ia share tersebut, tampak seperti video game online PUGB yang sering dimainkan remaja dan pemuda di Indonesia.

8. Sebelum kejadian, BT merilis manifestonya yang berjudul “The Great Replacemet” (Pengganti Hebat) setebal 74 halaman yang menunjukkan keinginannya membebaskan tanah milik kaumnya dari ‘para penjajah’ (para imigran). Pada hari yang telah ditentukannya, setelah tiba di lokasi, ia memutar musik di mobilnya dan mengatakan, “Mari kita mulai pesta” sebelum melaksanakan aksinya.

9. BT menganut ideologi supremasi White /kulit putih dan ekstremis sayap kanan /Neo Nazi yang meyakini bahwa dunia ini dikuasai oleh kulit putih sebagai bangsa yang paling unggul serta menganggap kaum imigran yang berbeda dengan ras/kelompoknya adalah penjajah yang harus diusir dan dimusnahkan.

10. BT mendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih yang baru, serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Sebaliknya ia menyerukan kematian pada beberapa pemimpin dunia seperti Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Setelah memperhatikan 10 fakta dari Brenton Tarrant di atas, dan mencoba menganalisanya, bisa kita simpulkan bahwa:

1. Latar belakang keluarga yang baik bukan jaminan bagusnya karakter seseorang di masa depan bila tak mendapat bimbingan /bekal keimanan yang kuat dan akhlak yang baik secara berkelanjutan

2. Minimnya wawasan dan tingkat pendidikan seseorang cenderung membuat seseorang tidak dapat berpikir panjang dalam melakukan suatu tindakan.

3. Pengaruh lingkungan yang berupa pemikiran, ideologi, perilaku, dan doktrin kadang bisa membuat seseorang menjadi ekstrem dan melakukan tindakan di luar nalar karena seperti dicuci otaknya.

4. Tak bisa dipungkiri bahwa game yang mengandung unsur kekerasan ternyata memang bisa sangat berpengaruh pada jiwa seseorang. Sehingga bisa membuatnya tega melakukan ‘kekerasan yang mengasyikkan’ di dunia nyata sebagaimana yang ia mainkan dalam game. Bahkan setelah jatuh banyak korban pun, tak ada rasa penyesalan sama sekali.

5. Rasialisme, fasisme, dan ekstremisme bagaikan rantai/lingkaran setan yang sangat sulit diputuskan. Dampaknya, akan timbul berbagai permasalahan, seperti munculnya teroris, pertikaian dan perpecahan antar kelompok, bangsa dan negara, hingga penghilangan nyawa dan kehancuran sebuah negara. Akar permasalahan semuanya itu adalah kesombongan, kecemburuan sosial/ ekonomi, kebencian dan dendam.

6. Pada dasarnya pelaku teroris bisa berasal dari bangsa dan negara mana pun. Kalau pun ada pelaku teroris yang mengatasnamakan agama, tentu ia menganut ajaran yang sesat. Karena agama yang benar tak akan mengajarkan kebencian dan permusuhan.

Dari 6 kesimpulan tersebut, kita bisa mengambil pelajaran berharga di dalamnya. Bahwa kita sesama makhluk Allah Swt. ini tidak selayaknya saling membenci hanya karena berbeda warna kulit, suku, agama, etnis, bangsa maupun negara.

Di tahun politik seperti sekarang ini, api kebencian dan permusuhan antar pendukung masing-masing capres sangatlah mudah disulut. Maka kita jangan malah menjadi bagian dari orang-orang yang suka menghasut dan jangan pula menjadi orang yang mudah dihasut. Apalagi sampai menyebar berita dengan bumbu-bumbu fitnah, hoax dan isu SARA. Aduh…, jangan ya kawan…

Perbedaan pilihan capres jangan membuat kita saling menghujat, saling menghakimi, apalagi sampai menafsirkan kadar keimanan seseorang dengan seenak hati. Kita bukan Tuhan, kawan… Lebih baik kita evaluasi diri, menghargai kelebihan masing-masing dan saling mendoakan saja.

Dan yang terpenting, marilah kita persiapkan anak, cucu dan keturunan kita agar menjadi generasi yang kuat imannya, indah akhlaknya, cemerlang prestasinya, dan bahagia keluarganya.Supaya tak muncul Brenton Tarrant lagi di dunia ini. Sehingga terciptalah suasana negara dan dunia yang aman, damai dan diberkahi Allah Swt. Allahuma aamiin…

Sumber referensi:

1. http://style.tribunnews.com/2019/03/16/alasan-aksi-brenton-tarrant-pelaku-penembakan-di-selandia-baru-rencanakan-teror-2-tahun-lalu?page=3

2. http://style.tribunnews.com/amp/2019/03/16/6-fakta-brenton-tarrant-pelaku-penembakan-selandia-baru-suka-senjata-belajar-kekerasan-dari-game?page=4

3. http://makassar.tribunnews.com/2019/03/15/inipenembak-mati-30-jamaah-3-masjid-di-new-zealand-buat-live-streaming-dan-dengar-musik?page=4

4. http://batam.tribunnews.com/amp/2019/03/16/makna-lambang-tangan-brenton-tarrant-pelaku-penembakan-terhadap-51-jamaah-masjid-di-selandia-baru?page=4

5. https://m.republika.co.id/berita/kolom/wacana/19/03/18/pojqgo282-jumat-kelabu-di-selandia-baru-sisi-kelam-media-sosial

6. http://wartakota.tribunnews.com/amp/2019/03/16/manifesto-setebal-74-halaman-ini-ungkap-alasan-brenton-tarrant-bunuh-49-muslim-saat-salat-jumat?page=2

Sumber foto: batam.tribunnews.com

Bukan Kebebasan yang Tak Terbatas

Standar

Setiap manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan suci, sesuai fitrah-nya. Maksudnya, bahwa setiap manusia lahir tanpa dosa, tak mewarisi dosa orang tua, nenek moyangnya atau dosa siapa pun.

Allah Swt. berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 30)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Adapun arti kata fitrah menurut Al Ghazali, adalah potensi dasar yang sudah Allah Swt. karuniakan kepada setiap manusia semenjak lahir dan membedakannya dari makhluk ciptaan-Nya yang lain, yaitu:

1. Beriman kepada Allah Swt.
2. Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran.
3. Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berupa daya untuk berpikir.
4. Dorongan biologis yang berupa syahwat, nafsu, dan tabiat
5. Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dapat dikembangkan dan dapat disempurnakan.

(sumber: http://mediamuslimah.com/konsep-fitrah-dalam-islam/)

Hakekatnya, setiap manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan sekaligus menerima konsekwensi atas pilihannya itu dalam hidupnya. Namun bila kesucian fitrah-nya ingin selalu terjaga, ia harus mampu mengendalikan kebebasannya sesuai batasan yang telah diberikan oleh Sang Penciptanya. Dengan berpedoman pada aturan dan ketentuan-Nya (di dalam Al Qur’an), maupun sunnah Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya (di dalam Al Hadits).

Nah, bila seseorang membiarkan kebebasannya bergejolak liar hingga melampaui batas, justru kebebasannya itulah yang nanti akhirnya akan menjadi belenggu dalam hidupnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini:

“المحبوسُ مَنْ حُبِسَ قَلْبُه عن رَبِّهِ تعالى والمأسورُ مَنْ أَسِرَه هواه”

“Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara (terhalangi) hatinya dari Rabb-nya (Allah) Ta’ala, dan orang yang tertawan (terbelenggu) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya”

[Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilush shayyib minal kalimith thayyib” (hal. 67)].

(sumber: https://muslim.or.id/3878-islam-dan-kebebasan.html

Seperti yang sering kita baca, lihat dan dengar di media massa atau di sekeliling kita, betapa merugi dan sengsaranya akhir kisah orang-orang yang memilih hidupnya semau gue dan bebas tanpa batas. Mereka terbelenggu berbagai masalah yang diakibatkan oleh gaya hidupnya yang bebas tak terkendali.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa, kebebasan sejati seseorang justru akan sirna tatkala hatinya semakin jauh dari Allah Swt. dan hawa nafsunya sudah memperbudak dirinya.

Maka penting untuk kita ketahui bahwa dalam ajaran Islam ada kebebasan yang terbatas dan ada juga yang tak terbatas, tapi dengan ‘catatan’.

Kebebasan yang terbatas dalam Islam adalah dalam keyakinan (aqidah), ibadah dan akhlak. Sebab prinsip keyakinan dalam ajaran Islam hanya menganut Tauhid, yang bermakna: tiada ilah/tuhan/sesembahan/tujuan lain selain Allah Swt. Dan bahwa nabi Muhammad Saw. adalah nabi terakhir utusan Allah Swt. yang membawa ajaran Islam.

Ibadah dalam ajaran Islam juga mempunyai tata cara tertentu yang tidak boleh ditambah atau dikurangi. Selain itu dalam kehidupannya sehari-hari, seorang muslim dan muslimah pun tidak boleh sembarangan dalam bersikap dan berbicara. Karena sudah ada ajaran tentang akhlak Islamiyah yang mengaturnya.

Adapun kebebasan yang tak terbatas tapi dengan ‘catatan’, adalah kebebasan dalam hal muamalah (hubungan sosial dengan sesama manusia) dan awaid (budaya).

Jadi kita dibebaskan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia di seluruh dunia, tanpa membedakan suku, agama maupun etnisnya.

Allah Swt. berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَأُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Begitu pun kita dibebaskan untuk berkreasi dan saling memperkenalkan budaya antar daerah dan bangsa. Dengan catatan, tidak menyalahi batasan akidah, ibadah dan akhlak Islamiyah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tadi. Juga harus didasarkan pada prinsip ke-maslahat-an (kebaikan dan manfaat) bersama.

(Sumber: https://diandwijayanto.wordpress.com/2018/02/23/memahami-kebebasan-dalam-islam/)

Setelah mengetahui makna kebebasan dalam ajaran Islam, maka kita akan semakin memahami bahwa sesungguhnya batasan yang Allah Swt. berikan kepada kita tersebut adalah suatu bentuk kasih sayang-Nya kepada kita sebagai makhluk-Nya. Agar kita dapat menggapai kemerdekaan yang sejati. Bebas dari segala macam masalah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Semoga kita mampu mengendalikan diri dan mengelola kebebasan di dunia ini dengan hati-hati, sesuai batasan-Nya. Agar kemerdekaan sejati pun dapat kita nikmati di dunia ini dan kelak di akhirat nanti. Allahumma aamiin…

(Sumber gambar: hipwee.com)

Roda Kehidupan

Standar

Kehidupan bagaikan roda…
Bila terus dikayuh dan dijalankan,
Maka akan terus bergerak mencapai tujuan
Meskipun jalan yang dilalui berbatu dan berliku.

Namun bila berhenti berputar,
Terhenti jugalah semua upaya dan asa
Tuk mencapai sebuah tujuan dan cita-cita
Tergeletak begitu saja tanpa guna

Roda yang sedang berputar
Ada kalanya di atas, ada saatnya di bawah
Begitu pun dinamika kehidupan
Senang dan susah datang silih berganti

Saat senang jangan sombong dan lupa diri
Ketika susah, tetap tegar dan pantang menyerah
Sehingga apa pun yang terjadi,
Tak mudah terguncang
Tetap stabil pada jalan dan ketentuan-Nya
Hingga tercapai kebahagiaan dan kesuksesan, di akhir perjalanan.

Menyerap Energi Positif Keluarga Padepokan Margosari, Salatiga

Standar

Saat menghadiri pernikahan Enes, putri pertama Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto (Founder Jarimatika, School of Life Lebah Putih dan Institut Ibu Profesional) yang berlangsung pada hari Sabtu 9 Maret 2019 kemarin, tiba-tiba terlintas kenangan ketika berjumpa dengan mereka beberapa tahun yang lalu. Tidak banyak yang berubah dari keluarga mereka. Mereka tetap keluarga yang solid, sederhana, ceria dan ramah. Yang berubah hanyalah fisik dan pembawaan anak-anaknya yang sekarang tampak lebih dewasa dan matang.

Kami mengenal keluarga Bu Septi dan Pak Dodik beserta ketiga anaknya (Enes, Ara dan Elan) ini sejak awal mula mengambil program Jarimatika di sekitar tahun 2007.

Metode berhitung dengan jari yang diciptakan oleh Bu Septi ini sebenarnya sudah menarik perhatianku di akhir tahun 2005. Aku sempat membeli buku tentang Jarimatika di Toko Buku Gramedia. Waktu itu aku hanya berharap bisa mengajarkannya pada Salma agar siap saat memasuki SD.

Tapi metode Jarimatika ini baru benar-benar dikuasai dan digunakan Salma sejak ia ikut belajar bersama anak-anak lain di les Jarimatika yang kubuka di rumah. Alhamdulillah, melalui Jarimatika, Salma dan anak-anak lain menjadi lebih senang belajar matematika.

Jarimatika menjadi jembatan pertama sekaligus pondasi awal bagi anak-anak dengan memperkuat dasar dan nalar berhitungnya (kali, bagi, tambah dan kurang) sebelum belajar matematika sekolah.

Awal mula Bu Septi menemukan metode Jarimatika ini pun ternyata karena ingin membantu anak-anaknya dalam belajar berhitung/matematika dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Ide dan kreativitas Bu Septi yang seakan tak pernah habis pun tak cukup sampai di situ. Beliau juga menginisiasi School of Life Lebah Putih, sebuah sekolah yang memanusiakan anak-anak dalam belajar serta Institut Ibu Profesional yang merupakan forum belajar bagi ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai ibu, istri dan perempuan.

Aku bersyukur bisa berkenalan dengan keluarga mereka. Sekitar tahun 2014 aku pernah mengajak Salma untuk menginap sehari semalam di rumah mereka. Selama waktu yang singkat itu banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kami petik. Dari saat ditemani oleh Enes berkunjung ke School of Life Lebah Putih, diajak berkuda oleh Ara, ngobrol seru tentang hobi dan cita-cita bersama Elan sampai malam, hingga diskusi tentang pendidikan anak bersama Bu Septi dan Pak Dodik.

Aku terkesan pada kekompakan dan kreativitas keluarga mereka yang patut diteladani dan membawa energi positif. Hikmah yang bisa kuambil dari keluarga mereka adalah bahwa:

Keluarga adalah sebuah home team yang antara satu anggota keluarga dengan yang lainnya saling bersinergi, tolong menolong, mendukung sesuai dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing hingga terjalin keluarga yang kompak dan bahagia.

Spirit keluarga mereka itu mampu menyalakan semangatku baik dalam menjalani kehidupan maupun mengelola les Jarimatika di Rumah Belajar Cirebon dengan segala suka dukanya pada setiap proses. Kegiatan perkemahan Gerakan Ibu Rumah Tangga Profesional yang diadakan oleh Bu Septi dan keluarganya pada tahun 2010 pun kuikuti dengan antusias.

Alhamdulillah, target unit kami dalam mempertahankan kuantitas dan kualitas murid Jarimatika dapat tercapai.

Saat itu jumlah murid Jarimatika di unit kami mencapai 150 – 200-an anak. Beberapa murid Jarimatika kami juga mampu meraih prestasi di lomba matematika.

Pada tanggal 31 Juli 2010 Jarimatika Pusat memberikan penghargaan Silver Prize as The Consistently Growing Unit kepada kami. Masya Allah… 🙏😍

Sebuah reward berupa 1 tiket gratis ke Singapura dari Jarimatika Pusat juga kuperoleh sehingga aku berkesempatan ikut kegiatan Jarimatika Backpacker to Singapore dari tanggal 30 April sampai tanggal 2 Mei 2013. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku berwisata ke luar negeri. Suamiku membeli tiket tambahan untuknya dan Salma agar dapat pergi bersamaku ke Singapura.

Semua keberuntungan dan keberhasilan ini adalah karunia Allah Swt. yang sangat kami syukuri. Hingga kini, Jarimatika masih menjadi salah satu program belajar pilihan di Rumah Belajar Cirebon, baik untuk kelas privat, reguler maupun ekskulnya. Semoga melalui Jarimatika kami dapat membantu anak-anak dalam memperkuat dasar berhitung hingga senang belajar matematika sebagai induk dari ilmu pengetahuan.

Berikut ini adalah beberapa tips agar sukses dalam belajar Jarimatika:

  • Sebaiknya dimulai belajar dari kelas 1 – 2 SD.
  • Konsisten dan sabar dalam setiap proses belajarnya.
  • Mendapat dukungan dan motivasi dari orang tua dan guru (terutama guru sekolah).
  • Perkuat penguasaan metode berhitungnya, terutama di level 1 dan 2.
  • Setelah lulus semua level di Jarimatika, lanjutkan dengan program belajar matematika sekolah, seperti Matematika APIQ atau les matematika lain (yang membebaskan anak dalam cara berhitung dengan jarinya), lalu terapkan metode berhitungnya saat mengerjakan soal-soal matematika.

Akhirnya, kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bu Septi, Pak Dodik, Enes, Ara dan Elan atas inspirasi dan teladannya yang baik. Barakallah fiikum. 💖🙏👍

Oya, barangkali teman-teman masih penasaran dan ingin mengenal lebih lanjut tentang keluarga Padepokan Margosari ini beserta kiprahnya yang luar biasa, monggo bisa dibuka beberapa pranala di bawah ini:

1. https://padepokanmargosari.com/tentang-kita-2?iframe=true&theme_preview=true

2. https://m.qubicle.id/travel/mengenal-school-of-life-lebah-putih-di-salatiga

3. https://www.ibuprofesional.com/

Melepas Kangen

Standar

Bagiku, pulang ke Magelang tak hanya sekedar melepas kangen pada Ibu, adik dan keponakanku. Tapi sekaligus pada kucing-kucing lucu peliharaan adikku dan makanan khas asal kota di kaki bukit Tidar ini. Sebab sudah hampir setengah tahun lamanya aku tak pulang ke kota kelahiranku berhubung kondisi yang tak memungkinkan.

Pada kesempatan ini, aku pulang ke Magelang bersama suami. Biasanya aku pulang sendirian dengan kereta jurusan Yogyakarta, lalu naik mobil Elf Damri menuju ke Magelang. Tapi kali ini kami mengendarai mobil sendiri, melalui jalan Tol Trans Jawa.

Perjalanan melalui jalan tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi ini cukup memangkas waktu tempuh perjalanan. Biasanya waktu yang harus kami tempuh dengan berkendara mobil, dari Cirebon ke Magelang sekitar 7 jam. Sekarang cukup ditempuh selama 4,5 jam.

Di tengah perjalanan kami sempat berhenti di rest area yang berada di daerah Kendal. Beberapa warung makan dengan menu masakan Indonesia dan usaha UMKM dibuka di sana. Kami mencicipi sayur lodeh jantung pisang yang rasanya seperti sayur nangka dan membeli krupuk rambak kesukaanku.

Menjelang Zuhur kami sudah tiba di rumah Ibuku di Magelang. Sebelum ada jalan tol biasanya baru tiba saat Asar. Sekarang alhamdulillah bisa lebih cepat. Rasa kangen yang sudah tertahan selama tiga bulan pun akhirnya tertumpahkan hari ini. Roy, adik lelakiku sedang bekerja di daerah Papua dan belum pulang. Kevin tampak lebih tinggi postur tubuhnya. Suaranya sudah mulai pecah, tanda memasuki masa puber. Laura juga sudah tampak seperti gadis remaja. Tapi Ibuku tampak agak kurus. Semoga semua sehat dan baik-baik saja. Aamiin

Di dalam rumah, hanya ada Molly dan Milo, kucing-kucing lucu milik adikku. Milo sedang menyusui tiga ekor anaknya yang baru seminggu yang lalu dilahirkannya. Milo tampak sangat menyayangi anak-anaknya. Miki dan Messi entah sedang kemana. Kami sempat mencari ke sekeliling rumah, tapi tidak ketemu. Akhirnya kami pergi keluar sebentar untuk makan siang bersama di luar.

Pilihan kuliner hari pertama kami di Magelang adalah Rumah Makan Es Murni yang beralamat di jalan Sriwijaya. Rumah makan ini termasuk rumah makan legendaris karena sudah dibuka sejak tahun 1962. Menu yang tersedia di sini juga tidak hanya aneka es seperti Es Teler, Es Burjo, Es Roti, tapi juga ada minuman hangat seperti Wedang Bajigur. Masakannya pun bervariasi. Ada Nasi Opor, Nasi Bakmoy, Gado-gado, Nasi Sop Gulung, dan lain-lain.

Suamiku dan Laura memesan Nasi Opor dan Wedang Bajigur. Kevin hanya memesan Es Teler. Ibu memesan Es Teler dan Gado-gado.
Sedangkan aku memesan Nasi Sop Gulung dan Es Burjo Roti. Semua rasanya miroso dan ajeg. Dari dulu rasanya tetap enak, nggak berubah, dan selalu ‘ngangeni‘. Sehingga setiap kali pulang ke Magelang, aku sering makan di sini. Usaha rumah makan ini awalnya dirintis oleh Mamanya. Sekarang dilanjutkan oleh anaknya dan sudah membuka cabang di beberapa mall di Magelang dan Yogyakarta.

Ketika kami kembali ke rumah Ibu, Miki dan Messi sudah tampak. Messi yang paling suka naik meja makan tampak takut-takut melihatku.

Mungkin pangling ya, karena sudah enam bulan tak melihatku. Sedangkan Miki sangat hangat bahkan betah berlama-lama saat kuelus-elus. Miki memang kucing yang paling akrab dibandingkan ketiga kucing lainnya. Kata Ibu, Miki juga paling suka memijat. Benar juga, beberapa kali aku memergoki Miki sedang memijat Ibu. Molly juga sesekali memijat Ibu. Iih, semuanya menggemaskan ya…

Besoknya lagi kami makan malam di Sate Pak No yang menu makanannya sate goreng/bakar dan tongseng baik daging kambing maupun daging sapi. Ada juga nasi goreng kambing. Sate Pak No ini juga termasuk warung makan legendaris karena pemiliknya sudah mulai berjualan sejak tahun 1960-an dengan gerobak keliling kota. Usaha ini pertama kali dirintis oleh ayahnya. Sekarang dilanjutkan oleh anaknya.

Kata suamiku rasa masakannya juga mantap. Menurutnya, masakan dari kota kecil Magelang ini banyak yang miroso. Tapi memang benar juga sih… Barangkali teman-teman ingin mencobanya juga, monggo mampir kota Magelang saja ya… 😊

Keep Your Spirit Up!

Standar

Pernahkah kalian merasa kecewa, putus asa, dan diabaikan? Saat target tak tercapai, gagal dalam suatu kompetisi dan terkucil di sebuah komunitas/kelompok?

Atau pernahkah kalian merasa hidup ini begitu hampa, merasa diri ini tak berguna dan kurang beruntung? Saat kehilangan orang/barang yang paling berharga dalam hidupmu, saat tak bisa banyak membantu dan ketika tertimpa masalah secara bertubi?

Sabar ya teman-teman… Kondisi seperti itu dulu juga pernah kualami… Sehingga bila kalian sekarang sedang mengalami hal semacam itu, aku bisa memahami perasaan kalian.

*****

Sangatlah wajar bila setiap orang mempunyai harapan dan target tertentu yang ingin dicapai dalam hidupnya. Bahkan memang demikianlah seharusnya agar selalu termotivasi.

Tapi sebaiknya mental, hati dan pikiran pun harus kita persiapkan supaya lebih tegar, barangkali ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan target kita. Sehingga kita menjadi lebih legowo dengan apa pun yang terjadi.

Dan yang terpenting jangan menyerah untuk selalu bangkit dan berjuang lagi ketika mengalami kegagalan. Karena keberhasilan hanya datang pada mereka yang pantang menyerah.

Selain itu…, normal juga kok bila setiap orang memiliki keinginan bisa diterima oleh siapa pun, di komunitas/kelompok apa pun, dan di mana saja.

Tapi harus kita sadari, bahwa tak semua orang sepemikiran dan sependapat dengan kita. Karena manusia diciptakan Allah Swt. dengan kepribadian dan sifat yang berbeda satu sama lain. Sehingga belum tentu kepribadian/sifat kita cocok dengan kepribadian/sifat orang lain.

Mungkin ada suatu komunitas/kelompok yang para anggotanya mempunyai kecocokan satu sama lain dalam beberapa halnya. Nah, ketika kita berada di dalamnya, bisa jadi kita seperti dikucilkan karena dianggap paling berbeda. Tapi keep calm saja. 😊

Toh kita tak harus tergantung kepada mereka, bukan? Kita malah lebih bisa leluasa mengembangkan diri di luar komunitas/kelompok tersebut dengan menjadi diri kita apa adanya. Atau kita bisa bergabung dengan komunitas/kelompok lain yang lebih cocok untuk kita. Masih banyak orang yang bisa menerima, dan lebih menghargai diri kita apa adanya.

*****

Ketika kita merasa bahwa hidup ini tiada artinya karena kita tak lagi memiliki orang/barang yang paling berharga bagi kita, bersyukurlah bahwa Allah Swt. selalu membersamai kita dan masih banyak karunia-Nya yang tak kalah berharganya dengan yang telah hilang tadi. Semua berasal dari-Nya dan nanti akan kembali kepada-Nya juga, termasuk diri kita.

Dan ingat…, masih banyak juga waktu yang bisa kita gunakan untuk membentuk diri kita menjadi sosok insan yang bermanfaat bagi sesama. Jadi segeralah bangkit dari rasa pesimis. Yuk lebih bersemangat dalam belajar, mencari ilmu dan pengalaman yang positif, lalu amalkan ilmumu. Niscaya akan banyak orang yang membutuhkan ilmu dan bantuan kita.

Ketika masalah datang beruntun, tarik nafas dalam-dalam, lalu lepaskan… Tenangkan hati, dan berdoalah. Mohon ampun atas semua kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan, lalu mohon pertolongan-Nya dengan sungguh-sungguh.

Jangan lupa meminta maaf kepada orang tua dan tingkatkan baktimu kepada mereka. Perbaiki ibadah dan akhlak kita. Insya Allah satu demi satu masalah akan diangkat oleh Allah Swt. lalu digantikan dengan dengan kemudahan dan kesuksesan dalam menjalani hidup ini.

Jadi… , jalani saja hidup ini dengan otimis. Bismillah… Setiap hari adalah kesempatan baik untukmu. Jangan terlalu banyak mengeluh. Lebih baik selalu bersabar dan bersyukur. Masa lalu biarlah berlalu. Karena masa depan yang cerah tengah menanti kita. Keep your spirit up! 😊💪💪

Harmoni Alam dan Kehidupan

Standar

Suatu siang…
Sang surya begitu garang
Memancarkan sinarnya
Panas terik membakar kulit
Pantulannya menyilaukan mata

Saat gumpalan awan di langit biru
Menjelma payung pelindung,
Kegarangannya sirna, berganti kehangatan
Embusan sejuk sang bayu pun
Membelai wajah, menyegarkan raga

Ombak di laut tak lagi bergumul dengan badai seperti semalam
Siang ini laut tenang mengalun bagai irama nan lembut
Perlahan kuberjalan menyusuri pantai
Meninggalkan jejak di pasir putihnya
Menyisakan memori penuh makna

Harmoninya alam ini,
Saling berganti dan melengkapi
Ada siang dan malam,
Ada panas dan sejuk,
Ada kekuatan dan kelembutan,

Begitu pun harmoni kehidupan…
Ada kalanya sedih, dan gembira
Ada saatnya tegas, dan lembut
Meski bertolak belakang, tapi saling menempa dan menyeimbangkan
Itulah hikmah cobaan dan perbedaan

Lokasi: Pulo Cinta, Gorontalo, Sulawesi

Ada Berkah-Nya Dalam Setiap Baktimu

Standar

Siapa di antara teman-teman yang masih memiliki orang tua lengkap? Maksud saya ayah dan ibu masih hidup bersama kita. Kalau orang tua kalian masih lengkap, bersyukurlah… Karena banyak keistimewaan yang akan kalian peroleh melalui mereka.

Ayah dan Ibu adalah dua sosok manusia yang menjadi perantara lahirnya kita di dunia ini. Melalui mereka, Allah Swt. menitipkan kita untuk dilahirkan, dirawat, diasuh dan dibimbing hingga dewasa. Sejak dalam kandungan hingga dewasa, Ayah dan Ibu selalu memberikan kasih sayang dan perhatiannya yang tulus kepada kita.

Selama kehamilannya, Ibu rutin mengonsumsi makanan bergizi, vitamin dan minum susu agar bayi yang dikandungnya sehat. Tak lupa ia selalu mengontrol kesehatan janinnya ke dokter spesialis kandungan atau ke bidan. Ketika buah hatinya sudah lahir, ia memberikan ASI sebagai asupan pertama yang terbaik. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, ia merawat, mengasuh, dan membimbingnya. Hingga memilihkan sekolah dan pendidikan yang terbaik untuk buah hati tercintanya.

Sedangkan Ayah, meskipun ia tak langsung terlibat dalam perawatan dan pengasuhan buah hatinya, tapi berkat kerja kerasnya dalam mencari nafkah, semua kebutuhan dalam keluarganya menjadi terpenuhi. Dari kebutuhan sandang, pangan hingga papan dan pendidikan untuk buah hatinya.

Bila kita renungkan semua jasa, perhatian dan kasih sayang Ayah dan Ibu, kita takkan mampu membalasnya karena sedemikian besar dan banyaknya. Maka sudah seharusnyalah kita berbakti kepada mereka. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada mereka. Di antaranya:

1. Membantu pekerjaan untuk meringankan beban mereka semampu kita.
2. Hormat, santun dan tidak kasar ketika berbicara maupun bersikap terhadap mereka.
3. Menemani ke dokter dan merawat mereka saat sakit.
4. Memberi makanan atau barang kesukaan mereka.
5. Sabar dalam mendengarkan semua uneg-uneg dan keluh kesah mereka serta membantu dalam mengatasi masalah semampu kita.
6. Mendoakan kesehatan dan kebaikan hidup mereka di dunia dan akhirat.
7. Sering menelepon dan menjenguk mereka, terutama saat kita sedang menempuh pendidikan di luar kota atau sudah berumahtangga.
Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa hakekat dari berbakti kepada Ayah dan Ibu bukanlah semata merupakan sebuah kewajiban yang seolah memaksa kita untuk melakukannya. Tentang wajibnya kita berbakti kepada orang tua, tentu sudah banyak yang tahu akan perintah Allah Swt. berikut ini:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسٰنَ بِوٰلِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ ۚ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 8)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Namun bila kita renungkan lebih mendalam, sebetulnya berbakti kepada orang tua itu kebutuhan setiap orang. Sebab dengan berbakti kepada orang tua, maka akan banyak keutamaan dan keberkahan dari Allah Swt. yang selalu terlimpah padanya. Di antaranya:

1. Mendapatkan keridhaan Allah Swt.

Seperti sabda Rasulullah Saw. dalam hadits ini:

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” ([Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Sumber: https://almanhaj.or.id/404-keutamaan-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-pahalanya.html

2. Akan dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِى عُمْرِهِ وَيُزَادَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim” (HR. Ahmad)

Sumber: https://bersamadakwah.net/10-keutamaan-berbakti-kepada-orang-tua/

3. Termasuk amal yang paling utama dan dicintai Allah Swt.

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Sumber: https://almanhaj.or.id/404-keutamaan-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-pahalanya.html

4. Kelak di akhirat menjadi pintu surga bagian tengah.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sumber: muslimah.or.id

5. Dapat menghapus dosa-dosa besar.

قال الإمام أحمد بن حنبل -رحمه الله :
˝ بِرّ الوالدين كفارة الكبائر ˝
انظر: [ الآداب الشرعية لابن مفلح رحمه الله (٣٨٩/١)]

Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah berkata:

“Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) bisa menghapus dosa-dosa besar”.

Al Adabusy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih رحمه اللّٰه 1/389.

Sumber: http://www.ilmusyari.com/2016/08/berbakti-kepada-kedua-orangtua-bisa.html?m=1

Nah, dengan melihat betapa luar biasanya keutamaan dan keberkahan dari Allah Swt. yang akan diperoleh bila berbakti kepada orang tua, tentu kini kita menjadi sangat membutuhkan dan mengharapkan kesempatan emas berbakti terhadap mereka, bukan?

Maka selagi orang tua kita masih hidup, manfaatkanlah baik-baik kesempatan emas ini. Banyak-banyaklah berbakti kepada orang tua dan sering-seringlah minta doanya. Karena doa orang tua itu sangat mustajab (manjur).

Dari Anas bin Malik r. a. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797).

Sumber: https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html

Jangan sampai kita menjadi anak durhaka yang menyia-nyiakan orang tua. Na’udzu billahi min dzalik…

Sebab sungguh rugi siapa pun yang durhaka dan melewatkan kesempatan emas dengan tidak berbakti kepada orang tuanya sampai mereka lanjut usia dan berpulang ke hadirat Allah Swt.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Sumber: https://muslimah.or.id/5753-berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html

Yuk kita bersegera memenuhi kebutuhan utama kita dengan berbakti kepada orang tua. Jangan sampai terlambat ya… Karena waktu sangat cepat berlalu. Agar semua keutamaan dan keberkahan dari Allah Swt. melalui mereka mengalir deras dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Aamiin ya rabbal’aalamiin

Sumber gambar: doa.kamikamu.net

Game Pertama Karya Putriku Bersama Timnya

Standar

Liburan semester, bagi Salma tak hanya menjadi kesempatan terbaiknya untuk beristirahat maksimal di rumah. Di mana pada hari-hari kuliahnya, waktunya banyak tersita untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun dan cukup meletihkan. Liburan yang biasanya berkisar antara 10 hari hingga 1 bulan itu, juga ia manfaatkan untuk mengerjakan berbagai macam proyeknya. Khususnya yang berhubungan dengan passion-nya di bidang menggambar.

Proyek yang baru saja ia kerjakan saat liburan kemarin ialah menyicil pembuatan ilustrasi untuk rencana pictbook Mamanya. Alhamdulillah, Salma berhasil menyelesaikan ilustrasi untuk satu judul cerita. Lalu pada liburan sebelumnya, ia sudah berhasil menyelesaikan pembuatan karakter untuk animasi game pada tim game develop yang diikutinya bersama teman-teman sefakultasnya.

Sehingga di liburan semester ini, game yang diberi nama “Me, You & Our Dream” sudah bisa diunduh dan dimainkan (sementara ini baru bisa dimainkan di laptop).

Sumber gambar: https://www.instagram.com/p/BspMexLn9-r/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qd0pwdzcjezp

Ini link gamenya: https://sorrowinrain.itch.io/me-you-our-dream. Game ini menceritakan tentang dua sosok karakter, yaitu Anwar dan Hani. Anwar mempunyai impian ingin bisa kuliah di jurusan Elektro atau Informatika. Sedangkan Hani ingin masuk ke jurusan Bioteknologi agar bisa membuat robot yang bisa melakukan operasi bedah.

Nah cara memainkan game ini adalah dengan memencet-mencet tombol pada keyboard agar karakter Anwar dan Hani bisa berlari, merangkak dan melompat untuk menyelesaikan beberapa pos tantangan demi mencapai target yang diharapkan.

Bila bisa memenuhi semua posnya dan targetnya tercapai, maka pemain game-nya berhasil mendapat poin kemenangan. Kira-kira begitulah menurutku yang gaptek main game. 😂

Karya pertama Salma dan timnya ini patut diacungi jempol. Karena selain menjadi bukti hasil kekompakan tim yang mereka bentuk, juga berisi pesan-pesan yang positif. Di antara pesan positifnya ialah bahwa untuk mencapai sebuah harapan/impian itu memang berat dan penuh tantangan. Maka dibutuhkan kegigihan dan keuletan dalam memperjuangkannya. Bila gagal di tengah jalan, jangan menyerah. Harus berani mencoba lagi. 😊👍👍

Tetap semangat berkarya lagi ya Salma dan tim. Oya, Mama punya request, kalau bisa bikin game yang bisa menjadi media belajar anak-anak di Rumah Belajar Cirebon. 😃 Dan lebih baik lagi bila di dalam setiap game nanti ada reminder waktu shalatnya. Atau bisa di-setting, setiap beberapa waktu tertentu permainan game-nya otomatis terhenti. Agar yang memainkannya selalu ingat waktu shalat dan tidak kecanduan bermain game, hingga berjam-jam lamanya. Seperti yang kita perhatikan rata-rata pada gamer kan begitu ya?😬

Catatan:

Maaf background sound videonya agak berisik karena lagi banyak ‘iklan lewat’ dan speaker laptopnya lagi ada gangguan. 😅🙏

Jari dan Jempol

Standar

Jempol adalah bagian dari jari
Yang paling berisi dan berbeda ruasnya
Terletak di ujung, dekat jari telunjuk
Maka dinamakan ibu jari

Jari dan jempol adalah petunjuk identitas
Saat menjadi cap jari dan jempol di dokumen
dan penanda hadir di mesin absensi
Pun menjadi kode tertentu saat kampanye

Jempol bisa menunjukkan kehebatan
Bila diacungkan tegak berdiri
Tapi bermakna sebaliknya
Bila dijungkirkan ke bawah.

Di era smartphone dan medsos ini
Jari dan jempol kian bermulti fungsi
Jadi alat saat komunikasi antar keluarga/ sahabat
Melalui pesan di Messenger,WA dan Line

Bagi sebagian anak muda dan remaja
Jari dan jempol digunakan untuk main game dan update status
Juga upload foto selfie di IG dan vlog di You Tube
Hingga jadi penghasil uang dan ketenaran

Bagi para emak dan reseller
Jari dan jempol menjadi alat untuk bisnis
Saat promosi online shop di IG dan FB
Sehingga bisa membantu ekonomi keluarga

Bagi para penulis dan wartawan
Jari dan jempol membantu setiap tugasnya
Saat menulis naskah, artikel dan informasi
Hingga menjadi buku dan portal berita

Tapi hati-hati saat menggunakan jari dan jempolmu di medsos
Siapa pun engkau, luruskan niat dan jaga hatimu
Jangan bawa kebencian dan kedengkianmu
Hingga kau sebarkan hoax dan fitnah

Ingat ya kawan…
Apa pun yang kau tonton dan kau bagi
Apa pun yang kau tulis dan kau komentari
Akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat

Maka gunakan jari dan jempolmu
Untuk berbagi informasi dan ilmu yang bermanfaat
Untuk berzikir dan mencari kajian agama/ ilmu yang benar
Juga untuk menebar kebaikan dan pesan positif

Semoga kita mampu mengendalikan diri
Tak terbawa huru hara medsos yang luar biasa
Sehingga menjadi lebih bijak dan mawas diri
Saat menggunakan jari dan jempol

Sumber gambar: pintaram.com

Si Tukang PHP

Standar

PHP yang kumaksud di sini bukan singkatan dari PHP: Hypertext Preprocessor, lho ya…
Kalau itu mah bahasa pemrograman. Bahasanya orang-orang yang berkecimpung di dunia informatika / IT yang bikin mumet kepala. Yang kumaksud dengan PHP di sini adalah Pemberi Harapan Palsu. Wah, siapa dia?

Selama ini mungkin PHP ini lebih sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Seperti seorang cowok yang suka kasih perhatian ke seorang cewek sampai membuat si cewek jatuh cinta. Dan si cewek mengira bahwa si cowok itu pun ada rasa cinta padanya. Ternyata eh, ternyata…, si cowok itu hanya sekedar menganggapnya sebagai sahabat baik saja. Tidak lebih dari itu. Nah, akibatnya si cewek beranggapan bahwa si cowok itu cuma PHP-in dia saja.

Ya sudahlah, sebagai cewek mungkin lebih baik tahan diri dan perasaan. Jangan mudah kegeeran. Keep calm… Banyakin doa dan memantaskan diri saja. Yakinlah, nanti Allah Swt. akan mengirimkan cowok yang lebih baik dan serius nikahin kamu ketika sudah tiba waktunya. Buat cowok…, jangan suka berlebihan kasih perhatian apalagi janji-janji manis ke cewek ya kalau kamu nggak ada niat seriusin hubungan kamu dengannya hingga ke jenjang pernikahan. Soalnya secara kodratnya, cewek itu hatinya mudah berbunga-bunga lho, meskipun baru dikasih sedikit perhatian saja…

Oke, oke, yuk kita lanjut lagi ya tentang PHP. Kali ini bukan tentang percintaan kok. Aku cuma mau cerita tentang ‘si someone‘ yang suka banget PHP-in orang. Maaf ya… Aku jadi curhat. Soalnya korban PHP-nya sudah banyak. Mau kutegur langsung orangnya, tapi nggak boleh sama suamiku. “Sudah, biarin saja. Nanti biar dia kena batunya di orang lain. Kalau kamu yang negur dia entar malah dimusuhin, lho.. ” Dengar-dengar, orangnya memang sensi pisan. Kalau ada yang negur langsung didiemin. Hadeeuuh… #Tepok jidat.

Lanjut ya… Jadi gini… Dulu ‘si someone‘ ini pernah ngajakin aku ikut suatu acara. Ngajakinnya full semangat lagi. Jadi aku ya ikutan semangat deh. Akhirnya kami janjian ketemuan di rumahnya. Rencananya nanti mau barengan berangkat ke acara tersebut. Di hari H, dengan penuh semangat aku datang ke rumahnya. Tapi pas sudah sampai di rumahnya, lho…, kok ‘si someonenggak ada ya? Apa belum datang? Dia memang tidak tinggal di situ, melainkan di rumah yang satunya lagi.

Aku menunggunya dengan sabar. Dari detik ke detik, menit ke menit hingga satu jam pun berlalu… Tapi kenapa dia belum nongol juga ya? Padahal aku sudah coba chat dia melalui WA, tapi ceklis. Aku juga sudah telpon pakai nomor HP-nya maupun WA. Tapi nggak aktif juga. Gimana sih? Jadi nggak sih sebetulnya? Aku mulai kesal. Aku tanya ke asisten rumah tangganya. Katanya sudah pergi. Ya ampyun… Jangan-jangan dia sudah duluan pergi ke sana ya?

Apa boleh buat. Karena tidak ada kepastian dan aku juga sudah menunggu dia terlalu lama tapi hasilnya tanda tanya besar, akhirnya aku pulang saja dengan hati kesal bercampur kecewa. Duh, kena PHP deh… 😂

Ketika hari semakin sore, ada chat WA masuk dari ‘si someone‘. Pas baca isi chat-nya, huhhh…, rasanya pengin marah tapi harus menahan diri. Coba, apa nggak kesal. Dia cuma bilang, “Maaf ya Ir, saya sudah keburu diajak sama teman ke acara tersebut.” Kalau memang begitu, kenapa dia nggak segera kasih tahu? Bisa lewat chat atau telpon langsung kan? Sama seperti ketika dia pertama mengajakku kan dia bisa chat aku. Lha ini kok malah diam-diam ninggalin aku begitu saja. Ngasih kabar pas sudah sore gini. Ya percuma lah… 😠😠😠

Korban PHP lain adalah teman-teman grup arisannya. ‘Si someone’ itu rupanya sudah heboh banget mengajak teman-temannya untuk arisan di restoran miliknya, kayak mau nraktir gitu lah. Tentu saja teman-temannya menyambut gembira. Kalau pun nggak ditraktir, dapat diskon kan lumayan juga. Nah, pas hari H, teman-teman arisan pun berdatangan ke restoran ‘si someone‘. Tapi ya gitu deh… Setelah ditunggu dan dinanti sekian lama, ternyata dia kagak nongol sama sekali. Ya akhirnya jadi pada ngedumel. Haha kasihan… Kena PHP deh… 😂

Korban berikutnya adalah Salma (putriku) dan teman-temannya. Kukira setelah lewat beberapa tahun, ‘si someone‘ sudah berubah dan bisa menghilangkan kebiasaan PHP-nya itu. Jadi gini ceritanya, bermula dari kurangnya tenaga sales pada usaha spare part mobil suamiku sehingga mengganggu cash flow keuangannya. Salma bersama teman-teman kuliahnya pun lalu berinisatif untuk membantu papanya dengan membuat sistem perusahaan secara online supaya tak terlalu tergantung pada sales.

Rupanya ‘si someone‘ sedang heboh pengin cari orang yang bisa bikin sistem perusahaan suaminya secara online juga. Akhirnya suamiku mengajukan Salma dan timnya untuk mengerjakan proyeknya terlebih dahulu. Lalu suamiku membantu mengatur waktu agar ‘si someone‘ bisa ketemuan dengan Salma dan tim di Bandung karena kebetulan dia juga lagi di Bandung. Ternyata ‘si someone‘ harus segera balik ke Cirebon sehingga pertemuan pertama pun batal.

Lalu berikutnya diatur kembalilah waktu ketemuan pas ‘si someone‘ datang lagi ke Bandung. Ternyata pada hari, jam dan tempat yang sudah ditentukan, ‘si someone‘ yang sok sibuk itu tidak nongol lagi tanpa memberi kabar sama sekali. Tentu saja Salma dan teman-temannya jadi dongkol banget. Wajarlah, karena mereka kan juga sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan sudah berusaha mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan ‘si someone’ untuk mendiskusikan rencana proyeknya. Tapi ternyata malah kena PHP lagi. 😂

Tapi Salma masih belum putus asa ketika ‘si someone‘ mengajak ketemuan lagi pada hari Minggu di Cirebon. Kebetulan Salma dan seorang temannya yang juga tinggal di kota Cirebon memang sedang ada rencana pulang ke rumah karena hari Selasa ada Libur Imlek. Hanya saja Salma masih bimbang. Antara mau pulang di hari Sabtu saja atau hari Senin setelah selesai kuliah. Karena hari Senin (harpitnas) tetap ada kuliah. Sedangkan hari Sabtu Salma sebetulnya sedang ada kegiatan buka stand bersama teman tim game develop-nya di kampus.

Salma berpikir mungkin kali ini ‘si someone‘ sudah benar-benar luang waktunya dan bisa ketemuan setelah sebelumnya dua kali batal. Sehingga Salma memutuskan pulang hari Sabtu saja supaya hari Minggu bisa ketemuan dengan ‘si someone‘. Hari Senin nanti rencananya mau pulang pergi saja ke Bandungnya.

Tapi ketika Salma baru saja sampai di Cirebon, tiba-tiba ada chat masuk dari ‘si someone‘ yang isinya sudah bisa ditebak.😬 Yup, dengan santainya ‘si someone‘ membatalkan acara ketemuannya lagi dengan alasan mau ada acara keluarga di Bandung. Duuuuh keterlaluan banget ya ‘si someone‘ ini!!! Salma sampai ngedumel juga jadinya. “Tahu gitu saya pulang hari Senin saja biar nggak bolak balik”, katanya dengan kesal. Temannya bahkan sudah males ketemuan lagi sama ‘si someone‘. 😡😡😡

Ckckck… Orangnya memang ngegampangin banget ya sama yang namanya janji. Padahal janji itu kan utang ya. Dan dia masa bodo banget lho sama orang yang diajaknya janjian. Mau orangnya sampai susah payah atur waktu agar bisa ketemuan sama dia. Mau orangnya menunggu dia sampai berapa kali dan berapa jam. Mau orangnya sampai repot datang di tempat yang dia janjikan. Dia mah kagak peduli. Luar biasa ya ada orang secuek itu. Nggak punya hati, nggak punya muka atau nggak punya otak ya? Pantesnya diapain ya orang kayak gini tuh. Kalau ada Bu Susi mungkin beliau langsung bilang, “Tenggelamkan!! ” sambil nuding ke wajah ‘si someone’. 😅😅😅

Sumber gambar: Wattpad

Godaan Tiga Pekan (3)

Standar

Saat Emak dan Anak Gadisnya Tergoda TaCita

Sesudah sarapan di warung makan dekat kos Salma, kami bergegas menuju ke kampus ITB lagi untuk mengikuti kelanjutan program TaCita. Pagi ini, Salma yang lebih dahulu ikut programnya. Sedangkan aku nanti ikut yang sesudah Zuhur.

Taksi online yang kami tumpangi sempat terjebak kemacetan yang panjang di jalan Taman Sari sehingga membuat kami berulangkali melirik jam pada smartphone. Kami khawatir terlambat dan ketinggalan materi. Kata Salma mungkin karena hari ini sedang ada Car Free Day. Oh iya…, sekarang hari Minggu sih ya…

Akhirnya setelah berhasil menerobos kemacetan, sampailah kami di depan gerbang Seni Rupa. Kami berjalan cepat menuju ke arah Gedung CAD. Setelah Salma registrasi ulang, kami langsung naik ke lantai 2, tempat workshop berlangsung. (Kelas Ilustrator – Eriko Tanabe – Kelas Cat Air Ala Chihiro). Hadeuuh terlambat 19 menit. 😔

Saat masuk ke ruangan, para peserta sedang mengerumuni Sensei Eriko Tanabe (instruktur dari Chihiro Art Museum) yang sedang menjelaskan teknik melukis dengan cat air ala Chihiro di depan kelas. Syukurlah panitia siap menjelaskan bagian materi yang tertinggal kepada peserta yang datang terlambat. Selain Salma, ternyata ada peserta lain yang datang terlambat.

Sensei Eriko Tanabe menjelaskan materinya menggunakan bahasa Jepang. Kemudian diterjemahkan oleh panitia. Setelah itu semua peserta langsung praktek melukis dengan cat air sesuai yang tadi telah dicontohkan. Ternyata cat air dan media melukisnya sudah disediakan oleh panitia. Sebelumnya informasi yang kuperoleh melalui DM di IG panitia, peserta diminta membawa krayon atau cat air serta kertas gambar. Tapi nggak apa-apa deh, alat-alat gambar yang kemarin sudah terlanjur kubeli toh bisa tetap kami pakai nanti. 😊

Salah satu praktek melukisnya adalah membuat kartu ucapan/harapan. Karena aku menunggu Salma di depan ruang kelasnya, setiap saat aku bisa melihat kegiatan Salma dan peserta lain. Semua tampak antusias, baik saat menyimak materi maupun saat praktek melukis. Hasil lukis yang sudah selesai dibawa ke depan, lalu panitia membantu mengeringkannya dengan hair dryer.

Akhirnya ketika waktu menunjukkan jam 11.30, panitia mengakhiri kegiatan. Semua peserta foto bersama Sensei Eriko Tanabe sambil menunjukkan karya mereka masing-masing. Bagus-bagus juga hasilnya. 😍

Sambil menunggu kelas berikutnya, Salma mengajakku makan siang di Warung Pasta yang lokasinya di dekat kampus. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sesudah makan siang aku harus berpisah lagi dengan Salma.😥Salma balik ke kosnya dan aku ke Masjid Salman. Seusai shalat aku balik ke tempat semula untuk mengikuti acara selanjutnya.

Kelas berikutnya yang dimulai pada jam 13.00 ini nanti adalah kelas menulis cerita bersama keluarga yang diadakan Litara. Jadi nanti pesertanya bisa ayah atau ibu bersama anak-anaknya. Tujuannya selain untuk menyalurkan ide cerita dan bakat menulis anggota keluarga, juga untuk mengharmoniskan hubungan antar anggota keluarga.

Ketika masuk ke kelas, kulihat semua yang hadir adalah para ibu dengan anaknya yang berusia sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Bahkan ada yang membawa bayi. Berarti hanya aku nih yang datang tanpa anak. Sempat timbul perasaan ragu karena khawatir salah memilih kelas.

Di tengah keraguan itu aku terkejut ketika melihat seorang wanita yang sangat kukenal tiba-tiba memasuki ruangan kelas.

“Lho kok ada Bu Anna?”

Aku langsung beranjak dari kursi dan menghampirinya.

“Eh, Irma…, ” sambut Bu Anna dengan ekspresi wajah terkejut sekaligus gembira.

Lalu kami bersalaman dan saling cipika cipiki.

Oh, ternyata Bu Anna Farida (Kepala Sekolah Perempuan) yang sekarang menjadi instrukturnya… Alhamdulillah. 😃

Ketika acara dimulai, Bu Anna langsung menyampaikan materinya. Singkat